EXO Fanfiction Dorm

EXO as the Main Cast

[Freelance] I Just Remember You’re Name

Leave a comment

 image002

Tittle: I Just Remember You’re Name

Author: Lingga Rahma (@abcdefgsuho)

Cast: Shin Yoonjo (Hello Venus Yoonjo), Zhang Yixing (EXO Lay)

Genre: Romance, School

Rating: PG-13

Length: Oneshot

Poster: AmmabeLau17 [http://wyfnexokingdom.wordpress.com]

Allhamdulillah segala puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas selesainya pengerjaan Fanfic ini❤. Dan perlu anda – anda/? Semua ketahui bahwa fanfic ini murni buatan saya atas kerja keras otak kanan dan kiri saya yang sangat saya hormati dan banggakan/? ^^

Mohon maaf bila tidak adanya kecocokan yang lebih gaul disebut ‘sreg’ dengan castnya. Kalian boleh membayangkan jika itu orang lain atau diri kalian sendiri atau mungkin diriku/ga. Haha.. Yasudah ayo kita mulai petualangan di Afrika bersama Big Co***la ini.

*Author POV

Pagi ini gadis manis yang biasa dipanggil Yoonjo itu terbangun seperti biasa dan langsung bergegas untuk pergi ke sekolah. Tak ada yang spesial di sekolahnya saat ini karna memang sekolahnya bukanlah sekolah populer di Seoul. Sekolahnya hanya terkenal dengan klub basketnya. Yaa… hanya klub basket dan Yoonjo betul – betul tidak berminat pada klub itu.

Sekolah yang telah ditempatinya selama dua tahun ini bernama Kyunghwan High School. Mungkin bisa dibilang sekolah buangan dari Naram High Shool, saingan sekolah ini. Tidak penting ya? Baiklah, kita kembali kepada Yoonjo.

Gadis itu sudah memasuki pekarangan sekolah dan ia disambut oleh sahabatnya. Satu – satu sahabatnya, Kwon Nara. Entah mengapa Yoonjo bisa bersahabat dengan orang ini, Kwon Nara maksudnya. Yoonjo adalah orang yang bisa dibilang…emmm… anti-social. Ya, itu dulu sebelum ia berkenalan dengan seorang Kwon Nara yang ceria saat dikelas sepuluh. Mungkin karna dampak home schooling-nya membuat ia jadi menutup diri dengan lingkungan sekitarnya.

“Ya.. Shin Yoonjo” teriak gadis yang diketahui bernama Nara itu nyaring.

“Ada apa?” tanya Yoonjo dengan santainya. Kini ia sudah terbiasa dengan sikap tidak tenang atau mungkin bisa disebut hyper dari Kwon Nara.

“Kau tahu? Hari ini kudengar akan ada murid baru dari China. Aku betul – betul penasaran apakah dia akan mengalahi ketampanan Kris sunbae? Dia juga berasal dari China kan?” ucap Nara dengan bersemangat tanpa ada celaan nafas.

“Benarkah?” ucap Yoonjo singkat. Ya.. sejujurnya Yoonjo tak ingin merespon berlebihan. Toh, tak penting juga untuknya. Tapi demi menjaga perasaan sahabatnya ia harus rela mengeluarkan satu kata berharganya. Oh.. Ayolah Yoonjo, hanya satu kata kau ini sombong sekali.

“”Ehm..  Dia satu tingkat dengan kita Yoonjo-ah” ucap Nara sambil berimajinasi. Ehmm… mungkin berimajinasi tentang rupa si ‘murid baru’ itu.

“Ya baiklah semoga dia satu kelas denganmu. Supaya kau bahagia” ucap Yoonjo tersenyum. Ya… dia tau sahabatnya ingin cepat – cepat mencari pengganti Jongdae setelah satu bulan putus dari laki – laki itu. Dan perlu diingat, senyum Yoonjo saat itu tulus, benar – benar tulus. Dan kalian juga harus tahu jika Yoonjo dan Nara berbeda kelas. Itu betul – betul membuat Yoonjo kesulitan berinteraksi didalam kelas barunya.

“Ya. Kau benar. Aku harus membuktikan pada Kim Jongdae bahwa aku bisa menemukan penggatinya” ucap Nara dengan senyum tersipu.

“Kau merencanakan ‘balas dendam’ pada Jongdae karna ia memutuskanmu secara sepihak?” ucap Yoonjo heran.

“Bisa dibilang begitu. Sudah kau masuk kelas sana. Sebentar lagi bel berbunyi” ucap Nara.

“Baiklah. Sampai bertemu pulang sekolah” ucap Yoonjo lalu berlari menuju kelasnya.

“Kau tidak akan istirahat?” ucapan Nara memberhentikan langkah Yoonjo.

“Tidak. Aku akan ke perpustakaan” ucap Yoonjo setengah berteriak dan kembali melanjutkan perjalanannya menuju kelas.

*Yoonjo POV

Bel pulang sekolah telah berbunyi. Setelah menghabiskan 7 jam berkutat dengan buku dan tanpa istirahat (karna aku menghabiskan waktu istirahatku dengan tidak layak, yaitu di perpustakaan) akhirnya aku bebas. Menghabiskan waktu di perpustakaan saat istirahat bukan tanpa alasan. Ya, seorang Shin Yoonjo lupa mengerjakan tugas dan akhirnya harus merelakan jam istirahatnya.

Dan sampai bel pulang sekolah juga tidak ada murid asing yang memasuki kelasku, kelas 11-A. Murid baru yang katanya berasal dari China itu maksudku. Ada dua kemungkinan. Yang pertama, jika murid baru itu memasuki kelas B. Kelas dari seorang Kwon Nara, maka Nara akan membicarakan murid baru itu sepanjang perjalanan. Dan yang kedua, jika murid baru itu memasuki kelas C, maka Nara akan mencari murid baru itu sampai ia bertemu (dengan murid baru itu tentunya) dan mengajaknya berkenalan. Oke kurasa kemungkinan pertama akan lebih baik.

“Shin Yoonjo!!!”

‘oke teriakan siapa lagi itu, selain teriakan Kwon Nara’

 

“Kau tahu? Kau tahu?” dia datang kepadaku dengan nafas terengah – engah karna berlarian. Dan kini dia mencoba berbicara sebelum mengatur nafasnya.

“Atur nafasmu dulu” ucapku tenang.

“Baiklah.. Huffttt” ucapnya mencoba mengatur nafas.

‘oh kini aku tau apa yang akan ia bicarakan’

 

“Murid baru dari China itu… ada di kelasku!!”

‘bingo’

“Baguslah, kau bisa mendekatinya” ucapku datar. Ah, sungguh tidak menarik sejujurnya.

“Dia manis, dia lucu, dia imut. Aksen koreanya juga lucu. Sungguh,dia memang tidak se-cool Kris sunbae. Tapi dia betul – betul imut. Aigoo” ucap Nara antusias. Aku bersyukur sudah tidak banyak orang di koridor ini. Karna ia berbicara setengah berteriak. Dan itu memalukan.

“Kau bisa mengenalkannya padaku kapan – kapan” ucapku basa – basi. Tujuannya satu. Yap, tak ingin mengabaikan ceritanya.

“Tidak usah kapan – kapan. Dia ada di taman depan. Ayo datangi” ucap Nara lalu menarikku menuju taman depan sekolah.

‘seharusnya kau mengerti aku tidak serius Kwon Nara’

 

“Annyeong Yixing-ah. Kau ingat padakukan?” ucap Nara menegur orang itu.

“Ahh.. Aku lupa, maaf” ucap seseorang yang Nara panggil Yixing ini. Ehm, aksennya memang terdengar aneh. Mungkin karna ia berasal dari China.

“Ah baiklah. Mungkin karna berkenalan dengan banyak orang kau jadi lupa. Kau harus ingat ya, aku Kwon Nara. Kwon Na-Ra” ucap Nara seperti mengajari anak TK. Dan namja yang diajarinya itu hanya bergumam seperti berusaha mengingat.

“Oh, hei kenalkan ia temanku” ucap Nara menarik tanganku untuk berjabat tangan dengannya.

“Shin Yoonjo imnida” dia hanya terdiam. Matanya seperti mengatakan apa-yang-harus-kukatakan.

“Kau?” ucapku menyadarkannya.

“Zhang Yixing imnida” ucapnya polos. Oke wajar jika Nara menyukai tatapannya yang tampak polos itu.

“Yixing-ah, apakah kau akan pulang? Kau bisa pulang bersama kami” ucap Nara. Sontak akupun menyenggol lengannya dan Nara menatapku seakan mengatakan kau-diam-saja.

“Ah iya. Aku ingin pulang tapi aku lupa jalan menuju rumahku” ucapnya kebingungan.

“Ah, benarkah? Kalau begitu dimana alamatmu? Kami bisa mengantarmu”

‘oke cukup Kwon Nara. apa yang kau katakan sekarang’

 

“Maaf aku lupa alamatku”

‘bagus Yixing-ssi. aku menyukaimu untuk yang satu ini’

Oke aku seperti kambing congek sekarang.

“Kalau begitu kau bisa menghubungi ibumu untuk menjemputmu” ucapku memberi solusi. Aku ingin cepat pulang, sungguh.

“Ah, itulah masalah yang kuhadapi. Aku lupa menaruh ponselku” ucapnya kelewatan polos. Ya Tuhan kini aku benar – benar tak bisa membedakan antara polos dan bodoh.

“Baikalah berikan nomor ponselmu. Aku akan misscall ponselmu supaya bunyinya mudah mendeteksi letak ponselnya” ucap Nara sambil mengeluarkan ponselnya.

‘Kwon Nara, akuilah itu hanya alibimu untuk mendapatkan nomer ponselnya kan?’

“Aku tak hafal nomor ponselku” ucapnya sambil menggaruk tengkuknya. Ya Tuhan, aku rasa dia tidak bodoh. Tapi idiot. Ini gila.

“Ahh, kau sungguh – sungguh?” ucap Nara ragu. Oh ayolah, siapa anak muda yang tak hafal nomor ponselnya sendiri selain namja idiot ini.

”Eh, tidak apa – apa . Itu ibuku datang menjemput” ucapnya sambil menunjuk mobil  mewah berwarna silver yang baru saja memarkirkan diri di depan gerbang.

“Kalian berhati – hatilah dijalan. Annyeong” ucap namja itu lalu pergi meninggalkan kami. Baguslah kalau begitu, aku bisa langsung pulang ke rumah.

“Ya, Yixing-ah. Jangan lupa hafalkan nomor handphone-mu, ne” ucap Nara sambil melambaikan tangannya. Sedangkan si Yixing itu hanya mengacungkan jempolnya.

***

“Menurutmu, bagaimana Zhang Yixing. Apakah dia imut?” ucap Nara membuka percakapan didalam bis kota yang kami naiki.

“Dia aneh” ucapku singkat. Ya, aku memang tak banyak berbicara jika berada ditempat umum. Lain halnya jika hanya ada aku dan Nara, berdua saja.

“Aneh bagaimana?” ia mengerutkan keningnya. Aku malas berbicara sebenarnya, tapi dia menatapku intens. Seperti menunggu jawaban ekslusif dariku. Aku menghirup udara sebanyak – banyaknya. Kurasa ini akan menjadi ucapan ku yang terpanjang selama aku hidup di dunia ini. Oke, ini gila.

“Yang pertama ia lupa namamu, oke itu wajar seperti katamu ‘terlalu banyak berkenalan dengan orang hingga ia lupa namamu’. Yang kedua  ia lupa jalan menuju rumahnya, dan kurasa itu wajar karna ia pendatang baru disini dan belum beradaptasi dengan jalanan kota Seoul. Yang ketiga ia lupa alamat rumahnya, ayolah kurasa sebodoh – bodohnya Park Chanyeol, anak paling bodoh dikelasku akan tetap mengingat alamat rumahnya walau itu hanya ‘daerah Apgujeong’. Kali ini aku serius, Park Chanyeol hanya mengingat rumahnya berada di kawasan elite Apgujeong, maksudku kau tahukan luasnya daerah Apgujeong itu seperti apa. Apakah itu tandanya ia lebih bodoh dari Park Chanyeol? Ia berniat pindah atau tidak sih! Yang keempat ia lupa menaruh ponselnya, oke itu wajar aku juga sering lupa menaruh botol kutek-ku ada dimana. Dan yang terakhir di tidak menghafal nomor teleponnya. Oh ayolah Kwon Nara. Kau pikir dia anak muda zaman Joseon yang masa bodo dengan alat canggih, dan kuyakin di zaman Joseon-pun tak ada alat – alat canggih seperti sekarang” ucapku panjang lebar. Oke aku lelah dan mencoba menghirup nafas lebih banyak. Kulihat Nara hanya membulatkan matanya, kurasa ia setuju akan pendapatku.

“Itu paragraf terpanjang yang pernah aku dengar dari mu Shin Yoonjo. Aku menghabiskan waktu dijalan dengan mendengarkan dongeng singkatmu. Dan sekarang kita sudah sampai. Ayo turun” ucapnya lalu bergegas menuju pintu keluar.

“YA.. KWON NARA KAU TIDAK MENDENGARKU? AWAS KAU” untuk pertama kali juga aku memalukan diriku dengan berteriak ditempat umum. Karna sahabatku, Kwon Nara. Aissh.. anak itu, awas saja.

***

Ya setelah hari perkenalanku dengan pemuda Zhang itu aku memang tidak pernah bertemu dengannya lagi. Palingan aku hanya mendengarkan cerita tentangnya dari Nara. Dan saat aku menggodanya dengan menyebut pemuda Zhang itu ‘idiot’ ia akan marah bersungut – sungut. Dan menurutku itu waktu yang sangat menyenangkan. Ya, menggoda Nara sangatlah menyenangkan.

“Nara-ah, aku akan meninggalkanmu sendiri tak apakan? Aku ingin keruang musik” ucapku pada Nara.

“Mau apa?” ucap Nara sambil menyeruput Green Tea-nya. Dia bilang sih ‘menu diet’.

“Buku partitur musikku tertinggal saat jam pelajaran seni musik. Aku takut jika partiturku dicontek orang lain” ucapku meyakinkannya.

“Ah, baiklah. Semoga partiturmu itu baik – baik saja” ucapnya tanpa menatapku dan sibuk dengan ponselnya. Akupun segera pergi menuju ruang seni musik.

Dalam kurang – lebih lima langkah lagi aku memasuki ruang seni musik. Tapi aku terhenti oleh alunan musik, yang kurasa piano. Dan memang benar itu piano. Seperti musik dari Let It Go. Ehhmm.. aku ingin tau siapa yang didalam jadi kuberanikan masuk.

‘Blammm..’

 

“Yixing-ssi” ucapku tiba – tiba gugup.

“Oh, hai” ucapnya seperti kebingungan.

 

‘tolong jangan bilang kau lupa namaku. itu hal bodoh tuan Zhang’

“Kau? Sedang apa disini” ucapku seperti orang tolol. Oh ayolah, kau kan baru saja melihatnya bermain piano Yoonjo-ah, lalu untuk apa kau bertanya.

“Seperti yang kau lihat. Bermain piano, mengusir rasa bosanku” ucapnya santai.

‘ya setidaknya ia memiliki kelebihan dimata mu Yoonjo-ah. walau hanya sedikit’

“Kau? Mau apa Yoonjo-ssi” ucapnya bertanya balik.

‘dia mengingat namaku?’

“Aku mencari buku partiturku. Apa kau lihat?” tanyaku tenang.

“Oh ini milikmu?” tanyanya sambil menyodorkan sebuah buku yang sudah kuberi sampul berwarna merah dengan cukup rapih itu.

“Ah, iya. Kau sudah melihat isinya?” tanyaku ragu.

Oh ya Tuhan, jika ia mencontek instrumen buatanku kan bahaya. Ia pandai bermain piano, dan ia bisa saja sewaktu – waktu mengenalkan musikku pada orang lain tanpa mengakui bahwa itu ciptaanku. Oke itu mungkin itu rumit dan bodoh karna wajah polosnya yang seperti gampang dibodohi itu betul – betul tidak cocok tersandung kasus plagiarisme. Tapi Shin Yoonjo, berhati – hatilah.

“Sudah” ucapnya polos. Oke, hatiku mencelos saat ini juga.

“Tenang saja, aku tak bisa membaca nada” ucapnya menambah kepolosan dan ketulusan dari ucapannya itu.

‘kau pikir aku bodoh Tuan Zhang’

 

“Jangan bodoh. Kau sangat indah dalam bermain piano. Jangan membodohiku dengan berkata ‘aku tidak bisa membaca partitur’” ucapku lalu merebut buku partiturku.

“Aku tidak bohong” ucapnya tulus.

“Yang aku tau hanya kunci c,d,e,f,g,a,b,c2” ucapnya lagi sambil menekan tuts piano sehingga berbunyi kunci nada c sampai dengan c2.

“Tapi kau bisa memainkan nada Let It Go dengan sangat baik tadi. Bagaimana bisa” ucapku tak yakin. Oh, ayolah dia hanya bercanda sekarang aku tahu.

“Aku hanya mencoba – coba nada. Entah mengapa aku selalu dengan sembarangan, umm.. mungkin bisa dibilang tanpa peraturan menekan tuts sembarangan. Tapi jadi sebuah nada” ucapnya kembali menekan tuts piano yang kurasa dengan sangat asal – asalan.

 

“Aku tidak pernah belajar nada sebelumnya. Aku hanya mendengarkan musik lalu memainkannya” ucapnya sambil mencoba beberapa nada baru. Sedangkan aku hanya diam mematung. Ini gila.

“Dengar, nada ini bagus tidak?” ia mencoba menekan tuts lainnya.

“Lagu musim semi?” lirihku.

“Aku tidak tahu, kurasa ini enak didengar” ucapnya terus melanjutkan menekan tuts piano seenaknya. Melanjutkan nada – nada yang sudah ada sebelumnya.

Pikiranku berkemelut. Aku sudah tak yakin dengan namja ini ketika pertama bertemu dengannya. Oh ayolah, adakah orang seaneh namja ini. Senyumnya, baiklah. Melihat senyumnya saat ini dia manis seperti yang Nara pernah katakan. Kelewatan manis malah. Wajahnya polos memancarkan ketulusan dari apapun yang ia katakan.

Tapi jika kalian mengingat hal – hal tolol yang telah ia lakukan. Tidak dapat mengingat nama, tidak dapat mengingat alamat, tidak dapat mengingat nomor telepon, dan aku kini tak yakin ia masih mengingat nama lengkapku. Dan hal aneh apa lagi yang telah aku dapatkan darinya? Dia pandai memainkan piano, dapat memainkan instrumen sebuah lagu dengan baik yang nyaman didengar oleh telingaku dan aku yakin telinga setiap orang juga akan merasa nyaman mendengarnya. Tapi, aku harus mendapatkan fakta konyol bahwa ia mengaku tak bisa membaca nada.

Lalu apa yang aku dapatkan disini? Jarinya tengah lincah bermain diatas tuts piano. Merangkai sebuah nada yang aku tak tahu apa. Aku yakin namja ini hanya mencoba – coba merangkai nada. Tapi ya Tuhan, aku tak yakin dengan pernyataannya itu. Maksudku, kau bisa melihatnya kan tadi, ia memainkan tuts piano dengan indah tapi ia tak dapat membaca nada. Oke, aku tak akan mempermasalahkan lagi ia mencontek partitur nadaku atau tidak. Tapi aku takut saat ini padanya. Mungkin dirinya sempat menarik perhatianku beberapa menit yang lalu. Tapi kini aku takut, ia orang aneh.

“Dengar, aku membuat nada ini. Bagus tidak?” ia bertanya padaku sambil memainkan jemarinya diatas tuts piano.

Aku takut. Entah aku takut, ia orang yang aneh. Aku pun mulai berjalan mundur secara perlahan. Dia melihatku tampak keheranan.

“Kau kenapa Yoonjo-ssi?” tanyanya sambil berjalan mendekat padaku.

“JANGAN MENDEKAT” teriakku. Aku benar – benar ketakutan. Dia benar – benar mengingat namaku dan dia adalah orang aneh.

“Apa aku berbuat salah?” tanyanya menghentikan langkahnya.

“Kau siapa? Kau makhluk dari planet apa? Kau mudah lupa pada nama orang, kau tidak tahu alamat rumahmu, kau tidak pernah hafal jalan rumahmu, kau bahkan tidak hafal nomer ponselmu. Sudah beberapa hari ini Nara mengeluh padaku, kau tidak pernah mau memberi tahunya alamat dan nomer ponselmu. Alasanmu selalu sama yaitu lupa. Kau juga selalu menunggu jemputan setiap pulang sekolah, alasannya kau tidak hafal jalan kerumahmu. Ini sudah satu minggu kau bersekolah disini. Apakah otakmu tak sanggup mengingat dalam waktu satu minggu? Dan hari ini aku mendapatkan fakta kau tidak bisa membaca nada tapi kau sangat hebat dalam menekan tuts. Aku aneh padamu. Ini memang konyol tapi ini semua terjadi padamu. Aku sulit mempercayainya, tapi kau adalah buktinya. Jika kau mengalami gangguan mental bicaralah pada setiap orang. Supaya mereka dapat memaklumi keadaanmu dan orang – orang yang berharap padamu tidak menambahkan luka pada hatinya. Melihatmu seperti ini, tidak jauh seperti melihat orang idiot” ucapku panjang lebar. Lalu bergegas meninggalkan ruang musik. Aku rasa lidahku bertindak seenaknya. Tapi, aku tidak peduli itu akan menyakiti hatinya atau tidak. Aku sungguh tak mau tahu itu.

***

Sudah seminggu setelah aku berbicara pada Zhang Yixing. Oh tidak, itu tidak pantas disebut berbicara, itu lebih pantas disebut memaki. Dan kudengar, ia sudah seminggu tak masuk kelas. Ehhmm, apa karna diriku? Oke aku rasa aku terlalu kasar padanya kemarin tapi perasaanku sungguh kalut saat itu. Aku takut jika ia benar – benar orang aneh yang akan menyakitiku atau Nara yang sedang berusaha dekat dengannya.

“Zhang Yixing masuk hari ini” ucap Nara tiba – tiba. Entah sejak kapan gadis itu ada dikelasku ini, menemaniku yang sedang membereskan buku – buku milikku.

“Lalu? Tidak ada urusannya denganku” ucapku.

“Kurasa benar juga katamu” ucapnya membuatku mengernyitkan alisku.

“Dia namja aneh” aku mengehembuskan nafasku setelah Nara mengucapkan hal itu.

“Aku sudah memperingatimu sedari awal” ucapku lalu bergegas meninggalkan kelas. Bermaksud mengajak Nara bercerita sambil berjalan menuju halte bus untuk pulang.

“Tadi, guru pengganti Jung Songsaenim yang sedang cuti hamil, datang” ucap Nara mencoba sok misterius.

“Itu tidak penting Nara-ah” ucapku memutarkan bola mataku kesal.

“Dengarkan dulu” ucapnya kesal.

“Baik.. baik..” ucapku menurut.

Aku tak berharap Nara akan bilang jika guru pengganti Jung Songsaenim adalah seorang pria berusia 23 tahun yang single juga tampan. Oh tidak, aku tidak berharap seperti itu. Aku muak membayangkannya, apalagi mendengarnya dari Nara sendiri

“Ia menyuruh kami memperkenalkan diri satu – persatu didepan kelas” ucapnya melanjutkan.

Oh sepertinya aku mengerti. Tidak, tadi Nara tak berkata Zhang Yixing masuk kekelas kan? Tolong jawab aku. Aku merasa khawatir pada anak itu.

“Zhang Yixing, dia aneh. Saat ditanya dimana rumahnya dan kapan tanggal lahirnya ia bilang ia tidak tahu. Ia memang aneh, sama seperti yang kau katakan. Ia tak pernah memanggil nama seseorang, ia hanya memanggil nama Joonmyun dan Baekhyun, yang notabenenya memang sahabat Yixing disekolah. Bahkan ia hanya memanggil songsaenim manapun dengan panggilan ‘saem’, tanpa menggunakan nama depannya. Apa itu tak aneh? Sudah tak terhitung berapa kali aku menegurnya tapi ia bilang selalu lupa namaku. Aku tak paham. Apakah ia sepikun itu?” ucap Nara panjang lebar.

“Teman – teman sekelasmu sudah tahu?” tanyaku. Entah mengapa aku jadi mengkhawatirkan Yixing.

“Sudah. Bahkan saat pulang tadi banyak siswa yang menatapnya aneh dan berbisik – bisik tentang dirinya. Mungkin karna keanehannya” ucap Nara heboh.

“Kurasa ia tidak akan masuk sekolah esok” ucap Nara melanjutkan perkataannya.

Aku hanya terdiam. Entah, aku tak tahu harus berkata apa.

“Oh iya, saat pulang sekolah ia sempat diejek oleh Kris sunbae dan teman – temannya” ucap Nara lagi. Dan ucapannya ini makin membuatku khawatir padanya.

“Sudah tersebar keseluruh sekolah rupanya” ucapku lirih.

“Nara-ah, kau pulang duluan saja. Aku ingin mengambil novel perpustakaan kota yang tertinggal dilaci mejaku. Hari ini aku harus mengembalikannya, jika tidak aku akan kena denda. Kau duluan tak apa kan?” ucapku memegang pundaknya.

“Teganya kau” ucap Nara mem-poutkan mulutnya.

“Kumohon Nara-ah” ucapku pada Nara memohon.

“Baiklah, kau hati – hati ya. Sekolah sudah sepi. Jika kau dalam bahaya, handphone-ku selalu aktif 24 jam oke” ucap Nara sambil membuat wink pada matanya.

“Baiklah Nara-ah. Tendang saja jika ada namja yang menggodamu dijalan” ucapku lalu pergi meninggalkan Nara. Berbalik arah menuju sekolah.

Entah apa yang membuatku yakin saat ini untuk kembali ke sekolah. Naluriku berkata dia sedang hancur diruang musik. Aku takut, sungguh. Aku ingin dia baik – baik saja. Entah perasaan apa ini, yang jelas aku khawatir padanya.

Nafasku tercekat ketika mendengar alunan piano dari dalam ruang musik. Mendadak kakiku berat untuk melangkah, tubuhku bergetar. Aku terlalu takut menemuinya. Entah takut karna  menganggap ia adalah orang planet luar atau karna aku merasa bersalah kepadanya. Aku tidak bisa meyakinkan itu. Otakku tak bisa berfikir jernih.

“Yixing-ah” ucapku sambil membuka pintu ruang musik. Entah keberanian dari mana yang aku dapatkan untuk membuka pintu ini.

“Eoh?” ucap orang yang didalam keherannan.

‘mati saja kau Shin Yoonjo’

 

“Eh, bukan Yixing ya? Baiklah aku minta maaf aku menyesal” ucapku membungkuk 90o.

“Kau mencari Yixing? Dia ada di atap sekolah” ucap namja yang satunya lagi tenang. Ternyata ada dua namja yang aku tak kenal disini.

“Dan kuharap kau jangan memanggil Yixing kami idiot. Dia pria yang benar – benar normal” Ucapan namja yang memiliki mata lebih sipit dari yang di sebelahnya dan itu betul – betul menohok hatiku.

Oke aku yakin mereka Baekhyun dan Joonmyun yang Nara bicarakan, teman baik Yixing. Aku tak bisa mengatakan apa – apa selain tersenyum tipis dan begegas pergi menuju atap sekolah.

Aku menyusuri gedung dengan empat lantai ini seorang diri. Kini aku berada di lantai dua, dapat kulihat anak – anak klub basket dari atas sini. Setelah melakukan kegiatan yang sama saja dengan ‘melukai kakiku’ akupun sampai di atap sekolah. Aku mengatur nafasku terlebih dahulu  dan mempersiapkan hatiku untu bertemu dengannya. Kulihat ia sedang merentangkan tubuhnya di lantai atap sekolah.

Satu, dua, tiga langkah aku berjalan di atap sekolah.

“Aku benar – benar orang idiot ya” ucapnya yang menghentikan langkah ke tigaku. Ucapannya benar – benar membuat nyaliku menciut.

“Kau benar, aku ini idiot. Aku tidak pernah ingat apa yang telah terjadi pada diriku sebelumnya. Aku hanya mengingat aku sampai di Seoul dan bertemu denganmu” ucapnya mulai berdiri dan menoleh padaku.

“Mianhae” ucapku lirih. Aku hanya membeku ditempat sekarang. Penyesalan hinggap pada diriku.

“Saat itu, sepulang sekolah aku langsung menanyakan apa yang terjadi pada diriku kepada eommaku” dia menyekat ceritanya dengan menghirup nafas sedalam – dalamnya. Ya Tuhan, sungguh aku tak siap mendengar ceritanya. Aku merasa, akulah makhluk paling jahat di dunia ini.

“Ternyata ia bilang aku pernah mengalami kecelakaan di Beijing. Saat perjalanan dari Changsa ke Beijing” ucapnya tenang. Ia tetap tersenyum padaku dan memandangku. Tapi aku? Aku seperti maling yang tertangkap basah dan sedang diadili saat ini.

“Dan mereka bilang aku amnesia. Oke mungkin ini konyol dan seperti drama. Cerita ini banyak muncul kan dalam drama Korea? Ngomong – ngomong aku suka drama Korea loh” ucapnya malah terdengar ceria. Aku malah menjatuhkan air mataku. Mereka seperti mendesak ingin keluar, aku tak dapat menahannya.

“Kau menangis?” tanyanya seperti khawatir.

“Jangan menangis. Jika kau menangis aku tak ingin melanjutkan ceritaku” ucapnya lalu menyeka air mataku dengan tangannya. Oh Tuhan, ini manis sekali bagiku.

“Lanjutkan” ucapku singkat.

“Oh baiklah. Dokter bilang, setelah kecelakaan itu otakku bereaksi sangat lambat. Sehingga aku sulit mengingat kejadian dan hal – hal yang lama ataupun baru” dia tetap mempertahankan senyumnya.

“Seminggu kemarin, saat aku tak masuk, kau pasti mengira aku tak masuk karena perkataanmu” ucapnya percaya diri. Ya.. Walau hal itu benar. Aku tak mampu menjawabnya.

“Tenanglah. Aku tidak merasa tersakiti dengan ucapanmu. Ucapanmu malah membuatku ingin mengetahui diriku ini seperti apa. Oh iya, seminggu kemarin aku therapy jalan”

“Aku menetap di Korea untuk therapy. Bagaimana kisah hidupku layak untuk dijadikan drama bukan? Menurutmu apa yang cocok? Derita Lelaki Pikun atau mungkin Kisah Anak Idiot?”

Oh… Kau bodoh Zhang Yixing, kau tidak melucu kau malah membuat ku sedih. Aku tahu kau hanya menunjukkan fake smile dan itu menyakitkanku. Dan kini air mataku tumpah sederas – derasnya. Aku tak peduli pada rasa malu-ku. Melihatmu tetap tersenyum saat sedang direndahkan seperti ini membuatku sakit. Apa aku mulai tertarik padamu? Aku tidak tahu.

“Uljima” ucapnya lirih sambil mengusap air mataku dengan tanganya. Aku sangat nyaman diperlakukan seperti ini.

“Kau tau? Saat aku mengenalmu entah mengapa tiba – tiba saja namamu selalu muncul dikepalaku. Aku bahkan tak ingat nama Joonmyun dan Baekhyun saat itu. Tapi Yoonjo dengan mudahnya terus berputar pada kepalaku” ucap Yixing sambil menatap mataku lekat. Aku gugup. Oke ini terlihat bodoh.

“Akhirnya aku sadar. Kau Shin Yoonjo, siswi kelas 11-A jurusan Seni. Kau yang dikenalkan oleh teman sekelas ku Kwon Nari…”

“Kwon Nara, Yixing-ah” ucapku tersenyum mendengarnya.

“Ah iya. Ya Tuhan aku merasa sangat berdosa padanya karna tak pernah ingat pada namanya” ucap Yixing menyesal.

Suasana hening beberapa saat. Ini tampak canggung.

“Yoonjo-ah,  kau mengerti maksud ceritaku?” ucapnya mencairkan suasana. Aku hanya terdiam. Aku tak ingin berbesar hati. Itu akan tampak sangat memalukan jika aku salah paham.

“Aku mencintaimu” ucapnya lirih sambil memandang kelangit yang biru cerah. Sedangkan aku? Entah mengapa, mendadak kakiku bergetar hebat, jantungku berdegup kencang dan aku yakin kali ini wajahku memerah. Oh apa yang harus kulakukan.

“Yoonjo-ah, jika kau tak mau aku tak memaksa. Aku tahu pasti akan terasa sangat sulit berhubungan dengan orang sepertiku” ucapnya mencoba kuat. Oh ya Tuhan aku bingung sungguh.

“Aku juga mencintaimu”

Huffttt… Akhirnya keluar kata – kata itu. Lagi – lagi mulutku ini bertindak seenaknya. Menyebalkan.

“Yoonjo-ah”ucap Yixing lirih seakan tak percaya.

“Waeyo? Aku tak salah. Aku dalam keadaan sadar Yixing-ah” ucapku tersenyum padanya. Sedangkan Yixing? Ia hanya tertawa.

“Yixing-ah ada satu kemajuan dalam dirimu” ucapku membuatnya penasaran.

“Apa itu?” dahinya mengkerut.

“Kau mampu mengingat cerita masa lalumu. Itu suatu kemajuan” ucapku senang.

“Ah iya kau benar. Itu kemajuan selain aku bisa secara tiba – tiba mengingat namamu Yoonjo-ah” ucap Yixing setengah tertawa.

“Mungkin itu kekuatan cinta” ucapku sekenanya.

“Sebutlah namaku 20 kali sebelum tidur agar kau ingat terus namaku” ucapku lagi meledeknya.

“Yoonjo… Yoonjo… Yoonjo… Yoonjo… Yoonjo… Yoonjo… Yoonjo… Yoonjo… Yoonjo… Yoonjo…” Yixing terus saja menyebut namaku.

“Hentikan Yixing-ah. Percuma jika kau tak tahu nama lengkapku” ucap Yoonjo mem-poutkan bibirnya.

“Shin Yoonjo. Aku tahu, kau Shin Yoonjo” jawan Yixing santai.

“Kau salah Tuan Zhang”ucapku membuat alisnya naik sebelah. Ia terdiam.

“Kau benar – benar tak tahu namaku? Sungguh jahat. Berarti nama yang selalu berkeliaran dalam otakmu itu bukan namaku ya. Tapi nama Yoonjo Yoonjo lainnya di sekolah ini. Wah, kau salah orang tuan Zhang” ucapku sambil tersenyum jahil. Dan kata – kata ku itu sukses membuat Zhang Yixing terdiam seribu bahasa dengan wajah penuh tanda tanya.

“Karna namaku…”

“Zhang Yoonjo”

*******

WAH AKHIRNYA BERES JUGA NIH FF YANG DIBUAT SELAMA 3 JAM >.< PEGEL GEWLAAA… ITU BAGIAN ENDINGNYA NGERTI KAN? SEMOGA NGERTI YA…. HEHHE…

MAAF YA BILA ADA TYPO ATAU ALUR CERITA YANG GAK JELAS ATAU MENGADA – NGADA. GATAU KENAPA TIBA – TIBA MUNCUL ALUR CERITA INI, LAY DAN YOONJO DALAM OTAK BERSAMAAN JADI AKU GATAU HARUS GIMANA AKU DILEMA/GA. L

KALAU HASILNYA KURANG MEMUASKAN, MAAF YA. AKU MASIH BELAJAR. JANGAN LUPA KRITIK DAN SARAN YANG MEMBANGUN OKEEE… HHEHEEE… LOVE U TOO :*

DI POST JUGA DI>> http://bawangdauncantik.blogspot.com/

Author: gyuskaups

99 Geng || Multifandom || Hiphop Style

Here We Need Responsibilities. Thanks!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s