EXO Fanfiction Dorm

EXO as the Main Cast

Love In S.I.S

1 Comment

First Chapter | LOVE IN S.I.S

love-in-sis

©Acoffeeasuka

|| Cast(s) : EXO’s Park Chanyeol & Hello Venus’s Kim Hyelim ||

Genre : AU. Friendship. Romance. School-life | Rating : PG-14 | Length/duration : Chaptered (1st Chapter; 2046 w) | Credit poster : PIERLL @ YooRa Art Design

Disclaimer : Casts belongs to God but story and idea belongs to requester and me.

Summary : Chanyeol yang selalu gengsi, merasa malu mengakui perasaan dalam hatinya. Namun, sebagaimana kuat dirinya mengekang dan menutupinya, cinta tetap akan membuncah dan memenuhi seluruh relung.

—Copyright2013 Acoffeeasuka—

 

—Stupid Ver.

===

“Bolehkah aku bergabung?” seuntai kata sapaan penuh makna terlontar begitu saja dari bibir Hyelim. Sudah lama semenjak ia menduduki kelas barunya, ia ingin sekali membaur dengan yang lain. Namun nyatanya, masih tak semudah yang ia pikir.

“Kenapa tidak? Silahkan.”

Sapaanya tak sia-sia, meski Hyelim harus membuang dua puluh detik hanya untuk mendengar balasan teman-teman yang tengah asyik dengan jatah makan siang hari ini. Hyelim menarik kursi yang tersisa disana, satu kursi yang sama sekali kosong tanpa seorang pun yang mau mendudukinya.

“Kim Hyelim, ya?”  perempuan yang telah membalas sapaan, melanjutkan kata-katanya. Sangat antusias ketika mendapati seorang Kim Hyelim berada dalam kumpulannya.

“Ya. Aku Hyelim, Kim Hyelim,” ujar Hyelim, membingkai wajah ayunya dengan sebuah lengkungan manis. “Namamu siapa?” tanya Hyelim mencoba tak kalah antusias.

“Aku?” gadis itu menunjuk dirinya sendiri, “namaku Son Naeun. Naeun, Kau bisa memanggilku dengan nama itu,” manik mata milik Naeun menyipit, seiring senyum lepasnya datang.

“Oh. Senang bertemu denganmu!”

Naeun bergumam, masih dengan senyumnya ia mencoba memperkenalkan yang lain, “ini Jiyeon, Park Jiyeon,” tunjuk Naeun pada seorang gadis dingin di hadapannya. Naeun kembali beralih pada yang lain, “Yang ini Bae Suji,” gadis dengan rambut hitam cantik memenuhi pucuk kepala kini tengah diperkenalkan dengan baik oleh Naeun. Tak terkecuali yang lain, Soojung dan Alice.

“Ya. Senang juga bertemu dengan kalian.”

===

Hyelim mendesah, merefleksikan seluruh rasa letih yang dirasa karena melakukan tugas piket sendiri. Sementara teman-teman yang lain hanya pergi begitu saja tanpa meninggalkan setitik pun rasa kepedulian untuk membantunya. Jam tangan hitam miliknya tengah menunjukkan pukul satu tepat, tandanya ia telah membuat sopir pribadinya menunggu selama tiga puluh menit. Dan hei, dia terlalu kejam untuk itu. Apalagi, cuaca begitu terik siang ini.

Hyelim bergegas mengunci ruang kelas, menyumbat dua lubang telinga dengan sepasang earphone—hal yang selalu menjadi kesenagannya ketika pulang sekolah tiba. Langkah Hyelim makin cepat, melewati beberapa lorong sekolah yang sudah sepi dari para murid. Namun fakta itu ditepis, sesaat setelah mendapati siluet pria jangkung di hadapannya.

“Kau bodoh, Kim Hyelim!”

“Kau bodoh!”

“Tsk. Apa lagi, huh?” Hyelim berdecak, mendapati sosok menyebalkan itu di seberangnya.

“Kau bergabung dengan kelompok gila itu?” disela dengan helaan nafas milik si pria, “gila! Kau sudah tak waras ya, Hyelim?” ucapan si pria terdengar begitu sarkatis.

“Aku mengganggu urusanmu, Tuan?” Hyelim tenang, ketika tak ada tanggapan dari sana Hyelim menambahkan. “Semua orang di dunia ini butuh kebebasan Park Chanyeol, tak terkecuali para pengikut-pengikutmu itu dan harusnya kau tahu itu,” setelah merasa cukup, Hyelim melanjutkan langkahnya.

“Jangan pikir kau mempunyai segalanya, kau bebas mengatur yang kau kehendaki,” membisikkan kata-kata halus tepat saat posisinya bersisian dengan Chanyeol, anak laki-laki konyol yang selalu mengutamakan ego di dalam hidupnya.

Sial. Dasar perempuan bodoh! Umpat Chanyeol, meremas tangannya dengan kasar. Sangat sulit mengakui kekalahan untuk seorang dengan watak egois sepertinya.

===

Tak ada habis makian itu terlontar, bahkan ketika Chanyeol berada di rumahnya sekali pun. Membanting seluruh perabotan yang ada di kamar, saat dirasa hatinya memanas menahan malu. Kalah untuk seorang makhluk lemah, itu sangat memalukan untuk dirasanya sendiri.

“Awas saja kau Hyelim,” ancam Chanyeol, gigi gerahamnya menggerutuk menahan emosi yang berkecamuk di dadanya.

Derit pintu terdengar memenuhi ruang pribadi Chanyeol, sang pelayan yang baru saja masuk, menjadi alat pelampiasan jua, “Tuan, anda diminta untuk berkumpul di ru—”

“Berisik. Bisa diam tidak!” potong Chanyeol,  membuat si pelayan bergidik ngeri mendengarnya. Nafas Chanyeol berderu. “Ya, aku akan kesana. Cepat keluar!” usirnya, sang pelayan pun segera mematuhi perintah, meninggalkan Chanyeol sendiri di dalam kamar.

Chanyeol mencoba mengatur nafas, sejenak memberi ketenangan hatinya, merilekskan pikiran dari hal-hal yang mungkin akan menyulut emosi lagi. Entah itu tentang Hyelim atau yang lain.

Dan satu yang belum sempat Chanyeol sadar, pasti ada alasan yang membuatnya selalu saja emosi dengan kekeras kepalaan gadis itu. Perlahan namun pasti, berkali-kali menyangkal pun takkan mampu mengubah perasaan dirinya pada seorang Hyelim.

===

“Oke akan kutunggu kau di kelas, jangan terlalu lama, ya?”

Setelah yakin Hyelim akan menunggu kepulangannya di kelas, Naeun tersenyum melambaikan sebelah tangan pada gadis berambut pedek yang berjarak dua anak tangga dengannya, berharap gadis itu benar-benar menapati janjinya, “iya, aku takkan lama, kok!” Naeun mulai berlari menuju ruang kesenian.

Hyelim merengut, harus dengan apalagi dirinya mengatasi kesepian selama satu jam tanpa ada teman di sampingnya. Tempo hari, Hyelim meminta Naeun untuk pulang bersama tapi nyatanya semua tak berjalan dengan begitu lancar. Naeun memang selalu payah dalam hal mengingat, ia bahkan sampai lupa bahwa pada hari perjanjian itu, ia harus—ya, setidaknya—menyelesaikan urusannya terlebih dahulu; seperti ekstra dance, misalnya. Naeun tak mungkin membolos dari ekstra itu dengan alasan sepele; berjanji pulang bersama teman.

Terduduk di anak tangga yang menghubungkan ruang kelas sebelas dan ruang kesenian, mendongak menatap atap-atap gedung sekolah yang tak pernah habis dimakan usia, ia pikir ia akan mendapat ide untuk menghilangkan kesepian nyatanya malah tidak sama sekali.

“Hai, Hyelim!” suara itu menginterupsinya, Hyelim menoleh ke belakang. Rupanya Jung Soojung tengah membawa setumpuk buku tebal di kedua tangannya. Oh, mungkinkah dia butuh bantuan?

“Soojung, kau keberatan, ya? Mari kubantu,” Mungkin membantu Soojung dapat menghilangkan rasa jemu.

Soojung menggeleng. “Tidak. Bukan itu maksudku, tapi…” Soojung terlihat sedang menimang-nimang, menatap Hyelim lekat. Ada ekspresi penasaran kentara di air muka Hyelim, Soojung sedikit ragu untuk buka suara, “maukah kau meminjamkan buku catatan fisikamu besok padaku?”

“Kenapa tidak? Tidak usah sungkan, kau temanku bukan?” ujar Hyelim mantap.

Soojung sumringah mendengarnya, “Thanks Hyelim!” reflek ia segera memeluk Hyelim. “Oh ya…” Soojung melepaskan pelukannya. “Bolehkah aku juga meminta semua jawabanmu? Tugas fisika itu sangat menyulitkan bagiku, apalagi aku tidak masuk pada saat pelajaran Guru Shin.”

“Tenang saja, aku pasti akan membantumu!” tangan Hyelim menepuk pundak kecil Soojung, memberikan ketenangan pada anak itu bahwa dengan senang hati ia akan menolongnya. Soojung juga pasti sudah kewalahan menghadapi murid baru sekolah selain itu pasti sudah banyak tugas kesiswaan menumpuk yang diberikan Pembina kesiswaan untuk Soojung.

===

“Tanya Hyelim saja, kemarin aku mendapatkan nilai seratus atas bantuannya,” Soojung berceloteh di hadapan Jiyeon.

“Benarkah?” mata Jiyeon membulat sempurna seiring ketidakpercayaannya pada perkataan Soojung.

Soojung mencomot salah satu kue bolu yang disediakan Keluarga Park untuknya. Sudah setahun lebih dirinya dipercaya oleh Jiyeon menjadi teman belajarnya, memberikan beberapa pelajaran yang sulit dicerna oleh Jiyeon. “Kau meragukannya? Ayolah, kapan aku membohongimu?”

Jari telunjuk Jiyeon mengetuk dagunya, benar kata Soojung. Selama ini Soojung selalu menjadi kawan baik yang selalu jujur padanya bahkan ia rela meluangkan sedikit waktu untuk mengajari dirinya yang payah ini. “Yah mungkin saja, siapa tahu?”

Soojung mendengus, kurang ajar!

Gelak tawa gadis berkulit lembut bak salju itu menggema sesaat mendapati raut wajah kesal milik Soojung. “Aku hanya bercanda, Jung Soojung. Hahaha!”

“Dasar, kau ini!”

===

Jiyeon memutar tubuh, menghadap seorang Hyelim yang selalu duduk tepat di belakang bangkunya.

Terlihat ragu ketika Jiyeon hendak memulai pembicaraan, Hyelim mengangkat sedikit alis matanya dan akhirnya dirinyalah yang memulai. “Ada apa? Ada masalah kah?” tanya Hyelim penasaran.

“Ng… begini …” menelan saliva, berharap rasa canggung itu mampu tertelan juga. “Bisakah aku melihat tugas matematikamu, jujur saja aku merasa bingung dengan pelajaran yang diberikan Guru Lee kemarin,” semua salah Jiyeon karena tak kunjung berbaur dengan Hyelim setelah perkenalan mereka.

“Oh… hanya itu, sebentar ya?” ia berbalik membuka resleting tas dimana buku tugas matematikanya diletakkan.

“Terimakasih banyak,” Jiyeon tahu sahabat yang satu ini bukanlah sahabat yang buruk untuknya, segera ia meraih buku yang dijulurkan Hyelim.

===

Tidak semua sikap baik, ternilai baik juga.

Tidak juga, sebuah bantuan dapat berbuah baik.

“Kau bisa membantuku, ‘kan? Ayolah datang ke rumahku dan kita berkerja sama, ya?” Naeun memaksa Hyelim, si gadis ini tak pernah menyerah demi mendapatkan sebuah kartu as nilai terbaik di kelas.

Sementara yang lain, tak jauh berbeda.

“Jangan perdulikan Naeun, ayolah denganku saja!”

“Dia siapa? Denganku saja, ya?”

Teman kelasnya yang mulai berbondong-bondong, membuat kepalanya sedikit pening. Indera yang sudah dipenuhi dengan suara tak jelas disana-sini, semakin membuat bingung tingkah apa yang akan ia lakukan mengahadapi situasi pelik ini.

“Tsk. Jauh lebih bodoh kau sekarang Hyelim,” di sudut lain Chanyeol menyibir keadaan di seberang sana, Hyelim tengah kewalahan menghadapi pemaksaan teman-temannya.

“Wah wah, dia mulai terkenal sekarang,” Chanyeol terpaksa melirik orang disampingnya, Kim Jongin.  “Bahkan dia sekarang sudah dianggap hidup mati yang lain,” rujuk orang itu pada sekumpulan makhluk yang tengah tertarik pada medan magnet kepandaian Hyelim.

“Dan sekarang dia terlihat bodoh sekali,” timpal teman Chanyeol yang lain seolah berada pada satu titik dengan Chanyeol, Byun Baekhyun.

Mereka semua tertawa, ya mereka tangah puas. Tapi, bersisian lain dengan yang lain, meski sempat mengelakkan tawa, Chanyeol akhirnya memilih diam.

Ugh. Lupakan! Lupakan! Lupakan! Kau tak pantas memiliki perasaan terhadapnya.

===

“Kau masih disini, Hyelim?” tanya Chanyeol. Waktu sudah sedari tadi menunjukkan jam pulang sekolah, namun nyatanya gadis itu malah masih berkutat di tempat duduknya.

“Kau sedang bingung?” langkah Chanyeol mendekat ke arah Hyelim. Oh, tunggu! Mulai kapan seorang Park Chanyeol berbicara halus dengan gadis bermarga Kim ini?

Kepala gadis manis itu mendongak, tak lama keningnya mengerut. “Eh? Kita sudah baikan, ya?”

Chanyeol membelalakkan mata, ia lupa akan harga dirinya sendiri. Dia diam dan hanya bisa menggigit lapisan bibir bawahnya. Tak cukup mengakui rasa malu, ia memutar kepala. Chanyeol mulai mengumpat.

“Kalau tak ada urusan pergilah, aku benci berurusan denganmu. Bisa-bisa kepalaku semakin ingin pecah karenanya.”

“Apa yang kau katakan? Siapa juga yang mau berurusan denganmu?” omelan Chanyeol semakin memenuhi telinga Hyelim, rasa pening menghampirinya lagi.

“Berisik!! Bisa diam tidak!!” tak pernah Chanyeol mendapati orang lain membentaknya, tapi sekarang Hyelim sudah sangat berani menantangnya.

Sebisa mungkin menekan emosi agar tak melonjak, Chanyeol membuka mulut, “Itu semua karena salahmu sendiri, jangan mentang-mentang kau hebat kau memberikan bantuan pada yang lain, dan sekarang seharusnya kau tak menyesali semua akibatnya,” perkataan itu membuat Hyelim tersentak.

Ia tahu semua yang dibicarakan Chanyeol adalah tentang kejadian siang tadi yang belum lama berlalu.

“Jangan bertingkah seolah kau tak mengerti, aku tahu kau mengerti, dan seharusnya kau bertindak berani untuk mengatasi semua!”

Mulut mengatup, hatinya mengatakan tak ada yang salah dari semua kata-kata yang mengalir begitu fasih dari bibir Chanyeol. Hyelim tahu itu, ia tahu. Namun, orang yang baru saja mengatakannya tak pernah mengertinya yang juga akan terluka jika cepat bertindak atas masalah sepele ini, tak jauh berbeda dengan hatinya, hati teman yang lain pun juga.

“Kau tak tahu Park Chanyeol, kau tak tahu!” ekor matanya sudah penuh dengan bulir-bulir bening, sudah tak kuat untuk menahannya… perlahan satu per satu bulir itu jatuh membasahi pipi halus Hyelim.

Menarik kasar tas di atas meja, berlalu dari pandangan Chanyeol tak lama setelah itu. Sempat untuk Hyelim menabrak pundak si jangkung yang konyol itu sebelum benar-benar berlalu, menyiratkan bahwa seorang Park Chanyeol takkan pernah mengerti hatinya.

Lantai putih kelas menjadi tempat kedua kaki melampiaskan kekesalan, memang kenyataan laki-laki bermarga Park tak pernah tahu bagaimana mengerti perasaan orang lain. Ia sendiri selalu mengutamakan perasaannya terlebih dahulu, bagaimana ia akan tahu?

===

“Bagaimana dengan jawabanmu?” tagih Naeun tanpa ba-bi-bu lagi.

Masih membutuhkan banyak waktu, walau ia sudah mempersiapkan jawaban kemarin malam. Tampaknya, sesuatu mengganjal tepat di ulu hati. Bukan ragu yang ada disana, tapi tak yakin keputusan yang diambil dapat juga diterima yang lain.

“Eng.” Mempersiapkan mental lebih.

“Sudah tak perlu ditanyakan lagi…” fokus semuanya teralih oleh suara bass di ujung pintu  yang tengah berjalan mendekati meja Hyelim.

Menarik tangan kiri Hyelim, mengajak si gadis berdiri menemaninya, “Tidak ada disini yang dapat berkerja sama dengannya kecuali diriku dan jangan lagi memaksanya untuk berkerja sama, jika ia benar-benar tidak mau,” tandasnya membuat gaduh keadaan sekitar. Chanyeol berbeda dengan senyuman kemenangan di sudut-sudut bibirnya, “bukankah begitu Dear?” bisik Chanyeol tepat di samping telinga Hyelim.

Sungguh baru kali ini gadis seceria ini dapat jatuh pada titik terbawah, ia terpaksa mengangguk dan mendapati jeritan sesal dari semua kawannya.

Park Chanyeol, kau benar-benar sudah mempermalukanku!

Tik. Detik pertama, tak ada yang berubah. Tangan Chanyeol masih menggenggam tangan Hyelim. Sayangnya, bukan itu masalahnya.

Detik ketiga bergulir kedetik keempat berlanjut sampai detik kesepuluh, “Terimakasih banyak Chanyeol,” masih menganga mendapati Hyelim mengucapkan kata itu.

“Apa?” ia bercanda tentang itu, ia tak tuli sama sekali. Chanyeol hanya terlalu bahagia dengan saat-saat seperti ini.

Awalnya desah kesal, namun karena hari ini Park Chanyeol begitu baik padanya dan mengatasi masalah yang dihadapinya dengan sangat apik, ia mengulang. “Terima kasih banyak Chanyeol!”

Dan hari itu, semilir angin pertama musim semi, langit cerah, bunga-bunga sakura di luar yang bermekaran menjadi saksi bisu detakan jantung tak karuan milik Kim Hyelim. Sadar atau tidak, cinta milik Park Chanyeol terbalas dengan manis.

== End ==

Author: acoffeeasuka

Hello~ My name Silmi Rahma Diani, you can call me Silmi or Imi. I am a K-POPers. My biases are Krystal Jung, Luna Park, Amber Liu, Jung Daehyun, Bang Yongguk, Juniel and more. And my fandoms are F(ans), BABY, Inspirit & Banila >.

One thought on “Love In S.I.S

  1. akhirnya ada juga ff Chanyeol-Lime yang lain. aku kira cuma aku author dari pairing ini haha. ceritanya simple tapi manis. keep writing author🙂

Here We Need Responsibilities. Thanks!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s