EXO Fanfiction Dorm

EXO as the Main Cast

[FREELANCE] Regret – Oneshoot

4 Comments

regret

Regret

Author: Sunshine Jung | Casts: Kris Wu, Jessica Jung, Xi Luhan, Tiffany Hwang | Genre: Hurt, Marriage Life | Rating: PG 15 | Length: OneShoot | Poster by Prinse Artwork
***

“Aku pergi.”

“Kris..”

Kris melangkah semakin jauh meninggalkan Jessica. Jessica hanya bisa menatap punggung Kris yang semakin tak terlihat. Kris telah berubah, Jessica sangat menyadari itu. Kris semakin jarang memiliki waktu untuk berkencan dengannya, berkomunikasi lewat ponsel juga hanya pembicaraan basa basi.

“Kris..”

.

.

.

.

Siang ini Jessica pergi hanya sekedar menghilangkan bosan. Jessica bosan. Biasanya, Kris akan menemaninya jalan-jalan dan membelikan ice cream untuknya, mengatakan ‘Semakin hari, kau semakin cantik.’ dan kemudian mengecup keningnya. Kris-nya sudah berubah. Kris-nya sekarang berubah menjadi Kris super sibuk dan sangat dingin. ‘Apa Kris bosan denganku?’ batinnya.

Langkah Jessica terhenti di salah satu taman terbuka di kota Seoul. Mungkin suasana hijau taman dengan banyak penjual balon serta anak-anak yang berlarian kesana kemari dapat membuat suasana hatinya tenang.

Jessica seperti terhantam ribuan batu saat ini. Matanya tak berbohong, kan? Ia melihat Kris. Apa itu benar Kris? Ya! Itu benar Kris! Kris-nya saat ini sedang duduk sambil menggenggam tangan seorang perempuan yang ia ketahui bernama Hwang MiYoung atau Tiffany yang selama ini menjadi rekan kerja Kris. Jessica sangat ingin menangis dan melarikan diri. Sebelum Jessica meninggalkan tempat sialan itu, ia mengendap-endap berjalan kearah Kris dan memotret namjanya dengan ponselnya.

Jessica menangis hebat melihat hasil fotonya. Jessica kemudian berlari meninggalkan taman yang ia kira dapat menyembuhkan hatinya, tapi ternyata malah membuat hatinya yang hancur lebih hancur lagi menjadi kepingan-kepingan kecil.

 

Jessica menabrak seseorang. Lengkap sekali deritanya hari ini.

“Jeosonghamnida.” Jessica berkali-kali membungkuk 90 derajat. Kemudian menghapus air matanya yang menempel pada pipinya, dan kemudian pergi menjauh. Jessica berlari ke apartemennya. Apartemennya hanyalah satu-satunya tempat agar ia bisa menangis dengan puas.

.

.

.

.

Jessica berlari menuju kamarnya, membanting dirinya keatas kasur dan duduk bersandar pada headboard kasur queensize-nya. Jessica benar-benar merasa jiwanya terombang ambing. Ia bingung. Ia tak mungkin memutuskan hubungannya dengan Kris begitu saja. Ia sangat mencintai kris. Sangat. Apa ia harus menerima perjodohan yang dikatakan eommanya seminggu lalu? Jessica kembali menangis. Tangisan Jessica dapat terdengar diseluruh penjuru kamar.

“Astaga, eonni! Ada apa denganmu?” Krystal Jung langsung memasuki kamar Jessica dan memeluk Jessica erat.

“Tidak bisakah kau ketuk dulu pintunya sebelum masuk?” Jessica tetap pada posisinya, duduk meringkuk menyembunyikan kepalanya.

“Aku sudah mengetuknya puluhan kali, tapi tidak ada yang membukakan pintu. Ada apa denganmu eonni? Ceritakan padaku.” Jessica bangkit dari posisinya, menghadapkan wajahnya kepada adik kesayangannya itu.

“Ini tentang Kris.”

.

.

.

.

“Aku pulang dulu, eonni. Pikirkan baik-baik.” Krystal meninggalkan Jessica dengan senyum manisnya. Jessica membalas senyum Krystal kemudian menutup pintu apartemennya. Ia pergi ke ruang tamu dan memikirkan semuanya.

‘Eonni, kukira tak ada salahnya jika kau dijodohkan dengan Luhan oppa. Untuk apa kau masih mengharapkan Kris yang tengah mencintai orang lain? Jangan sampai kau menyesal, eonni.’ Kata-kata adiknya itu menghujam jantung Jessica. Benar apa yang dikatakan Krystal. Tak mungkin ia akan selamanya menjadi milik Kris. Jessica mengambil ponselnya, dan segera menelpon Krystal.

“Yeoboseyo eonni.”

“Aku sudah memikirkan matang-matang. Kupikir aku akan menerima perjodohan itu. Sampaikan pada eomma.”

“Kau membuat keputusan yang tepat, eonni. Arasseo. Akan kusampaikan pada eomma.”

‘Apa aku telah mengambil keputusan yang tepat?’ Jessica kembali menatap kosong kearah meja ruang tamu apartemennya.

.

.

.

.

Malam ini Jessica habiskan dengan diam. Tidak seperti malam-malam biasanya, ia akan menelpon Kris dan disambut suara dingin sang namja. Mulai detik ini, Jessica akan menjauhi Kris.

Tok. Tok. Tok.

 

Jessica menoleh. Kemudian beranjak kearah pintu.

“Cheogiyo? Oh, eomma. appa. Soojung. Silahkan masuk.” Jessica mempersilahkan kedua orang tuanya masuk dan kemudian duduk bersama di ruang tamunya.

“Kau benar-benar serius kan, sayang? Appa harap begitu.”

Jessica tetap diam, menunduk. Kemudian Krystal yang berada disampingnya menggenggam tangannya, mengangguk. Jessica mengerti itu.

“Usiamu sudah hampir 26 tahun Sica. Kau tahu betapa khawatirnya eomma, kan?

“Ne, eomma, appa. Aku serius. Aku akan menerima perjodohan ini.”

Tuan Jung mengelus lembut rambut anaknya itu. Jessica tersenyum. Sepertinya ia tidak mengambil keputusan yang salah.

.

.

.

.

Pagi ini Jessica dan keluarganya tengah bersiap untuk menemui keluarga Luhan. Ia memakai dress soft pink, rok putih selutut dan sepatu putih. Dandanan yang natural dan rambut coklat panjangnya yang dicurly pada bagian bawah membuatnya terlihat semakin sempurna. Jessica benar-benar cantik hari ini.

“Aigoo. Anak eomma cantik sekali hari ini.” Eomma Jessica menyentuh pipi tirus anak sulungnya itu yang diikuti senyum manis dari bibir Jessica.

“Sudah siap? Ayo berangkat.”

.

.

.

.

Keluarga Jessica telah sampai di kedai makanan yang memang sudah dijanjikan. Keluarga Xi menyambut keluarga Jung dengan hangat.

“Annyeong Tuan Jung.”

“Ah, annyeong Tuan Xi. Jadi, bagaimana?”

“Semuanya siap. Luhan juga menyetujuinya.”

“Ah, sempurna. Mari kita laksanakan pernikahan secepatnya.”

.

.

.

.

Setelah pertemuan tersebut, Jessica segera kembali ke apartemennya. Ada sesuatu yang harus ia lakukan secepatnya. Memutuskan hubungannya dengan Kris. Memikirkannya membuat air mata Jessica jatuh untuk kesekian kalinya. Tidak. Ia harus menemui Kris dan memutuskan hubungannya dengan cepat.

Kring…!

“Yeoboseyo, Sica. Aku sibuk.”

“Kumohon, Kris. Hari ini saja. Setelah ini aku tak akan meminta apapun lagi darimu. Aku berjanji.”

“Apa maksudmu?”

“Temui aku di kedai HaltGrace di dekat toko bunga Cheosamdong. Aku tunggu 15 menit dari sekarang.”

Pip.

Jessica memutus teleponnya. Ia dengan cepat pergi ke kedai makanan HaltGrace sesuai yang ia janjikan. Ia harus datang lebih cepat dari Kris.

.

.

.

.

Jessica sudah menduga Kris akan terlambat. Jessica sampai terlebih dahulu. Kurang lebih 10 menit, Kris datang dan duduk dihadapan Jessica.

“Ada apa, chagiya.” Kris melayangkan senyumnya pada Jessica yang dapat membuat Jessica lebih sakit hati.

“Aku rasa, kita harus mengakhiri hubungan ini Kris. Aku tau ini tak berat bagimu.” Senyum Kris memudar. Ia tidak ingin separuh hatinya pergi. Tidak.

“Jangan bercanda, chagiya. Aku tahu kau bercanda.” Jessica berusaha keras menahan air matanya. Sudah lama Kris tidak memanggilnya dengan sebutan ‘chagiya.’

“Ini bukan candaan, Kris. Pahami kata-kataku tadi. Apa seperti sebuah lelucon? Tidak.” Nafas Kris tersenggal-senggal.

“Ada apa ini? Tidak, sica. Aku menyayangimu.” Jessica mengambil ponselnya.

“Kufikir kau lebih menyayangi Tiffany. Ia cantik dan lebih pantas bersamamu daripada aku.” Jessica menatap foto saat Kris menggengam tangan Tiffany. Air matanya jatuh dari tempatnya, membentuk sungai kecil pada wajah putihnya.

“Lihat ini, Kris! Cocok, bukan? Hihihi.” Jessica menunjukkan fotonya bersama Tiffany saat ditaman, dan berusaha terlihat ceria seperti biasa.

“Jessica.. Kumohon, aku..” Kris tergagap. Ia tak percaya Jessica melihatnya ditaman bersama Tiffany.

“Lagipula aku telah menerima perjodohanku dengan Luhan. Semoga kau bahagia, Kris. Aku pergi dulu. Akan ku undang kau di pernikahanku nanti.” Dengan cepat Jessica meninggalkan Kris dan menaiki bus yang kebetulan baru saja berhenti di halte terdekat.

Kris mematung. Kris menyesali semuanya. Menyesali mengapa ia bertemu dengan Tiffany, mantan kekasihnya saat SMA dulu. Menyesali membuang waktunya sia-sia dengan Tiffany. Ia tidak selingkuh, hanya saja ia menggengam tangan Tiffany waktu itu karena Tiffany yang menggengamnya duluan. Ia tidak menyangka Jessica telah mengetahuinya. Kris menangis. Ia telah kehilangan matahari hidupnya yang belakangan ini ia tinggalkan, dan sampai akhirnya benar-benar ditinggalkan. Kris menangis sejadi-jadinya, ia tak peduli dimana posisinya sekarang.

.

.

.

.

Tibalah saat pernikahan Jessica dan Luhan. Jessica sudah siap dengan gaun putih panjangnya. Jessica benar-benar sempurna, ia seperti bidadari yang turun dari langit. Semua tampak lebih sempurna dengan ruangan gereja yang dihias sedetail mungkin. Para undangan juga sudah datang, termasuk Kris.

Kris benar-benar datang. Acara memang belum dimulai, tapi Kris sudah menitikkan air matanya. Ia melihat Jessica tengah berdiri dan menggengam bunga putih untuk dilemparkan nantinya.

‘Seharusnya aku yang ada disana. Aku yang menggenggam tanganmu dan mengucapkan janji suci dihadapan pendeta dan para tamu, Jessica.’ Kris menangis, ia menutup wajahnya agar orang lain tidak melihat ia menangis.

Jessica sangat gugup. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru gereja. Jessica benar-benar terkejut melihat Kris disana sedang memandanginya. Tatapan Jessica bertemu. Jessica benar-benar ingin menangis melihat mata Kris yang sembab. Sebelum air mata Jessica terjatuh, Luhan telah datang. Pandangan Jessica tertuju pada Luhan. Luhan dan Jessica saling melempar senyum. Sementara Kris, harus kembali menitikkan air matanya.

“Berjanjilah bahwa kau akan menemaninya dalam keadaan apapun. Dalam keadaan sehat atau sakit, kaya atau miskin. dan hidup, atau mati.” Ucap pendeta kepada Luhan

“Saya berjanji bahwa saya akan menemaninya dalam keadaan apapun. Dalam keadaan sehat atau sakit, kaya atau miskin. dan hidup, atau mati.” Jawab Luhan matang.

“Berjanjilah bahwa kau akan menemaninya dalam keadaan apapun. Dalam keadaan sehat atau sakit, kaya atau miskin. dan hidup, atau mati.” Ucap pendeta kepada Jessica yang sama ucapannya sama persis dengan apa yang dikatakannya pada Luhan.

“Saya berjanji bahwa saya akan menemaninya dalam keadaan apapun. Dalam keadaan sehat atau sakit, kaya atau miskin. dan hidup, atau mati.” Ucap Jessica dengan suara serak, mengikuti ucapan sang pendeta.

“Baiklah. Kalian boleh memberi ciuman pernikahan sekarang.” Ucap sang pendeta.

Luhan melangkah sedikit kedepan, menyejajarkan wajahnya pada wajah Jessica dan mulai menautkan bibir tipis milik Jessica dengan miliknya. Luhan mulai mengulum bibir bawah Jessica dengan lembut. Dibantu oleh Jessica yang membuka mulutnya, Luhan mulai memasukan lidahnya dan bermain didalamnya. Para tamu bertepuk tangan, terkecuali Kris.

Kedua insan yang baru saja mengucap janji itu menghentikan ciumannya, tersenyum satu sama lain. Jessica melirik kearah Kris, Kris sedang menulis sesuatu. Jessica mengerutkan keningnya.

‘Apa yang ia lakukan?’ Jessica terlihat bingung dengan apa yang dilakukan Kris.

Kini, saatnya untuk melempar bunga. Luhan dan Jessica menghadap belakang dan mulai melemparkan bunganya untuk para tamu. Mereka membalikkan tubuhnya dan betapa terkejutnya Jessica melihat Kris yang mendapatkan bunganya.

“Jessica, aku mendapatkannya.” Teriak Kris dengan suara yang sangat serak dan dengan senyum yang sangat dipaksakan. Air mata Kris jatuh begitu saja.

Jessica menangis. Ya, menangis. Jessica tak kuasa menahan semuanya dari awal, terlebih Kris yang mendapat bunganya. Para undanganpun bingung apa yang terjadi pada mereka, termasuk Luhan. Mungkin hanya mereka yang mengerti, dan juga Krystal. Krystal hanya dapat memandang mereka dengan tatapan iba. Ia tahu apa yang tengah dirasakan Jessica dan Kris.

Dengan keberanian yang ia kumpilkan, Kris menghampiri Jessica. Ia memberikan kertas yang tadi ia tulis untuk Jessica.

“Selamat Jessica, kau telah mendapatkan kebahagiaanmu. Aku turut senang.” Ucap Kris dengan tangisan hebat, sampai-sampai membuat Luhan bingung apa yang terjadi pada mereka. Luhan mungkin akan menanyakannya nanti.

“Aku pulang dulu. Luhan, tolong jaga Jessica baik-baik. Jangan sedikitpun kau lukai dia.” Ucap Kris tersenyum paksa sambil menepuk-nepuk bahu Luhan. Luhan menangkap sesuatu. Pasti Jessica memiliki masa lalu yang indah bersama pria ini.

“Tentu. Aku akan menjaganya dengan baik.” Ucap Luhan penuh keyakinan dan beralih mencium kening Jessica.

Kris meninggalkan gereja itu, mengendarai mobil dan pulang kerumah. Tak ada sama sekali terbesit dipikirannya untuk bekerja hari ini. Hidup Kris hampa sekarang. ia tak tahu harus berbuat apa. Ia masih menyayangi Jessica. Sangat. Sepanjang perjalanan, Kris hanya menangis.

.

.

.

.

Jessica dan Luhan telah sampai di rumah baru mereka. Luhan memperhatikan Jessica sedari tadi hanya memandang kosong kertas dari Kris. Jessica terlihat sangat terpukul. Mereka turun dari mobil dan membersihkan diri masing-masing. Jessica selesai terlebih dahulu. Sambil menunggu Luhan, Jessica duduk dikasur kingsize miliknya dan Luhan kemudian membaca kertas dari Kris.

To: Jessica Jung

Selamat atas pernikahanmu, Jessica.
Bagaimana rasanya menikah? Menyenangkan, tidak?
Aku tahu pasti sangat menyenangkan.
Aku juga ingin menikah.
tapi aku hanya ingin menikah denganmu.
Aku hanya ingin kau tahu kalau aku masih mencintaimu.
Aku benar-benar hancur, kau tahu?
Aku kehilangan setengah hidupku.
Aku kehilangan matahariku yang selalu menyinari hariku.
Aku tak tahu harus apa setelah ini.
Apa aku harus menunggumu? Tapi sepertinya tidak mungkin.
Jaga dirimu baik-baik.
Jika kau butuh aku, kau tahu harus menghubungiku dimana.
Tapi sepertinya tidak, kau tidak membutuhkanku lagi.

Satu lagi.
I’m sorry, Jessica. I’m sorry because I’ll still loving you. I’ll love you
as long as I can.
I Love You. I know it’s totally wrong.

                                                                                                Kris Wu.

 

Kini wajah Jessica telah membentuk sungai kecil. Dirasakannya sebuah tangan telah menghapus air matanya. Jessica tahu itu siapa.

“Hm, Luhan? Kau ingin makan? Biar kusiapkan.” Jessica melayangkan senyumnya pada Luhan. Luhan menggeleng. Luhan menggeleng lembut.

“Tidak, lagipula aku sudah banyak makaan di pesta tadi. Oh, aku ingin bertanya sesuatu padamu.” Luhan duduk disamping Jessica, menatap Jessica lembut.

“Pria itu, kau tahu, kan? Ada apa dengannya?” Jessica tersenyum getir.

“Jadi…”

 -END-

4 thoughts on “[FREELANCE] Regret – Oneshoot

  1. wah…..daebak…i almost cry when i read the letter ..

  2. Hallo, aku mau intro, aku quorralicious 91line, bangapta, check http://lovelydeerfanfiction.wordpress.com/ ^^ aku tunggu ya, FF mu bagus sekali aku harap kamu mau join dengan kami, aku sedang mencari author khusus cast Tiffany di sana😀 kunjungin ya ^^ ada YoongFanyEXO main castnya, hehehe, mf ya admin aku numpang promosi😀

  3. Perfect FF,Keep Writing yaa:D

  4. huaaaa.. keren tjor tapi ngegantung yaaaaaa….

    kris sihhh kenapa selalu cuek dan dingin padahal sudah tau dirinya masih mencintai sica…. aduuuh…
    kayaknya luhan udah mulai cinta ama sica.. eec ieeeeeee

    lanjut yaa thor.. sequel dong masa TBC

Here We Need Responsibilities. Thanks!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s