EXO Fanfiction Dorm

EXO as the Main Cast

HEART CHOICES [FULL/LONGSHOT]

2 Comments

Heart Choices

Blendhuhuda

Tittle

HEART CHOICES

Author

Bekicot Princess

Main Casts

Seohyun SNSD

Sehun EXO K

Yoona SNSD

Support Casts

EXO K

Class

Genre

Sad Romance, Angst, AU, Dark

Length

Before-Chaptered

Now-Full/Longshot

Summary

Kalian tidak bisa berbohong padaku, karena aku bisa mendengar suara hati orang lain hanya dengan menyentuhnya

Seohyun POV

Aku heran dengan diriku sendiri, apa aku kelainan jiwa? Atau semacamnya. Tapi sungguh ini sangat mengganggu hidupku. Aku bisa mendengar isi hati semua orang hanya dengan menyentuh tubuh orang tersebut. Kalian mungkin berfikir itu kelebihan yang luar biasa. Namun, mendengar isi hati orang lain sungguhlah tidak menyenangkan.

“Seo Joo Hyun.” Terdengar geming suara dari depan kelas. Ah, seosangnim Changmin sedang mengabsen,

“Ne, hadir.”

Aku mengangkat tanganku dengan lembut dan suara yang sedikit gemetar. Sungguh aku tadi mendengar isi hati seosangnim yang sangat mengerikan. Tadi pagi aku bersentuhan dengannya dan aku mendengar isi hatinya yaitu Sebelum dia berangkat mengajar, dia memukul istrinya yang sedang hamil karena tidak membuatkan seosangnim sarapan. Makanya aku gemetar saat di absen olehnya.

SKIP>>

Sampai sekarang, hari kedua sekolah. Aku belum mendapat seorang chingu yang setia padaku. Yang bisa mengerti aku. Mungkin mereka takut padaku karena aku tidak pernah tersenyum ataupun tertawa sama sekali. Mereka melihatku sebagai Seohyun yang angkuh dan aneh. Padahal mereka salah, aku selalu gemetar melihat mereka. Dibalik kepribadian mereka yang ceria, ternyata mereka mudah saling membenci. Oh Tuhan, andai saja aku tidak tahu isi hati mereka, mungkin aku tidak akan setakut ini.

Tiba-tiba seseorang mengaburkan lamunanku.

“Kau Seohyun kan? “

Benar seseorang memanggilku dari belakang, dia menyentuh pundakku. Saat ku melihatnya, oh ternyata dia adalah Oh Se Hun, dia hampir sama seperti ku pendiam dan tidak terlalu aktif di kelas. Aku hanya berharap saat itu dia menawarkan diri jadi chingu baruku. Namun tidak,

“Tolong ambilkan penghapusku.”

Dia menunjuk penghapusnya yang jatuh di bawah mejaku. Akupun mengambilnya. Lalu menyerahkan penghapusnya dengan senyuman yang ku usahakan sekeras mungkin. Karena, masa sih aku takut dengan Sehun yang pendiam? Dia kan tak punya niat buruk.

“Gamsahamnida”  Katanya.

Sehun pun langsung menggunakan penghapusnya dengan tenang. Tak terasa aku merasa keringat dingin sendiri. Padahal isi hati nya yang kudengar tidak buruk, dia hanya mengatakan:

Seohyun anak yang sangat baik, bahkan senyumannya benar-benar manis’

Aniyoo.. apa aku tidak salah dengar dengan isi hatinya? Senyumku manis. Oh Tuhan terimakasih, aku akan mulai menjadi anak yang baik dan selalu tersenyum.

SKIP>>

Sejak itu aku selalu memerhatikan Sehun untuk memancing percakapan dengannya. Sungguh aku hanya ingin menjadi chingu barunya, ku mohon Oh Se Hun lihatlah aku, ajak aku bicara atau kalau tidak… aku akan kehilangan banyak harapan.

Aniyo… Dia sama sekali tidak memandangku,

Aku pun jadi ketakutan sekarang, mengapa Sehun jadi dingin? Aura kelas ini serasa berubah sekali. Aku jadi tidak bersemangat lagi. Padahal sejak Sehun waktu itu bilang senyumku manis (walaupun di dalam hatinya) aku akan bertekad untuk selalu tersenyum. Namun sekarang, harapan itu sirna. Atau apakah mungkin aku menyukai Oh Se Hun?

Aku masih memandangi Sehun dengan tatapan kesal, dan seketika itu ada seorang yeoja yang berlari kearah ku dan tak sengaja bersentuhan dengan tanganku. Spontan aku terbayang isi hatinya,

‘Jangan sok mencari perhatiannya Oh Se Hun. Dasar yeoja mengerikan. Kau saja tak pernah tersenyum.’

Ya ampun? Siapa yeoja itu? Akupun langsung menengok ke belakang. Ternyata dia adalah Dani T-Ara, sang ketua kelas. Tapi anehnya saat aku menatap wajahnya, dia malah tersenyum. Benar-benar aneh bukan manusia itu? Di dalam hatinya dia benci padaku, namun di luar hatinya dia tersenyum padaku. Ini yang tidak kusuka dari manusia. Mereka itu munafik sekali.

SKIP>>

 

#
Dua minggu kemudian..

 

Author POV

Seohyun mengenakan seragam sekolahnya, dia sekarang sudah siap untuk berangkat ke sekolah. Tempat yang mengerikan itu. Sampai saat ini pun Seohyun tak pernah cerita kepada orangtuanya tentang ini. Dia memendamnya selalu,

“Seohyun, kau tidak apa-apa kan?”

Omonni menarik tangan Seohyun yang hendak pergi. Soehyun terhenti dan menatap mata ibunya dengan tatapan ‘ya aku baik-baik saja’.  “Ne, aku tidak apa-apa.”

Lalu Seohyun berangkat ke stasiun kereta yang ada di dekat rumahnya, hanya dengan kereta lah Seohyun bisa ke sekolahnya. Karena di daerah Bussan ini hanya ada satu sekolah pusat yaitu di Bussan Center Academy.

Seohyun melangkahkan kakinya dengan pasti, dan dalam hatinya ia berkata

‘Aku yakin aku akan dapat chingu yang setia padaku, makanya aku tidak akan menyerah’

—-

#
Bussan Center Academy

Author POV

Seohyun sudah sampai di hamparan rumput sekolah, dia datang pagi-pagi sekali. Dia pun menyusuri jalan masuk kelasnya, di jalan dia sempat dijahili oleh BaekYeol couple yang katanya couple paling ganas dan gila di sekolah ini setelah couple TaeNy.

“Yeojaa… ada uang mu jatuh tuh!” Baekhyun yang disapa Bacon itu menunjuk lantai sambil menggugah pundak Seohyun.

Seohyun pun lalu menengok kearah yang ditunjuk oleh Baekhyun. “Mwo?”

BaekYeol pun lalu tertawa terbahak-bahak. Lalu berseru bersama,

“MATA DUITANN! GYAHAHA.”

 

 

Seohyun POV

Apa-apaan ini? Baru pagi-pagi saja aku sudah dikejutkan seperti ini, mwo. Ini gila, Baekhyun tampangnya memang cute tapi mengapa dia brutal dan gila seperti ini? Begitu juga Chanyeol yang tinggi dan tampan, tapi sayangnya aku dibuat ilfil sama kelakuannya.

“Dia adalah korban kita yang pertama!” Chanyeol pun membuka mulutnya yang selebar samudera itu dengan teganya -_-

Aku pun tidak peduli dan langsung melanjutkan jalanku ke kelas, masih terdengar suara-suara mereka berdua yang bergema akibat masih sepinya sekolah.

“Chukkae ne yeoja !!! Kau tlah menjadi..” Suara Baekhyun habis dia pun berdehem-dehem *nah sukurin!*

Chanyeol melanjutkan omongan Baekhyun,

“Kau tlah menjadi korban kita yang pertamaaa~ yo, yo.. ” Lanjut Chanyeol sambil di lagu-kan dan di tambah rap.

Baiklah, kini aku sudah jauh dari kedua orang autis itu. Setidaknya suara mereka yang sangat berisik sudah tidak terdengar lagi,

#
Kelas

Seohyun POV

Aku duduk anteng di bangku ku. Setidaknya aku menulis-nulis sesuatu yang tidak jelas di sebuah kertas untuk mengisi kejenuhan. Biasanya yang datang kedua setelah aku adalah Suho, kini aku tinggal menunggunya saja dan menebak apakah nanti dia akan menyapaku?

Aku bisa membayangkan dia masuk dengan backpack hitamnya dan seragamnya yang benar-benar rapih. Lalu dia akan mengucapkan ‘Annyeong’ dengan sangat besar ke seluruh penjuru kelas. Lalu dia duduk di bangku nya lalu langsung menghidupkan laptopnya.

Tapi bisa juga kalau…

“Annyeong Haseyooo~”  Tiba-tiba suara yang nyaring  terdengar dari pintu kelas.

Mwo? Siapa itu, aku belum pernah melihatnya sebelumnya. Itu bukan Suho yang menggunakan backpack hitam dengan seragam yang rapih. Namun, dia seorang yeoja! Ya yejoa! Mungkin anak baru, ku harap dia tidak pendiam juga sepertiku kalau tidak dia bakal dibully habis-habisan.

“Annyeong,” Yeoja itu tersenyum ke arahku. Karena memang hanya aku yang ada di kelas.

Ya ampun benar-benar cantik yeoja ini. Tubuhnya benar-benar ideal dan wajahnya terlihat sangat bahagia, prediksiku dia pasti akan selalu cantik walaupun sedang merengut. Pemikiranku ini sangat dangkal dan polos ya.

Oh iya! Aku lupa membalas senyumnya, entah mengapa aku selalu mementingkan hal berbau ‘senyum’. Aku sekarang berpikir untuk selalu membalas senyum orang lain selagi masih ada waktu. Aku pun berusaha mengajaknya ngobrol.

“Kau anak baru? Silahkan duduk di sebelahku, ini kosong.”

Aku akhirnya bisa tersenyum padanya. Sungguh aura yeoja ini benar-benar berbeda dengan aura yeoja lain seperti Dani.

“Gamsahamnida ne~ kau sangat baik,” Yeoja itu menarik kursi dan duduk diatasnya, kini dia ada di sebelahku. Saat itu juga, kakiku bersentuhan dengan kakinya.. mwo, isi hatinya adalah:

‘Terimakasih oh Tuhan kau tlah memberiku chingu yang benar-benar baik’

Bisikan isi hatinya membuat senyumku semakin mengembang, ne~ dia tidak munafik, bisa kau bayangkan? Dia berbicara sama dengan apa yang ada di dalam hatinya.

“Kau datang pagi sekali ne,” Dia memulai pembicaraanya denganku. Sungguh dia mungkin orang yang sangat mudah bergaul dan dia tidak sepertiku.

“Hahaha.. aku suka keheningan di pagi hari,” Aku membalasnya dengan tersenyum ringan.

Wah.. benar-benar pagi yang begitu indah. Ditemani chingu baru yang sangat setia, ya tuhan aku harus melakukan apa untuk membalasnya?

Author POV

Saat itu Bel masuk pun berbunyi, percakapan antara Seohyun dan yeoja baru itu semakin panjang. Semua murid yang baru masuk ke kelas pun kaget melihat ada yeoja baru yang amat cantik itu. Apalagi sekarang dia sedang berbicara dengan yeoja murung seperti Seohyun. Itu aneh.

Apalagi Oh Se Hun yang melihat itu, dia benar-benar kaget. Kekagetan nya ditangkap oleh mata Seohyun.

Seohyun yang dari tadi bicara dengan yeoja baru itu baru sadar kalau dia belum tahu namanya, namun Saesangnim Choi sudah masuk kelas.

Semua murid bingung siapa yang harus menyiapkan kelas, SuHo tidak masuk sekolah hari ini. Akhirnya Leetuk lah yang menggantikannya.

“Ucapkan Salam pada Saesangim..” Leetuk menyiapkan kelas,

Lalu semua murid memberi salam serentak pada saesangnim Choi.

Saesangnim Choi pun mulai berbicara,

“Kita kedatangan murid baru yaitu Im Yoon Ah.. Silahkan perkenalkan dirimu,”

YoonA pun maju kedepan, dialah yeoja yang dari tadi ngobrol dengan Seohyun.

“Annyeong Haseyo, naneun Im Yoon Ah imnida, saya pindahan dari sekolah di Seoul. Namun karena terlalu jauh, saya pindah ke sekolah ini.”

Lalu semuanya memandangi Yoona, memandangi kecantikannya. Lalu Yoona pun menebar senyum ke semua orang.

“Gamsahamnida~” Yoona lalu membungkuk tanda terimakasih lalu kembali ke bangkunya.

Sehun mengikuti gerak Yoona hingga ke bangkunya. Lalu memberi senyum pada Yoona. Yoona pun tersenyum kembali padanya.

#
2 Minggu Kemudian

Author POV

“Yoona-Ah, apa kau pernah jatuh cinta?” Seohyun bertanya sangat polos pada chingu barunya, Yoona.

“Tentu saja pernah, Seo-Ah..” Yoona menjawab dengan semangat.

Seohyun lalu tersenyum-senyum dan menggugah-gugah pundak Yoona.

“Hmm…. Siapa orang itu Yoona-Ah?? Aku penasaran ne~”

“Kau akan kuberitahu besok!!” Yoona lalu meloncat-loncat,

Lalu Yoona langsung melanjutkan kata-katanya “Besok kau juga harus putuskan! Siapa orang yang kau sedang sukai, arraseo??”

Seohyun lalu mengangguk kalem. “Arraseo ne”

SKIP>>

#
Perpustakaan

Seohyun POV

Bagaimana ini ? aku emangnya pernah jatuh cinta dengan siapa, padahal kan tadinya aku ingin menanyakan ke Yoona jatuh cinta itu bagaimana. Tapi mengapa dia malah menyuruhku memberitahunya siapa orang yang kusukai. Aku kan tidak tahu. Aku bahkan tidak pernah tertarik dengan siapapun. Oh, bagaimana ini. Mengapa aku menyetujui Yoona saat itu? Babo babo..

“Permisi, tapi itu tempat duduk sahabatku.”

Ya ampun siapa itu? Namja yang kelihatan seperti yeoja, alangkah cantiknya. Eh, aku disuruh minggir dari tempatku ini? Padahal kan aku telah mengecup nya duluan sejak awal.

“Mianhae ne, tapi aku sudah disini sejak dari awal..” Aku pun mendongak ke arah wajah namja imut itu lalu kembali membaca buku.

“Hei.. tapi ini sudah perjanjian antara aku dan Sehun! Kalau aku duduk dia harus ada di sampingku!”

Mwo? Apa katanya? Sehun? Ini bangku Sehun? Sejak kapan Sehun punya sunbae yang sedekat itu dengannya?

“Sudahlah Luhan hyung, biarkan dia menikmatnya. Dia kan sudah dari awal disini.” Sehun menarik tangan Luhan yang hendak menarikku.

Ya ampun, Sehun-ssi? Segitunya kah…

“Tidak bisa!!” Luhan tetap menarik tanganku dengan kasar.

Isi hati Luhan benar-benar menyakitkan,
‘Apasih kau ini?! Mengganggu saja,!!’

Akupun merengut dan berusaha melepaskan diriku dari tarikan Luhan. Aku tak bisa beradu omongan dengan Luhan seperti yeoja lainnya. Aku hanya diam namun tindakannku bergerak melepaskannya. Aku pun memandangi Sehun.. Sehun ,, dia tidak diam saja,

“Sudah Luhan hyung, tidak perlu kasar dengan yeoja kan? Kasihan dia.” Sehun mulai menarik tangan Luhan dan mengajak Luhan ke taman. Luhan pun menghembuskan nafasnya dengan berat.

“Baiklah~”

Kini mereka berdua pergi meninggalkan perpustakaan.

Hfft.. Lega sekali rasanya, apalagi saat Sehun-ssi membelaku, sungguh. Entah apa yang kurasakan, hatiku serasa meleleh.. omo… ehh, ehh apa itu? Yoona berpapasan dengan Sehun sambil saling tersenyum? Jeongmal eottokhae? Bagaimana dia melakukannya? Apakah karena dia lebih kyeopta dibanding aku?

Saat aku melamun Yoona ternyata sudah menghampiriku, sontak aku kaget.

“Yoon.. yoona? Mengapa kau ke perpustakaan? Bukannya kau ke kantin untuk makan?” Aku bertanya padanya dengan gugup. Entah mengapa aku gugup, padahal tidak ada apa-apa.

“Aku sudah selesai makan, ada apa denganmu Seo-Ah? Apa kau tidak apa-apa? Kau pucat sekali?”

“Anniyooo.. tadi,” Aku keceplosan pada Yoona, aku tidak mau Yoona dengar ini.

“Yasudah ayo kita ke taman?” Yoona mengajakku dengan senyumnya, aku sebenarnya malas ke taman karena Sehun sudah memberikan kursi ini untukku. Dia membelaku, dan kalau aku ke taman pasti aku dan Yoona akan dipelototi oleh Luhan dan juga… Sehun mungkin akan marah besar padaku jika aku tidak memanfaatkan kursi ini dengan baik.

Aniyoo, mwo? Ini hanya kursi.

“Aniyoo.. aku mau baca buku, mianhae Yoona-Ah..”

“Yasudah aku pergi sendirian saja ? arraseo, kau balik ke kelas sendiri ne?”

“Ne~” aku menjawab dengan senyum.

Lalu aku bersentuhan dengan Yoona dan aku mendengar isi hatinya,
‘Semoga dia menerimaku, sehingga aku punya cerita yang menarik untuk diceritakan ke Seohyun-Ah’

Mwo? Apa maksudnya? Aku sempat bingung karena selama ini aku tidak pernah mendengar isi hati Yoona yang amat teramat aneh seperti ini. Namun, entah kenapa aku jadi tidak peduli dan kembali hanyut saja pada buku yang kubaca dan menikmati kursi yang Sehun berikan padaku. Mwo? Kenapa aku selalu mengungkit-ungkit kursi ini?! Sudahlah,

Yonna pun pergi dari perpustakaan, dia menuju ke taman.

#
Keesokan Harinya

Seohyun POV

Hari ini kami sudah berjanji untuk memberi tahu masing-masing namja yang kami suka. Aku pun sudah tau siapa yang kuputuskan untuk menjadi namja yang kusuka. Aku sangat berdebar untuk memberitahu ke Yoona. Aku juga sangat penasaran siapa namja yang disukai Yoona. Namun aku melihat ada hal yang aneh dari Yoona pagi ini, entah kenapa dia seperti orang gila? Ketawa-tawa sendiri suka senyum-senyum sendiri. Huhu~ tapi mungkin dia akan memberitahunya padaku mengapa dia seperti itu.

“Seohyun-Ah!! Ayoo kita ke taman sambil membicarakannyaa~” Ajak Yoona padaku dia sangat bersemangat, sampai-sampai aku hampir terjatuh.

“Ne..” Aku hanya menjawabnya dengan pura-pura malas.

Kami pun akhirnya berlari menuju taman. Melewati banyak kerumunan. Yoona benar-benar tidak hati-hati, walaupun wajahnya terlihat cantik dan anggun tetapi dia benar-benar lincah dan susah dikontrol. Ya beginilah resikonya berteman dengan orang yang lincah. Namun baiknya adalah Yoona tidak munafik seperti yang lain.

BRUKKK

Oh tidak, jangan ada masalah lagi. Kini tatapanku hanya ke tanah, sungguh aku tidak berani melihat ke atas. Siapapun yang kutabrak jebal jangan marah padaku.

“Aigoo.. jeongmal mianhae,”

Suara siapa itu?

OH SE HUN?!

Oh tidak, dia bersama Kai dan anggota EXO yang lainnya. Matilah aku,

Tapi untungnya mereka langsung pergi, namun mengapa Sehun kembali dingin padaku? Oh.. menyebalkan dan yang paling menyebalkan lagi, aku tidak mendengar apa-apa dari hatinya. Mungkin pikiran dia sedang kosong tadi?

“Seohyun-Ah, ayo bangun…” Yoona menarikku secara paksa, karena dia tidak sabaran ingin segera ke taman. Ya ya aku tahu Yoona kau sangat senang sekarang, tapi mohon jangan kasar padaku eoh?

“Ne, Yoona-Ah sabar sedikit.” Akupun sudah bangkit dan kini sudah berjalan bersamanya menuju taman. Namun aku masih menyambut bantuan kasar nya itu dengan senyum terbaikku, bagaimanapun dia kan chingu ku yang paling berharga.

‘Oh Seohyun-Ah.. aku benar-benar sangat senang sekarang.. mohon kau lebih cepattt.. Oh kau pasti akan kaget mendengarnya’

Itulah isi hati Yoona tadi saat dia menggenggam tanganku, aku semakin penasaran. Dasar Yoona J

#
Taman

“Masih penasaran denganku Seohyun-Ah?” Yoona mulai menggodaku, oh ini kebiasaannya untuk membuat orang penasaran.

“Tentu sajalah Yoon!!” Aku menjerit padanya tanda semangat. Yoona pun langsung mengembang senyumnya. Aku harap dia akan memberitahuku sesegera mungkin.

“Tapi kau duluan deh Seohyun-Ah!! Biar tambah seru!”

Ya ampun Yoona-Ah kau menyebalkan sekali, stelah membuatku sangat penasaran seperti ini kau memaksaku? Oh yasudah baiklah daripada aku tidak mengetahui siapa namja yang kau sukai?

“Oke Oke.. Ne!” Kataku yang siap memberitahu siapa namja impianku itu.

“Ehmmmmmmm…”

“Cepat katakan Seohyun-Ah!!”

“Baik baik.. Dia adalah namja yang tinggi,”

“Kulitnya benar-benar putih,”

“Berarti Kkamjong atau si Kai itu tersingkirkan!”

“Eohhh aku  tak pernah suka dengan namja yang suka yadong seperti itu dasar Yoona-Ah !!”

“Ohhh.. Kalau begitu Suho-ssi?”

“Itu juga bukannn!! Dia kan tidak tinggi “

“Oke lanjutkan!”

“Dia.. berambut pirang..”

Akupun menelan ludahku, dan aku tahu Yoona pasti sudah tahu siapa. Terbaca dari raut wajahnya. Dia hendak menjerit namun kali ini suaranya di rendahkan.

“Ya? Oh SeHun?” Tuhkan Yoona tiba-tiba menyeletuk seperti itu.

Aku pun tertunduk malu lalu menatap Yoona, kemudian aku mengangguk.

#

Author’s POV

Kali ini yeoja yang terlihat sangat ceria tadi tidak seperti biasanya. Dia duduk diatas tempat tidurnya dengan lesu dan tatapan ke bawah.

Tiba-tiba ponsel miliknya berdering,

“Yobasseo?”

“Ya, Yoona-Ah.. Ayo kita jalan-jalan ke Bussan Square park!”

“Jeongmal?”

“Ne~”

#
Bussan Square Park

Seohyun’s POV

“Yoona-Ah..”

Aku benar-benar bingung, bagaimana aku memberitahu Yoona tentang kelainan yang kumiliki ini. Apa dia akan menjauhiku? Tidak.. tidak akan mungkin,

“Mwo, Seohyun-Ah?”

Aduh, bagaimana ini.. yasudahlah apa boleh buat kuberi tahu saja dia.

“Boleh kuberitahu kau sebuah rahasia kecil?”

Kulihat gerik Yoona mulai bersemangat, dan aku sangat senang melihatnya. Entah kenapa seminggu ini dia kelihatan sangat lesu dan tidak lincah lagi. Padahal aku sangat suka Yoona yang lincah, yang bisa menghiburku.

“Ne.. apa rahasia itu?” Yoona menyelidiki wajahku, lalu dia tersenyum seperti biasanya. Oh itu sangat manis. Aku suka Yoona yang seperti ini.

Aku pun menjawabnya dengan senyum juga, namun tentu senyum yang lebih misterius darinya..

“Aku bisa mendengar isi hati orang lain.” Aku menelan ludahku dan mulai berujar lagi,

“Dan.. satu lagi Im Yoon Ah, mau kah kau membantuku melaksanakan rencana ini?”

#
Sekolah

Seohyun’s POV

“Bagaimana jadi tidak rencanamu itu?” Yoona tiba-tiba menghampiriku yang sedang duduk manis di kursiku,padahal aku sedang memandangi Oh Sehun dengan tenang dan damai.

Aku memilih untuk diam,

“Hey.. Annyeong Seo Joo Hyun!!”

Mwo, dia membentakku? Yoona-Ah bisakah kau mengerti keadaanku sekarang. Jelas-jelas ada Sehun di depan sana, dan ini pemandangan yang sangat menarik untuk dilihat. Paling Cuma 5 hari sekali aku bisa memandanginya dengan puas seperti ini. Tapi yasudahlah..

“Ne, Yoona-Ah.. Aku sedang tenang. Bisakah jangan mengangguku dulu eoh?”

“Habisnya, dari tadi malam kan kau sibuk menelfonku tentang rencanamu itu.”

Rencana? Oh iya, aku hampir lupa.. Oh Aniyoo Seohyun kau memang yeoja yang pelupa.

“Kau ingin mengetahui isi hatinya Oh Sehun kan?”

“Ne.. tapi aku tak kunjung berhasil”

Yoona yang mendengar jawabanku lalu menunduk, dan kini dia menatap wajahku lekat-lekat.

“Haa!! Aku ada ide”

“Mwo, apa itu?” Akupun menelusuri raut wajah Yoona,

Yoona lalu membisikan idenya padaku, dan aku pun menyetujuinya.

“Ide yang sangat cemerlang, Yoona-Ah” Aku mengerling pada Yoona, dan menyeringai.

#

Seohyun’s POV

Aku tidak mengerti ini, setelah dipikir-pikir jalan hidupku ini benar-benar tidak jelas. Sejak seminggu yang lalu, aku sudah memberitahu padanya namja impianku dan dia berjanji akan memberitahuku juga siapa namja impiannya.

Tapi dia tidak memberitahuku, ya ampun Yoona-Ah ada apa denganmu?

Ya kau tahu dia adalah Oh Sehun. Aku menyukainya karena dia adalah orang pertama yang jujur padaku, ya.. dia adalah orang pertama yang jujur sebelum kamu Yoona-Ah. Namun, Oh Sehun selalu labil ya? Kadang hangat padaku, kadang juga dingin. Sebenarnya apa sih perasaan dia padaku? Apa yang bisa membuatnya tersenyum, dan apa yang membuat dia dingin?

Oh Sehun, walaupun kau tidak pernah menghabiskan waktu bersamaku. Namun, aku tetap menyayangimu. Entah itu bagaimana caranya, namun aku akan terus menyayangimu.

‘Aku bingung padamu Oh Sehun, apasih yang ada di pikiranmu? Tolong izinkan aku menyentuhmu sekali saja, agar aku bisa mendengar suara hatimu. Apakah kau memikirkanku atau tidak? Jika tidak tentu aku akan segera melupakanmu………. Ehh tidakk! Aku tidak akan melupakanmu, itu janjiku.

Oh Sehun, sekali lagi aku masih bingung denganmu sampai sekarang. Kau selalu tersenyum padaku dan itu membuatku semakin tergila-gila padamu. Namun terkadang juga kau dingin padaku dan membuatku patah hati. Sebenarnya ada apa? Apa senyummu itu bukan untukku? Dan apa ternyata hanya dinginmu itu yang kau berikan untukku?

Yoona-Ah.. aku juga bingung padamu. Semakin hari kau semakin lesu, jangan bilang kau menyembunyikan penyakitmu dibalik semua ini? Aku tidak mau persahabatan kita berakhir seperti drama murahan seperti itu. Kembalilah ceria Im Yoon Ah, karena itulah daya tarikmu.

Oh iya… Oh Sehun, kau tahu apa yang ingin aku rencanakan dengan Im Yoon Ah? Aku berencana ingin menyentuhmu saat kau tersenyum padaku. Agar aku bisa menemukan jawabannya.’

“Sedang menulis apa Seohyun-ssi?”

Ah tidak.. dasar sunbae nakal. Ini kan privasi seseorang, seharusnya dia tidak boleh mengintipnya.

“Aniyo Kyuhyun oppa..”

#
Sekolah

Seohyun’s POV

“Kali ini kita pasti berhasil Seohyun-Ah!” Yoona menepuk pundakku dengan semangat. Senangnya Yoona-Ah bisa sesemangat ini, makan apa dia ya tadi pagi?

“Oke, Yoona-Ah!!”

Benar, aku pun melaksanakannya bersama Yoona. Saat itu aku melewati meja Sehun dan tepat saat itu Sehun tersenyum padaku. Dengan sangat beruntung akhirnya aku bisa menyentuhnya dan juga mendengar isi hatinya……

Dan Oh SeHun mengatakan…

‘Senyum Im Yoona-Ah sungguh benar-benar manis ya..’

MWO?

Seketika aku langsung lemas, sebelum itu aku menengok lalu menatap wajah Yoona. Terlihat urat senyum di wajahnya. Yoona-Ah habis tersenyum pada Sehun?

‘Senyum Im Yoon Ah sungguh benar-benar manis..’

Aniyo…. Yoona-Ah apa yang telah kau perbuat? Mengapa jadi seperti ini, kau.. Yoona-Ah. Hiks,

Kau jahat Yoona-Ah, kau tlah memikat hati Oh Sehun yang kusayangi.

Author’s POV

Seohyun yang matanya sudah berair itu langsung lari ke toilet, dia tidak peduli apa kata chingudeulnya. Dia langsung menerjang banyak rombongan di kelasnya dan masuk ke dalam kabin yang kosong.

“Ukh.. Ukh..”

Entah sudah berapa lama Seohyun berada di toilet.Tepat saat Seohyun berlari keluar bel berbunyi dan Sir Kim pun masuk kelas.Yoona yang sangat bingung dengan Seohyun merasa aneh, namun perhatian Yoona langsung tertuju pada Sir Kim. Yang jelas Yoona tidak tahu Seohyun dimana, kini Yoona hanya berusaha fokus pada pelajaran Sir Kim yang galak itu.

Dari tadi Yoona yang berusaha fokus tak kunjung berhasil, dia benar-benar gelisah. Yoona benar-benar takut sejak kejadian tadi. Dia berfikir apakah Seohyun mendengar sesuatu yang menyakitkan hatinya. Yoona pun semakin gelisah, dan sepertinya kegelisahan itu ditangkap oleh seseorang di dekatnya.

“Mungkin Seohyun-ssi sedang di ruang guru, sudahlah tenang Yoona-Ah..”

Yoona pun langsung menatap wajah si pembicara,

“Sehun-Ah?”

Sehun pun mengangguk dan tersenyum pada Yoona.

#

Seohyun’s POV

Apa itu tadi ? Hah, aku benar-benar sangat shock dengan itu. Yoona-Ah, kau sangat beruntung mempunyai seorang namja tampan dan baik yang suka padamu seperti Oh Se Hun. Sebenarnya siapa yang salah eoh?

Oh Se Hun?

Yoona-Ah?

Pilihan macam apa itu, pilih sahabatku yang selalu menemaniku tiap saat atau pilih namja yang kusukai yang selalu tersenyum untuk sahabatku?

Ini konyol, aku tidak boleh memilih yang salah.

Karena sekali salah aku akan fatal.

#

Author’s POV

Sekarang sudah pulang sekolah. Keadaan sudah senyap dan sunyi. Koridor sekolah itu pun sudah benar-benar kosong dan gelap. Semua murid sudah turun dan keluar dari gedung sekolah. Sementara masih ada siswi yang mengunci dirinya di toilet.

Terdengar gesekan sepatu di sebuah lantai marmer itu. Seorang siswi yang berdiri di depan kaca yang luas. Memperlihatkan bayangan dirinya dari atas kepala hingga pinggangnya yang kecil, memperlihatkan tubuhnya yang ramping.

“Ani, mengapa wajahku jadi seperti ini?”

Seohyun meratapi wajahnya yang sudah berantakan sehabis menangis. Satu persatu anggota wajahnya dia sentuh dengan lembut, seakan mengecek permukaannya. Hidungnya yang merah bagaikan cheri yang matang langsung menuju pusat perhatiannya.

“Ugh..”

Diapun mengambil air dan mengusap wajahnya. Berkali-kali dia mengeringkan tangannya di pengering tangan.  Dan juga berkali-kali dia mengusap wajahnya dan mengeringkannya kembali. Setelah dia puas dengan penampilannya sekarang, baru dia menuju keluar toilet.

Sekelebat waktu dia sudah berada di koridor, suasana yang sangat gelap. Seohyun mempercepat langkahnya. Hingga sampai di ujung koridor seseorang menyapanya dengan ganas.

“Bisakah kau pulang lebih awal? Aku lelah menunggumu, kau tahu gedung sekolah ini harus dikunci dalam keadaan tanpa ada siswa di dalamnya.”

Dia Yesung oppa, anak yang diberi amanat oleh para guru untuk mengunci gedung sekolah.

Seohyun hanya terpaku melihatnya, namun dia langsung mengangguk dan bergegas keluar. Tak sengaja dia menabrak pundak Yesung.

‘Benar-benar, untung saja anak itu mengingatkanku bahwa masih ada orang di dalam sekolah. Kalau tidak, sudah kukunci anak ini’

Seohyun’s POV

Aku terpaku melihatnya yang seganas itu. Aku takut sekali dengannya, lalu aku hanya mengangguk kecil dan segera bergegas.

Mianhae mianhae

Yah, aku tak berani mengucapkan maaf sedikitpun.

GRAK

Waduh aku menabrak pundaknya, kulihat dia menengok ke arahku dan mulai membuka perkataannya yang menurutku akan sangat pedas.

“Hati-hati dong kalau jalan, dasar bisu.”

Ya ampun, bisu katanya? Eh eh tunggu dulu, aku mendengar isi hatinya

‘Benar-benar, untung saja anak itu mengingatkanku bahwa masih ada orang di dalam sekolah. Kalau tidak, sudah kukunci anak ini’

Memangnya siapa orang yang tahu kalau aku sedang mengunci diri di toilet? Yoona? Oh daripada aku bengong begini mending aku mengucapkan maaf pada Yesung dan memberinya senyum terbaikku alasannya karena aku tidak terima aku dibilang ‘bisu’ olehnya. Aku pun membalikan badanku dan berujar padanya,

“Yesung oppa, mianhae merepotkanmu. Gomawo juga ne, jeongmal kau tlah menyelamatkanku. Dan… Aku tidak bisu.”

Ne, aku tidak terima dibilang bisu. Itu penghinaan terberat mungkin selama hidupku. Lalu kulihat mata Yesung yang tidak berkedip saat aku mengembangkan senyumku padanya. Lalu aku melupakannya dan berbalik.

Aku pulang.

#

Yoona’s POV

Aku baru saja membuka pagar rumahku setelah namjachinguku mengantarkanku pulang. Aku memang sedang tidak bersemangat sekali. Dimana sih Seohyun? Dia menghilang begitu saja.

Tak terasa aku memikirkan itu semua hingga aku tidur. Kini aku menarik selimutku dan bersiap untuk tidur, namun bayang-bayang Seohyun, sahabatku itu masih terngiang di kepalaku.

Aku tidak mau kehilangan keceriaan sahabatku. Kira-kira apa yang Seohyun dengar dari isi hati Sehun? Apakah sesuatu yang amat sangat menyakitkan? Sehun, ini gawat benar-benar gawat.

~Flashback

Gerbang sekolah itu kini sudah mulai sunyi. Semua murid sudah mulai beranjak pulang. Namun Yoona masih saja menunggu seseorang. Di wajahnya terlihat raut kecemasan. Apalagi bahasa tangannya yang sedari tadi bergerak tak keruan, pasti dia sedang menunggu sesuatu yang sangat penting.

“Chagiya kau tidak pulang?”

Seseorang menepuk pundak Yoona, lalu Yoona menjawabnya dengan lembut.

“Mian, aku harus menunggu sahabatku, Seohyun. Aku yakin Seohyun pasti masih di dalam.” Yoona berusaha meyakinkan lawan bicaranya.

Yoona lalu melanjutkan lagi kata-katanya, “Pulang duluan saja.”

Lalu orang di depannya tetap ngotot,

“Aku akan tetap menunggumu. Kalau dia tidak keluar-keluar bagaimana? Akhirnya kau akan pulang malam dan itu sendirian.”

“Terserah, pokoknya aku akan tetap disini.”

1 Jam berlalu, jam tangan Yoona kini menunjukan pukul 6 sore.

“Chagiya ayo pulang.” Orang yang menjadi lawan bicara Yoona tadi langsung menarik Yoona. Entah kenapa Yoona menurut untuk pulang dan tak sengaja menitikan air matanya.

“Seohyun..”

~Flashback End

Ya, aku menunggu Seohyun. Namun nihil, entah dia kemana. Aku juga tidak mengerti, tapi aku harap dia besok akan masuk sekolah dan menceritakan semuanya padaku.

 

#
Stasiun

Author POV

Seohyun kini siap pergi ke sekolah, walaupun dia tidak kuat lagi menatap wajah Yoona yang biasanya akan menyapa Seohyun tiap pagi. Niat Seohyun adalah belajar, dia selalu ingat kata-kata Eomma nya. Teman ataupun namja yang disuka itu harus di nomor duakan.

Seohyun memikirkan itu semua selagi dia berjalan menuju keretanya. Tak terasa seseorang memanggilanya,

“Seohyun-Ah!!”

Seohyun merasa mengenali suara ini, ini suara sahabatnya. Diapun memutuskan untuk tidak membalikan badannya. Dia tahu dia masih tidak tahan dengan Yoona. Seohyun pun langsung menaiki kereta yang dekat dengan langkahnya. Dia naik dan pintu kereta itu langsung menutup dengan cepat.

#
Sekolah

Seohyun POV

Sekarang aku merasa sangat aneh. Benar-benar aneh, serasa kembali ke hari pertama aku sekolah disini. Iya, kesepian. Seperti biasa aku melewati kelasnya Baekyeol couple yang tiada habisnya leluconnya itu.

“Hey, yeoja yeoja!! Lihat apakah potongan rambut baruku ini keren?” Kata Baekhyun yang menunjuk poni panjang blondenya yang menutupi seluruh keningnya. Lalu dia memakaikan kacamata ke kedua matanya. Ya ampun, anak siapa sih?! Bisa gak rapih sedikit seperti Sehun?

Mereka lalu melemparkanku sebuah penghapus, aku menangkapnya agar mereka puas dan tidak mengoceh lagi. Lalu aku pun melewati mereka berdua dengan acuh, gaje sekali bukan mereka? Untuk apa coba penghapus ini di lemparkan padaku, seakan jimat saja-_-

Lalu di jalan aku berpapasan dengan Ketua Suho yang datang pagi. Seperti biasa dengan seragam rapihnya, namun dia tidak sendirian. Dia bersama teman-teman dekatnya yaitu Daehyun BAP dan Minhyuk BToB. Yah, mereka berdua sangatlah tampan. Namun, entah kenapa aku tidak bisa suka padanya. Dan aku tidak mau mendengar isi hatinya dengan menabraknya, nanti yang ada malah aku bakal sakit hati. Sudah cukup lah sakit hati dengan Sehun.

“Suho-ssi tumben datang pagi..” Aku tersenyum pada Suho yang sontak kaget melihat aku tersenyum padanya.

Suho pun menjawab dengan sangat gugup karena teman-temannya yang mengejeknya.

“Ekhem,” Minhyuk menyenggol pundak Suho.

“Ne, karena.. ak, aku bersama mereka.” Suho menjawab sambil memukuli kepala teman-teman ingusannya.

“Pabo.. sakit!” Daehyun kembali memukul kepala Suho namun itu hanya bercanda saja. Lalu kedua teman Suho itu pun naik tangga menuju  kelasnya masing-masing.

Aku dan Suho berdampingan hingga kelas.

Dan.. aku benar-benar terkejut melihat siapa yang ada di kelas,

Dia.. Sehun,

Aku melihat gerak matanya Sehun. Entah kenapa dia langsung mekespresikan raut yang tidak puas saat melihat kehadiran Suho yang tiba-tiba menyempil dari balik pundakku.

“Ha… Suho-Ah, tumben pagi-pagi. Kau kembali melanjutkan kebiasaanmu dulu ne?” Sehun menyapa Suho dengan ogah sambil melipat kedua tangannya di belakang kepalanya.

Suho lalu menjawab “Ne,” dengan sangat malas.

Ya, aku sadar Sehun sama sekali tidak menyapaku. Bahkan saat aku menjauhi pintu pun dia masih saja memerhatikan Suho. Dia ini kenapa? Sengaja atau bagaimana? Kalau aku jadi Sehun, aku pasti bakal menyapa dua orang itu sekaligus, kalau tidak. Aku tidak akan menyapa 2 orang tersebut sama sekali agar tidak menyakiti hati salah satu diantaranya.

Wah aku bodoh.. bagaimana Sehun bisa berfikir sejauh itu?

Aku pun menyentuh bangkuku ini, lalu berusaha melepaskan tas yang kupakai dengan tenang. Aku baru sadar bahwa suatu benda menghilang dari genggamanku.

“Seohyun-ssi..”

Kudengar seseorang memanggilku, aku pun menengadah dan mendapati Sehun yang berdiri di samping bangkuku.

“Kau menjatuhkan penghapusmu, ini”

Dia pun menyerahkan penghapus pemberian Baekyeol tadi. Di wajah Sehun terlihat semburat senyum. Layaknya yeoja normal, siapa yang tidak mau melewatkan kesempatan? Aku pun membalas senyumnya dengan bodohnya (Aku tersenyum untuk orang yang sudah membuatku mengunci diri di toilet, dan membuatku membenci sahabatku sendiri). Kemudian, padahal aku belum mengambil penghapus itu dari tangannya, namun tiba-tiba dia yang mendaratkan penghapus itu begitu saja ke telapak tanganku yang di buka olehnya.

DEGG

Siapa yang tidak berdetak keras jika mendapati hal sepertiku?

Sekarang aku baru tahu apa guna penghapus itu. Tuhanlah yang memberikanku keberuntungan ini. Andai saja kalau Baekhyun dan Chanyeol tidak melemparkanku penghapus ini. Entah bagaimana jadinya, mungkin aku tidak akan mendapatkan momen ini dengan Sehun, ataupun aku tidak akan disapa sama sekali olehnya.

SKIP>>

Yoona datang tepat saat bel.

Dia telat.

Aku jadi ingat saat dia datang ke sekolah telat dan dia benar-benar lesu saat itu. Namun, kalau kali ini. Apakah dia akan lesu kembali huh? harusnya dia senang dong ada namja yang tlah MENYUKAINYA.

Namja yang kusukai tlah MENYUKAI sahabatku sendiri.

Entah kenapa fikiranku jadi mulai devil begini. Yah, benar juga sih aku harus bersikap lebih friendly agar aku bisa mendapatkan sahabat baru dari Yoona. Sekarang aku tidak peduli. Kalau dulu aku tidak suka Dani T-ara yang munafik. Namun sekarang terserah aku mau berteman dengan siapa. Asal aku punya teman yang banyak. Dan kalau aku punya teman banyak, peluang untuk mendapatkan namja lain semakin mudah. Dan kalau aku punya yeojachingu, aku pasti bisa melupakan Sehun. Ya, kalau berbicara memang mudah entah aku bisa melakukannya atau tidak.

Sudahlah, lupakan janjiku yang bilang bahwa aku tidak akan melupakan Sehun. Karena mulai sekarang aku berniat melupakannya. Aku hanya berniat dan berusaha. Entah nantinya aku bisa lupa atau tidak. Dan.. Bagaimana sekarang? Apa aku harus tetap berteman dengan Yoona?

“Seohyun..”

Yoona? Aku sudah menduganya. Mukanya dengan tampang bersalah itu, aku tahu bahwa tadi malam dia pasti menangis dan terus memikirkanku. Tapi sungguh aku masih muak dengannya, terngiang di kepalaku momen saat Yoona memberikan senyum manisnya kea rah Sehun. Ugh,

“Jangan ajak aku berbicara dulu Im Yoon Ah, tunggulah istirahat. Aku punya berita gembira untukmu.”

Aku menengokan kepalaku ke arahnya, lalu setelah kalimat itu selesai, mataku langsung beranjak ke papan tulis dan tidak pernah menghadap kearah Yoona lagi.

#
Yoona POV

Ada apa sih dengan Seohyun? Dia bilang ‘berita gembira’. Jangan-jangan tentang aku? Padahal kan aku ingin menanyakan padanya tentang kemarin. Tetapi mengapa dia begitu dingin eoh? Tidak tahukah dia bahwa aku menangisinya dan terus memikirkannya tadi malam. Dan aku mencarinya di setiap kereta. Hingga aku telat. Seohyun-Ah banyak sekali yang ingin kubicarakan denganmu.

Oke, aku siap menunggu hingga istirahat tiba.

#

Author POV

Seohyun mengajak Yoona ke taman, tempat yang dulu sering dikunjungi mereka. Sontak Yoona kaget saat mendengar kata ‘taman’ yang dikeluarkan dari mulut Seohyun. Entah kenapa terlihat perasaan takut di wajah Yoona yang mulus itu.

Mereka sudah sampai di taman. Saat istirahat ini entah kenapa taman begitu sepi, seakan mereka memberi kesempatan untuk Seohyun dan Yoona. Dibawah pohon yang rindang Seohyun menyender di sebuah batangnya, dan Yoona pun duduk bersila sambil memainkan sehelai rumput panjang di depan kakinya.

“Jadi?” Kata Yoona yang memulai pembicaraan.

“Ne, Dia menyukaimu Yoona-Ah.” Seohyun menatap wajah Yoona lekat-lekat setelah mengatakan kalimat itu. Lalu Seohyun memaksakan senyumnya.

“Ani..” Yoona menekuk alisnya.

“Yang benar saja?” Yoona membentuk ekspresi menyepelekan.

“Dia memang menyukaimu, jangan sok rendah hati. Aku akui kau layak disukainya, Yoona-Ah. Kau cantik, tinggi, dan senyummu MANIS. Haruskah aku mengatakannya seribu kali hingga kau percaya?” Seohyun menekankan pada kata ‘manis’. Yoona pun merasa sedikit sakit hati dengan ucapan Seohyun.

Yoona lalu menggelengkan kepalanya dengan tegas.

“Kau masih harus berjuang mendapatkannya Seohyun-Ah. Sekalipun dia menyukaiku. Rasa suka itu mudah berubah jika ada yang lebih baik. Dan kau bisa menjadi yang lebih baik itu. Sungguh aku tidak peduli mau dia suka padaku atau tidak. Namun yang terpenting ialah kebahagiaan sahabatku. Karena aku, tidak tahu siapa namja yang bisa membuatku bahagia. Dan aku sadar..”

Yoona menitikan air matanya,

“Bahwa yang membuatku bahagia hanyalah kau,”

Seohyun terpana dengan ucapan Yoona. Namun, sedikit rasa muak masih menyisa di hatinya. Seohyun masih bimbang.

Seohyun POV

“Kau masih harus berjuang mendapatkannya Seohyun-Ah. Sekalipun dia menyukaiku. Rasa suka itu mudah berubah jika ada yang lebih baik. Dan kau bisa menjadi yang lebih baik itu. Sungguh aku tidak peduli mau dia suka padaku atau tidak. Namun yang terpenting ialah kebahagiaan sahabatku. Karena aku, tidak tahu siapa namja yang bisa membuatku bahagia. Dan aku sadar..”

Aku melihat segelintir air mata turun dari mata kanannya,

“Bahwa yang membuatku bahagia hanyalah kau,”

Yoona.. sebegitu sayangnya kah kau pada sahabatmu ini? Apa hanya aku kebahagiaanmu? Yoona-Ah terimakasih sudah mengutamakanku. Aku tidak menyangka, Yoona-Ah. Yoona-Ah tetapi lukaku belum sembuh, kau masih harus mengobatinya.

“Yoona-Ah..”

Aku menunduk,

“Berjanjilah bahwa kau tidak akan berbohong padaku.”

Aku menatap wajah Yoona dengan tegas, sekilas aku bisa melihat raut wajah Yoona yang sedih. Namun lambat laun berubah menjadi senyuman yang manis.

“Oke..” Katanya sambil nyengir kuda. Benar-benar Yoona yang aku rindukan. Aku pun memeluk Yoona dengan erat.

Dalam kehangatan pelukannya, sejenak aku merasakan isi hatinya.

‘Aku sangat sayang denganmu sahabatku, Seohyun-Ah. Aku akan lakukan apapun untuk membuatmu bahagia.’

Aku tahu itu adalah kata-kata yang benar-benar mengharukan. Aku sesenggukan di pelukannya. Dan aku sudah menyadari bahwa bel masuk sebenarnya sudah berbunyi dari 9 menit lalu.

#
Seohyun POV

Sekarang sudah pulang sekolah, aku tahu ini adalah saat yang tepat untuk mengajak Sehun pulang bersama. Yah, walaupun Cuma sampai gerbang sekolah namun itu awal yang baik kan untuk memulai? Setidaknya ya seperti itu. Aku mengikuti semua cara yang disampaikan Yoona padaku.

Saat itu aku piket dan Sehun juga piket. Namun Yoona tidak, dia entah kemana. Dia bilang sih katanya dia mau mengawasiku dan Sehun dari jauh. Atau mungkin dia sudah pulang karena tidak ingin mengganggu rencanaku? Ya kalau ada dia bisa gawat, kan Sehun menyukai Yoona. Ah sudahlahh, yang penting aku harus bersiap-siap. Tentu ini bukan hal yang mudah,

“Yang bersih ya, Seohyun-Ah!”

Mwo, ternyata Baekyeol sudah mengetahui namaku. Sejak kapan? Mereka benar-benar konyol melewati kelasku dan menyapaku seperti itu. Hah,

Eh Eh? Sehun?

“Aku duluan ya,” Tiba-tiba Sehun menaruh sapu di tempatnya, dan menghilang.

“Tunggu!”  Aku menjerit padanya namun aku tahu dia sama sekali tidak mendengarnya.

Hem.. baguslah, ternyata dia menuju ke taman. Kalau begitu aku masih bisa mengejarnya. Uh, semoga keberuntungan berpihak kepadaku ya!

Aku pun langsung menjatuhkan kemoceng yang kupegang dan berlari menuruni tangga. Taktakala aku sudah berada di ujung taman. Aku pun masuk melalui celah-celah pohon besar. Lalu aku mendapati Sehun yang mematung, dia tersenyum memandang seseorang.

Aku bisa mendengar seseorang lagi yang datang. Suara sepatunya sangat jelas menginjak rerumputan. Aku pun mendapati siluet orang yang baru datang itu,

YOONA-AH?!

Ugh, apa yang dia lakukan. Dasar pembohong, pembohong! Katanya dia sayang padaku, tapi mengapa dia malah menusukku dari belakang seperti ini huh? Huh! Aku sungguh panas dan geram. Apa aku harus berdiri di depan muka Yoona yang pembohong sialan itu. Dan berteriak padanya ‘PEMBOHONG!’

Sabar Seohyun sabar.. ya benar, aku belum tahu mereka ingin melakukan apa disini. Siapa tahu aku hanya salah sangka.. Aku harus menguping dari awal hingga akhir.

Ku lihat Yoona mulai membuka mulutnya. Sebelum itu dia tersenyum manis terlebih dahulu pada Sehun,

“Chagiya…”

CHAGIYA?

CHAGIYA?

OMO… Dia memanggil Sehun ‘chagiya’ ? Apa aku tidak salah dengar.. Ya ampun, hati ku serasa dicabik-cabik olehnya. Jadi mereka sudah?? Sudahh.. berpacaran dibelakangku??

Yoona-Ah kau keterlaluan!

Tak terasa aku menangis, aku sadar kebiasaanku yang menangis dengan sesenggukan. Sehingga aku membekap mulutku erat-erat agar tidak di dengar mereka.

“Ukh,”

Namun tiba-tiba aku merasa ada seseorang di belakangku,

“Hayo,, ngupingin orang kencan ya? Tidak baik lho..”

Baekhyun? Chanyeol? Aku tidak menengok ke belakang, aku hanya mendengar suaranya.. Aku tidak mau mereka melihatku menangis begini. Pasti mereka mengira ini hal lucu. Aku masih menahan sesenggukanku.

Namun mereka mendorongku kedepan, kea rah Sehun dan Yoona.

Aku terlempar dan terhempas,

Namun aku tidak menjerit karena aku masih sesenggukan,

Aku tertangkap oleh Sehun. Dia memelukku agar aku tidak jatuh,

Spontan aku mendengar isi hatinya, aku tahu ini akan menyakitkan.

‘Seohyun-ssi? Buat apa dia kesini? Mengupingi kencanku dengan chagiyaku , Yoona?’

DEPPP

DEGG

DEGG

“Akh…”

Dengan kasar aku melepaskan pelukan Sehun dan langsung menatap wajah Yoona lekat-lekat. Pupil mataku mengecil saat menatap Yoona. Sejenak sesenggukanku berhenti dan air mata kecil sangat nyata turun dari mataku, mengalir indah ke pipiku yang memang sudah basah. Aku tahu Yoona pasti sangat jelas melihat air mata ini. Air mata yang benar-benar menyakitkan.

“Pembohong…”

Aku mengatakan itu dengan pelan dan lambat. Agar dia bisa membaca gerak bibirku. Sehun yang didekatku sangat jelas mendengarnya. Yoona masih kaku saat menyadari aku mengatakan kata itu. Ya Yoona apa yang akan kau lakukan sekarang? Pura-pura lagi padaku? Berbohong lagi? Sudah cukup Im Yoon Ah. Aku sudah tau semuanya. Akal bulusmu itu sudah kuketahui semuanya, tidak ada gunanya lagi kau sok sok menenangkanku. Apa? Apa itu yang kau bilang kau tidak punya namja yang bisa membuatmu bahagia huh? huh?!

Aku menatap Yoona lekat sambil mengucapkan segala nya di hatiku tentang keburukan Yoona, yang membuat sesenggukanku semakin keras. Aku pun hanya bisa membekap mulutku agar sesenggukanku mereda. Namun nihil, aku terus menangis. Yoona yang kaku menatapku bingung, dia tidak mengerti harus apa, sementara Sehun dia juga diam. Mungkin karena dia tidak mengerti? Ukh, tiba-tiba badanku jadi lemas… Pandanganku buram, aku bisa melihat Baekyeol yang menghampiriku. Namun air mata yang kupendam dimataku ini terus berjatuhan memburamkan pandanganku

Hingga aku pingsan di tempat,

#
Yoona POV

Mwo, apa yang sudah aku lakukan. Aku hanya memperburuk keadaan.

Oh ya ampun, kapan kejadian ini akan berakhir. Tolonglah… aku minta maaf sebesar-besarnya padamu Seohyun-Ah.

Jeongmal mianhaeyo,

Aku menangis sambil menatap Seohyun yang terbaring lemas di ranjang Sehun. Sungguh aku tidak tahan dengan semua ini, aku bahkan bisa memprediksikan Seohyun tidak akan memaafkanku selamanya. Sehun, kau hanya pangeran putih yang tidak tahu apa-apa ne. Kini aku dilanda masalah besar.

Seohyun, tidurlah dengan nyenyak. Saat kau bangun, tolong maafkan aku ya.

~Flashback

Yoona POV

Aku mendapati wajah Seohyun yang pucat, entah kenapa dia seperti itu. Mungkin karena ruangan perpustakaan ini sangat dingin atau ?

“Anniyooo.. tadi,” Seohyun pun menjawabnya dengan terbata-bata, namun entah kenapa aku merasa udara di perpustakaan ini semakin dingin karena AC nya. Lalu tanpa basa-basi aku berniat mengajak Seohyun jalan-jalan.

“Yasudah ayo kita ke taman?” Aku pun mengajaknya dengan senyum terbaikku. Aku harap dia mau, karena aku akan melakukan sesuatu nanti di taman.

“Aniyoo.. aku mau baca buku, mianhae Yoona-Ah..”

“Yasudah aku pergi sendirian saja ? arraseo, kau balik ke kelas sendiri ne?”

“Ne~” Seo menjawab dengan senyum kalemnya.

Omo Seohyun tidak mau ikut. Padahal aku ingin mengajaknya membantuku untuk menyatakan cinta pada Oh Sehun nanti di taman. Yasudahlah aku akan berjuang sendiri, dan ini akan menjadi kejutan untuk Seohyun-Ah! Semoga dia menerimaku, sehingga aku punya cerita yang menarik untuk diceritakan ke Seohyun-Ah.

Aku pun pergi dari perpustakaan, dan menuju ke taman.

Di taman, aku tahu pasti Oh Sehun sedang berbincang bersama Luhan. Tuh kan benar. Mereka sedang duduk di bangku panjang favoritku. Ya ampun Xi Luhan, kau hanya menjadi pengganggu saja. Tapi tenang saja, aku akan mengusirmu dengan segera. Ya, walaupun aku pikir ini akan sulit. Namun aku sudah menguatkan mentalku. Karena aku sudah beberapa kali berlatih, dan jangan sampai yang satu ini gagal dan membuatku ditertawakan Luhan habis-habisan.

Aku pun mendekati bangku yang di tempati mereka, aku bisa melihat dengan jelas bibir sehun yang sedang menyeruput sekotak bubble tea.

Kini aku tepat di depan kaki Oh Sehun.

“Annyeong, permisi sebentar.”

“Ne?” Luhan angkat bicara, ya dia memang namja yang sensitif sekali. Bahkan Oh Sehun pun hanya memandangiku dengan tatapan kaget dan aneh. Mungkin karena yeoja tinggi sepertiku yang menghalangi pandangannya.

Aku pun melanjutkan pembicaraanku,

“Hmm.. Ani, aku hanya ingin membicarakan sesuatu yang penting dengan Oh Sehun. Apakah Luhan bisa pergi dulu?”

Pada kalimat terakhir, tepat saat itu jantungku langsung berdegup kencang. Omo, apa-apaan ini. Ku lihat Luhan pun memandangi wajah Sehun dengan tatapan heran, lalu Luhan tersenyum pada Sehun dan menyenggol pundaknya.

Aku bisa melihat jelas kejadian bahwa Luhan membisikki Sehun sesuatu. Lalu Luhan menjauh dr telinga Sehun dan memandangiku dengan senyum anehnya.

“Ne, aku akan pergi.”

Lalu Luhan meninggalkanku dan Oh Sehun. Oh ya ampun, kini tinggal aku berdua saja dengan Oh Sehun yang terpaku sambil menyeruput bubble tea nya.

“Mwo? Apa ada hal penting yang harus kau sampaikan padaku?” Katanya,

DEG

DEG

DEGG

DEGG

Baru kali ini aku mendengarnya berbicara dengan kalimat yang sepanjang itu.

“Oh Sehun..” Aku menatap wajahnya dalam-dalam. Ya ampun bagaimana ekspresi mukaku saat itu, apakah sangat konyol.

“Ne..” Sehun membuka mulut kecilnya dan menyingkirkan bubble tea dr tangannya. Aku bisa melihat dia yang tiba-tiba menunduk dan menutupi pipinya.

“Ehmm.. Naneun, Ak, Aku ini.” Kataku gugup.

Sehun kembali dari tundukannya dan memperlihatkan pipinya. Oh ternyata dia tadi pipinya  memerah? Omo.. ini tidak mungkin.

Lalu aku melanjutkan kalimatku tadi dengan menguatkan nyaliku yang sudah menciut,

“Aku ini sebenarnya..” Kataku, Namun tiba-tiba..

….Sehun tiba-tiba bangkit dari bangkunya, lalu dia mengangkat tangan kananku yang sedari tadi mendingin kaku di sebelah pinggangku.

Dia,

Dia,

Dia lalu kembali membuka mulut kecilnya. Dan tersenyum tipis sambil mengucapkan kata-katanya,

“Naneun saranghae Im Yoon Ah,”

“Na, nado..” Kataku yang benar benar sangat gugup. Untungya ya tuhan dia mengucapkannya dahulu. Bahkan aku tidak sanggup mengeratkan genggaman tanganku.

Lalu aku terpaku menatap senyum Sehun. Senyum itu sangat lama hinggap di bibirnya, hingga tak lama kemudian aku melihat bibirnya yang mungil bergerak lagi,

“Would you be mine, Im Yoon Ah?”

“Of Course, Now, you’re mine, Oh Sehun”

~Flashback end

“Ukh, Seohyun..”

Aku mengusap kening Seohyun yang sangat panas. Aku bisa melihat keringat nya dengan jelas. Ya ampun, dia sedang bermimpi buruk.

Aku hendak menghapus keringatnya, namun dia terlebih dahulu menepis tanganku.

Seohyun sudah bangun?

“Aku membenci mu Yoona-Ah.”

Dia tiba-tiba langsung berkata pedas seperti itu, hiks jeongmal eottokhae? Uh, beginilah aku jika dalam keadaan bersalah aku langsung membeku. Tak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku pun terdiam hingga Seohyun berujar lagi padaku.

“Aku tidak akan mau menyentuhmu untuk mendengar isi hatimu yang ikut berbohong itu! Aku tidak mau luluh akan akal bulusmu itu untuk kedua kalinya..”

Ya ampun Seohyun, kau gila? Isi hatiku ini takkan pernah berbohong.

Aku masih membeku menatap Seohyun yang berujar dengan tubuh lemasnya. Lalu dia terus melanjutkan kata-katanya yang menyakitkan, aku tidak mau mendengarnya sungguh. Rasanya ingin sekali aku membekap mulutnya dan mengucapkan maaf. Namun aku takut tindakanku akan salah. Maka aku diam, agar kejadian tak makin memburuk. Aku hanya ingin menuruti permintaannya sekarang, agar dia mau memaafkanku.

“Keluarlah dari sini Im Yoon Ah”

#
Sehun POV

Aku diperintahkan Yoona untuk kembali ke sekolah mengambil barang-barangnya Seohyun yang tertinggal. Sungguh ini melelahkan, setelah menggotongnya hingga ke parkiran mobil. Kini aku harus mengambil barang-barangnya dan kembali ke sekolah? Tapi tidak apalah, ini keinginan Yoona, aku tak ingin membuatnya kecewa. Lagi pula dia sedang dilanda masalah besar yang aku tidak tahu apa penyebabnya dan kenapa. Hingga dia meminta hubungan kami putus begitu saja saat ditaman, tak lama setelah Seohyun jatuh pingsan. Ya, aku tahu tujuan Yoona sejak awal yang mengajakku ke taman sehabis piket. Ne, dia ingin memutuskan hubungan kami. Namun, aku tidak mengerti mengapa Yoona dibilang pembohong oleh Seohyun. Aku hanya berusaha menenangkan Seohyun dengan memeluknya. Namun, dia menepisku. Aku jadi terpaku saat itu.

Aku mendapati gerbang sekolah yang belum tertutup. Aku pun memasuki lorong gelap itu dengan acuh. Layaknya seorang Sehun yang selalu tidak peduli sesuatu yang ada di sekelilingnya. Kini aku sudah sampai di kelasku,

Semua kursi kosong kecuali kursi Seohyun. Yang masih berserakan buku-bukunya dan juga tasnya. Aku pun langsung menuju mejanya dan membereskan buku yang ia sebar di lacinya. Lalu memasukannya ke dalam tas.

Eh, sebuah kertas jatuh saat aku mengangkat tasnya.

Kulihat kertas itu, aku yakin ini bukan kertas untuk mencari jawaban matematika. Karena warna kertas itu saja merah muda. Yasudahlah, aku akan membacanya sambil berjalan saja.

Aku mulai mendelik pada kertas merah muda itu, dan mendapati nama ku yang disebut di awal kalimat yang tertera disana. Sontak, tersentak membacanya.

‘Aku bingung padamu Oh Sehun, apasih yang ada di pikiranmu? Tolong izinkan aku menyentuhmu sekali saja, agar aku bisa mendengar suara hatimu. Apakah kau memikirkanku atau tidak? Jika tidak tentu aku akan segera melupakanmu………. Ehh tidakk! Aku tidak akan melupakanmu, itu janjiku.

Oh Sehun, sekali lagi aku masih bingung denganmu sampai sekarang. Kau selalu tersenyum padaku dan itu membuatku semakin tergila-gila padamu. Namun terkadang juga kau dingin padaku dan membuatku patah hati. Sebenarnya ada apa? Apa senyummu itu bukan untukku? Dan apa ternyata hanya dinginmu itu yang kau berikan untukku?

Yoona-Ah.. aku juga bingung padamu. Semakin hari kau semakin lesu, jangan bilang kau menyembunyikan penyakitmu dibalik semua ini? Aku tidak mau persahabatan kita berakhir seperti drama murahan seperti itu. Kembalilah ceria Im Yoon Ah, karena itulah daya tarikmu.

Oh iya… Oh Sehun, kau tahu apa yang ingin aku rencanakan dengan Im Yoon

Ah? Aku berencana ingin menyentuhmu saat kau tersenyum padaku. Agar aku bisa menemukan jawabannya.’

Aku mengakhiri kalimat itu tepat di depan seorang yang tinggi dan berambut sangat tajam, dia soulmateku Yesung. Kulihat dia memulai obrolan basa-basi termurahnya lagi, apakah dia tidak tahu aku buru-buru?

“Ya’ Oh Sehun! Apakah temanmu yang kau beritahu padaku itu masih di sekolah lagi hingga jam segini?”

“Aniya,”

Aku berujar singkat dan meninggalkannya, jauh hingga aku menyentuh mobil Chanyeol yang sedang kupinjam sekarang ini.

#
Sehun POV

Kini aku sudah sampai di rumahku,

Pertama-tama aku mencari Chanyeol untuk mengembalikan kunci mobilnya. Namun, di ruang tamu dia tidak ada. Apakah mungkin Seohyun sudah bangun dan mereka berkumpul di kamar?

Aigo.. sebaiknya ku cek saja disitu. Mungkin ada Yoona juga.

Aku memutar kenop pintu kamarku, berharap kerumunan ramai menyambut kehadiranku.

Eh?

Sepi, hanya ada Seohyun yang terkapar di ranjangku. Ani, aku sudah terlanjur memijakan kakiku lebih jauh dari pintu.

Aku merasakan tatapan Seohyun padaku, namun dia mengabaikanku kembali. Ah, aku jadi merasa bersalah. Semua insiden ini karena aku,

Karena aku yang tidak tahu apa-apa. Aku tidak tahu sebelumnya kalau Seohyun menyukaiku. Dan Seohyun juga tidak tahu sebelumnya kalau Yoona sudah menjadi yeojachinguku. Berawal dari sebuah kebohongan. Hingga akhirnya kau menemukan klimaksnya. Ya, insiden ini.

Aku pun berniat untuk mendekat ke Seohyun, berusaha untuk meminta maaf. Kini aku sudah di samping ranjang. Lalu memanggil namanya, karena dia menghadap ke jendela, arah yang berlawanan denganku.

“Seo Joo Hyun,”

Dia masih menghadap ke jendela. Aku bisa melihat tangannya yang membekap mulutnya begitu keras.

Dia menangis?

“Sudahlah,” Kataku, namun dia masih menghadap ke sana.

Hmmph, susah juga membujuk yeoja yang ambekan seperti dia.

“Seohyun-Ah, Aku…”

Sekilas aku melihat getaran di selimut yang dipakai Seohyun berhenti. Dia menahan sesenggukannya agar bisa mendengar suaraku. Berita baiknya ternyata dia tidak mengacuhkanku.

“Aku…” lanjutku

Getaran di selimutnya makin menjalar, dia hendak berbalik kesini.

“Wae?” Katanya dengan suara yang amat pelan, aku saja hampir tidak bisa mendengarnya.

Aku lalu berlangkah berat kea rah ranjang Seohyun. Masih membekas butiran air mata di pipinya. Sembari aku melangkah ke arahnya ia terus memandangku antusias.

“Aku.. sudah putus dengan Yoona, Seohyun-ssi”

Aku lalu menelan ludah dalam-dalam. Kulihat ekspresi yeoja di depanku yang berubah. Namun, aku tidak bisa mengartikan perubahannya itu. Mulut Seohyun masih membeku. Ia hanya tersenyum getir.

“Itu tidak ada hubungannya denganku lagi.. aku tidak peduli,” Seohyun berujar dengan suara yang parau. Lalu ia menatapku dengan tatapan tajamnya. “Aku sudah tidak peduli lagi..” Lanjutnya. Yang membuatku sontak kaget. Bukankah ia begitu menyukaiku?

Aku pun memilih diam. Tak tahu apa yang akan kukatakan. Semua yang kulakukan akan serba salah dimatanya. Aku, tidak bisa membuatnya berbalikan dengan Yoona lagi. Sungguh sulit. Aku pun berfikir keras dan akhirnya melanjutkan kata-kataku padanya.

“Jadi.. apa maumu Seohyun-ssi?” Kataku mengangkat sebelah bibir dan kini menatapnya penuh arti. Ia hanya membeku, tak tahu ingin mengucapkan apapun.

Sudah beberapa menit aku menunggu jawabannya. Namun, ia tak kunjung membuka mulutnya. Lalu aku yang mencibirnya duluan, “Jadi kau tidak menginginkan apapun? Kalau begitu mengapa kau tak kunjung berbicara dengan Yoona?”

“Jika kau tidak terobsesi dengan apapun, lalu apa masalahmu?” Kataku ketus.

Lagi-lagi ia membeku dan aku bisa melihat air matanya turun lagi. “Ani, ani jangan menangis!” Pekikku padanya. Lalu menghapus air matanya. Sembari itu malah tangisannya semakin deras. “Sudah, jangan menangis. Bahkan kau pun tidak tahu apa yang kau tangisi..” Kataku lembut, berusaha menenangkannya. Namun, ia malah langsung bangkit dari ranjang.

“Gamsahamnida.. aku pergi,” Ia lalu dengan cepat berlalu. Sebelum keluar ia menengok barang-barangnya yang berada di lantai dan membawanya. Lalu ia kembali membuka pintu.

BLAM

Ia menutupnya cukup keras hingga aku hanya mematung duduk diatas ranjang.

Author POV

“Seohyun? Kau mau kemana?” Yoona yang melihat Seohyun buru-buru keluar dari rumah Sehun langsung meneriaki nya. Lalu berusaha mengejarnya. “Seohyun-a!” Yoona berusaha mengejar pundak Seohyun. Namun.. gagal.

Sehun pun keluar dari kamar. “Sudah lah Yoona…” Kata Sehun. Ia lalu mengusap kepala Yoona. Namun Yoona menepisnya. Yoona lalu menatap wajah Sehun dengan tatapan tajam.

“Katakan padaku! Apa yang kau katakan padanya?!” Yoona mengguncang tubuh Sehun. Sementara Sehun hanya diam.

“Katakan Oh Sehun! Katakan!” Yoona mengguncang tubuh Oh Sehun sembari itu air matanya terus mengalir. “Katakan, sehun.. katakan…” Suara Yoona parau.

Ia lalu terduduk di sofa. Yoona menangis sangat deras dan sesenggukan sehingga ia menutup seluruh wajahnya.

Hari pun mulai gelap. Awan hitam pun mulai menyelimuti atap rumah Oh Sehun. Sebuah gemuruh mulai terdengar memekakan telinga. Kini sore itu sudah berganti malam. Namun, malam itu tidak bertabur bintang, melainkan sebuah rintihan hujan dari langit. Suasana rumah itu mulai hening. Semua membeku meratapi hujan yang terus menerus membasahi langit. Meratapi gelapnya dunia.

Im Yoona terus terduduk di sofa. Ia terus menutup wajahnya yang menangis sedari tadi. Kini ia terlemas duduk di kursi. Sementara Oh Sehun menatapnya penuh iba. Ia duduk di sebelah Im Yoona dan terus merangkul pundaknya agar Yoona mau berhenti menangis.

Byun Baekhyun dan Park Chanyeol meratapi keadaan itu dengan sedih. Mereka menatap Yoona dan Sehun penuh arti. Mereka lalu mendekat kea rah mereka berdua yang sedang bersedih itu. “Sudahlah, cinta memang tidak bisa dipaksakan”

Baekhyun tersenyum pada Sehun dan Yoona. Yoona pun memberhentikan tangisannya, ia berusaha mendengar ucapan temannya itu.

“Cinta itu butuh pengorbanan. Jika kau lebih memilih cinta daripada yang lain. Itu berarti kau sudah memilih untuk kehilangan yang lain itu.” Chanyeol menambahkan kini ia mengjongkok agar bisa menyetarakan posisi nya dengan Sehun dan Yoona yang sedang duduk di sofa.

“Dan jika kau telah memutuskan untuk tidak memilih cinta, namun itu terlambat. Kau tetap akan kehilangan juga. Karena kau sudah pernah mencoba keduanya” Chanyeol melanjutkan kata-katanya. Sementara Yoona hanya menatapnya dengan wajah sembab. Ia berusaha menangkap apa kata Chanyeol.

Chanyeol lalu menepuk pundak Yoona. “Itulah yang terjadi padamu, Im Yoon Ah..”

“Kau telah memilih sesuai hatimu dan kini kau mendapatkannya”

Ya.. semua itu tergantung hati kita..

Karena Hatilah Yang Memilih…

…..A Heart Choices

~THE END~

A/N: aahah.. ini sebenernya FF chaptered alias series. Berhubung aku udh slese sampe akhir part jd aku gabungin dan jadiin full aja biar gak ribet. Gamsahamnida mohon beri aku kritik dan saran… dan apakah ngegantung ceritanya?

Author: Saarah

an unavailable writer

2 thoughts on “HEART CHOICES [FULL/LONGSHOT]

  1. Agak gantung thor ‘-‘)/ lanjuntin / bikin sequel coba

  2. Ya thor seq.a dong😦

Here We Need Responsibilities. Thanks!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s