EXO Fanfiction Dorm

EXO as the Main Cast

[Prolog] Wolf in You

Leave a comment

wolfinyou-stefinahwang-exofanfictiondorm

Author : Stefina Hwang

Genre : Horror, Darkfic

I feel the sensation, I feel it at once.
I’ll take you in one mouthful like cheese.
I take in your scent, scrutinize your color
I’ll eat you up with more refine than drinking wine.
Ah, but the strength in my toenail weakens, so my appetite yeah is gone.

Hana… Deul… Set… Back to the top…

Klek!

Seorang namja terengah engah sambil menahan nafasnya dan memegang sebelah tas selempangnya di bahu, Raut wajahnya berubah terkejut saat kedua mata kucing yang dimilikinya mulai berkeliling ke seluruh ruangan. Semua orang sedang menatapnya, ditambah dengan alunan lagu pop-rock dari radio di pucuk ruangan. Ia berbalik tanpa merubah raut wajahnya sedikitpun.

“Chakkaman! Apa yang kau lakukan ? Setelah menganggu latihan kami, lalu pergi begitu saja ?” Seorang yeoja berjalan ke arahnya sambil berkacak pinggang. Namja itu tidak berpikir untuk membalikkan tubuhnya. Namja lain datang dari belakangnya dan berjalan sambil mendorong bahu namja itu agar menatapnya. “Ya! Apa maumu datang kemari? Kau tidak tampak seperti seorang penari,bocah ingusan” gelak tawa terdengar dari belakang. Namja itu hanya menyunggingkan cengirannya lalu menurunkan lengan yang mencengkram bahunya “Pikyeo” Namja itu membuka gagang pintu dan melangkahkan kakinya.

“Bergabunglah dengan kami… “ Yeoja tadi berteriak padanya. “Tesseo.. Aku tidak punya waktu untuk bermain – main dengan kalian” Namja itu menutup pintu lalu kembali menuntun sneakers putih yang dikenakannya menjauh dari  ruangan tadi.

“Latihan hari ini cukup sampai disini. Terimakasih atas kerja keras kalian. Gomapseumnida “  Yeoja itu mengalungkan tasnya lalu berjalan keluar dari ruangan klub mereka. Ia berjalan menjauh di kegelapan malam. Kakinya melangkah semakin jauh, menerjang angin musim gugur yang menerpa tubuhnya diterangi oleh lampu taman yang menyinari langkahnya. Ia mempercepat langkahnya ketika sekelilingnya mulai gelap, Ia tidak menolehkan wajahnya ke belakang sekali saja.

Napasnya tertahan ketika sebuah pemandangan tak mengenakkan yang sudah berkali kali dilihatnya. Seorang wanita dengan rambut sedada yang tak tersisir dengan mata sembab dan bengkak duduk tersungkur di jalanan, wanita itu mengerang erang wajahnya hancur diselimuti darah, yeoja itu menutup matanya dan terjongkok, ia berteriak kecil sambil menutup telinganya dengan kedua tangannya. Pemandangan yang tak lepas dari matanya sejak beberapa minggu yang lalu.

Flashback

Seorang yeoja dengan seragam sekolah berdiri di depan sebuah pohon besar, sebuah pohon yang sama seperti yang dilihanya di dalam mimpinya. Angin berhembus kencang meniup rambutnya, daun daun bersenggolan seakan berbisik, papan nama di dadanya terjatuh, “Park Sang Mi” Ia terkejut dan menatap kebawah, menatap papan namanya,  ketika ia merasa punggungnya terasa begitu berat, hingga membuatnya jatuh tersungkur, ia berteriak, punggungnya dibakar oleh sensasi panas, dan nyeri, seakan ada luka yang menganga lebar di punggungnya, ia merasa seperti tubuhnya semakin hilang dan dirasuki oleh “sesuatu” .

Flashback end

Pemandangan yang merusak mata, dan pikirannya sejak beberapa minggu yang lalu, entah sejak kapan dan mengapa kemampuan special itu ada di dirinya. Hanya aja ia tak siap secara mental, yang ia lakukan setiap kali melihat “bukan-manusia” mulai dari beteriak , berlari, bahkan hingga menangis. Kini yeoja itu sudah berada di batasnya, kepalanya memanas, tangisannya berubah menjadi geraman – geraman ketakutan. Ia membuka matanya. Tepat disaat di hadapannya seorang menatapnya dengan mata kucing dengan pupil mata yang merah. Seseorang itu menjauh darinya dan menutup wajahnya dengan topi dari jaketnya lalu berlari menjauh.

Sejak kejadian itu, yeoja itu mulai berhenti melihat hal – hal yang tak ingin dilihantnya, namun keadaan tubuhnya semakin memburuk, sebuah tanda berbentuk taring semakin tampak di punggungnya tanpa sepengetahuanya, tubuhnya seringkali mengalami panas tinggi dan kulitnya semakin pucat. Dibawah kelemahan tubuhnya, ia tetap melakukan aktivitas dalam klubnya, ia memang mencintai menari.

Hari itu, ia datang lebih awal seperti hari laninnya, ketika ia melihat seorang namja duduk di tepi jendela dengan sinar matahari yang menerpa tubuhnya. “Chogyo” Ia memanggil namja itu hendak bertanya siapa ia, ketika namja itu menolehkan wajahnya, mata merah yang sama… Ia orang yang sama… Sebenarnya, Siapa dia? Dan, apa maksud atas semua ini ? Aku tak mengerti…

Here We Need Responsibilities. Thanks!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s