EXO Fanfiction Dorm

EXO as the Main Cast

[Freelance] Destiny

1 Comment

park-bench-51321_640 

Scripwriter: Rizka Utami|Tittle : Destiny|Casts :  Suho (EXO), Chorong (A-Pink)| Genre : Romance, Drama|Duration : Vignatte|Rating : PG-15

Summary:

“Memangnya dimana kita pernah bertemu?”

“Di dalam mimpiku, ketika aku masih berada di dalam rahim ibuku. Kau lihat? Aku bahkan sudah memilikimu sebelum kau lahir. Karena Kau, adalah takdirku.”

.

.

Matanya memang tertuju pada danau di taman ini, namun pikirannya sedari tadi telah berkeliaran entah kemana. Bahkan lelaki berkulit putih itu tidak tahu sudah seberapa lama ia memikirkan gadis itu. Ia tidak bisa berhenti memikirkannya, karena semua yang ada di taman ini selalu membawa memorinya pada gadis itu. Gadis itu menyita pikirannya.

Hhh.

Ia menghembuskan nafasnya berat, membuat rambut kecoklatannya yang menutupi dahi sedikit bergoyang . Wajah manisnya terlihat lelah. Ya, dia sudah lelah merindu. Menunggu hal yang tidak pasti itu sangat menyakitkan. Selama 2 tahun gadis itu meninggalkannya, hanya 6 bulan pertama ia memberi kabar pada Suho. Selebihnya, tidak ada satupun e-mail Suho yang dibalas. Kejam sekali, begitu pikir Suho. Setidaknya Ia harus mengatakan pada lelaki itu untuk tidak berhenti menunggunya.

“Suho-ya” lelaki itu menoleh ketika mendengar namanya dipanggil, tapi Ia tidak melihat siapapun selain dirinya di taman ini. Sial! Dia pasti sudah gila karena terlalu dalam membiarkan hatinya rindu pada gadis itu. Bahkan suara yang memanggilnya tadi persis seperti suara gadis itu. Lembut dan menggemaskan.

“Suho-ya!” Kali ini suara itu lebih keras dan lebih menggambarkan kerinduannya. Aku benar-benar gila, pikirnya. Tapi ia cepat-cepat menarik pikiran itu ketika dilihatnya sebuah tangan kurus melambai dari balik pohon yang tidak jauh dari bangku panjang yang ia duduki. Itu membuktikan bahwa memang benar-benar ada orang yang memanggilnya dan bukan halusinasinya saja. Ia bersyukur untuk itu karena setidaknya Ia tidak jadi gila. Namun Ia mengernyit penasaran akan siapa pemilik tangan dan suara itu.

Dan Suho hampir terjungkal dari bangku ketika tangan itu berganti dengan seraut wajah yang sangat Ia kenali dan sangat Ia rindukan. Wajah yang hampir setiap malam hadir dalam mimpinya dan membuatnya tidak bernafsu sarapan ketika paginya. Suho segera bangkit dari bangku dan hampir tidak mempercayai penglihatannya sendiri, namun kakinya yang memijak tanah menyadarkannya bahwa di hadapannya ini memang benar-benar gadisnya. Bibirnya tanpa sadar meloloskan panggilan khususnya untuk gadis itu, “Rongie..”

Chorong tersenyum mendengarnya. Suho masih saja memanggilnya dengan nama itu. Dulu Chorong tidak suka saat Suho memberinya panggilan itu, terlalu kekanakan, begitu menurutnya. Namun kini Ia justru bahagia ketika orang yang Ia rindukan memanggilnya seperti itu. Perlahan Ia keluar dari balik pohon dan berjalan mendekati Suho dengan langkah anggun.

Suho sendiri tidak dapat mengalihkan pandangannya dari gadis itu. Rambutnya kini lebih panjang dari yang dia ingat, matanya tetap mata yang membuat Suho hanyut di dalamnya, dan bibirnya tetap bibir yang melengkungkan senyuman indah yang menghipnotis. Gadis itu masih tetap cantik, atau mungkin bertambah cantik? Entahlah, tapi Suho benar-benar kagum atas ciptaan Tuhan yang satu ini. Suho tetap terpaku pada Chorong meskipun jarak mereka kini sudah cukup dekat.

“Ya, berhenti memandangku seperti itu.” Ucap Chorong yang seketika membuat Suho salah tingkah dan segera mengalihkan pandangan ke arah danau.

“Nae seonmul eodikattji (mana hadiahku)?” tanya Chorong dengan wajah cerianya. Suho mengernyit mendengarnya.

“Museun seonmul.. (hadiah apaan)” sahut Suho tak acuh.

“Ya! Aku sudah jauh-jauh dari New York ke Seoul tapi seperti ini tanggapanmu?” seru Chorong sebal.

“Kau datang tiba-tiba, mana aku sempat menyiapkan hadiah? Harusnya kau yang memberiku oleh-oleh dari New York.”

“Aku sudah menaruh oleh-oleh yang ku bawa di rumahmu kok.” Kata Chorong santai sambil mendudukan dirinya di bangku taman. Suho terbelalak.

“Kau  bahkan sudah mampir ke rumahku? Jadi kau tidak pulang secara tiba-tiba? Mengapa tidak memberi kabar?!” tanya Suho gusar sambil ikut mendudukkan diri di samping Chorong.

“Sabar, sabar. Aku tidak sempat mengabarimu karena aku pulang tadi pagi dan niatnya aku ingin memberitahu secara langsung, makanya tadi aku ke rumahmu, tapi Kau tidak di rumah dan instingku langsung mengatakan bahwa kau ada di sini.” Paparnya. Benar saja, tempat ini favorit mereka berdua. “Oya, Tadi aku bertemu bibi. Dia bilang kau sekarang tidak pernah sarapan. Itu tidak baik tau.”

“Aku tidak pernah bernafsu sarapan karena terlalu merindukanmu tau!” Sahut Suho sebal. Chorong tersenyum geli. Laki-laki ini masih sama seperti dulu. Sikapnya memang suka jual mahal, tapi Ia tahu bahwa sebenarnya Suho sangat merindukan dirinya.

Sejenak keheningan tercipta di antara mereka. Chorong tidak berniat bersuara, karena bertemu Suho saja sudah sangat menyenangkan baginya. Tapi bagi Suho, beribu pertanyaan melesat dalam otaknya, hanya saja ia tidak tahu cara melontarkannya.

“Chorong-a, kenapa kau tidak pernah mengabariku lagi selama di New York?” tanya Suho saat ia telah menemukan pertanyaan yang paling membuatnya penasaran.

“Mianhae (maaf). Sungguh unversitas kebidanan di New York tidak main-main, Suho-ya. Setiap minggu selalu diadakan ujian praktek dan mahasiswanya langsung menangani para ibu yang yang akan melahirkan. Jadi setiap hari aku berkutat di rumah sakit bahkan untuk mengecek e-mailpun aku tak punya cukup waktu.” Tutur Chorong menyesal.

“Kau benar-benar terobsesi pada cita-citamu, ya?”

“2 tahun belakangan ini adalah masa-masa tersulit kita, Suho-ya. Kau juga sibuk mengurus perusahaan ayahmu kan? Kita memang membangun masa depan masing-masing dan harus melupakan hubungan di antara kita. Tapi toh, kini aku sudah wisuda, dan Kau juga resmi menjadi direktur di perusahaan ayahmu. Ini semua pilihan yang harus kita ambil. Percaya padaku, aku juga sangat merindukanmu.”

Suho menghela nafas. “Jadi sekarang, saatnya kita membangun masa depan kita.” Kata Suho sambil menyelipakan jari-jarinya di sela-sela jari Chorong.

Chorong tersenyum. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Suho, kebiasaannya sedari dulu. “Benar.”

Hening lagi.

“Jadi, apa kau menemukan hal bagus di New York?”

“Ya, tentu saja.”

“Apa?”

“Para lelaki di sana sangat tampan.”

“Ya! Apa maksudmu?! Kau tidak selingkuh ‘kan?” Seru Suho. Chorong terkikik geli. Ia memang sangat hobi menggoda Suho.

“Aniya, aku hanya bercanda kok. Di New York aku jadi tahu rasanya merindukanmu itu seperti ini. Sakit tapi menyenangkan.” Jawab Chorong yang langsung di tangkis oleh Suho.

“Bagiku tidak menyenangkan sama sekali. Yang ada hanya sakit dan sakit!”

“Baiklah, baiklah. Tapi menginjakkan kaki di New York benar-benar suatu pengalaman beharga bagiku. Aku mendapatkan banyak ilmu. Aku mungkin tidak akan tahu bahwa seorang bayi dapat bermimpi ketika di dalam kandungan jika aku tidak ke New York”

“Benarkah? Apa yang Ia mimpikan?”

“Entahlah, mungkin memimpikan takdirnya.”

Untuk beberapa saat mereka diam, meresapi udara hangat musim semi sore itu. Setelah beberapa saat, Suho membuka suara.

“Rongie, kau ingat saat kita pertama kali bertemu?” tanya Suho tiba-tiba. Chorong mengangguk.

“Waktu itu kau menanyakan, ‘apa kita pernah bertemu?’ Tapi aku tidak sempat menjawabnya.” papar Chorong.

“Ne. Dan sepertinya sekarang aku tau jawabannya.” Kata Suho.

“Jeongmalyo?” Chorong lekas mendongakkan kepalanya dari pundak Suho. “Memangnya dimana kita pernah bertemu?” tanya Chorong penasaran.

Suho tersenyum, kemudian menjawab, “Di dalam mimpiku, ketika aku masih berada di dalam rahim ibuku. Kau lihat? Aku bahkan sudah memilikimu sebelum kau lahir. Karena itulah, meskipun aku sangat merindukanmu saat kau di New York, aku yakin tidak akan kehilanganmu. Karena Kau, adalah takdirku.” Kata Suho dengan penekanan di akhir kalimatnya.

Chorong terpaku mendengar jawaban Suho, tapi akhirnya tersenyum bahagia.

“Oiya, sebenarnya aku bawa sesuatu untukmu.” Kata Suho sambil melepaskan genggaman tangan mereka. Ia kemudian merogoh kantung celana panjangnya sedangkan Chorong sudah sangat antusias daritadi. Ia menebak-nebak hadiah apa yang akan Suho berikan padanya. Ia mendekatkan kepalanya ke arah Suho. Melihat kesempatan itu, Suho melakukan aksinya.

Cup~

Chorong terpaku untuk yang kedua kalinya, kali ini bukan karena kata-kata Suho, tapi tindakan Suho yang menciumnya singkat secara tiba-tiba. Pipi chorong merona merah karena malu dan bagi Suho Chorong sangat cantik ketika wajahnya seperti itu.

“Itu hadiah untukmu.” Bisik Suho dengan senyum jahil di wajahnya, menyadarkan Chorong dari keterkejutan.

“Suho-ya! Neo Jinj—“

Suho mendekatkan kepalanya hingga akhirnya bibir mereka bertemu lagi, kemudian menggerakannya tanpa menuntut. Ia hanya ingin Chorong tahu bahwa Suho sangat mencintainya.

“Suho-ya. Gomawo, karena telah menungguku”

 

FIN.

Author: soojunga

EXO Stan|f(x) Stan|99L|Loves Editing and Story telling the most!!!~

One thought on “[Freelance] Destiny

  1. wahh daebak pairnya juga keren suho -chorong😀

Here We Need Responsibilities. Thanks!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s