EXO Fanfiction Dorm

EXO as the Main Cast

Glowing

4 Comments

Title : Glowing

Author : jetaimealafolie

Genre : angst, romance, sad

Main Cast : Kris, OC

Rating : PG-13

All Kris POV

Aku terbangun pagi itu seperti biasa, pukul 06.30 dan langsung menyadari bahwa gadis yang tidur di sebelahku semalam sudah tidak ada di posisinya. Tersenyum, aku bangkit dari posisi tidurku sambil mengumpulkan kembali tenaga yang sempat hilang. Masih setengah mengantuk, kulangkahkan kaki menuju dapur dan berharap menemukan dia, seseorang yang selalu ingin kulihat pertama kali setiap pagi. Aku bersandar pada dinding sambil memperhatikan dapur secara keseluruhan. Ia tidak ada di situ.

Aku suka bermain petak umpet. Meskipun terdengar seperti anak kecil, petak umpet mampu membuatku sedikit melupakan penyakitku. Senyum tipis mengembang di bibirku ketika mengingat ia pernah berkata seperti itu dulu. Aku tertawa kecil lalu berjalan menuju taman belakang, bagian dari rumah ini yang juga selalu ia kunjungi setiap pagi setelah dapur.

“Mei, ini masih pagi. Jangan mengerjaiku dengan bermain petak umpet. Aku tahu kau ada di sini..” Ucapanku terhenti ketika menyadari bahwa tidak ada seorang pun di taman ini. Aku mendengus. “Supermarket, barangkali. Sudah awal bulan.”

Aku berjalan masuk kembali ke dalam rumah menuju kulkas di dapur untuk mengambil sebotol air mineral dari dalamnya. Gerakan tanganku yang hampir membuka pintu kulkas terhenti ketika aku menemukan secarik kertas berisi tulisan yang ditempelkan di sana menggunakan sebuah magnet bergambar anggur. Dahagaku seketika terlupakan. Kulepaskan magnet anggur tersebut, mengambil kertasnya lalu duduk di atas kursi terdekat yang bisa kucapai. Perlahan, kubuka lipatan kertas dan mulai membaca isi surat yang ditulis menggunakan tinta berwarna merah muda itu.

Dear Yifan, selamat pagi.

Hai, maaf aku menghilang secara tiba-tiba. Aku tidak tahu kau akan membenciku atau tidak setelah ini, tetapi aku mohon agar kau mengerti keadaannya.

Aku sudah mempacking barang-barang milikku yang ada di rumah ini saat kau tertidur kemarin malam. Agak berisik memang. Kau sempat hampir terjaga beberapa kali tapi untunglah tidak jadi.

Seperti yang kau tahu, aku mengidap penyakit sejak aku kecil. Leukimia atau apalah itu namanya, aku sudah tidak peduli lagi. Nenekku- yang selalu merawatku sejak dulu-, memintaku untuk meninggalkan Cina dan pindah ke Jerman sehingga aku bisa mendapatkan pengobatan yang lebih intensif. Aku tidak mau dan tidak bisa menolaknya karena aku tidak ingin meninggalkannya seorang diri jika saja aku sudah tidak tertolong lagi karena penyakitku.

Maaf aku tidak dapat mengutarakan salam perpisahan secara langsung padamu karena hal ini begitu mendadak. Jika kupikir-pikir lagi, kau adalah satu-satunya orang yang membuatku merasa harus selalu mengucapkan terima kasih. Kau berkorban banyak untukku, sungguh.

Terima kasih telah menonton film favoritku bersamaku. Terima kasih telah melindungiku dari para laki-laki jahil saat aku tersesat di club. Terima kasih telah mendengar cerita-cerita imajinasiku yang terdengar kanak-kanakan selama ini dan terima kasih banyak kau telah menjadi orang pertama yang berhasil mengambil hatiku dan menjaganya dengan benar. Terima kasih banyak atas segala-galanya..

Aku selalu berharap bahwa suatu hari nanti aku akan bisa mengucapkan semua hal ini di depanmu secara langsung, tetapi tampaknya aku tidak akan bisa. Seandainya aku dapat memutar waktu, aku akan melakukannya agar kita terus bersama.

Terima kasih kembali untuk kenangan-kenangan itu. Aku bahagia bersamamu..

Guangzhou, 25 Januari 2013

 

Mei

Aku mengelus kertas itu tepat di atas tulisan namanya, “Mei”, tidak tahu apa yang harus aku lakukan lagi. Hatiku terlalu sakit untuk melakukan sesuatu. Kuperhatikan secara detail kertas itu dan menemukan sebuah permukaan yang sudah mengeriting berbentuk bulat karena terkena sesuatu. Air mata adalah satu-satunya hal yang terpikirkan olehku.

Aku meremas kertas itu kemudian melemparnya sembarang arah. Kuraih kunci mobil di atas meja makan dan memacu mobilku secepat mungkin menuju bandara dengan harapan pesawat yang akan ia tumpaki belum lepas landas.

Guangzhou Baiyun International Airport terlihat sibuk seperti biasa. Ternyata, tidak semudah itu mencari satu orang di antara ratusan bahkan ribuan orang yang berlalu lalang di sini. 15 menit aku berkeliling untuk mencarinya ketika pada akhirnya aku melihat dia sedang duduk di sebuah kursi yang terletak dekat dengan loket check-in. Kedua koper besarnya diletakkan di samping kanan dan kiri tubuh mungil itu. Aku berjalan pelan ke arahnya dan duduk tanpa suara tepat di sampingnya.

“Seharusnya kau ceritakan padaku bahwa nenekmu meminta kau pindah ke Jerman.”

Ia terlihat kaget ketika menyadari bahwa aku telah duduk di sampingnya. “Yifan? Bagaimana kau bisa ada di sini?”

Aku tersenyum tipis dan meraih tangan kanannya, menggenggamnya erat. “Setidaknya ijinkan aku melihat wajahmu untuk terakhir kalinya sebelum kau pergi,” ucapku. “Jangan tinggalkan aku. Jangan tinggalkan aku sendirian.”

Ia mencoba melepaskan tangannya dari genggamanku. “Aku tidak bisa tidak meninggalkanmu.”

“Kenapa? Kita pernah berjanji tidak akan pernah meninggalkan satu sama lain.”

“Ini demi nenekku dan demi kau juga,” ujarnya pelan. “Kalau aku tidak ke Jerman maka penyakit itu akan terus menggerogotiku. Aku belum mau meninggal, Yifan. Belum mau.”

Aku masih terus menggenggam tangannya erat. “Jangan bicara seperti itu. Aku tahu kau masih akan tetap di sini.”

“Karena itu ijinkanlah aku..”

“Kepada seluruh penumpang China Airlines dengan nomor penerbangan CI365 tujuan Dusseldorf, Jerman. Pesawat akan lepas landas dalam waktu 15 menit, harap segera memasuki kabin. Terima kasih,” ucap wanita bagian informasi bandara.

“Maafkan aku, Yifan. Aku harus pergi. Kau mengijinkanku untuk pergi kali ini, bukan?”

Perlahan, aku melepaskanku dari tangannya. Aku mengangguk. “Ya, aku mengijinkanmu untuk pergi. Jalani pengobatanmu di sana sebaik mungkin. Bertahan hiduplah untuk aku, untuk nenekmu dan semua orang yang menyayangimu, Mei.”

Ia tersenyum sambil menatapku. Dipeluknya tubuhku yang tegap dengan tubuh ringkihnya. “Kalau kita memang ditakdirkan untuk bersama, berapa lama pun aku berada di JErman, aku yakin kita pasti akan bertemu lagi,” bisiknya tepat di telingaku. “Tolong tunggu aku. Aku akan kembali. Aku janji.”

Aku melingkarkan tanganku di sekeliling tubuhnya, seolah menjaga dirinya dari segala sesuatu yang mungkin menyakitinya. “Aku akan menunggumu, bahkan jika aku harus menunggu selamanya.”

“Panggilan terakhir kepada seluruh penumpang China Airlines dengan nomor penerbangan CI365 tujuan Dusseldorf, Jerman. Pesawat akan lepas landas dalam waktu 5 menit, harap segera memasuki kabin. Terimakasih.”

“Aku harus pergi sekarang, duizhang,” ujarnya sambil melepaskan pelukanku. Ia mencium pipiku dan menepuk-nepuknya pelan. “Jaga kesehatanmu. Jangan terlalu banyak minum kopi, oke? Tidak baik untuk otakmu.”

Aku tersenyum dan mengangguk. “Have a safe flight, honey.”

Ia pun berjalan memasuki kabin pesawat sambil menyeret 2 koper besar miliknya. Dia pergi meninggalkan bandara, meninggalkan Cina dan meninggalkan aku, tetapi ia tidak meninggalkan kami dan perasaan yang kami miliki. Aku percaya cinta dan kisah kami belum berakhir. Setidaknya untuk sekarang.

Author: imharin

I do believe in magic.

4 thoughts on “Glowing

  1. Annyeong nae yg oertama ne *celingak celinguk

    HUAAA !! TTT.TTT thor FF nya bikin nangis nih T.T tpi tetep daebbak koh🙂. Oh iya, thor koh gak dikasih info ttg ratingnya castnya dan semacannya sih kan jadi nya nae susah buka teasernya lagi T.T

    Next thor ^ ^ KEEP WRITING and FIGHTING ^ ^

  2. sedih… oiya itu ada lanjutanya g??
    # semangat y thor..

Here We Need Responsibilities. Thanks!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s