EXO Fanfiction Dorm

EXO as the Main Cast

Run

4 Comments

dark-night-sky-space-stars-Favim.com-75067

I Like When Unexpected Thing Happens

Sebuah fanfiction untuk EXOstan,

Terkhusus Luhan Stan.

Oleh Blanco

Oneshot | 2500+ words | Little Romance, School Life | PG-13

Luhan, Byun Baekhyun, Wu Yifan (Kris), Zhang Yixing (Lay), Kim Minseok (Xiumin), Kim Jongdae (Chen), Kim Jongin (Kai), Oh Sehun, Huang Zitao, Do Kyungsoo (Dyo), Park Chanyeol, Kim Junmyeon (Suho), Wu Ririn (OC)

Disclaimer: Semua cast bukan milik author terkecuali OC. Ide murni dari author.

Seoul. 09.05 PM.

Malam yang cerah. Bulan penuh muncul dengan anggun. Bintang-bintang bertebaran di sekitarnya. Ikut meramaikan langit malam.

Bel pulang sekolah baru berbunyi sekitar tiga menit lalu. Namun seseorang sudah tergesa-gesa keluar dari halaman sekolah. Ia harus menyelesaikan sesuatu yang penting. Setidaknya menurutnya begitu.

Saat itu suasana jalan agak remang. Cahaya hanya berasal dari lampu-lampu jalan. Kebanyakan murid-murid pulang berkelompok-kelompok. Pemandangan yang sudah dihapal di luar kepala.

Ia sampai di depan halte dekat sekolah. Dilihatnya seorang gadis baru saja duduk di bangku halte itu. Ia langsung memperlambat langkah. Dibetulkannya letak ranselnya yang disandang sebelah. Lalu berjalan mendekati halte.

Gadis itu sedang mengeluarkan ipod dari ransel. Ketika Luhan sampai di depannya.

“Luhan?”

Luhan hanya menyunggingkan senyum khasnya. Kemudian memposisikan diri duduk di sebelah Ririn.

Ririn segera memasukkan ipod-nya kembali.

“Tak apa, tak apa! Kalau kau mau mendengarkan musik silahkan saja,” ucap Luhan merasa tak enak.

“Haha, tak usah,” jawab Ririn sekedarnya, lalu berdeham. “Kris mana?”

“Mm … itu, Kris bilang dia pulang agak malam. Kami … ada sesuatu yang harus dikerjakan,” Luhan mengusap-usap tengkuknya.

“Yixing juga?”

“Haha, iya,” tawa Luhan. Menyisakan segaris matanya dan pipi bagian bawah mata yang berkerut.

Ririn memutar bola mata, “Kenapa tak bilang sejak awal? Berarti, aku harus pulang sendiri, begitu, ya?” keluhnya. Lebih kepada diri sendiri. Ia mendongakkan kepala lelah dan menghembuskan napas. Kalau Kris ada urusan, pasti tak pernah lupa membawa-bawa Lay dan Luhan.

“Tapi tenang saja. Kami tidak bertiga, kok. Kali ini Xiumin juga ikut,” senyum Luhan, seakan membaca pikiran. Ia melihat gadis itu ingin tersenyum juga. Namun ditahan.

Dasar, kekeh Luhan dalam hati melihat itu. Kemudian memalingkan wajah sambil memijat-mijat kedua lututnya.

“Kenapa Xiumin Oppa ikut?” tanya Ririn sungguh-sungguh.

Luhan melihatnya lagi. Namun justru gadis itu yang mengalihkan pandangan. “Huh? Karena kami mau mengerjakan tugas kelompok kami.”

Ririn mengerutkan kening heran, “Haruskah Yixing … ?” ia tak habis pikir.

Awalnya Luhan tak mengerti. Tapi setelahnya ia menangkap maksud pertanyaan Ririn, “Ah .. itu,” ia memetikkan jari telunjuk, “kami mengerjakan tugas seni musik. Kau tahu sendiri, kan, aku, Kris, dan Xiumin tak bisa alat musik. Bayangkan bagaimana jadinya jika tak ada Yixing?” Luhan tertawa kecil.

Ririn segera maklum. Kali ini ia ikut tertawa. Tadi ia heran. Sebegitu pentingkah Lay bagi Kris dan Luhan sampai harus ikut menemani mereka mengerjakan tugas? Lay bahkan berbeda tingkatan dengan mereka. Setahun di bawah Kris, Luhan, dan Xiumin.

“Jadi kau ke sini karena disuruh Kris memberitahuku?” canda Ririn, menekankan kata ‘disuruh’. Lalu memandang Luhan.

Luhan tersenyum. Gadis itu sudah berani menatapnya. Luhan tertawa kecil, “Ya, begitulah.”

“Kau pasrah sekali, sih,” ucap Ririn.

“Haha, aku tak pernah merasa disuruh, sebenarnya.”

“Oke, oke, aku tahu. Teman sejati, kan?”

Luhan hanya tersenyum. Dalam hati ia mengiyakan.

Tak lama siluet segerombolan orang terlihat mendatangi mereka. “Nah, itu mereka,” tunjuk Luhan pada sebelas manusia di depan.

Ririn mengikuti telunjuk Luhan. Ia langsung berdiri.

“Rin?” ujar Luhan tiba-tiba.

“Ya?”

“Ranselmu terbuka.”

“Masa, sih?” Ririn berusaha melihat ke belakang walau sia-sia, “Apa aku lupa mengancingnya, ya, saat mengambil ipod tadi?”

“Biar aku saja,” Luhan segera mengancingkan ritsleting ransel Ririn.

“Terima kasih,” ucap Ririn kaku.

Sebelas laki-laki lainnya semakin mendekat. “Yehet! Ririn!” seru Baekhyun. Ririn memelototi Baekhyun. Sementara Baekhyun hanya tersenyum jahil.

“Rin, kau pulang dengan yang lain, oke? Aku, Luhan, Lay, mau ke rumah Xiumin,” ujar Kris.

“Mm-hm. Luhan sudah bilang.”

“Oh,” Kris melirik Luhan aneh. Tapi tak terlalu peduli, “Suruh saja Baekhyun menemanimu di rumah. Kalau mau Sehun, Jongdae, Kai, Tao ikut lebih baik.”

Tao gusar, “Eh … aku pasti dimarahi ibuku kalau pulang lama.” Suasana hening.

Kai membuka suara, “Memangnya kami mau menemani Ririn?” ujar Kai menyebalkan. Ririn melirik tajam.

“Iya. Memangnya kami mau kau suruh-suruh, Kris?” tanya Sehun lebih menyebalkan.

“Wah, kau berdua sudah berani, ya?” geram Kris menunjuk Sehun dan Kai.

“Sejak kapan kami takut?” ejek Sehun. Beberapa dari mereka tergelak.

Chanyeol memanas-manasi, “Pukul! Pukul! Pukul!”

“Kalian semua bisa lebih dewasa tidak, sih?” omel Dyo yang sejak tadi diam.

Chen tertawa senang menonton mereka. Xiumin hanya tersenyum kalem, seperti seorang ayah yang melihat anak-anaknya berkembang. Lay tak berekspresi seperti biasanya.

Suho menenangkan Kris sambil menepuk-nepuk dada Kris, “Sudahlah, Bro. Mari kita pulang.”

“Ya, sudahlah. Aku juga tidak keberatan di rumah sendiri. Sudah biasa,” cetus Ririn. Lalu berlalu kesal. Tak tahu harus kesal dengan siapa. Kris hanya terdiam menatap punggung adiknya.

“Yah, kan. Dia marah,” ucap Baekhyun.
Lay langsung berseru dengan tangan melingkari mulut, “Ririn! Maafkan aku! Besok-besok kau pulang pasti kubonceng dengan sepeda! Aku janji!”

“Kalau begitu, aku mau mennyusulnya dulu,” ucap Baekhyun pelan. Luhan―yang tanpa sadar mulutnya setengah terbuka―memandang Baekhyun berlari. Sampai siluet Baekhyun menghilang di belokan.

Kai dan Sehun saling tatap. Lalu terkekeh bersama berhasil membuat Ririn marah.

“Jadi, kan, ke rumahku?” tanya Xiumin setelah keadaan mereda.

“Minseok Hyung, kalau membuat lagu, aku mau ikut membantu juga. Taka pa, kan?” ucap Chen.

“Ide bagus!” seru Xiumin.

Mereka pun bergerak meninggalkan halte itu. Luhan mengikuti di belakang dengan Kris di sebelahnya.

Luhan mengecek layar ponsel hampir setiap menit. Kris memperhatikan dengan curiga tapi tak berkomentar.

Yang ada di pikiran Luhan saat ini hanya anak itu.

***

“Lagu cinta yang terkesan ceria, ya?” gumam Chen sambil berpikir. Lay sedang serius memain-mainkan gitar, berusaha mencari kunci. Mereka sedang di ruang tamu Xiumin saat itu. Beberapa gelas kopi dan makanan terhidang di meja. Luhan duduk di sofa paling pojok dengan pikiran yang melayang ke rumah Kris. Apa yang dilakukan anak itu dengan Baekhyun? Hanya berdua pula.

Kris duduk melipat lutut depan dada. Ia mengangguk pasrah menanggapi Chen, “Kau bayangkan kami bertiga sekelompok dan harus membuat lagu seperti itu? Maksudku, pengalamanku dan Minseok dalam hal cinta benar-benar payah.”

“Kau saja yang payah. Aku tidak,” ucap Xiumin tersinggung. Dan memang benar yang dikatakannya. Pasalnya, Kris pernah ditolak oleh orang yang diam-diam diperhatikan selama tiga tahun. Bagaimana tidak? Gadis itu tak mengenal Kris karena Kris tak pernah mendekat. Tiba-tiba sudah mengatakan suka. Dan menyedihkan sekali ditolaknya. Mereka bersebelas tambah Ririn melihat semua proses kegagalan itu.

Kris mendecakkan lidah kesal, “Kecuali kalau kau tanya Luhan. Lihat, mungkin dia sedang menunggu pacar barunya menelepon,” ia mengedikkan dagu pada Luhan yang memainkan ponsel.

“Lu-ge,” panggil Xiumin, Luhan tak mendengar. “Luhan!”

“Ya?” Luhan tersadar.

“Kau mau mengerjakan ini tidak, sih?” komentar Xiumin.

“I-iya, baiklah,” Luhan beringsut mendekati mereka. Baru saja duduk sebelah Xiumin, ia merasa ponselnya bergetar. Tanda pesan masuk.

“Bagaimana kalau kita menentukan tema lagunya dulu?” tanya Chen. Akhirnya mereka larut dalam diskusi gagasan-gagasan perorang.
Luhan diam-diam membuka pesannya. Luhan? Hanya itu. Dari nomor tak dikenal.

Luhan segera mengetik balasannya dengan gugup. Ya. Ini siapa?
Kali ini dibalas agak lama. Luhan uring-uringan sendiri.

Drrt. “Ah!” pekik Luhan hampir tak terdengar. Ia buru-buru membuka pesan. Rasanya Luhan hampir meledak saat membacanya.

“Teman-teman, aku keluar sebentar ya? Ada telepon dari ibuku,” ucap Luhan menghentikan diskusi.

Yang lain mengangguk-angguk maklum sekarang. Orangtua Luhan memang ada di Beijing. Jadi ia sering menerima telepon ibunya. Begitu juga Kris yang orangtuanya di Kanada namun berasal dari Guangzhou. Sementara keluarga Lay di Changsa.

“Salam buat ibumu! Dari Yixing!” teriak Lay yang memang kenal dekat keluarga Luhan.

“Aku juga!” ikut Kris. Luhan memberi isyarat ‘oke’ dengan tangan.

“Kalian percaya itu dari ibunya?” tanya Xiumin penasaran.

“Kenapa tidak?” tanggap Chen sambil memakan kacang. Lay―yang menggigit pick gitar―dan Kris, memandang Xiumin.

“Hanya … aneh saja. Ini malam Sabtu. Ibunya biasa menelepon saat malam Minggu atau Minggunya, kan?”

Kris mengibaskan tangan, “Sudahlah, mungkin sesuatu yang penting. Lanjut.”
Jreng~ Lay mulai bermain lagi.

***

Baekhyun mengikuti Ririn naik ke kamarnya. Gadis itu melempar ransel ke atas kasur lalu duduk.

Nuansa kamar itu dipenuhi warna-warna gelap. Kalaupun ada warna terang maka itu kuning dan putih. Sementara kasurnya ditutupi bed cover biru tua dan bantalnya putih polos. Sejauh mata memandang, tak ada barang yang benar-benar terlihat girly. Baekhyun tak melihat ada alat-alat rias.

Kamar ini persis seperti pemiliknya. Kamarnya bisa untuk laki-laki dan perempuan. Ririn mungkin tak terlalu menyukai hal-hal girly, tapi tak sampai menyerupai laki-laki. Mungkin, Ririn hanya terlalu kasar untuk ukuran perempuan.

“Kau ngapain, sih, masuk kamar anak perempuan?” tanya Ririn risih.

Baekhyun berdiri di depan Ririn, “Jadi ini kamar perempuan?” Baekhyun pura-pura bodoh.

Buk! Ririn memukul perut Baekhyun dengan punggung tangannya.

“Sudah kubilang, kan, kau bukan perempuan,” ucap Baekhyun sambil mengusap perut.

Ririn tak menanggapi Baekhyun. Tumben sekali, menurut Baekhyun. Ririn sekarang malah meraih guling dan memangkunya.

“Kau masih marah karena tadi?” Baekhyun penasaran.

Yang ditanya menggeleng, “Aku sama sekali tidak marah. Sedikit, sih, karena kata-kata Si Anak Hitam tadi.” Baekhyun mengangguk-angguk mengerti. Siapalagi kalau bukan Kai yang dimaksud. “Tapi bukan dia masalah utamanya.” Baekhyun tak mengerti.

“Tapi Luhan,” ujar gadis itu.

Baekhyun semakin tak mengerti, “Bukankah … kau seharusnya senang?” Hanya Baekhyun yang tahu perasaan Ririn pada Luhan. Karena itu Baekhyun ingin sekali menggodanya di halte tadi kalau tidak dilarang Ririn.

“Kalau mengenai senang-tidak senang, hanya melihat dia saja aku senang. Apalagi bisa berbicara seperti tadi? Tapi … bukan maksudku berlebihan atau apa, Baek,” Ririn melihat telapak tangannya dan menyentuh jantung, “Hatiku tak kuat, sungguh. Tanganku sampai dingin tadi. Itulah kenapa aku buru-buru pergi,” Ririn menatap Baekhyun dengan menyedihkan.

Baekhyun ingin menahan tawa. Tapi ia tak tahan dan justru menyemburkan tawanya.

“Sialan kau, Baekhyun! Ludahmu muncrat!” Ririn mengusap wajah dengan kemeja seragam. Hal ini sering menimpa Ririn kalau Baekhyun tertawa.

Baekhyun masih terkekeh habis-habisan. Sambil memegang perut, ia mengibaskan-ngibaskan tangan, “Sorry, sorry. Tapi, sungguh, kau … ah, sudahlah,” ia menghapus air di sudut mata. Baekhyun takut Ririn tersinggung. Tapi ia tak menyangka saja Ririn bisa seperti itu.

Baekhyun mengusap bawah hidung dengan telunjuk. Diraihnya tangan Ririn. Ririn memperhatikan dengan was-was. Baekhyun menggenggam tangan Ririn, “Tidak dingin.”

Ririn memutar bola mata, “Sudah dari tadi, Baek. Sekarang berkeringat. Lihat saja telapaknya.” Telapak tangan Ririn terbiasa berkeringat dan bergetar sejak kecil.

Baekhyun mengelus telapak tangan Ririn dengan ibu jari, “Haha, iya. Wah, tanganmu gemetar juga,” ia diam, “Apa kalau bersamaku kau justru bergetar?” senyum Baekhyun.

Ririn menarik tangannya, “Aish!”

“Haha! Kkaepsong!”

Buk! Ririn memukul bahu Baekhyun keras. “Aw! Kau bisa lembut tidak, sih?” Baekhyun meringis.

“Aku mau bereskan buku untuk besok sajalah,” Ririn mengambil ransel. Ia membalikkan ransel itu dan menumpahkan semua isinya begitu saja di atas kasur. Baekhyun hanya bisa menghela napas. Seperti tidak ada cara lebih halus.

Ririn beranjak ke rak buku-buku. Sementara Baekhyun iseng melihat-lihat isi tas yang ada di atas kasur.

“Rin,” panggil Baekhyun.

“Hm?”

“Kau sudah dapat nomor Luhan, ya?”

“Nomor apa, sih?”

Baekhyun mendengus, “Nomor ponsellah. Kaupikir nomor sepatu?”

“Oh … itu. Belum. Sudah kubilang aku hanya mau kalau orangnya sendiri yang kasih,” ucap Ririn ketus sambil mencari-cari buku, “Mana, sih ….” ia bergumam.

“Kenapa?” tanya Ririn sambil membawa beberapa buku ke kasur, “Kau mau mengejekku lagi karena kau punya dan aku tidak?”

“Bukan …,” Baekhyun mengerutkan kening melihat secarik potongan kertas, “Ini kanji ‘Luhan’ bukan, sih? Rasanya mirip dengan yang di Weibo Luhan.” Baekhyun membalikkan kertas itu agar Ririn bisa melihat. Ririn segera merebut kertas itu.

鹿晗. 82-877-7705-7706

“Ini bukan mirip …. Memang iya!” tanggap Ririn, “Coba kau cek nomor Luhan di ponselmu.”

Baekhyun menggeser screenlock ponselnya. Mencari nama Luhan. Lalu mencocokkan nomor yang ada di tangan Ririn, “Sama.”

Ririn memegang kepala yang mendadak pusing, “Aku bersumpah tak pernah meminta nomornya,” ia kemudian mencoba mengingat-ingat. Selang beberapa detik, “Ah!” Ririn memukul lengan Baekhyun, “Apa mungkin … saat dia menutup ranselku tadi?”

“Kau bicara apa, sih?” Baekhyun tak habis pikir.

“Ingat tidak saat kalian datang ke halte tadi? Kau lihat, kan, Luhan mengancing ranselku?” Ririn mencengkeram lengan Baekhyun.

“Ah … iya, iya, yang itu. Aduh, sakit, Rin. Yang kubilang ‘yehet’, tadi, kan?” Baekhyun mengelus lengan kurusnya.

Ririn mengangguk cepat, “Tapi … apa Luhan tipe orang yang melakukan hal seperti ini?”

Baekhyun mengangkat bahu, “Bisa jadi. Harusnya kau senang.”

Perlahan, senyum Ririn mengembang. Matanya menerawang, “Benar …. Harusnya aku senang,” sedetik kemudian Ririn memekik, “Baekhyeoon! Demi apapun! Senang sekali!” Ririn memukul-mukul bahu Baekhyun tanpa ampun. Sementara Baekhyun hanya tertawa sambil berusaha melindungi bahu.

“Ah, tapi sebenarnya aku biasa saja. Senang, sih. Tapi, biasa sajalah,” Ririn mengibaskan tangan sok cool setelahnya. Lalu berdeham.

“Ah, tapi sebenarnya aku biasa saja. Senang, sih. Tapi, biasa sajalah,” Baekhyun mengejek anak itu dengan mengimitasi kata-kata dan gerakan Ririn, “Omong kosong. Sebenarnya kau sangat senang, kan?” Baekhyun tersenyum sambil mencolek dagu Ririn.

Aish. Kau apa, sih? Jangan sentuh daguku!” Ririn mengusap-usap dagu dengan lengan baju, “Walaupun aku senang begini, dalam hatimu kau cemburu, kan?”

Baekhyun mengernyitkan dahi memandang Ririn, “Apa kaubilang?”

Hening.

“Haha! Kkaepsong! Mampus, kau kena. Sekarang kita seri,” Ririn terkekeh.

Baekhyun tersenyum, “Dasar.”

“Bagusnya kita apakan nomornya?” tanya Ririn.

“Dibawa ke orang pintar lalu dipelet,” jawab Baekhyun jengkel.

Ririn berdecak kesal, “Yang masuk di akal saja, Baek.”

“Pertanyaanmu yang tak masuk akal. Ya, diteleponlah. Atau paling tidak, kirim pesan,” Baekhyun duduk di kasur sambil membuka-buka buku tulis Ririn. Penasaran oleh tulisan Ririn.

“Begitu?” Ririn mengikuti saran Baekhyun dan mengetik pesan baru.
Ini Luhan? Ririn menggeleng dan menghapus kembali. Ia takut Luhan menyangka ia terlalu berharap kalau itu benar Luhan. Luhan? Begitu lebih baik. Kirim.

Sekitar lima detik kemudian, ponsel Ririn bergetar. Ya. Ini siapa? balas Luhan. Ririn tersenyum. Lalu, harus jawab apa?

Baekhyun hanya memperhatikan dari sudut mata.

“Baek, dia tanya aku siapa?”

Baekhyun mendongak, “Oh. Jawab saja.”

“Begitu?” Ia berpikir-pikir lagi harus mengetik apa. Ah, sudahlah. Jadi diri sendiri saja. Haha, ini aku, Ririn. Kirim.

Ririn mondar-mandir di kamar menunggu balasan. Ia melihat Baekhyun, “Heh, siapa suruh kau duduk di kasurku?”

“Memang kalau duduk di kasurmu harus disuruh dulu, ya?”

“Menyingkir,” Ririn menggebuk Baekhyun dengan bantal, “Aku tak suka kasurku diduduki orang.”

“Berarti kalau ditiduri, boleh?” Baekhyun segera telentang di atas kasur.

Ish,” Ririn bersiap-siap memukul Baekhyun lagi. Namun tertahan karena nada dering ponsel yang tiba-tiba terdengar. Nomor Luhan.

Ririn membuang bantal ke kasur dan langsung mengangkatnya, “Halo?”

***

“Ha-lo,” Luhan tergagap. Namun langsung menguasai diri, “Halo. Ini benar Ririn?” tanya Luhan tak tahan menyembunyikan senyum.

“Bukan, ini adik Wu Yifan,” jawab Ririn dari ponsel.

Luhan tertawa kecil. Ia juga bisa mendengar gadis itu ikut tertawa.

“Luhan, aku mau tanya,” jeda sebentar, “Kau yang menaruh nomormu di tasku, ya?”

Luhan tersipu, “Haha, iya.”

“Oh … aku hanya bertanya saja, sih.”

Selang beberapa detik tak ada yang berbicara.

“Sudah selesai tugasnya?”

“Kau sedang apa?”

Mereka bertanya di saat yang sama. Kemudian tertawa menyadari kebodohan bersama.

“Kau saja jawab duluan,” ujar Luhan.

“Haha. Itu … tadi mau menyusun roster untuk besok. Kau?” Ririn balik tanya.

“Um … kami belum mendapat tema lagunya. Tapi santai saja, masih seminggu lagi.”

“Dasar.”

“Baekhyun sedang apa?”

“Eh … Baekhyun? Dia … tidur-tiduran di kasur. Sudah kubilang tak boleh naik ke kasurku. Tapi anaknya memang tak bisa diajak bicara bahasa manusia. Jadi, yah ….”

“Ririn, aku dengar!” seru Baekhyun yang terdengar oleh Luhan.

Luhan tertawa kecil, “Kau sama sepertiku. Aku juga tak suka tempat tidurku disentuh.”

“Yang benar?”

“Mm-hm,” mereka terdiam. “Kris bilang, kau suka tidur larut malam, ya?” tanya Luhan.

“Haha, bisa dibilang begitu. Kau?”

“Aku juga,” gelak Luhan, “Aku suka nonton bola tengah malam.”

“Kris juga bilang padaku, kau memang maniak bola,” ujar Ririn, “Apa-apaan, sih, Kris itu membicarakan semua orang?”

“Biarkan saja,” ucap Luhan dewasa, “Ya, sudah. Aku harus kembali, oke? Kasihan mereka masih pusing mencari ide.”

“Oh, oke.”

“Jangan tidur malam-malam, Rin. Nanti kau punya lingkar mata seperti Tao. Oh, ya, suruh Baekhyun pulang.”

“Oke, oke! Kausuruh aku memukulnya saja aku senang.”

Luhan menanggapinya dengan tawa.“Oke, bye.”

“Eh, Luhan?”

“Ya?”

Jeda sejenak, “Yang semangat!”

Luhan tersenyum, “Pasti!”

Ia pun mengakhiri panggilan.

***

(Saran: putar lagu Run – EXO)

Sementara itu, empat yang lain masih memeras otak. Berharap menelurkan ide. “Xing, kau belum dapat ide juga? Biasanya kau paling mudah membuat lagu?” Kris mulai suntuk. Walaupun dari tadi tak memberi saran apa-apa.

Lay terlihat masih berpkir keras sambil memejamkan mata, “Siapa bilang mudah? Lagipula aku terbiasa membuat sendiri. Bukan beramai-ramai seperti ini. Pikiranku jadi bercabang. Dan kalian tahu aku bukan spesialis lagu-lagu ceria.”

Mereka semua segera bersandar ke sofa mendengar itu.

Luhan tiba-tiba muncul kembali sambil meninju-ninju udara senang.

“Waa, ada yang bahagia,” seru Chen.

“Kenapa kau?” Xiumin memandang Luhan yang sumringah dengan curiga.

“Yang ditelepon ibu seperti diterima melamar anak gadis orang saja, haha,” sindir Chen.

Luhan menepuk tangan sekali lalu mengepalkan tangan dengan mantap, “Tidak apa-apa! Mari kerjakan ini bersama-sama! Hwaiteeeng!” ia menepuk tangan lagi dan lagi. Semua terheran. Meskipun tampang heran Kris tak jauh berubah dengan tampang datarnya.

“Sudah dapat tema?” tanya Luhan semangat.

“Belum,” jawab Kris.

“Oke! Kita membuat yang simpel saja. Usulku, kita membuat lagu tentang …,” Luhan mendeksripsikan sarannya dengan gerak tangan yang menggebu, “Bagaimana?” Luhan menjentikkan jari.

Xiumin setengah menganga. Bukan karena ide Luhan luar biasa. Lebih kepada aneh melihat Luhan yang tiba-tiba. Lantas mengibaskan tangan, “Terserahmu sajalah. Daripada kita tak beranjak dari sini.”

Kris setuju-setuju saja. Chen mengangguk-angguk, “Ya, bolehlah.”

Lay ikut menjentikkan jari―meski tak berbunyi, “Ha! Tadi aku sempat berpikir begitu juga!”

Luhan mengangguk-angguk senang karena gagasannya diterima, “Masalah lirik, aku saja yang membuatnya.” Kris langsung menoleh. Bertahun-tahun mengenal Luhan semenjak di Cina, Kris tahu persis Luhan bukan penyair. Tapi Kris memilih bungkam.

Tanpa sadar, binar mata Luhan semakin terlihat jelas. Bangga dengan idenya sendiri.

Luapan kebahagiaan seorang pria yang membuatnya ingin berlari bersama gadis yang disukai? Haha, ide macam apa itu?

FIN

Muahahah. Gimana, gimana? Ngemalesin banget kan ff-nya? Ya, namanya juga usaha-,- Makanya, jangan pada lupa komen~😀 Yang komen aku doain semoga  berjodoh yah sama bias wkwkwkwk x) Budayakan komentar yang membangun! ^^

XOXO LOVE

Blanco

 

Author: blanco0719

EXO, Luhan, Baekhyun, KrAyHan, KaiBaek, singing, writing, drawing, imagining, photo-editing, fangirling 24/7, blogging, cholerist-melancholist, O, Cancer, 96line, ENFP-T

4 thoughts on “Run

  1. ff’a bguss loh thor bhasa’a enjoy bnget tp klo bole ngasi saran bckground’a jgn yg wonderfull/fullcolor krn font’a ga bsa kbca dhl syg loh ff’a bguss tp krn mslh wrna font sm bckground’a *sorry* nyalitin mata bnget jd something gtu dihati just opinion loh .. saya cmn readers yg mrsa prlu mmbri saran🙂 but overall good btw thnks before{}

    • hehe makasih banget ya uda baca + nyempetin komen🙂
      masalah background + warna2 dan segala macam, aku disini cuman author =,=’
      jadi kalo mo ngasi saran ke owner ato adminnya aja langsung~😀
      makasi sarannya🙂

  2. Ceritax bagus thor, tp ak ngrasa alurx trlalu lambat n kdang brbrlit-belit..
    #apa mungkin perasaanq z y…hahaha
    Lanjut!! Ditunggu

Here We Need Responsibilities. Thanks!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s