EXO Fanfiction Dorm

EXO as the Main Cast

[Freelance] You Belong With Me

1 Comment

poster-you belong with me 

Title : You Belong With Me | Author : bubbletaro

Rating : PG Length : Oneshot

Genre : Romance, songfic, friendship

Cast : Xi Luhan, Choi Ahra (OC), dan Jenny (OC)

Note : This is my 4th fanfiction! Thank you so much for reading and commenting!^^ I’ll try to reply your comment in my fanfiction. NO silent reader and plagiator please. I hope you’re commenting! Chu~

“Aku memang bodoh karena telah sayang padamu,”

You’re on the phone with your girlfriend, she’s upset

She’s going off about something that you said

‘Cause she doesn’t get your humor like I do

Pria itu sibuk dengan handphone-nya, dan mengabaikan aku. Berusaha membuat sesuatu yang lucu—menurutku, tetapi tidak dengan pacarnya.

Sejak kapan aku menyukai dia? Sejak kelas satu, mungkin. Seorang pria bernama Luhan, yang merupakan pemain baseball di sekolah. Namja yang populer.

Pacarnya? Yeah, his girlfriend. Semua yeoja yang menggilai Luhan langsung patah hati ketika melihat dia memeluk pacarnya—Jenny. A perfect girl. Digilai oleh semua namja disekolah, merupakan ketua klub cheerleader. Yeah, ketika king and queen di sekolah bersatu…. you know what i mean, right?

Sedangkan aku? Sahabat Luhan—atau mungkin cuma aku yang berpendapat begitu? Merupakan yeoja yang culun, memiliki rambut berkepang, dan berkacamata. Doesn’t have any beauty side. Mengenal Luhan karena kami bertetangga, dan dia juga baik kepadaku. Pangeran dan putri kodok.

I’m in the room, it’s a typical Tuesday night

I’m listening to the kind of music she doesn’t like

And she’ll never know your story like I do

Selasa malam. Malam yang menyenangkan—atau tidak? Meratapi buku pelajaran, berusaha belajar tapi tidak bisa. Ckck. Mungkin aku harus mencari suatu hal yang baru? Kuputar lagu yang menurutku bagus—tapi tidak untuk Jenny. Entah kenapa dia menganggap aku sebagai saingannya dalam memiliki Luhan. Padahal semua orang tahu kalau Luhan miliknya. Aku bernyanyi mengikuti lagu yang kuputar, mengambil sisir sebagai mike, bergaya-gaya seperti rockstar.

Sedangkan diseberang sana, Luhan melihatiku, terus tertawa. Sedangkan aku? Tidak tahu akan itu.

But she wears short skirts, I wear T-shirts

She’s Cheer Captain and I’m on the bleachers

Dreaming about the day when you wake up and find

That what you’re looking for has been here the whole time

Jenny. Kulihat yeoja itu sedang mengobrol dengan Luhan, dan Luhan menatapnya bahagia. Dari atas sampai bawah, aku melihatinya. Tank top, rok pendek, dan high heels. Aku mencoba membandingkannya denganku. T-shirt, jeans, dan sneakers. God. Mungkin aku lah yeoja yang paling culun disekolah.

If you could see that I’m the one who understands you

Been here all along, so why can’t you see?

You, you belong with me, you belong with me

Mungkin aku egois. Ya, egois. Ingin menghancurkan hubungan sahabatku sendiri. Teman macam apa aku? Aku hanya ingin….. Luhan memiliki yeoja yang lebih baik dari Jenny. Yang mengerti dia, bisa membuatnya nyaman. Yang mengetahui bahwa dia tidak bisa meminum jus mangga, tidak menyukai warna ungu. Yang memang sudah ada disisinya selama ini. Seperti aku. Ya, mungkin ini menurutku, tapi yang penting, aku sayang padamu, Luhan.

Oh, I remember you driving to my house in the middle of the night

I’m the one who makes you laugh when you know you’re ’bout to cry

And I know your favorite songs and you tell me ’bout your dreams

Think I know where you belong, think I know it’s with me

Jam 12 malam, tapi aku tetap tidak bisa tidur. Menatap langit-langit kamarku, berpikir. Besok malam promnight. Datang… atau tidak? Lebih baik tidak datang, dan tidak melihat Luhan-Jenny bermesraan. Tapi, aku ingin datang. Aish, membingungkan.

Aku masih terjaga, dan menatapi langit-langit kamarku—dan tiba-tiba.

Ada seseorang yang membuka pagar pintu rumahku—ck. Mungkin hanya angin? Tapi—seseorang mengetuk pintu rumahku. Siapa? Sejak kapan aku menjadi penakut begini—ck. Aku pun menghidupkan lampu dan turun kebawah, dan membuka pintu. Oh—

“Em, hai?” ucap Luhan—kaku.

“Hai—ada apa?” jawabku, dan—oh, sangat tidak enak bicara didepan pintu seperti ini. “Em.. silakan masuk,”

Dia pun masuk, dan duduk di ruang tamu rumahku. Sial, untung saja ibuku sedang liburan, kalau tidak? Sepertinya telingaku akan dijewer habis-habisan. “Kau mau minum apa?” tanyaku, dingin. Kenapa aku jadi dingin kepadanya? Ckck.

“Ya, jangan dingin kepadaku! Kau ini seperti tidak tahu diriku saja, eoh?” sahutnya, sambil tertawa. Ya, baru kali ini aku dingin kepadanya—dan menawarinya minuman. Mau tak mau aku juga ikut tertawa kecil.

“Hahaha, jadi kau kenapa datang malam-malam begini? Aku tidak akan menerimamu disini untuk menginap,” candaku—sambil memeluk bantal sofa, dan sedikit menguap.

“Ya! Kau tidak kasihan pada sahabatmu sendiri eoh?”

Seketika aku terdiam. Sahabat. Itu yang keluar dari mulutnya. Padahal aku berharap lebih. Sudahlah, Ahra, jangan menjadi geer terhadap diri sendiri.

“Ya! Kenapa kau diam seperti itu?” dia menjadi tidak sabaran. Apa, yang dimaksud namja ini. Sudah datang kerumahku malam-malam, marah denganku pula—padahal aku tahu kalau dia sedang bercanda.

“Aku ini ngantuk tahu! Kau merusak acara tidurku!” ucapku, sambil melempar bantal kearahnya. Sedangkan dia hanya tertawa sambil menghindari bantal itu.

“Oh, hahaha, ne, sudah malam ya.” apa-apaan namja ini? ‘Sudah malam ya,’ memangnya langit diluar berwarna merah? Pakai bertanya lagi.

“’Sudah malam ya?’ Ya, Xi Luhan! Kau pikir langit diluar itu berwarna merah, sampai-sampai kau tidak tahu kalau ini sudah malam? Tsk, baboya!” omelku padanya.

Dia tertawa lagi—renyah. “Hey, kau kenapa?” tanyaku bingung, tak biasanya dia bersikap seperti ini. “Tidak ada, hey jangan berpikir macam-macam!” sahutnya, dan tertawa lagi—tawa yang cukup meyakinkan buatku.

“Ya, kukira kau kemasukan setan atau apa—“ dan dia langsung menjitak kepalaku. “Ya! Kau jahat padaku!” ucapku—dengan gaya seperti anak kecil. Sedangkan dia hanya tertawa lagi. “Hahaha! Kau tidak cocok begitu, tahu!”

“Siapa bilang? Gini-gini aku masih muda darimu! Wek!” mehrong—aku sangat tidak cocok seperti itu. Dalam hati aku tertawa renyah. “Hey, sudah jam 1, aku pulang dulu,” ucapnya.

“Eh? Jadi kau kesini untuk apa?” Tanyaku, agak sedikit kesal dan bingung. “Ya… untuk mengganggumu.” ucapnya innocent. “So damn,” umpatku kesal—sedangkan dia tertawa dan keluar rumah.

Bye sleepy princess,” ucapnya, sambil melambaikan tangannya. “Bye.” balasku. Princess? Maybe not to me, I swear.

Can’t you see that I’m the one who understands you?

Been here all along, so why can’t you see?

You belong with me

Malam ini promnight. Aku sudah memutuskan untuk tidak datang, dan lebih baik berkumpul dengan buku-buku dan pr ku yang menumpuk. Kulihat diseberang Luhan sedang bersiap-siap ke prom. Mataku menangkap dia sedang menulis sesuatu, dan menunjukkannya kepadaku.

‘Datang ke prom?’ itulah yang kubaca. ‘Tidak, banyak pr yang harus dikerjakan’ sambil mengangkat bahuku. Dia pun hanya menganggukkan kepalanya dan berkata ‘aku duluan’.

Coba saja aku bisa datang ke prom. Kulirik jam di kamarku. Jam 07:30 p.m. Prom dimulai jam 08:00 p.m. Masih ada kesempatan, bukan?

Luhan sedang mengobrol dengan beberapa temannya, dan seketika membeku—semua yang berada di hall itu membeku, melihat seorang yeoja yang masuk ke dalam hall SMA itu.

Yeoja itu memakai dress putih sampai lutut, high heels, dan rambut yang dibiarkan terurai panjang. Sangat cantik. Siapa?

Ya, Ahra. Choi Ahra yang terkenal sangat culun. Choi Ahra yang terkenal dengan kacamata yang hampir menutupi sebagian wajahnya. Choi Ahra yang sangat pemalu, mempunyai rambut berkepang, dan sering di bully.

Xi Luhan—dan Jenny pun terbeku untuk beberapa saat. Choi Ahra? Benarkah itu Choi Ahra? Luhan pun melirik tangan Jenny yang sedang merangkul tangan namja lain. Dia pun mengingat disaat Jenny memeluk namja lain.

“Eh? Hai,” ucap Ahra—canggung, dan berusaha memecah keheningan.

“Choi Ahra?” tanya Luhan.

“Ya! Aku ini sahabatmu sendiri tahu! Apakah kau lupa?!” omel Ahra—walaupun wajahnya berubah 180 derajat, sifatnya tidak.

Luhan pun mendekati Ahra—tapi ditahan oleh Jenny. “Hey, kau lupa padaku?” ucap Jenny—dengan nada tinggi. “Maaf, tapi aku tidak mau dibodohi oleh dirimu lagi,” Dia pun mendekati Ahra, dan mengajaknya keluar hall.

“Hey, aku tidak tahu kalau kau secantik ini,”

“Hah?!” Ahra pun hanya memasang wajah datar, sekaligus kesal.

“Ya, maafkan aku.” ucap Luhan, tapi tetap dengan wajah innocent. “Kau meminta maaf, tapi tetap dengan wajah innocent?!”

“Ya. Memangnya kenapa?”

“Sudahlah, aku malas berdebat. Kenapa kau tidak bersama Jenny?” ucap Ahra—walaupun di dalam hatinya dia sangat ingin Luhan didekatnya seperti ini.

“Ya, aku tidak mau dibodohi oleh dirinya lagi. Aku pacarnya, tapi dia bergandengan tangan dengan namja lain. Jadi sekarang kami tidak menjalin hubungan lagi,” sedangkan Ahra hanya bisa menciptakan huruf ‘O’ di mulutnya.

“Dan, maafkan aku Choi Ahra,” Ahra terkesiap. Untuk apa?—tanyanya dalam hatinya.

“Karena aku telah membohongi perasaanku sendiri. Karena aku menyayangi seseorang yang tidak sayang kepadaku—sedangkan ada orang yang sayang kepadaku disini,” Ahra membeku.

“Karena aku lebih memilih seseorang yang asing—yang tidak mengerti aku, sedangkan ada orang yang mengerti tentangku disini,”

“Jadi, maafkan diriku, Choi Ahra,” Ahra pun mulai menangis.

“Bodoh! Kau tidak pernah memiliki kesalahan kepadaku! Asalkan kau bahagia, aku tidak apa-apa melihat kau dengan Jenny!”

“Bodoh! Kau bodoh! Xi Luhan yang pabo!” Ahra tetap menangis, sambil sesekali memukul pelan dada Luhan.

“Ya, aku memang bodoh, aku sangat bodoh karena tidak menyadari kalau aku sayang denganmu” Deg. Jantung Ahra berdetak lebih cepat. Tangisannya masih belum berhenti, tapi dia tersenyum simpul sekilas.

“Aku sayang padamu, Choi Ahra,”

“Kau bodoh, sangat-sangat bodoh—“ Ahra menghela napas, “Dan aku juga bodoh karena telah sayang kepadamu,”  Deg. Jantung Luhan berdetak lebih cepat. Seumur hidup, baru kali ini dia merasakan hal ini—dengan Jenny pun tidak pernah.

“Aku bodoh karena telah sayang kepadamu, aku bodoh karena aku telah mencintaimu,” Luhan pun memeluk Ahra—yang disambut dengan hangat. “Aku juga,”

You belong with me

Have you ever thought just maybe

You belong with me

You belong with me~

Author: soojunga

EXO Stan|f(x) Stan|99L|Loves Editing and Story telling the most!!!~

One thought on “[Freelance] You Belong With Me

  1. Aku nyari2 songfic Taylor ini and dapet punya kamu..
    Manis bgt

Here We Need Responsibilities. Thanks!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s