EXO Fanfiction Dorm

EXO as the Main Cast

Mistake

Leave a comment

wkkk

Mistake

Author : Park Hyun Hwa

Genre : Romance, Sad, Hurt, School Life, Friendship.

Length : Oneshoot (6000+ wr)

Main cast : Xi Luhan (EXO), Park Hye Min (OC)

Other cast : Park Jiyeon (T-Ara), Kim Jong In (EXO), Jung Daehyun (BAP), Park Jimin (BTS), and others

Disclaimer : Cast milik agensi, orangtua dan kita semua^. RCL please 🙂.  Fanfic ini akan aku share dimana-mana dengan main cast yang menyesuaikan, jadi jika ingin memastikan fanfic itu plagiat atau bukan cukup lihat anam authornya saja 🙂 . RCL please🙂. Warning Typo(s) !

Happy readings all~~

~That was my biggest mistake. Please forgive me~

Xi Luhan, seorang laki-laki yang tidak terlalu pintar, yang berasal dari keluarga menengah keatas. Mempunyai wajah rupawan, sehingga tak khayal jika ia diidam-idamkan kaum hawa. Banyak perempuan yang ingin jadi pacarnya, berbagai cara banyak dilakukan agar menjadi seorang pacar oleh perempuan yang mengagumi Luhan salah satunya adalah mereka yang menembak Luhan duluan. Luhan juga sering taruhan dengan teman-temannya yaitu Kim Jongin, Park Jimin, Jung Daehyun.

Barang siapa yang bisa mendapatkan ____ diantara kedua calon pacarnya ___, ia akan mendapatkan traktiran berupa makanan dari teman. Dan barang siapa yang kalah, akan menraktir semua yang ada di kelompok ini.” Itulah bunyi perjanjian antara ke-empat Flower Boys di kelas 2-3 itu

Luhan mempunyai sahabat sejak kecil yaitu Jiyeon. Setiap hari, mereka berangkat sekolah bersama jadi tak khayal jika banyak yang bilang bahwa mereka berpacaran.

Hari ini, ia mendapatkan tantangan dari Jung Daehyun untuk bisa menjadi pacar dari seorang gadis yang pendiam dari kelas 2-5. Gadis itu bernama Park Hye Min.

“Bagaimana, kali ini siapa yang berani melawan Xi Luhan si ketua Flower Boys?” Tanya Daehyun.

“Aku mau melawan Luhan kali ini.” Ucap Jimin yang mengajukan dirinya sendiri.

“Jarang sekali kita dapat moment seperti ini, Xi Luhan bersaingan dengan Park Jimin. Biasanya kan Jimin maunya bersaing denganku kalau nggak kamu.” Ucap Jongin yang memaksudkan arti kata kamu dengan menunjuk kearah Daehyun.

“Baiklah, batasan waktu kali ini adalah 2 minggu. Dan diantara kalian berdua harus ada yang bisa mendapatkannya. Jika tidak kalian tau sendiri kan?” Kata Daehyun.

“Baiklah, aku sangat mengerti dan aku pasti bisa mengalahkan Jimin.” Kata Luhan dengan PD-nya.

“Dan kali ini aku akan bisa mengalahkanmu Xi Luhan.” Ucap Jimin.

“Hei ! Kalian ini jangan terlalu percaya dirilah. Ingat, Hye Min itu sangatlah pendiam dan ia hanya berteman dengan anak yang benar-nenar sudah akrab dengannya.” Kata Jongin mengingatkan Luhan dan juga Jimin.

“Aku selalu ingat. Dan aku akan membuktikan bahwa akulah pemenangnya.” Kata Luhan.

Tak lama setelah itu datanglah Jiyeon dengan membawa sebuah nampan yang berisikan Jus Jeruk sebanyak 5.

“Hai, oppa.” Sapa Jiyeon kepada keempat flower boys, ia langsung duduk disamping Luhan, karena memang diantara keempat orang itu ia sangat akrab dengan Luhan.

“Hai Jiyeon. Apakah minuman ini untuk kami?” Tanya Daehyun yang langsung menyerobot minuman yang ditaruh Jiyeon di meja itu.

“Iya oppa.” Ucap Jiyeon kepada Daehyun dan semuanya.

“Hei Jiyeon-ah, kali ini aku membawakan kabar gembira untuk kamu. Luhan kembali lagi seperti sedia kala setelah vakum 1 tahun.” Jelas Jongin kepada Jiyeon.

“Maksud oppa bagaimana? Aku kurang mengerti.” Jawab Jiyeon dengan tampang innocent-nya. Ia memang benar-benar terlahir sebagai anak yang akan mengerti jika langsung to the poin, tapi jika ia diajak berbicara yang masih muluk-muluk ia akan sulit untuk mencerna perkataan orang itu.

“Ya ampun Jiyeon. Please, aku mohon penyakit kamu yang satu ini bisa nggak dengan segera kamu sembuhin.” Ucap Jongin sedikit kesal.

“Baiklah lain kali akan aku obati oppa. Tapi tolong jelaskan dulu, apa yang akan dilakukan sama Luhan oppa lagi?” Tanya Jiyeon kepada Jongin.

“Oke, baiklah. Dia akan balik lagi ke dunianya yang dulu.” Ucap Jongin yang singkat padat tapi gak jelas itu. Pada akhirnya Jiyeon mengerti dengan apa yang dimaksud Jongin.

“Oppa, apa benar kamu akan menjadi playboy lagi? Kamu dulu kan sudah berjanji sama aku untuk tidak kembali lagi ke dunia seperti itu,” tanya Jiyeon kepada Luhan. “Pasti ini gara-gara Daehyun oppa” sambung Jiyeon yang melirik ke arah Daehyun. Daehyun yang barusan minum itu pun memuncratkan isinya yang belum sempat tertelan seteah mendengar ucapan Jiyeon, “Benar kan Jongin oppa?” Tanya Jiyeon kepada Jongin.

“Yap.. kamu benar sekali Jiyeon-ah.” Kata Jongin.

“Santai saja Jiyeon-ah, ini semua hanyalah sandiwara dan tak akan menjadi kenyataan.” Ujar Luhan santai.

“Awas saja ya, kalau kamu berbohong akan aku celakain perempuan yang buat taruhan ini,” ucap Jiyeon kepada Luhan, “Oh iya. Daehyun oppa, taruhannya kini siapa? Dan siapa lawannya Luhan oppa.” Tanya Jiyeon.

“Taruhannya kini Park Hye Min anak kelas 2-5 yang pendiam itu. Dan lawannya pasti kali ini kamu akan terkejut… karena… lawannya itu adalah Park Jimin.” Jiyeon yang mendengarnya pun terkejut. Sebuah nama yang sepertinya ia kenal, bukan Park Jimin kalau itu sudah pasti kenal tetapi nama Park Hye Min. Ia mengingat-ingat memori di ingatannya, dan akhirnya ia mengingatnya.

Park Hye Min adalah teman dekatnya semasa SMP. Yang sudah ia anggap sebagai saudara sendiri. Tetapi itu sebelum Jiyeon menuduh bahwa Hye Min merebut kekasihnya, Lee Taemin. Pikiran Jiyeon itu sangatlah berbeda dengan kenyataannya. Ia berpikir bahwa Hye Min yang selalu mendekati Taemin, Hye Min yang selalu mengikuti Taemin, dan Hye Min yang selalu bersama Taemin. Padahal itu semua karena Taemin. Jiyeon pun takut jika hal itu terulang lagi olehnya. Jiyeon takut jika Hye Min merebut Luhan, seperti kejadian tiga tahun yang lalu. Tapi ia berpikir itu tidak mungkin karena sekarang Hye Min hanya sebagai taruhan bagi Luhan beserta temannya itu.

“Hei, Jiyeon-ah kenapa kamu melamun?” Tanya Jimin yang menyadari bahwa Jiyeon tengah melamun.

“Hhmm… gak apa-apa kok oppa.” Ucap Jiyeon dengan sedikit gugup.

“Beneran nggak apa-apa? Apa kamu melamun gara-gara kejadian tiga tahun yang lalu?” Kata Jongin. Jongin memang tau seluk beluk Jiyeon karena ia juga termasuk teman dekat Jiyeon. Jiyeon pun kesal dengannya karena sudah membicarakan kejadian tiga tahun yang lalu bersama temannya itu.

“Jongin oppa !! Jangan pernah membicarakan itu lagi !” Teriak Jiyeon tepat di telinga sebelah kiri milik Jongin. Jongin pun tertawa terbahak-bahak meski ia merasa kesakitan.

“Hahaha… Santai saja Jiyeon-ah, Taemin sekarang baik-baik saja kok dan ia akan kembali dari Amerika saat semester akhir kelas 2 ini, jadi kalian bisa ketemuan.” Kata Jongin lalu pergi melesat pergi meninggalkan mereka berempat.

“Awas kau Jongin oppa!!” Teriak Jiyeon yang sudah tak tertahan amarahnya. Tentu saja semua orang yang ada di kantin ini langsung menoleh ke sumber suara yang sangat berisik itu.

Keesokan harinya, Luhan dan Jimin mulai beraksi. Luhan datang ke atap sekolah karena ia sudah tau dimana keberadaan Hye Min biasanya saat istirahat sekolah karena ia juga diberitahu teman semasa SMPnya Hye Min yaitu Jongin. Sedangkan Jimin, ia hanya berjalan-jalan menyusuri koridor sekolahan. Sesekali ia juga masuk ke ruangan-ruangan sekolah seperti UKS, Perpustakaan, Kantin, tetapi ia sama sekali tidak melihat keberadaan Hye Min.

Jimin sudah merasakan penat di tubuhnya terutama pada bagian kaki karena ia hampir menyusuri ruangan di Sekolah itu. Sedangkan Luhan, ia mencoba untuk tiduran di atap sekolah sambil menikmati udara segar. “Pantas saja Hye Min betah ada disini saat istirahat.” Batin Luhan yang memejamkan matanya.

“Kamu siapa?” Tanya seorang perempuan kepada Luhan, ia yang menyadari sebuah pertanyaan yang jelas-jelas terlontarkan untuknya karena mengingat bahwa yang ada di atap sekolah itu hanyalah ia -Luhan- dan juga perempuan yang tak lain adalah Park Hye Min.

 

“Hhmm.. aku?? Aku Xi Luhan anak kelas 2-3. Kalau kamu siapa?” Tanya Luhan kembali.

“Aku Park Hye Min dari kelas 2-5. Kenapa kamu bisa kesini?” Tanya seorang perempuan yang bernama Hye Min tersebut. Ia lalu duduk agak jauh dari Luhan.

“Aku ingin ketenangan, kata temenku Jung Daehyun di tempat ini bisa mendapatkan ketenangan jadinya aku kesini.” Ucap Luhan yang mulai melaksanakan aksinya.

“Kamu temannya Jung Daehyun? Aku juga temannya Daehyun, aku sekelas dengannya saat SMP dulu. Dan itu berarti kamu juga temannya Kim Jongin. Memang disini bisa mendapat ketenangan, sangat tenang.” Ucap Hye Min lalu memejamkan matanya.

“Iya Daehyun dan Jongin itu temanku. Salam kenal ya. Memangnya kamu sudah pernah kesini?” Tanya Luhan.

“Iya, salam kenal juga. Aku sudah sering kesini kalau sedang istirahat dan jika merasa bosan, ini tempat untuk membuang segala amarahku.” Jelas Hye Min.

“Oh jadi begitu. Lalu dengan siapa saja kamu kesininya?” Tanya Luhan yang melihat Hye Min.

“Aku terkadang sama temanku, tapi aku lebih sering kesini sendiri.” Ucap Hye Min.

“Boleh aku sering berkunjung kesini? Sepertinya aku sudah mulai jatuh cinta sama tempat ini dan juga orang yang sering kesini.” Luhan pun mulai beraksi.

“Siapa yang sering datang kesini?” Tanya Hye Min dengan tampang innocent-nya.

“Kamu? Mungkin.” Luhan pun tak basa-basi lagi dan langsung skak matt… Mimik wajah Hye Min berubah seketika, dan pipi Hye Min berubah menjadi merah.

“Hanya bercanda kok.” Ucap Luhan menjalankan asli selanjutnya, “Aku pergi dulu ya, sampai jumpa besok lagi… Park Hye Min?” Ujar Luhan dengan bergaya mengingat-ingat nama Hye Min. Hye Min hanya bisa melihat efek siluet yang dihasilkan oleh bayangan Xi Luhan. Ia lalu tersenyum senang, entah apa yang tengah ia rasakan saat pertama kali ia bertemu dan mengenal seorang laki-laki yang bernama Xi Luhan.

Mungkinkah ini cinta? Aku jatuh cinta pandangan pertama? Jatuh cinta hanya dalam waktu 10 menit?” Batin Hye Min. “Hei apa sih yang aku pikirkan.” Ucap Hye Min sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Setiap hari, setiap saat Luhan pun datang ke atap sekolah. Mulai dari yang pertama yaitu perkenalannya dengan Hye Min, hari kedua mereka juga datang ke tempat itu dengan Hye Min yang membawa sebuah bekal. Hari ketiga Luhan datang sendiri sementara Hye Min membawa temannya yang bernama Hae Rim. Hye Min pun memperkenalkan Hae Rim ke Luhan. Dan pertemuan-pertemuan selanjutnya mereka datang berdua.

Namun pada hari ini, pertemuan ke tujuh di atap gedung sekolah, Luhan tidak datang ke tempat itu, melainkan ke kantin bersama keempat sahabatnya yang katanya flower boys di kelas itu.

“Tinggal satu minggu lagi nih. Bagaimana sudah atau belum?” Tanya Daehyun kepada Jimin dan Luhan.

“Aahh, aku nyerah saja deh. Kelihatannya Luhan sudah bisa mendapatkannya dan akan segera menembaknya. Karena ia sudah dekat duluan dengan Hye Min.” Ucap Jimin.

“Tuh kan? Jiwaku yang pernah ada nggak akan hilang. Lihatlah sekarang Hye Min sudah mulai terperosok ke dalam jurangku.” Ujar Luhan. Dan tanpa mereka sadari ada salah satu teman dekat Hye Min yaitu Hae Rim.

Hae Rim tak sengaja lewat di tempat duduk mereka berempat -Luhan, dan temannya-, dan mendengar ucapan Luhan sekilas meski tidak terlalu jelas. Ia pun mempertanyakan apa maksud dari ucapan Luhan.

“Jiwamu? Yang dulu? Hye Min terperosok ke jurangmu? Apa maksudmu Luhan-si?” Tanya Hae Rim. Luhan yang menyadari pertanyaan itu terlontar untuk dia. “Hae Rim? Ngapain dia kesini” batin Luhan.

“Hae Rim temannya Hye Min ya? Ngapain kamu kesini?” Tanya Luhan.

“Ini kan kantin, semua orang boleh kesini kok. Dan kamu apa maksud dari ucapanmu tadi?” Skakk matt… Luhan bingung harus menjawab bagaimana dan sskarang ia hanya gugup, ia takut. Takut jika Hae Rim bilang kepada Hye Min tentang barusan yang ia ucaplan tadi. Tapi kenapa Luhan harus bingung? Inikan hanya permainan? Ini kan hanya tantangan? Dan ini hanyalah taruhan ! Tapi entah kenapa ia jadi seperti ini. Apa ia mulai suka sama Hye Min? Tidak mungkin karena itu hanyalah taruhan. Mungkin pertanyaan itulah yang ada dipikiran Luhan saat ini.

“Tadi tidak ada maksud apa-apa kok Hae Rim.. iya nggak ada maksud apa-apa.” Jawab Luhan gugup.

“Lalu jika memang tidak ada apa-apa kenapa kamu terlihat gugup begitu? Oh jadi kamu ingin sahabatku ini gara-gara taruhan ini. Aiisshh! Kamu itu hargain dong perasaan cewek. Hye Min itu sudah mulai suka sama kamu. Dia bilang sendiri ke aku. Katanya dia itu suka sama kamu sejak pertama kali melihatmu. Dan dia harus mendapatkan cinta pertamanya ke laki-laki seperti kamu. Ingat ! Kamu itu cinta pertamanya, apa kamu rela jika Hye Min harus tersakiti oleh cinta pertamanya. Dan sekali lagi aku peringatkan ke kamu jangan pernah masuk ke kehidupan Hye Min lagi !!” Jelas Hae Rim panjang lebar.

Hae Rim tak pernah terpikirkan kenapa ia bicara terus terang ini kepada Luhan. Padahal ia sudah berjanji kepada Hye Min tidak akan mengatakan kepada siapa-siapa. Tapi sekarang ia sudah mengingkari janjinya, ia membicarakan semuanya kepada Luhan dan juga teman-temannya.

Luhan yang hanya bisa mendengar penjelasan Hae Rim itupun merasa bersalah dengan Hye Min. Dan ini adalah pertama kalinya ia merasa bersalah setelah ia menyakiti hati perempuan. Luhan tak tahu jelas mengapa itu bisa terjadi.

Luhan hanya bisa melihat Hae Rim menghilang dari tempat ia berada bersama teman-temannya ini. Luhan terlihat bingung dan sangat cemas. Jongin yang melihat kecemasan Luhan pun angkat bicara, “Luhan-ya kenapa kamu terlihat begitu cemas? Ini kan hanya taruhan. Kan kamu juga sudah terbiasa dengan ini semua.” Ujar Jongin dengan santainya.

“Luhan-ya sepertinya kamu jatuh cinta sama Hye Min ya?” Tanya Daehyun jahil.

“Aaiisshhh. Kalian berdua bisa diam tidak seperti Jimin tuh !” Ucap Luhan sedikit kesal kepada Daehyun

“Coba kamu datang ke kelasnya atau tempat biasa kalian bertemu. Dan minta maaf lah sebelum terlambat.” Saran Jimin yang (sok) bijak.

Tanpa pikir panjang Luhan melesat meninggalkan ketiga temannya yang bengong melihat kelakukannya.

“Sepertinya ia mulai jatuh cinta. Berhasil kan rencanaku, sini traktirannya.” Ucap Daehyun singkat. Sedangkan Jongin kesal dengan hal itu.

“Berhasil? Berhasil apanya? Apa maksudnya?” Tanya Jimin kebingungan.

~Flasback on~

“Jongin-ah, apa kamu mau taruhan sama aku?” Tanya Daehyun kepada temannya yang bernama Jongin itu.

“Baiklah, taruhan apa?” Tanya balik Jongin.

“Bagaimana kalau kita taruhan Luhan? Kan dia sudah vakum jadi seorang playboy dan mungkin saja dia akan langsung nyangkut jika kita tantangin dia. Seperti biasa taruhannya yaitu bagi siapa yang bisa membuat dia jatuh cinta, maka dia akan mendapatkan traktiran.” Tawar Daehyun.

“Baiklah, tapi bagaimana taruhan itu?” Tanya Jongin lagi.

“Nah, seperti biasa kita ini kan suka mencoba mengikat hati perempuan yang sudah terkenal-terkenal sekarang gantian kita coba dengan perempuan yang pendiam seperti Park Hye Min atau Bae Suzy. Bagaimana?” Tawar Daehyun lagi.

“Eh jangan Park Hye Min, apa kamu tidak ingat dengan kejadian saat kita SMP dulu. Yang permasalahan Jiyeon, Taemin dan juga Hye Min itu loh. Si Jiyeon kan sekarang mulai suka sama Luhan.” Jelas Jongin.

“Baiklah, biar aku saja yang buat Hye Min jadi taruhannya dan aku jadi yang pertama, lalu jika aku gagal kamu bisa jadikan Suzy sebagai bahan taruhannya.”

“Tapi kan…” bantah Jongin.

“Sudah tidak ada kata tapi-tapian yang jelas itulah perjanjiannya. Oke deal?” Ucap Daehyun.

“Baiklah. Deal !”

~Flashback off~

“Oh.. jadi kalian merencanakan itu semua.” Ucap Jimin.

“Yap.. betul sekali. Dan sekarang mana traktirannya Jongin-ah” ucap Daehyun mengingatkan.

“Ya ! Baiklah, kamu pesan makanan nanti aku yang bayar.” Ucap Jongin.

“Jongin-ah, aku juga ya?” Tanya Jimin singkat.

“Iyadeh, selagi aku baik hati.” Jongin pun pasrah menerima kenyataan yang ada. Kenyataan bahwa ia kalah dengan Daehyun.

“Hye Min… Park Hye Min…” teriak Hae Rim. Benar juga pikiran Hae Rim bahwa sekarang Hye Min berada di atap sekolah.

“Ada apa Hae Rim? Kok kamu seperti terburu-buru?” Tanya Hye Min yang melihat sahabatnya itu. Ia pun merubah posisinya dari duduk dan berdiri menghampiri Hae Rim lalu menyilahkan duduk ke Hae Rim.

“Kamu.. kamu.. jangan percaya sama Xi Luhan..” ucap Hae Rim terbata-bata.

“Kamu minum ini dulu,” ucap Hye Min sambil menyodorkan sebotol minuman kepada Hae Rim, Hae Rim pun meminumnya. Lalu Hye Min melanjutkan perkataannya tadi “Memangnya ada apa Hae Rim-ya? Kenapa aku tidak boleh percaya sama Luhan? Dia itu baik, manis, keren…” belum sempat Hye Min menyelesaikan ucapannya itu tetapi sudah terpotong oleh Hae Rim, “Stop Nasun, jangan pernah mendeskripsikan Luhan seperti itu. Sifat-sifat yang ditunjukkan ke kamu itu palsu. Dia hanya sandiwara. Dan kamu itu dijadikan taruhan sama Luhan, Jimin, Daehyun dan juga Jongin. Please Hye Min, percayalah dengan ucapanku.” Jelas Hae Rim.

“Apa? Jadi selama ini Luhan hanya sandiwara ya Hae Rim?” Tanya Hye Min lalu ia tersenyum dibalik kesedihannya. “Jadi selama ini ia hanya bersandiwara? Lalu kebaikannya kepadaku ini apa? Itu juga sandiwara?” Batin Hye Min.

Benteng pertahanan air mata miliknya pun pecah pada akhirnya. Ia ingin menangis sejadi-jadinya mengingat apa yang diucapkan oleh temannya itu dan juga ia mengingat bahwa Luhan ini adalah cinta pertamanya. Ia menangis di bahu sebelah kiri milik Hae Rim. Hae Rim pun hanya bisa memeluknya dan hanya bisa mengatakan “sabar Hye Min”, ya hanya itulah yang bisa dilakukan sahabatnya. Karena Hae Rim juga berpikir bahwa Hye Min membutuhkan kesunyian, suasana yang sepi. Mereka berdua pun saling diam. Saking terlalu diamnya suasana disini, suara derap langkah kaki yang sekiranya berasal dari orang yang menaiki tangga seperti terburu-buru itu pun terdengar oleh mereka berdua. Hae Rim dan Hye Min langsung menoleh kearah suara langkah kaki itu. Dilihatnya sesosok laki-laki yang mereka berdua kenal, laki-laki itu adalah Xi Luhan.

Hye Min yang menyadari bahwa itu adalah Luhan dengan cepat Hye Min berencana untuk langsung berlari menjauhi Luhan, ketika Luhan akan mendekatinya. Namun, rencana itu gagal karena tangan Hye Min sekarang sudah digenggam erat oleh tangan Luhan. Ia ingin melepaskan pegangan itu, tetapi itu tak bisa mengingat bahwa Luhan adalah laki-laki dan Hye Min adalah perempuan. Tentu saja tenaga yang dimiliki Luhan lebih kuat dibanding milik Hye Min. Dengan cepat Luhan menarik tangan itu dan membuat pemilik tangan itu berada di dekapannya.

“Hye Min, maafkan aku. Ini semua salahku. Salahku yang tidak mengungkapankan perasaanku kepadamu terlebih dahulu. Salahku yang membuatmu seperti ini. Ini semua bukan hanya taruhan Hye Min, tetapi ini kenyataan. Kenyataan bahwa aku sudah menyayangimu sejak hari kedua kita bertemu. Dan sejak saat itu aku selalu kepikiran sama kamu Hye Min.” Jelas Luhan kepada Hye Min yang berada dalam dekapannya sekarang.

“Luhan-si, aku hanya perlu waktu untuk sendiri. Tolong, aku hanya ingin itu.” Ucap Hye Min pasrah. Pelan-pelan Luhan melepaskan dekapannya itu. Dan membiarkan Hye Min pergi menjauh dan menghilang dari atap gedung sekolah itu.

Hae Rim yang tadi melihat kejadian itu, kejadian yang terjadi begitu singkat dan membekas di pikirannya. Ia ingat jelas apa yang diucapkan Luhan tadi. Ia pun mengikuti Hye Min yang barusan pergi dari atap sekolah itu. Tetapi sempat ditahan oleh Luhan.

“Ada apa?” Tanya Hae Rim sinis.

“Hae Rim-ya, maukah kamu membantuku?” Tanya Luhan dan ia berharap Hae Rim sahabat Hye Min itu bisa membantunya.

“Membantu apa? Membantu kamu dengan Hye Min? Setelah kamu berhasil menyakitinya?” Tanya Hae Rim dengan nada datar.

“Ia kamu benar. Please ya Hae Rim, aku janji kali ini tidak akan menyakitinya, tolonglah bantu aku Hae Rim.” Mohon Luhan.

“Baiklah akan aku bantu, tapi awas saja jika kamu menyakiti sahabatku lagi. Hhmm lalu apa yang akan kamu persiapkan?” Tanya Hae Rim.

“Jika sudah siap aku hubungi kamu. Minta nomor kamu dong Hae Rim, please.” Mohon Luhan.

“Baiklah,” ia lalu merogoh sakunya untuk mendapatkan sebuah ponsel lalu ia mencari-cari sesuatu, “Ini kamu tulis, aku lagi males ngomong.” Tak lama kemudian Luhan mengembalikan ponsel milik Hae Rim dan ia berterima kasih kepada Hae Rim karena mau menolongnya.

Saat di kelas 2-5, kelas dimana Hye Min dan teman-temannya berada. Terlihat Hae Rim masuk ke dalam kelas dengan jarak waktu masuknya Hye Min begitu lama.

“Hae Rim-ya, darimana saja kamu itu?” Tanya Hye Min manja saat Hae Rim akan duduk di sebelahnya.

“Hehe, maaf Hye Min tadi ada sedikit masalah dengan perut jadinya aku harus ke toilet dulu.” Ujar Hae Rim bohong, alasan Hae Rim berbohong itupun demi Hye Min karena ia tidak mungkin merusak rencana Luhan.

“Kamu tidak apa-apa kan? Kalau kamu kenapa-napa sebaiknya kamu istirahat saja di UKS.” Ucap Hye Min khawatir.

“Santai saja Hye Min, aku tidak apa-apa kok,” Hye Min pun tersenyum, “kamu sendiri sudah tidak apa-apakan?” Tanya Hae Rim yang sempat terpotong itu.

“Aku baik-baik saja kok.” Ucap Hye Min

“Syukurlah kalau kamu tidak apa-apa karena laki-laki itu yang…” belum sempat Hae Rim bicara tetapi sudah dipotong oleh Hye Min, “Ssttt, sudahlah Hae Rim. Aku tidak ingin kau menyebut laki-laki itu tadi.” Ujar Hye Min.

“Oke, baiklah.” Hae Rim lun pasrah.

Di lain tempat, di kelas 2-3 tempat Xi Luhan dan teman-temannya berada. Jimin, Jongin, dan juga Daehyun yang telah kembali dari kantin ditambah dengan Jiyeon yang ikut bergerombol dengan mereka bertiga itu melihat kedatangan Luhan. Daehyun yang mengetahui pertama pun langsung menyambutnya di pintu kelas.

“Bagaimana tadi? Berhasil tidak?” Tanya Daehyun sambil merangkul pundak Luhan.

“Tidak berhasil untuk kali ini. Dan akan berhasil untuk selanjutnya.” Kata Luhan.

“Apa maksudmu Luhan-ya?” Tanya Jongin.

“Hae Rim temannya Hye Min mau membantuku agar bisa bersama Hye Min.” Kata Luhan senang.

Jiyeon yang mendengarnya itu seketika berubah ekspresinya dari senaang menjadi seperti memendam rasa marah.

“Oppa, katanya itu semua hanya taruhan saja. Lalu kenapa jadi kenyataan.” Ujar Jiyeon.

“Loh, kamu ini, seharusnya kan kamu senang, aku tidak akan menjadi playboy lagi berkat Hye Min.” Ucap Luhan santai.

Oppa, aku itu inginnya kamu berubah karena aku. Bukan karena perwmpuan sialan itu.” Batin Jiyeon.

“Lalu kapan kamu memberitahu perasaanmu saat ini kepada Hye Min?” Tanya Jongin.

“Mungkin saat hari minggu.” Jiyeon yang mendengarnya itu pun tak terima dengan Hye Min. “Mengapa Hye Min selalu membuat orang yang aku sayang berpaling ke dia? Untuk kali ini aku tidak akan membiarkan hal ini terjadi Hye Min-ah.” Jiyeon licik? Memang, ia bahkan sudah merencanakan semua ini sejak ia tahu siapa yang akan menjadi taruhan antara Luhan dan juga Jimin.

“Selamat ya, Luhan-ya. Kali ini kamu pasti akan bahagia karena akan mendapat pacar yang pendiam.” Ujar Jimin. “Tidak Jimin oppa. Aku tidak akan membiarkan Luhan oppa bahagia dengan gadis sialan itu.” Batin Jiyeon.

“Hei jangan bicara seperti itu dulu Jimin. Nanti jika tidak kesampaian bagaimana?” Ujar Luhan. “Benar sekali kamu oppa. Dan orang dibalik ketidaksampaian dari ucapan Jimin oppa adalah aku.” Batin Jiyeon.

Jiyeon hanya bisa membatin dan membatin. Sebuah akal bulus Jiyeon telah ia susun sedemikin rupa, begitu bagus dan pasti akan berjalan mulus.

Hari ini adalah hari dimana Luhan akan menjelaskan semuanya dengan jelas kepada Hye Min. Luhan sudah mempersiapkan segalanya matang-matang  dengan dibantu sahabat-sahabatnya termasuk Jiyeon dan ditambah dengan sahabatnya Hye Min, Hae Rim. Kenapa Jiyeon ikut membantu mempersiapkan segalanya? Karena ia ingin mengetahui rencana kejutan kepada Hye Min agar rencana Jiyeon tentang mencelakakan Hye Min berjalan dengan mulus

“Hae Rim-ya, bisakah kamu menjemput Hye Min sekarang?” Tanya Luhan kepada seseorang yang ia sebut namanya tadi, ya dia adalah Eunhi.

“Baiklah aku akan menjemputnya. Lalu apakah semuanya sudah kamu siapkan?” Tanya Hae Rim.

“Semuanya sudah beres dan kami hanya menunggu tetapi Jiyeon sudah izin pulang dahulu.” Jawab Luhan.

“Cuma satukan yang izin pulang? Yang lainnya masih ada kan? Bisa berjalan lancar kok. Yasudah aku pergi ke rumah Hye Min dulu ya. Bye Luhan semiga nanti lancar.” Kata Hae Rim sekalian berpamitan.

“Amin.” Tutt, ponsel antara Luhan dan Hae Rim pun terputus. Dengan segera Hae Rim menelepon Hye Min.

“Halo Hae Rim, ada apa kamu kok telepon aku?” Tanya seseorang diseberang sana yang tak lain adalah Hye Min.

“Hye Min-ya, bisakah kamu menemaniku sebentar, aku ingin curhat sama kamu. Nanti aku jemput ya, segera bersiaplah.” Ttuuttt, telepon dari Hae Rim terputus seakan-akan menandakan bahwa Hae Rim menyuruh Hye Min agar lebih cepat dalam bersiap-siap.

“Jangan lupa, hanya perempuan ini yang kamu tabrak. Awas jika kamu salah tabrak !” Ucap seorang gadis dengan nada licik, ya itulah Jiyeon.

“Baiklah nona. Rencanamu pasti lancar.” Ujar seorang pesuruh Jiyeon.

“Maut sudah menantimu Hye Min-ah. Hahahah.” Kata Jiyeon senang dan ia tertawa licik, karena akhirnya rencananya akan segera dilaksanakan.

Sesampainya tiba di depan rumah Hye Min, ia pun tak lupa untuk meneteskan obat air mata agar terdapat sebuah air mata palsu di mata indah milik Hae Rim itu.

“Hae Rim-ah, apa kamu tidak apa-apa? Hei kenapa kamu menangis?” Tanya Hye Min khawatir.

“Aku sudah lumayan baik-baik saja kok Hye Min-ah dan sekarang aku hanya butuh tempat curhatan yaitu kamu. Ayo cepat masuk ke mobil.” Ucap Hae Rim sambil ia masuk ke mobil yang diikuti Hye Min.

Mobil milik Hae Rim pun melaju dengan cepat menuju sebuah taman kota. Sesampainya tiba di taman kota, Hae Rim menyuruh Hye Min agar ia masuk ke taman kota dahulu, karena ia mendapat sebuah telepon.

“Kamu masuk ke taman itu duluan ya, Hye Min-ah. Aku akan menyusulmu dahulu. Tunggu aku di tempat duduk yang itu ya. Aku masih ada telepon.” Ucap Hae Rim lalu menunjukkan ke arah tempat yang ia maksud itu. Dan telepon itu berasal dari Kim Jongin. Iya itu adalah rencana pertama agar Hye Min masuk ke taman itu sendirian.

“Baiklah Hae Rim, aku tunggu disana.” Hye Min pun berjalan menyusuri pijakan-pijakan yang sengaja dibuat oleh pengurus taman ini. Sendiri, sepi, dan sunyi itulah suasana yang dirasakan Hye Min saat berada di taman kota itu.

Tapi sekarang ia menyadari, ia tidak sendiri di taman kota itu, tetapi ada salah satu pengunjung taman kota itu dan ia juga sendirian. Ia mencoba mendekati seorang pengunjung itu, karena memang tempat duduk yang ditunjuk Hae Rim berdekatan dengan seseorang yang menjadi pengunjung itu.

Pengunjung itu menyadari ada sesuatu yang mendekat dan ia pun menengok ke belakang dan mendapati sosok Hye Min. Hye Min yang melihat pengunjung itu pun langsung berlari keluar dari taman kota.Hye Min berlarian karena ia mengenali pengunjung itu, pengunjung yang menurutnya adalah Xi Luhan.

Dari kejauhan sudah terlihat sebuah mobil berwarna hitam yang ternyata itu adalah pesuruh Jiyeon.

Luhan berlari terus mengejar Hye Min. Dan pada saat yang sama, saat mereka berada di jalanan terdapat sebuah mobil yang melaju dengan kwcepatan tinggi.

” Hye Min !!! Awas !!!”

Brukk.. Mereka berdua jatuh tersungkur di jalanan. Akan tetapi Luhan lah yang bersimbah darah. Darah segar mengalir dari kening Luhan, ia tak sadarkan diri. Sedangkan, Hye Min hanyalah luka memar pada bagian siku dan lutut akibat dorongan dari Luhan tadi. Ia juga tak sadarkan diri, mungkin gara-gara ia terkejut dengan kejadian ini.

Jimin, Jongin, Daehyun dan juga Hae Rim mendengar suara teriakan orang yang dikenal oleh mereka. Mereka pun langsung mencari dimana sumber suara itu berada dan siapa yang teriak malam-malam seperti ini.

Hae Rim yang berada pada posisi awal pencarian sumber suara itu pun terkejut dengan pemandangan darah yang mengalir cukup deras dari seseorang yang dikenalnya. Darah segar yang mengalir dari dalam tubuh Luhan.

“Jimin, Jongin, Daehyun !!! Luhan dan Hye Min !! Aaaa. Tidak !! ” Hae Rim teriak sekencang-kencangnya lalu menghampiri kedua temannya itu. Orang-orang yang disebutkan Hae Rim pun mengikutinya dan mereka juga terkejut dengan apa yang ada dihadapannya sekarang.

“Jongin dan juga Jimin, segera kalian ambil mobilku dan juga mobilnya Hae Rim. Kita bawa mereka ke rumah sakit secepatnya. Jika tidak nanti bisa berakinat fatal.” Ucap Daehyun khawatir lalu melemparkan kunci mobil yang juga diikuti oleh Hae Rim.

Sedih? Tentu saja. Siapa yang tidak sedih jika ada teman dalam keadaan seperti ini. Kacau? Sudah pasti. Mereka bingung kecuali Daehyun karena Daehyun tidak ingin ini semua berjalan lambat jika semua orang yang ada disini dalam suasana kacau.

Mobil yang dibawa Jongin dan Jimin telah datang, dengan segera mereka berempat membawa tubuh 2 orang yang tergeletak tak berdaya itu masuk ke dalam mobil. Mobil milik Daehyun yang berisikan Jongin sebagai pengendara, Daehyun yang memegangi kepala Luhan dan juga Luhan sendiri. Sementara itu, di dalam mobil milik Hae Rim berisikan Jimin sebagai pengendaranya, Hae Rim yang juga menaruhkan kepalanya Hye Min ke pahanya agar Hye Min bisa nyaman.

Dalam perjalanan hanya memakan waktu beberapa menit saja, karena di sekitar taman kota itu terdapat sebuah rumah sakit yang cukup besar. Jimin pun langsung mencari bala bantuan kepada staff rumah sakit itu. Para staff rumah sakit itu membawa 2 buah tempat tidur berjalan lalu mengeluarkan Luhan dan juga Hye Min yang masih tergeletak tidak berdaya itu.

Luhan dan Hye Min dibawa ke ruangan yang berbeda. Luhan yang dibawa oleh staff itu ke ruang UGD, mengingat kondisinya sudah bisa dibilang ia berada pada titik darah penghabisan. Sedangkan Hye Min dibawa ke ruang perawatan, mengingat kondisi Hye Min sendiri yang hanya terdapat luka memar pada bagian siku dan lututnya itu.

Dan sekarang tugas mereka berempat yaitu menunggu kondisi Luhan dan juga Hye Min. Hae Rim dan Jimin yang bertugas untuk menjaga ruang perawatan Hye Min, lalu Jongin dan Daehyun yang bertugas untul menjaga ruang yang berisikan Xi Luhan.

Tak lupa mereka mengabarkan keadaan itu ke kerabat dekat mereka, tak terkecuali dengan Jiyeon. Jonginlah yang mengabarkan keadaan Luhan dan Hye Min kepada Jiyeon. Jiyeon yang mendengar kabat itupun sontak terkejut dan ia langsung keluar dari rumah tanpa berpamitan kepada kedua orang tuanya untuk pergi ke alamat yang dikasihkan Kim Jongin kepadanya saat ia berbicara lewat telepon tadi.

Tak membutuhkan waktu yang lama, Jiyeon telah tiba ke alamat yang ditujunya itu. Ia juga langsung mencari kamar yang juga diberitahukan oleh Jongin melalui percakapan singkat di telepon.

Semoga Luhan dan Hye Min tidak terjadi apa-apa, itulah yang diharapkan Jiyeon. Jika saja terjadi apa-apa dengan mereka Jiyeon pasti yang merasa sangat bersalah.

Keesokan harinya, Hye Min tersadar dari tidurnya. Ia pelan-pelan membuka matanya karena ia masih terasa pusing. Semburat cahaya senja masuk perlahan melalui celah-celah matanya Hye Min. Dan pada akhirnya ia tersadar dan menyadari bahwa ia berada di rumah sakit. Sekarang, ia masih belum mengingat jelas apa yang terjadi semalam sehingga ia berada di rumah sakit ini.

Dan sekarang ia mengingatnya. Ia mengingat bahwa ia hampir tertabrak mobil dan itu tidak terjadi karena Xi Luhan. Dimana Luhan berada sekarang?? Pertanyaan itulah yang ada dipikiran Hye Min. Ia mencoba untuk memcari laki-laki itu tetapi ia tidak kuat dengan rasa sakit di kepalanya.

Hae Rim yang menyadari bahwa selimut yang ia tumpangi untuk tidur itu bergerak seketika ia bangun dan melihat Hye Min sadar. Ia langsung memeluk erat Hye Min.

“Hye Min-ah, akhirnya kamu sadar juga.” Ucap Hae Rim yang memeluk Hye Min.

“Hae Rim-ah, dimana Luhan sekarang. Aku ingin meminta maaf kepada dia dan aku mau bilang kalau aku sayang sama dia.” Hae Rim pun menangis sejadi-jadinya setelah mendengar keinginan sahabatnya itu.

“Loh, kenapa kamu menangis Hae Rim-ah?” Tanya Hye Min.

“Luhan, Luhan sudah tiada Hye Min-ah. Luhan sudah diambil sama Tuhan. Luhan.. Luhan.” Kata Hae Rim dengan sesenggukannya, ia sudah tak tahan dengan air mata yang sempat ia bendung semalam.

~Flashback on~

Daehyun, Jongin dan juga Jiyeon melihat dokter keluar dari ruangan tempat sahabatnya -Xi Luhan- berada. Dengan segera Daehyun bertanya kepada dokter itu.

“Dok, bagaimana keadaan teman saya di dalam? Dia baik-baik saja kan dok? Dia tidak apa-apa kan?” Tanya Daehyun kepada dokter itu.

“Maaf ya, kami sudah berusaha semaksimal mungkin dan kami juga sudah mengakalinya dengan berbagai cara agar ia bertahan hidup…” “Apa maksud dokter? Apa maksudnya dok?” Potong Jiyeon dengan suara yang mulai parau.

“Jiyeon-ah kamu sabar dahulu. Dokter silahkan lanjutkan ucapan anda tadi.” Ujar Jongin yang menenangkan Jiyeon meski ia sendiri juga merasa tak tenang.

“Pasien yang ada di dalam telah tiada, ia sudah dipanggil bersama Tuhan. Ia meninggal akibat banyaknya darah yang mengalir dari kening dan juga belakang kepala miliknya. Ia juga berpesan kepada saya sesaat sebelum nyawanya diambil. Ia berpesan bahwa rencananya hari ini harus ditunjukkan kepada Hye Min lain kali jika ia meninggal. Kalau begitu saya permisi dulu. Semoga kalian dan keluarga diberi ketabahan kepada Tuhan.” Jelas dokter itu.

“Baik dok.” Jawab mereka bersamaan.

Hantaman batu menyambar mereka bertiga. Kacau? Sedih? Berduka? Tentu saja itu terjadi. Apalagi yang Jiyeon rasakan sekarang ditambah dengan rasa bersalahnya. Jongin dengan sigap langsung datang ke ruang perawatan Hye Min untuk mengabari keadaan Luhan sekarang. Hae Rim dan juga Jimin itu pun terkejut dengan apa yang didengarnya barusan. Namun, Hae Rim menahan air mata itu karena ia tak ingin melihat sahabatnya terbangun dengan mata yang sembab.

Sementara itu, Jongin, Jimin, Daehyun dan juga Jiyeon menangis sejadi-jadi dengan memeluk tubuh Luhan. Mereka berharap ada sebuah keajaiban dari Tuhan, sebuah keajaiban agar Luhan bisa hidup kembali dan bersama mereka sampai tua nanti.

“Oppa, sebenarnya dibalik semua ini adalah aku. Aku mencoba mencelakakan Hye Min tetapi malah Luhan oppa yang celaka. Oppa maafkan aku.” Mohon Jiyeon.

Plakkk.. sebuah tamparan mendarat dengan lancar di pipi Jiyeon dari tangan Jongin.

“Jiyeon-ah seharusnya kamu tidak seperti itu. Kamu itu terlalu terobsesi dengan duniamu sendiri. Kamu itu egois Jiyeon-ah ! Kamu terlalu mementingkan kebahagiaanmu sendiri dan kamu tidak pernah memikirkan kebahagiaan orang lain. Aku sangat kecewa denganmu Jiyeon-ah!!” Teriak Jongin. Jimin dan Daehyun menenangkan Jongin lalu membiarkan Jiyeon pergi.

Jimin kembali ke ruang perawatan Hye Min, ia membicarakan kejadian tadi kepada Hae Rim. Hae Rim pun kaget mendengar pernyataan dari Jimin. Bagaimana mungkin ia bisa mengungkapkan bahwa Jiyeonlah yang dibalik semua ini. Hae Rim ingin melupakan sejenak pikiran itu dan ia sekarang hanya ingin sahabatnya cepat bangun.

~Flaahback off~

Setelah mendengar penjelasan dari Hae Rim, ia pun ikut menangis bersama sahabatnya itu. Mau kecewa dengan Jiyeon? Itu jelas, tapi ia tak ingin melakukan hal itu, karena itu semua sudah terjadi.

“Hae Rim-ya, apakah Luhan sudah dimakamkan?” Tanya Hye Min dengan suara parau.

“Sudah Hye Min-ah, baru tadi pagi ia dimakamkan.” Jawab Hae Rim.

“Bisakah kamu mengantarku ke makamnya nanti, aku belum ssmpat berterima kasih dan meminta maaf kepadanya.”

“Tapi kan kamu masih belum sepenuhnya sehat Hye Min. Kamu tidak boleh keluar dahulu.”

“Please, kumohon Hae Rim, aku akan lebih baik-baik saja jika aku sudah bertemu dengan Luhan meski itu hanya makamnya saja.” Ucap Hye Min memaksa.

“Baiklah kalau kamu memaksa seperti itu akan aku antarkan, tapi besok pagi saja ya Hye Min-ah, sekarang kamu istirahat dulu ya.” Ujar Hae Rim.

Mereka berdua pergi ke makam milik Luhan itu dengan ditemani Jimin, Jongin dan Daehyun.

“Ini dia makamnya Hye Min-ah.” Ucap Jimin sambil menunjuk ke arah makam yang bertulisnya Xi Luhan.

“Terima kasih oppa,” ucap Hye Min kepada Jimin, “Sama-sama Hye Min-ah sekarang kamu bisa berkata apa saja dengan makam milik Luhan ini. Dan kami akan menjadi pendengar setiamu kok.” Ucap Jimin yang disambut anggukan teman-temannya itu. “Terima kasih banyak ya.”

“Wahh bunga di makam oppa masih sangat segar, hehe. Oppa, apakah kamu masih ingat aku? Aku Park Hye Min oppa, perempuan yang pernah jadi taruhan kalian ini. Perempuan yang kalian deskripsikan sebagai perempuan yang pendiam ini. Oppa, aku tidak pandai merangkai kata-kata jadi maaf jika ini jelek ya oppa. Oppa, sebenarnya aku juga sayang sama kamu, aku juga cinta sama kamu. Apakah semua ini salahku, oppa? Jika saja kamu tidak mengenalku jika saja aku dulu bisa menerima bahwa aku dijadikan taruhan, jika saja aku bukan anak pendiam ini semua tidak akan terjadi, lalu jika aku bisa memahami kamu sejak awal, jika saja aku tidak datang ke taman, jika saja aku tidak lari saat di taman, mungkin kamu masih bisa merasakan udara segar di sini oppa. Kamu meninggal juga gara-gara aku, ini semua salahku. Oppa, jangan pernah marah dengan Jiyeon ya, jika saja aku dulu segera menjauh dari kehidupanmu ini semua tidak akan terjadi. Maafkan aku oppa. Maafkan aku karena terlalu banyak kesalahan padamu padahal kita beekenalan saja belum ada waktu satu bulan. Maafkan aku oppa.” Ucap Hye Min yang diakhiri dengan tangisan terisak-isak dari Hye Min tak terkecuali mereka berempat.

“Loh, hei kenapa kalian ikut menangis?” Tanya Hye Min saat menengok kebelakang yang mendapati teman-temannya ikut menangis.

“Hye Min-ah ini semua salahku juga. Kenapa aku baru menyadarinya setelah mendengar ucapanmu tadi.” Ucap Daehyun dengan suara paraunya.

“Ia Hye Min-ah. Ini semua bukan hanya salahmu tetapi kita semua. Termasuk juga aku, kenapa dulu aku mau membantu Luhan? Padahal jika aku tidak mau pasti dia akan tetap hidup.” Jelas Hae Rim.

“Membantu?” Tanya Hye Min.

“Iya aku juga membantunya. Dulu aku pernah bilang ke kamu kalau perutku sedikit bermasalah tapi sebenarnya aku tawar-memawar dengan Luhan.”

“Tidak kok Hae Rim. Kamu itu baik, karena sudah membantu dia untuk bersatu denganku.” Kata Hye Min.

“Tidak ada yang salah disini. Hanya akulah yang bersalah.” Ucap salah seorang perempuan dengan suara sedikit serak yang ternyata ia adalah Jiyeon. Ia sudah berada di makam itu sebelum Hye Min dan teman-temannya datang ke makam itu. Lalu ia bersembunyi di balik pagar pemakaman tersebut.

Jiyeon datang menghampiri Hye Min. Jongin pun ingin mengeluarkan amarahnya itu tapi sudah ditahan oleh Jimin dan Daehyun. “Biarkan saja Jongin-ah, mungkin dia sedang meminta maaf.” Ujar Daehyun.

Dan benar saja apa yang dikatakan Daehyun. Jiyeon kini berlutut di depan kursi roda Hye Min.

“Park Hye Min. Maafkan aku atas kejadian tiga tahun yang lau. Maafkan aku karena merusam kebahagiaanmu sekarang. Maafkan aku yang berniat membuatmu celaka. Maafkan aku Hye Min-ah. Ini semua salahku.” Jelas Jiyeon.

“Jiyeon-ah, sebelumnya terima kasih karena sudah mengaku. Aku selalu memaafkanmu kok. Entah itu kejadian tiga tahun yang lalu ataupun sekarang.” Ucap Hye Min.

“Hye Min-ah kamu baik sekali, seharusnya aku tidak pernah berencana mencelakakan orang sebaik kamu.” Jiyeon pun berdiri lalu memeluk Hye Min. Hye Min pun membalas pelukan Jiyeon.

“Mulai sekarang apakah kita bisa berteman lagi? Dan menyelesaikan permasalahan dengan kepala dingin.” Tawar Jiyeon.

“Tentu saja aku mau berteman denganmu Jiyeon-ah. Dan mulai sekaramg kita adalah sahabat.” Ucap Hye Min lalu melambaikan tangannya ke arah berdirinya keempat orang yang mengawalnya kesini.

“Mulai sekarang Jiyeon, Jimin, Jongin, Hae Rim, Daehyun, Hye Min dan tentunya Luhan adalah teman selamanya yang takkan terpisahkan. Yeah !” Ucap Hye Min bersemangat. Lalu diikuti beberapa sorakan dari yang lainnya.

-END-

 

Bagaimana fanficnya readers? Bagus/Aneh/Rumit atau yang lainnya?. Fanfic ini nih, entah ini happy ending/ sad ending aku juga bingung. Yang pasti niatnya itu aku buat sad ending. Dan pas bagian Luhan meninggal itu, sebenarnya aku gak tega di bagian yang itu. Ini itu fanfic pertama aku yang main castnya itu ceritanya meninggal. Huaahh. Please ya, ku mohon dari kalian semua yang sudah baca ff ini harap tinggalkan jejak entah itu like ataupun komentar. 🙂 Sekian fanfic pertama dariku ~ #Hug. Annyeong 🙂 #Bow 😀

Kunjungi wordpress pribadi ku atau follow twitter aku ya 🙂

Author: gyuskaups

99 Geng || Multifandom || Hiphop Style

Here We Need Responsibilities. Thanks!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s