EXO Fanfiction Dorm

EXO as the Main Cast

[Freelance] Miracle In December

Leave a comment

 image003

Tittle: Miracle In December

Author: Lingga Rahma (@abcdefgsuho)

Cast: Seohyun (GG Seohyun), Luhan (EXO Luhan)

Genre: Romance, Sad

Rating: PG-13

Length: Oneshot

Poster: Vi [http://seoexoartfanfic.wordpress.com]

Allhamdulillah segala puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas selesainya pengerjaan Fanfic ini❤. Dan perlu anda – anda/? Semua ketahui bahwa fanfic ini murni buatan saya atas kerja keras otak kanan dan kiri saya yang sangat saya hormati dan banggakan/? ^^

Mohon maaf bila tidak adanya kecocokan yang lebih gaul disebut ‘sreg’ dengan castnya. Kalian boleh membayangkan jika itu orang lain atau diri kalian sendiri atau mungkin diriku/ga. Haha.. Yasudah ayo kita mulai petualangan di Afrika bersama Big Co***la ini.

 

*Seohyun POV

Aku menyesap kopi yang baru saja kubeli dari dalam salah satu toko kopi ternama di Seoul. Kulihat salju kecil turun menyelimuti indahnya kota Seoul dimalam hari. Aku semakin mengeratkan kancing mantelku karena dinginnya udara malam ini. Suasana rumah yang membosankan membuatku melangkahkan kakiku menuju jalanan kota Seoul. Sedikit aneh memang jika anak dari seorang Musisi di Seoul sudi melangkahkan kakiknya dikeramaian kota Seoul di malam hari.

Aku terus berjalan tanpa pasti, menyesap kopi menggunakan masker tidak akan membuatku nyaman. Akupun terpaksa melepaskan maskerku. ‘bagaimana jika ada yang melihatku saat ini’ terserahlah toh aku yakin mereka tidak akan menggangguku terlalu jauh. Ya, ayahku memang banyak dikenal di Korea saat ini setelah membuat project project musik acara tv dan itu membuat kehidupan dan profile keluarga kami naik ke permukaan.

Sarangeul molla

 

Neon neobagge jal molla

 

Eorinae gateun tujeongeun geuman hae jullae


Neon yeojeonhi

 

Sarangeul molla

 

Neon neobakke jal molla

 

Ggog malhaejwo yeonae mameul algeni

Sejenak langkahku terhenti saat aku mendengar alunan lagu dari seorang musisi jalanan yang berada di ujung jalan. Aku menyelinap kedalam kerumunan penonton yang tengah menyaksikan penampilannya tersebut, menikmati petik demi petik gitar yang ia mainkan.

“Hei, kau anak dari Tuan Seo kan” sebuah suara mengagetkanku.

‘eh, bagaimana ini’ batinku.

“Ah benar dia Seo Joohyun anak dari komposer Seo” ucap yang lainnya.

Semua orangpun menjadi berhamburan kearahku. Mereka semua melupakan pertunjukan musisi jalanan itu dan mulai mengejarku. Aku sesegera menggunakan masker dan membuang kopiku ke tempat sampah, aku segera berlari kesebuah gang sempit. Aku bersembunyi di balik tempat sampah.

‘kukira mereka bisa ramah ternyata mereka bisa ganas juga’ batinku.

Aku mengambil napas setelah sesaat kerumunan orang yang mengejarku pergi entah kemana. Aku berinisiatif untuk kembali ke tempat musisi jalanan itu melakukan pertunjukan, aku tau dia telah kehilangan banyak peminat setelah aku muncul, dan aku berniat untuk meminta maaf kepadanya. Atau mungkin sedikit membantunya.. ya sedikit saja.

Saat aku kembali, tempat itu lengang, aku melihat musisi jalanan itu sedang menge-pack peralatan musiknya. Ah, apakah pertunjukannya sudah selesai?

“Annyeong” sapaku memberanikan diri.

Dia tampak menoleh dan menurunkan kupluk yang sedari tadi melekat dikepalanya.

‘aigoo, tampan sekali namja ini’ batinku.

“Kau? Mau apa kau kesini?” tanyanya ketus.

“Eh?” aku hanya melongo heran.

“Kau telah membuat peminatku pergi dan aku kini kehilangan banyak uang yang seharusnya menjadi milikku” ucapnya bersungut – sungut.

“Mianhae” ucapku lirih.

“Itu tak akan membuat keadaan berubah” ucapnya sambil menggendong sebuat tas, sepertinya ia ingin pergi dari tempat ini.

“Chamkkaman” ucapku menghentikan langkahnya saat ia mulai meninggalkanku beberapa langkah.

“Wae?” tanyanya.

“Aku bisa membantumu jika kau mau” ucapku tersenyum ramah.

“Membantu?” dia mengerutkan dahinya.

“Kau bisa bermain gitar dan aku bisa bernyanyi, lebih baik bukan? Kurasa akan banyak peminat berdatangan” ucapku bersemangat.

Dia hanya mendesis sebal tapi aku terus berusaha membujuknya hingga akhirnya iapun mau.

“Aku tidak yakin kau mempunyai suara yang baik” ucapnya sambil mencolokan beberapa sambungan gitar listriknya.

“Eh, aku rasa suaraku baik” ucapku sambil mencoba mengetest suaraku pada microphone.

Kulihat tempat ini mulai dikunjungi banyak orang. Dan kurasa kehadiranku sangat berpengaruh disini. Aku terus menatap wajah laki laki yang belum aku tau namanya ini, dia sangat tampan dan wajahnya sangatlah imut.

“Apa yang kau lihat? Cepat mulai” ucapnya membuatku kaget.

“Ah, ani. Baiklah” ucapku seperti orang tolol.

“Lagu yang ingin kunyanyikan adalah Because of Tears, selamat menyaksikan” ucapku dengan gugup. Ya ini adalah kali pertama aku menunjukan suaraku didepan umum. Aku menutup mataku dan mulai bernyanyi.

hansarami saenggyeotjyo

 

saranghamyeon an doeneun geu saram

andoeneunde andoeneunde

 

myeot beoneul ppurichyeo boatjyo

geu sarameul ullyeotjyo

 

jidokhido motdoen naui jipchage

nunmuri mameul humchyeoseo

 

 sarajyeo beorindamyeon

kkok dagaol geotman gataseo

 

I believe that I love you

 

michige nareul heundeuneun

I believe that I love you

 

biteuldaeneun nae sarangi

dagagamyeon geudae geobi naseo

 

sumeo beorilkkabwa

na jugeul deut apeudaedo

 

nan baraman bojyo

eoneunal geu eoneunal

 

urin seoro oneul cheoeum bongeojyo

gapjagi sumi makhyeowa

 

apatdeon nae gieogi

modu da sarajyeo beorin geojyo

 

I believe that I love you

 

michige nareul heundeuneun

I believe that I love you

 

biteuldaeneun nae sarangi

dagagamyeon geudae geobi naseo

 

sumeo beorilkkabwa

na jugeul deut apeudaedo

 

nan baraman bojyo

jigeumeun anira haedo

 

heundeullineun geudael neukkil suga inneunde

eum~ nae mami geudael anikka

 

geudaega saranginikka

I believe that I love you

 

michige nareul heundeuneun

I believe that I love you

 

biteuldaeneun nae sarangi

 

dagagamyeon geobi naseo

 

sumeo beorilkkabwa

na jugeul deut apeudaedo

 

nan baraman bojyo

nunmuri nae mam andamyeon eum

 

Aku membuka mataku perlahan dan melihat kesekelilingku, tampak orang – orang yang berkerumunan tersebut memberikan ku, eh ani kami maksudku memberi kami tepuk tangan. Aku menatap ke arah laki – laki yang menjadi patner ku saat ini. Dia tampak tersenyum kepadaku. Aku bahkan belum berkenalan dengannya.

Tampak banyak orang yang dengan sukarela mengsisi kotak uang yang pria itu taruh. Aku sangat senang ternyata aku bisa membantu pria ini. Setelah semuanya pergi, ia membereskan peralatan musiknya dan tampak menghitung uang yang ada pada kotak itu, ia pun pergi meninggalkanku.

‘dingin sekali namja ini’batinku.

“Hei” panggilku saat ia mulai menjauh dariku.

Dia tidak bergeming dan terus melangkah, dasar keras kepala.

“Kau tidak berterima kasih kepadaku?” tanyaku kepadanya setengah berteriak dan berlari berusaha mensejajarkan langkahku dengan langkahnya.

“Berterima kasih? Kau yang menawariku bantuan dan aku yang harus berterima kasih kepadamu? Kurasa tidak perlu” ucapnya sambil memasukan semua uang yang ada di kotak itu kedalam tasnya. Aku hanya mem-poutkan bibirku.

“Kita belum berkenalan” ucapku dengan senyuman yang menyungging.

Dia hanya menatapku lalu lekas berjalan cepat dan masuk kedalam salah satu kedai ramyun. Aku berdecak kesal dan mengikutinya masuk kedalam kedai itu.

“Kau meninggalkanku” ucapku kesal sambil duduk disebelahnya yang sedang melihat – lihat menu ramyun di kedai makan kecil ini.

“Ramyun porsi sedang satu mangkuk ahjumma” ucapnya kepada pelayan tua yang sedang berdiri disampingku ini tanpa menghiraukan perkataanku.

“Eh, aku juga ingin. Ahjumma, aku juga ingin sama sepertinya” ucapku berteriak kepada ahjumma yang sudah berjalan menuju meja kasir.

“Baik agashi” ucap ahjumma itu lembut.

“Kau ini memalukan, jangan berteriak seperti itu” ucapnya setengah membentakku.

Akupun mempoutkan bibirku kembali dan melihat kesekitar. Aku lihat semua orang yang ada disini sedang menatap kami. Sebagian besar dari mereka adalah orang dewasa, bahkan tak terlihat anak muda selain kami. Aku bingung mereka menatapku antara terkejut dengan teriakanku atau memang mengenaliku, karna aku sekarang menggunakan masker dan kupluk animasi kodok hijau kesukaanku.

“Lepas maskermu jika kau ingin memakannya, itu tidak akan terlihat sopan” ucapnya menyadarkanku bahwa pesanan kami telah datang. Akupun menuruti perintahnya.

“Ahh, ini enak sekali. Aku akan membayarkan punyamu sekalian” ucapku sesaat setelah selesai memakan ramyun dan pergi menuju kassa.

*Luhan POV

Aihh, sial sekali aku hari ini terkekang bersama gadis manja yang bawel dan cerewet. Dia memang telah membantuku, tapi aku tetap enggan mengucapkan terima kasih kepadanya. Toh dia yang memaksaku untuk menerima bantuanku.

“Ahh, ini enak sekali. Aku akan membayarkan punyamu sekalian” ucapnya segera beranjak dari tempat duduknya menuju kassa.

“Terserah kaulah, aku bahkan tidak mengenalmu” ucapku pelan, sepertinya sia – sia karna kurasa dia tak mendengarku.

Akupun beranjak dari kedai itu terlebih dahulu. Aku menunggunya keluar dari kedai itu. Walaupun aku menganggap dia menyebalkan dan penggangu tapi aku tidak bisa membiarkannya berjalan sendiri menuju halte bus. Apalagi dia ini anak seorang musisi terkenal, bisa bahaya jika ia ditemukan mengenaskan dipagi hari sesaat setelah semalaman dia bersamaku.

5 menit..

10 menit..

15 menit..

Ia tak kunjung keluar juga dari kedai itu. Aku tak mau mati membeku diluar sini sehingga akupun memutuskan untuk masuk kedalam mencari gadis itu. Saat aku masuk kedalam kulihat ia  sedang mengobrol dengan ahjumma pemilik kedai kecil ini. ‘aisshh dasar wanita itu memang senang sekali bergosip’ batinku. Akupun segera mendekatinya.

“Tapi ahjumma, aku tidak punya barang lain” ucap gadis itu.

“Ada apa ahjumma?” ucapku ramah.

“Kekasih anda ingin membayar makanan yang anda pesan dengan credit card-nya. Tapi mianhae agashi, kedai kami kedai kecil sehingga hanya menerima uang cash” ucap ahjumma itu dengan senyum tulus. Sabar sekali ahjumma ini menghadapi gadis keras kepala ini.

“Mianhaeyo ahjumma, akan aku bayar semuanya. Berapa totalnya?” ucapku mengambil dompet.

“5000 won agashi”

“Ah, aniyo. Aku tidak akan membiarkanmu membayar semua ini” ucap gadis itu lagi. Huh, dasar gadis menyebalkan.

“Lalu kau akan membayarnya dengan apa? Jangan bertindak bodoh” ucapku sambil memberikan beberapa lembar uang kepada ahjumma itu.

“Mianhae ahjumma. Gamsahamnida” ucapku membungkuk lalu pergi meninggalkan kedai sambil menarik lengan gadis keras kepala ini. Gadis ini pun melakukan hal yang sama

“Jika kau tak rela uangmu pergi begitu saja karenaku, aku bisa menggantikannya. Tapi antarkan aku ke ATM terdekat, aku kan mengambil uang untuk menggantikan uangmu” ucap gadis itu saat kami sudah keluar dari kedai.

“Tidak usah, anggap saja itu ucapan terima kasihku” ucapku tanpa melirik gadis itu.

“Oh ya, kita belum berkenalan. Aku yakin kau sudah mengenalku”

“Mwo? Mengenalmu? Ani, aku tidak mengenalmu”

“Jinjja? Kau tidak mengenalku? Aku anak Mr.Seo, musisi terkenal”

“Aku hanya mengenal ayahmu, aku tak mengenalmu” ucapku datar.

“Haishh, baiklah aku Seo Joohyun. Kau siapa?”

“Xi Luhan”

“Aku bisa memanggilmu Luhan-ssi oke” ucapannya tak dibalas olehku.

“Baiklah Luhan-ssi, sampai bertemu esok. Rumahku kearah sini, annyeong” ucapnya berlari meninggalkanku.

Eh, dia pulang dengan siapa? Eh tunggu, mengapa aku mengkhawatirnya? Ani, aku bukan mengkhawatirkannya, aku mengkhawatirkan diriku sendiri. Jika dia kembali ke rumahnya dengan keadaan tidak baik – baik saja, bisa – bisa aku dibawa ke penjara oleh ayahnya. Karna aku orang terakhir yang bersamanya malam ini.

*Seohyun POV

Namanya Xi Luhan, ia tampan dan menarik. Tapi sikapnya dingin

“Pukul berapa ini? Semoga saja appa sudah tidur, aku tidak ingin ketahuan olehnya lagi hari ini” ucapku sambil mengendap – ngendap masuk melewati halaman belakang rumah.

Kulihat lampu ruang tengah sudah dimatikan, itu tandanya seluruh penghuni rumah sudah tidur. Aku berhasil menyelinap masuk melalui pintu dapur. Aku melepas wedges ku untuk menghindari bunyi pijakan kaki. Aku segera naik menuju tangga kamarku.

Cklekk,

“Dari mana saja kau Seo Joohyun” ucap appa-ku yang ternyata sedang berada di ruang tengah. Ia menyalakan lampu utama.

“Berkunjung ke rumah Seulmi appa” ucapku berbohong.

“Dengan seorang namja?” ucap appaku tiba – tiba.

“Eh, maksud appa?” ucapku pura – pura tak tau.

“Appa tau kau berjalan dengan seorang namja dijalanan kota Seoul. Tuan Kim mengirim e-mail kepada appa” ucap appa sambil menunjukan e-mail dari tuan Kim, asisten appa yang berisi photoku dengan Luhan sedang berjalan keluar kedai.

“Mianhae appa” ucapku.

“Sudah appa bilang, belum waktunya berpacaran. Kau masih 16 tahun” ucap appa keras.

“Tapi dia temanku appa. Dia pandai bermain musik” ucapku berusaha membujuk appa dengan kata – kata ‘music’

“Masuklah ke kamarmu. Appa pusing mendengar semua karangan ceritamu”

‘appa tidak mempercayaiku’ batinku.

-Esok Pagi-

“Hari ini kau ada les piano Hyunnie. Appa akan menjemputmu jika sempat” ucap appa sambil menyetir mobil menuju sekolahku

“Ani appa, jika kau tidak bisa menjemputku tak apa. Aku akan meminta Seulmi menjemputku, sekalian aku ingin mengerjakan tugas dirumahnya” ucapku meyakinkan appa.

“Baiklah, jangan pulang melebihi pukul 9 malam, Hyun” ucap Appa saat aku keluar dari mobil.

“Mianhae appa. Tapi aku bukan ingin kerumah Seulmi. Aku ingin menemui Luhan” ucapku mengenggam mantel bulu yang aku lepas saat sudah berada di aula sekolah.

Dengan sangat sabar aku melewati hari ini. Melewati 6 jam disekolah, 2jam ditempat les piano. Dan saat waktu sudah menunjukan pukul 4 sore aku segera menuju tempat kemarin. Tempat saat aku dan Luhan pertama kali bertemu. Saat aku sampai disana, kulihat tak ada satu orangpun disana. Padahal sudah pukul 4, bukankah seharusnya para musisi jalanan mempersiapkan penampilannya. Akupun menunggu di tempat ini, tidak peduli dengan badai salju kecil yang turun.

“Hei apa yang kau lakukan disini?” tanya seseorang menganggetkanku.

“Luhan-ssi” ucapku terkejut

“Sedang apa kau disini?”

“Menunggumu”

“Menungguku? Untuk apa kau menungguku?”

“Aku ingin membantumu lagi”

“Aku takut aku akan dipergoki oleh ayahmu dan akhirnya aku menjadi santapannya hidup – hidup. Aku tau ayahmu orang yang keras”

“Eh, bagaimana kau tau?”

“Aku pengagum ayahmu. Aku menyukai karyanya dan bercita – cita menjadi seperti dia suatu hari nanti” ucapnya sambil membereskan peralatan musiknya.

“Kau baru pulang sekolah?” tanyaku.

“Ya”

“Kau bersekolah dimana? Mengapa kau tidak menggunakan seragammu?”

“Tidak penting. Aku akan dikeluarkan dari sekolah jika aku menggunakan almamaterku”

Aku hanya membentuk mulutku dengan huruf O. Tanda aku mengerti.

Seperti itulah kegiatanku selama seminggu kedepan. Membantu Luhan dengan bernyanyi didepan umum mulai pukul 5 sore dan pulang kerumah pukul 8 malam. Dengan menjadikan mengerjakan tugas di rumah Seulmi sebagai alasan aku bisa berada diluar rumah sampai pukul 9 malam. Ya, yang aku harapkan sekarang hanya ‘semoga para penikmat musik jalanan ini tidak ada yang melaporkan pada ayahku jika aku membantu Luhan dijalanan’. Karna akupun telah meminta untuk bisa kerja sama dengan Seulmi.

“Luhan-ssi, apakah kau merasa kehadiranku penting saat ini” ucapku memberanikan diri kepadanya sesaat sebelum kami tampil.

“Ani, aku menganggapnya sama saja. Aku menerimamu membantuku karna kurasa aku akan mendapatkan lebih banyak uang jika aku bersamamu disini”

‘joohyun, dia hanya memanfaatkanmu. dan ini menyakitkan joohyun’ batinku.

“Gwaechana, aku mengerti. Asal aku selalu didekatmu” ucapku mencoba tersenyum.

“Kita mulai saja” ucapnya dingin. Ya, sikapnya masih saja dingin kepadaku.

“Annyeong. Hari ini kami akan mempersembahkan sebuah lagu yang menurutku sangat indah yang berjudul Gone. Selamat menikmati”

 

gieogi meomuldagan geu jarieson kkeute namainneun ongiedo

niga itda itdaneoui hyanggi neoui eolgul

jebal nal bwa nal bwabwa nal bwabwa 

na ireoke neol neukkyeo neol neukkyeo neol neukkyeo

aesseo jabeun maltu aesseo jabeun miso aesseo jabeun neonde

 

uri hamkke itdeon geu gonggane 

naega neol darmagadeon geu sungane

bissogeul geunyang georeodo neomu johatdeon niga eopda niga eopda

eotteoke na honjaseo neol jiugo sara

hamkke georeogadeon geu sigane 

geureoke mandeureogadeon chueokkkajido miryeonkkajido

meomun jarie nan seo itda neomu geuriwo

 

nal bwabwa nal bwabwa nal bwabwa 

na ajikdo neol neukkyeo neol neukkyeo neol neukkyeo

gyeou darmeun maltu gyeou darmeun miso gyeou darmeun neonde

 

uri hamkke itdeon geu gonggane naega neol darmagadeon geu sungane

bissogeul geunyang georeodo neomu johatdeon niga eopda niga eopda

eotteoke na honjaseo neol jiugo sara neomu geuriwo

 

gyeou heorakdoen neoui ireum jiul su eobseo 

neomani bureun naui ireumi yeogi jamjago isseo

 

uri hamkke itdeon geu gonggane 

naega neol darmagadeon geu sungane

bamjameul geunyang seolchyeodo neomu johatdeon niga eopda niga eopda

eotteoke na honjaseo neol biugo sara

hamkke georeogaya hal geu sigane

ajikdo mandeureoya hae urimiraedo naui baraemdo

meomun jarie nan seo itda neomu geuriwo

Akupun menangis sesaat setelah menyanyikan lagu itu. Aku meninggalkan Luhan dan para penikmat musisi jalanan yang tengah memberikan kami tepuk tangan. Kemana tujuanku sekarang? Tentu saja ke rumah, kembali ke rumah ku. Tapi saat aku sedang menahan isak tangisku dijalanan, sesorang memanggilku.

“Seohyun-ah” teriaknya

“Luhan-ssi?” ucapku kaku.

“Waeyo? Kau tidak enak badan?” tanyanya perhatian. Baru kali ini ia perhatian terhadapku.

“Ani. Mianhae Luhan-ssi, aku harus pulang” ucapku melewatinya.

*Luhan POV

Ada apa gadis ini? tidak seperti biasanya hari ini lebih banyak berdiam diri. Diapun melontarkan pertanyaan bodoh sebelum kami tampil. Dan sesaat sesudah kami tampil dia pergi meninggalkanku begitu saja. Kenapa dengan gadis ini. Eh, tunggu untuk apa aku memikirkannya. Ini tidak penting. Ingat Luhan kau hanya memanfaatkannya.

Tapi kurasa ini aneh, saat dirumahpun aku terus memikirkannya. Entah mengapa aku kini mengkhawatirkannya padahal sebelumnya aku tidak pernah peduli dengan keadaannya. Ingin sekali aku menghubunginya, tapi aku tidak punya nomer handphonenya. Aku merasa bertanggung jawab dengan keadaanya.

-Esok Sore-

Sudah pukul 5 sore dan gadis itu belum datang juga. Hari ini memang terjadi badai salju kecil, ya kecil hanya badai kecil. Tidak mungkin ia tidak datang karena itu. Aku terus menunggunya sampai waktu menunjukan pukul 5 sore lebih 15 menit. Penikmat musik jalanan telah menunggu sejak tadi dan akupun membawakan lagu seorang diri. Oh Tuhan, aku bersumpah jika aku bertemu gadis itu ingin sekali aku membentaknya karna ia membuat peminatku sedikit berkurang hari ini. kemana sebenarnya ia?

Hal ini terus terjadi hingga dua hari berturut – turut sehingga membuat peminat terhadap musikku berkurang drastis. Aku yang penasaranpun segera menunggunya didepan sekolahnya. Ya, mungkin aku mulai mengkhawatirkannya saat ini. Aku terus menunggunya hingga pukul 4 tapi dia tak kunjung menampakan wujudnya. Hal ini membuatku untuk beristirahat dari pertunjukan musikku. ‘apa ia ingin membuatku mati membeku, eoh?’ batinku.

“Hei kau, sedang apa disini? Kulihat sedari tadi kau menunggu di gerbang sekolah kami” ucap seorang siswi sekolah ini yang menegurku.

“Aku sedang menunggu temanku”

“Temanmu? Siapa dia? Mungkin aku bisa membantu memanggilnya”

“Seohyun, Seo Joohyun”

“Eh, hyunnie?”

“Kau mengenalnya? Tolong bantu aku, aku membutuhkannya”

“Tunggu sebentar, aku seperti mengenalmu. Kau Xi Luhan bukan? Orang yang selalu melakukan pertunjukan musik di jalan sekitar Gangnam?”

“Eh, bagaimana kau tau aku?”

“Aku Seulmi, sahabat dari Seohyun. Ia banyak menceritakan tentang dirimu kepadaku juga menunjukan photomu kepadaku. Bahkan ia selalu meminta bantuanku ketika ia sedang membantumu menggelar pertunjukan musik di jalanan Gangnam”

“Syukurlah jika kau tau diriku. Bisa kau mencarikan Seohyun untukku?”

“Seohyun bukannya sudah pindah ke Amerika sejak 3 hari yang lalu. Kau tidak diberitahu olehnya?”

‘mwoo? apa ini’

“Benarkah? Mengapa ia tak memberitahukannya kepadaku?”

“Mianhae aku tak tau. Sudah selesai bukan urusan kita? Seohyun sudah tidak ada disini saat ini. Kalau begitu aku akan kembali ke dalam, annyeong” ucap gadis yang bernama Seulmi itu meninggalkanku

‘kenapa ia tidak mengabariku terlebih dahulu’ itu hal yang aku pikirkan setelah aku mengetahui kenyataan itu. Aku baru sadar itu adalah alasan mengapa ia menyanyikan lagu Gone saat pertunjukan terakhirnya, alasan mengapa ia menangis ketika selesai menyanyikan lagu itu, alasan mengapa ia pergi begitu saja ketika selesai menyanyikan lagu itu, dan itu juga alasan mengapa ia tidak ingin berbicara kepadaku saat aku mengejarnya dijalanan.

Oke, aku kini sadar bahwa aku telah membalas rasa sayangnya kepadaku. Kini aku sadar bahwa aku ternyata mencintainya. Kini aku sadar ia penting dalam kehidupanku, bukan hanya sebagai seorang Seo Joohyun yang membantuku menghasilkan uang tapi seorang Seo Joohyun yang dapat menghiburku.

-4 Tahun Kemudian-

Setelah empat tahun berlalu, aku berusaha mengembalikan peminat musikku. Karna itu satu – satunya cara agar aku yang sebatang kara ini dapat hidup. Setelah aku ditinggal oleh Seohyun aku mulai rajin menulis lagu. Bukan hanya untuk pertunjukan musikku tapi untuk mewujudkanku menjadi seorang musisi terkenal.

Seperti biasa pukul 4 sore aku bersiap siap menampilkan sebuah lagu yang baru saja aku buat. Lagu ini ditunjukan untuk Seohyun, aku masih saja tidak bisa melupakannya. Dan tentunya akan tidak apa – apa bukan jika aku mengharapkan ia mendengar lagu yang ku persembahkan untuknya ini.

Sudah memasuki pukul 7 malam aku mulai menyanyikan lagu yang dibuat olehku untuk Seohyun. Eh, tunggu sebelumnya aku melihat sekelebat bayangan menyerupai gadis itu disini. Menggunakan kaca mata hitam dan mantel bulu berwarna hitam yang kurasa hangat disini, tapi sekarang bayangan itu entah kemana.

“Annyeong, hari ini aku ingin membawakan sebuah lagu yang baru saja aku buat. Lagu ini kutunjukan untuk seorang gadis yang ternyata kehadirannya sangat berarti bagiku. Kuharap kalian dapat menikmatinya. Lagu ini berjudul Miracle In December”

Entah ada apa, tiba – tiba butiran salju kecil turun kejalanan kota Seoul malam ini. Seperti mendukung pertunjukan ku butiran salju itu turun perlahan menyesuaikan alunan tuts piano yang kusentuh.

Boiji anheun neol chajeuryeogo aesseuda

deuliji anhneun neol deureulyeo aesseuda

 Boiji anhdeonge boigo deulliji anhdeon ge deullyeo

neo nareul ddeonan dwiro naegen eobtdeon himi saenggyeosseo

 Neol nabakke mollasseotdeon igijogin naega yeah…

ne mamdo mollajwotdeon musimhan naega

ireohkedo dallajyeotdaneun ge najocha midgiji anha

 Ne sarangeun ireohke gyesok nal umjikyeo

 Nan saenggakman hamyeon sesangeul neoro chaeul su isseo hmmm…

nunsongi hanaga ne nunmul han bangulinigga

 Dan han gaji mothaneun geoseun neol naegero oge haneun il

i chorahan choneunglyeog ( ijen eobseoeumyeon jogesseo) uhhh..

 Neol nabakke mollasseotdeon igijogin naega

ne mamdo mollajwotdeon musimhan naega

ireohkedo dallajyeotdaneunge najocha midgiji anha

 Ne sarangeun ireohke gyesok nal umjikyeo

 Siganeul meomchwo ( Nege doraga)

chueogeu chaegeun ( Neoui peijireul yeoreo)

nan geu ane isseo ( Ow hooo)

 Neowa hamkke ineun geol

aju jogeumago yakhan sarami neoui sarangi

 Ireohke modeun geol ( Nae salmeul modu)

bakkun geol ( Sesangeul modu) hooo uwoo…

 Sarangi gomaun jul mollasseotdeon naega hoo..

 Kkeutnamyeon geumanin jul aradeon naega ohh..

neo wonhaedeon geu moseub geudaero nalmada nareul gochyeoga

Nae sarangeun kkeuteobsi gyesok ddeul geot gata

Siganeul meomchwo ( Ije nan)

nege doraga ( Nege doraga)

chueogui chaegeun ( Oneuldo)

neoui peijireul yeoreo ( nan geane isseo ow hoo…)

 Geu gyeure wa ineungeol

 Boiji anheun neol chajeuryeogo aesseuda

deuliji anhneun neol deureulyeo aesseuda

Kulihat sekelilingku tampak memberikanku tepuk tangan yang meriah. Aku sangat bangga dengan laguku saat ini, tapi semua itu akan terasa lebih lengkap jika Seohyun ada disini. Ah sudahlah lupakan saja.

Aku menerima banyak bayaran dari para penikmat musik jalanan hari ini, setelah selesai menghitung jumlah uang akupun langsung mengepack kembali peralatan musikku. Tapi sebuah suara mengejutkanku.

“Pertunjukanmu tadi sangat bagus”

*Seohyun POV*

“Ah, Seulmi-ah bogoshippo” ucapku memeluk Seulmi.

“Kau semakin tinggi Hyunnie” ucap Seulmi kepadaku.

“Ah, kau ini bisa saja”

Ya, aku melepas rindu dengan sahabatku Seulmi setelah empat tahun kami tidak bertemu. Kini aku dapat kembali ke Korea setelah aku menyelesaikan sekolah dan kuliahku disana. Dan akupun memutuskan untuk berjalan – jalan dengan Seulmi sore hari ini.

“Seulmi-ah, aku sangat bahagia dapat menyentuh dinginnya salju di Korea lagi” ucapku kepada Seulmi. Ya, aku kembali ke Korea memang saat pertengahan musim dingin, saat salju mulai menuruni langit di Korea.

“Oh ya, apa kau merindukan Luhan?” tanya Seulmi tiba – tiba.

“Eoh? Maksudmu?”

“Jika kau merindukannya, ia masih menjadi musisi dijalanan Gangnam. Kita bisa mengunjunginya jika kau mau”

“Aku sedikit ragu, dia hanya memanfaatkanku”

“Eh ani. Kurasa ia memerhatikanmu juga”

“Jangan bercanda”

“Aku jujur. Dia mencari – cari dirimu setelah kau pergi ke Amerika”

“Benarkah?”

“Kau pikir aku tega berbohong kepada gadis polos sepertimu eoh?”

“Baiklah aku akan mencoba menemuinya” aku memberanikan diri.

Saat aku mengunjungi tempat pertunjukannya, kulihat ia sedang mempersiapkan microphonenya. Ia tampak tak berubah, wajahnya masih terlihat sama. Gelagatnya pun masih terlihat sama. Oh Tuhan, aku benar – benar merindukannya.

Ia mulai bernyanyi. Eh tunggu, aku belum pernah mendengar lagu ini. Kurasa ini lagu ciptaannya.

“Sepertinya lagu ini ditunjukan untukmu” ucap Seulmi tiba – tiba.

“Eh kau ini jangan membuatku besar kepala”

Selesai. Jujur, lagu yang dinyanyikannya sangatlah indah baik musik ataupun isinya. Setelah para peminat pergi akupun memberanikan diri mendatanginya. Tapi aku terlalu takut untuk menegurnya. ‘ayolah Seo Joohyun. dia ini cinta pertamamu, ayo perjuangkan’ batinku.

‘hufftt’ sejenak aku menghela nafas untuk mengumpulkan keberanianku.

“Pertunjukanmu tadi sangat bagus” ucapku akhirnya berani memulai percakapan dengannya.

Dia tampak heran melihatku. Ya ampun betapa bodohnya aku. Aku menggunakan kaca mata sehingga ia pasti tidak akan mengenaliku. Akupun melepas kacamata ku ini.

“Sudah empat tahun Luhan-ssi. Masih mengingatku?” ucapku.

“Seo Joohyun?” ucapnya. Iapun memelukku.

“Eh, Luhan-ssi” ucapku gugup.

“Bogoshippo” ucapnya memegang pipiku.

Kamipun memutuskan mengunjungi kedai kecil yang dulu pernah kami kunjungi. Aku lebih dewasa sekarang. Tidak akan berteriak dan memaksa ahjumma untuk menuruti permintaanku.

“Bagaimana kabarmu Luhan-ssi” tanyaku sambil mengaduk ramyun porsi sedang.

“Tidak baik setelah kau meninggalkanku”

“Eh?”

“Kau tiba – tiba saja meninggalkanku disaat aku mulai menyadari kau begitu penting untukku. Bukan saja sebagai patnerku tapi sebagai penghibur hatiku”

“Mianhae”

“Gwaechana. Kabarmu? Apakah baik – baik saja selama di Amerika”

“Kau pasti mengetahuinya dari Seulmi. Aku sangat baik di sana”

“Aku meminta penjelasanmu sekarang juga”

“Penjelasan apa?” aku tidak mengerti dengan perkataannya.

“Penjelasan mengapa kau meninggalkanku pabo” ucapnya kesal membuatku tersenyum.

“Baiklah”

-Flashback-

Sehari sebelum pertunjukan terakhir ku, aku didatangi oleh asisten ayahku saat diperjalanan pulang. Ia mengancamku akan memberitahukan kejadian yang sebenarnya kepada ayahku. Kejadian bahwa selama ini aku tidak berada di rumah Seulmi melainkan membantumu bekerja. Ia bilang akan memberitahukan kejadian ini kepada ayahku.

Dan benar saja saat dirumah aku dimarahi habis – habisan oleh appa. Ia mengancamku akan mengirimku sekolah di Amerika dan akan meninggalkanku disana sampai aku selesai kuliah dengan alasan bahwa appaku tidak suka aku bergaul dengan musisi jalanan yang selalu dianggap rendah oleh appaku.

Akupun meminta satu kesempatan terakhir kepadanya. Aku meminta agar aku diberikan kesempatan terakhir untuk mempertunjukan sebuah lagu di depan umum untuk terakhir kalinya. Sebuah lagu kesukaanku yang kutunjukkan khusus untukmu. Saat aku mencoba menanyakan ‘betapa pentingnya diriku untukmu?’ aku sangat bersyukur kau menjawab ‘aku menganggapnya sama saja. aku menerimamu membantuku karna kurasa aku akan mendapatkan lebih banyak uang jika aku bersamamu disini’.

Mengapa aku bersyukur? Karna jawaban itu tidak dapat menahanku untuk terus disini bersamamu. Jawaban itu yang membulatkan tekadku untuk menuruti perintah ayahku. Aku sengaja menyanyikan lagu yang berjudul Gone pada malam itu sebagai salam perpisahan. Tapi ternyata kau tidak peka. Hingga akhirnya aku berangkat menuju Amerika pada esok hari.

Dan saat aku memulai kuliahku, aku belajar sangat keras agar program kuliahku dapat cepat selesai. Mengapa? Karna aku ingin segera kembali ke Korea untuk bertemu denganmu. Dan aku sangat senang hari ini aku dapat melihatmu. Melihat seorang Xi Luhan yang sama sekali tidak berubah.

-Flashback Off-

“Mianhae, tapi kini aku sadar jika aku mencintaimu Seo Joohyun” ucap Luhan tiba – tiba saat kami sedang berjalan bersamaan menuju Namsan Tower.

“Saranghae” ucapku memberanikan diri.

“Nado Saranghae Joohyunnie” ucap Luhan.

Kamipun berpelukan ditengah turunnya salju lembut yang tipis dan kecil. Inikah yang dinamakan keajaiban? Sebuah keajaiban jika cinta lama kita tidak merubah sedikitpun perasaannya sampai akhirnya kami dipertemukan kembali? Keajaiban yang membuat takdir hidupku berubah.

“Jeongmal  Saranghaeyo Xi Luhan”

 

***

HALLO ^^ CUMAN SEKEDAR INFO KALAU FF INI TUH SEBENARNYA UDAH AKU BUAT DARI BULAN DESEMBER DAN UDAH DI POST DI BLOG PRIBADI AKUHH >> http://bawangdauncantik.blogspot.com/

DAN AKU BARU INISIATIF BUAT DIKIRIM KESINI-NYA TUH YA SEKARANG SEKARANG. JADI KESANNYA TUH BERASA JADUL GITU YAH HAHA😀

OH IYA, AKU MINTA SARAN DONG TENTANG FF INI😀

MAKASIH YA UDAH BACA DAN COMMENT :*

Author: gyuskaups

99 Geng || Multifandom || Hiphop Style

Here We Need Responsibilities. Thanks!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s