EXO Fanfiction Dorm

EXO as the Main Cast

of Sweet Kisses and Warm Hugs : How Long will I Love You?

3 Comments

tumblr_mjsykuHaRi1qkb8u8o1_500

 

 

Tittle : of Sweet Kisses and Warm Hugs : How long will I love you?

Author : Summer-cat ( @kissxing_ )

Casts : Kim Jongin , Lee Junhee ( original character )

Genre : Domestic!AU , Romance , Fluff

Length : One-shot

Rating : PG-13

Note : Disarankan untuk mendengarkan Ellie Goulding – “How long will I love you “ saat membaca

 

 

How long will I love you?

Word count : 1,343

 

How long will I love you?
As long as stars are above you
And longer, if I can.

“Jongin cepatlah keluar ! “ geram Junhee seraya menggedor-gedor pintu kamar mandi milik mereka.  Sudah lebih dari tiga puluh menit Jongin di dalam kamar mandi dan Junhee mulai khawatir dengan keadaan Jongin di dalam.  Apa tadi aku terlalu banyak memberi bumbu di makanan Jongin?  gumam Junhee dalam hati. Junhee menghela nafas kemudian mengambil beberapa langkah mundur.  Satu.. dua.. tiga.. Bahu kecilnya terus –terusan menubruk pintu, berusaha mendobrak pintu kamar mandi.

Jongin sejak tadi sebenarnya sudah selesai dengan urusannya, tetapi sinar rembulan yang menyusup melalui jendela di pojok atas kamar mandi membuat dia enggan keluar. Ia melipat lututnya dekat dengan dadanya,lalu menyandarkan dagunya di atas lutut. Matanya terus terpaku ke arah jendela , bintang-bintang terlihat jelas melalui jendela itu.

“Ah.. kenapa aku baru sadar pemandangan ini bisa dilihat dari kamar mandi..” gumam Jongin dengan senyum lebar di bibirnya.

Kekhawatiran Junhee lama-lama berubah jadi rasa kesal. Kalau sampai ternyata Jongin tertidur di dalam sana,ia tidak akan lagi mendapat jatah makanan. Dengan geram diputarnya kenop pintu kamar mandi.

Oh..

“Bagaimana aku bisa lupa kau tidak pernah mengunci pintu – Jongin?! Apa yang kau lakukan disana?”

Tanpa melepas pandangannya dari jendela, Jongin melambai tangannya ke arah gadis itu, meminta ia untuk mendekat. Junhee yang masih merasa kesal dengan Jongin mendekat sambil merengut kesal.  Jongin melirik ke arah gadis itu dengan ujung matanya, senyumnya semakin lebar melihat gadis itu merengut. Setelah meluruskan kakinya, Jongin menepuk nepuk pahanya , meminta gadis itu untuk duduk di pangkuannya.

Tanpa ragu, Junhee menempatkan diri pangkuan Jongin. Kedua lengan Jongin otomatis melingkar di pinggang kecil gadis itu, membuat gadis itu tersenyum dan lupa dengan rasa kesalnya tadi. Senang rasanya saat ia begitu dekat dengan lelaki itu, tubuhnya langsung menghangat ,seolah-olah juga ikut senang ketika berada di dekapan orang yang begitu familiar baginya itu.  Walaupun lantai kamar mandi terasa begitu dingin, Jongin tetap tersenyum dan mendekap erat sang gadis.

“Apa yang kau lihat ,Jongin?” Tanya gadis itu dengan wajahnya terbenam di dada laki-laki itu, senyumnya tak bisa lepas dari bibir.

“Berapa  rata rata umur bintang , gadis pintar?” Tanya Jongin tanpa menjawab pertanyaan gadis itu sebelumnya.

Junhee mengerucutkan bibirnya, ia tidak suka setiap Jongin memanggilnya dengan sebutan itu. Walaupun memang diakui nilai akademis Junhee jauh dulu saat sekolah lebih tinggi daripada Jongin, tetap saja dia tidak suka dengan panggilan itu. Junhee biasanya akan marah dan menyampaikan nasehat panjang mengenai tidak pentingnya nilai akademis di kehidupan nyata, namun hari ini ia membiarkan Jongin memanggilnya dengan nama itu.

“hmm beberapa miliar tahun , kalau tidak salah. Kenapa?”

“Kalau begitu aku akan mencintaimu lebih daripada umur bintang yang paling tua.” Gumam Jongin dengan senyum penuh percaya diri miliknya.

Junhee menatap Jongin dengan mata besar, tidak percaya dengan gombalan menggelikan dari mulut lelakinya. Gadis itu tertawa terbahak-bahak, Jongin awalnya hanya menatap gadis itu dengan bingung ,namun pada akhirnya dia juga ikut tertawa. Junhee menyeka air mata yang mengalir karena tertawa terbahak bahak tadi. Ditatapnya mata laki-laki di hadapannya,laki-laki yang penuh kejutan dan sangat ia cintai.

“Aku tau.”

Senyuman lebar di bibir Jongin membuat Junhee berterima kasih kepada tuhan karena telah mempertemukan dirinya dengan laki-laki ini. Malam itu mereka habiskan dengan memandang bintang –bintang.

 

( “Junhee bintang yang itu bergerak begitu cepat dan berwarna merah!!”

“Jongin , itu pesawat. Bukan bintang.” )


How long will I need you?
As long as the seasons need to
Follow their plan.

 

Jongin menyeruput kopihangat seraya mengusap matanya, ini sudah cangkir ke-6 dan novelnya belum selesai juga. Matanya sudah terasa berat dan perih, sebanyak apapun kafein yang ia konsumsi sepertinya tidak akan mampu mencegah ia terlelap tidur. Ia menampar-nampar pipinya sendiri ,berusaha agar tetap bangun.

Siapa bilang menjadi penulis novel itu mudah? Jongin tak habis pikir dengan orang-orang yang selalu memandang rendah para novelis dan menganggap mereka sama dengan pengangguran. Mendapatkan ide untuk membuat plot yang akan laku di pasaran sangatlah susah, ditambah dengan deadline waktu yang biasanya sangat pendek.

“Kau belum tidur juga?”  Junhee baru masuk ke apartemen , gadis itu langsung menghampiri  Jongin tanpa melepaskan coat-nya.

“Akhirnya kau pulang juga, bagaimana harimu? Belum,aku harus menyelesaikan novelku seminggu ini. Bahkan setengah dari isi saja belum selesai kutulis.” Erang Jongin seraya menjauhkan laptop dari hadapannya.  Junhee hanya tertawa sambil mengangkat cangkir –cangkir kosong bekas kopi di meja Jongin.

“Hariku baik-baik saja, hari ini adalah hari imunisasi. Banyak sekali anak – anak kecil yang datang.”

Jongin tersenyum mendengar cerita gadis itu, membayangkan Junhee berinteraksi dengan anak kecil membuat hatinya penuh dengan rasa bangga. Sejenak Jongin lupa dengan novelnya yang harus diselesaikan dalam seminggu.

“Aku tau kak tidak bisa berpikir dengan perut kosong. Kubuatkan sup ayam ya.”

Jongin kembali fokus dengan laptop di  hadapannya, mendengar suara Junhee yang sibuk di dapur membuat kepalanya menjadi lebih ringan, jarinya terus menerus mengetik di atas keyboard tanpa berhenti.  Kalau para penulis biasanya membutuhkan alcohol atau rokok sebagai pemicu ide, jongin hanya butuh kehadiran Junhee di sisinya. Jongin menyebut ini sebagai  Junhee’s effect. Junhee selalu berhasil membuat otaknya bekerja lebih cepat dan membuatnya menulis dengan lancar.

“Aku tak tahu apa yang terjadi tanpamu di sisiku.” Gumam Jongin dengan senyum lebar saat Junhee menghampirinya seraya membawa semangkuk sup ayam hangat untuknya. Junhee hanya memutar bola matanya, ia sudah biasa dengan ucapan – ucapan manis dari Jongin. Hidup dengan seorang penulis novel roman membuat Junhee terbiasa dengan ucapan ucapan manis dari Jongin (Walaupun dia masih sedikit tersipu dengan ucapannya) .

“Berhentilah berucap manis,Jongin. Ini, makanlah selagi hangat.”

Malam itu Junhee dengan setia menemani jongin sampai ia (tanpa disangka –sangka) menyelesaikan novelnya.  Mereka terlalu lelah untuk pindah ke kamar dan akhirnya terlelap di sofa, tangan mereka tidak terlepas dari satu sama lain.

(“Kau tau apa ,Junhee?”

“Apa?”

“Aku salah baca tanggal. Deadlinenya masih bulan depan.” )


How long will I hold you?
As long as your father told you,
As long as you can.

 


“Kau yakin dengan pilihanmu ,Jongin?” Tanya ayah Jongin , tangannya masih menggenggam Koran yang baru tiba.

 

Hari ini hari natal, Jongin dan Junhee sudah sepakat untuk pulang ke rumah orang tua masing-masing. Sudah lima kali mereka bersama-sama menghabiskan natal di Seoul. Satu kali merayakan natal bersama orang tua masing masing tidak akan memutuskan hubungan mereka,bukan?

“Gadis itu … seorang dokter anak,bukan?”

“ Ya.. dia punya sebuah klinik.”

“Dan keluarganya tinggal di Busan?”

“ya.”

“Apakah keluarganya kaya?”

“uh.. ayahnya pemilik sebuah rumah sakit di Busan.”

“Kau sudah bertemu orangtuanya?”

“Sudah.”

“Dan mereka menerimamu?”

“……”

Jongin sayang ayahnya. Ayahnya telah sekuat tenaga menjaganya sampai dewasa. Setelah kepergian ibunya ayahnya menjadi satu –satunya keluarga yang Jongin punya. Tapi kali ini Jongin merasa sangat tidak nyaman dengan interogasi kecil-kecilan yang diadakan oleh ayahnya.

“Ayah, kau kan sudah pernah menemuinya.” Gumam Jongin kesal.

“Aku tau, aku tau. Aku hanya tidak menyangka kau serius dengannya.”

Jongin menghela nafas dalam, ia tahu ayahnya akn selalu menganggap dia sebagai anak kecil. Memang Jongin dulu anak yang susah diatur, sudah banyak gadis –gadis datang ke rumahnya sambil menangis karena dicampakkan dengan kasar oleh Jongin. Biasanya ayahnya yang akan membantu Jongin mengusir gadis itu secara halus, dan malamnya Jongin akan diceramahi habis – habisan oleh ayahnya tentang betapa rapuhnya hati seorang gadis dan seorang laki-laki yang baik harus menjaga mereka. Jongin tidak bermaksud jahat pada mereka, hanya saja ia bosan.

“Ayah. Junhee berbeda dari gadis yang lain. Dia pintar –“

“Jadi mantan – mantanmu itu bodoh?” sela Ayahnya dengan senyuman jahil.

“Dengarkan aku dulu ,ayah.” Rengek Jongin seperti anak kecil. Ayahnya hanya tertawa kemudian menyenderkan punggungnya ke kursi, wajahnya serius menatap Jongin.

“Aku sangat menyayanginya. Dia.. Junhee itu luar biasa. Dia menerimaku dan segala kekuranganku. Dia selalu jujur dan tak segan-segan memarahiku jika aku salah. Aku berubah karenanya dan aku bersyukur karena itu. Aku ingin hidup bersamanya dan berubah menjadi lebih baik untuknya.. untukmu juga,ayah. Jadi ,percaya padaku bahwa aku bisa menjaganya.”

Jongin bernafas dalam , ia lega telah menyampaikan isi hatinya kepada sang ayah. Ayahnya hanya terdiam sambil terus menatap Jongin. Jongin mulai merasa khawatir ketika ayahnya tidak berbicara apa-apa, tetapi kemudian  Jongin dipeluk oleh ayahnya.

“Kau tau, keluarga Kim tidak pernah setengah-setengah dalam berjanji. Kau berjanji akan menjaga gadis itu selamanya ?”

“Aku berjanji.” Ucap  Jongin mantap.

Jongin tersenyum bangga. Ayahnya adalah ayah yang terbaik sedunia.

 

(“Jadi.. apakah Junhee itu sexy di matamu?”

“Ayah!!” )

 

 

Author note :

. . . . what did I just write . . .

HAHAHAHAHAHA hello there guise!  : -) Thank you for reading this word vomit of mine.

Aku baru punya semangat (lagi) buat nulis, hehehe domestic jongin is cute, isn’t it?

Untuk kamu yang bingung hubungan Jongin x Junhee apa, jadi mereka masih pacaran tapi udah tinggal satu apartemen. It’s a common thing out there,right?

Ah iya, karena aku suka banget banget karakter Jongin di sini jadi aku punya ide dan aku butuh banget ide kalian!

Kalian tetep pengen liat kehidupan Junhee dan Jongin kan?

Nah kalian boleh kasih prompt /plot ke aku supaya nanti aku tulis lagi deh tentang mereka.

Prompt nya bisa ditulis di komen aja atau mention aku di @kissxing_

Thanks in advance!

‘Till next time, hunny.

 

-Summercat

Author: summerkitty08

Tanned-skin girl with weird cat obsession , currently in-love with a sleepy boy named Jongin

3 thoughts on “of Sweet Kisses and Warm Hugs : How Long will I Love You?

  1. Ini keren cumann aku gapunya ide heheheh tapi beneran masih pengen liad mereka lagi … Sequel?

  2. Mereka nikah terus dari oenrikahan itu munculin konflik-konfliknya thor^^ saran akusih. Tapi akhirnya harus banget happy ending jangan sad-sad an thor yAaaaaaa

  3. ceritanya keren .. sequel dong ..
    tapi ini otak lagi buntu thor jadi gk bisa ksih saran ..
    mian ya thor ..

    keep writing thor🙂

Here We Need Responsibilities. Thanks!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s