EXO Fanfiction Dorm

EXO as the Main Cast

[FanFic] Regrets

2 Comments

regrets3

Author

liahwang (was minyounghwang)

Title

Regrets

Length

Oneshot

Rating

PG 15+

Cast

Xi Luhan || Tiffany Hwang

Genre

Angst, Sad

Desclimer

The casts aren’t mine. This story is mine! Don’t Plagiat please!

Author Note

Mian kalo ff-nya jelek dan banyak typo. Karena jujur ini ff pertama aku. Semoga pada suka ya. ^^

Cover by

CJH Art

***

Seorang yeoja sedang duduk di bangku sebuah taman di pusat kota. Terlihat ia sedang menunggu seseorang. Sore itu taman tersebut cukup ramai pengunjung. Banyak pasangan dan anak-anak di taman itu. Yeoja itu menikmati suasana taman saat itu. Senyum tidak luntur dari wajahnya yang cantik.

Senyumnya sekarang berubah menjadi eyesmile yang cantik saat dia melihat seorang namja datang menghampirinya, orang yang dari tadi ia tunggu. Mungkin namjachingu-nya? Yeoja tadi berdiri dari tempat duduknya sambil melambaikan tangannya pada namja itu.

“Luhan oppa!” Sapanya senang saat namja itu sudah berada di depannya. “Maaf Fany-ah aku membuatmu menunggu lama.” Namja tadi meminta maaf karena telah membuat yeoja-nya menunggu. “Aniyo oppa.” Jawab Tiffany cepat. “Aku yang datang terlalu cepat.” Lanjutnya sambil tersenyum.

“Baiklah! Hari ini aku ingin mengajakmu jalan-jalan. Kau mau bukan?” Tanya Luhan. “Tentu saja aku mau!” Jawab Tiffany senang. “Kajja!” Balas Luhan bersemangat sambil menggandeng tangan yeoja-nya.

***

Sekarang mereka berada di dalam mobil Luhan. Suasana hening menyelimuti. Luhan yang sibuk menyetir dan Tiffany yang memandang ke luar jendela. Suasana seperti itu berlanjut sampai mereka berada di tempat tujuan, sungai Han. Tempat favorite Luhan dan Tiffany.

Mereka turun dari mobil, lalu berjalan sambil saling bergandengan tangan di pinggir sungai. Mereka duduk di salah satu bangku yang tersedia. Luhan merangkul Tiffany sehingga kepala Tiffany bersandar di pundaknya. Momen yang sederhana tetapi sangat berarti bagi mereka berdua.

Mereka masih saling diam sampai Luhan membuka suara. “Fany-ah.” Panggil Luhan dan hanya dibalas dengan gumaman dari Tiffany. “Bagaimana jika hubungan kita berakhir?” Tanya Luhan. Tiffany duduk tegak sambil menatap Luhan dengan tatapan bingung. “Apa maksudmu oppa?” Tanya Tiffany bingung.

Luhan berdehem dan menatap mata Tiffany dalam sebelum dia menutup mata dan menghembuskan nafas panjang. “Hmm, jadi begini Fany-ah. A,aku…” Luhan menggantungkan kalimatnya. “Aku ingin kita putus, Fany-ah.” Kata Luhan sambil menatap Tiffany dingin.

Tiffany terpaku, matanya berkaca-kaca menandakan air matanya siap tumpah kapan saja tetapi ia tahan. “Oppa, kau pasti bercanda kan?” Tanya Tiffany lirih, suaranya bergetar. “Aku bersungguh-sungguh Fany-ah.” Kata Luhan datar.

“Apa alasanmu memutuskanku? Apa aku berbuat salah? Maafkan aku oppa jika aku berbuat salah.” Ucap Tiffany, kali ini airmatanya jatuh tak dapat di bendung lagi. “Kau tau kan jika aku akan melkanjutkan usaha ayahku? Maka dari itu aku ingin bersekolah di Amerika. Aku ingin belajar tanpa gangguan. Jadi tolong kau mengerti.” Jelas Luhan. “Jadi kau menganggapku penggangu? Baiklah Luhan-ssi, aku mengerti. Selamat tinggal Luhan-ssi semoga kau bisa belajar dengan tenang tanpaku.” Kata Tiffany sambil tersenyum, senyum perih. Tiffany berlalu sambil masih tetap menangis.

Luhan diam, ia tau ini keterlaluan tetapi ini yang terbaik untuknya dan Tiffany. Itu menurut pendapatnya.

Tiffany memberhentikan taksi. Di dalam taksi Tiffany mentumpahkan segala emosinya dalam bentuk air mata. Ternyata taksi yang ditumpangi Tiffany mengalami kecelakaan.

Sebuah truk pengangkut kayu menghantam keras taksi yang ditumpangi hingga terguling beberapa kali. Tiffany terlempar ke luar taksi. Darah segar mengalir dari dahi Tiffany. Orang-orang yang melihat kejadian tersebut langsung menelfon ambulance.

***

Keluarga Tiffany ─Mr. Hwang, Mrs. Hwang, Michelle dan Leo, menunggu di depan ruang UGD. Dokter Kim, dokter yang memeriksa Tiffany, keluar dari ruang UGD.

Mr. Hwang dan Leo langsung mendekati dokter dan menanyakan keadaan Tiffany. “Bagaimana keadaan anak saya dok?” Tanya Mr. Hwang, “Tiffany baik-baik saja kan?” Tanya Leo, kakak Tiffany.

Dokter Kim menghembuskan nafas pelan, “Karena benturan yang keras pada kepalanya mengakibatkan dia koma atau bahkan bisa lupa ingatan.” Jelas Dokter Kim.

Mrs. Hwang semakin terisak dan Michelle yang dari tadi menenangkan Mrs. Hwang ikut terisak. Mereka masuk ke ruang rawat Tiffany. Menunggu Tiffany sadar.

Sudah 7 hari Tiffany koma dan belum ada tanda-tanda kalau Tiffany sadar. Mrs. Hwang masih setia menemani anaknya yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit.

“Fany-ah, sadarlah chagi… Apakah kau tega melihat eomma seperti ini?” Tanya Mrs. Hwang kepada Tiffany. Ia menggenggam erat tangan Tiffany. Beginilah Mrs. Hwang selama 7 hari ini. Mengajak Tiffany berbicara walau dia tau Tiffany tidak akan menjawab karena sedang koma.

Tiba-tiba jari-jari Tiffany bergerak didalam genggaman Mrs. Hwang. Mrs. Hwang langsung memanggil dokter Kim untuk segera memeriksa Tiffany yang baru sadar dari komanya.

Beliau tidak lupa untuk menghubungi suami dan anak-anaknya, memberitaukan bahwa Tiffany telah sadar dari koma. Leo dan Michelle yang mendengar kabar tersebut langsung menuju Seoul Hospital. Sedangkan Mr. Hwang yang sedang berada di Jepang untuk urusan bisnis, seketika mengabaikan pekerjaannya dan segera pulang menuju Korea.

Setelah Dokter Kim memeriksa Tiffany, Mrs. Hwang, Michelle dan Leo menanyakan keadaan Tiffany. Dokter Kim meminta Mrs. Hwang ikut keruangannya untuk membicarakan sesuatu. Michelle dan Leo diminta untuk menunggu di luar ruangan, karena Tiffany masih butuh banyak istirahat.

“Jadi bagaimana keadaan anak saya dok?” tanya Mrs. Hwang, dia cemas dengan keadaan anaknya, hal yang wajar bukan? “Hmm dari hasil pemeriksaan saya, karena benturan keras di kepalanya, saya pernah mengatakan bukan jika tidak mengalami koma dia akan mengalami hilang ingatan juga?” Jelas Dokter Kim dan di balas anggukan pelan dari Mrs. Hwang. Dokter Kim menghela nafas panjang dan melanjutkan perkataannya, “setelah memeriksa keadaan Tiffany, saya menyimpulkan bahwa Tiffany mengalami amnesia. Tapi amnesia yang dia alami tidak lah permanen dan hanya beberapa kejadian saja yang dia lupakan. Jadi amnesianya dapat disembuhkan, asal kalian tidak memaksa Tiffany untuk mengingat suatu hal dia akan baik-baik saja.” jelas Dokter Kim panjang lebar.

Mrs. Hwang kembali terisak, mengetahui anak tersayangnya mengalami amnesia sungguh hatinya merasa sakit. Mrs. Hwang keluar dari ruangan Dokter Kim dan kembali ke depan ruang rawat Tiffany.

Michelle dan Leo yang tengah duduk di bangku depan ruangan Tiffany, menghampiri eomma mereka yang masih terisak.

Eomma, ada apa?” Tanya Michelle kepada eomma-nya. “Tiffany baik-baik saja bukan?” Tanya Leo. Mrs. Hwang menggelengkan kepalanya pelan.

“Ti-tiffany mengalami amnesia.” Mrs. Hwang kembali menangis. Michelle dan Leo yang mendengarnya hanya bisa terdiam, setelah sadar dari lamunannya mereka berdua memeluk eomma-nya dan menenangkannya. Mengatakan bahwa Tiffany akan baik-baik saja, dan akan sembuh dari amnesianya.

─5 years later─

Luhan baru saja kembali dari Amerika. Dan sekarang dia berada di bandara, di pintu kedatangan Internasional. Dia sangat rindu Korea, lebih tepatnya yeoja-nya, Tiffany. Yeoja-nya? Apa Tiffany masih bisa disebut dengan yeoja-nya setelah Luhan mencampakan Tiffany? Kupikir tidak. Luhan tersenyum miris. Lagi-lagi ia mengingat Tiffany.

Luhan melangkahkan kakinya keluar. Matanya menangkap seseorang yang begitu familiar di matanya. “Tiffany?” Gumam Luhan. Matanya membesar saat ia yakin itu benar-benar Tiffany. Ia mengejar sosok Tiffany. Dan menarik lengan yeoja itu sehingga tubuhnya berbalik menghadap pada Luhan.

“Tiffany?” Lirih Luhan. Yang dipanggil hanya menatapnya bingung. Luhan menarik Tiffany kedalam rengkuhannya. Tiffany membulatkan matanya kaget. Tiffany mendorong Luhan dengan sekuat tenaga. “Ya! Lancang sekali kau memelukku! Kau pikir kau siapa?!” Teriak Tiffany.

Luhan kaget, ia menggenggam tangan Tiffany. “Tiffany ini aku, Luhan, tidak ingat kah kau?” Tanya Luhan, matanya berubah menjadi sendu. Tiffany mengangkat sebelah alisnya bingung, “Mian, aku tidak ingat memiliki teman bernama Luhan. Bahkan aku pikir aku baru sekali ini bertemu denganmu. Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” Tanya Tiffany dengan wajah bingungnya. “Dan kenapa kau tau aku ini Tiffany?” Tanya Tiffany lagi. Luhan terpaku, menatap mata Tiffany dalam mencari kebohongan, tetapi nihil.

Mian Luhan-ssi, kau membuang waktuku. Sekarang aku harus bertemu tunanganku. Permisi.” Pamit Tiffany. Ia pergi meninggalkan Luhan yang masih saja bergeming ditempatnya. Perlahan air matanya mengalir. Kata ‘tunangan’ begitu menusuk hatinya. Mungkin ini karma untuknya karena telah mencampakan yeoja sebaik Tiffany.

Ia menyesal. Menyesal karena dulu memutuskan Tiffany, menyesal karena meninggalkan Tiffany, menyesal karena menyia-nyiakan cinta Tiffany untuknya. Penyesalann selalu datang diakhir. Dan itu lah yang dialami Luhan sekarang.

–THE END–

2 thoughts on “[FanFic] Regrets

  1. Ffnya baguss
    Tapi alurnya agak kecepatan..terus konflik pas tiffany sama luhan putus kurang dapet._.
    Tapi ffnya bagus kok😀

  2. Hyaaaa keren kok thor ff nya. Cuma aku merasa kurang dapet feel nya aja pas bagian luhan mutusin tiffany dan pas bagian luhan ketemu ppany sewaktu balik ke korea.
    Alurnya juga agak kecepetan sih thor, dan agak banyak typo-nya. Tapi karyamu tetep bagus kok thor. Aku suka{}. Last, keep writing aja thor.

Here We Need Responsibilities. Thanks!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s