EXO Fanfiction Dorm

EXO as the Main Cast

Can I Marry You My Sister? [Part 1]

3 Comments

can i marry y sis

Poster Cr: High School Graphic.. Thanks! it;s nice^^

Title: Can I Marry You, My Sister? [Part 1]

Genre: School life/life, romance, AU

Main Cast:

-Kim Jong In/Park Jong In

-Park Leera

Support Cast:

-Kang Hyejin

-Cho Kyuhyun/Kim Kyuhyun

Other Cast:

-Park Chanyeol

-Oh Sehun

-Lee Taemin

-Lee Ahneun

Length: Chapered

Rating: T

Summary: ‘Babo jongin, kini kau menjadi adik dari seorang noona yang kau cintai setengah mati!’

 

-oOo-

Author POV

Panti Asuhan, Lapangan Basket

“Berikan padaku, Hyejin-a!”

Namja yang bernama Jongin itu kalang kabut. Ia mendesis pelan menyadari bola basketnya yang berpindah ke tangan Hyejin.

“Ya! Jonginie kau harus mengejarku dulu!” Yeoja berambut cepak pendek itu semakin menjauh dari bahu Jongin. Jongin menggeleng pelan memandangi tingkah sahabatnya itu.

Hyejin dan Jongin sudah 10 tahun tinggal bersama di panti ini. Tak layak jika tidak menyebut mereka sebagai seorang sahabat.

“Kau memang gila, Hyejin-a” Jongin bergumam pada dirinya sendiri dan memilih duduk di tanah daripada mengejar yeoja malapetaka itu.

Hyejin yang terus berlari kini berhenti di kejauhan.

“Wae? Menyerah?” Hyejin tertawa puas melihat Jonginie nya yang duduk terlemas di tanah. Hyejin spontan berjalan ke tempat Jongin berada. Sembari berjalan ia menahan tawanya dan ikut was was akan bola yang ada di dekapannya. “Jonginie babo..” Katanya mencibir.

Ia tersenyum kecut mendapati Jongin yang tidak memperhatikan tawa mengejeknya. Kini Jongin terpaku pada seseorang yang melintasi panti ini. Seorang yeoja, tepat berjalan di luar pagar lapangan basket.

Hyejin mengangguk jahil dan menatap raut wajah Jongin yang terlihat lucu. Ia membungkuk mendekatkan wajahnya ke wajah jongin yang terduduk di tanah. Ya, sekedar agar Jongin menyadari kalau sedari tadi Hyejin ada disana.

Namun, nihil. Rahang Jongin tidak kunjung bergerak memandang wajah yang ada di dekatnya. Hyejin memutar bola matanya kesal.

“Mwoya Jonginie?”

Tidak ada jawaban dari Jongin.

Yeoja asing di seberang pagar itu sedang membeli dua buah ice cream. Jongin lalu tak sadar tersenyum pada dirinya sendiri saat mendapati yeoja itu memberi ice cream satunya pada seorang anak kecil. Namja kecil yang sekedar lewat tak sengaja di depannya.

“Jonginie?”

Tetap tidak ada jawaban dari Jongin. Hyejin terpaksa ikut menikmati pemandangan di seberang pagar itu. Seolah ingin merasakan juga apa yang Jongin rasakan. Selang beberapa waktu yeoja itu berlalu dengan backpack toska yang dikenakannya. Ia menjinjing ice creamnya begitu saja dan langsung berlari kecil ke jalanan di depannya.

Hyejin sekilas membalikan tatapannya ke bola mata Jongin. Bola mata jongin terus mengikuti backpack toska itu. Ya! Sampai backpack itu hilang ditelan bumi!

Melihat itu Hyejin tersenyum jahil,

“Jonginie jatuh cinta!”

3 kata itu sontak membuat Jongin yang sedari tadi terdiam seperti patung tiba-tiba mengambil tindakan.

PLETAKK

Kepalan tangan jongin sukses mendarat tepat di kepala Hyejin. Hyejin yang seharusnya kesakitan malah tertawa puas.

“HAHAHA!!”

Ia terpingkal mendapati pipi Jongin yang tampak seperti udang rebus. Merah sekali.

“Tch,” Jongin mencibir dan berlalu begitu saja. Toh, yeoja asing itu juga sudah menghilang. Jongin lalu dengan tangkas menarik paksa bola basket yang ada di dekapan Hyejin. Dan sukses membuat Hyejin naik pitam.

“Ya! Jonginie kau licik!”

Sementara terukir seulas senyum di bibir Jongin.

-oOo-

Ruang makan itu sangat luas. Terdapat banyak relung kosong untuknya. Tertata rapi di pusat ruangan sebuah perabotan klasik. Meja makan ukuran besar dan juga beberapa kursi menemaninya. Terlihat 3 anggota keluarga sedang menyantap makan malam.

“Bagaimana Leera, kau setuju?” Seseorang yang berpredikat sebagai Appa dari yeoja ini bertanya antusias pada putrinya.

Tanpa pikir panjang Leera mengangguk tanda setuju. Entah apa perasaan yang dirasakannya. Mengadopsi seorang adik laki-laki untuk meluruskan keturunan jabatan di perusahaan ayahnya. Ya, lagipula Leera juga senang mendapat adik yang bisa disayangi.

“Ne, appa. Lagipula siapa lagi yang akan menggantikan jabatan appa di perusahaan nanti?”

Tuan Park tersenyum puas menghadapi tingkah putri satu-satunya itu. Ia bersyukur mempunyai anak yang penurut sekaligus penyayang. Leera kini baru berusia 19 tahun. Ia baru lulus dari Design Academy. Dan mendapat nilai yang sempurna, sehingga ia akan melanjutkan kuliahnya di universitas design. Leera tak akan bisa menggantikan jabatan ayahnya sebagai CEO perusahaan, karena CEO perusahaan haruslah seorang namja yang cakap. Bukan yeoja rapuh seperti Leera yang sama sekali tidak mengerti manajemen dan lebih memilih dunia design.

“Itu berarti kau setuju kan?”

Eomma memandang cemas ke putrinya. Ia takut terpantri sedikit kebimbangan di relung hati putrinya itu. Ia hanya ingin memastikan,

“Ne, eomma. Aku sangat setuju!” Pertanyaan itu dibalas anggukan dari seorang Park Leera.

“Kalau begitu besok kami akan segera mengadopsinya” Nyoya Park tersenyum lega. Ia memandang suaminya yang kini ada di sebelanya.

 

-oOo-

Jongin terdiam di kamarnya. Ia merasakan sesuatu yang menjanggal hatinya.

“Noona?”

Ia terus bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Agar bisa memikirkannya dengan tenang ia pun merebahkan tubuhnya di ranjang.

“Hahh..”

Jongin merasakan nyaman di tubuhnya dan segera mengingat lagi masa lalu. Masa dimana ada seorang yeoja yang sangat ramah dan anggun. Yeoja itu selalu berbaik hati pada semua orang. Jongin selalu melihatnya tersenyum tiap hari.

“Noona backpack toska..”

Jongin bergumam lagi. Ia kini menyambar guling yang ada di sebelahnya dan mencoba untuk mengingat lagi kenangan indah itu. Wajah yeoja itu mulai ia rangkai-rangkai kembali hingga menjadi satu kesatuan. Hingga Jongin bisa kembali mengingat wajahnya seutuhnya.

“Yeppeo”

Jongin bergumam untuk terakhir kalinya. Lalu ia mendapati dirinya yang sudah tertidur.

###

“Ini untukmu adik kecil..”

Yeoja yang mengenakan backpack toska itu mengedipkan matanya pada namja muda sekitar 12 tahun di depannya. Sekaligus menyerahkan sebuah ice cream vanilla kepadanya.

“Jinja? Gamsahamnida noona!”

Namja muda bernama Oh Sehun itu lalu melumat ice cream vanilla nya tanpa basa-basi. Jarang sekali ia menikmatinya. Sementara itu ia melepas pandangannya ke chingu di sebelahnya, Kim Jong In.

“Kau mau ne, jongin hyung?”

Jongin menatap ice cream itu datar. Ia terus memandang ice cream itu dengan pandangan menyelidik.

“Ani,”

Ia lalu mengalihkan pandangannya. Lalu ia sungguh terkejut mendapat wajah yeoja yang kini menyambut pandangannya.

“Adik mau juga?”

Katanya riang. Ia menyodorkan sebuah ice cream cokelat pada Jongin. Membuat aliran darah Jongin mendesir seketika. Kini rona panas menjalar ke pipinya. Ia terdiam memandang uap dingin dari puncak ice cream itu. Lalu pandangannya meraih bibir noona di depannya yang sedang tersenyum.

“Bagaimana kau mau?”

Ia terus menyodorkan ice cream cokelat itu tepat di depan hidung Jongin. Jongin ternganga dalam hati dan lalu segera meraih ice cream pemberian noona di depannya secara perlahan.

“G.. go.. gomawo”

Seketika Jongin tergagap. Namun ekspresinya tetap datar. Membuat orang di sekitarnya tidak sadar akan kegugupan Jongin.

“Hey dik?”

Noona it uterus berujar pada Jongin yang kini memegang ice cream nya erat. Noona itu lalu membungkuk agar bisa menyetarakan wajahnya dengan Jongin. Ia kembali tersenyum dan berujar riang pada Jongin yang tepat beberapa centi di depan batang hidungnya.

“Jangan lupa tersenyum ya!”

DEG

Jongin merasakan hentakan di jantungnya. Seketika aliran darahnya kembali mendesir. Bibirnya hendak mengucapkan sebuah kata.

“err..”

Jongin membeku, seketika ia berfikir ingin bilang apa pada noona di depannya namun ia mengurungkan niatnya. Lalu bibir Jongin yang semula datar tanpa senyuman sekelebat waktu mulai merangkai senyumnya.

Ia memperlihatkan senyum tulusnya itu pada wajah yang hanya berjarak beberapa centi di depannya. Sementara wajah di depannya kembali tersenyum riang.

“Nah begitu!”

Kata noona itu, tangan noona itu pun meraih pipi Jongin dan mencubitnya gemas.

“Kau sangat tampan dik. Sayang kalau tidak tersenyum”

Lalu noona itu pun kembali berdiri tegap. Dan menghela nafasnya berat.

“Hahh.. aku pergi dulu ya?”

“Dahh”

Oh Sehun yang ada di sana spontan mengucapkan selamat tinggal pada noona di depannya, sementara Jongin hanya tersenyum memandangnya. Noona itu pun menghilang dengan backpack toskanya. Tak sadar senyum Jongin masih saja mengembang.

“Ya! Baru kali ini aku melihat Jongin tersenyum!”

Seorang yeoja muda meneriaki Jongin dan menepuk pundaknya. Ia menyegir jahil pada Jongin. Ekspresi Jongin yang sedari tadi tersenyum mulai datar kembali,

“Ya! Hyejin apa yang kau lakukan!”

Hyejin pun hanya mengangkat bahunya. Pandangannya beralih ke sebuah backpack toska yang mulai menjauh.

###

“Hah, aku bermimpi lagi”

Jongin mengucek-ucek matanya. Ia merasa silau dengan sebuah cahaya yang menyapu matanya. Sebuah cahaya terang yang menandakan bahwa hari itu sudah sangat siang. Jongin meraih pandangan kea rah jam weker di sebelahnya. Pukul 08.00.

“Untung saja hari ini hari minggu”

Kata Jongin yang menyadari hari apa hari ini. Ia memang terlalu sering telat bangun. Sampai-sampai membuatnya dicap sebagai siswa yang sering telat datang ke sekolah.

Jongin lalu bangun untuk mengambil posisi duduk. Ia pun teringat akan mimpinya malam tadi.

Bagaimana aku bisa memimpikan dirimu lagi, noona?

Tanpa sadar Jongin tersenyum memikirkannya. Ia lalu beranjak dari tempat tidurnya dan menuju kamar mandi. Entah sihir apa yang membuatnya mandi lebih awal hari ini. Apalagi ia melangkah dengan riang dan bersenandung saat mandi. Sungguh aneh bukan?

“Dudududu… “

Jongin membuka kancing kemejanya perlahan sambil bersenandung. Setelah selesai mengupas seluruh kancingnya ia membuang kemeja itu begitu saja keluar kamar mandi. Ia lalu menatap cermin di depannya. Memandang bagian tubuhnya yang terdapat sebuah abs.

“Sejak kapan aku punya ini?”

Jongin hanya terbingung melihatnya. Ia merasa pertumbuhannya terlalu cepat. Dulu tingginya hanya 150cm saat SMP kelas 1. Ia baru menyadari tinggi badannya yang memuncak saat ini. Saat ini ia duduk di bangku kelulusan SMP dan berumur 15 tahun.

Ia lalu melanjutkan mandinya dan bergumam kecil,

“Mungkin sekarang aku akan jauh lebih tinggi dibanding dirimu noona”

-oOo-

“Namja berumur 15 tahunan?” Seorang Ahjumma paruh baya dengan rambutnya yang di sanggul ke belakang itu tertawa renyah. Ia memandang kedua sosok di depannya yang sekarang memandangnya dengan tatapan cemas.

“Bagaimana ada atau tidak?” Seorang nyonya dengan postur tubuh tinggi yang tak jauh lebih muda darinya berujar dengan nada cemas.

“Tentu saja ada, Tuan dan Nyonya Park” Ahjumma itu lalu tersenyum pada mereka, memberi aksen yang ramah. “Sebentar ya..” Ahjumma itu berkata lagi, lalu berlalu dengan rok payet yang ia kenakan.

Terlihat ekspresi lega diantara sepasang suami istri itu—Tuan dan Nyonya Park.

-/-

Jongin yang baru selesai mandi langsung meluncur menuruni anak tangga. Ia mendekap sebuah bola basket di dekapannya. Ia lalu mengangkat sebelah bibirnya melihat ring basket di depannya.

TAP TAP

Ia menghempaskan bola basketnya ke tanah. Bola it uterus melompat dari tanah hingga ke pinggang Jongin. Ia terus melukannya hingga mencapai ring basket.

CPLUK

Bola basket itu sukses masuk ke dalam ring yang dituju Jongin. Jongin itu menyambutnya dengan ekspresi datar. Tak ada raut kepuasan akan keberhasilannya memasukan bola itu ke dalam ring.

TAP TAP

Ia melanjutkan mendrable bolanya ke tanah. Ia terus melakukannya hingga batinnya puas. Ia lalu mengarahkan bola itu ke ring basket dalam jarak 3 meter lebih.

“Sial..”

Jongin memaki bolanya yang tidak berhasil memasuki ring. Ia lalu membiarkan bolanya terhempas ke tanah dan mencari seseorang yang biasanya selalu menemaninya bermain basket. Atau lebih tepatnya menggaggunya bermain basket. Ya, Kang Hyejin.

Pandangan jongin terus menelusuri kamar demi kamar dan balkon pantinya itu. Namun nihil, tak terlihat batang hidung yeoja yang berambut cepak pendek itu.

“Kim Jong In!”

Suara yang sangat dikenali Jongin memanggilnya. Spontan Jongin menuju kea rah Ahjumma yang memanggilnya, “Wae ahjumma?” Kata Jongin datar, tidak terdengar antusias sama sekali.

Ahjumma itu pun sedikit berbisik pada Jongin. “Kau akan diadopsi..”

Jongin terdiam, ahjumma itu melanjutkan bisikannya “Oleh seorang CEO perusahaam Park!”

Mendengar itu Jongin tertegun. Bukan karena jabatan yang dimiliki oleh orang yang akan mengadopsinya. Melainkan jiwanya yang terasa terhempas begitu saja. Sungguh ia tak menyangka ia akan diadopsi. Pikirannya hanya tinggal-di-panti-ini-selamanya. Spontan Jongin membayangkan masa depannya tanpa teman-teman sejawatnya selama ini, Kang Hyejin dan Oh Sehun. Juga. Oh iya, noona yang biasanya dilihatnya di depan panti ini. Kini ia tak akan merasakan itu semua. Lagi.

Di dalam hatinya Jongin hanya mengangguk pasrah.

Ya, ini takdirmu sendiri jongin’

Jongin menelan ludahnya dalam-dalam saat ahjuma itu mulai menggiringnya ke suatu tempat. Iya, ruangan kantor utama panti ini. Perasaan Jongin seperti seorang terdakwa yang akan dihakimi. Ia gelisah.

Jongin melihat sepasang mata menatap ramah kepadanya sekaligus lega. Sepasang mata itu tak lain tak bukan adalah milik sepasang suami istri Park.

“Tampan..” Gumam nyonya Park pada suaminya sambil menyenggol lengan suaminya. Dibalas seulas senyum dari tuan park. Sementara itu ahjumma langsung memulai pembicaraannya.

“Bukankah ini yang kalian inginkan? Seorang yang namja tampan, terampil. Dia juga jago bermain bakset lho” Ahjumma menggoncang-goncangkan pundak Jongin. Membangga-banggakannya di depan pasangan Park.

Jongin yang sedari tadi terdiam mulai menatap lebih dalam calon orang tuanya itu. Ia berinisiatif untuk membungkuk dan mengusahakan senyum tipis pada mereka.

“Kim Jong In imnida” Kata Jongin kalem.

“Anak yang sopan,” Tuan Park mencermati tingkah Jongin.

“Gamsahamnida” Balas Jongin berusaha sopan.

Jongin pun merasa risih dan sedikit canggung di suasana ini. Ia pun hendak meminta izin dengan ahjumma nya itu.

“Bisakah aku mengambil barang-barangku sekarang?”

Ahjumma itu mengangguk dengan air muka yang ramah. Sementara Jongin sudah membelakangi mereka. Selepas keluar dari ruangan yang sesak itu Jongin langsung berlari menaiki anak tangga dan mendapati kamarnya. Ia segera membongkar isi lemarinya dan memasukan semuanya kedalam kopor.

BLAM

Jongin sudah selesai membenahinya dan menutup kopernya. Ia bisa melakukannya dengan sangat cepat. Tiba-tiba ada yang membuat perhatian Jongin tersita begitu saja.

Sebuah bingkai foto yang berdiri di atas meja jongin.

Ia memandanginya penuh selidik. Ia bangkit dan segera meraih bingkai foto itu. Di foto itu tertera Hyejin dan dirinya. Ya, sedang bermain basket. Terlihat disitu ekspresi Hyejin yang sangat riang sambil memasang V Sign kea rah kamera. Sementara jongin hanya tersenyum tipis sambil mendekap bola basketnya. Ia teringat, Sehun lah yang mengambil gambar. Dan yang memasang foto ini disini bukanlah dirinya sendiri. Melainkan Hyejin beberapa tahun yang lalu.

Tanpa pikir panjang Jongin menyambar bingkai foto itu dan memasukannya ke kopor. Ia lalu dengan ligat berlari menyusuri anak tangga dan mendapati lapangan basket di depan matanya. Ia langsung menuju bola basketnya dan memungutnya. Kembali mendekapnya seperti semula.

Ia hendak melangkah menuju ruangan tadi. Namun kakinya terhenti memandang dan mencari-cari sosok Hyejin. Dia berfikir, apa Hyejin tahu semua ini? Ia memandang suasana pantinya. Apakah aku akan merindukan kalian? Timpal jongin.

Sebuah tangan mendarat di bahu Jongin. Membuat Jongin kaget,

“Hyejin?” Ujar Jongin berharap. Namun, dia bukan Hyejin. Melainkan ahjumma. Dengan lugas Ahjuma itu kembali mengiring Jongin ke ruangan tadi untuk segera pamit.

“Mereka sudah menunggu lama jongin. Hati-hati disana ya”

Ahjumma itu terlihat tersenyum tulus pada Jongin yang hanya memandangnya dengan datar.

“Ne,”

Mereka pun kini sudah sampai di ruangan itu. Jongin pun menatap calon orang tuanya lekat. Ia tersenyum tipis, sebuah senyum yang dipaksakan. Ia lalu berpindah posisi ke depan wajah ahjumma. Jongin membungkukan tubuhnya.

“Aku pergi ya, ahjumma. Terimakasih telah mengurusku selama ini”

Jongin menatap ahjumma itu lekat. Ia tersenyum tulus pada ahjumma yang telah mengurusnya selama ini. Bahu Jongin pun kini berbalik membelakangi ahjumma. Ia melangkah mendekati tuan dan nyonya park. Nyonya park tersenyum padanya.

“Ayo kita ke mobil”

Jongin pun membuntuti kedua orang tuanya dan keluar dari ruangan itu. Kini ia berada di taman panti. Menginjak rerumputan liar yang tak diurus itu. Ia lalu berhenti dari langkahnya sejenak untuk menghirup aroma terakhir dari pantinya ini, aroma embun yang khas. Sementara itu pasangan park terus melangkah menuju mobilnya, tak menyadarinya.

Jongin terus memandangi sekelilignya. Diam-diam ia mencari sosok Hyejin. Kalau mau terus terang, ia bisa saja bertanya pada ahjumma. Namun kali ini lain.

“Ya! Jonginie!”

Jongin mengenali suara ini. Seketika nafasnya tercekat merasakan lingakaran tangan yang memeluknya begitu saja dari belakang. Ia merasakan kausnya yang basah dari wajah yeoja yang memeluknya itu.

Jongin membalikan badannya agar bisa menatap wajah sahabatnya itu. Ia membiarkan kepala Hyejin menopang di dadanya. Hyejin terus saja mengeluarkan air matanya, sementara itu Jongin meraih ujung kepalanya, mengusapnya agar ia bisa sedikit tenang. Yeoja itu masih saja terus menangis.

“Hyejin-a…” Kata Jongin lirih. Mata nya menangkap Hyejin yang masih terus menangis. Jongin lalu meraih pundak Hyejin yang jelas mendekap pada tubuh Jongin. Ia menjauhkan sedikit dekapan Hyejin agar bisa menatap wajahnya. Hyejin pun mendongak untuk balas melihat wajah Jongin yang begitu mengkhawatirkannya. Ia menghentikan tangisannya sejenak.

“Jonginie..” Katanya dengan suara parau. Hyejin menggeleng pelan pada Jongin. “Jangan ikut mereka Jonginie.. aku tidak mau kau pergi..”

Punggung tangan Jongin meraih pipi Hyejin. Ia mengusap air matanya. “Jangan menangis lagi Hyejin-a. Kau terlihat berantakan..”

Jongin lalu menatap wajah Hyejin dengan tatapan datar. Lalu lama-kelamaan berubah menjadi sebuah senyuman yang manis. “Hyejin-a..” Kata Jongin lagi.

Hyejin menatap lekat wajah Jongin yang tersenyum. Ia lalu memaksakan senyumnya. Hyejin sungguh merasa terpukul sekali kehilangan Jongin.

“Aku pasti akan merindukanmu, Hyejin-a” Jongin memegang pundak Hyejin erat dan menariknya kedalam pelukannya. Di balik pelukan Jongin tangisan Hyejin semakin menjadi. Sementara dengan Jongin, diam-diam ia meneteskan air matanya (juga). Ia lalu dengan cepat menghapusnya dan membalikan dekapannya terhadap Hyejin.

“Jaga dirimu baik-baik, Hyejin-a. Selamat tinggal..”

Jongin mengangkat kopernya. Ia membelakangi Hyejin yang tengah memperhatikannya lekat dengan matanya yang sembab. Hyejin tak mampu berkata-kata. Ia pun melepas Jongin begitu saja.

-oOo-

Park Leera kini sedang bermain dengan kucingnya. Walaupun kini ia sudah genap berumur 20 tahun namun perilakunya masih saja terlihat kekanak-kanakan. Apalagi tingkahnya yang memainkan seekor kucing.

“Tangkaplah ini, gothic-mochi!” Ia terus melemparkan ikan-ikan kecil pada seekor kucing Persia itu. Kucing itu lalu menangkap ikan yang di lempar Leera dengan tangkas.

“Miaw..” Kata kucing itu, mengartikan sebuah anggapan terimakasih pada Leera. Leera yang melihat itu tersenyum puas.

CKLEK

Sepasang pintu besar yang tepat di seberangnya itu terbuka lebar. Leera menyelidiki gelagat pintu itu. Ia lalu terus memandanginya hingga terdapat orang yang masuk.

“Appa! Eomma!” Pekiknya senang. Ia pun lalu melangkah menuju pintu itu dan meraih pundak Appa dan Eommanya. Leera lalu melepaskan keduanya. Ia tersenyum miring mendapati seseorang yang asing memasuki rumahnya.

Ia adalah namja sekitar 15 tahunan. Mengenakan sebuah t-shirt biru, bahkan ia terlihat lebih tinggi dari Leera.

“Annyeong,” Kata Leera ramah kepada namja itu. Sementara namja itu hanya menunjukan sebuah ekspresi kaget dan abstrak.

“Huh?” Kata Leera bingung, ia mengangkat salah satu alisnya.

 

Jongin POV

“Annyeong,” Seorang yeoja menyambutku saat baru saja aku bernafas memasuki rumah mewah ini.

Aku merasa nafasku tercekat seketika. Aku memandangi tiap lekuk wajah yeoja di depanku ini. Yang sedang menyambutku dengan ramah ini. Aku sungguh tercengang hebat saat menyadari siapa yang aku pandang ini. Dia.. dia adalah noona backpack toska itu!

“Huh?” Katanya lagi.

Aku pun melangkah lebih jauh untuk masuk ke dalam rumah ini. Aku menjauhi pintu itu dan berusaha bertahan dengan tatapan datarku. Bertahan agar yeoja itu tidak sadar kalau aku sedang tercengang hebat.

“Annyeong…” Aku langsung mengucapkan itu sembari ia menelusuri raut wajahku. Aku berhasil menatapnya secara normal, ya secara datar.

Senyumnya pun semakin melebar. Entahlah, dia terlihat sangat gembira. Aku melihat bibir mungilnya yang hendak berujar. Namun, aku sudah memotongnya seakan aku tahu apa yang difikirkannya. Ya, aku melakukannya agar aku terlihat professional.

“Kim Jong In imnida” Aku membungkuk padanya dan kembali menatapnya datar.

Selang beberapa menit ia tak kunjung melepaskan senyum di wajahnya. Aku pun dengan sangsi ikut merangkai senyum di bibirku. Memberinya sebuah pemandangan yang mungkin ia inginkan.

“Aigo, kau terlihat sangat tampan jika tersenyum!” Ia lalu mencubit pipiku gemas. Tentu saja aku tidak bisa menghindar begitu saja. Kubiarkan begitu saja jemarinya menghimpit daging pipiku dengan gemas. Aku hanya memandangnya yang berada beberapa centi di bawahku. Tanpa sadar aku merasakan darahku kembali berdesir. Aku merasakan panas yang sangat terasa di tubuhku.

Ia lalu menjauhkan tangannya dari wajahku. Fiuh, untung saja. Sampai kapan ia terus membuat pipiku merona karenanya?

Aku terus terperangah dengan tingkahnya yang bisa dibilang proaktif. Aku bahkan tidak bisa berfikir jernih saat ia terus menanyaiku dengan pertanyaannya yang manis itu. Dia memperlakukanku seolah-olah aku anak umur 5 tahun.

“Berapa umurmu, Kim Jong In?” Katanya lembut sambil menatap lekat bola mataku.

Mwoya! Jangan seperti itu noona.. jangan sembarangan menatap lekat bola mataku. Kau tidak tahu aku bisa terkena serangan jantung nantinya.

“err.. 15 tahun,” Kataku sedikit gugup. Namun aku terus berusaha mengeluarkan ekspresi datar di depan wajahnya.

“Oh iya, mulai sekarang namamu bukan Kim Jong In! Melainkan Park-Jong-In!” Ia menekankan kata Park pada kalimatnya. Aku hanya mengangguk sambil terdiam padanya. Ya, aku tak akan banyak bicara. Aku terlalu gugup di depannya.

Ia lalu berujar lagi dengan senyumannya yang memikat itu.

“Kau tahu, aku pikir aku akan sangat menyayangimu..”

DEG!

Babo noona. Kau hanya membuat jantungku semakin cepat rusak saja.

“Nne..” Aku berusaha menjawab kalimatnya yang sangat hangat itu. Hanya saja mungkin aku terlihat gugup. Dari tadi aku bisa merasakan pipiku yang panas. Kupastikan wajahku seperti udang rebus sekarang. Ya, jongin kau terlihat bodoh!

Aku pun terdiam sejenak. Aku bingung tentang apa yang pertama-tama akan kulakukan disini. Aku pun mulai menatap sekeliling rumah ini dan bertanya-tanya pada diriku sendiri,

“Park Jong In?” Sebuah suara keibuan memanggilku. Dia nyonya park, yang sekarang resmi menjadi eomma ku.

“Ne?” Kataku yang berusaha antusias. Ia pun tersenyum padaku. Sungguh itu sangat membuatku risih,

“Kau bisa menanyakan semuanya pada Leera.. apapun” Katanya lagi.

Pandanganku yang semula memandang eomma langsung tertuju pada wajah yang sedang tersenyum sumringah padaku. Ya wajah yeppeo itu, leera noona.

Aku pun membuka mulutku ingin mengucapkan sebuah kata-kata.

“Mmmm.. noona, dimana kamarku?” Ya, itu pertanyaan yang sungguh ingin kutanyakan sedari tadi. Aku tidak mau terlihat konyol terus-terusan di depannya.

Ia lalu terkekeh. “Wajahmu lucu sekali jongin” Katanya.

Mwoya? Arghh.. sudah kubilang kan aku terlihat bodoh sekali disini.

Aku rasa noona itu menyadari perubahan ekspresiku yang menjadi sedikit kesal. Ia pun lalu berhenti terkekeh dan segera berujar, “ikuti aku, jongin”

Aku pun hendak melangkahkan kakiku. Namun tiba-tiba ia menarik tanganku. Menarik dengan cara menggenggam telapak tanganku begitu saja. Ya ampun, ia sungguh memperlakukan ku sebagai anak kecil!

Ia pun melangkahkan kakinya menaiki anak tangga. Aku pun mengikuti arah genggaman tangannya itu yang terus menerus berayun seiring kami melangkah.

Sementara dalam hati aku merutuki diriku sendiri,

Bodoh! Bagaimana aku bisa mencintainya kalau dia adalah kakakku sendiri?!

-oOo-

A/N: Annyeong readers! Bagaimana FF ku? Jebal aku butuh saran dan kritik kalian! smoga kalian mau ya.. hihi. Jangan jadi siders dong gak tanggung jawab :p Okeh thanks keep calm untuk part selanjutnya ye.. ^^ Gamsahamnida^^

Author: Saarah

an unavailable writer

3 thoughts on “Can I Marry You My Sister? [Part 1]

  1. Wah wah tambah penasaran aku tor. Pengen tau nasib hbnganx mreka. ^^ next😀

  2. gimana nasib nya Jongin ya?
    next thor~

Here We Need Responsibilities. Thanks!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s