EXO Fanfiction Dorm

EXO as the Main Cast

Secret Love

1 Comment

Gambar

Tittle       :      Secret Love

Author      :      Chiput

Rate         :      G

Genre       :      Romance, Sad, Comedy, and Fantasy

Length      :      Oneshot

Main cast   :      Chanyeol exo and A girl (Kim Nana)

Support cast      :      Kris exo , d.o exo and A girl (Hyerin)

 

Note:

harap maklum aja yaa kalo ceritanya sedikit ngelantur, hehehe… namanya juga hoby🙂

Happy reading🙂

Burung merpati putih terbang dengan kedua sayapnya yang indah, membawa sepucuk surat cinta untuk pasangan kekasih… Membuat semua insan tersenyum melihatnya dan menjadi simbol cinta abadi untuk seluruh dunia…

 “Aku ingin menjadi seekor merpati putih”  ujarku menatap ke arah jendela.

“Kau sudah menjadi merpati putih anakku.. merpati putih untuk ibu dan ayah” jawab seorang wanita kira-kira berumur 30 tahunan.

Beliau adalah ibuku. Beliau sangat menyayangiku lebih dari dirinya sendiri. Dan itu terbukti karena beliau selalu menemaniku sepanjang kondisiku . Selain ibu, ayah juga selalu menemaniku bersamanya dan tak lupa sebuah kursi roda berwarna putih dan hitam yang juga setia menemaniku.

“Saatnya kau minum obat dan siap-siap mengikuti terapi sayang,,” kata ibu.

Aku segera memeluk ibu erat-erat dan menangis dipelukkannya.

“Ibu… sudah 6 bulan berlalu, namun kondisiku masih seperti ini.. apa aku tak bisa menjadi seekor merpati putih?” kataku sambil terisak-isak.

Air mata ibuku ikut jatuh membasahi rambutku.

“Nana sayang, Nana anakku… Ibu sudah katakan padamu, kau sudah menjadi merpati putih untuk ibu dan ayah. Ini.. ibu punya sesuatu untukmu” ujar ibu sambil memberikan sebuah kotak kecil berwarna putih.

“Cermin? Indah sekali cermin ini bu…” kataku sambil memegangi kotak berisi cermin tersebut.

“Itu hadiah dari nenekmu untuk ibu dulu sebagai tanda sayangnya pada ibu. Sekarang cermin itu menjadi milikmu sebagai tanda sayang ibu padamu nak.” ucap ibu.

“Terima kasih bu..” kataku sambil memeluk ibuku kembali.

 Beberapa menit kemudian…

“Annyeonghaseyo Kim Nana .. bagaimana? Sudah siap untuk menjalani terapi hari ini?” tanya seorang wanita muda berpakaian rapi.

Hari ini adalah jadwalku untuk terapi berjalan. Selama 6 bulan penuh aku berusaha keras untuk dapat berjalan seperti dulu, sebelum aku lumpuh.

***

 

Keesokan hari….

Kriinngggg,,,,, kriiinnggggg,,,,

Sebuah alarm berbunyi tepat di telingaku. Menandakan fajar telah bersinar terang sembari memberikan senyuman untukku. Selamat pagi dunia, selamat pagi untuk keluargaku tercinta dan selamat pagi untuk diriku yang masih saja tak bisa terbang. Namun, sebelum pagi menjelang, masih ditengah gelapnya malam aku terbangun akan sebuah gambaran maya yang sedikit memberiku kebahagiaan. Gambaran maya yang mengisahkan kenyataanku yang sebaliknya.

Tookk tookkk…..
“Kau sudah bangun sayang?” kata ibu sambil membuka pintu kamarku.

“Ohh.. apa yang kau lakukan sayang? Woohh.. Kau menulis lagi? Apa yang kau tulis kali ini sayang?” tanya ibu lagi.

“Masih merpati putih ibu. Namun, semalam aku bermimpi aneh bu.” jawabku.

“Apa yang kau mimpikan anakku? Apa mungkin kau stress? Sebaiknya kita refreshing saja untuk menyegarkan badanmu nak” ujar ibu.

Ibuku bermaksud menemuiku untuk mengajakku jalan-jalan keluar rumah. Kebetulan hari ini adalah hari minggu.

Beberapa menit kemudian…

Angin berhembus begitu sejuknya. Kuncup-kuncup bunga mulai bermekaran dan burung-burung lain bersenda gurau kian kemari. Namun ada satu yang tertinggal.. sang merpati putih kecil yang masih berada dalam sebuah sangkar besar menghadangnya.

“Nah, ada yang ingin balon dan coklat adek-adek?” tanya seorang badut yang berdiri di dekat taman bermain.

“Ibu.. bisakah kita kesana? Badut itu…” tanyaku mengajak ibu.

“Haloo.. apakah aku juga boleh minta balon dan coklatnya?” tanyaku menjulurkan tangan pada si badut.

Si badut dan ibuku tertegun melihat sikap anehku.

“Aaahh.. tentu saja gadis cantik,, ini untukmu.. tapi maaf hanya sebuah balon, coklatnya sudah habis” kata si badut.

“Terima kasih…” jawabku sambil tersenyum padanya.

Kriiinnggg.. kriingggg…

Telpon ibuku berdering.

“Nana sayang,, apakah kau masih ingin disini? Ibu akan pulang sebentar untuk menengok bibi dan pamanmu yang datang.. “ kata ibu

“Pergilah bu.. Aku masih ingin disini,,” jawabku.

Tak lama kemudian ibuku beranjak pergi meninggalkanku berdua dengan si badut. Beberapa detik, si badut membuka kostumnya dan menyapaku.

“Siapa namamu ? Aku Chanyeol..” ucapnya.

Dia 2 tahun lebih tua dariku, dan dia adalah seorang pria.

“Aku Kim Nana, oppa.. apakah kau bahagia menjadi seorang badut?” tanyaku.

Dia sedikit terkejut dengan pertanyaanku. Sehingga dia terdiam sejenak dan memandangiku.

“Hmmm.. pertanyaanmu ini bermaksud untuk menanyakan perasaanku atau kau menghinaku?” jawabnya dengan nada cukup pelan dan hati-hati.

“Tentu saja perasaanmu.. apa kau tidak lihat kondisiku seperti apa? Apakah ada kesempatan untukku menghinamu?” ucapku dengan tersenyum.

Dia hanya terdiam mendengar ucapanku.

“Menjadi seorang badut bukan hanya sekedar pekerjaan saja, namun juga dapat membuat hampir seluruh dunia ini tertawa dan senang melihatnya” ucapnya.

“Itu artinya.. kau menyukainya?” ucapku.

“Iyaa,, aku sangat menyukai pekerjaanku. Dan sejauh ini, pekerjaanku tidak pernah membebaniku dan selalu membuatku bahagia. Meskipun penghasilannya tidak seberapa, yang paling penting adalah ini suatu hal yang bisa aku lakukan sesuai dengan keinginan hatiku tanpa ada yang memaksa” jawabnya.

Mendengar ucapannya itu, aku tersentuh dan tak kuasa menahan tangis terharu.

“Gamsahamnida..” ucapku sambil meneteskan air mata dan tersenyum padanya.

“Kee.. keenapa kau menagis? Apa aku salah bicara?” ucapnya heran.

“Anio.. aku hanya terharu mendengar ucapanmu.. Baiklah aku harus pulang, terima kasih..” ucapku mulai menggerakkan kursi roda.

Dia berencana untuk mengantarku pulang. Disepanjang jalan kami tertawa bersama karena aksinya yang lucu dan konyol dengan memakai kostum badut.

Beberapa menit kemudian aku telah sampai dirumah. Setelah mengantarku pulang, dia kembali lagi untuk bekerja.

“Terima kasih sudah mengantarku pulang..” jawabku

“Sama-sama, apakah kita bisa bertemu lagi?” tanyanya.

“Ne.. kita bisa bertemu di taman” jawabku.

***

 

Malam hari telah tiba..

Seperti biasa, ibuku datang ke kamarku untuk mengucapkan selamat tidur dan mengecup keningku.

“Selamat tidur sayang, mimpi yang indah..” ucap ibu.

Setelah ibu meninggalkanku, aku menulis buku harian seperti biasanya.

Hari ini.. merpati putih bertemu dengan sesosok badut yang lucu dan menggemaskan. Dia memberikan sebuah catatan penting untuk memberikan semangat hidup pada semua insan di dunia.

Beberapa saat kemudian aku pun tertidur dengan memeluk kotak cermin.

# mimpi

“Tempat ini lagi? Sebenarnya dimana aku? Hah? Aku bisa berjalan lagi? “ ucapku sambil menengok kanan kiri lalu menengok ke bawah.

“Annyeonghaseyo…..” ucap seseorang yang tiba-tiba muncul.

“Aigoo… Siapa kau?” ucapku dengan nada terkejut.

“Hehehehehe… Aku Bapak Perimu gadis cantik,,,” ucapnya.

“Hah? Maksudmu apa? Ayah Peri? Setauku.. bukan Ayah Peri, tapi Ibu Peri..” jawabku sambil tertegun.

Dia hanya tertawa terbahak-bahak mendengar jawabanku.

“Anio… anio… Ibu Peri itu jika aku adalah seorang wanita, tapi aku adalah laki-laki.. maka aku adalah Ayah Peri,,, hehehehehehe” ucapnya sambil menggoyangkan jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri.

Mendengarnya seperti itu serta penampilannya yang aneh dengan pakaian kaos putih kedodoran beserta celana pendek putih didampingi kaos hitam putih panjang beserta sepatu bisbo di kakinya dan syal tipis di bagian lehernya, aku pun ikut tertawa bersamanya.

“Aigoo.. Cukup tertawanya,, saatnya aku memberikan sebuah informasi penting untukmu Nana. hehehehe” ucapnya.

“Kau tau namaku?” ucapku terkejut.

“Ne.. Aku ini penunggu kotak cermin yang kau peluk saat tidur.. Dan aku adalah sumber informasi yang ingin kau tanyakan tentang segala sesuatu di dunia nyata” jelasnya.

Peri itu memberi tau bahwa aku sekarang ada di dunia cermin, dimana semuanya kebalikan dari dunia nyata. Disini aku bisa berjalan dan berlari sesuka hati tanpa merasakan sakit.

Beberapa saat kemudian..

“Eeemmbbb.. jika kau memang seorang peri, mengapa penampilanmu seperti orang sedang ingin bermain bisbol? Kenapa kau tidak menggunakan sayap dan tongkat ajaib?” ucapku sedikit tersenyum sengit.

“Hehehehehe….. itu kan peri di zaman dulu ! Sekarang sudah beda, zaman sudah modern.. Jadi aku tidak boleh ketinggalan,,,  Apalagi.. gaya baju ini, seperti yang dipakai oleh D.O EXO idolaku. Jika aku ingin pergi kemanapun tidak perlu sayap dan tongkat ajaib lagi.. Hanya tinggal klik smartphone ini,, aku sudah bisa kemana-mana..” jelas si peri.

“Haha.. Arraso,,,” ucapku sedikit tertawa.

“YAA ! Kau tidak percaya kalau aku memang seorang peri? Ini… KTP ku ( Kartu Tanda Peri)..” ucapnya sambil memberikan sebuah kartu padaku.

“Hahahahaha,, ternyata didunia cermin juga ada tanda pengenal? Lucu sekali… Aigooo” ucapku.

“Sudah.. sudah.. apa yang ingin kau tanyakan padaku?” ucapnya.

“Hah? Apa ya? Hmmm… Aku ingin tau, kira-kira ada tidak ya orang yang akan menjadi sahabat baikku? Aku kesepian.. “ ucapku dengan raut wajah sedih.

“Ne.. Ne… Ada,, orang itu tidak hanya akan menjadi sahabat terbaikmu, tapi juga kekasih yang baik untukmu…ucap sang peri.

***

 

Krrrkkkk….. Krrrkkkk…

Suara gorden membangunkanku dari tidur. Aku terbangun dan sudah melihat ibuku di depan tempat tidur dengan membawakan sarapan untukku. Semenjak aku cacat, dia tidak pernah sedikit pun melalaikan waktu makanku.

“Sayang.. bangun,, hari sudah terang.. “ ucap ibu sambil tersenyum.

Seperti biasa, selain ibu membawakanku sarapan, dia juga membantuku mengantar ke kamar mandi. Seperti biasa pula, selesai aku mandi dan sarapan, aku tidak lupa untuk menulis buku harian yang semua isinya tentang kejadian yang telah aku alami.

Semalam… merpati putih berlari-lari di sebuah taman yang indah. Betapa senangnya si merpati putih bisa terbebas dari sangkar yang selama ini menghalanginya. Si merpati putih kemudian bertemu dengan seorang peri yang baik hati dan ramah. Dia memberi tau si merpati putih bahwa dirinya akan bertemu dengan teman baik sekaligus pasangan hidup yang baik untuknya.. Siapa yang dimaksud?????

Beberapa jam kemudian…

Sepupuku dari Busan datang mengunjungiku dengan teman prianya.

“Annyeonghaseyo… bagaimana kabarmu Eonni? “ ucapku menghampiri Hye Rin Eonni.

“Yaa.. sepupuku yang cantik,,, aku baik.. bagaimana denganmu?” jawab Hye Rin memeluk lalu mencium pipiku.

Beberapa saat kemudian, Hye Rin Eonni mengenalkanku pada teman laki-lakinya itu. Namanya Kris. Dia pindahan dari Kanada, namun dia masih ada keturunan dari orang Cina dan cukup fasih berbicara bahasa Korea.

Semenjak perkenalan itu, beberapa hari kemudian aku semakin akrab dengan Kris oppa. Dia sering membelikanku barang-barang lucu dan mengajakku jalan-jalan bersama atau tanpa Hye Rin Eonni. Sesaat terlintas ucapan dari si peri kalau aku akan memiliki sahabat yang baik dan akan menjadi kekasih yang baik untukku. Itu artinya dia adalah seorang laki-laki dan laki-laki yang dekat denganku saat ini hanya Kris oppa. Aku bertanya-tanya dalam hati apakah mungkin Kris oppa orangnya.

Merpati putih saat ini sedang bimbang, dia malas untuk mengepakkan sayapnya di dalam sangkar. Si Merpati putih yang berharap ada sebuah tangan besar membukakan sangkar untuknya kini terkabul. Tangan besar itu mulai membukakan sangkar untuknya. Namun masih separuh perjalanan.

***

Hari minggu..

Hari ini Kris oppa menelponku untuk mengajakku jalan-jalan ke taman. Sesampainya disana, dia tiba-tiba menatapku dan ingin membicarakan hal yang serius padaku. Saat itu hatiku berbdebar-debar tidak karuan melihat hal aneh pada Kris oppa.

“Nana-ssi , aku ingin berterus terang padamu. Aku menyukai kakamu Hye Rin. Menurutmu bagaimana?” tanyanya dengan memegang kedua tanganku.

“Mwo..? Hye Rin eonni?” tanyaku dengan terkejut.

“Ne.. bagaimana menurutmu?” ucapnya.

“Aaahh… bagus, ooppaa… Kalian sangat serasi..” jawabku terbata-bata dengan sedikit senyum kecewa.

***

 

Di kamar tercinta..

Harapan si merpati putih tiba-tiba berubah menjadi sebuah kekecewaan. Tangan besar itu ternyata melukainya dan tak bisa membukakan sangkar sepenuhnya untuk si merpati putih. Adakah tangan besar lain yang dapat menolongnya???

“Itu hanya sebuah mimpi, mengapa aku harus percaya? Sekarang hanya sakit hati yang aku rasakan.. Selain itu, mengapa aku sudah tidak bermimpi peri itu lagi ya? Dia seperti lari dari tanggung jawab saja” omelku.

Semenjak saat itu, aku memutuskan untuk tidak menemui Kris oppa lagi.

***

 

Keesokan hari…

Aku berpamitan pada ibu dan ayah untuk jalan-jalan ke taman. Mereka tak ku izinkan mengantarku kesana. Akhirnya aku diizinkan meskipun sedikit berat hati.

“Dimana si badut itu ya?” ucapku sambil menengok kanan kiri.

“Annyeonghaseyo…. Nana-ssi… Kau mencari badut yang keren ini ya?” ucap Chanyeol dengan memberikan aku balon dan cokelat dari arah belakangku.

“Waahh… gumawo oppa,,” jawabku sambil tersenyum padanya.

“Ne.. Kau tidak bersama pria pirang itu?” tanyanya.

“Mwo? Pria pirang? Siapa?” tanyaku bingung.

“Hahaha.. maksudku laki-laki yang bersamamu kemarin siang” jawabnya.

“Aahhhh… dia Kris oppa, bukan pria pirang? Hehe.. “ jawabku.

Sejalannya waktu tak terasa hari sudah menjelang malam. Aku dan Chanyeol oppa bermain bersama bersenda gurau di taman bersama anak-anak kecil. Chanyeol oppa ingin mengantarkanku pulang saat itu, namun tidak aku perbolehkan karena tak ingin merepotinya. Sehingga dia menurutinya dan aku pulang kerumah sendiri.

***

 

Dirumah..

Malam itu ayah dan ibu sangat khawatir aku berangkat dan pulang sendiri dari taman. Namun, demi kebahagiaanku mereka rela mengizinkanku meskipun dengan hati berdebar-debar. Saat itu juga, tidak biasanya setelah cuci tangan, menggosok gigi dan membasuh muka aku langsung pergi tidur sebelum menulis buku harian. Aku tidak menyadari jika buku harianku sudah tidak bersamaku.

 

***

Keesokan hari…

Betapa terkejutnya saat aku ingin menulis buku harian, buku itu tidak ada di meja belajar. Aku mencari kesana kemari dengan kursi rodaku.

“Ottoke? Ottoke? Dimana buku harianku? Mengapa tidak ada?” gerutuku dengan raut wajah bingung.

Betapa kecewa dan sedihnya aku kehilangan buku harian yang selalu menemaniku selama ini. Tak lama kemudian, untuk menghilangkan kesedihanku, aku memutuskan untuk pergi bermain ke taman.

“Oppaa..” panggilku.

“Aahhh… Nana-ssi, tunggu ya..” ucap Chanyeol oppa.

Beberapa menit kemudian Chanyeol oppa menghampiriku setelah membagi-bagikan hadiah dan menghibur anak-anak.

“Hmmm,, Nana-ssi.. Yaa! Mengapa wajahmu terlipat seperti itu?” tanyanya sambil mencolek hidungku.

Aku menceritakan kesedihanku akan buku harianku yang hilang. Tiba-tiba setelah mendengarkan ceritaku, dari tas yang dipakai Chanyeol oppa, dia mengeluarkan buku harianku.

“Mwo? Ini buku harianku, oppa? Bagaimana bisa padamu?” tanyaku terkejut dan meraih buku itu dari tangan Chanyeol oppa.

“Kemarin aku menemukannya di kursi taman, aku tak tau itu milik siapa? Kemudian aku membukanya untuk mencari tau nama pemiliknya.. Namun aku tak menemukannya, jadi tak disengaja aku membaca isinya.. Mianhe…” jelasnya dengan raut muka bersalah.

“Anio… kau tidak salah oppa,, tidak ada hal yang penting dan rahasia disini, hanya saja.. tanpa buku ini.. aku menjadi lebih kesepian lagi” jawabku dengan memeluk buku itu.

“Jinjja? Kau tidak marah padaku?” tanyanya dengan nada terkejut.

“Anio..” jawabku dengan menggelengkan kepala.

“Aigooo… jantungku hampir meletus,,.” jawabnya dengan mengelus dada.

“Hehehehe… gumawo, oppa..” ucapku tersenyum.

“Ne.. Eemmbbb, Kau tau tidak? Hasil tulisanmu itu bagus sekali.. Apakah itu kata-katamu sendiri?” ucapnya

“Ne… oppa,,” jawabku.

Dia sangat menyukai tulisan-tulisan yang ada dalam buku harianku. Dia menyarankanku untuk mendaftarkan diri menjadi seorang penulis di beberapa redaksi majalah. Namun, karena kondisiku ini.. aku tidak terlalu menyukainya. Akan tetapi, seperti biasa Chanyeol oppa memberiku motivasi diri sekaligus membujukku untuk mengikuti sarannya.

“Ne.. oppa. Aku akan mencobanya” ucapku dengan tersenyum.

“Nah… akhirnya jurusku ampuh juga,, hehehehe… Dengan senang hati aku akan mengantarkanmu kesana,” ucapnya.

“Jinjja? Eemmmbb… gumawo, oppa…” jawabku sambil memegang kedua tangannya.

***

 

Keesokan harinya aku bersama Chanyeol oppa pergi menuju ke salah satu tempat redaksi majalah setelah berpamitan dengan ayah dan ibu. Baru kenal saja, mereka sudah mempercayaiku bersama Chanyeol oppa.

Di Kantor redaksi majalah Myungyeong..

“Annyeonghaseyo.. ada yang bisa saya bantu?” ucap seorang pegawai.

“Annyeonghaseyo.. begini, nuna.. Saya Chanyeol dan ini teman saya Kim Nana.. Kami bermaksud untuk mendaftarkan teman saya ini untuk menjadi penulis disini” jelas Chanyeol oppa.

Pegawai itu sudah paham dengan penjelasan mereka. Kemudian menyuruh mereka kembali 2 hari lagi ke kantor itu dengan meninggalkan beberapa hasil tulisan sebagai tahap awal.

***

 

2 hari berlalu…

Hasil tulisanku ternyata diterima oleh pihak redaksi, namun aku masih harus mengikuti satu tes lagi untuk meyakinkan mereka. Akhirnya aku menyetujuinya dan meneruskan tulisanku yang sempat terputus sebagai syarat untuk lolos tes.

Entah mengapa, seakan-akan aku tak bisa berpikir untuk meneruskan tulisanku. Karena ini merupakan kisahku, akan tetapi saat ini kisahku masih tidak ada yang spesial. Kemudian aku mencoba mencari inspirasi di taman. Namun, sesampainya disana aku juga masih belum bisa menemukan kelanjutannya. Dengan membawa buku harian dan kotak cermin aku termenung didekat kursi taman. Tiba-tiba beberapa saat kemudian, hujan mengguyur dan membasahiku yang tak sempat berteduh.

“Kau basah.. pakai ini ya?” ucap Chanyeol oppa mengejutkanku.

“Mwo? Oppa? Anio.. aku tidak apa-apa” jawabku.

Dia memberiku jaket miliknya dengan memakaikannya. Sesaat dia memakaikan jaketnya untukku, kami tak sengaja saling berpandangan dan tiba-tiba Chanyeol oppa mencium keningku.

“Mianhe.. Aku…” ucapnya dengan raut muka bersalah.

Aku sempat terkejut dengan perilakunya itu. Aku memberanikan diri untuk bertanya.

“Eemmbb,, oppa.. apa maksudmu melakukan itu?” tanyaku.

“Aaa…” ucapnya terbata-bata.

“Tidak apa-apa oppa, aku tidak marah padamu.. aku hanya bertanya?” ucapku meyakinkannya.

“Eemmbb… Geure,, …” ucapnya.

Sesaat dia terdiam menatapku. Aku pun ikut terdiam.

“Saranghaeyo…Nana-ssi” ucapnya.

Aku kaget sekali mendengar ucapannya itu. Namun, aku masih terdiam dengan raut muka tertegun.

“Kau marah? Mianhe… tak seharusnya aku bicara seperti ini padamu. Tapi aku tidak bisa membohongi perasaanku sendiri” jelasnya.

Saat itu pikiranku jadi tidak karuan, serasa tak percaya ada seseorang yang mengatakan hal tersebut dengan kondisiku seperti ini. Aku hanya terdiam dan meneteskan air mata dengan memandanginya.

“Nana-ssi.. Mianhe,,” ucapnya panik.

“Anio oppa,, kau tidak salah.. aku menangis bukan marah padamu, tapi aku hanya tak percaya ada orang yang mencintaiku dengan kondisiku seperti ini” ucapku.

Kami saling berpelukan ditengah-tengah derasnya hujan. Dari kejauhan, aku melihat si peri dengan mengenakan payung putih sambil membawa smartphonenya tersenyum dan menunjukkan jempol ke arah atas padaku.

***

 

6 bulan kemudian..

Dokter menyatakan bahwa setelah aku menjalani terapi dengan teratur selama 6 bulan ini, aku dapat berjalan normal lagi seperti semula. Tidak hanya itu, meskipun tulisanku sebagai syarat lolos tes belum selesai, aku sudah diterima menjadi penulis tetap redaksi majalah tersebut berkat kisahku, kedua orang tuaku ,seseorang yang menyayangiku serta menerimaku apa adanya, Chanyeol oppa dan tidak lupa juga Ayah Peri yang menuntunku menemui pangeran impianku.

Burung Merpati Putih, kini telah terbebas dari sangkarnya. Tangan besar dan hangat yang menolongnya. Kini merpati putih terbang kian kemari bersama semua impiannya dan pasangan sejatinya. Tangan besar dan hangat itu adalah si peri baik hati yang entah bagaimana cara hidupnya. Namun, merpati putih tetap berterima kasih padanya.Berkatnya… kebahagiaan untuk si merpati putih datang.

“Nahh… para pembaca,, sekarang sudah tau kan? Jika kita selalu bersemangat menjalani kehidupan, seberat apapun itu.. maka akan ada kebahagiaan yang menanti kita… Ok Ok Ok?? Hehehehehe…. Ayah Peri pergi dulu ya,, mau shopping baju style D.O EXO terbaru…. dahhhhhh” ucap Ayah Peri.

SEKIAN

 

 

 

One thought on “Secret Love

  1. chingu ini cerita fiksi atau nyata?

Here We Need Responsibilities. Thanks!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s