Tags

, , , , ,

can i marry y sis

Title: Can I Marry You, My Sister? [Part 2]

Genre: Bromance, School life/life, romance, AU

Author: Bekicot Princess

Main Cast:

-Kim Jong In/Park Jong In

-Park Leera

Support Cast:

-Kang Hyejin

-Oh Sehun

-Cho Kyuhyun/Kim Kyuhyun

Other Cast:

-Kim Myungsoo

-Jung Krystal

-Park Family

-Sasangnim

Length: Chapered

Rating: T

Summary: ‘Babo Jongin, kini kau menjadi adik dari seorang noona yang kau cintai setengah mati!’

-oOo-

Previous Part>>

Pandanganku yang semula memandang eomma langsung tertuju pada wajah yang sedang tersenyum sumringah padaku. Ya wajah yeppeo itu, Leera noona.

Aku pun membuka mulutku ingin mengucapkan sebuah kata-kata.

“Mmmm.. noona, dimana kamarku?” Ya, itu pertanyaan yang sungguh ingin kutanyakan sedari tadi. Aku tidak mau terlihat konyol terus-terusan di depannya.

Ia lalu terkekeh. “Wajahmu lucu sekali Jongin” Katanya.

Mwoya? Arghh.. sudah kubilang kan aku terlihat bodoh sekali disini.

Aku rasa noona itu menyadari perubahan ekspresiku yang menjadi sedikit kesal. Ia pun lalu berhenti terkekeh dan segera berujar, “ikuti aku, Jongin”

Aku pun hendak melangkahkan kakiku. Namun tiba-tiba ia menarik tanganku. Menarik dengan cara menggenggam telapak tanganku begitu saja. Ya ampun, ia sungguh memperlakukan ku sebagai anak kecil!

Ia pun melangkahkan kakinya menaiki anak tangga. Aku pun mengikuti arah genggaman tangannya itu yang terus menerus berayun seiring kami melangkah.

Sementara dalam hati aku merutuki diriku sendiri,

Bodoh! Bagaimana aku bisa mencintainya kalau dia adalah kakakku sendiri?!

-oOo-

Author POV

“Nah, ini dia kamarmu Park Jong In..” Park Leera membukakan pintu wazelnut itu pada namja di depannya, Kim Jong In yang kini telah berganti marga mejadi Park.

Spontan Jongin melangkahkan kakinya dengan berat. Ia kini telah berada di dalam kamar itu dan dengan bodohnya Leera mengikutinya ke dalam. Melihat itu Jongin menjadi salah tingkah. Bukankah permintaannya ke kamar ini agar ia bisa sendirian. Namun mengapa Leera jadi mengikutinya juga?

Leera terduduk di ranjang yang kini resmi milik Jongin. Ia memandang kagum adik satu-satunya itu.

“Hah.. namja tampan sepertimu akan menjadi adikku. Bukankah begitu bahagianya aku?”

Kalimat itu membuat sorot mata Jongin menajam pada Leera. Dentuman di dadanya kembali datang. Kini Leera terbaring di ranjang Jongin sambil menatap langit-langit, menghembuskan nafas bahagia. Jongin tak berani mendekati bayangan noonanya itu. Ia hanya terpaku di tempatnya, ia takut ia akan kecolongan merasakan sesuatu yang buruk di fikirannya. Ya, sebuah nafsu. Tak bisa dipungkiri, Jongin tetap menyukai seorang Park Leera yang sekarang telah menjadi kakaknya.

“Jongin, kenapa diam saja? Segera keluarkan seluruh barangmu..” Kalimat Leera terdengar seperti perintah yang harus segera ditepati oleh Jongin. Ia lalu spontan duduk di lantai tepat dibawah kakinya berdiri tadi dan membongkar kopernya. Jongin lalu melirik sekilas ke ruangan kamarnya itu, mencari sebuah lemari untuk menyimpan bajunya.

Shit,

Lemarinya tepat di sebelah ranjang tempat Leera berbaring! Jongin takkan mungkin kesana. Ia tidak akan kuat menghadapinya.

Ia lalu mencuri pandang sedikit kea rah tempat Leera berbaring. Memastikan apakah noona itu sudah pergi atau belum. Dan ternyata,

Belum.

Jongin terus mengurusi kopernya dan terus menunduk kebawah. Dia tidak ingin melihat lagi pemandangan saat noonanya itu tidur telentang seperti itu. Apalagi lehernya yang bersih terpancar begitu saja. Membuat Jongin sedikit risih.

Jongin POV

Wae? Eothoekhae!?

Bagaimana caranya aku mengeluarkan ini. Babo! Mengapa noona itu masih di ruanganku? Jangan sampai dia tertidur disana.

Aku terperangah kaget melihat isi di dalam koperku yang memang wajib harus di keluarkan. Babo, mana mungkin aku mengeluarkan benda ini di depan wajahnya eoh? Noona ku mohon keluar dari ruanganku.

Sungguh aku sangat gugup untuk berbicara denganmu T.T

Yasudahlah aku keluarkan saja!

Aku pun dengan perlahan mengeluarkan lembaran demi lembaran celana dalamku dari balik koper itu. Aku berusaha tidak mengeluarkan bunyi apapun untuk menarik perhatiannya. Semoga saja saat ini dia tidak memandangku.

“Jongin, kok tidak ada suara?”

Shit,

Justru kalau aku tidak bersuara malah dia mengkhawatirkanku. Omo Jongin, mengapa aku bisa sebabo ini. Seharusnya aku menunggunya keluar baru aku mengeluarkan benda keramatku ini.

Leera noona mengarahkan pandangannya ke arahku. Seketika aku terperanjat dan langsung menyembunyikan benda keramat itu ke belakang tubuhku. Iya, aku sungguh sangat refleks. Semoga dia tidak curiga. Jebal, jebal noona..

“Apa yang kau sembunyikan itu?”

Babo! Jongin, kau malah menarik perhatiannya. Sudah bagus tadi dia tidak menanyakan apa-apa. Sekarang ia menatap diriku penuh kecurigaan. Ia mengangkat sebelah alisnya dan bertanya dengan nada rendah yang membuatku risih. Benar-benar risih,

“Apa itu Jongin?”

Aku hanya bisa menggeleng. Tatapan datarku yang keren kini mulai luntur seketika. Membuat tatapan takutku yang menguasai ekspresiku seluruhnya.

Leera noona malah bangkit dari posisinya yang terlentang. Ia menyeringai tajam pada diriku yang dalam situasi takut. Entah apa aku terlalu berlebihan menghadapinya?

Aku semakin tercengang saat ia berani berjalan ke arahku. Sekarang ia tepat berdiri di depanku dan berjongkok agar bisa meraih wajahku.

“Apa yang kau sembunyikan Jongin?” Katanya sambil menyeringai tajam. Aku tahu ini sebuah gurauan namun benda yang kau desak itu bukan gurauan sama sekali Park Leera !

“Apa hmm?” Wajah Park Leera mulai mendekat ke wajahku. Penuh seringai. Setidaknya aku tidak mau tergoda. Kalau saja dia bukan kakakku. Aku sudah melumat bibirnya.

Sekali lagi aku menggeleng keras. Dan berusaha bersuara dengan nada sedatar mungkin. Ya berharap nada yang kukeluarkan akan datar.

“Tak ada apa-apa noona” Aku berujar tepat di depan wajahnya. Membuat ia terkena deru nafasku secara bergantian. Noona itu refleks menjawab dengan jawaban yang tidak kusukai.

“Bohong..”

Aku hanya terdiam setelah dia mengucapkan kata itu. Dengan pintarnya aku merapatkan dudukku ke dinding agar benda keramat itu terhimpit oleh tubuhku dan dinding. Sehingga tidak akan ketahuan apa rupanya.

“Berikan padaku Jongin” Katanya menggoda. Uh, noona ini nekat..

Aku pun mengumpulkan keberanianku untuk mengatakannya. Ya, sebenarnya bukan mengatakan yang sesungguhnya tentang benda apa yang kusembunyikan. Melainkan sanggahanku terhadap tindakannya ini.

“Mianhae noona. Tapi ini adalah rahasia laki-laki”

Aku mengatakannya dengan tekanan. Berita baiknya ekspresiku tetap datar sekarang. Sementara itu sejenak kami terhening dan aku sedikit kesal mendapat sebuah ledakan tawa dari yeoja di depanku ini.

“HAHAHAHA!”

Dia memegangi perutnya yang kuyakin sangat sakit karena tertawaannya itu. Menurutku itu adalah tertawa yang sangat berlebihan yang pernah kulihat. Tertawa noona ini mendapat peringkat pertama dalam hidupku. Seumur-umur aku tinggal bersama Hyejin, yeoja itu tidak pernah tertawa separah ini.

Aku pun hanya memandang gelak tawanya dengan ekspresi datarku seperti biasa. Sementara itu selang beberapa detik ia memberhentikan tawanya dan bangkit dari posisi jongkoknya.

“Ne, baiklah aku akan keluar.. sampai jumpa makan malam ya Jongin!”

Noona itu keluar. Meninggalkan sebuah suara hentakan pintu yang lembut. Aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku. Seakan tidak percaya dengan tingkahnya yang menjauhi batas normal.

“Kau memang gila jika berhadapan dengan adikmu sendiri, Park Leera”

Author POV

Jongin bergumam kecil pada dirinya sendiri. Tak terasa senyum kini mengembang di bibirnya mengingat kejadian tadi. Ia mengingat wajah Park Leera yang sangat dekat dengan wajahnya saat itu. Ternyata seorang Park Leera pintar menggoda. Jongin lalu kembali mengeluarkan benda keramatnya dan memasukannya dalam-dalam kesuatu lemari. Ia menyusun semuanya dengan cepat dan tangkas. Sama seperti dia menyusun semua itu di kopernya.

Setelah selesai dengan semua aktifitasnya Jongin kini terbaring di ranjangnya. Tepat di atas sana ia bisa mencium aroma dari seorang Park Leera. Aroma citrus yang menyimbolkan seorang Park Leera. Ia akan selalu mengingat aroma itu di benaknya.

Jongin lalu menghela nafasnya berat. Ia berfikir bahwa ia salah tempat berada disini.

“Harusnya aku tidak menerima adopsi dan tetap di panti.. babo,”

Jongin berkali-kali merutuki dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia mengejar cintanya kalau cintanya itu adalah kakaknya sendiri. Sungguh bodoh,

Dari dulu ia selalu beriming-iming agar bisa mendekati yeoja backpack toska itu. Mendekatinya perlahan dan kemudian menyatakan perasaannya. Jongin ingin mendapatkannya. Namun, takdir tidak menginginkannya. Sekarang Jongin terperangkap oleh ikatan darah.

Jongin yang baru saja berumur 15 tahun itu berfikir sangat jauh dari usianya.

“Bagaimana bisa aku menikahinya kalau dia adalah kakakku sendiri!?”

-oOo-

Jongin terbangun dari tidurnya di ranjang barunya itu.. ia melihat ke langit-langit dan melihat sebuah plafon cream menghiasinya. Ia baru saja menerima respon dari otak bahwa ia kini berada di kamarnya yang baru. Rumah mewah keluarga Park.

“Tskk..”

“Hoaamm..”

Jongin menguap besar-besaran. Ia pun melenggangkan tubuhnya. Ia lalu mengucek-ucek matanya yang mendapati banyak air berisi disana. Ia melihat jam di dinding yang berada tepat di seberangnya.

Pukul 6 sore.

Shit,

Apa tanggapan mereka mendapati anggota keluarganya yang baru ini belum mandi jam segini, sedangkan saat makan malam (pukul setengah 7 malam) mereka benar-benar membutuhkan Jongin untuk turun.

Jongin bangun dengan malas dari ranjangnya. Ia menyemangati dirinya sendiri untuk mandi. Ia juga memperingati dirinya sendiri apa resiko nya jika ia tidak turun saat makan malam. Jongin kini masuk ke dalam kamar mandi yang terdapat di dalam kamar barunya itu.

SKIP>>

Kini Jongin sudah selesai mandi, ia membuka pintu kamar mandi dan lagi-lagi ia melihat sosok itu.

DEG

Jantungnya berdegup kencang saat melihat tatapan Leera padanya. Ya tatapan tajam sekaligus kagum? Bola mata Leera dengan jelas terarah ke perut Jongin yang terbuka. Jongin tahu apa yang di tatap oleh noonanya itu.

“Mwoya, noona?” Jongin bertanya polos pada noonanya yang berada tepat di depannya.

“Mengapa kau berada tepat di depan kamar mandi, noona?” Kali ini Jongin bertanya serius. Ia melontarkan dua pertanyaan tersebut kea rah Leera.

Leera hanya terbengong. Ia mengangkat bahunya acuh dan berdusta pada Jongin,

“Aku hanya ingin meminjam kamar mandimu..”

Jongin menelan ludahnya, ia merasa salah paham dengan noonanya itu.

“Yasudah kalau begitu,” Jongin segera pindah dari posisinya. Ia bergeser agar noona itu bisa masuk ke kamar mandi.

“Gomawo..” noona nya itu berujar pada Jongin tanpa senyum di wajahnya. Jongin sedikit terheran. Biasanya senyuman tidak akan luput dari wajah ceria noonanya itu. Sekelebat waktu noona itu masuk ke dalam kamar mandi. Memperdengarkan dentuman lembut seperti biasanya.

Sementara Jongin ia terduduk di ranjang. Menunggu noonanya itu keluar dari kamar mandi. Jongin terduduk di ranjang.

Beberapa menit kemudian noonanya itu keluar dari kamar mandi. Memperlihatkan aksen ramahnya kembali pada Jongin. Dan langsung keluar dari kamar Jongin.

Diluar ia bergumam, “Leera pabo, kenapa pikiranmu jadi byuntae begini?”

Leera segera turun, ia melihat ke jam dinding yang besar tergantung di koridor rumahnya.

6.15 Sore

“Saatnya makan malam,” Katanya bergumam pelan dan menuruni anak tangga. Ia menuju ke dapur mengecek keberadaan ibunya. “Eomma!” pekiknya saat melihat ibunya yang mengiris sebuah daging yang sudah matang. Ibunya itu hanya tersenyum dan kembali mengerjakan irisannya. Sementara Leera bergegas memeluknya. “Bagaimana kalau aku saja yang mengerjakannya, eomma-a?”

Wajah yang sudah terlihat sedikit kerutan itu mengerjap pada perlakuan putrinya, “Kau yakin, Leera-a?” Leera hanya mengangguk mantap. “Tentu saja, aku akan mempersiapkan makan malam pertamaku untuk Jongin!” Ia memekik pelan saat menatap mata ibunya yang tersenyum. Tak bisa dipungkiri, ibunya itu memiliki sebuah eyesmile.

Ibunya lalu meninggalkan pekerjaannya dan melepas ikatan celemeknya. “Nah, hwaiting ne..”

Leera tersenyum sumringah dan langsung mengikat celemek itu di pinggangnya. Ia lalu mengiris daging itu dengan hati-hati.

-

Semua mata tertuju pada Jongin. Menjelang tidur ia memilih memakai kemeja dibanding sebuah piyama. Rambutnya sehabis disisir kebelakang, membuatnya terlihat seperti memakai gel. Semua sudah menduganya, ia baru saja mandi. Jongin membungkuk saat sadar semua memandangnya antusias. Ia lalu mencari sebuah kursi yang kosong. Ia mendapati sebuah kursi kosong di sebelah Leera.

“Annyeong Jongin,” Leera menyenggol bahu Jongin saat ia baru saja duduk. “Ne,” Jongin menjawab singkat lalu tuan dan nyonya Park sudah mengabaikan percakapan kakak-adik itu.

“Silahkan makan sesukamu Jongin-a, aku tahu kau pasti sangat lapar” Nyonya Kim mendaratkan sebuah irisan daging di piring rata Jongin. Jongin terperangah melihat banyak uap panas dari daging itu. “Gamsahamnida,” Katanya ramah namun kikuk. Jongin junior memang terlalu pemalu untuk orang baru seperti  mereka.

“Tidak perlu sungkan,” Ayah barunya itu tersenyum ramah pada Jongin yang terlihat kikuk. Jongin pun mengangguk dan tersenyum tipis. Ia lalu meraih garpu dan pisau yang ada di balutan tisu di sebelah lengannya. Kali ini Jongin kembali merasa resah. Bagaimana tidak? Semua mata mengawasinya seakan-akan pandangan mereka itu akan menelannya. Mereka terus melihat Jongin yang melakukan apa-apa dengan makananya.

Leera berdehem. Ia lalu memecah keheningan dan kekikukan Jongin. “Oh ne! itu semua aku yang membuatnya!” Ia lalu melanjutkannya lagi “Sebaiknya kita semua langsung menyantapnya. Sayang kalau dingin!”

Semua mata yang semula mengarah ke Jongin otomatis langsung menuju piring masing-masing. Mereka secara serentak meraih garpu dan pisau mereka. Terlihat raut kelegaan di wajah Jongin. Leera yang menyadari itu hanya terkekeh kecil di dalam hatinya.

‘His doing is so cute, hihihi..’

Lalu mereka semua menyantap makan malamnya dengan tenang. Beberapa percakapan pun terjadi antara mereka dan Jongin. Mereka menanyai Jongin tentang masa-masanya di panti dan membicarakan tentang sekolah Jongin yang baru. Mereka juga bilang bahwa Jongin nantinya akan kuliah di universitas manajemen yang didirikan khusus oleh perusahaan Park. Jongin hanya mengangguk patuh dan bertanya-tanya dalam hati.

‘Bagaimana dengan hobiku? Basket?’

-oOo-

Jongin POV

“Jongin! Bangun!”

Sebuah wajah yang tak asing lagi bagiku itu kini meraih pipiku. Ia menepuknya beberapa kali hingga membuatku bangun dari mimpiku. Ia memperlihatkan wajah cerianya seperti biasa padaku.

Aku hanya terdiam dan mengerjapkan mataku beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang masuk. Pandanganku masih tidak jelas. Dan mulutku belum siap untuk mengatakan apapun. Kurasa saliva saliva yang terjerat di sisi bibirku ini masih melarang aku untuk berbicara.

“Jongin! Buka mata mu!” Ia pun memekik. Aku pun dengan patuh membuka mataku secara lebar. Dan… pandanganku pun mulai jelas. YA AMPUN DIA SANGAT DEKAT! BABO BIKIN SAKIT JANTUNG SAJA!

DEG..

Ya hentakan itu seperti biasanya. Selalu terjadi jika dia terlalu naïf seperti ini. Kurasa ia sangat senang bisa memandangi wajahku saat tidur. Ya! Semua orang menyukai wajahku saat tidur! Termasuk Hyejin! Aku juga bingung mengapa mereka sangat senang memandangi wajahku saat tidur.

Dengan cepat ia pun menjauhkan wajahnya dariku. Tertawa kecil dan mengeluarkan tatapan mengejek. “Jadi kau tidak sadar, hahaha!”

Mwoya? Apa yang tidak sadar?

Aku hanya memandanginya penuh penasaran. Memangnya apa yang barusan ia lakukan padaku ? Memandangi wajahku? Menepuk-nepuk pipiku?

“Hahaha, yasudah kalau kau tidak sadar baguslah!” Nah, noona? Aku semakin bingung. Ia pun segera memegang kenop pintu dan hendak memutarnya. “Mandilah lebih awal Jonginie.. kita akan segera berangkat!” Perkataannya itu ditutup dengan suara dentuman pintu.

Apa maksudnya ini? Mula-mula membangunkanku dengan cara yang gila dan tiba-tiba menyuruhku mandi lebih awal? Noona, kau memang penuh kejutan. Aku juga heran mengapa aku tidak bertanya lebih lanjut padanya tentang ‘Kita mau kemana noona?’

Yasudah lagipula sudah berlalu.

Aku pun bangkit dari ranjang dan menguap. Dari tadi aku belum sempat menguap—saat noona itu membangunkanku. Aku pun melihat jam dan..

PUKUL 9 PAGI?!

Apa noona itu gila membangunkanku jam segini? Harusnya kan aku terbangun paling lambat pukul 7.30 atau sebangsanya. Namun aku bangun pukul 9? Itu berarti dia terus berusaha membangunkanku sejak 1 jam yang lalu? Dia terus memandangi wajah ku saat tidur selama satu jam?!

Mwoya?! Lebih baik aku mandi lebih awal. Karena ini sudah pukul 9! Oh iya, dia juga memanggilku ‘Jonginie’ ……. Membuatku mengingat kembali kenangan masa lalu bersama Hyejin.

-oOo-

“Bagaimana apa dia terlihat cantik?” Seorang pelayan toko berujar pada namja umur 15 tahun itu. Pelayan itu menunjukan sosok bidadari yang berada tepat di sebelahnya dengan balutan gaun satin merah.

“Jongin? Ayo jawablah, bagaimana penampilanku?” Leera yang mengenakan satin merah itu terus menatap Jongin dengan tatapan gemas. Sementara itu yang ditanya—Jongin hanya terdiam dan berdiri mematung di tempatnya.

“Hallo.. ada orang disini..” Leera berujar lagi. Membuat Jongin tersadar kedunia nyata. Sekarang dia dan Leera sedang ada di ruang ganti dan make up. Keluarga Park ingin membuat foto keluarga baru dengan Jongin di dalamnya. Saat itu Leera hendak menanyakan pendapat Jongin dengan gaun yang dipakainya.

“Errr.. kau terlihat sempurna noona” Jongin mengucapkan kata itu secara refleks langsung dari hatinya. Membuat senyum Leera dan Pelayan itu secepat kilat merekah hebat.

“Wahh.. gomawo Jonginie”

Leera lalu memberikan sebuah kiss bye pada Jongin. “For youuu.. uuuu.. muach!”

Pelayan itu langsung tertawa melihat tingkah bidadari di sebelahnya, begitu juga Leera yang kini tertawa keras. Namun, lain halnya dengan Jongin. Tidak terdengar sama sekali suara tertawa darinya. Karena sebenarnya sekarang ia sedang membeku di tempat. Jongin merasa jantungnya di ambil seketika. Lama-kelamaan pipinya merona dengan sendirinya. Jongin pun segera sadar dan memegangi pipinya yang panas itu. “Tch,” katanya mencibir dirinya sendiri yang lemah.

“Kau juga terlihat tampan, Jonginie.. selalu! Karena kau adikku!”

DEG

Hentakan itu lagi-lagi mengubah tempo detak jantung Jongin.

 

 

 

Keluarga Park kini ada di sebuah studio foto. Disana terdapat banyak kru yang mengawasi kamera dan lain-lain. Terdengar intruksi dari seorang yang sedang mengatur posisi masing-masing anggota keluarga.

“Mohon anda duduk disini, tuan park..” Lelaki muda bertopi itu menunjuk kursi yang akan diduduki tuan park.

“Hey, tolong bawakan kursi satu lagi disini!” Perintah lelaki muda bertopi itu pada bawahannya. “Baik,” Jawab salah satu dari mereka.

Ia lalu mengarahkan nyonya park untuk duduk di kursi tadi. “Silahkan duduk disini, nyonya park” Nyonya park pun segera menuruti perintah fotografer itu. “Ne,”

“Bagaimana denganku, tuan fotografer?” Leera menunjuk dirinya sendiri. Fotografer itu terlihat berfikir keras dan menyuruhnya berdiri disamping appanya. Jongin pun terlihat kebingungan. Ia pun mengambil inisiatif untuk berdiri di samping nyonya park.

“Pintar! Posisi yang bagus!” Ia mengacungkan jempolnya pada Jongin. Jongin hanya tersenyum miring.

Mereka pun memulai sesi pemotretan.

-oOo-

Kang Hyejin mengetuk pintu kamar itu dengan pelan. Raut mukanya kali ini terlihat sedih dan bosan. Wajahnya itu menunjukan ‘aku-tak-bisa-hidup-tanpa-Jonginie-ku’. Wajahnya yang semula terlihat jahil dan ceria berlebihan (?) kini mulai pudar sejak kepergian Jongin.

Dia terus mengetuk pintu itu dan mendapati namja tinggi yang menatap wajahnya dengan tatapan kaget.

“Mwoya Hyejin-a?” Katanya dengan nada antusias.

Hyejin menatap bola mata namja di depannya dengan lekat. “Aku ingin meminta bantuanmu, Oh Sehun..” Katanya dengan nada sedih dan bosannya itu.

“Bantuan?” Jawab Sehun sambil mengangkat salah satu alisnya. “Mwo? Dengan senang hati aku akan membantumu Hyejin-a..”

Hyejin yang mendengar itu langsung menghembuskan nafas lega. “Maukah kau menemaniku bermain basket?”

“Dan… aku juga hendak meminjam bola basket milikmu. Karena—Emm.. yang biasa aku pakai itu punya Jongin dan.. dia..” Hyejin menghentikan ucapannya. Namun ia segera melanjutkannya lagi. “Jadi.. boleh aku meminjam bolamu dan waktumu, Sehun-a?” katanya dengan nada memelas.

“Tentu Hyejin-a. Dengan senang hati..” Sehun tersenyum simpul pada Hyejin. Begitu pula Hyejin yang tersenyum padanya. “Gomawo Sehun-a..”

 

 

Hyejin dan Sehun bermain basket dengan suasana yang tidak seramai dulu. Dulu, mereka bermain bertiga dan saling berteriak. Namun, sekarang hanya suara dentuman bola basket yang terdengar.

“Ada apa denganmu, Hyejin-a?” Sehun pun membuka lisannya. Hyejin hanya terpaku pada basketnya dan akhirnya mengopernya ke ring. Dan masuk. “Yeah!” Katanya riang. Namun raut sedih masih terbesit di wajahnya.

“Hyejin-a kau mendengarkanku?” Oh Sehun kini berjalan kea rah ring, tempat Hyejin berada. “Mwoya, Oh Sehun?” Katanya datar dan segera mengoper bolanya ke ring. Setelah menyadari bolanya tidak masuk ring ia pun menjawab pertanyaan Sehun. “Tidak ada apa-apa denganku..” Ia mulai menatap wajah Sehun dan kembali memungut bolanya.

“Jinja? Aku tidak yakin!” Sehun kini merebut bola basket itu dari tangan Hyejin. Seakan menyindirnya yang terkesan berbohong. “Wae? Kau tidak percaya tuan Oh?” Protes Hyejin dan Hyejin berusaha merebut bolanya. Namun gagal, Sehun terus mendrable nya kearah yang berlawanan. Sehun lalu mengopernya ke ring. Namun sayang, tembakan pertamanya justru tidak berhasil.

“Ya ampun, mengapa skill basketku paling rendah diantara kalian berdua—Hyejin dan Jongin-?!” Sehun terperanjat saat menyadari bolanya tidak menyentuh ring sama sekali. Dan dibalas kekehan dari yeoja yang berambut pendek itu. “Gyahaha…!”

“Aku paling senang melihat seorang Oh Sehun menderita!” Hyejin menertawai raut Sehun yang speechless. Ia lalu merebut bola Sehun dan kebali mengoper. Dan kau tahu? Bolanya masuk ring!

“Ya! Kuakui kau hebat Kang-Hyejin!” Sehun menjawab penuh penekanan. Namun tiba-tiba Sehun tersenyum evil pada Hyejin. “Ya! Kau harus menjelaskan sesuatu kepadaku Kang Hyejin!”

“Mwoya Sehun-a? kan sudah kubilang tidak ada apa-apa denganku!” Sehun lalu menyahut, “Bohong!”, “Tidak percaya?”,

Sehun lalu menatap wajah yeoja keras kepala itu. “Bagaimana aku bisa percaya kalau kau terus sedih begini, Kang Hyejin?” Sehun mengeluarkan tatapan kemenangannya kea rah Hyejin. Sementara Hyejin hanya ternganga dan bersiap untuk mengalah. “Okkay, baiklah. Ya, aku tidak baik-baik saja. Sehun-a”

“Wae?” Sehun menjawab antusias. “Kau bertanya mengapa?” Jawab Hyejin dengan tatapan tidak suka. “Karena dia itu!” Lanjutnya.

“Apa maksudmu ‘dia’ ?” Sehun bertanya dengan gelagat polosnya. Membuat aura cool nya menghilang seketika. Sementara itu ia melihat Hyejin yang hendak berucap. “Manusia yang di adopsi oleh seorang CEO!”

“Kim-Jong-In!” Hyejin menjawab penuh penekanan pada setiap kata. “Dia yang membuatku terus begini..” Hyejin memelankan suaranya. Tangisannya pecah. Ia menjatuhkan bola basketnya ke tanah. “Hiks,” Ringisnya.

“Huwaa.. Oh Sehun bagaimana ini?” Hyejin langsung memeluk namja di depannya. Sehun hanya mencoba menenangkan yeoja itu. “Sudahlah, Hyejin-a”, “Kau tidak perlu menangisinya..”

“Lebih baik kau menatap ke depan..” Lanjut Sehun. Membuat hati Hyejin tertegun.

“Ke depan?” Tanyanya bingung.

“Lebih baik kau memikirkan apa yang menjadi impianmu selama ini, Hyejin-a” Sehun mengusap rambut yeoja itu. “Mengapa kita terus bergantung pada orang lain? Itu tidak baik” Lanjut Sehun lagi. Sementara Hyejin mulai menghentikan tangisannya.

“Kau benar Oh Sehun..” Hyejin tersenyum pada Sehun dan melepaskan pelukannya. “Aku harus mengejar mimpiku, dan memulai hidupku sebagai wanita dewasa nantinya!” Jawab Hyejin semangat. Matanya masih sembab.

Sehun pun terperangah melihat tingkah semangat Hyejin. Sehun hanya tersenyum melihat tingkah sahabatnya itu. “Ya! Aku akan memutuskan mulai dari sekarang! Aku akan bekerja di manajemen! Karena aku bercita-cita menjadi seorang pemimpin!” Hyejin pun tertawa setelah mengatakan itu.

-oOo-

“Jongin, bagaimana harimu?”

Jongin yang baru melangkah masuk ke dalam rumah itu langsung tersenyum kepada kakak kesayangannya itu atau lebih tepatnya dicintainya.

“Great,” Jongin menjawab singkat dan datar. Kali ini tanpa perasaan kikuk dan gugup. Sudah hampir satu tahun kini mereka tinggal bersama. Sudah sewajarnya keakraban terjadi diantara mereka.

Leera yang mendengar jawaban singkat dari Jongin langsung memajukan bibirnya dengan kesal. “Kau dingin sekali Park Jong In… sayang sekali, ckck” Ia lalu berlalu ke kamarnya. Entah ingin mengerjakan apa. Sementara Jongin yang menangkap sorot mata yang kesal itu langsung menyusulnya.

“Leera noona!”

TAP TAP

Suara langkah Leera memenuhi seisi ruangan. Memang rumah itu terlalu besar untuk keluarga mereka. Apalagi Ayah dan Ibunya yang tak ada dirumah. Sangat menambah keheningan untuk mereka berdua.

“Leera noona, mianhaeyo!” Jongin berdiri mematung di ujung anak tangga. Ia menatap Leera yang kini diatasnya sedang menaiki tangga. “Gwaenchana Jongin. Aku hanya sedang tidak mood hari ini..” Leera lalu kembali menaiki tangga dan masuk ke kamarnya. Menutup pintu itu dengan keras.

Jongin hanya terdiam di tempatnya, “Aneh..”

Ia lalu mengacak-acak rambutnya kesal.

“Babo Jongin! Kenapa kau terlalu dingin padanya!” Jongin menatap pintu kamar Leera dengan nafas berat. “Mianhaeyo noona..” Gumamnya.

Kaki Jongin pun terangkat untuk menaiki tangga itu. Ia menuju ke depan pintu Leera. Berusaha untuk mengetuknya. Kepalan tangan Jongin kini berada tepat di depan pintu itu. Tinggal seinci lagi ia bisa menyentuh dan mengetuknya. Namun,

“…..Aku hanya sedang tidak mood hari ini..”

Jongin pun mengurungkan niatnya. Ia menuju ke kamarnya yang terletak tepat di sebelah kamar Leera.

BLAM

Jongin menutup pintu itu dengan dentuman keras. Selepas memasuki kamarnya ia langsung meraih ranjang dan berbaring disana.

“Babo Jongin! Babo!” Jongin terus merutuki dirinya sendiri sembari berbaring. Ia menatap langit-langit kamarnya dan menghembuskan nafas berat. “Mengapa aku selalu dingin huh?”

“Aku  sudah berusaha sebisa mungkin, namun nada bicaraku tetap terdengar datar dan tidak baik”

Jongin kembali menghembuskan nafas beratnya. “Noona—noona kapan aku bisa mendapatkan hatimu jika terus begini?” Jongin berkata sambil menatap sebuah bingkai besar yang terpampang di dinding. Disana terlihat sosok Tuan dan Nyonya Kim yang tengah duduk di kursi besar—memakai pakaian formal. Tuan Park memakai sebuah tuxedo dan Nyonya Park memakai sebuah gaun satin merah. Sementara ia dan Leera terdapat di samping keduanya. Berdiri dengan tegapnya. Jongin

dengan balutan jasnya. Juga sisiran rambutnya yang rapih. Leera yang berada di sebelahnya memakai balutan gaun juga. Sama seperti yang dipakai Nyonya Park. Mereka berdua terlihat cantik. Tak lain tak bukan foto itu adalah sebuah foto keluarga. Yang secara tidak langsung mengatakan kalau mereka kini telah menjadi sepasang keluarga yang RESMI.

“Mulai sekarang aku harus bertingkah lembut pada noona itu, sedikit-demi sedikit..” Kai tersenyum miring pada dirinya sendiri.

-oOo-

Next Chapter

‘sunbae, tolong ajari aku!’

‘Mwoya? Mengajarimu apa?’

‘Ajari aku bagaimana cara berbicara yang baik dengan yeoja!’

‘ckckck.. dasar bocah’

-

‘kau ceria sekali Jonginie?’

‘tentu saja!’

‘wae?’

‘karena kau cantik sekali hari ini, noo-na!’

-

‘whoa? Lee Donghae? Dia siapanya noona?!’

-

‘panggil aku Eunhyuk hyung, bocah!’

-

‘babo! Jika kau menyukai seseorang cepat lah akui perasaanmu, bocah!’

‘tapi hyung, dia..’

‘tapi apa?’

‘tapi, aku tidak mungkin mengakui perasaanku yang sesungguhnya padanya!’

‘wae?’

‘karena dia adalah…’