EXO Fanfiction Dorm

EXO as the Main Cast

[Oneshoot] Time Boils The Rain

3 Comments

Time Boils The Rain

Tittle : Time Boils The Rain

Author : AutumnGirl (@AND3_Aninda)

Main Cast : Wu Yifan

Support Cast : Member EXO

Genre : Songfict, sad. brothership, friendship

Length : Oneshoot (1847 word)

Rating : G

Disclaimer : Semua cast milik Sang Pencipta. Aku hanya meminjam namanya saja🙂 Namun cerita asli dari pikiranku ^^

Fanfiction ini terinspirasi dari lagunya Yifan yang belum lama ini keluar dan judulnya langsung aku jadiin judul fanfiction ini. Serasa nyesek banget dengernya karena artinya yang dalem. Eum.. tanpa banyak ba-bi-bu lagi, silakan membaca hasil karyaku yang mendadak karena lagu Yifan yang penuh emosional itu :’) Tapi ini ada yang beda dari lirik lagunya. Tapi kebanyakan akan masuk di songfict. Jadi, silakan membaca🙂

PS : Disarankan mendengarkan lagu milik Yifan – Time Boils The Rain :’)

 

—- Time Boils the Rain —-

                Langit kelam mulai menggantung di langit. Tiupan angin dingin menusuk hingga tulang seorang namja di bangku taman. Tetap tak bergerak sekalipun walau situasi mulai tak bersahabat. Matanya menatap kosong pohon maple di hadapannya tepat 10 meter dari tempat beristirahat. Syal merah hangat sukses menutup lehernya dan setengah wajah idaman para gadis. Mata dingin miliknya tak beralih dari pohon tersebut sampai setetes cairan bening lolos dari matanya bersamaan dengan butiran matanya lolos dari pelupuk matanya, rintikan hujan juga membasahi tanah bumi. Mengubah kuncup bunga yang menantikan air menjadi mekar. Angin menggoyangkan tangkai bunga hingga tampak bunga tersebut menari-nari bahagia. Waktu tanpa terasa bergulir dengan cepat walaupun hanya menatap sang bunga menikmati masanya. Namja itu lantas berdiri meninggalkan tempat dimana ia mengingat kisah masa lalunya. Kisah kelabu nan buram yang membuatnya semakin tegar.

Kedinginan, kesepian, juga kelelahan membuat namja tersebut terduduk dengan paksa di trotoar yang ia lalui. Ia menatap langit yang setia menemaninya dengan rintikan hujan. Tak peduli namja itu akan sakit atau mati, butiran air hujan bertambah volumenya. Menjadikan hari itu hujan sangat lebat tanpa ampun. Sosok namja itu hanya termenung dan terdiam. Menikmati setiap tetesan air hujan yang mengenai tubuhnya.

Ia kuat secara fisik, namun hatinya kini beralih menjadi lemah. Namja itu terus menangis. Apa seorang namja tak boleh menangis? Tentu tidak. Benaknya berkata bahwa ia harus menangis. Meluapkan semuanya tanpa ada yang tertinggal di dalam hatinya yang kalut.

Ia dingin secara sikap, namun semakin dalam mengenalnya, ia sungguh seorang yang hangat. Tak peduli apa kata orang lain bahwa dia adalah seorang yang terlalu cuek. Tapi itu membuatnya semakin menjadi seorang yang hangat. Dari orang lain itulah, membuat dirinya dapat belajar.

“Kehangatan sebuah keluarga yang baru, dapatkah aku memilikinya kembali? Apakah hanya sebatas segelintir waktu saja mereka menganggapku sebagai salah satu anggota keluarga baru?” Gumamnya pelan. Ia menunduk menatap jalanan. Ukiran trotoar yang tepat berada di bawahnya mengingakan ia akan sesuatu. Setiap ukiran akan selalu menyambung sampai ujung. Jika tak bersambung, maka ukiran tak akan jadi dan akan menjadikan ukiran menjadi berantakan. Ia tersenyum menatap ukiran tersebut. Ia menyeka air matanya kasar. Kembali bangkit dan meneruskan perjalanannya.

***Time Boils the Rain***

                Penghangat ruangan telah ia nyalakan setelah ia membersihkan diri. Air yang terlalu dingin memaksanya untuk membuat api guna menghangatkan tubuh. Ia lantas duduk di atas sofa. Memandang foto keluarga barunya yang ia letakkan di meja kecil di samping sofa. Ia meraih foto tersebut, mengusap perlahan menghilangkan embun dingin yang menghalangi wajah kebahagian mereka. Ia kembali tersenyum. Satu titik yang ia lihat, seorang malaikat tanpa sayap yang selalu menjadi tempat ia becerita dan bersenda gurau.

“Aku merindukan kalian.” Gumamnya pelan. Kemudian maniknya kembali bergerak mencari titik lain. Seorang namja tinggi pemilik senyum terlebar dan virusnya yang dapat membuat semua orang tersenyum karenanya. Ia kembali mengalihkan tatapan menuju ke titik yang sedari tadi ia tutupi dengan ibu jarinya. Seorang di paling samping dengan air muka bahagia. Tersenyum bersama keluarga baru dan merangkul namja tinggi pemilik mata panda yang tersenyum hingga matanya terlihat sipit.

My younger brother, do you miss me?” Pria itu mendesah lantas mengamati lagi seluruh anggota keluarga barunya dari yang paling tua hingga paling muda. Sekali lagi ia mendesah kemudian mengembalikan foto tersebut ke tempatnya semula. Tanpa butuh waktu yang lama, ia terlelap di depan perapian.

***Time Boils The Rain***

                Sang surya mengintip dari jendela rumah. Membuat si pemilik rumah harus membuka matanya. Namja itu merenggangkan tubuhnya dan berjalan dengan malas ke kamar mandi. Ia menatap kaca, melihat pantulan dirinya sendiri. Mata yang sembab, wajah yang lesu, serta tatapan sayu menjadi penghias wajah sosok tersebut akhir-akhir ini. Ia mendesah lantas membasuh wajahnya.

“Kau itu namja, bukan yeoja, Yifan!” Namja itu–Yifan, merutuk pada dirinya sendiri. Semenjak kejadian beberapa waktu lalu, ia sering menjadi lemah. Namun itu bukan typenya. Lantas Yifan mendesah dan mulai berkecipung dengan dunia air yang dingin, sedingin cuaca saat itu.

Hyung!” Sontak Yifan menoleh pada asal suara. Kosong. Tak ada apapun di sana. Yifan melangkah menuju kamarnya untuk mengambil pakaiannya. T-shirt hitam, celana jeans, dan blazer hitam dengan mode teranyar telah melekat di tubuh tingginya. Ia melengkapi penampilannya dengan accessories yang ia punya.

“Pinjam satu, Ge~” Suara rengekan seseorang yang amat Yifan sayangi menggetarkan gendang telinganya lagi. Yifan menghela nafas kasar lantas mengambil ponsel hitamnya dari atas nakas. Yifan membuka ponselnya, terdapat foto selca dirinya dan adik kesayangannya yang menjadi wallpaper. Yifan tersenyum tipis dan memasukkan ponsel tersebut ke kantong celana.

Kling~

Suara bel yang terkena pintu rumah Yifan berbunyi . Yifan mengecek siapa yang datang ke rumahnya di pagi ini.

Hyung?” Yifan menyisir setiap tempat di ruangannya. Mencari sosok yang memanggilnya ‘hyung’. Ia tak bergidik, malahan terus mencari sosok tersebut. Sampai di dalam ruang tengah ia menemukan sosok itu. Tubuhnya tinggi, rambutnya sedikit basah dan dicat menjadi warna pirang. Wajahnya tetap sama seperti yang Yifan lihat sebelum-sebelumnya. Hanya saja rambut yang lebih panjang dan tubuh lebih tinggi.

Hyung, aku merindukanmu.” Yifan menghampiri sosok itu. Mencoba memberikan pelukan hangat akan kerinduan yang membuncah. Namun sosok itu pergi ditiup angin hangat. Hilang dari pandangan Yifan. Yifan hanya menatap kepergian sosok itu dengan tatapan ‘jangan pergi!’ Namun Yifan tak dapat mengelak dari situasi. Ia lantas melanjutkan kegiatannya yang tertunda karena sosok mistis itu.

***Time Boils The Rain***

                “WE ARE ONE!” Teriakan itu memenuhi gendang telinga Yifan saat melewati sebuah gedung yang dipenuhi banyak remaja perempuan disertai dengan teriakan histerisnya. Yifan menatap gedung itu. Walapun insan-insan yang menyoraki slogan tersebut tak terlihat, namun Yifan dapat merasakan bahwa mereka ada di dalam dengan acaranya sendiri. Yifan lantas melanjutkan langkahnya menuju suatu cafe. Ingin menenangkan diri dengan menyeruput cappucino hangat di cuaca seperti ini.

EXO = WE ARE ONE!” Gumam Yifan memandang telapak tangannya. Tulisan rapih itu memenuhi telapak tangan Yifan. Yifan menggenggamnya erat. Ingin tetap memilikinya.

“Silakan menikmati.” Aroma cappucino pesanan Yifan membuatnya beralih ke cup cappucino itu. Perlahan ia mengambil cup tersebut dan meminumnya perlahan.

“Yifan?” Suara seseorang membuat Yifan berhenti meminum cappucinonya. Ia beralih menatap seseorang yang telah memanggilnya. Sedikit terkejut, Yifan hampir saja tersedak cappucinonya.

H-Hyung?” Yifan meletakkan cupnya dan sosok itu duduk di kursi seberang Yifan. Seketika cuaca yang tadinya dingin, berganti menjadi lebih dingin. Awan hitam kembali menggantung di langit. Sosok tersebut hanya tersenyum lantas memesan cappucino jua. Yifan mengamati sosok itu dari ujung rambut hingga setengah badannya.

H-hyung? Wae?” Tanya Yifan ada sosok yang dipanggil hyung itu. Namja tersebut membuka telapak tangan Yifan yang bertuliskan ‘EXO = WE ARE ONE!’. Yifan membulatkan matanya sempurna, sementara namja itu hanya tersenyum tipis.

“Kau merindukan mereka?” Tutur namja itu. Yifan membuang muka. Menutupi air mukanya yang sedikit berubah. Lantas menatap keadaan di luar jendela, awan menangis kembali. Yifan menahan emosional di hatinya. Ia menghela nafas panjang.

“Kau juga merindukanya, hyung?” Namja itu menutup telapak tangan Yifan dan meminum cappucinonya yang telah siap di santap. Yifan menilik namja itu dari ekor matanya. Terlihat jelas namja itu tetap polos dan bahagia. Yifan mendesah. Namja itu hanya terkekeh pada Yifan dan menyeruput cappucinonya kembali.

“Menurutmu?” Namja itu menyunggingkan senyum pada Yifan lantas bersender pada kursi. Yifan beralih menatap namja itu dan mengangguk pelan. Namja itu tersenyum cerah. Yifan pastikan bahwa namja dihadapannya tak pernah lelah untuk sekedar tersenyum. Sungguh ramah.

“Begitulah, Yifan. Kami menantikan kehadiranmu.” Seketika Yifan terbungkam. Dia tak dapat berpikir jernih kali ini. Pikirannya sedang tak stabil karena masalah ini. Bagaimana bila telah mengajukan gugat lalu mencabutnya kembali? Itu sedikit terdengar aneh bagi Yifan.

“Kami berjanji untuk tidak meninggalkan satu sama lain, harus selalu bersama-sama, walaupun kita harus berperang melawan waktu, walaupun seluruh dunia berubah punggungnya untuk kita.” Yifan tetap diam sementara namja dihadapannya mengalihkan pandangan ke luar jendela, menikmati suasan di luar jendela yang tengah hujan.

“Kau tahu, Yifan. Walaupun air hujan itu akan jatuh di atas tanah, namun air hujan tetap akan menjadi awan dan menjadi rintikan hujan kembali.” Namja itu menyeruput cappucinonya kembali.Yifan hanya memandangi cup cappucino miliknya enggan. Tak ingin meminumnya kembali.

Impossible hyung. Aku tak mungkin bisa kembali.” Tutur Yifan sepelan mungkin.

Nothing is impossible, ge.” Suara yang Yifan kenal dan rindukan terdengar jelas di telinganya. Yifan tetap memandang cup cappucinonya. Tak ingin menatap wajah orang yang paling ia rindukan.

We missing you, hyung.” Lagi. Yifan tetap tak bergeming. Ia menyentuh cupnya dan meminumnya hingga tetes terakhir sebelum dingin.

“Kami mengatakan bahwa kami akan usaha ke dunia bersama. Apakah kau masih ingat itu?” Tanpa perintah dari pikiran Yifan. Air di pelupuk matanya telah berkumpul. Menunggu jatuh dari sana dan membuktikan bahwa ia sangat merindukan mereka.

In that summer, we made an infinitely large wish, hyung.” Yifan menutup wajahnya. Tak ingin mereka mengetahui yang ia rasakan. Yifan tak dapat mengakui dirinya sendiri. Ia tahu semua itu. Tapi apa daya, hatinya tak mengizinkan untuk meluapkan semuanya.

You said that you would not part with me, and that we would be together forever, hyung.” Dalam diam Yifan terisak. Mendengar penuturan dari para member membuatnya tersentuh. Namun situasi tetap tak mengizinkan Yifan meluapkan semua pada para member.

Hyung, katakan sesuatu pada kami. Aku mohon.” Suara itu, benar-benar membuatnya bertambah sakit. Ia tak dapat membendung butiran mutiara dari mata indahnya. Ia kembali menangis, menangis bersama langit kelam.

Now I want to ask you. Was it just a kid’s babble?” Cukup bagi Yifan. Ia berdiri dan melangkah keluar dari cafe. Berjalan di dalam tangisan langit. Ia tak pedulikan ucapan dari para member. Yang ia inginkan adalah menenangkan diri sejenak lantas. . . memberitahukan yang sebenarnya terjadi. Para member hanya menatap kepergian Yifan bingung. Mereka tak menyangka jika Yifan akan seperti itu. Namun karena pedulinya pada Yifan, mereka berlari mengejar Yifan. Tak peduli butiran air yang bakal memberikan efek, mereka tetap mengikuti Yifan.

I did not have the heart to cheat you in our green days. Neither did I betray you at our young and stupid ages.” Gumam Yifan yang menyadari para member mengikutinya. Mereka semua terdiam. Mempersilakan hujan mengguyur mereka hingga basah kuyup.

Oh, the heavy rain, please do not erase the traces of our past. The heavy rain must not be able to erase the memory we left to each other.” Tutur Yifan seraya menatap langit. Para member tetap tak bergeming. Namun seulas senyuman haru menghiasi wajah mereka. Mereka menepuk bahu Yifan pelan dan memeluknya. Yifan tersenyum tipis namun tetap dihiasi dengan air mata.

But…” Yifan menahan tangisnya. Mencoba tetap stabil untuk berkata. Para member masih setia menunggu perkataan Yifan. Walaupun pikiran negatif masih mengitari mereka.

Please don’t forgetting my name. ‘Cause…” Yifan menggantungkan kalimatnya. Para member tetap setia menunggu tutur kata Yifan. Entah menyenangkan ataupun menusuk hati. Perlahan, cuaca kembali normal. Sinar sang surya menyinari mereka yang masih basah kuyup.

I miss you, guys.” Yifan mengusap air matanya menggunakan punggung tangan dengan kasar. Semua member merangkul bahu Yifan dan tersenyum bahagia. Hari yang kembali cerah juge membuat hati mereka cerah Yifan tak menyangka hal itu akan ia dapatkan kembali. Melangkah bersama dengan mereka.

Time boils the rain.” Batin Yifan. Kini, mereka kembali bersatu walaupun tak selalu bersama. Yifan percaya bahwa mereka akan bersama. Bersama di dalam hatinya. Hari yang cerah itu juga membuat kalimat WE ARE ONE kembali terang. Terang di dalam kebersamaan. Tak peduli mereka pergi kemana, karena mereka telah menjadi satu dalam hati.

 

—-THE END—-

 

 

Gimana reader’s? Agak aneh? Gak kerasa feelnya? Atau biasa aja?🙂 Aku butuh respon kalian ^^ Mohon dengan sangat ya ^^ Juga maaf bila ada typo ._.v *Bow

Oh iya, saya mengucapkan SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1435 H. Mohon maaf lahir dan batin ya ^^

Author: autumngirl2309

♥ Musim gugur ♥ anime ♥ manga| Tahun 99| Seorang pelajar yang senang berimajinasi, menulis, mendengarkan musik| ♡ EXO ♡ BTS ♡ SJ ♡ K.WIll ♡ MARGINAL#4 ♡ Aoi Shouta

3 thoughts on “[Oneshoot] Time Boils The Rain

  1. Asli aku kerasa feel nyaaaa… krisseu ayo balik ke exo, member exo lainnya semoga ngarepin dia balikkk.. bagus ff nya, semangattt ;D

  2. yah nangis lagi kan,pake puter ini lagu juga bacanya
    apapun yang terjadi,semoga yang terbaiklah,amin

Here We Need Responsibilities. Thanks!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s