EXO Fanfiction Dorm

EXO as the Main Cast

My Love,My Pain

1 Comment

Gambar

My Love My Pain

Author : Jasmine Hwang

Cast : Find it !

Genre : Friendship,Romance,Sad,Angst

Rating : PG

Length : Oneshoot

Disclaimer : cerita ini murni hanya karangan author saja,selebihnya cast adalah milik Tuhan,keluarga dan fans.

Warning : maaf kalau alur cerita agak aneh,ngawur,atau gak jelas dan banyak typo bertebaran..

Happy Reading^^

 

“Kriiiinnggg” suara bel yang nyaring terdengar di seluruh penjuru sekolah.Tanda berakhirnya jam pelajaran hari ini,anak-anak kecil berhamburan keluar kelas menemui orangtuanya.Sebagian lagi masih asyik bermain di halaman sekolah.Aku membereskan buku-buku dimejaku,meraih tas dan berjalan keluar kelas.Tidak lupa mengunci ruang kelas sebelum pergi.Setelah selesai,aku melangkah ke sebuah ayunan di hadapanku.Disana,aku mendapati seorang namja bernama Xi Luhan melamun dengan tatapan kosong.

“Annyeong,Luhan-ssi” sapaku sambil tersenyum sekenanya.Orang yang ku sapa hanya menatapku,kemudian menunduk tanpa berbicara sedikitpun.

“Kelas sudah usai,segeralah pulang” kataku.Namun lagi-lagi ia tak bergeming sedikitpun.

“Baiklah,sampai jumpa besok” lanjutku sambil tersenyum getir dan beranjak pergi.

Hanya dalam waktu beberapa menit saja,aku sampai di kamar apartemenku.Aku membersihkan tubuhku sejenak,kemudian merebahkan diri diatas kasur empuk.Mencoba memejamkan mataku yang mulai sedikit penat.Saat aku memejamkan mata,justru bayangan Xi Luhan muncul dihadapanku,dengan wajah kusutnya,tatapan kosong,rambut acak-acakan,persis seperti apa yang kulihat darinya selama ini.Aku bangkit dari tidurku dan meraih pigura di meja kamarku.Disana terpampang jelas tentang siapa aku,Xi Luhan,dan seorang gadis bernama Seo Jo Hyun.Setiap kali menatap foto itu,aku seperti terlempar ke masa lalu yang bisa ku sebut itu menyenangkan,tetapi kadang menyakitkan.

“Seohyun-ah,saranghaeyo” kata Luhan dihadapanku dan Seohyun.

“Nado saranghae,Luhan-ssi” sahutnya malu-malu setelah lama terdiam.Terlihat jelas rona merah dikedua pipinya.Persis seperti warna tomat matang.

“Gomawo,Seohyun-ah” sambil memeluk Seohyun.

Butiran air mataku mengalir deras tanpa bisa ku hentikan.Aku diam,terduduk dilantai sudut kamar,masih memegang foto itu erat-erat.Sekali lagi aku menatap gambarnya,senyum tersungging di wajah tampannya.Dia,Xi Luhan,namja yang sejak lama aku cintai.Sayangnya,ia jatuh cinta pada sahabatku sendiri sebelum aku sempat mengutarakannya.Aku memilih untuk menutup semuanya rapat-rapat dari pandangan Luhan dan Seohyun.Bagiku,kebahagian orang yang ku cintai jauh lebih penting.Tapi aku berbohong pada diriku sendiri,hatiku rasanya perih.

Luhan-ah,mengapa kau menyukai Seohyun? Mengapa bukan aku? Kalau saja,kau mau sedikit bersabar.Kau akan tahu bahwa akulah yeoja yang sudah menaruh hati padamu sejak awal,bukan Seohyun.Tapi aku tidak akan serakah,berada didekatmu saja,itu sudah lebih dari cukup-gumamku.

Hari-hari yang ku lalui bersama mereka,menyisahkan senyum sekaligus air mata.Aku pikir,hanya aku yang merasakan kesedihan.Pada kenyataannya,cinta kedua anak manusia itu berjalan bahagia dan baik-baik saja.Aku merasa sedikit senang.Ya,hanya sedikit saja.Aku seperti tokoh sampingan didalam sebuah drama percintaan yang kadang terlibat konflik dengan sang pemeran utama.Tetapi ini berbeda.Aku tidak terlibat konflik dengan keduanya,namun lebih kepada mengalami konflik batin dengan diriku sendiri.Lucu sekali,aku terlihat bodoh sekarang.Aku yang mencoba meredam dan menutup perasaanku,tapi aku juga yang tidak bisa menahannya.Sampai detik ini,aku masih memiliki perasaan yang sama,aku masih menyukainya.

“Aku punya kabar gembira untukmu” ujar Seohyun yang sedang bermain ayunan di halaman sekolah denganku.

“Apa? Ah,aku pikir pasti ada hubungannya dengan Luhan” aku mencoba menebaknya

“Yups,kau tidak salah menebak.Semalam,ia melamarku.Kita akan segera menikah.Aku tidak menyangka sekali,bla..bla..bla..”

Seketika jantungku rasanya berhenti berdegup,kata-kata Seohyun menguap di udara.Aku tidak ingin mendengarkan apa-apa lagi.Air mataku perlahan mengalir.

“YAAA!! Kau mengacuhkanku?” kata Seohyun kesal.

“Anio,aku mendengarkan semua ocehanmu tadi”

“Benarkah? Lalu apa ini? Mengapa kau menangis?” tanya Seohyun,tangannya mengusap air mata yang gagal ku sembunyikan.

“Anio,aku hanya sedikit terharu.Ah,sebentar lagi Seo seonsangnim akan menjadi Nyonya Xi Luhan,hhehehehe..” godaku sambil tertawa kecil

“Aih,kau ini bisa saja” Seohyun tidak bisa menyembunyikan rona-rona merah di pipinya.

Aku terkekeh melihat ekspresi Seohyun.Dari arah pintu gerbang,muncul seorang namja tampan melambaikan tangan pada Seohyun.

“Sepertinya aku harus segera pulang.Pangeran tampan sudah menjemputku” Seohyun mengedipkan sebelah matanya centil kearahku dan berdiri dari ayunan.Luhan datang mendekat.

“Kajja,kita pulang.Kau mau ikut pulang dengan kami?” tawar Luhan padaku.

“Anio,kalian pulang duluan saja.Nanti aku menyusul” jawabku.

Perlahan Luhan dan Seohyun meninggalkanku.Ku perhatikan mereka yang berjalan begitu mesra.

Itu berita yang sangat membahagiakan di mata kalian.Di mataku,tak ubahnya pedang samurai yang memotong habis hatiku hingga hancur lebur.Sebentar lagi,tidak akan ada celah untukku.

 “Seohyun-ah,aku iri padamu.Apa yang membuat Luhan memilihmu? Kisah cintamu seperti dongeng sebelum tidur,yang semuanya berakhir dengan bahagia.Lalu,bagaimana denganku? Aku menyukai Luhan.Apakah aku makhluk terkutuk sehingga kisahku seperti ini?”- kataku dengan suara lirih.

“Drrrttt,drrrrtttt” ponselku bergetar.Aku langsung meraih ponsel dan membaca pesan yang masuk.

From : Seo,Seororo

Aku akan memilih gaun pernikahan,Luhan sedang sibuk di kantor.Kau mau kan menemaniku? Sebentar lagi aku akan menjemputmu.Lekaslah bersiap-siap.

“Aiissh,anak ini,benar-benar.Aku kan belum bilang setuju.Mengapa seenaknya akan datang menjemputku” omelku didepan ponsel.Tapi Seohyun sedang dalam perjalanan.Dia tidak akan menjawab pesanku saat menyetir mobil.Alasannya agar selamat sampai tujuan,ah anak itu.Aku mengurungkan niat untuk membalas pesannya dan memilih bersiap-siap untuk pergi dengan Seohyun.

1 menit

5 menit

1 jam

“Aiisshh,anak ini kemana? Katanya akan datang menjemput.Apakah waktu 1 jam tidak cukup,eoh?”aku mulai mengomel lagi.Aku segera menghubungi ponselnya.

“Ttutt,ttuutt,ttuutt..”

“Yeoboseyo,apakah anda kerabat dari Seo Joo Hyun Agasshi?” suara asing dari seberang telepon.

“Mwo? Nuguseyo? Ada apa dengan Seohyun?” tanyaku retoris.

“Seohyun Agasshi mengalami kecelakaan,saat ini sedang dirawat intensif,blaa..blaa..blaa..” aku shock,dan tanpa sadar menjatuhkan ponselku ke lantai.Tanpa aba-aba lagi,aku langsung berangkat ke rumah sakit.Tidak lupa menghubungi Luhan,kekasihnya.

Aku berlari terengah-engah menuju ruang ICU rumah sakit.Di saat yang bersamaan pintu ruang ICU terbuka dengan membawa tubuh seseorang yang ditutup dengan kain.Seketika perasaanku menjadi tidak nyaman.Aku menghentikan perawat yang memindahkan jenasah itu,dan membuka kain putih yang melingkupinya.Mataku membulat saat melihat wajah jenasah.Aku mengenalinya,sangat mengenalnya.

“Seo,seo..,bangunlah! Ayo bangunlah! Kau bercanda kan? Kau belum mati kan? SEOHYUN-AH!!” aku berteriak histeris,tangisku pecah.Luhan yang melihatku menangis,terlihat shock dan tidak percaya.

 “Kkrrriiiiinggg” bel sekolah berbunyi nyaring.Aku telah selesai dengan semua pekerjaanku.Kemudian sekali lagi menghampiri seorang namja yang setiap hari duduk di ayunan.Dulu,selesai mengajar di kelas,Seohyun akan menunggu Luhan menjemputnya pulang sambil duduk di ayunan itu.Sekarang,ketika semuanya sudah berlalu,Luhan yang masih termanggu disana.Mungkin ia tengah berharap bahwa akan ada keajaiban yang datang padanya.

“Annyeong,Luhan-ssi” sapaku ramah.

“Sepertinya cuaca hari ini mendung.Mungkin sebentar lagi akan turun hujan.Kau tidak ingin pulang?” lanjutku.Luhan tak beringsut dari posisinya.Tatapan kosongnya membuatku sedih.Ia bahkan tak pernah berbicara denganku,menjawab pertanyaanku,atau apapun.Aku masih berdiri dihadapannya,tapi tiba-tiba hujan mengguyur kami dengan derasnya.

 “Seohyun-ah,kapan kau selesai dengan pekerjaanmu? Aku menunggu kau pulang” ujar Luhan yang mencoba berbicara pada dirinya sendiri.Aku masih berdiri mematung.Air mataku jatuh perlahan bersamaan dengan air hujan yang menyapu wajahku.

“Omong kosong apalagi ini? Aku yang sedang berbicara dan ada dihadapanmu sekarang,bukan Seohyun.Tidak bisakah kau mendengarku sekali saja?”-runtukku

“Annyeong,aku berbicara denganmu,Luhan-ssi.Apakah kau bisa mendengarku?” tanyaku seperti orang bodoh.Namun Luhan hanya diam menatapku,dan beranjak pergi dari ayunan.Ia meninggalkanku yang masih ternganga dan tak percaya.Selama ini,aku yang mencoba berbicara dengannya,berusaha membuatnya kembali seperti dulu,hanya sia-sia belaka.Aku pikir,dengan perginya Seohyun,Tuhan memiliki rencana yang indah untuk kami.Ternyata tidak,Luhan semakin tidak tersentuh.Bahkan ia tak layak dikatakan hidup,namun dia juga tidak mati.Tanpa sadar,kakiku melangkah mengikuti Luhan.Aku terus memperhatikan punggungnya yang semakin jauh dan mungkin sebentar lagi tidak akan terlihat ketika aku memasuki gedung apartemen.

Aku menghentikan langkahku dan berucap “Sampai jumpa besok lagi,Luhan-ssi” dengan suara lirih kemudian tersenyum.Aku berlari memasuki gedung.Segera mengeringkan tubuhku yang basah kuyup tersiram hujan.

“Luhan-ah,ini pasti mimpi.Kau mengacuhkanku? Bukankah kita teman dekat? Aku percaya,suatu saat kau akan berubah.Aku hanya perlu bersabar untuk kesekian kalinya”-bisikku

Seohyun tengah duduk di ayunan.Ia melambaikan tangannya sambil tersenyum padaku.

“Annyeong,bagaimana kabarmu? Aku rindu saat-saat bercerita banyak hal denganmu” celoteh Seohyun sambil memintaku duduk di ayunan lain yang berada tak jauh dari ayunannya.

“Kabarku baik Seohyun-ah,bagaimana denganmu?”

Mimik wajah Seohyun berubah menjadi sedih.Aku tidak pernah melihatnya sesedih ini.

“Kabarku buruk,aku sedih melihat calon suamiku murung seperti itu.Aku tahu kau berusaha keras untuk membuatnya tersenyum lagi.Tapi..” kalimat Seohyun terputus begitu saja.

“Waeyo Seohyun-ah? Katakan saja..” aku diliputi rasa penasaran.

“Tapi,aku mohon berhentilah.biarkan Luhan oppa menemukan kebahagiaannya sendiri” katanya.

 

HOOSH,HOOSH..” nafasku terengah-engah.

Keringat dingin mengucur deras dari seluruh tubuhku,aku segera terbangun dari mimpi.Aku bersyukur ini hanya mimpi,ya hanya mimpi dan mimpi adalah bunga tidur.Lagipula apa yang Seohyun tahu tentang kebahagian? Luhan bahkan tak punya semangat hidup,lalu bagaimana ia akan menemukan kebahagiaannya?

“Luhan akan menemukan kebahagiaannya?” pertanyaan itu terus saja berputar-putar diotakku.Ini seperti lelucon,bagaimana tidak? Aku melihatnya terpuruk seperti orang yang nyaris tak punya harapan hidup.Menyedihkan,satu kata yang sanggup menggambarkan semua.Secara tidak sadar,kakiku melangkah pelan tanpa arah tujuan.Ekor mataku melirik ke kanan dan ke kiri,mencoba mengenali arah jalan yang kuambil.

“Oh,ini jalan menuju kearah apartemen Luhan” pikirku.

Aku masih melanjutkan perjalananku,namun langkahku terhenti ketika melihat sosok namja tampan berjalan kearahku.Rambutnya yang kecoklatan tertiup angin,bergerak-gerak lembut.Ia mengenakan celana hitam,kemeja putih,jas dan dasi yang juga berwarna hitam.Tangannya mengenggam dua buket besar mawar merah dan mawar merah jambu.Semakin lama jarak diantara kami semakin dekat,namun Luhan berjalan begitu saja tanpa memperhatikanku.

“Mwoya? Apakah ia  akan mengencani seorang yeoja? Mengencani dua yeoja sekaligus,huh?” aku mengomel kesal.Aku tahu bahwa Luhan adalah namja tampan,ia bisa memilih siapa saja yeoja yang akan dijadikan istri ataupun yeojachingunya.Apa ini yang dimaksud Seohyun? Kebahagiaan seperti inikah? Aku benar-benar tidak bisa mengerti bagaimana jalan pikirannya.

Langkah kami terhenti disuatu tempat.Bukan kami,lebih tepatnya Luhan.Aku hanya mengikutinya kemari,sekedar untuk menghilangkan ribuan pertanyaan yang berjejal penuh diotakku.Mungkin jika tidak segera ditangani,otak ini akan meledak.Namun sesampainya disana,tubuhku rasanya membeku.Lidahku benar-benar kelu.Buang jauh-jauh pikiran bahwa seorang Luhan akan menikah atau akan mengencani yeoja lain.Disini,dihadapanku,ada dua gundukan tanah dengan batu nisan diatasnya.

“Chagiya,bogoshipoyo..” kata Luhan sambil mengusap batu nisan dan menghela nafasnya pelan.Terlihat jelas nama Seo Joo Hyun disana.Tanpa terasa air mataku jatuh perlahan.Aku tidak tahu apa yang sedang kutangisi sekarang,tapi aku benar-benar ingin menangis.Luhan masih berbicara banyak diatas makam Seohyun.Sebuah buket mawar merah diletakkannya diatas gundukan itu.Sementara aku masih berdiri mematung menatapnya.Selang beberapa menit,kaki Luhan melangkah ke makam disamping makam Seohyun.

“Makam siapa?” lagi-lagi muncul pertanyaan diotakku.Tulisan di batu nisan itu sudah tidak begitu jelas,tertutup begitu banyak kotoran dan debu,tangan Luhan mengusap dan membersihkannya.Samar-samar aku mulai membacanya.

“Lee..So..Yeon? Lee So Yeon? Namaku?” mataku membulat seketika.Bagaimana bisa semuanya ini terjadi? Aku sudah mati? Kapan? Mengapa aku tidak menyadarinya? Ini tidak mungkin..

“Yaa! Yeoja pabo,kau meninggalkanku begitu saja,huh?” kata Luhan diatas makamku.Aku menghentikan tangisku sejenak,mencoba mendengarkan perkataan orang yang paling kusayangi.

“Lalu apa ini? Mengapa kau begini? Mengapa kau tidak mengatakannya padaku,huh? Mengapa kau menyimpan semua perasaanmu sendiri? Kau membuatku terlihat bodoh,Soyeon-ah” omelnya sambil mengeluarkan buku catatan kecil berwarna merah jambu dari sakunya.

Buku itu? Bagaimana Luhan mendapatkannya? Aku masih ingat,aku sering menuangkan beberapa puisi cintaku untuk Luhan dibuku itu.Namun aku tak berniat memberitahukan itu pada siapapun,termasuk Luhan.

“Untuk apa aku mengatakannya? Kau tetap akan memilih Seohyun kan?” nada suaraku kembali bergetar.

“Soyeon-ah,mianheyo.Aku benar-benar tidak tahu kau menyukaiku sejak lama.Dimataku hanya ada Seohyun,Seohyun,dan Seohyun lagi.Aku sama sekali tidak menatapmu.Aku benar-benar namja yang tidak peka bukan?” lanjutnya,wajah Luhan terlihat menyesal.

“Arra,gwenchana Luhan-ah.Aku tahu kau tidak mengacuhkanku,kau hanya tidak melihatku” sahutku untuk kesekian kalinya.Aku tahu,Luhan tidak akan mendengar apapun yang aku ucapkan.Tapi aku benar-benar ingin mengatakannya.

“Soyeon-ah,jangan menyukai bunga Baby Breath lagi.Itu bunga favorit yang paling menyedihkan untukmu”

“Soyeon-ah,bantu aku memilih bunga untuk Seohyun” kata Luhan begitu kami sampai di depan toko bunga.Hari ini adalah hai ulang tahun Seohyun,mereka berencana untuk makan malam bersama.

“Mwo? Mengapa harus aku?” tanyaku polos.

“Yaa! Kau ini sahabatnya,kau pasti tahu kan bunga kesukaannya?”

Terus terang saja aku benar-benar tidak tahu bunga kesukaan Seohyun.Apakah mengetahui bunga kesukaan sahabat kita termasuk hal yang sangat penting? Mungkin mulai saat ini,masalah itu termasuk hal yang penting.

“Yaa! Kau melamun,huh? Kau tahu tidak?” lanjut Luhan.

“Anio” jawabku sambil menggeleng pelan.

“Bagaimana bisa kau tidak mengetahuinya?” Luhan mulai putus asa sambil menatapku.

“Aku benar-benar tidak tahu,bagaimana kalau mawar merah? Aku pikir semua yeoja akan menyukainya.Apalagi yang memberikannya adalah namjachingu-nya” usulku.

“Huh? Baiklah,apakah semua yeoja seperti itu? Termasuk kau dan Seohyun?” ujarnya sambil memilih bunga mawar.

“Anio,aku lebih suka Baby Breath.Bunga itu mewakili beberapa hal dalam hidupku” cerocosku tanpa sadar,seakan-akan sedang mencurahkan isi hatiku dihadapan Luhan.

Luhan hanya mengangguk-anggukkan kepalanya kemudian tersenyum.

Luhan masih mengingat ucapanku yang dulu.Aku menyukai bunga Baby Breath karena memiliki arti hati yang murni,namun disisi lain berarti kesedihan yang abadi.Ya,kesedihan ketika aku menyadari Luhan tidak pernah membalas cintaku sampai akhirnya aku pergi dari hidupnya.

“Soyeon-ah,sudah 100 hari sejak kau pergi kan?”

“Ne,sudah 100 hari pula arwahku berada disampingmu” sahutku.

“Bolehkah aku meminta satu hal?” tanyanya.

“Berhentilah menjadi Baby Breath tapi jadilah cantik seperti mawar merah jambu.Orang-orang mengatakan bahwa bunga ini berarti rasa terimakasih yang besar.Aku berterimakasih karena kau mencintaiku sampai detik ini.Saranghae Soyeon-ah,kau sahabat terbaik kami” jelasnya sambil meletakkan buket mawar diatas tempat peristirahatan terakhirku.

“Nado saranghae,Luhan-ah” sahutku dan tersenyum.Kemudian secercah cahaya terang dari langit muncul,mungkin sudah saatnya aku kembali ke alamku.Luhan berjalan pergi menjauh dari pemakaman.Aku masih terpaku menatap punggungnya hingga menghilang.

“Gomawoyo,Luhan-ah.Aku bisa beristirahat dengan tenang sekarang” ucapku lirih.

 

END

Annyeong haseyo,aku author baru disini..
ini fanfiction pertamaku,mohon bimbingannya #bow

Author: Jasmine Hwang

93Liner's |SMlovers | Exostan | Teleporters

One thought on “My Love,My Pain

  1. huhuhu bikin mewek ceritanya keren

Here We Need Responsibilities. Thanks!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s