EXO Fanfiction Dorm

EXO as the Main Cast

Between Them (Regrets Sequel)

1 Comment

Between_Them[1]

Author

liahwang

Title

Between Them (Sequel of Regrets)

Length

Oneshot

Rating

PG 15+

Main Cast

Oh Sehun || Tiffany Hwang || Xi Luhan

Genre

Romance, Angst

Desclimer

The casts aren’t mine. This story is mine! Don’t Plagiat please!

Author‘s Note

Bagi yang belum baca Perv Story-nya bisa klik di bawah ini

Regrets

Cover by

liahwang

***

Tiffany POV

Aku sedang memandangi pemandangan indah kota Seoul di balkon apartemenku dan calon suamiku.  Kurasakan sepasang tangan memeluk pinggang rampingku dan meletakkan dagunya di atas pundakku. “Kau sedang apa, chagi?” tanya Sehun lembut. Aku memejamkan mataku, “aniyo, aku hanya ingin melihat pemandangan dan mencari udara segar.” jawabku dengan suara pelan.

“Sehun,” panggilku dan dibalas gumaman kecil. “Tadi…aku bertemu dengan seorang namja di airport, saat ingin menjemputmu.” kataku, ia diam dan memilih mendengarkan ceritaku dahulu. “Lalu ia mengetahui namaku. Aku seperti pernah melihat namja itu. Tapi entah di mana. Saat aku mengatakan aku tidak mengenalnya, matanya memancarkan kesedihan.” lanjutku.

“Apakah kau merasa pernah mengenalnya?” tanya Sehun, sekarang ia sudah berada di sebelahku ikut memandangi pemandangan kota Seoul. Aku menundukkan kepalaku mencoba mengingat, tetapi kepalaku malah terasa sakit. Aku meringis sambil memegangi kepalaku. Sehun menatapku panik, “kau baik-baik saja? Jangan memaksakan diri jika tidak ingat.” ucapnya sambil memegang pundakku. Aku menggenggam lengan Sehun dan memejamkan mataku.

“Sepertinya…aku mengingatnya Hun-ah.” lirihku, tetapi aku yakin Sehun masih bisa mendengarnya. “Benarkah? Jadi siapa dia?” tanya Sehun penasaran. Aku menghembuskan nafas pelan. “He’s….my first love.” ucapku gugup dan menatap mata Sehun tepat di maniknya.

Pancaran mata Sehun menggelap, apa aku salah bicara? “Mianhae,” ucapku meminta maaf, “kumohon jangan memandangku dengan tatapan itu.” mohonku. Aku sangat takut jika aku menyakiti perasaannya.

Sehun tersenyum dan menggeleng pelan, “aniyo, kau tidak menyakiti perasaanku Pany-ah. Tak perlu meminta maaf.” katanya lembut, sambil mengelus rambutku. Aku memeluknya, menenggelamkan wajahku di dada bidangnya. Ia masih terus mengelus rambutku dengan sayang.

Pelukan hangatnya yang selalu menenangkan. Aroma khas tubuhnya yang membuatku nyaman di dekatnya. Bagaimana cara ia berbicara denganku. Mata tajamnya yang menatapku. Aku menyukai semua hal-hal yang ada pada Oh Sehun. Sungguh, aku mencintainya. Bahkan saat memoriku tentang Luhan telah kembali, hatiku masih dan akan tetap berada pada Sehun. Aku tidak akan melepaskannya, tidak akan. Bahkan demi Xi Luhan sekali pun, cinta pertamaku.

***

Hari ini adalah hari besarku bagiku dan Sehun. Aku bahagia upacara pernikahan kami berjalan lancar. Dan sekarang ini kami sedang menyapa tamu-tamu kami. Konsep pernikahan kami adalah garden. Tentu saja membuat acara kami diselenggarakan di taman. Dan kami lebih memilih mendatangi para tamu kami dan menyapanya.

Memang melelahkan, tapi menyenangkan juga. Aku jadi banyak mengenal relasi bisnis appaku, appa Sehun dan juga teman-teman Sehun. Beberapa teman kuliahku dan SMAku juga datang. Ah itu Jessica, “Sica-ah!” seruku sambil mendekatinya. “Stephy-ah! Kyaa! Chukkae! Semoga kalian bahagia!teriak Jessica riang. “Yak! Berhentilah berteriak seperti itu, telingaku sakit.” candaku, “aish, kau ini!” seru Jessica kesal sambil mengerucutkan bibirnya, aku terkekeh sambil menunjukkan v-sign ku. “Ah, aku ingin menyapa tamu-tamu lain, annyeong Sica. Selamat menikmati acaranya!” pamitku kepada Sica.

Aku menghampiri Sehun yang sedang mengobrol dengan 11 namja. Sepertinya itu adalah sahabatnya. “Ah, Fany-ah, kenalkan ini adalah sahabat-sahabatku saat kuliah di Amerika. Hyung ini Tiffany, istriku.” ucap Sehun, “Tiffany imnida.”ucapku memperkenalkan diri sambil membungkukkan sedikit kepalaku.

Luhan POV

Tiffany? Jadi istri dari Sehun adalah Tiffany? Aku mengepalkan tanganku. “Tiffany,” panggilku pelan, tetapi berhasil membuat 12 pasang mata menatapku. Tiffany menatapku kaget, “Luhan oppa,” ucapnya pelan tetapi masih dapat kudengar. “Kalian saling kenal?” tanya Sehun bingung. “Ah ne, nanti aku ceritakan kepadamu Hun-ah. Hmm…bolehkah aku meminjam Luhan oppa sebentar?” tanya Tiffany. “Tentu saja,” ucap Sehun sambil memberikan senyuman manis kepada Tiffany, Tiffany membalas senyuman Sehun, lalu menarik tanganku untuk menjauhi ke-11 orang tersebut.

“Jadi…kau mengingatku?” tanyaku pelan, Tiffany mengangguk, “aku mengingatmu 2 hari lalu, setelah kita bertemu lagi oppa.” jelas Tiffany. Aku mengangguk tanda mengerti, “ah, chukkae! Semoga kau bahagia bersama Sehun!” ucapku sambil tersenyum manis, senyum paksa.

Mianhae oppa, a-aku…” “Gwenchana, lagi pula semua ini salahku. Dulu aku mencampakanmu, dan mungkin ini balasan dari Tuhan untukku telah menyia-nyiakan wanita secantik dan sebaik dirimu.” ucapku lembut. Aku menghela nafas panjang, “Sehun beruntung memilikimu, aku iri pada Sehun. Jujur saja Fany-ah, selama 4 tahun ini aku belum berhasil melupakanmu. Perasaanku tetap sama selama 4 tahun ini.” akuku pada Tiffany.

Tiffany menatapku dengan tatapan tidak percayanya, pancaran matanya mengatakan kalau ia sangat merasa bersalah. “Oppa…aku…maafkan aku, aku tidak bisa membalas perasaanmu.” lirihnya sambil menunduk, ia menggenggam erat gaun putihnya. Aku tersenyum, “gwenchana Fany-ah, jangan merasa bersalah. Ini semua bukan salahmu. Berbahagialah dengan Sehun, lupakan pengakuanku tadi. Aku tidak mau kau terbebani karena perasaanku, tetapi aku juga tidak bisa jika tidak mengatakannya padamu.” jelasku sambil memegang kedua bahunya.

Aku menarik dagunya untuk membuatnya menatapku, “sekarang tersenyumlah. Kau tampak cantik jika sedang tersenyum, apalagi ini hari besarmu. Aku tidak mau melihatmu memasang tampang sedihmu.” ucapku sambil tersenyum lebar. Tiffany ikut tersenyum, membuat kedua matanya melengkung seperti bulan sabit. Senyum favoriteku, akhirnya selama 4 tahun tidak melihat senyum itu sekarang aku dapat melihatnya lagi.

Tiba-tiba Tiffany memelukku, aku balas memeluknya. “Gomawo oppa, kau adalah oppa terbaik yang paling aku sayangi setelah Leo oppa.” ucap Tiffany, aku tersenyum simpul dan mengangguk. “Ayo kembali, pasti suamimu mencari kita.” ujarku dan melepaskan pelukan kami.

Sehun POV

Aku merasakan jari seseorang menelusuri wajahku. Kebiasaan Tiffany jika ia lebih dulu bangun daripada aku. Aku menggenggam tangannya dan membuka mataku. “Sudah puas meperhatikan wajahku, nyonya Oh?” pipinya bersemu merah, dia ini imut sekali. Aku tersenyum dan mengecup bibirnya sekilas. “Yak!” serunya, mukanya semakin memerah, aku terkekeh melihat tingkahnya yang lucu. Kami sudah hampir seminggu menikah tetapi ia masih saja malu-malu hahaha.

Aku bangkit dari tidurku dan berjalan ke kamar mandi untuk mencuci mukaku. Saat aku keluar kamar mandi kulihat Tiffany sudah tidak ada, ia pasti di dapur. Aku berjalan ke dapur dan mendapatinya sedang membuat sesuatu untuk sarapan kami. Aku memeluk pinggang rampingnya dan mendekatkan hidung mancungku di tengkuknya. Mengambil nafas di situ dan menghembuskannya perlahan. Membuat tubuhnya menggeliat karena geli. “Stop it, Oh Sehun!” serunya kesal, aku terkekeh pelan.

Aku melepaskan pelukanku dan berdiri di sampingnya, “kau sedang membuat apa, Fany-ah?” tanyaku, “hmm bacon, egg and toast. You like those, right?” tanya Tiffany. “Of course, I like, no, I love your foods.” kataku, Tiffany memutar bola matanya “don’t lie Mr Oh. You know I’m bad at cook.” ucapnya kesal, aku terkekeh. “Tapi sungguh masakanmu yang paling aku suka, setelah masakan ibuku tentunya.” ucapku dan tersenyum bodoh, sepertinya aku tertular Chanyeol hyung.

“Hun-ah, apa kau mempelajari senyum itu dari Chanyeol? Baru kali ini aku melihatmu tersenyum seperti itu.” komentar Tiffany menatapku aneh. Tiffany berjalan ke meja makan untuk menata sarapan kami. Aku mengangkat bahuku, “entahlah mungkin aku tertular dirinya.” ucapku cuek.

Tiffany tertawa, “sepertinya happy virus yang dimiliki Chanyeol dapat tertular sekarang. Dan kau korban pertamanya.” canda Tiffany, aku mendengus kesal dan mempoutkan bibirku. “Aih, baby Sehun jangan ngambek. Nanti tampannya hilang loh.” ucap Tiffany sambil menyentuh-nyentuh pipiku dengan jari telunjuknya. Aku memiliki ide yang sedikit hmm…byuntae? “Baby Sehun want popo.“ucapku manja kepada Tiffany.

Wajah Tiffany sontak memerah padam membuatku ingin tertawa, “yak! Berhentilah menggodaku dan makanlah sarapanmu Oh Sehun!” serunya kesal. “But baby Sehun want popo first.” ucapku manja dan mempoutkan bibirku. “Aaa! Aku tidak dengar, aku ingin mandi! Habiskan sarapanmu!” serunya dan beranjak pergi ke kamar mandi. Wajahnya semakin memerah membuatku tertawa terbahak-bahak.

***

Kami sedang duduk di sofa sambil menonton Infinity Chalange. Aku merangkulnya dan kepalanya bersandar di dadaku. “Fany-ah,” panggilku dan dibalas gumaman kecil olehnya. “Bisakah kau memanggilku oppa? Kau kan sekarang sudah menjadi istriku.” Tiffany menatapku lalu menggeleng. “Shireo! Mukamu tidak pantas dipanggil oppa, terlalu mirip dengan anak kecil.” candanya, “kau tidak mau? Sungguh?” tanyaku dan ia mengangguk.

“Kalau begitu terima hukumanmu!” seruku lalu menggelitiki pinggangnya. “Yak! Hahahaha! Hentikan Oh Sehun! Geli! Kyaa!” teriaknya, “andwe! Sebelum kau memanggilku dengan embel-embel oppa.” kataku masih menggelitiki pinggangnya. “Baiklah! Kyaa! Sehun oppa jebal berhenti!” serunya lagi, aku berhenti menggelitikinya.

“Lakukanlah aegyo di depanku sekarang.” kataku tersenyum miring, matanya membulat, “mwo?! Shireoyo! Masih untung aku mau memanggilmu oppa.” katanya kesal. Aku siap-siap akan menggelitikinya lagi tetapi terhenti, “baiklah! Tapi jangan gelitiki aku lagi!” serunya, aku tersenyum kemenangan “cepatlah lakukan.” ujarku.

Ia meletakkan kepalan tangannya di kedua sisi pipinya, “Sehun oppa bbuing bbuing! Saranghae!” serunya lalu tangannya membentuk love sign tidak lupa dengan eyesmile cantiknya. Baiklah, sepertinya aku salah menyuruhnya melakukan aegyo. Semua itu berhasil membuat semburat merah terlihat di kedua pipiku. “Yak! Mukamu memerah! Hahahaha! Kau terpesona kan melihatku melakukan aegyo?” goda Tiffany, membuat mukaku bertambah merah.

Setelah tawa Tiffany mereda, aku menatapnya intens. Tiffany menatapku bingung, “kenapa oppa?” tanyanya, “aku ingin menanyakan sesuatu.” ujarku pelan. “Tanya apa? Tanyakan saja.” ucapnya santai, “dihari pernikahan kita…apa yang kau bicarakan dengan Luhan hyung?” tanyaku penasaran. Ia tersenyum simpul, “aku meminta maaf padanya, karena telah melupakannya.” jelasnya, aku terdiam menunggu Tiffany melanjutkan ceritanya.

Luhan oppa, he’s my first love. Dulu sebelum ia pindah ke Amerika, ia mencampakanku. Lalu di hari itu juga, aku mengalami kecelakaan dan menyebabkanku amnesia.” ucapnya, lalu menarik nafas pelan. “Saat hari pernikahan kita, ia mengakui kesalahannya dan mengatakan bahwa ia masih menyukaiku. Tetapi, aku tidak bisa membalas perasaannya.” kata-katanya menggantung, ia menatapku dalam sambil tersenyum, “karena hatiku telah memilih Oh Sehun sebagai penghuni tetap hatiku.” lanjutnya lembut.

Aku menarik Tiffany kedalam dekapanku mengelus lembut rambutnya, “gomawo Fany-ah, karena telah memilihku. Aku janji akan menjagamu sampai nafas terakhirku. Dan tidak akan mengecewakanmu.” bisikku di telinganya, dapat kurasakan ia tersenyum dan mengangguk pelan di pelukanku. Aku mengecup puncak kepalanya. Terima kasih Tuhan telah memberikan Tiffany Hwang untuk mendampingiku sampai akhir hayatku. Aku berjanji akan menjaganya sampai waktu memisahkan kami berdua.

—END—

Gimana pendapatnya tentang ff ini? Buruk kah? Semoga tidak ya dan semoga kalian terhibur dengan ff ini ^^

Kutunggu kritik dan komentarmu tentang ff ini😉

One thought on “Between Them (Regrets Sequel)

  1. Bagus ko toh malah suka pake banget apalagi endingnya hunfany

Here We Need Responsibilities. Thanks!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s