EXO Fanfiction Dorm

EXO as the Main Cast

Promise

12 Comments

Promise

 

by iheartpanda
Genre: Fluff | Rated: PG-13 | Length: Oneshot (2.163 words)
Cast : Park Chanyeol and (OC) Shim Keira |

NO silent readers please. Don’t copy/plagiarize my storyline. Comment and review are very welcome~~

––

Pemandangan kota terlihat jelas dari bukit ini. Ratusan rumah terlihat di depan mata. Cuaca hari ini juga cukup bagus. Hari ini indah. Namun satu hal yang membuat hati Keira sedih. Ia akan berpisah dengan sahabatnya segaligus cinta pertamanya. Namanya Park Chanyeol, laki-laki tampan dari kalangan keluarga atas alias kaya raya.

Hari ini juga keluarga Park memutuskan pindah ke Jepang karena urusan bisnis keluarganya. Keira tak begitu mengerti tentang pekerjaan orang dewasa. Ia hanya gadis berumur 12 tahun yang belum tau tentang karir. Keira pun tak dapat mencegah keluarga Park untuk pindah. Karena keputusan keluarga Park yang sudah bulat.

Di bukit ini, Chanyeol mengenakan pakaian gaya casualnya. T-Shirt putih tak berlengan dan bertopi hip-hop. Chanyeol mengajak Keira ke bukit ini untuk memberi salam perpisahan kepada Keira. Hati kecil Keira tak sanggup menerima keputusan keluarga Park. Di bukit ini Keira menangis. Ia ingin bersama Chanyeol disini. Ia ingin Chanyeol berada di sisinya.

“Kau jangan menangis, Keira. Aku pasti akan kembali ke korea untukmu. Tapi ini akan berlangsung bertahun tahun. Aku tidak tau kapan aku akan kembali.” Ucap Chanyeol dengan bibirnya yang mungil.

“A-Aku tahu. Tapi aku tak ingin kau hilang dari hadapanku untuk beberapa tahun lamanya. Aku ingin kau lekas kembali ke Korea dan menemuiku..” Ucap Keira sambil menangis terisak-isak.

“Kemarin malam aku terbangun dan tidak sengaja mendengar sebuah keputusan. Kami akan tinggal di Tokyo untuk 6 tahun. Dan kami akan kembali.”

“6 tahun bukanlah waktu yang singkat..” Keira masih menangis terisak di hadapan Chanyeol.

“Aku tahu. Kalau begitu aku akan berjanji kepadamu. Kita akan bertemu disini tanggal 6 Mei tepat 6 tahun kedepan.” Chanyeol mengucapkan janjinya. Dan melingkarkan jari kelingking mungilnya ke jari kelingking Keira.

“Baiklah.. Tepati janjimu..”

 

Promise.

Keira POV

6 tahun kemudian…

Dear Diary,

Hari ini tepat tanggal 3 Mei. Musim semi mulai menyelimuti kota ini. Bunga-bunga sakura bulai berbunga.  Sisa sisa dari musim dingin masih bisa ku rasakan. Musim semi kali ini telat sekali. Musim dingin tahun ini berlangsung sampai Maret. Setiap hari aku memakai mantel tebal menyebalkan ini.

Oh ya, hari hari makin mendekat ke arah 6 Mei. Ku rasa akulah yang tak bisa tenang karena tak sabar menantikan hari itu. Ku harap ia dapat mengingat janjinya di masa lampau. Tepat 6 tahun yang lalu. Dan waktu itu tak singkat sama sekali. 6 tahun yang suram tanpanya.

Hari ini kurasa cuaca tidak bagus. Sehingga aku hanya berdiam di rumah. Tepatnya aku berdiam di kamar tidurku yang berdinding putih ini. Dari tadi aku hanya berguling di tempat tidur ini. Sebenarnya ini jenuh, tapi jika aku keluar percuma saja aku tidak melakukan kegiatan apapun.

Orang tuaku sedang ke luar kota. Mereka masih sibuk dengan promosi produk baru perusahaan keluarga kami. Andaikan saja aku punya saudara laki laki. Mungkin aku akan lebih betah lama lama di rumah.

Kuputuskan untuk keluar dari kamar. Dan menuju ruang keluarga. Menyalakan televisi dan membawa 1 gelas coklat panas di mug cantik yang baru ku beli kemarin lusa. Televisi menyala, dan saatnya aku duduk di sofa putih ini. Ku tekuk lututku, lalu memeluknya erat.

“Ting tung!”

Ku dengar suara bel rumah berbunyi. Segera aku berajak dari sofa dan menuju ke pintu depan. Sebelum ku buka pintunya, aku menengok tamu dari jendela dekat pintu. Oh, ternyata Chanmi. Temanku sekelas dan juga sahabatku.

“Masuklah. Jangan sungkan-sungkan. Anggap saja ini rumahmu sendiri” Ku persilahkan Chanmi masuk dan mengumbar senyum kecil sebagai sambutan.

Aku menggiring Chanmi agar duduk di sofa ruang keluarga. Itu tempat yang paling nyaman di rumah ini. Dan kurasa aku mau menceritakan sesuatu tentang 6 tahun ceritaku dan Chanyeol yang belum pernah ia dengar.

“Angin apa yang membawamu kesini, Chanmi?” Ucap-ku santai.

“Mollayo, aku berpikiran ingin ke rumahmu saja. Di rumah bosan sekali. 2 saudaraku bertengkar karena masalah sepele. Jadi ku tinggalkan saja mereka” Jawab Chanmi enteng.

Ku tepuk jidat Chanmi. “Kau bodoh, seharusnya kau melerainya” aku tertawa kecil di hadapan Chanmi.

“Huh, aku tidak sudi melerai mereka. Biarkan saja.” Chanmi ikut tertawa denganku.

Anyway, apakah kau sudah pernah mendengar cerita 6 tahun suramku?”

“Mwo!? Suram? Bukannya kau selalu bahagia denganku?” Chanmi tersenyum miris.

“Ah! Aniya! Aku serius.”

Nae nae nae, chagiya.. Ceritakan pada gadismu yang cantik ini.” Chanmi berlagak seperti orang tercantik di sini. Lalu ia tertawa kecil.

Setelah memulai basa-basi dengan Chanmi, mulailah ku ceritakan kisahku 6 tahun yang lalu dengan alur yang tepat. Chanmi terlihat serius sekali di saat aku menceritakan bagian saat Chanyeol melingkarkan jari kelingkingnya ke jari kelingkingku.

Chanmi berlagak bodoh. Dan ia masih tercengang setelah mendengarkan cerita suram itu. Aku hanya tersenyum kecil disaat ia berlagak bodoh seperti itu.

Ah! Dangsin-eun gwenchanayo?”

“Tapi kurasa ia akan melupakan itu atau tak sengaja melupakan janji itu” Timpalnya.

“Masa?” tanyaku heran.

Oh my god, kau terlalu naif sekali, Keira.” Chanmi mencubit lenganku.

“Aw, itu sakit! Habis, ia sosok cinta pertamaku. Jadi aku selalu menunggunya..” Jawabku lesu.

“Lantas kapan kau akan bertemu dengannya?”

“Ini sudah hampir 6 tahun. Sesuai janjinya, kami akan bertemu 6 Mei kedepan.”

“Percaya pada waktu saja, Keira. Karena itu menentukanmu, kau bertemu dengan ‘pria’ itu atau tidak.”

 

Promise.

4 Mei…

Di sekolah tampak ramai, dan suasana ini berbeda dari biasanya. Ada apa sebenarnya?

Ku coba bertanya kepada Chanmi yang baru saja keluar dari kerumunan siswa-siswi di depan papan pengumuman itu. Chanmi menjawab pertanyaanku enteng, katanya ada sebuah kontes musik yang dikhususkan pada siswi yang telah tercantum namanya disitu.

“Tadi kulihat namamu tercantum di situ. Dan kamu wajib mengikutinya karena kamu termasuk personil band sekolah. Kau akan memulai latihan pada 6 Mei, sepulang sekolah sampai sekilat jam 4 sore.” Jawab Chanmi enteng.

6 Mei? Sepulang Sekolah? Sampai pukul 4 Sore?

Tentu saja aku tidak bisa. Aku tak mungkin melewatkan hari yang telah ku tunggu tunggu. Kepalaku mendadak pusing. Dan kata kata Chanmi masih berputar putar di otakku. Oh God… Please, i don’t want to skip it anymore..

Keterangan di papan pengumuman itu juga membuatku pusing. Namaku yang terdapat tanda bintang berwarna merah yang berartikan itu wajib. Sekalipun aku menolaknya mungkin aku tidak bisa. Ini kontes musik ternama yang setiap 2 tahun sekali di adakan.

Aku tidak ingin mengecewakan sekolah dan aku juga tak ingin mengecewakan Chanyeol. Sekalipun ia datang atau tidak. Aku benar benar tidak tau. Dan mungkin aku pasrah akan semuanya. Oh tuhan…

Promise.

Bel tanda pulang berbunyi. Semuanya terasa berat sekali. Aku ingin menangis jika aku bisa menangis di sini. Badanku lemas, dan ingin cepat cepat pulang ke rumah. Supir pribadi keluargaku belum nampak. Aku merasa sakit hati sekali. Walaupun ini kelihatannya sepele. Tapi rasanya begitu berat jika aku melewatkan hari yang telah ku nantikan dalam hidupku.

“Hey! Gwenchanayo?” Seseorang menepuk bahuku. Ternyata itu Chanmi.

“Kau pucat sekali. Ada apa denganmu?” Chanmi bertanya-tanya akan keadaanku.

Aku tidak mau cerita. Ia akan memanggilku Keira yang naif lagi…

“Gwenchanayo…” Jawabku dengan senyum kecil yang melengkung di bibir mungilku.

Aku terus melangkahkan kakiku. Menggiring tubuhku menuju depan gerbang sekolah. Menunggu supir keluarga datang menjemputku.

Tak selang beberapa lama aku menunggu. Akhirnya pria paruh baya yang menjemputku akhirnya datang. Aku merasa sedikit lega saat udaran AC dalam mobil masuk ke paru paru ku.

Promise.

Akhirnya setelah 15 menit perajalanan, Aku sampai di depan rumah. Keluar dari mobil rasanya dunia nyata kembali lagi. Kepalaku terasa ada yang menepuknya untuk kesekian kalinya. Kepalaku pusing…

Mobil masuk terlebih dahulu ketimbang diriku. Ku lihat di depan rumah usang yang telah di tinggalkan keluarga Park terdapat Truk pembawa barang atau Truk yang biasanya di sewa untuk pindah rumah. Pikiranku langsung menyeruak kata “Chanyeol”.  Otakku terbelit belit seperti labirin. Jalan keluar mana yang bisa ku temukan.

Ku hampiri salah satu pria yang memakai jas hitam di dekat truk itu. Ku harap itu Paman Park, ayah Chanyeol.

“Permisi?” Seketika pria itu menoleh ke arahku. Pria itu… Paman Park?

“Ah…” Pria itu berusaha mengingatku.

“Kau Shim Keira?” Kata pria ber jas itu.

“Nae, ahjussi. Annyeong Haseyo. Selamat datang kembali ke Korea.” Ku bungkukkan badnku 90 derajat untuk menghormati Ayah Chanyeol.

Ayah Chanyeol menepuk bahuku, lalu melihatku dan memastikan aku ini Shim Keira.

“Kau sudah besar Keira.” Candanya masih seperti dulu saat Ayah dan Paman Park bercanda.

“Paman, di mana Bibi Park?”

“Oh, dia masih di Tokyo. Mereka akan sampai besok. Chanyeol masih ada urusan dengan sekolahnya.”

“Ah nae, aku mengerti paman. Jika paman mau bertemu Ayah dan Ibu, mereka akan datang besok. Mereka sibuk belakangan ini. Paman bisa mampir ke rumah kapan saja Paman mau. Selamat Siang. Permisi” Sekali lagi ku bungkukkan badanku.

Perasaanku hari ini bercampur aduk. Chanyeol belum berada di Korea. Ia masih di Tokyo dengan ibu-nya. Akankah ia tahu bertapa aku merindukannya, dan apakah ia pernah mengangapku lebih dari sahabat karena aku cinta pertamanya? Atau mungkin tidak sama sekali…

 

Promise.

5 Mei…

Dear Diary,

Hari ini Chanyeol akan pulang. Aku merasa tegang sekali. Tapi kata Paman Park, Chanyeol pulang di atas jam 7 malam. Karena mengalami penundaan. Ini hanya mengulur ulur ke sabaranku.

Setiap kali aku memikirkan Chanyeol. Kata kata Chanmi terus terngiang di kepalaku. Apa lagi tentang Kontes Musik bodoh itu. Aku sebenarnya keberatan. Namun, aku personil inti. Aku vokalis. Itu penyebab aku tidak bisa mengelak hal bodoh itu.

Tadi Pagi Appa dan Eomma pulang…
keluarga terasa lengkap lagi. Dan katanya mereka akan menyelesaikan pekerjaan di sini. Promosi produk berakhir di Busan pada kemarin malam. Saat mereka pulang pun aku tak tahu.

Tapi syukurlah, mereka masih dalam keadaan sama saat berangkat. Hari minggu ini terasa indah sekali. Aku sayang kalian semua, orang orang yang selalu ada di dekatku…

Lampu LED kecil di pojok kanan layar telepon genggamku menyala. Segera ku ambil ponselku yang semulanya tergeletak di meja rias. Ini hari yang menyenangkan. Cuaca indah, Keluarga lengkap dan Chanyeol akan kembali.

Oh ternyata aku mendapatkan pesan dari Chanmi tentang lagu yang akan di nyanyikan.

“Oh lagu ini..” Gumamku.

Terus ku coba menyanyikan lagu itu. Bagus lagu ini, aku suka sekali.

Sebeon kkajin, buditchyeo bwa
Yeoseot beonjil, uljirado
Daseot beondo, igeonaemyeon
Kkeutchi boigi shijakhae
Jogeuphage, dalil seurok
Chuneowan girl, neochi ppunya
Naege jeomdeo, shiganeul jwo
Soneul georeulsu itgaehae

Promise.

6 Mei…

Ku mulai hari ini penuh dengan ketegangan. Aku berjalan menuju keluar rumah dan membawa beberapa lampir kertas. Kertas yang berisikan lirik lirik lagu yang akan ku nyanyikan saat nanti latihan. Ku coba santai. Tapi rasa campur aduk antara tegang, senang dan sedih tak bisa menyatu begitu saja. Tegang akan menyanyi nanti. Senang karena ini adalah hari yang ku tunggu tunggu. Sedih karena takut terlambat jika membuat Chanyeol menunggu. Hufftt

Di depan rumah keluarga Park berdiri seorang pria yang kira kira seumuran denganku. Wajahnya tidak terlihat karena aku hanya melihat punggungnya saja. Oh tuhan.. Apakah itu Chanyeol?

Mobil terus melaju hingga badan ‘pria’ familiar itu tak terlihat. Chanyeol benar benar pulang ke Korea. Tapi akankah ia ingat janji yang membuatku ‘naif’ itu?. Ku harap kau mengingatnya…

Promise.

Ini seharusnya kegiatan di sekolah berakhir. Namun ini tak berakhir seperti biasanya. Ada hal yang akan ku lakukan. Ini menyebalkan sekali.

xoxo

Ini sudah hampir 2 jam aku berdiri disini. Menunda dan mengulur waktuku. Tiba tiba Jongdae sunbae datang. Dengan nafas yang tak terkontrol sehingga ia terengah-engah saat sampai si hadapan kami semua.

“Kalian semua pulanglah, hari ini pelatih tidak bisa datang. “ Tanpa menghiraukan aku dan teman teman ia pergi begitu saja.

Aku teringat akan janji Chanyeol. Dengan cepat aku keluar sekolah dan berlari menuju bukit kota. Bukit yang dapat di tempuh 10 menit dari sekolah dengan berlari. Cukup jauh. Tapi aku tidak mau Chanyeol menunggu. Kalaupun ia datang…

Kumohon datanglah… Park Chanyeol..

Di bukit tampak bunga bunga yang sedang bermekaran. Pohon-pohon hijau dan rindang. Tak lupa warna bukit itu tampak hijau dan segar. Aku tetap berlari menuju tempat 6 tahun yang lalu ber sama Chanyeol. Di saat ia mengucapkan janjinya.

Pemadangan kota mulai terlihat. Kini kota terdapat banyak gedung gedung yang mencakar lagit. Dulu saat aku disini jarang gedung gedung yang berdiri tegak menjulang seperti itu. Ini berbeda..

Disini tak ada seorangpun. Hati terasa di cabik cabik saat pria itu tak datang. Aku menangis di atas rerumputan bukit indah ini. Menekuk lutut dan menuutupi wajahku yang basah karena air mata.

“Kenapa kau tidak menepati janjimu? PARK CHANYEOL!!”

“Selama bertahun tahun aku menunggumu hingga temanku menggangap cerita ini hanya dongeng Bodoh! Aku di anggap gadis naif yang percaya akan dongeng-dongeng tak jelas… Aku kecewa..” Aku melepaskan semua kekecewaanku. Aku kecewa akan semua waktuku dan juga hatiku. Itu sia sia. Dan sekarang tak ada janji itu lagi.

“Maafkan aku. Aku membuatmu menggungu terlalu lama. Hingga bertahun tahun. Sekarang aku kembali. Aku tak ingin mengecewakanmu. Aku ingin menemuimu langsung disini. Di bukit indah ini” Seseorang memelukku dari belakang.

Aku tetap menangis. Ku coba berdiri dan melihat wajah Chanyeol setelah 6 tahun tak bertemu.

Ulljima.. Shim Keira.. Nan jeongmal geuriwo” Ia memelukku erat. Aku bisa mendengar detak jantungnya.

“Terima kasih telah menungguku. Aku merindukanmu, cinta pertamaku..”

Bibir Chanyeol mulai melengkung dan tersenyum kepadaku. Aku masih merindukannya. Aku tidak mau melepaskan pelukan ini. Aku sungguh merindukanmu… Ijinkan aku memelukmu lebih erat dan lama lagi.

Chanyeol terus memelukku. Hingga kaos yang ia pakai sedikit basah karena air mataku. Chanyeol mencium pipiku lembut. Lalu mengusap air mataku.

Aku mencintaimu untuk sekian lamanya…” Kata Chanyeol kepadaku.

“Nan jeongmal saranghaeyo…” Jawabku setengah terisak.

END.

Iheartpanda’s note :

Hello semuanya!! Ini FF Oneshoot-ku yang pertama. Gaje kan? /Iya aku tau/ (_ _)9
Jangan lupa RCL ya, aku butuh review buat mengoreksi kesalahanku. Dan aku mulai belajar dari kesalahan. Makasih udah baca~ See you at next fanficts~

Author: xxnesha

don't touch my faggot, that's enough.

12 thoughts on “Promise

  1. sweet …
    kirain Chanyeol nya bakalan lupa atau gimana gitu atau bawa yeoja kerumahnya haha pokoknya bikin nyesek .. eh ternyata masih menunggu ..

  2. keren thor jalan ceritanya samaceritanya daebak thor hwaiting !!

  3. Adduuuhh.. Thor, epep nya bikin diabetes (?) Sweet bedth.. Knapa harus oneshoot? Hihi.. Tapi ini ff nya DAEBAK deh!! Keep writing ya thor😉

  4. keren tor ceritanya , fighting ya ngelanjutin ff yang lainnya :))

Here We Need Responsibilities. Thanks!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s