EXO Fanfiction Dorm

EXO as the Main Cast

Just One Other Day

14 Comments

pizap

 

 

Tittle    : Just One Other Day

Author : eezeeba

Length : Two Shoot (Part 1)

Genre  : Romance, Angst

Rating : PG-15

Main cast & Additional Cast: Kim Jongin (Kai), Jung Soojung (Krystal F(x)), Oh Sehun dan lain-lain

Disclaimer: this fanfic originally written by eezeeba, no plagiarism in every diction and sentence.

 Author POV

Soojung menatap gelas kosong di depannya dengan mata nanar. Sesekali ia memutar-mutar sendok di gelas itu, menghela napas kasar lalu kembali menopang dagu dengan tangan kanannya.

“Ya Soojung-ah, kau kenapa?” Jiyeon menarik kursi yang berhadapan dengan sahabatnya itu. Sekali lagi Soojung mendengus.

“Kau ada masalah lagi kan dengan Kai?” tebaknya. Jiyeon menggeleng-gelengkan kepalanya, sementara Soojung sudah menaruh kepalanya di meja sambil mengerucutkan bibirnya.

“Astaga, kenapa lagiiiii?” tanya Jiyeon gemas. Soojung kembali menegakkan tubuhnya, menatap Jiyeon sambil tetap cemberut.

“Ya, Jiyeon-ah, apa persahabatan antara perempuan dan laki-laki wajar jika perempuannya terlalu ‘agresif’ pada sahabat lelakinya? Maksudku setiap hari dia mengtweet segala sesuatu tentang sahabatnya. Menunjukkan betapa mereka dekat. APA ITU WAJAR HAAAHH APA ITU WAJAR?????” Soojung mencengkeram gelasnya erat-erat, kalimat terakhirnya diucapkan dengan setengah berteriak, membuat setengah pengunjung kantin menatap mereka.

“Sssshhh pelan-pelan Soojung-ah,” Jiyeon dengan kikuk menatap sekitar, sedangkan Soojung tetap bersungut-sungut tanpa mengidahkan pandangan orang-orang di sekitar mereka, “siapa yang kaumaksud dengan ‘si perempuan’? Dasom?”

NEEEEEE,” sekali lagi Soojung menjawab dengan nada tinggi, hanya kali ini terdengar lebih putus asa, ia menaruh dahinya di meja. Sekali lagi Jiyeon tersenyum canggung menanggapi pandangan orang di sekitar mereka.

Aigooo geurae araseo, iya lah hal seperti itu tidak wajar. Apa kau belum bilang pada Kai kalau kau keberatan dengan ‘persahabatan’ mereka?”

“Aku sudah bilang entah dari jaman kapan, Kai juga sudah berjanji untuk menjaga jarak dari Dasom, tapi kemarin aku diberitahu Jinri kalau mereka baru saja jalan bertiga. AAAAAAHHHH NAN MICHEOSSEO, aku benar-benar lelah menghadapi perempuan-perempuan itu. Kai juga samasekali tidak peka apa kalau yang-ia-panggil-sahabat itu sepertinya berharap lebih padanya? Aku tidak suka namja yang mau-mau saja jalan dengan perempuan-perempuan yang bukan yeojachingunya Jiyeon-ah, aku tidak suka,” Soojung sudah hampir menangis sekarang, “kami sudah hampir 2 tahun berpacaran dan ia tetap tidak berubah Jiyeon-ah, eotteokhae?”

“Coba kalian bicarakan lagi, ya? Kalau dia tau kau terluka seharusnya dia tidak akan terus menerus bersikap seperti itu kan?”

Molla, aku ragu dia masih mendengarkanku,” Soojung menghela napas, kemudian memaksakan wajahnya umtuk tersenyum, “tapi akan kucoba.”

***

Soojung POV

Bagi Jiyeon, ini bukan pertama kalinya ia mendengarkan curahan hatiku tentang Kai. Dari sebelum kami berpacaran hingga hubungan kami hampir menginjak usia 2 tahun, Jiyeon lah yang pertama kali kucari jika ada sesuatu antara aku dan Kai. Aku yakin sahabatku itu pasti sudah lebih dari muak mendengarkan semua ceritaku tentang masalah kami, dalam 2 tahun ini ratusan kali kami ribut dan puluhan kali aku menangis di hadapannya karena bertengkar dengan Kai. Aku sayang sekali pada namja sialan itu. Itulah yang membuat hubungan kami bertahan meskipun kami bertengkar seminggu sekali. Saat sedang baik-baik saja, Kai adalah namja termanis dan terhangat di dunia, tetapi ketika kami ada masalah…BOOOM! Bahkan beruang kutub pun tak akan tahan dengan sikap dinginnya. Menyebalkan.

Kuhempaskan tubuhku ke sofa yang terletak di ujung kamar, mengambil handphoneku dari dalam tas untuk mencoba menghubungi namja pabo itu.

Yeoboseyo,” sapanya di seberang, “ada apa, jagi?”

“Tsk,” aku mendecakkan lidah mendengarnya memanggilku ‘sayang’, “kau dimana? Aku ingin bicara.”

“Kenapa nada bicaramu seperti itu? Kau kenapa lagi?”

“Kenapa lagi? YA! Kaupikir aku tidak tahu kemarin kau jalan bertiga dengan Jinri dan Dasom. Mana katamu mau menjaga jarak dari Dasom? Bukankah sudah berulang kali kukatakan aku risih melihat kalian seperti itu?”

“Hffft,” aku bisa mendengarnya menghela napas, “Soojung-ah, kita sudah membicarakan ini, bukan? Aku tidak ada apa-apa dengan mereka, urusan Dasom ternyata menyimpan perasaan lebih itu bukan masalahku, yang penting aku tidak menyimpan perasaan untuknya kan?”

“Tapi kau sama saja memberikan harapan untuknya supaya terus berharap padamu! Kau sudah punya aku, seharusnya kau menjaga jarak dengan perempuan manapun untuk menjaga perasaanku. Aku jalan berdua dengan Minhyuk saja kau marah besar, sekarang dengan fakta yang ada kaupikir aku akan diam saja melihat hubunganmu dengan Dasom, hah?”

Kai sekali lagi menghela napasnya, terlalu keras sehingga aku bisa mendengarnya dengan sangat jelas, “Soojung-ah, aku sudah menjaga jarak dengannya. Kemarin kami keluar bertiga karena dia meminta-”

“Oh jadi kau mau saja dimintai tolong olehnya? Yeoja mana saja yang kau iyakan permintaannya, Kai?”

“Soojung-ah, sudahlah…aku lelah membahas masalah ini terus menerus. Berulang-ulang kau mempermasalahkan hal ini. Aku bosan. Aku tidak ada apa-apa dengannya. Titik.”

“Aku tidak akan mempermasalahkannya kalau kau tidak mengulanginya terus-menerus. Kau tidak mendengarkanku. Kau tidak peduli apakah perbuatanmu melukaiku atau tidak. Kau tidak pernah peduli!”

Tangisku pecah sekarang. Kuletakkan handphone dengan kasar di meja sebelahku. Hatiku benar-benar terasa sesak. Kapan namjachinguku sendiri mau mendengarkanku? Kai selalu melontarkan pembelaan-pembelaan, tidak pernah meminta maaf, tidak pernah mau tahu keadaanku, tidak pernah mau tahu bahwa yang ia lakukan menyakitiku.

Dan bodohnya aku terlalu mencintai namja itu.

***

Kai POV

Aku menghela napas sambil memukulkan tanganku ke permukaan stir mobil. Masalah itu lagi. Lagi-lagi masalah itu. Aku sungguh heran kenapa Soojung selalu mempermasalahkan hubunganku dengan Dasom. Aku tak tahu juga kenapa ia selalu bilang jika Dasom menyimpan perasaan lebih untukku. Ia bilang itu karena Dasom selalu mengupdate twitternya dengan segala hal yang berhubungan denganku. Baik. Kuakui hal itu benar. Namun Dasom memang tipe orang yang impulsif dan ia dekat dengan siapa saja, sedangkan Soojung cenderung lebih dingin dibandingkan Dasom. Cara bergaul kami berbeda, mungkin itu yang membuat yeojachinguku itu terus-terusan cemburu buta dan selalu saja memancing pertengkaran kami.

Sebenarnya, bukan hanya hal itu yang memancing pertengkaran. Hal sekecil apapun dapat menjadi alasan pertengkaran kami. Terlambat menjemputnya 10 menit saja membuatnya mendiamkanku selama berjam-jam. Setiap kali Soojung PMS, aku akan menjadi pelampiasan semua rasa sakitnya dan mood-swingnya yang maha ekstrim itu. Atau jika aku telat makan atau makan makanan yang seharusnya kuhindari, dia bisa menceramahiku selama berjam-jam, ditambah tangisan jika aku terlihat tak memperhatikannya.

Bukan aku tidak menyayanginya, sebaliknya, aku sangat mencintai Soojung. Namja gila macam apa yang tidak bersyukur memiliki yeoja sesempurna ia? Dibalik semua sikap manjanya, aku tahu Soojung mencintaiku. Ia mungkin pemarah dan keras, tetapi sekaligus lembut dan sangat perhatian. Aku ingat di ulangtahunku yang ke-18 kemarin, Soojung memberiku hadiah berupa bantal, dompet dan cokelat (yang tidak mungkin kuhabiskan dalam waktu 1 tahun) disertai dengan surat yang isinya sangat sangat membuatku bersyukur memilikinya. Ia yeoja yang sangat manis. Not to mention her dazzling look and all the bling that makes her look so awesome, in my eyes, she’s the most beautiful girl on planet earth.

Namun harus kuakui juga, pertengkaran kecil tadi membuatku benar-benar lelah. Aku bosan kami terus-menerus ribut dan bertengkar. Aku merindukannya. Aku berani bertaruh kalau saat ia mematikan telepon tadi, ia pasti mulai menangis. Aigoo, tentu saja aku benci melihatnya menangis, tetapi apa yang bisa aku lakukan?

Kukenakan lagi earphone Bluetooth yang tadi sempat kubanting karena pertengkaran kecil kami. Akan kucoba meminta maaf dan menerima ajakannya untuk membicarakan masalah kami. Aku pun sejujurnya tidak tenang mendiamkannya ketika aku tahu kalau aku telah membuatnya menangis.

Satu kali. Tidak diangkat.

Dua kali. Masih tidak diangkat.

Tiga kali. Handphonenya tidak aktif.

Terakhir earphone itu sudah kembali tergeletak menyedihkan di jok sebelah kananku.

Entah kenapa tiba-tiba aku merasa sangat marah. Aku hanya ingin melepaskan beban di dadaku dan saat itulah…

CCIIIITTTTTTTT! BRAAAKKKKK!

***

Author POV

Soojung tergesa memacu mobilnya setelah menerima telepon yang mengabarkan bahwa Kai mengalami kecelakaan. Jantungnya sudah berdegup puluhan kali lebih cepat daripada seharusnya. Ditahannya air mata yang terus merangsak agar tetap dapat fokus dengan jalanan di depannya. Sesampainya di rumah sakit ia tak bisa menahan diri untuk tak berlari. Setelah bertanya kepada suster yang berjaga di meja resepsionis ia bergegas memburu ruang UGD.

Ruangan itu dipenuhi oleh orang-orang yang sepertinya mengantarkan Kai kesana. Soojung yang panik segera masuk tanpa bertanya terlebih dahulu. Matanya membulat ketika ia menemukan Kai terduduk, tersenyum melihatnya datang.

“Hai,” sapa Kai santai. Tangan kanannya sudah diperban dan digantungkan di lehernya, persis seperti menggendong tangannya sendiri. Pecah sudah tangisan Soojung melihat pemandangan itu.

Ya! Ige Mwoya! Kau membuatku takut…kau…” Soojung sudah menelungkupkan tangan untuk menutupi wajahnya yang basah. Kai tertegun, baru kemudian merengkuh Soojung kedalam pelukannya dengan tangan kirinya yang bebas.

“Hei, sshhh…mianhae. Mianhae. Aku tidak apa-apa. Tanganku hanya retak sedikit. Mian sudah membuatmu khawatir. Gwaenchana…jagiya, mianhae…” Kai berbisik lembut sambil mengusap-usap punggung yeojachingunya yang masih menangis sesenggukan di bahunya.

“Aku benar-benar takut tadi…bahkan seperti ini pun aku benci melihatmu terluka. Aku benci melihatmu kesakitan. Kai, aku takut…”

“Ssshhh sudah jagiya, sudah. Aku tak kesakitan, aku tidak apa-apa. Sudah ya jangan menangis lagi. Hatiku yang sakit malah kalau harus melihatmu menangis begini.”

Soojung memukulkan tangannya ke dada Kai pelan, sedangkan namja itu hanya tersenyum, kemudian mengucap dahinya lembut, “mian membuatmu takut. Terimakasih sudah mengkhawatirkanku. Aku sangat menyayangimu.”

Nado, pabo-ya…” balas Soojung sambil tersenyum.

“Sekarang kau mau mengantarku pulang, kan?”

Soojung kembali mendaratkan satu pukulan ke dada namjachingunya.

***

Soojung POV

Aku baru saja menutup pintu rumah setelah mengantarkan Kai pulang saat kudengar eomma dan appaku berteriak pada satu sama lain. Lagi, batinku. Mereka bertengkar lagi. Hal ini sudah biasa untukku. Aku berjalan menuju kamarku saat kulihat pintu kamar orangtuaku terbuka, kulihat eomma sudah menarik kopernya. Appa masih berusaha menahan eomma dengan menarik tangannya, yang disambut dengan satu tamparan keras dari tangan kanan eomma. Appa meradang, kembali mengeluarkan kata-kata kasar dan bentakan, eomma pun menimpali sambil menangis terisak. Aku muak melihatnya.

Kuputuskan untuk mengabaikan pemandangan itu. Persetan apa yang akan dilakukan oleh kedua orangtuaku. Keputusan apa yang akan mereka ambil. Aku muak. Kubuka pintu kamarku dengan lunglai. Aku lelah sekali hari ini. Setelah semua yang terjadi, aku hanya ingin bisa menenangkan diriku sebentar saja, tetapi ini yang kudapat di rumah. Kuseka airmata yang mengalir dari sudut-sudut mataku. Ingin sekali rasanya kuletakkan bebanku di bahu Kai atau sekedar bercerita padanya untuk mengurangi sesaknya dadaku, tetapi itu tak mungkin sekarang. Bagaimanapun Kai perlu istirahat dan aku tak ingin mengganggunya.

Kuambil beberapa helai pakaian dari lemariku, begitu juga dengan keperluan sehari-hari dan beberapa alat make-up. Kuperiksa uang cash yang kusimpan di meja belajarku, kemudian ikut mendesakkannya ke dalam koper. Aku ingin menjauh dari semua hiruk-pikuk ini untuk sebentar saja. Untuk sementara aku hanya ingin mendapatkan sedikit kedamaian.

Sudah hening ketika aku keluar dari kamar. Malam pun telah larut. Sepertinya eomma benar-benar pergi dari rumah, dan entah kemana perginya appa. Hanya pembantu, sopir dan satpam yang menanyakan kemana aku akan pergi saat melihatku menarik koper itu. Pembantu dan satpamku mati-matian berusaha membujuk agar aku tidak pergi, bahwa nyonya dan tuan mereka akan marah jika mereka membiarkanku pergi. Kali ini, masa bodoh. Aku sudah lelah dengan semua yang terjadi belakangan ini. I deserve to get some peace and no one can hold me back.

            Even Kai.

***

            Aku terpaksa menghabiskan malam di bandara karena penerbangan pertama ke Busan yang bisa kudapat dijadwalkan take off pada esok pagi buta. Kuhabiskan malam dengan merenung, memikirkan banyak hal yang selama ini menggerogoti pikiranku. Salah satunya adalah masalahku dengan Kai yang tak pernah tuntas, hanya tertunda. Maksudku, setiap kami ribut, akan ada hal yang bisa memaksa kami untuk berbaikan, tetapi masalah kami lagi-lagi tidak terselesaikan. Contoh yang baru saja terjadi adalah kecelakaan Kai tadi siang, bagaimana mungkin aku marah padanya ketika ia sedang sakit? Namun bagaimana dengan masalah kami…sulit membuat Kai mau mendengarkanku. Ia sudah berjanji pun ternyata persepsi kami terhadap janji itu berbeda. Aku lelah menahan cemburu dan rasa benci karena masalah ini. Belum lagi kedua orangtuaku yang 6 bulan belakangan ini bertingkah seperti tikus dan kucing. Aku memang tidak dekat dengan keduanya, tetapi hal itu membuatku semakin muak dan tidak betah di rumah. Pun masalah ini tidak kuceritakan pada siapapun, aku merasa ini aib keluargaku dan aku tidak ingin siapapun mengetahuinya. Bahkan pada Kai sekalipun aku tidak bercerita, meskipun dalam hati aku sangat ingin. Namun aku juga tak ingin menambah masalah dalam hubungan kami. Aku hanya ingin dapat tetap bersamanya, bahagia berada di dekapannya. Hanya itu.

Waktu sudah menunjukkan pukul 4, pesawat yang akan membawaku ke Busan sudah tiba di landasan pacu. Kukemasi lagi barang-barangku, bersama penumpang lain menuju pesawat kami yang akan lepas landas 30 menit lagi.

Aku tertidur di pesawat selama perjalanan, baru terbangun saat seorang pramugari menegurku dan mengingatkan untuk segera bersiap turun dari pesawat. Kuhirup udara pagi Busan dengan sepenuh hati. Mengisi rongga-rongga dadaku dengan udara yang berbeda, udara yang kuharap dapat mengganti semua kepenatan ini dengan rasa nyaman. Kulirik jam tanganku, baru sekitar pukul 7 pagi. Agenda pertamaku adalah mencari hotel untuk menginap selama ada disini. Supir taksi yang kutumpangi memberiku rekomendasi hotel yang cukup bagus dan murah, setidaknya aku membutuhkan hotel yang nyaman untuk menghabiskan waktu disana tanpa harus mengeluarkan banyak uang untuk menginap di hotel bintang 5.

Mungkin aku akan tinggal disini selama beberapa minggu, dengan berganti-ganti hotel pastinya. Untungnya aku sudah melewati ujian akhirku, hanya tinggal menunggu pengumuman masuk perguruan tinggi yang berarti aku punya cukup banyak waktu libur untuk dihabiskan. Dan disinilah aku. Sendiri. Menatap pantai dari kamar hotelku.

Kubalikkan badan untuk segera membongkar barang-barang bawaanku. Menata baju-bajuku di lemari dan menaruh perlengkapan yang lain di meja rias kecil yang disediakan di sudut ruangan. Kuputuskan untuk mandi sebentar dan segera merapikan diri untuk kemudian berjalan-jalan di sekittar hotel. Saat itulah kusadari handphoneku bergetar di atas kasur, shit, batinku, aku lupa mengganti mode getar yang kuaktifkan saat turun dari pesawat tadi.

Yeoboseyo,” sapaku.

“Kau sedang apa, Jagi? Kenapa lama sekali mengangkat teleponku?” tanya Kai di seberang. Aku menelan ludah.

“Aku baru saja membongkar barang bawaanku dan man-”

“Barang bawaan? Kau sedang ada dimana?”

“Busan.”

MWO?!” kali ini Kai literally berteriak, “apa yang kau lakukan disana? Kau pergi dengan siapa?”

Aniya…aku hanya butuh sedikit ketenangan, ada masalah di rumah, dan ya aku memilih pergi sendiri.”

“Kau kabur dari rumah?” tanya Kai dengan nada menyelidik. Aku menghela napas.

Ani, aku hanya ingin sendiri sebentar.”

“Tapi kenapa kau harus pergi? Aku ingin bertemu denganmu, aku ing-”

Kai, you’re not the only one that gets hurt. Aku mengerti kau butuh aku disaat keadaanmu seperti ini tapi aku juga sedang ada masalah dan aku hanya ingin-”

I’m not talking about who’s getting hurt, Soojung-ah. Aku tidak apa-apa dengan keadaanku sekarang, aku tidak mengeluh. Tapi aku rindu padamu, kenapa kau harus pergi? Ada masalah apa?”

“Kai-ya, come on, aku malas berdebat denganmu, aku hanya ingin sedikit ketenangan disini.”

“Jadi kau lari dari masalah, huh?”

“Kai, stop it…”

“Kenapa kau harus pergi? Apa kau malah bersenang-senang disana sendirian?”

WHAT ARE YOU TALKING ABOUT?” bentakku tak percaya. Bagaimana bisa ia menuduhku bersenang-senang dengan meninggalkannya di Seoul? “shut up, Kai. You know nothing.”

That’s exactly my point, tell me so I know because I wanna help you.

You can’t,” jawabku lirih, “nobody can.”

“Lalu dengan kau kabur seperti ini apa masalahmu bisa selesai?”

“Kai, stop talking like that. I know you want to meet me because I do too! But stop being so selfish, understand that I really need some time alone.

Selfish?” Kai bertanya sinis, “I’m selfish? Me? Excuse me Miss Jung Soojung but maybe you acuse the wrong person here. Kau yang pergi, yang tidak mau membagi masalahmu, kau yang meninggalkanku sendirian disini, and you’re saying I am selfish?”

Dadaku sesak menahan amarah, aku benar-benar tak menyangka Kai bisa menjadi semenyebalkan ini, “go screw yourself.”

Kumatikan panggilan itu, sekaligus menonaktifkan handphoneku.

I really hate that I love you, Kai.

***

Seminggu pertama aku sengaja mendiamkannya, tak kubalas telepon, sms maupun chatnya. Minggu kedua akhirnya kubalas salah satu smsnya, tetapi hingga minggu ketiga, dia tidak meresponnya. Sekarang dia yang mengabaikanku. Aku benar-benar tak paham dengan cara berpikirnya. Minggu ketiga, hanya 2 hari sebelum pengumuman perguruan tinggi, aku akhirnya kembali ke Seoul.

Orangtuaku selama 3 minggu ini tentu saja tidak mencariku. Saat aku kembali ke rumah pun aku tidak menemukan mereka. Hanya ada pembantu dan pegawai-pegawai lain yang bekerja disini. Tinggal besok, pengumuman masuk perguruan tinggi akan diumumkan besok pagi, dan sampai detik ini Kai belum juga mau menghubungiku. Kucoba berkali-berkali meneleponnya, tidak pernah diangkat sekalipun handphonenya selalu aktif. Apa ia benar-benar marah padaku kali ini?

Keesokan paginya aku memutuskan untuk berangkat ke sekolah. Jiyeon dan beberapa temanku yang lain sepakat bahwa kami akan membuka portal pengumuman bersama-sama di sekolah. Jujur aku juga berharap bisa menemui Kai di sekolah, I’m dying to talk to him. I miss him so much yet I find myself so angry, but what to do

Sekolah tampak ramai pagi ini. Jiyeon, Suzy dan Jinri langsung melambaikan tangan mereka ketika melihatku. Menginstruksikan aku untuk bergabung dengan mereka di selasar.

“Hey Soojung-ah, kau belum membuka pengumuman itu kan?” selidik Suzy saat aku menghampiri mereka. Aku menggeleng sambil tersenyum.

“Belum lah, kita sepakat akan membukanya bersama-sama. Kajja!”

Dan berita gembira itu pun datang. Aku dan ketiga temanku masing-masing diterima di jurusan yang kami inginkan. Jinri diterima sebagai mahasiswi desain di salah satu universitas khusus wanita terkemuka di Seoul, sedangkan aku, Jiyeon dan Suzy berhasil masuk sebagai mahasiswi teknik di Seoul University. Yahtzeee! Meskipun kami bertiga masing-masing diterima di jurusan yang berbeda, aku di teknik arsitektur, Jiyeon di teknik industry dan Suzy di teknik sipil, setidaknya kami tetap berada di satu lingkungan. Kupeluk ketiga sahabat terbaikku itu. Sedikit merasakan haru karena setelah 3 tahun selalu bersama, akhirnya kami harus menempuh jalur yang berbeda demi cita-cita kami masing-masing.

Saat itulah kulihat Kai sedang berjalan menuju arah tempat parkir dengan Suho dan Kris. Spontan aku langsung meneriakkan namanya, tanpa pamit segera mengejarnya.

“KAI-YA!” teriakku keras, masa bodoh orang-orang memerhatikanku atau apa, aku harus bicara dengannya.

Kai menoleh, menatapku dengan dingin, “Mwo?” ia hanya bertanya singkat.

“Kau ini kenapa?” tanyaku sambil berusaha mengatur napas, hasil dari sprint barusan, “kau marah padaku?”

Ia menggeleng, masih dengan ekspresi datar yang sejujurnya menakutiku, “Sudah, hanya itu?”

Mianhae…” kataku akhirnya.

“Tidak usah minta maaf,” jawabnya, “oh iya, kau diterima kan? Chukkhae.”

“Ah, ne, gomawo…” tiba-tiba saja aku merasa gugup, ada yang berbeda dari sikap Kai, “bagaimana denganmu?”

“Gagal,” jawabnya singkat. Kuperhatikan ekspresinya yang mengeras saat mengatakan kata itu.

“Kai-ya…” aku ingin mengatakan sesuatu untuk menghiburnya, tetapi wajahnya menunjukkan kegusaran yang amat. Aku terdiam, hanya menatap lantai di bawahku. Aku benar-benar tak tahu apa yang harus kuucapkan.

“Soojung-ah, aku tidak diterima di Seoul University, sejujurnya dari sebulan yang lalu, aku sudah berjaga-jaga untuk mencari cadangan karena aku tidak yakin diterima. Dan benar saja aku gagal masuk kesana, tetapi aku sudah diterima di salah satu universitas di Jerman. Bukan universitas unggulan, tetapi setidaknya aku bisa mengambil jurusan kedokteran umum disana…”

Mwo?” hatiku terasa dirobek sedemikian rupa saat mendengar penjelasannya, “kau mengambil tes untuk kuliah di luar negeri dan samasekali tidak mengatakannya padaku di awal? Sekarang kau mengatakan kau mau pergi, begitu?”

“Itulah mengapa aku marah saat kau pergi ke Busan, Soojung-ah, dan kau malah mengabaikanku, aku ingin menghabiskan sebanyak mungkin waktu denganmu disini selama kita mampu, tapi kau malah pergi begitu saja setelah menuduhku egois. Kau tahu ini juga tidak mudah untukku-”

“Lalu bagaimana denganku? Aku terbiasa denganmu disini, aku ingin kau disini, aku tidak pernah membayangkan harus jauh darimu disini. Kai-ya…eotteokhae…” sebutir airmata jatuh juga dari mataku. Kai masih mematung, terlihat menimang-nimang jawaban apa yang harus ia berikan padaku.

“Aku tahu…” akhirnya ia mengangkat suara, “aku pun ingin tetap disini. Namun aku tidak bisa, Soojung-ah. Aku tidak ingin mengambil jurusan lain, jika aku gagal disini, setidaknya aku diterima di universitas lain. Kau berpikir tentang bagaimana kau disini tanpa aku? Lalu bagaimana dengan aku disana nanti, Soojung-ah? Aku akan berada di tempat baru tanpa siapapun yang pernah mengenalku. Aku bagaimana? Tidakkah kau berpikir aku juga berat hati harus meninggalkan Seoul?”

“Masih ada waktu untuk kita bersenang-senang sebelum kau pergi, bukan?” tanyaku dengan nada bergetar. Kudengar Kai menghela napasnya pelan.

“Tidak,” jawabnya dingin, “aku harus menyiapkan banyak hal sebelum keberangkatanku ke Jerman.”

Airmataku sudah jatuh membasahi kemeja dan lantai di bawahku, aku tak berani mengangkat kepala, wajahku sudah terlalu basah. Inikah akhirnya? Kejutan inikah yang kudapatkan darinya setelah berminggu-minggu kami tak bicara?

“Kau jahat…” hanya itu yang keluar dari mulutku ketika sebenarnya aku ingin mengungkapkan ribuan kata lain yang kuharap bisa mewakili perasaanku.

“Dan kau tidak?” ia bertanya dengan nada menuntut, “kau lari dari masalahmu dengan meninggalkanku. Kautahu tanganku retak dan aku tak bisa menyusulmu. Kau tidak menceritakan apapun padaku dan kau pergi begitu saja. Kau kira aku main-main saat mengatakan aku rindu dan ingin bertemu? Kau kira aku tidak panik mengetahui waktuku disini terbatas sedangkan kau malah menjauh? Kau kira aku tidak memikirkan ini semua?”

Aku terdiam.

Dan Kai-ku pergi. Ia tidak berusaha merengkuhku ke dalam pelukannya atau apa. Ia hanya pergi, meninggalkanku berdiri mematung dan menangis.

Dan aku tahu, mungkin Kai-ku akan benar-benar pergi.

***

Author POV

Setahun sudah Soojung menjalani kehidupannya sebagai mahasiswi di Seoul University. Setahun sudah juga akhirnya ia dan Kai memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka.

Tiga bulan yang lalu Soojung akhirnya berkenalan dengan Oh Sehun, teman satu jurusan Suzy yang sengaja diperkenalkan padanya. Dalam 3 bulan itu nampaknya mereka mulai jatuh hati pada satu sama lain. Pasangan-hampir-jadi ini pun menjadi buah bibir di seluruh penjuru kampus, tidak mengherankan karena Sehun adalah public-most-wanted sedangkan Soojung mendapat predikat sebagai mahasiwi baru paling cantik saat penutupan OSPEK setahun yang lalu.

Namun kehidupan kadang tak selalu seindah dan semudah yang kita mau, bukan?

***

Soojung POV

Aku membereskan sedang membereskan buku dan alat tulisku saat kulihat Sehun masuk ke dalam kelas. Ia mengenakan kemeja hitam panjang yang fit-body, membuat beberapa yeoja di kelas ini kontan berbisik-bisik saat ia melangkah masuk.

Aigooo, prince is in the house yo?” godaku. Sehun hanya tersenyum, kemudian mengambil tas dari tanganku, membawakannya.

“Yaaa kau tak perlu melakukannya,” kataku malu. Pandangan orang-orang sekitar tak lepas dari kami. Lagi-lagi Sehun hanya tersenyum.

Gwaenchana, tidak usah kau hiraukan orang lain,” jawabnya santai.

Aku baru akan mengikutinya keluar ruangan saat aku merasakan rasa sakit yang amat hebat di kepalaku. Kakiku kehilangan keseimbangan dan aku tersungkur ke lantai dengan tangan kiriku yang masih berusaha memegangi kepalaku.

“Ya, Soojung-ah, gwaenchana?” aku masih bisa mendengar suara panik Sehun dan keributan orang-orang yang melihatku terjatuh. Aku tidak menjawab, rasa sakit di kepalaku tak bisa kutahan lagi. Kurasa Sehun membopongku keluar kelas, hanya beberapa langkah saja sampai aku kehilangan kesadaranku di lengannya.

***

Radang selaput otak, itu yang samar-samar bisa kutangkap dari penjelasan dokter yang menanganiku. Namun bukan itu yang membuatku takut.

Aku bisa mendengar bahwa aku juga terkena kanker paru-paru, tes yang dilakukan menunjukkan aku mengidap kanker paru-paru stadium 2.

God, really? After all that happened and you still punish me this way?

-TBC-

 

Okay, sampai sini dulu part satunya. Maaf ya kalau boring. Di part 2 bakal lebih banyak Kai’s POV. Plot inti dan klimaks juga bakal ada di part 2, part ini sebenernya lebih kaya intro sih. RCL dari readers bakal sangat aku apresiasi. No silent reader please :” masukan apapun bakal ngebantu supaya aku bisa nulis lebih bagus lagi buat kedepannya. Smoochhhhhhh dari eezeeba :*

 

Author: eezeeba

An overthinker. Crazily in love with potato chips. Loving Daughtry and Maroon 5 to death. Currently in delusional relationship with Oh Sehun and T.O.P.

14 thoughts on “Just One Other Day

  1. Aslajsdgfkflfd tor lu bkin gue jungkir balk tau.. Kenapa musti penyakitaan😦 jangan buat kkaistal pisah tor😦

    • Hai, terimakasih banyak udah mau baca FF aku😀
      to be honest, author sebenernya jg kaistal shipper, jadi………….ya gitu, hehe, besok mampir lg ya kalo part 2nya udah aku post hihi thankyou🙂

  2. kira-kira kai bakal balik enggak ya ? kalo balik gimana reak sinya sama soojung ika soojung udah jadian sama sehun ?

    • mmm untuk part 2 sengaja aku kasih twist yg bakal jawab pertanyaan ini hihi, mampir lg ya kalau part 2nya udah aku post. terimakasih banyak udah mau nyempetin baca FF aku🙂

  3. yah kenapa krystal jadi sakit begini??hidupnya krystall bener2 kasian banget udah dia broken home ditinggal sama kai sekarang dia sakit..
    jangan bikin krystalnya mati thor..nex chapter ya..

    • entahlah, author sepertinya emang hobi nyiksa biasnya senidiri hihihi. terimakasih udah mampir baca, part selanjutnya bakal aku post secepatnya🙂 *bow*

  4. kenapa parah banget penyakitnya? dan kai kenapa ninggalin krystal😦 kaistal balikan lg plis, emg sih mereka sama-sama salah-_-

  5. Toooorrrrr itu gimana kelanjutannya torrrrrrr jangan dipisahin dong kaistal, sehun mah sama aye aje xoxo ditunggu next chap tor

  6. aduh soojung knpa???
    n gmna slnjut ny hbnga dy sma kai???
    ap mrka bklan ktmu lge….
    ksian soojung….
    next thor sngt d tnggu ya

  7. duhhhhh, ini kereen pakeee bangetttt, cepetan di post ya chapter 2nyaaaaaa in love bgt sama ceritanyaaaa❤

Here We Need Responsibilities. Thanks!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s