EXO Fanfiction Dorm

EXO as the Main Cast

[Freelance] He Is Kim Jongdae

Leave a comment

 Tittle: He is Kim Jongdae

Author: Lingga Rahma (@abcdefgsuho)

Cast: Kim Jongdae (EXO Chen), Ba Yongwoo (Chen’s Friend)

Genre: Friendship

Rating: Semua Umur

Length: Oneshot

Allhamdulillah segala puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas selesainya pengerjaan Fanfic ini❤. Dan perlu anda – anda/? Semua ketahui bahwa fanfic ini murni buatan saya atas kerja keras otak kanan dan kiri saya yang sangat saya hormati dan banggakan/? ^^

Mohon maaf bila tidak adanya kecocokan yang lebih gaul disebut ‘sreg’ dengan castnya. Kalian boleh membayangkan jika itu orang lain atau diri kalian sendiri atau mungkin diriku/ga. Haha.. Yasudah ayo kita mulai petualangan di Afrika bersama Big Co***la ini.

*Jongdae POV

Kulangkahkan kakiku menuju sekolahku. Sekolah yang telah 3 tahun kutempati. Jungwang High School yang terletak di tengah kota Shiheung, Gyeonggi-do. Tak terasa sudah tahun ketiga aku bersekolah di sekolah ini. Sekolah dengan sejuta kenangan bersama sahabat baikku sejak kelas 10, Ba Yongwoo.

“Jongdae-ah” seseorang memanggilku. Kurasa aku tau ia siapa.

“Ya, Ba Yongwoo. Tumben sekali kau datang telat. Apa kau sengaja ingin jalan bersamaku?” tanyaku sambil tertawa pelan.

“Aku bangun telat pagi ini” ucapnya singkat sambil mengacak rambutnya yang… emmm… kurasa baru. Entahlah model apa itu.

“Kau mencukur rambutmu lagi?” tanyaku sambil memegangi kepalanya yang mudah untuk digapai karna tinggi kita yang sama.

“Ne. Aku memodifikasinya sendiri. Terlihat lebih trendy bukan?” ucapnya dengan senyum cerah dan giginya yang nampak berseri – seri itu.

“Ne. Kau hebat dalam membuat hairstyle” ucapku sambil menepuk – nepuk pundaknya. Aku bangga sekali pada sahabatku yang satu ini.

Sejenak kami terdiam satu sama lain. Entah mengapa terasa canggung saat ini. Padahal sebelumnya aku dan dia selalu membuat keributan disepanjang waktu hingga membuat orang – orang disekitar kami terganggu.

“Kau, mendapat tawaran dari SM Entertainment kan?” ucapnya tiba – tiba, padahal baru saja aku ingin meminta pendapatnya tentang ini. Tapi ternyata dia sudah tau duluan.

“Ambil saja Jongdae-ah. mimpimu menjadi Penyanyi bukan?” lanjutnya sambil merangkul pundakku.

“Aku masih tidak yakin Yongwoo-ah” ucapku ragu. Sangat jelas tersirat kebimbangan dalam kata – kataku.

“Waeyo?” tanyanya heran.

“Aku tak ingin meninggalkanmu, aku tak ingin meninggalkan semua yang ada di Shiheung” ucapku sambil memandang langit.

Jika boleh jujur aku ingin pergi dari sini sekarang juga. Aku tak ingin terjebak dalam suasana seperti ini. Aku terlalu takut meninggalkan semua yang ada di kota ini. Di kota yang telah menerimaku untuk tinggal selama yang aku mau. Dan yang paling tidak bisa aku tinggalkan adalah dia, sahabatku, Ba Yongwoo.

“Jongdae-ah, kita sudah kelas 12. Umur kita tahun ini sudah 19 tahun. Sudah saatnya kita untuk menggapai mimpi masing – masing. Kau sudah berjanji padaku kan jika kau akan menjadi seorang penyanyi? Terimalah tawaran trainee itu. Itu mimpimu Jongdae-ah”

Sejenak aku tercekat dengan ucapannya. Aku hanya terdiam tanpa bisa menjawab pertanyaannya. Yang kulakukan saat ini hanya berjalan dengan memandang lurus kedepan. Sekelebat bayangan masa lalupun muncul dalam pikiranku. Kenangan dua tahun yang lalu melewati otaknya begitu saja.

***

Murid yang bisa dibilang ‘terbelakang’ itu hanya menundukkan kepalanya saat ia dicemooh oleh teman – teman sekelasnya karna model rambutnya yang sangat aneh. Oh ayolah, jangan salahkan dia sekarang. Bukankah model rambut gondrong dengan poni memanjang sangat terkenal akhir – akhir ini? Tapi itu tidak untuk seorang pelajar. Model rambut seperti itu hanya untuk para artis saja. Dia murid kelas 10 Jungwan High School yang bernama Ba Yongwoo.

 

“Jangan sedih rambutmu sangat bagus bagiku” ucap seseorang mendatangi murid yang bernama Ba Yongwoo itu.

 

“Jika kau ingin menghinaku, pergilah. Aku sudah muak dengan semua itu” ucap Yongwoo dengan amarah yang masih memendam dihatinya.

 

“Ya, Ba Yongwoo. Jangan marah begitu padaku. Aku tak akan menghinamu seperti yang lain” ucap teman sekelasnya yang ternyata tidak dekat juga dengan Yongwoo, Jongdae. Ya namanya Kim Jongdae.

 

“Kau pasti sedang menahan tawamu kan sekarang” ucap Yongwoo masih terlihat ketus.

 

“Kau selalu berburuk sangka terhadapku. Padahal aku berusaha untuk menjadikanmu temanku” ucap Jongdae yang akhirnya membuat Yongwoo memberanikan diri menatap wajahnya yang ia palingkan ke arah jendela sedari tadi. Sedangkan si murid bernama Jongdae itu hanya tersenyum melihatnya.

 

“Jangan kekanak – kanakan dan menganggap mereka buruk Yongwoo-ah. Umur kita sudah 16  tahun. Mereka hanya iri karna tak mengerti  hairstyle seperti dirimu. Tenang saja itu sangat bagus untuk wajahmu” ucap Jongdae yang membuat Yongwoo tersenyum simpul.

 

“Benarkah? Aku tau ini sangat bagus untukku. Mereka saja yang tak tau trend” ujar Yongwoo.

 

“Ne. Kau sangat keren dengan itu” ucap Jongdae terdengar tulus.

 

“Kau tau? Aku membuatnya sendiri” Yongwoo berkata dengan bangga.

 

“Ah, jinjjayo? Kau membuat itu sendiri?” tanya Jongdae heran.

 

“Ne. Kau tak percaya?”

 

“Kau hebat Yongwoo-ah. Kau bisa menjadi penata rambutku di masa depan” ucap Jongdae berteriak girang membuat seisi kelas melirik mereka sejenak.

 

“Penata rambutmu? Memangnya kau ingin menjadi seorang model, Jongdae-ah?” tanya Yongwoo keheranan.

 

“Ani. Aku ingin menjadi seorang penyanyi”

 

“Woah.. Suaramu pasti sangat bagus” ucap Yongwoo tersenyum. Menampakan senyumnya untuk pertama kali sejak ia memasuki High School.

 

“Kurasa juga begitu” Jongdae tampak yakin.

 

“Baiklah. Aku akan menjadi penata rambutmu Jongdae-ah. Kau akan sangat tampan saat kau tampil diatas panggung” ucap Yongwoo senang.

 

“Lihat saja Yongwoo-ah. Aku akan menjadi penyanyi terkenal di Korea bahkan dunia. Lihat saja nanti” ucap Jongdae sambil mengacungkan telunjuknya keatas, membuat setiap orang disekelilingnya berpikir kau-sedang-melakukan-apa.

 

“Dan aku akan menjadi penata rambutmu. Berjanjilah kepadaku Jongdae-ah” ucap Yongwoo sama yakinnya dengan Jongdae.

 

***

*Author POV

Hamparan awan putih dan langit biru terlihat di kota Shiheung. Membuat siapa saja yang melihatnya pasti berpikir ini-langit-terbaik-yang-pernah-ada-sepanjang-tahun-ini. Begitu juga dengan seorang pemuda yang sedang terduduk santai di salah satu kursi yang ada di balkon kamarnya. Sambil memegangi sebuah kartu identitas yang dikenal dengan ‘kartu nama’, pemuda itu tampak berpikir keras. Entah apa yang dipikirkannya.

“Jongdae-ah” seseorang memanggil namanya dari bawah. Orang yang dipanggil Jongdae itu tampak tersenyum dan segera mendatangi seseorang yang diketahui bernama Ba Yongwoo.

“Ada apa Yongwoo-ah?” ucap Jongdae sesaat setelah ia berhasil mencapai tujuannya. Yaitu, menemui sahabatnya yang biasa ia panggil Yongwoo.

“Hanya ingin bermain” ucap Yongwoo singkat.

“Sebentar lagi ujian bukan? Kau tumben sekali mengajakku bermain menjelang ujian kelulusan” ucap Jongdae heran.

Ya, apa yang dikatakan Jongdae memang benar. Sekarang sudah memasuki akhir musim panas. Itu tandanya 4 bulan lagi mereka akan menghadapi ujian kelulusan. Seharusnya waktu selama 4 bulan mereka manfaatkan untuk memperdalam materi yang tidak mereka pahami.

“Aku juga butuh hiburan Jongdae-ah” ucap Yongwoo tersenyum kecut.

Memang aneh sih jika dilihat. Seorang murid yang bernama Ba Yongwoo itu selalu mendapat peringkat paling atas selama ia bersekolah di Jungwan High School. Sudah jelas sekali bukan, jika ia bukan orang yang senang bermain – main dalam hal belajar (tapi nyatanya, sekarang ia sedang bermain – main).  Sedangkan Jongdae? Paling – paling ia hanya masuk kedalam peringkat 20 besar dikelasnya.

“Ingat ya, seorang penyanyi tidak perlu mendapat peringkat satu dalam ujian. Yang penting ia memiliki suara yang indah”

Itu adalah kalimat andalan dari seorang Kim Jongdae jika ia diledek oleh sahabatnya, Yongwoo karna nilai mereka yang terlampau jauh. Tapi toh Jongdae tak pernah mengambil hati sikap Yongwoo terhadapnya, karna ia tau Yongwoo pandai membuat lelucon.

“Ke lapangan basket yuk. Sudah lama tak bermain basket membuat kepalaku terasa ingin pecah karna banyak belajar” ucap Yongwoo tiba – tiba mengajak Jongdae bermain basket dilapangan basket kota.

“Baiklah. Orang pintar memang banyak belajar” ucap Jongdae tertawa. Sedangkan Yongwoo hanya tersenyum sambil menampakan barisan giginya yang rapih.

***

Terlihat dua orang sahabat yang tengah bermain bola basket saat ini. Melepaskan sejenak kepenatan yang memenuhi pikiran mereka menjelang ujian. Tak ada perasaan tegang saat ini karna yang mereka lakukan sekarang bukan pertandingan, tetapi hiburan.

“Kau sudah memikirkan keputusanmu?” tanya Yongwoo sambil men-dribble bola, membuat konsentrasi Jongdae pecah menjadi dua.

“Sudah” ucap Jongdae masih dengan tatapan matanya yang tak lepas dari bola.

“Apa itu?” tanya Yongwoo penasaran. Laki – laki ini masih bertahan dengan kegiatan men-dribble bolanya.

“Apa kau siap menjadi penata rambutku?” ucap Jongdae yang seketika membuat Yongwoo berhenti men-dribble bolanya. Yongwoo mengerti apa maksudnya.

“Itu yang ingin aku bicarakan” ucap Yongwoo menatap Jongdae serius. Membuat Jongdae menjadi balik penasaran dengan apa yang akan sahabatnya itu lakukan.

“Apa? Kau takut aku melupakanmu? Tidak akan. Aku akan meminta SM Entertainment untuk merekrutmu nanti” ucap Jongdae tenang dengan senyum khasnya.

“Ayahku.. menyuruhku menjadi seorang prajurit tentara” ucap Yongwoo dengan senyum terpaksa. Jongdae terdiam.

“Itu mimpimu? Kejarlah. Kau akan sukses” ucap Jongdae setelah berdiam diri cukup lama. Ia berusaha menahan air matanya. Bagaimanapun juga ia laki – laki.

“Jongdae-ah, aku tak bermaksud membohongimu” ucap Yongwoo sambil memeluk bola basket yang sedari tadi ia mainkan. Mereka masih berdiri canggung ditengah lapang saat ini.

“Tidak apa Yongwoo-ah. Aku mengerti” ucap Jongdae berusaha memaklumi sahabatnya walau terselip rasa kecewa dalam hatinya.

“Kau tau, aku sudah membeli banyak buku tentang tatanan rambut untuk menjadi penata rambutmu. Aku selalu menahan diriku untuk membeli makan siang di kantin sekolah saat istirahat demi membeli buku – buku itu” Yongwoo menghentikan ucapannya untuk menghirup nafas sejenak.

“Tapi saat aku mengutarakan niatku pada ayahku kemarin malam, aku ditolak olehnya. Melihatmu didatangi seseorang staff SM Entertainment setelah festival di balai kota membuatku yakin kau dan aku akan sama – sama berhasil. Dan hal itu membuatku mengutarakan mimpiku lebih dulu kepada ayahku. Walau aku tau itu akan ditolak mentah – mentah olehnya” ucap Yongwoo berusaha tersenyum.

Ya, Jongdae mengerti akan semua keadaan ini. Keadaan ini membuatnya kembali mengingat bagaimana saat  Yongwoo kabur dan menginap dirumahnya selama liburan musim panas lalu karna ayahnya memaksa ia untuk bergabung kedalam pelatihan militer setelah lulus nanti. Jongdae ingat, bahkan sangat ingat. Sejenak Jongdae tersenyum tipis.

“Yongwoo-ah, terima kasih selama ini kau selalu mendukungku. Tetapi kau juga harus percaya pada ayahmu” ucap Jongdae sambil memegang pundak Yongwoo.

“Itu bukan mimpiku Jongdae-ah” ucap Yongwoo pelan. Tersirat kekecewaan disana. Kecewa karna Jongdae dapat melepasnya begitu saja. Tapi bagaimanapun juga Yongwoo sedikit bersyukur karna Jongdae tidak marah kepadanya. Marah karena telah mengingkari mimpi mereka berdua.

“Orang tuamu selalu benar Yongwoo-ah. Kau harus percaya. Masa depanmu akan sangat cerah. Kau akan sangat sengsara dan menderita bila hanya menungguku bertahun – tahun untuk lepas dari masa trainee dan debut sebagai penyanyi. Itupun jika berhasil” hati Jongdae serasa menciut.

Bagaimanapun juga hal yang telah ditakuti olehnya telah terjadi. Jongdae merasa ragu saat ditawari untuk mengikuti casting oleh staff SM Entertainment tempo hari karna seorang Ba Yongwoo. Ia takut Ba Yongwoo akan meninggalkannya saat ia sedang menghabiskan masa – masa trainee nya. Tapi seorang Ba Yongwoo meyakikannya bahwa ‘ini sudah saatnya bagi kita untuk menggapai mimpi masing – masing’. Dan sekarang, bocah yang tadi pagi memberikan Jongdae nasihat itu malah ragu – ragu dengan mimpinya. Ani, mungkin lebih pantas disebut dengan mimpi ayahnya.

“Jongdae-ah, apa kau melepas mimpimu juga? Apa kau mengubah mimpimu menjadi seorang pendeta?” ucap Yongwoo terdengar polos.

Ya, Ba Yongwoo bbabo” ucap Jongdae dengan suara melengking khas miliknya.

‘bahkan kau masih bisa bercanda di saat – saat seperti ini Yongwoo-ah. aku pasti akan sangat merindukanmu’

 

***

Hari – hari terberat yang dialami oleh seluruh siswa dan siswi kelas 12 di Korea Selatan telah usai. Mereka semua merasa yakin dengan hasil yang nantinya akan mereka terima. Begitu juga dengan dua orang sahabat karib dari Jungwan High School, Shiheung, Gyeonggi-do. Yaitu, Kim Jongdae dan Ba Yongwoo. Mereka tengah menunggu hasil di salah satu sudut taman sekolah saat ini.

“Yongwoo-ah” panggil Jongdae tenang. Ia tampak memikirkan sesuatu.

Mwoya?” Yongwoo hanya menjawab dengan setengah hati karna ia sedang berkonsentrasi dengan game yang akhir – akhir ini sering ia mainkan.

“Jika kau menjadi tentara, apa kau akan menghabisi rambutmu?” tanya Jongdae.

Yongwoo hanya diam. Ia tampak  berpikir dan sesegara mungkin melepaskan pegangan tangannya pada handphone yang sedari tadi ia gunakan untuk bermain game. Ia memandang gedung sekolah sejenak dan kembali dengan pertanyaan Jongdae.

Ne” ucap Yongwoo seakan tak rela. Terdengar hembusan nafas setelahnya.

“Bagaimanapun juga seorang prajurit tentara tak diperbolehkan memiliki rambut yang trendy bukan?” lanjutnya berusaha tersenyum.

“Apa kau rela?” tanya Jongdae.

Sesungguhnya ia tak rela melihat sahabatnya yang gemar membuat hairstyle ini merasa sedih karna masa depannya nanti. Jongdae berharap setelah ini, Yongwoo akan mengubah pemikirannya dan memperjuangkan mimpinya untuk menjadi penata rambut Jongdae, lalu mereka berdua akan bahagia. Oh tidak, tidak seperti ini Kim Jongdae. Itu sungguh sangat egois.

“Ini sudah resiko seorang prajurit Jongdae-ah” ucap Yongwoo mantap.

“Sudahlah Jongdae-ah, ayo kita lihat papan pengumuman. Daftar siswa yang lulus baru saja ditempelkan oleh Han Songsaenim” ucap Yongwoo lalu bergegas pergi diikuti Jongdae dibelakangnya.

***

Upacara kelulusan di Jungwan High School baru saja berakhir. Tampak raut wajah bahagia dari siswa dan siswi juga kedua orang tua ataupun wali mereka. Begitu juga dengan Kim Jongdae dan Ba Yongwoo. Walau mereka berdua tak memegang gelar ‘lulusan terbaik’ tapi lulus dengan nilai yang bisa dibilang cukup baikpun sudah mereka syukuri.

“Kapan kau akan berangkat ke Seoul?” tanya Yongwoo sambil memegang sebuah piagam penghargaan. Ya, apalagi jika bukan piagam penghargaan peringkat pertama di kelas.

“Sore ini aku akan langsung berangkat. Aku akan mengikuti casting terlebih dahulu sebelum direkrut menjadi trainee” ucap Jongdae.

“Aku ingin menghabiskan waktu denganmu saat ini. Berdua saja di lapangan basket kota. Apa kau mau?” tanya Yongwoo.

Diam. Setelah sampai di lapangan basket kota mereka tidak melakukan apa – apa. Mereka berdua terjebak dalam suasana yang tidak mereka sukai. Saling berdiam diri tanpa bahan pembicaraan. Oh, ayolah.. Mereka berdua ini pembuat onar saat di kelas. Sangat tidak wajar jika mereka hanya berdiam diri seperti ini.

“Tak terasa ya kita sudah lulus” ucap Yongwoo memecah keheningan. Jongdae harus berterima kasih padanya saat itu.

“Hmm..” Jongdae hanya menanggapinya dengan gumaman kecil.

“Kau tau? Saat pertama kali bertemu denganmu aku kira kau anak yang bodoh”

“Dan ternyata kau memang bodoh” Yongwoo melanjutkan kata – katanya sambil menoleh ke arah Jongdae.

“Sialan kau” ucap Jongdae tertawa sambil meninju lengan Yongwoo. Oh sungguh, Kim Jongdae akan merindukan guyonan – guyonan ringan dari sahabatnya itu setelah ia sampai di Seoul.

Ani.. Ani.. Saat pertama kali aku melihatmu aku rasa akan sangat mengasyikan berteman denganmu. Apalagi saat melihat wajah bodohmu itu” ucap Yongwoo memalingkan wajahnya kearah langit.

“Haha.. Tapi wajahmu lebih bodoh saat itu” ucap Jongdae mengingat kembali saat – saat dimana ia mengawali persahabatannya dengan Ba Yongwoo. Dari nada ucapan mereka berdua memang terdengar bermain – main dan tak serius. Tetapi sesungguhnya kata – kata itu mengalir tulus dari hati mereka.

“Aku senang memiliki seorang teman yang selalu mendukungku” ucap Yongwoo masih tak bisa melepaskan pandangannya dari langit biru nan luas.

“Kau jauh mendukungku Yongwoo-ah. Aku harus berterima kasih padamu. Kau orang kedua yang selalu mengerti akan mimpiku setelah orang tuaku” ucap Jongdae. Hatinya mulai merasa sakit, sakit karna akan meninggalkan orang – orang yang ia sayangi sore hari nanti.

“Apa kau ingat dengan apa yang kau katakan kepadaku?” tanya Yongwoo.

“Apa? Beritahu aku. Terlalu banyak kata – kata yang aku katakan untukmu selama tiga tahun” ucap Jongdae tersenyum.

“Aku akan menjadi seorang penyanyi Yongwoo-ah. Pegang janjiku” ucap Yongwoo sambil mengikuti gaya Jongdae saat sedang berbicara. Jongdae hanya tertawa mendengarkan itu.

“Waktu terlalu cepat berlalu ya” ucap Jongdae menghela nafasnya. Membuat Yongwoo menolehkan pandangannya ke arah Jongdae.

“Kurasa baru kemarin aku mengucapkan itu” ucap Jongdae sambil menahan air matanya. Sungguh, Jongdae sebenarnya paling benci memperlihatkan air matanya didepan umum. Tapi kali ini berbeda, Jongdae rasa air matanya mendesak untuk keluar.

Ulljima Jongdae-ah. Kau itu namja bbabo, kau sangat tidak manly” ucap Yongwoo tertawa. Sesungguhnya Yongwoo-pun menahan air matanya.

Ani bbabo. Aku hanya sedang berlatih menggunakan air mataku. Aku tak ingin hanya menjadi penyanyi. Aku juga ingin menjadi pemain drama” ucap Jongdae beralasan.

“Jongdae-ah, sudah berapa banyak uang yang berhasil kau simpan dari biaya cukur rambutmu itu” tanya Yongwoo.

Ya, Jongdae memang pernah berkata ‘aku tidak ingin memangkas rambutku pada ahli cukur. aku akan meminta bantuan mu untuk memangkas rambutku. bukankah itu sedikit menghemat uangku?’

 

“Mungkin sekitar 1500 won. Biaya cukur rambut di Shiheung begitu mahal” ucap Jongdae.

“Di Seoul akan lebih mahal Jongdae-ah” ucap Yongwoo sambil tertawa.

“Ah jinjjayo? Kalau begitu jika rambutku sudah panjang aku akan pulang ke Shiheung untuk mencarimu” ucap Jongdae membuat Yongwoo kembali tertawa.

“Kapan kau akan memasuki camp militer?” tanya Jongdae membuat tawa Yongwoo terhenti.

“Entahlah mungkin minggu depan atau bisa jadi bulan depan” ujar Yongwoo tampak ragu.

“Jangan ragu seperti itu Yongwoo-ah. Aku yakin kau akan bertahan disana. Kau orang yang sangat berdisiplin tinggi. Kau pasti bisa melewati kelas militer dengan mudah” ucap Jongdae meyakinkan.

Ne. Kau juga. Baik – baiklah di Seoul. Aku yakin kau tidak akan melewati masa – masa yang sangat panjang saat trainee. Suaramu sudah cukup untuk kau debut Jongdae-ah. Percayalah”

Setelah ucapan Yongwoo tak ada lagi suara – suara terdengar. Jongdae dan Yongwoo sama – sama terdiam untuk menenangkan pikiran mereka masing – masing.

“Sudah jam 3 Yongwoo-ah. Aku akan berangkat ke Seoul pukul 5” ucap Jongdae sambil memegang jam yang sedari tadi tertutup oleh kemeja putihnya yang berlengan panjang.

“Pulanglah. Kau harus bersiap – siap” ucap Yongwoo. Wajahnya tak berani menatap wajah Jongdae. Akan sangat memalukan jika seorang calon Prajurit Tentara menangis hanya karna menatap wajah sahabatnya yang akan pergi mengejar mimpinya.

“Yongwoo-ah, berjanjilah kau akan selalu menghubungiku” ucap Jongdae.

Ne, aku akan selalu menimbulkan kebisingan dalam handphone-mu” ucap Yongwoo yang kini menampakan matanya yang memerah. Akibat dari menahan air mata yang akan keluar.

“Yongwoo-ah” ucap Jongdae tercekat. Sungguh, sangat sulit mengatakan kata – kata yang harus ia ucapkan saat ini.

Annyeong..” akhirnya dengan nafas beratnya ia mengucapkan kata – kata itu. Kata – kata yang seharusnya tak ia ucapkan kepada sahabat 3 tahunnya itu.

Air mata. Hanya ada air mata selepas peninggalan Jongdae. Ba Yongwoo menangis ditengah musim dingin yang sebentar lagi akan berakhir di Gyeonggi-do. Tak terbayangkan olehnya akan seperti ini. Ditinggalkan oleh sahabat yang selalu menemaninya selama tiga tahun.

“Baiklah Ba Yongwoo. Bukankah ini ucapanmu. Ucapanmu jika kita harus menggapai mimpi masing – masing. Ini jalan hidupmu Ba Yongwoo” ucap Yongwoo sambil berteriak di lapangan basket kota yang selalu sepi tersebut.

Ya.. Kim Jongdae!! Kau harus tau,  bahwa akulah fans pertamamu Kim Jongdae. Aku akan mengikuti kegiatanmu Kim Jongdae. Lihat saja” teriak Yongwoo lagi sambil menahan air mata yang keluar.

***

*Jongdae POV

“Chen-ssi, apa kau sudah siap?” seseorang mengagetkanku saat aku tengah mengutak – atik ponselku. Ya, aku sangat senang berhasil membujuk Manager Hyung untuk mendapatkan ponselku. Ini sangat penting.

Ne. Tunggu sebentar” ucapku. Dan seseorang yang bisa disebut staff itu pergi meninggalkanku.

Ya, Ba Yongwoo, cepat angkat panggilanku bbabo. Kau harus tau aku diperkenalkan hari ini” ucapku tak sabaran.

Ya, hari ini tanggal 29 Desember 2011 aku diperkenalkan sebagai salah satu member boygroup yang disebut – sebut sebagai Mega Project melalui siaran SBS Gayo Daejun. Sungguh senang bukan main saat aku terpilih untuk project ini, walaupun aku hanya tampil tak lebih dari 30 detik.

‘padahal aku belum satu tahun berada dalam masa trainee’

Aku mengatur rambutku sebelum menuju stage.

“Rambut ini.. Bukannya kau berjanji akan menatanya untukku. Sekarang kau kemana? Aku menghubungimu sejak dua bulan yang lalu tak pernah kau angkat. Bbabo” ucapku sambil memegangi rambutku.

“Jongdae-ah, kkajjamanager hyung memanggilku.

“Ah, ne hyung” akupun segera menggunakan topiku lalu pergi menuju ke backstage.

‘aku menyerah menghubungimu Yongwoo-ah’

 

***

 

*Yongwoo POV

Hari ini aku mengunjungi sekolahku, Jungwan High School untuk melakukan pesta Natal. Ya, sedikit telat memang. Tapi tak apa jika itu dapat mengobati rasa rindu kepada sekolah juga teman – teman selama di High School. Sejenak aku kembali mengingat ia, sahabatku. Seseorang bernama Kim Jongdae. Anak itu kemana ya? Apakah ia sudah dikontrak menjadi seorang penyanyi? Atau ia kembali ke Shiheung?

Ya, Ba Yongwoo. Aku kira kau tak datang” ucap Jung Mihwa. Seseorang yang dulu sering mengejekku karna tatanan rambutku. Kini ia berteman baik denganku karna ia berkerja di toko kaca mata ayahku.

“Jangan mengejekku bbabo. Aku sudah bosan” ucapku yang merasa kurang percaya diri dengan kepalaku yang plontos ini.

Ani, aku serius. Aku kira kau tak akan datang hari ini” ucap Mihwa tampak serius.

“Atas dasar alasan apa aku tidak datang? Aku merindukan semua yang ada pada sekolah ini. Juga teman – teman yang lain. Ya, walau aku tau Jongdae tak akan datang” ucapku sedikit ragu.

“Ya, bbabo. Apa kau tak tau Jongdae tampil di televisi hari ini?” tanya Mihwa membuat ku tertawa.

“Kau mencoba mengusirku hah? Kau ingin kembali ke masa – masa kita SMA dulu ya? Aku bisa tanpa ada Jongdae karna aku pandai berkelahi sekarang” ucapku sambil tersenyum kecut kearahnya.

“Ya, bbabo. Aku tak bercanda. Ibunya Jongdae tadi datang untuk membetulkan sepatu kaca matanya. Lalu ia menyuruhku untuk menonton Jongdae sore ini. Dia akan diperkenalkan secara resmi sebagai member boygroup” ucap Mihwa membuat aku terdiam.

“Jongdae tak memberti tau mu?” tanya Mihwa. Aku masih diam saja tampak berpikir apa-yang-harus-aku-lakukan.

“Ponselku.. Ponselku hilang sejak 2 bulan yang lalu. Jadi aku membeli ponsel baru dengan nomor yang baru. Dan aku kehilangan nomor Kim Jongdae” ucapku masih seperti orang bodoh dengan kepala botak yang berdiri didepan gerbang sekolah.

“Pulanglah, kau lihat Jongdae di SBS pukul 7 malam ini. Aku akan memberitahu kepada teman – teman yang lain bahwa Jongdae kita menjadi seorang penyanyi” ucap Mihwa menyuruhku pulang.

Sepanjang perjalanan pulang menuju asrama militer pikiranku berkemelut. Bagaimana rupa anak itu sekarang? Apakah ia menjadi lebih tampan atau lebih jelek dan kurus. Kim Jongdae, apa kau masih ingat kepadaku?

***

Dari depan layar televisi yang kulihat, pemuda yang menggunakan topi di TV itu sedang bersiap – siap di atas stage. Sebelumnya aku tak tau ia siapa. Tapi setelah aku mendengar suaranya….

Tunggu….

 

Dia? Dia Kim Jongdae. Oh Ya Tuhan. Anak ini menjadi lebih kurus dari sebelumnya. Seorang Kim Jongdae yang debut dengan nama Chen. Menjadi Main Vocal di EXO-M yang melakukan pemasaran ke China. Anak ini tampil dengan vocal luar biasanya..

 

Ya, sedikit kecewa memang mendengar ia melakukan pemasaran ke China, karna itu tandanya aku tak bisa selalu menemuinya.

Tak terasa air mataku mengalir. Kembali terputar dalam otakku bagaimana saat pertama kali Jongdae berbicara padaku, saat aku dan dia berjanji untuk menggapai mimpi bersama, saat aku dan dia bermain basket bersama, saat aku dan dia bertemu untuk terakhir kalinya pun aku masih sangat ingat. Bagaimana bisa anak ini….

“Ya, Ba Yongwoo mengapa kau menangis menonton acara itu? Kau menangis karna pria yang sedang bernyanyi itu? Apa dia mantan kekasihmu? Kau gay Yongwoo-ah?” ucap seseorang yang menjadi teman satu asramaku sejak kami masuk kedalam sekolah militer.

“Diam bbabo. Aku sedang mendengar suara indah yang kurindukan. Dia… sahabatku.. Kim Jongdae namanya”

***

Wahhh… akhirnya beres yaaaa…. gimana ceritanyaa???

Fanfiction ini aku buat karna terinspirasi dengan komunikasi pertama Jongdae yang kita kenal sebagai Chen dan seorang sahabatnya di High School bernama Ba Yongwoo sejak upacara perpisahan sekolah. Itu terjadi saat EXO sedang mengunjungi Starry Night Radio dalam rangka promosi Wolf. Disitu, pihak radio menghubungi sahabat Chen yang sudah tidak ada komunikasi sejak perpisahan sekolah buat bicara sama Chen. Wahhh, sedih deh pokoknya. Aku aja selalu nangis tiap nonton videonya ‘-‘

Jadi intinya mah ya, aku minta sarannya buat FF ini. Apakah ada yang ganjil, aneh atau terkesan maksain dari FF ini?

Aku juga minta kritik dan saran yang membangun buat FF ini. Dan juga mohon maaf bila ada typo dan bahasa yang sulit dipahami. Terima kasih ^^❤

Di post juga di >> http://bawangdauncantik.blogspot.com/

Author: gyuskaups

99 Geng || Multifandom || Hiphop Style

Here We Need Responsibilities. Thanks!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s