EXO Fanfiction Dorm

EXO as the Main Cast

[FICLET] Special Doctor

Leave a comment

blabla

Special Doctor

Author : Wuu | Maincast : Xi Luhan, Bae Suzy|Genre : Angst, Romance, Friendship | Rating : General | PG : 15

Summary : Bubble boy. Kau pernah mendengar penyakit itu? Sebuah penyakit terkutuk yang menyerang sistem imun tubuhku dan membuatku hanya dapat berdiam diri dalam sebuah ruangan sterilisasi. Mereka bilang aku aman dari berbagai bakteri didalam sana, tapi tempat ii serasa neraka bagiku. Hingga suatu hari aku keluar dari tempat itu dan menemukan kehidupanku yang sesungguhnya.

DIsclaimer : Sudah pernah di publish di wyfnexokingdom.wordpress.com

.

.

.

Siapa aku ini? Aku hanya seorang namja pecundang. Bahkan aku lupa bagaimana rasanya bermain bola. Bagaimana rasanya memegang tangan yeoja. Aku hanya penyendiri.

 

Sudah 3 tahun terakhir hidupku tak sempurna. Kau tahu rasanya hidup tanpa dua bola mata, tanpa tangan, dan tanpa kaki? Kau bisa menganggap hidupku separah itu. Karena memang kedua mata ini tak dapat melihat pemandangan yang dulu kubangga-banggakan. Tangan ini tak bisa menyentuh tubuh siapapun, bahkan pipi eommaku. Dan kaki ini, ia takkan bisa berjalan melewati pintu pembatas ruangan ini. Walaupun aku memiliki semua itu, aku takkan bisa.

 

Namaku Xi Luhan. Kau dapat memanggilku Luhan. 3 tahun lalu sebuah penyakit melekat dalam diriku. Kau tahu apa? Diare. Suatu jawaban paling simple dan kebanyakan orang hanya memandang sebelah mata tentang penyakit itu.

 

Tapi ini serius. Hanya karena sebuah diare berkepanjangan, aku takkan bisa keluar dari tempat ini. Sebuah tempat yang mungkin serupa dengan kamar pada umumnya. Hanya saja terbuat dari lapisan kaca. Beberapa orang dengan jas putih yang merawatku menyebut ruangan terkutuk ini sebagai ruangan steril. Dimana tak akan ada kuman, bakteri, ataupun penyakit yang masuk dalam tubuhku.

 

Sistem imun ini hilang. Entah apa penyebabnya, tapi ia benar-benar hilang dari tubuhku. Aku takkan bisa bertahan dari penyakit apapun. Bahkan flu bisa berakhibat mematikan untukku. Beberapa orang memanggilku Bubble Boy. Setidaknya aku tahu jika nama itu adalah nama dari penyakit yang kuderita.

 

Aku membenci hidup yang seperti ini. Untuk seorang namja berusia 23 tahun, aku hanya dapat berdiam diri didalam kamar? Aku bukan seorang anak 5 tahun. Berkali-kali aku mencoba keluar dari tempat ini. Namun nyaliku tak sekuat itu. Aku tak tega melihat eomma menangisiku ketika aku melampiaskan semua kekesalan ini pada benda-benda disekitarku.

 

Ya, namaku Luhan. Dan inilah kehidupanku.

[–]

 

Suara derhaman orang berbincang terdengar samar olehku. Perlahan aku buka mata ini. Sebuah kilauan dari jendela ruangan ini membuatku mengangkat sebelah tanganku untuk menutupi kilauannya dari mata. Aku tersontak ketika beberapa lengkap dengan jas putih, masker, dan baju sterilnya. Mereka ada didekatku. Seingatku, terakhir kali seseorang masuk dalam rungan ini adalah saat aku terjangkit flu. Sudah pernah kubilang bukan jika flu bisa membuatku mati? Aku koma selama satu minggu hanya karena flu.

 

Aku mengenal beberapa dari mereka. Dokter Shin, dan dokter Kim memang sudah menjadi dokter kepercayaan eomma untuk merawatku. Tapi kali ini beda. Aku melihat seorang yeoja. Matanya menyipit. Mungkin jika aku bisa membuka masker wajah yang ia pakai, aku dapat melihat senyum indahnya. Rambut coklat panjangnya terurai rapi.

 

“Anyyeong Luhan. Suzy imnida.”

 

Pikiranku masih mengayang-ayang. Hingga aku menyadari yeoja itu memberikan seulur tangannya untukku jabat. Dia bodoh atau apa? Aku takkan bisa memegangnya secara langsung tanpa perantara apapun. Aku menggapai sarung tangan yang kuletakkan diatas meja. Kemudian menyentuh tangan itu. Andai aku dapat merasakan lembut sesungguhnya tangan manis itu.

 

Kulihat dokter Shin dan dokter Kim mulai berjalan meninggalakn ruanganku. Tapi justru yeoja bernama ‘Suzy’ ini semakin mendekat denganku. Hingga akhirnya ia duduk manis disampingku. Aku hampir tak percaya akan hal ini. Berani sekali yeoja itu melepaskan masker wajahnya dan memperlihatkan rentetan gigi terulas senyum manis. Aku tak ingin memberikan penderitaan berkepanjangan ini kepada orang lain. Aku segera membenarkan posisi maskernya.

 

“Kau tidak boleh melepasnya disini dokter.” Ucapku polos yang masih sibuk mengikatkan tali masker pada wajahnya.

 

“ Kenapa tidak? Aku hanya ingin melepasnya. Panggil saja aku Suzy. Bahkan aku 1 tahun lebih muda darimu.” Senyuman itu terluas kembali. Namun kini ia sudah benar-benar melepas masker wajahnya. Dan kurasa ia tak mau memakainya.

 

“ Kenapa kau hanya diam? Tidakkah kau ingin berkenalan dengan dokter barumu ini?”

 

Dokter baru? Aku mengangkat wajahku. Apa sudah separah inikah penyakitku? Hingga dua dokter professionalpun masih kurang? Eomma pasti akan lebih menghabiskan banyak uang untukku.

 

“Aku sudah memiliki dokter Shin dan Kim. Lalu kenapa kau datang ?”

 

“ Dokter Shin menyuruhku untuk datang. Aku pernah mengatasi penyakit yang sama seperti yang kau derita. Meskipun pasienku meninggal, setidaknya ia meninggal dengan perasaan bahagia.”

 

Mati? Apa dokter ini menginginkanku secepat itu mati dengan perasaan bahagia?

 

“Kau lapar?”

Nampaknya yeoja ini memiliki pendengaran yang cukup tajam. Bahkan ia dapat mendengarkan suara perutku yang meraung meminta makan. Aku hanya diam. Beberapa kali mencoba menelan salivaku sendiri yang terasa sulit untukku teguk. Mungkin karena aku malu.

 

“ Tunggu. Aku akan buatkan bubur untukmu. Pasienku bilang, buburku ini sangat enak.” Bisiknya padaku.

 

Mataku masih mengikuti bayangan tubuh gadis ini hingga ia keluar dari ruanganku ini. Aku mendengar kicauan burung dari luar. Aku mengenal burung ini. Dia selalu bertengger didepan jendelaku sekitar 1 bulan belakangan. Nampaknya cuaca sangat cerah hari ini. Tapi aku benci melihat cuaca cerah. Dia hanya membuatku cemburu.

 

Kurasa dokter baru itu tidak menepati janjinya untuk membuatkanku bubur. Lama sekali hingga perutku terasa sangat lapar. Bahkan setelah aku menyelesaikan mandi pagiku, ia tak kunjung datang. Aku duduk diatas kursi dan menggapai laptopku disana.

 

Aku tidak tahu kenapa. Tapi setelah bertahun-tahun aku mengidap penyakit ini. Aku tak pernah mencari tahu tentang asal usul penyakitku. Sebenarnya aku hanya ingin tahu, apa ada diantara mereka yang bertahan hidup dan sembuh?

 

Dengan cekatan dan gugup segera kututup laptopku ketika Suzy datang membawa sebuah nampan. Senyuman yang kulihat beberapa waktu lalu masih melekat di bibirnya.

 

“ Ya.. apa yang sedang kau lihat huh? Kenapa terburu-buru untuk menutupnya? Kau tidak sedang melihat hal yadong bukan?”

 

“ A.. aniyo. Tentu saja bukan. Kau sendiri kenapa lama sekali?”

 

“ hehe, karena kulihat eommamu tidak memiliki bahan yang kubutuhkan untuk membuat bubur. Jadi aku harus berjalan beberapa blok untuk membeli bubur ini untukmu.”

 

“Ahh.. ne. Gomawo sudah membelikanku bubur.”

 

Rasa lapar ini tak bisa kusembunyikan lagi. Suzy menyuapiku. Walau sudah kubilang aku bisa makan sendiri. Tapi dia masih bersikeras untuk menyuapiku. Disela sela sarapan pagi ini, Suzy menceritakan beberapa cerita konyolnya padaku. Begitupun denganku. Kami saling berbagi cerita konyol, bahkan menyedihkan. Dan tanpa kusadari bubur yang ia suapkan untukku sudah habis. Aku tersenyum melihat dirinya. Mungkin dia akan menjadi doker paling menyenangkan untukku.

 

Sudah satu minggu aku menganal Suzy. Ia tak pernah absen untuk mengecek kondisi tubuhku setiap hari. Dan obat-obatan yang ia beri tak sebanyak yang dokter Shin berikan padaku. Saat kecil aku selalu bercita-cita untuk menjadi seorang dokter. Tapi aku juga tak pernah tau jika ternyata aku hanya bisa menjadi pasien seorang dokter.

 

Sore ini kulihat hujan deras mengguyur Seoul. Beberapa halilintar terlihat dilangit-langit. Aku sangat senang dengan hujan. Karena ketika hujan datang, beberapa orang merasa terkurung dan tak bisa pergi kemanapun kecuali berteduh. Dan begitulah diriku setiap harinya.

 

Seseorang baru saja menutup pintu rumah. Kulihat Suzy basah kuyup dengan jas putihnya. Rambut panjang, wajah, dan seluruh tubuhnya terlihat basah. Aku ingin sekali membantunya mengeringkan badan. Tapi aku tak akan bisa untuk keluar.

 

“ Bagaimana harimu hari ini Luhan.” Yeoja itu berdiri didepanku. Namun kami berada ditempat berbeda. Tubuh kami terhalang oleh sebuah kaca pembatas ruangan ini.

 

“Aku baik-baik saja. Dan harusnya aku yang bertanya. Kenapa kau hujan-hujanan seperti ini?”

 

“Oh.. mobilku mogok didepan di blok sebelah. Dan aku memutuskan untuk berjalan saja. Toh aku membawa payung. Tapi ternyata ditengah jalan payung itu rusak karena angin yang kencang. Ya, jadi aku berlari saja menuju kemari.”

 

“Kau tidak harus hujan-hujanan seperti itu Suzy. Kau bisa saja sakit.”

 

“Sudahlah, aku mau mandi dulu. Beruntung kemarin aku meninggalkan bajuku dirumahmu.”

 

Aku sedikit khawatir dengan yeoja itu. Walaupun dia bilang tidak apa-apa. Tapi hujan diluar sana deras sekali. Dan bibirnya terlihat lebih pucat dari biasanya. Kuaharap Suzy tidak sakit. Karena jika dia sakit, ia tak bisa masuk dalam ruanganku.

 

[–]

 

Beberapa hari ini aku tidak melihat Suzy datang. Aku hanya melihat dokter Shin dan Kim datang pagi ini. Mereka bilang Suzy tidak bisa datang karena ia terjangkit flu parah. Aku melingkarkan sebuah tanggal dengan spidol merah. Tepat satu minggu Suzy tidak mengunjungiku. Aku benar-benar ingin tahu bagaimana kabarnya saat ini. Dan kurasa aku mulai merindukannya.

 

Suzy adalah satu-satunya orang yang berani mendekatiku tanpa sebuah masker. Dan dia juga satu-satunya orang yang berani memegang tanganku walaupun aku memakai sarung tangan. Disaat semua orang menganggapku monster, dan dia menganggapku seperti boneka kecil yang perlu ia rawat dan ia jaga. Suzy, aku tidak tahu apa ini benar ataupun tidak. Tapi kurasa, aku mencintai sosok Suzy dalam hidupku.

 

Akhir –akhir ini dokter Shin dan dokter Kim datang lebih banyak. Karena aku merasakan sesuatu yang aneh di tenggorokanku kemarin pagi. Mereka melakukan beberapa penyeterilan dalam ruanganku. Bahkan hingga lebih dari tiga kali. Dan mereka memasangkan sebuah selang infus padaku. Tahukah apa yang sedang kujangkit? Aku hanya batuk, dan mereka memperlakukanku seperti aku orang yang sedang kritis.

 

Tapi aku senang, berkat penyakit ini akhirnya aku dapat melihat sosok Suzy lagi. Dia datang dengan sebuah masker diwajahnya dan sarung tangan. Mungkin dia tidak mau menularkan penyakitnya padaku. Dia melepaskan maskernya, hanya berdiri didepan kaca dan tersenyum manis padaku.

 

“Suzy, masuklah. Aku merindukanmu.” Ucapku yang masih terbaring diatas tempat tidur.

 

“ Mianhe Luhan. Aku tidak bisa. Jika aku masuk kau bisa semakin parah.”

 

“Tapi yang membuatku sakit itu karena merindukanmu.”

 

Kulihat raut wajahnya berubah seketika saat itu. Antara sedih dan takut. Suzy nampak menunudkkan kepala. Wajahnya terlihat menandakan rasa kasihan yang teramat padaku. Sebenarnya aku benar-benar tidak ingin dikasihani. Tapi memang seperti ini hidupku, selalu mendapat belas kasih dari orang lain.

 

Hari ini eomma menitipkanku pada Suzy. Karena hari ini eomma ada meeting diluar kota. Sebelum dia pergi, ia sempat memberikanku beberapa nasihat yang sudah beratus kali kudengar dari yeoja yang sangat kucintai itu.

 

Aku masih terbaring disini. Rasa sakit pada tenggorokan yang sudah beberapa hari ini nampaknya semakin parah. Bahkan dokter Kim memasangkan selang perlapasan untukku. Rasanya benar-benar tidak nyaman. Sangat menggu hidungku. Berkali kali aku melepasnya, dan berkali kali pula Suzy memintaku untuk kembali memasang benda menjengkelkan itu.

 

“Uhuuk..”

Kututupi mulutku dengan sebuah sapu tangan agar virus batuk ini tidak menyebar luas di tempat ini. Kurasakan sesuatu baru saja melejit keluar dari mulutku. Dan ketika aku melihat sapu tanganku, segumpal darah sebanyak ujung ibu jari sudah membekas disana. Bahkan bentuknya tidak cair seperti darah biasanya. Ini berupa gumpalan.

 

Suzy yang dari tadi sibuk dengan pekerjaannya, tiba-tiba mengetuk kaca ruanganku beberapa kali setelah menyadari aku terbatuk. Dan aku tak ingin Suzy melihat semua ini. Aku memilih untuk menyembunyikan sapu tanganku.

 

“ Luhan, kau baik-baik saja?”

“Ne. Aku baik baik saja. Sudahlah, kau lanjutkan saja pekerjaanmu.”

“Ne.”

 

[–]

 

Entah pukul berapa saat ini. Aku terbangun dari tidurku. Perlahan aku membuka kelopak mata ini. Telingaku mendengar batuk Suzy yang terdengar tak berhenti henti sejak tadi. Kulirik sebuah jam dinding di ruangan ini. Pukul 3.00 pagi. Dan Suzy masih belum membaringkan tubuhnya dari pagi.

 

“Suzy.. Suzy..”

“Ne? Ada apa Luhan?”

“Sebaiknya kau tidur, batukmu akan semakin parah jika kau tidak tidur.”

“Oh, aku sudah biasa tidur pagi hari. Kau tidur saja. Sebentar lagi aku akan menyelesaikan tugas ini.”

 

Aku tahu Suzy berbohong. Aku memutuskan untuk tetap terjaga malam ini. Mengubah posisi tubuhku untuk dapat lebih leluasa memandangi wajah Suzy diluar sana. Hanya beberapa menit. Sepertinya aku tidak jago dengan urusan tidur pagi hari. Sedikit demi sedikit mataku terpejam. Dan terbuka lagi ketika mendengar suara. Kemudian terpejam lagi.

 

‘Braakk’

 

Suara itu terdengar jelas ditelingaku. Membuatku tersadar dari tidur. Aku segera melepaskan selang infus yang berada ditanganku. Tubuh Suzy sudah tumpang diatas lantai-lantai. Dan haruskah? Haruskah aku keluar dari ruang sterilisasi untuk pertama kalinya?

 

Aku bingung bukan main. Berkali-kali mencoba membangunkan Suzy dengan memanggil namanya dan mengetuk-ngetuk keras kaca ruanganku. Namun rupanya tubuh Suzy tidak beraksi sama sekali. Keringat dingin mengguyur tubuhku. Aku tidak tahu harus berbuat apa untuk menyelamatkan Suzy. Jika aku keluar dari tempat ini, itu sama saja aku bunuh diri. Tapi aku tidak bisa membiarkan Suzy seperti ini.

 

Tak ada siapapun saat ini. Dan aku tak memiliki ponsel didalam ruanganku. Tetesan darah sedikit mengalir ditangaku karena aku melepaskan infus itu dengan kasar. Aku berlari mendekati pintu keluar dari ruangan ini. Aku benar-benar harus menolong Suzy, walaupun itu akan berakibat buruk untuku.

 

Kurasakan atsmosphir yang berbeda ketika aku membuka pintu itu. Aku meneteskan air mataku dan berdoa semoga ini adalah jalan terbaik yang kupilih. Aku berlari mendekati Suzy dan menggendongnya menuju mobil. Aku pernah mengemudikan mobil sebelumnya, dan aku berharap kali ini kemampuanku tidak hilang begitu saja. Aku mencoba melakukan persis seperti bertahun-tahun lalu. Dan bisa.

 

Mobil ini adalah mobil lamaku. Aku melajukannya dengan kecepatan tinggi. Aku tak ingin terjadi apa-apa dengan Suzy.Ada apa denganmu Suzy? Kenapa tiba-tiba saja kau pingsan?

 

Kami sudah sampai. Ini adalah rumah sakit. Sekali saja aku masuk dalam tempat ini. Sama saja aku masuk dalam sebuah lubang penuh dengan ular kobra. Kenapa? Karena disana adalah sumber segala virus dan penyakit. Sterilisasi selama bertahun tahun tidak akan membuat kekebalan tubuhku kembali. Dan jika aku masuk ketepat itu sama saja aku memberikan tubuhku teroyak oleh jutaan virus. Dan tubuhku tak bisa melindungiku.

 

Tapi jika semua itu kulakukan agar Suzy selamat. Aku takkan pernah takut. Aku membopong tubuh gadis itu memasuki rumah sakit yang nampak sepi ini. Walaupun terasa berat dan beberapa kali hampir terjatuh. Aku tetap membawa Suzy ku.

 

Waktu sudah menandakan pukul 5 pagi. Untung saja ada beberapa dokter jaga disana. Suzy sudah berada di tangan yang tepat. Aku duduk disebuah ruang tunggu. Masih mengatur detak jantungku yang tak pernah kurasakan berdetak lebih dan lebih cepat. Bahkan kecepatan jantungku saat ini sempat membuatku merasakan sakit pada dadaku. Napasku masih belum berjalan normal. Dan hingga beberapa saat masih belum normal. Mataku terasa berat untuk tetap terjaga. Dan terakhir yang kulihat adalah seorang perawat yang berlari kearahku.

 

 

[Suzy POV]

 

Aku mencoba membuka mata ini yang terasa lebih berat. Sebuah langit-langit berwarna putih menjadi pandangan pertamaku. Kualihkan pandanganku, kulihat eomma disana. Dan ia berkata Luhan yang membawaku. Awalnya aku tak memperhatikan ucapan eomma. Hingga kembali aku bertanya siapa yang membawaku kemari. Luhan? Dia membawaku kemari? Itu hampir terdengar tidak mungkin.

 

Aku baru saja akan menelfon dokter Shin dan dokter Kim. Tapi sebuah decitan pintu terbuka terdengar. Gagang telefonku terjatuh begitu saja ketika mata ini menangkap sosok Luhan berdiri disana. Aku segera mendekatinya.

 

“Ya!! Kenapa kau keluar dari ruang sterilisasi? Kenapa kau berada disini saat ini? Kenapa kau..”

 

Aku merasakan tangisku pecah dibalik dada bidangnya yang mendekapku penuh kasih. Tanpa menjawab semua pertanyaanku yang belum selesai, ia sudah memeluk diriku dalam. Aku mengusap air mataku ketika Luhan melepaskan pelukannya.

 

“Hei dokter, aku juga ingin menjadi seperti pasienmu sebelumnya. Tidakkah kau ingin melihatku bahagia? Besamamu..”

 

Aku tidak tahu pasti apa yang ia katakan saat ini. Ia mengangkat lembut daguku. Air mataku kembali terpecah mendengarkan ucapannya. Aku ingin membuatmu bahagia Luhan. Tapi tidak untuk pergi seperti pasienku sebelumnya.

 

Hari ini dokter sudah memperbolehkanku pulang. Luhan mengajaku ketaman sore ini untuk merayakan kesembuhanku. Aku mengenakan sebuah dress jalan-jalan dengan aksen bunga pink, sebuah cardigan, dan sepatu flat. Luhan sudah menjemputku. Ia berpenampilan sangat rapi dengan sebuah mawar putih ditangannya untuku.

 

Sebuah pohon rindang menjadi pilihan kami sore ini. Duduk berdua ditemani semilir angin dan orang yang paling kucintai.

 

“Suzy, taukah kau. Ini pertama kalinya aku berkencan.”

“ Benarkah? Apa kau menyukainya Luhan?”

“Ya, aku sangat menyukai kencan ini. Tentang kau, tempat ini, dan kebebasanku. Jika bukan karenamu, aku tak akan bisa keluar dari tempat menyebalkan itu Suzy. Dan karenamu pula, eomma dapat mengijinkanku keluar dari tempat itu.”

 

Aku tidak tahu harus menjawab apa saat ini. Aku mencoba menepis air mataku dan memberikan seulas senyuman untuknya.

 

“Luhan, kau tau bukan jika dunia luar sangat buruk untuk kesehatanmu? Bisakah jika aku memintamu kembali keruang sterilisasi?”

 

Aku tidak mendengar sebuah jawaban darinya. Hanya sebuah ulasan senyum. Dan beberapa detik kemudian ia menggapai kepalaku dan menyandarkan pada dadanya.

“ Kurasa tidak perlu. Percuma untuk melakukan semua itu. Aku akan tetap mati cepat atau lambat. Jika kau memperlambatnya, itu sama saja menyakitiku. Karena dalam ruangan itu aku benar-benar tersiksa. Lebih baik seperti ini.”

 

Aku tidak bisa membendung air mataku. Untuk kesekian kalinya aku menangis dalam pelukannya. Aku memeluk diriya erat. Seakan aku tak akan bisa melepaskannya pergi. Aku mengusap air mataku dan mengangkat kepalaku agar aku dapat melihat mata indah Luhan. Wajahnya lebih pucat dari kemarin. Dan aku seorang dokter, aku tahu pasti keadaanya sedang buruk saat ini.

 

“Luhan kau baik-baik saja? Apa kau kedinginan? Bagaimana jika kita pulang saja?”

“Aniyo. Aku masih ingin disisimu lebih lama lagi Suzy.”

“Dirumahpun aku akan tetap menemanimu Luhan.”

“Tidak. Izinkanlah untuk tetap seperti ini Suzy.”

 

Ukiran senyuman itu terpatri dibibir pucatnya. Wajahnya mendekati wajahku. Aku tak pernah melakukan hal ini sebelumnya. Aku hanya memejamkan mataku ketika bibir pucat Luhan menyentuh bibirku. Aku benar-benar merasakan bibirnya melumat bibirku perlahan. Penuh kasih sayang. Masih kurasakan lumatan bibirnya untuk beberapa saat. Hingga aku membuka mataku karena kurasakan bibir itu hanya diam dan masih menempel dengan bibirku.

 

“Luhan.. Luhan.. Luhan, bangun Luhan.”

Tubuhnya serasa dingin. Kepalanya menyandar pada bahuku. Keakan sudah tak memiliki kekuatan lagi. Aku menekan-nekan kecil dadanya. Namun kurasakan tak ada perubahan disana.

 

Kurasa ini yang Luhan inginkan. Aku tak bisa mencegahnya untuk berada disini lebih lama lagi. Ciuman pertama dan terakhir ia berikan untukku. Aku memeluk tubuhnya erat. Meminta tolongpun percuma. Luhan sudah meninggalkanku. Dan dia pergi membawa kebahagiaan tanpa henti setelah bertahun-tahun terisolasi.

 

“ Xi Luhan.. Aku mencintaimu.”

 

[—THE END—]

 

 

Mian, mian, mian. Aku gak bisa bikin fanfict akhir akhir ini. Dan ini ff aku buat semepet-mepetnya buat sekalian ngasih tau aku mau hiatus sampai pertengahan bulan Juni. Soalnya lagi ribet ngurusin tugas akhir semester, Ujian akhir semester, ngejar deadline guru, ngurusin acara kelas. Pokoknya super duper banyak pikiran dan pusing. Jadi gak sampet lanjutih ff dulu. Maaf ya kalau aku labil bgt gini. hehe.. Okay sekian dan terima kasih buat yang udah rcl dan memaklumi hiatusku ini. Baybay dan selamat ketemu beberapa minggu lagi di fanfictku. Oh iya aku lgi berduka ini, garagara denger rumor kekasihku Kris dia keluar dari EXO. Huaaaaa T-T semoga aja itu hoax ya, AMINNN. Doakan ujian Wuu lancar ya hohoh

Here We Need Responsibilities. Thanks!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s