EXO Fanfiction Dorm

EXO as the Main Cast

That Violin – Chapter 1

Leave a comment

That Violin Full Credit

Title  :  That Violin – Chapter 1  || Author  :  Kiran (kairens.wordpress.com) ||  Cast  :  Kim Jongin a.k.a. Kai (EXO-K), Hwang Raena (OC)  ||  Support  :  Park Chanyeol (EXO-K), Cho Kyuhyun (Super Junior), Jessica Jung (SNSD)  ||  Genre  :  Romance, Too Much Comedy  ||  Rating  :  PG-16 ||  Disclaimer  :  FF kedua~Enjoy! Ku harap kalian nggak bingung sama silsilah keluarganya. Oh ya, kata-kata gaje disini sifatnya menghibur, kalo nggak terhibur… mian^^

~That Violin~

Ini adalah musim dingin pertama tahun ini di Korea. Walaupun salju masih turun secara parsial di wilayah itu, tetap saja suhu sudah turun drastis dan tekanan udara meninggi. Angin yang berhembus pun terasa sangat memekakan kulit, tapi tidak bagi kedua saudara yang sedang mengalami perpecahan itu.

“Jongin-ah, kau mau kemana hah?” ucap seorang perempuan muda dari sudut ruangan di sebelah kanan Jongin. “Kau tak puas? Bukankah aku sudah menunjukkan yang terbaik?”

“Yang terbaik katamu?” ungkap Jongin dengan nada marah. “Hei─apa kau tidak mengingat pesananku waktu itu? Aku butuh seorang wanita yang bisa memasak dan merawat anak. Aku tidak butuh seorang fashionista gila yang mengajak kencan hanya untuk membeli Chanel!” maki Jongin sarkatis. Ia tidak suka kakaknya masih saja membahas wanita itu.

“Ya Tuhan! Semua wanita cantik tidak akan menyukai hal itu! Mereka hanya tahu cara menghabiskan uang! Itu kodrat alamiah, Jongin-ah. Bukankah setidaknya dia baik padamu?” Wanita itu masih saja membela gadis yang diperdebatkan, walaupun sepertinya pria yang diajaknya bicara sudah menginginkan pengakhiran pembicaraan.

Ya, beberapa hari yang lalu Jongin telah melakukan kesalahan besar. Ia menuruti keinginan kakaknya untuk berkencan dengan seorang gadis yang ia sendiri tak paham dengan seluk-beluknya. Yang jelas, wanita itu sama sekali bukan keinginannya dan sepertinya ia berusaha memanfaatkan kakaknya untuk memaksa dirinya datang ke kehidupannya lagi.

“Noona, berhentilah. Aku benci suara bassmu. Apalagi sikapmu yang menunjukkan kalau kau hanya melakukan hal yang sama dengan seorang yang namanya Jess─ah entahlah itu.”

“Jessica. Namanya Jessica. Setidaknya kau harus bisa menyebut namanya dengan benar Jongin-ah.” ungkap Oh Nayeon, kakak Jongin yang lima tahun lebih tua darinya dan sudah memiliki dua anak. “Kau harus segera menikah. Bahkan Sehun sudah hampir sepuluh tahun. Lihat, kau sudah tiga puluh tiga tahun dan belum menikah! Kau mau mendeklarasikan ke orang-orang kalau kau tidak laku? Begitu?”

“Noona, kau─ah, kalau kau benar-benar ingin menjodohkanku, setidaknya kau harus memperhatikan kriteriaku sehingga perjodohan itu setidaknya kelihatan berhasil!”

“Berhentilah berkelakuan seolah-olah kau punya penyakit oedipus complex, Jongin-ah. Apa perlu aku menyuruh Jessica telanjang di depanmu sehingga kau mau dengannya? Bukankah kau tertarik dengan hal-hal seperti itu?” bentak Nayeon dengan penekanan pada kata telanjang.

“Ini musim dingin. Kau mau membunuhnya?” wajah Jongin sekarang tampak menyebalkan. Dia menunjukkan smirk merendahkan kepada Nayeon. “Noona, dia buka tipeku. Jadi uruslah Jessica baik-baik dan jangan datang ke rumahku hanya untuk mengatakan hal-hal konyol yang tak tertolong. Aku pergi dulu.”

“Yaa─hei, kau brengsek. Apa kelakuanmu ini masih bisa ditolong? Aissh, dasar gila!”

~That Violin~

Gadis itu masih saja diam, padahal satu jam lagi dia harus mempersiapkan dirinya ke tour konser terakhirnya tahun ini. Pikirannya masih saja jauh dari kenyataan yang di hadapinya sekarang. Ia seperti memikirkan seseorang, tapi juga seperti menyesali sesuatu.

Pandangannya hanya tertuju pada kaca yang mengembun di depannya. Kaki jenjangnya terlihat rapuh untuk menyangga berat tubuhnya. Mungkin, baju yang tak sampai lututnya itu telah membuatnya lebih kedinginan.

“Naya, apa yang kau pikirkan?” tanya Chanyeol yang tiba-tiba saja ada di sampingnya.

“Em? Kau bilang apa?” Raena tersentak dari lamunannya. Ia telah kembali sadar.

“Aniyo. Lupakan. Aku hanya membangunkanmu dari lamunan.” ucap Chanyeol lalu tertawa hambar. “Jadi apa kau sudah menyiapkan segalanya? Kau cantik malam ini.”

”Mempersiapkan apa?” tanya Raena polos. Kelihatan sekali kalau dia belum fokus.

”Bodoh. Kau lupa? Tentu saja persiapan kita satu jam lagi. Kau lupa kita sudah pindah lokasi ke Korea?”

”Yola,” Raena memanggil Chanyeol. Ini seperti tanda kalau dia berusaha mengalihkan pembicaraan. Matanya masih saja fokus ke pemandangan di balik jendela berembun itu.

”Em?”

”Bagaimana kalau kita menetap di Korea saja? Aku lupa rasanya hidup di sini. Hidup di Vienna terlalu lama membuatku lupa Gangnam yang sekarang seperti apa. Mengerikan bukan?” Raena mengeluarkan opininya. Ternyata yang sedari tadi dipikirkannya adalah ini.

Chanyeol tertawa. ”Kau masih ingin mencari pria yang sudah beristri itu? Kadang-kadang aku merasa hidupmu begitu menggelikan. Perempuan secantik Persephone berakhir pada pelukan seorang ahjussi. Kau seperti hidup di mitologi Yunani saja. Ah tapi benar, bukankah Hades adalah pamannya?”

”Hei, aku bukan Persephone! Namanya Cho Kyuhyun bukan Hades!”

”Baiklah─setidaknya aku tahu kau masih mencintainya.”

”Aku tidak mencintainya!”

”Lalu? Kau mencintaiku?”

”Mwo?”

”Ketahuan,” Chanyeol tersenyum menyeringai, kau memang selalu begitu Naya, batinnya.

”Bukankah hidup di Vienna lebih baik? Kita bisa menjadi tutor di sana dan mendapatkan banyak uang.” ucap Chanyeol meyakinkan. ”Kita sudah dihidupkan di sana. Di Korea tak banyak yang menyukai musik klasik. Kau hanya bisa hidup dengan tenang di Vienna dan Paris. Kau pilih mana? Tidak ada yang melupakan kota itu untuk melihat komposer hebat.” jelas Chanyeol.

”Dua-duanya tidak ada yang kusuka,” ungkap Raena.

Wajah Chanyeol mengkerut lalu bersinar lagi. ”Ah, arra. Di Vienna hanya ada Kyuhyun, di Paris hanya ada─baiklah, sepertinya tidak perlu dibicarakan.”

”Kenapa?” Raena masih saja tulalit. Sebenarnya apa yang terjadi di dalam sistem syaraf gadis ini?

”Aku tidak suka kau memikirkan dua pria sekaligus dalam satu waktu. Menyakitkan.” gurau Chanyeol sambil memegang dadanya. Seandainya Raena mau melihat lebih detail sedikit tentang dia, tentu dia akan menemukan fakta yang tak bisa dihadapi olehnya.

”Cha, ayo siap-siap.”

~That Violin~

Chanyeol dan Raena memasuki panggung konser itu. Mereka memberi salam pada penonton yang sudah menunggu permainan duet mereka. Seadainya piano dan biola punya filosofi, maka tak ada kata yang lebih tepat untuk menggambarkan mereka. Seperti filosofi itu, mereka hanya tahu musik mereka saling melengkapi.

Mereka memainkan gubahan yang mereka ciptakan. Jari-jari Chanyeol menari dengan licah di atas tuts piano sedangkan Raena menggesekkan biolanya dengan mata terpejam menikmati musiknya sendiri. Bagi mereka piano dan biola memang seperti opium yang melegakan jiwa mereka yang haus akan alunan yang mendamaikan hati. Membuatnya tetap terjaga dan bebas. Sampai nanti. Sampai mereka lelah mengakhiri.

Lagi-lagi, mereka mendapatkan standing applause yang begitu memukau. Rasa bersyukur mereka bahkan tertutupi oleh keramaian yang ada di sekeliling mereka. Mereka senang, bahkan di konser terakhir mereka tahun ini, mereka masih mendapatkan sambutan yang tak pernah mereka lupakan. Ini adalah pencapaian pertama yang terbesar. Sukses di negeri sendiri, memang kadang-kadang membuat orang sedikit kalap, tapi bagi mereka yang memulai di negeri lain, ini adalah hal yang luar biasa bahwa mereka telah dibanggakan dengan cara yang berbeda.

~That Violin~

”Ahjussi, apa kau masih bekerja?” tanya Sehun di balik pintu yang digelayutinya.

”Oh, Sehun-ah. Apa yang kau lakukan di sini? Mana eommamu?”

”Ahjussi, eomma menyuruhku memanggilmu ke ballroom. Katanya kau harus bertemu dengan seseorang.”

”Gurei? Nugu?” Sehun hanya mengangkat pundaknya. ”Palli, eomma menyuruhku memaksamu.”

”Aissh, eommamu memang keterlaluan.”

Jongin dan Sehun berjalan ke arah lift dan menekan tombol yang memiliki angka tertinggi. Ruangan Jongin bekerja selisih satu lantai dengan ballroom hotel mereka. Ia tahu, baru-baru ini memang hotelnya telah disewa oleh promotor untuk pertunjukan musik klasik, tapi sesuka-sukanya dia pada musik genre itu, ia tetap tidak bisa menyaksikannya dengan alasan pekerjaan. Selalu saja alasan itu yang menghambat kesenangan.

Jongin sampai di ballroom yang dimaksud. Jalan yang ditunjukkan Sehun memang bukan pintu masuk, tapi malah ruang tunggu persiapan. Di sana, Jongin dan Sehun masuk ke ruang yang berlabel ’VIP’. Sungguh aneh memang, di dalam ruang tunggu masih ada ruang tunggu lagi dan bukan hanya satu tapi lima. Ya, hotel berbintang plus-plus memang tak bisa dijangkau nalar. Tujuannya sih keamanan ganda dan tentu saja menyuguhkan fasilitas.

”Jongin-ah, kau sudah datang?”

”Wae, noona? Kau membuat pekerjaanku tertunda.”

”Hyung!” seru seseorang di sana. Jongin mengenal suaranya dan segera berbalik ke arahnya.

”Chanyeol! Yah─kau sudah matang sekarang. Berapa pacarmu, huh?” Bukannya bertanya kabar, Jongin malah bertanya jumlah pacar. Jongin memang sedikit memalukan tentang tata krama pergaulan.

Park Chanyeol adalah saudara Jongin dari garis ibu. Ibunya, Park Leera mempunyai dua saudara yang salah satu satunya memiliki anak bernama Park Chanyeol.

”Sudah lama tidak bertemu denganmu. Kudengar kau ke Austria. Benar? Chakam─apa ini pertunjukan musikmu?” Jongin menyadari sesuatu yang terlambat. Ia baru sadar sedari tadi ia menuju suatu tempat pertunjukkan musik.

”Ne, Hyung. Aigoo—kau kelihatan tua sekarang. Apa kau kehilangan stock wanita?”

”Aissh, pria brengsek ini bahkan meninggalkan seorang wanita cantik hanya untuk memenuhi kriteria yang tidak mungkin. Chanyeol-ah, bisakah kau mengajarinya lagi untuk berhubungan dengan wanita? Semenjak putus dengan Cho Sooyoung tiga tahun lalu, dia menjadi kaku dan tak berdaya.” sambar wanita di sampingnya. Oh Nayeon, dasar wanita gila itu!

”Baiklah, kau sudah tahu jawabannya. Jadi apa yang bisa kau lakukan?” ungkap Jongin menyerah mengiyakan kata-katanya.

”Apa kau tertarik dengan Skandinavian? Aku punya banyak teman semacam itu.” tawar Chanyeol sambil cengar-cengir tak jelas. Mungkin ia sedang memikirkan wanita mana yang akan dikenalkan pada sepupu karibnya ini.

”Bisakah kau mendeskripsikan rasanya berhubungan dengan mereka? Ani—maksudku sesuatu yang lebih spesifik.” Jongin mengedipkan salah satu matanya. Ketahuan kalau ternyata yang ada di pikirannya tentang wanita adalah hanya itu. Hanya itu.

Mereka berdua tertawa sedangkan Nayeon hanya cemberut menyaksikan kedua lelaki homo ini. Setidaknya itulah pandangan Nayeon tentang dua saudara itu. Mereka tidak lebih dua lelaki homo yang terjebak dalam hubungan friend zone—ani, brother zone sepertinya lebih tepat.

”Yola,” ucap Raena yang datang dari sudut lain. Semua mata beralih ke arahnya hanya karena mendengar suara dan logat yang aneh itu.

”Nugu?” tanya Jongin lebih ke refleks daripada bertanya pada semua orang di sana.

”Naya,” Chanyeol tersenyum ke arahnya. Tidak tahu, apakah itu sisa-sisa senyum dan candaan yang tadi dilaluinya atau itu semacam ungkapan baru yang merujuk pada kode-kode tertentu. Untuk pria setulus Chanyeol memang hal itu sulit ditelusuri. ”Kemarilah, kukenalkan pada keluargaku.”

Raena mendekat, ia tersenyum kepada semua orang, ”Annyeonghaseyo, Naneun Hwang Raena imnida. Bangapseumnida.”

”Aigoo, kenapa logatmu aneh sekali? Kau seperti terjun dari planet lain hanya untuk memaksakan diri kalau kau orang Korea.” komentar Nayeon mendengar logat Raena yang amat mengenaskan.

Raena tersenyum, ”Joesonghamnida, aku selama ini hidup di Paris dan sembilan tahun yang lalu pindah ke Vienna.”

”Naya adalah teman duetku. Dia pemain biola terhebat versi majalah Time.”

”Tunanganmu?” tanya Jongin menyelidik. Sepengetahuannya, Chanyeol tidak pernah mau berurusan dengan wanita. Beberapa wanita yang dekat dengannya pasti punya hubungan yang lebih dari teman, entah itu teman dekat, pacar, tunangan, pasti gadis itu adalah salah satu dari kriteria itu.

”Dia teman duet. Kami memang dekat. Sayang hatinya hanya diisi oleh ahjussi yang bahkan tidak pernah kutemui itu. Setidaknya kalau aku tahu, aku kan bisa membuat tabel perbandingan antara diriku dengan dirinya. Haha.” Chanyeol tertawa, tanpa melihat ekspresi yang lebih detail dari Raena, Jongin, maupun Nayeon.

”Kau menghibur diri atau kau memberi kode?” tanya Jongin dibuat-buat. Mereka berdua tertawa dan Raena hanya dengan tersenyum kikuk menanggapi situasi yang tak bisa ditangani ini.

”Ayo kita makan bersama,”

~That Violin~

Keluarga besar garis ibu Jongin itu telah berkumpul. Tuan Kim, Jongin, Oh Nayeon dan suaminya Oh Dongsoo serta anaknya yang bernama Oh Sehun dan Oh Mihun. Tuan dan Nyonya Choi, Jang Nara dan suaminya Jang Taekyung dan anaknya Jang Youngdae. Tuan dan Nyonya Park, Chanyeol dan Taehee. Dan terakhir Hwang Raena.

Apakah kalian bertanya-tanya tentang ibu Jongin? Park Leera, ibu Jongin, telah meninggal setahun lalu, maka dari itu Oh Nayeon gencar-gencarnya mencari jodoh untuk Jongin. Park Leera berpesan pada Nayeon untuk mengurus Jongin sebaik-baiknya karena anak malang itu memiliki sikap ’semaunya sendiri’. Ibunya ingin Nayeon mengarahkan Jongin ke jalan yang lurus yang diridhoi Allah.

”Chaa─ini untukmu, Oppa. Nikmatilah, kau sudah lama tidak makan masakan Korea kan?” ucap Taehee, adik Chanyeol. ”Apakah masakan Austria seenak masakan Korea?”

”Taehee-ah, walaupun masakan Austria terasa hambar, aku tetap harus makan kan?” Chanyeol tertawa. ”Jadi apa kau sudah yakin akan belajar ke Paris?”

”Ani, aku akan sekolah desain interior saja. Bagaimana menurutmu?”

”Terserah, lagipula kau juga berbakat di bidang itu.” Ucap Chanyeol sambil memasukkan makanan ke mulutnya.

”Taehee-ah apa kau suka memasak?” tanya Nayeon tiba-tiba. Ia teringat dengan pertengkarannya dengan Jongin beberapa hari yang lalu.

”Ne, eonnie. Wae?”

”Ah, sayang sekali kau masih sedarah dengan Jongin. Apa kau juga suka mengurus anak? Ani, apakah kau punya teman yang pintar memasak dan mengurus anak?”

”Ye?” Taehee terkejut dengan pertanyaan eksplisit semacam itu.

”Noona, kenapa kau membicarakan hal itu?” tolak Jongin. Ia tidak nyaman membicarakan masalah itu lagi. Dan lagi.

”Wae? Bukankah aku harus mencari yang sesuai dengan kriteriamu? Lagipula kau tak akan mendapatkan kriteria semacam itu di lingkunganmu maupun lingkunganku. Jadi setidaknya kita harus mencari di lingkungan lain.”

Chanyeol dan Nara tertawa. Mereka tidak menyangka Jongin yang notabene playboy kesusahan mencari calon istri. ”Jongin-a, kau kenapa? Bukankah kau dari kalangan jetsex?”

”Mwo? Aku hanya sekedar punya, tidak memainkan. Jangan salah sangka Nara-ssi. Aku lebih memilih melakukannya sendiri. Aku tidak menyukai perempuan gampangan.”

”Arra, kau memang pejuang. Aku tidak pernah meragukannya, tapi tatapanmu itu benar-benar lucu.” Nara tertawa. Sebenarnya, ia sendiripun tak tahu bagian mana yang harus ditertawakan. Pendapat Jongin atau ekspresinya?

”Eomma, jetsex itu apa?” tanya Mihun dengan tatapan polos kepada Oh Nayeon.

”Yaa─Mihun-a, siapa yang mengajarimu kata-kata itu? Nara Ahjumma mengatakan ’jetset’ bukannya ’jetsex’.” ucap Sehun memarahi adiknya.

”Lalu apa bedanya jetset dengan jetsex?” tanya Youngdae yang tiba-tiba ikut campur.

”Jetset itu kalangan atas. Kalangan orang kaya. Kalau jetsex setahuku tidak ada.” ucap Sehun acuh. Dan orang-orang dewasa di sekitar situ hanya diam. Bingung apa yang harus dikatakan sebagai pengganti penjelasan atas kata-kata yang tidak patut.

”O,” ucap Mihun dan Youngdae bersamaan. Mereka terlalu polos untuk membahasnya lebih lanjut.

”Kenapa kalian semua diam?” tanya Youngdae kepada semua orang disitu.

”Ani, kami hanya ingin tahu pembicaraan anak kecil. Kalian kan selalu bilang kalau anak kecil tidak pernah didengarkan, nah sekarang kami ingin mendengarkan.” ucap Nayeon dengan kata-kata yang dipaksakan. Ekspresi mukanya seperti saat ia tertangkap basah telah mencuri ikan di laut.

”Itu benar,” bela Chanyeol. ”Aku masih ingat dulu Sehun pernah menangis hanya karena aku tak memperhatikan ceritanya. Apa kau masih ingat Sehun-a?”

”Onje? Aku tidak ingat. Aku malah baru pertama kali bertemu denganmu, ahjussi.”

”Yaa─Sehun-a, dulu kan kau pernah mengompoli Chanyeol. Apa kau tak ingat?” Jongin berusaha mengompori situasi ini. Tapi lagi-lagi ia malah terlihat… bodoh.

”Babo,” ungkap Sehun singkat. ”Ahjussi, kau harus segera mencari istri supaya kau lebih tahu semua orang tidak pernah ingat apa yang telah dilakukannya pada saat bayi.”

”Aissh, anak ini!” Jongin siap berdiri, tapi lagi-lagi ditahannya.

”Ah, kurasa aku tahu siapa yang memenuhi kriteria itu,” ucap Chanyeol tiba-tiba. Seketika semua orang mengikuti arah pandang Chanyeol. Tatapan itu… Hwang Raena.

”Nega?”

”Yes. Is there anyone else who can replace your place for that ability?”

”Ngomong-ngomong, apa kau benar-benar bisa memasak dan mengurus anak?”

~That Violin~

Jadi di sinilah Jongin menanti kakak perempuannya bersama dengan ’blind-dater’nya datang. Sungguh, sebenarnya rencana apalagi yang akan dijalankan oleh kakaknya itu? Tidak puaskah ia mengenalkan Jessica Jung yang sama sekali bukan tipenya? Ah, kenapa usianya selalu bertambah sih? Dan kesalahannya adalah kakaknya menyadari pertambahan usia itu.

Sebenarnya Jongin sudah merasa sejak awal akan rencana jahanam kakaknya yang berusaha menjodohkannya dengan wanita yang entah meluncur darimana itu untuk datang tepat di hadapannya.

Awas saja kalau yang datang masih Jessica si fashionista itu. Dia bukan tipeku. Catat, dia bukan tipeku. Jadi aku tidak mungkin jatuh cinta padanya, kecuali kalau dia memberiku ramuan cinta seperti Merope yang memberikannya pada Ayah Voldemort. Tapi pertanyaannya, apakah itu mungkin?,batinnya.

Sebenarnya kalau mau jujur, Jessica adalah seseorang yang enak diajak bersenang-senang. Tapi tak mungkin bukan kau mengajak bersenang-senang salah satu gadis dengan title calon jodoh? Bukankah sama saja bunuh diri? Tahu-tahu baru jalan satu malam, besoknya langsung diajak kawin. Nah, kebodohan ganda kan?

”Jongin-ah,” ucap perempuan dari samping kanan Jongin. Ya, suara itu. Siapa lagi kalau bukan Oh Nayeon, si perempuan gila itu.

Oh Tuhan, kenapa harus gadis itu?, batin Jongin.

Mereka berdua duduk di hadapan Jongin. Mata Jongin benar-benar serius mencari sesuatu pada diri gadis itu. Ia hanya mencari sesuatu yang tidak menarik. Sial! Dia benar-benar menarik.

Jongin telah menelitinya sejak tadi malam, entah kenapa semenjak Chanyeol mengatakan itu, matanya terus melirik gadis itu. Walaupun akhirnya Chanyeol tertawa dan berkata, ”Mian, aku hanya menggodamu, Jongin-ah. Naya sama sekali bukan tipe gadis seperti itu. Dia hanya penyuka ahjussi yang punya anak, bukankah sudah kukatakan? Dan tentang memasak, aku sama sekali tidak tahu kalau dia bisa memasak atau tidak. Mungkin satu-satunya yang bisa dilakukannya hanya menghiburmu dengan biolanya? Hahahaha…”

Sumpah, itu adalah gurauan paling mendebarkan yang pernah dirasakannya.

~That Violin~

”Aku sudah membujuk Naya untuk mau bertemu denganmu, Jongin-a. Jangan kecewakan dia. Dia satu-satunya bagi Chanyeol. Jangan merusaknya seperti kau mencampakkan hati gadis-gadis lain. Arra? Aku pergi dulu. Sehun dan Mihun sudah menungguku.” Itulah bunyi pidato singkat dari seorang Oh Nayeon, biro jodoh yang—uh, menyebalkan.

Begitulah. Sekarang segalanya hanya ada kebisuan. Raena sama sekali tak tertarik dengan Jongin, sedangkan Jongin masih mencari sesuatu yang sekiranya bisa menyakinkan dirinya bahwa gadis ini memang tidak menarik.

”Berapa usiamu?” tanya Jongin langsung ke mata Raena setelah tiga menit tidak ada yang mengisi kekosongan waktu yang telah berlalu itu.

”Dua puluh enam tahun,” singkat. Gadis ini benar-benar dingin.

”Kenapa kau mau datang menemuiku?”

”Apakah kau juga akan mengatakan kau menyukaiku?” tebak Raena sinis.

”Jadi kau menyukaiku?” ucap Jongin memojokkan Raena. Sekarang Jongin benar-benar menunjukkan pandangan intensnya. Setidaknya Raena harus merasa tersipu supaya ia punya alasan untuk tidak tertarik pada gadis ini. Tapi…

Raena tertawa.

Pupus sudah. Jalan untuk tidak menyukainya semakin sempit.

”Kau lucu sekali, Jongin-ssi. Benar kata Sehun, kau harus cepat-cepat mencari istri untuk mengatasi masalah ini.”

”Jadi kau punya solusi? Ani─ah, kau memberiku kode kalau kau ingin menjadi istriku?”

”Seharusnya kau mengatakannya lebih baik, Jongin-ssi. Bukankah matamu menunjukkan kalau kau tertarik padaku?”

”Bukankah kata-kata ini pertanda kalau kau akan memanfaatkan perasaanku?”

”Kalau kau mengizinkannya,”

”Jadi apa yang kau inginkan?”

”Bisakah kau menemukan Cho Kyuhyun?” tanya Raena tanpa pendahuluan.

”Kau─ada hubungan apa dengannya?” Jongin terkejut, ia hanya tak biasa mendengar nama lelaki itu disebut dengan lancar di hadapannya.

”Bukankah Chanyeol sudah mengumumkannya kemarin? Dia mengatakan aku hanya bisa jatuh cinta dengan seorang ahjussi beranak. Jadi kukira kau tahu siapa Cho Kyuhyun itu.” balas Raena masih dengan hawa dingin yang sama.

”Kukira itu bercanda─” Tiba-tiba saja Jongin kehilangan kata-katanya.

”Ada apa dengan wajahmu?”

”Ani,” Jongin cepat-cepat melepas keterkejutan di wajahnya. ”Jadi apa yang kudapatkan?”

”Kau akan mendapatkanku. Setelah kau berhasil menemukan Cho Kyuhyun dan memberiku waktu untuk berbicara padanya, aku akan belajar mencintaimu, memasakkan makanan untukmu, melahirkan anakmu, dan hal-hal lain yang kau inginkan.”

”Kau membuatku terkejut,” ucap Jongin lemas. Ia hanya tidak menyangka akan bertemu dengan wanita seaneh ini. Di pikirannya, setidaknya seseorang yang menjanjikannya hal menarik seperti itu, tidak memiliki permintaan gila semacam ini. Hal ini benar-benar menghancurkan imajinasinya akan seorang istri yang dianggap kriterianya.

”Jadi bagaimana menurutmu?”

”Apakah aku bisa menghamilimu terlebih dulu sebagai jaminan?”

”Jaminan?”

”Aku tak yakin kau akan tetap bersamaku setelah kau melihat Cho Kyuhyun.”

”Kenapa tidak dengan pernikahan?”

”Kau bisa saja mengajukan cerai, aku lebih percaya pada anak daripada pernikahan.”

”Baiklah,”

Ya Tuhan─Ya Allah, apa yang ada di pikirannya? Hello, aku yakin gadis ini disekolahkan dengan baik oleh ibunya. Tapi apa? Tapi mana? Kenapa seperti ini jadinya? Apa ini memang cetakannya? Tolong gadis ini. Bimbinglah dia ke jalan yang benar. Ah, bukankah aku yang menyesatkan?

“Kalau aku menemukan Cho Kyuhyun hari ini, apa yang harus kulakukan?” tanya Jongin meminta pendapat. ”Bisakah aku menyimpannya dan memberitahumu nanti kalau kau sudah menunjukkan tanda-tanda kehamilan?”

“Apa Cho Kyuhyun begitu terkenal?” tanya Raena penuh selidik.

”Kau tidak akan menyesal kan kalau selama ini Cho Kyuhyun seorang yang kukenal?” Jongin menaikkan alisnya. ”Jadi, kenapa kau tidak memintaku untuk mempertemukannya daripada harus menaruhkan tiga per empat harga dirimu?”

”Jadi kau mengenalnya?” ucapnya sambil menyeruput carribean coffeenya untuk menghindari keterkejutannya akan situasi ini.

”Lumayan,” Jongin menjawabnya acuh. Berharap gadis itu ingin tahu lebih tentang keterkaitan di antara mereka.

”Ah, benar. Sangat aneh memang jika kau tak mengenalnya. Bukankah dia dulu satu kalangan denganmu? Dia pernah bilang padaku saat muda dia benar-benar playboy─”

”Bahkan dia mempermainkanmu di saat dia sudah punya anak? Kau pikir, pria macam apa dia?” tanya Jongin mematahkan pendapat Raena. Yah, semoga dia sadar pria macam apa yang meninggalkan istri dan anaknya untuk bersenang-senang dengan wanita yang lebih muda.

“Aku yang menyukainya…”

“Jadi kau akan mengatakan bahwa itu hubungan sepihak? Umumnya tidak ada gadis yang mengejar pria beristri, jadi jangan besikap seolah kau antimainstream dengan hal ini.” Dari nada bicara Jongin, ketahuan sekali bahwa ia sedang mengejek gadis yang ada di hadapannya.

Raena terdiam, lagi-lagi yang dilakukannya hanya meminum kopi yang ada di hadapannya. Skak match dari seorang Kim Jongin benar-benar mengena di hatinya.

Benar, dulu ia pernah bilang pada Caroline kalau ia menyukai seseorang yang punya anak. Caroline yang mengambil jurusan psikologi langsung ambil bicara bahwa menyukai seseorang yang tak setara bisa menimbulkan kelainan kepribadian. Dengan seorang yang lebih tua kita memang merasa lebih nyaman, tapi juga akan benar-benar tertekan.

Hindarilah hal yang masih bisa kau hindari Naya, ucapnya waktu itu. Raena menghela nafasnya. Lagi. Dua kali. Menyadari kebodohannya sendiri memang terasa sesak sekali.

“Jadi , apa harus kukatakan pada kakakku kalau perjodohan ini berhasil?”

─to be continued

Here We Need Responsibilities. Thanks!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s