EXO Fanfiction Dorm

EXO as the Main Cast

Just One Other Day [Part 2/2 – Final]

16 Comments

 

downloadfile

 

 

Tittle : Just One Other Day

 

Author : eezeeba ( @msgeil )

 

Length : Two Shoot (Part 2 – Final)

 

Genre : Romance, Angst

 

Rating : PG-15

 

Casts : Kim Jongin (Kai), Jung Soojung (Krystal F(x)), Oh Sehun dan lain-lain

 

Disclaimer : this fanfic originally written by eezeeba, no plagiarism in every diction and sentence. Happy reading! ^^

Kai POV

Leipzig sedang mendung hari ini, begitu pula aku disibukkan dengan sejumlah laporan praktikum dan mempersiapkan responsi lusa. Satu setengah tahun aku tinggal disini, menjadi mahasiswa kedokteran dari Asia satu-satunya di kampusku.

Kuseruput kopi yang masih mengepul itu dari cangkirnya, menatap langit yang tampak begitu muram. Beberapa minggu lagi aku akan memulai libur semesterku, tetapi kuputuskan untuk tidak kembali ke Korea. Kenyataannya adalah aku tak lagi tahu apa yang terjadi di Seoul, bagaimana kabar teman-teman lamaku, apalagi merindukan kota itu, samasekali tidak. Aku mencoba melupakan semuanya tentang Seoul. Bukan perkara Soojung saja, tapi semuanya.

Aku tak lagi bergabung dengan grup alumni atau berkomunikasi dengan teman-temanku di Seoul. Aku berusaha menghilang dari masa laluku. Aku sungguh hanya ingin melupakan kenangan buruk itu. Aku ingin menjadi Kai yang baru. Kenangan tentang Soojung memang menyakitkan, pun dengan masih berhubungan dengan orang-orang dari masalaluku akan mengingatkanku padanya. Aku pernah menjadi orang paling bahagia di dunia saat memilikinya, dan disini keadaan berbalik seratus delapan puluh derajat. Aku sendirian, di kota yang hingga setahun lebih kutinggali pun masih terasa asing. Tak ada gadis disini yang mampu membuatku melupakan seorang Jung Soojung. Entahlah bagaimana kabarnya sekarang, aku tak mau tahu.

Aku ingin menghapus ingatanku tentang gadis itu. 

***

Soojung POV

Hari ini dokter memberitahu kami bahwa tindakan kemoterapi tidak bisa dilanjutkan padaku. Setelah 3 kali menjalani kemo dokter menyatakan bahwa ada kelainan pada darahku yang membuat obat itu tidak mampu menghambat pertumbuhan sel kankerku, malah membuat darahku sulit membeku yang dikhawatirkan dapat memicu pendarahan kedepannya.

Aku hanya tersenyum mendengarnya, sedangkan eomma langsung menangis, memeluk appa yang ada di sebelahnya. Dokter juga mengatakan bahwa aku hanya bisa bergantung pada obat yang kuminum dan pertolongan inhaler. Tiga atau empat tahun, setidaknya itu lah waktu yang Tuhan sediakan untukku bertahan hidup, ini juga kata dokter.

Enam bulan sejak aku terjatuh di kelas. Setengah tahun sejak aku tahu ternyata tubuhku tak sewaras kelihatannya. Empat bulan pertama kujalani dengan melawan radang selaput otak yang membuatku ingin mati setiap detiknya. Bulan berikutnya aku harus menerima kenyataan bahwa sel-sel kanker sialan itu tumbuh bak dipupuk di paru-paru dan hati – liverku. Bulan-bulan itu kulewati dengan airmata, keputusasaan dan rasa takut. Setiap detiknya aku ingin menyerah. Sakit ini sungguh terasa sakit. Belum lagi kenyataan bahwa aku sekarat. Aku akan tetap sekarat. Dan aku memang sekarat.

Dan sekarat berarti menanti maut.

Namun cukup maut kusambut dengan airmata. Aku kini menerima apapun yang memang sudah digariskan olehNya. Ya kalau Tuhan memang ada. Aku tidak lagi merasa takut. Atau putus asa. Atau ingin menyerah. Aku tahu aku akan mati, bagaimanapun manusia pada akhirnya pasti mati, yang membedakanku sekarang adalah kematianku sudah diramalkan, dan seolah penyebab kematianku sudah jelas. Pembunuhku sudah jelas.

Aku lelah menangis. Aku lelah melihat orang-orang di sekitarku tak henti-hentinya menangisi keadaan. Oleh karena itu sekarang aku hanya ingin lebih banyak tersenyum. Aku hanya ingin hidup, live my life while I can and make the most out of it. Lagipula kupikir vonis kanker yang kudapat ini membawa beberapa perbaikan dalam hidupku, orangtuaku kembali akur bahkan lebih mesra daripada sebelumnya sebagai contoh.

And I know I’m so lucky. I have the nicest and so fluffy-teddybear-like man on earth, Oh Sehun. Ia tidak menjauh saat ia tahu keadaanku. Sebaliknya lelaki itu selalu datang menemuiku, sekedar menemani, mengobrol atau bercanda sampai suster harus mengingatkan kami untuk tidak terlalu gaduh. I don’t know, I know I should tell him to let me go, to leave me, and I did. I told him to just stay away, but he doesn’t even move for an inch. He stays. He says he loves me and he stays.

Ia mengatakan hal itu beberapa bulan lalu, saat aku koma dari radang selaput otakku. Namun aku masih bisa mendengarnya ketika ia membisikkan kata-kata itu di telingaku. Mataku memang terpejam, tapi aku tidak tuli. Aku ingin bangun dan menjawabnya, tetapi ragaku tak mengijinkan. Namun ya, aku mendengarnya. Di sela semua isakannya aku bisa mendengar dengan jelas ia mengatakan, “don’t go, Jung Soojung. I love you. Please, stay.”

Aku kembali ke kamar perawatanku setelah sesi presentasi dokter berakhir. Appa langsung kembali ke kantor karena ada urusan dengan klien yang tak bisa ia tinggalkan, sedangkan eomma menemaniku seperti biasa. Menghabiskan waktu dengan sekedar menonton televisi di kamarku. Jam di dinding baru menunjukkan pukul 2 siang. Teman-temanku – Jiyeon, Jinri dan Suzy selalu berkunjung, hampir setiap hari. Kadang bertiga, kadang mereka menjengukku bergantian. Sejujurnya bagian ini jugalah yang membuatku tak henti-hentinya bersyukur. Aku punya sahabat yang bisa kuandalkan sekalipun hidupku sedang suram-suramnya.

Pintu berderit saat kulihat Sehun membukanya, tersenyum dengan kotak berwarna cokelat di tangannya. Ia menutup pintu, baru kemudian membungkukkan badan untuk menyapa eomma. Eomma tersenyum, mempersilakannya masuk, dan seperti biasa namja itu sudah duduk di samping ranjangku.

“Hai, apa kabar?” tanyanya, aku tertawa geli.

“Ya, baru tadi pagi kau menanyakan kabarku, sekarang kau sudah bertanya lagi?” balasku. Kali ini ia yang tertawa.

Melihat kami berduaan, eomma kemudian bangkit, tersenyum jahil ke arahku saat mengatakan, “eomma keluar untuk makan siang dulu. Sehun-ssi, tolong jaga Soojung ya.”

Sehun mengangguk, tetap tersenyum saat eomma dengan sengaja mengedipkan sebelah matanya kepadaku. Aigoo…

“Semuanya baik-baik saja?” Sehun bertanya lagi sambil membuka kotak yang ia bawa tadi. Aku langsung membulatkan mata ketika tahu ia membawakan cupcakes kesukaanku.

“YA! AISH GOMAWO OH SEHUN NAN JEONGMAL SARANGHAE,” kataku bersemangat saat ia mengambil satu cupcake dari kotak itu, kemudian ia menyodorkannya ke mulutku, menyuapiku dengan sabar seperti biasanya.

“Sehunnie, sebenarnya aku bisa makan sendiri,” selaku saat ia kembali menyodorkan potongan cupcake lain. Ia menggeleng.

“Aku tahu, tapi aku ingin menyuapimu, Jung Soojung,” katanya sambil membersihkan whipped cream yang tersisa di sudut-sudut bibirku.

Aku tersenyum. Menatap matanya yang teduh itu dalam-dalam. Ya Tuhan, terimakasih sudah mengirimkan malaikat setampan itu untuk menemaniku sebelum aku mati, kataku dalam hati.

“Ya, Oh Sehun,” panggilku. Ia menatapku, mengelus pipiku lembut sebelum menjawab, “wae?”

“Dokter tadi mengatakan sesuatu,” kataku. Sehun menghela napas, tersenyum.

“Apa yang mereka katakan?”

“Aku tidak bisa melanjutkan kemoterapi. Obat-obat itu tidak bisa menghentikan pertumbuhan sel kankerku. Malah aku mengalami masalah pembekuan darah sebagai efek samping dari kemoterapi. Aku tidak akan pernah sembuh, Oh Sehun. Hanya tiga atau empat tahun, itu kata dokter.”

Sehun terdiam. Matanya yang tadi bersinar sekarang redup. Ia terlihat berpikir. Menunduk, kemudian mendongakkan kepalanya lagi. Matanya sudah memerah, cairan bening itu siap merangsak keluar.

“Jangan menangis…” kataku lirih. Ia menggelengkan kepalanya, tersenyum, meraih tanganku kemudian mengenggamnya. Tangannya yang lain mengelus rambutku, ia menggigit bibir bawahnya, sepertinya menahan diri untuk tidak menangis.

“Aku tidak pernah ingin kehilanganmu, Jung Soojung,” nadanya begitu lembut dan tenang, sedikit bergetar entah karena apa, “tapi jika suatu saat kau pergi, aku tahu aku hanya bisa merelakanmu. Losing you, it’ll hurt like hell, but you prove us that human can live with pain. Manusia bisa hidup dengan rasa sakit, Jung Soojung, dan aku akan hidup demikian setelah kau pergi.”

You don’t deserve any kind of pain, Oh Sehun,” sergahku. Ia kembali menggelengkan kepalanya.

You worth the pain, Jung Soojung. Di dunia ini akan selalu ada yang menyakiti kita, kita tidak bisa menghindari itu, tetapi setidaknya kita bisa memilih siapa yang bisa menyakiti kita. And I choose you. And I’m happy with my choice, I don’t regret it. Kau tidak akan bisa membuatku menjauh. Aku memilih untuk kausakiti, Jung Soojung. Kalau kau  harus pergi, aku akan tetap disini, mengenangmu, suatu saat pun aku akan menyusulmu. I have no regret Soojung-ah, I love you.”

Kali ini aku yang menggigit bibirku, tetapi airmata tetap tumpah dari kedua mataku. Sehun memelukku, aku tahu ia pun menangis karena leherku basah terkena airmatanya. Kueratkan pelukanku. Sehun kemudian melepasku, menatapku dengan matanya yang sembab, sedetik kemudian ia menciumku.

Lembut. Begitu lembut. Aku terpejam. Membiarkan dadaku membuncah akibat kebahagiaan yang kurasakan karenanya.

***

And that’s how I live. Aku sekarang tidak harus tinggal di rumah sakit. Kuhabiskan sebagian besar waktuku di rumah, merawat bunga-bunga yang kutanam di taman. Satu setengah tahun sudah aku akhirnya hidup dengan obat-obatan yang harus kuminum 8 kali sehari. Namun sekali lagi, aku tidak mengeluh. Aku bagaimanapun bahagia. Setidaknya itu yang ingin kurasakan. Aku tidak ingin mati menyedihkan.

Sehun, Jiyeon dan Suzy baru saja pulang saat aku memutuskan untuk merapikan kamarku. Tidak ada yang tahu kapan aku akan mati, bukan? Bisa kapan saja, dan setidaknya aku tidak ingin meninggalkan sisi memalukan dari diriku saat aku pergi. Kubereskan benda-benda yang berserakan di lantai dan meja belajarku. Kutata ulang lemari pakaian dan boneka-boneka yang tadinya tersebar di seluruh penjuru kamarku. Saat itulah aku menemukan kotak yang bertahun-tahun lalu kubiarkan berdebu di bawah meja komputerku. Kotak yang didalamnya berisi kenangan-kenanganku dengan Kai.

Untuk beberapa saat aku berdebat dengan pikiranku sendiri, sebagian dariku ingin langsung membuangnya. Sebagian yang lain ingin aku membukanya. Setelah menimang-nimang akhirnya kubuka lagi kotak itu. Di dalamnya ada foto-foto lamaku dengan Kai, juga surat-surat yang pernah ia tulis saat ulangtahunku. Kuambil benda-benda itu, melihatnya lagi satu per satu, kubaca juga surat-surat yang pernah ia berikan dulu.

Aku tak bisa menahan keinginanku untuk menangis.

Do I miss him this bad? God, do I miss him?

Entah mengapa ada perasaan aneh yang serta merta menyergapku. Selama ini aku tak pernah lagi memikirkannya. Aku bahagia dengan Sehun dan tidak pernah ada lagi pikiran tentang Kim Kai, pun perasaanku padanya kupikir telah mati. Namun mengapa tiba-tiba aku merasa begitu merindukannya?

Surat dan foto-foto menunjukkan betapa bahagianya kami dulu. Bagaimana aku pernah begitu mencintainya, begitu pula sebaliknya. Dan tiba-tiba kesadaran itu datang begitu saja. Aku teringat bagaimana Kai selalu berusaha menyenangkanku dengan membawaku ke tempat-tempat yang indah. Aku ingat bagaimana Kai selalu menjemput dan mengantarkanku kemana saja karena aku tak bisa mengemudi dulu. Kai selalu mengantarkan makanan-makanan yang kusukai saat aku sakit. Kai menemaniku melakukan hal-hal yang pasti membosankannya seperti belanja atau ke salon. Kai membelikanku hadiah-hadiah yang selalu ada fungsinya untukku, seperti jam tangan, tas atau sepasang sepatu, ia selalu mengatakan agar apa yang ia belikan dapat kumanfaatkan dan ada artinya. Dan untuk semua itu, aku tak pernah sekalipun mengucapkan terimakasih padanya. Ya Tuhan, aku belum sempat berterimakasih padanya untuk semua itu.

Aku selalu melampiaskan emosiku padanya, ketika aku marah karena hal lain pun Kai selalu menjadi sasarannya. Aku selalu menyalahkannya. Aku tak pernah mau mengalah. Aku selalu protes dengan cara yang tidak sopan saat aku cemburu karena teman-temannya. Aku mencaci mereka, bahkan mencaci Kai karena ia membuatku cemburu. Aku sering mendiamkannya di jalan saat ia sedang menyetir, padahal aku tahu ia pun pasti lelah, ia berniat menyenangkan aku tapi aku malah bersikap menyebalkan. Aku selalu marah dan menangis di tempat-tempat yang tidak tepat. Aku selalu melarangnya melakukan ini-itu karena aku tidak percaya padanya. Aku secara tidak langsung mengekangnya. Dan sekali saja aku tak pernah meminta maaf padanya. Aku belum sempat minta maaf untuk semua kesalahanku dahulu.

Dorongan aneh itu sepertinya sangat kuat sampai tanpa pikir panjang kuambil handphone di sakuku, mencari kontak Jiyeon di recent logs lalu menekannya.

“Yeoboseyo. Jiyeon-ah, aku ingin ke Jerman. Aku harus ke Jerman.”

***

Author POV

Have you gone crazy, Jung Soojung?” itulah pertanyaan yang dilemparkan oleh Jiyeon, Jinri dan Suzy saat akhirnya Soojung mengutarakan keinginannya di depan ketiga sahabatnya itu.

“Wae? Itu tidak dilarang, bukan?” Soojung berusaha membela diri. Jiyeon menatapnya sungguh-sungguh.

“Kami mengerti kau ingin bertemu dengan Kai, Soojung-ah. Namun satu-satunya informasi yang kita tahu hanya bahwa ia kuliah di Leipzig. Kita tidak tahu alamat rumahnya disana. Apa kita hanya akan ke kampusnya dan menunggu keajaiban Kai tiba-tiba muncul di hadapan kita? Belum lagi apa kau pikir dokter akan membiarkanmu pergi? Jerman tidak dekat, Jung Soojung.”

“Iya, kita akan ke kampusnya, bilang pada siapapun disana untuk mencarikan Kim Kai karena ada perempuan sekarat yang nekat pergi kesana untuk menemuinya. Soal dokter aku yakin kau bisa mengatasinya, Jiyeon-ah, jebal….” Soojung benar-benar terdengar memohon kali ini.

Ketiganya saling berpandangan, menghela napas.

“Sebenarnya kenapa tiba-tiba kau ingin menemuinya, Soojung-ah? Bagaimana kalau Sehun tahu?” kali ini Jinri yang bertanya.

“Sehun tidak boleh tahu, Jinri-ya. Aku hanya ingin bertemu dengan Kai, mengatakan padanya semua yang ingin kukatakan. Bagaimanapun ia dulu pernah menjadi alasanku bahagia. Aku hanya ingin menemuinya sekali lagi…aku hanya ingin dapat mengatakan semuanya, jebal…”

Jiyeon mengangguk. Jinri hanya menggelengkan-gelengkan kepalanya.

“Kami akan berusaha, Soojung-ah, akan kami carikan informasi tentang Kai juga, tapi bukan berarti kami menjamin kau bisa kesana,” kata Suzy pada akhirnya.

Soojung mengucapkan terimakasih lewat tatapan matanya, sedangkan ketiga sahabatnya masing-masing sibuk dengan pikirannya, terlihat gelisah.

Sebulan kemudian, setelah Jiyeon berdebat habis-habisan dengan dokter yang awalnya melarang keras perginya Soojung ke Jerman, akhirnya Soojung diperbolehkan berangkat kesana. Jinri pun telah mengantongi informasi tambahan mengenai keberadaan Kai. Setelah berbohong dan meyakinkan Sehun bahwa mereka hanya berlibur sebentar sesuai rekomendasi dokter, pagi itu Soojung kembali memeriksa barang-barang bawaannya, memastikan tidak ada yang yang terlewat atau tertinggal, khususnya obat-obatnya yang kini meningkat menjadi 14 macam jenis.

Setelah semuanya beres, Soojung segera menginstruksikan supirnya untuk membawa koper itu ke dalam mobil. Jiyeon dan Jinri pun sudah menunggu di ruang tamu, menepati janji mereka untuk menemani Soojung. Hari itu cerah. Matahari tak malu-malu menampakkan sinarnya. Soojung menghirup udara pagi itu dalam-dalam, tersenyum, kemudian memandang kedua sahabatnya.

Ya, it’s really a beautiful morning. A good day to go to Germany, huh?”

“Berhentilah membual, Jung Soojung, kami harus memastikan kau pulang dengan masih bernapas,” sahut Jinri jengkel. Jiyeon tertawa pelan sedangkan Soojung sudah bersungut-sungut mendengar jawaban itu.

Di mobil pun Jiyeon sibuk mengurusi keperluan check-in dan tiket pesawat mereka, Jinri lagi-lagi menelepon kesana kemari untuk memastikan hotel dan transportasi mereka untuk ke dan selama di Leipzig, sedangkan Soojung hanya menatap ke luar jendela. Memikirkan entah apa sambil melihat daun yang bersemi di sepanjang jalan.

Empat puluh menit kemudian sampai juga mereka di Bandara Incheon. Seperti biasa, bandara itu tampak begitu padat, memberi kesan hectic bahkan di hari secerah itu. Jinri dan Jiyeon membantu supir mereka menurunkan barang-barang bawaan, sedangkan Soojung sekali lagi mengaduk-aduk isi tasnya, memastikan tidak ada obat yang tertinggal. Ketiganya akhirnya melangkah ke dalam bandara, segera menuju boarding room setelah menyelesaikan masalah administrasi.

Soojung berkali-kali menghela napas. Dadanya terasa sesak. Untuk menghindari kekhawatiran Jinri dan Jiyeon akhirnya Soojung beranjak ke toilet. Diambilnya inhaler dan beberapa obat sambil menutup pintu kamar kecil. Soojung memaksa paru-parunya untuk bekerja, sekuat tenaga menghirup oksigen dari inhaler yang dibawanya. Namun tanpa disangka-sangka keluar darah dari hidungnya. Soojung hanya bisa menatap darah yang mengalir itu dengan pandangan nanar. Soojung menangis. Berbagai pikiran muncul dan mendesaki kepalanya, membuatnya limbung dan terjatuh. Pada saat itu juga Jiyeon dan Jinri yang mencarinya masuk ke dalam ladies room. Mereka spontan mengenali Soojung yang terduduk di lantai toilet dengan pintu yang sedikit terbuka. Jiyeon membuka pintu itu dengan tergesa, mengangkat kepala Soojung dan ia rebahkan di lengannya, berteriak panik melihat darah yang mengucur deras dari hidung Soojung. Jinri segera menghubungi ambulans, pemandangan itu membuat beberapa penumpang lain berkumpul, beberapa orang pun segera membantu dengan mengangkat tubuh Soojung untuk dibaringkan di kursi tunggu penumpang hingga ambulans tiba.

Soojung segera dilarikan ke ICU ketika ambulans tiba di rumah sakit. Jiyeon dan Jinri masih berusaha menghubungi orangtua Soojung dan Sehun. Tubuh keduanya bergetar karena takut dan panik. Beberapa saat kemudian Sehun tampak berlari ke arah mereka. Menanyakan apa yang terjadi dan kemudian terduduk lemas. Jiyeon menepuk-nepuk pundak Sehun, mencoba menenangkannya meskipun dirinya sendiri tak bisa menahan rasa takut itu.

***

Soojung POV

Hal yang terakhir kulihat adalah Jiyeon berlari ke arahku. Dan sekarang disinilah aku, di sebuah taman dengan beraneka bunga bermekaran, air mancurnya pun berwarna keemasan, entah mataku melihatnya dengan benar atau tidak. Seorang lelaki tampan berjalan ke arahku, ia terlihat begitu menawan, terus saja tersenyum meskipun kuperhatikan ia dengan tatapan bingung.

“Annyeonghaseyo, Jung Soojung-ssi,” sapanya ramah. Aku terkesiap.

“Kau…kau pasti reaper, kan?” tanyaku bodoh. Ia tertawa. Aish, bahkan tawanya terdengar begitu merdu dan renyah.

“Terserah kau ingin menyebutku apa, Soojung-ssi, aku disini untuk membawamu pergi.”

“Pergi dari sini? Kemana? Ke neraka?” lagi-lagi aku bertanya bodoh. Lelaki itu tersenyum memandangku.

“Aku tidak bisa memberitahumu, kau akan tahu setibanya disana,” jawabnya ramah, “tapi Jung Soojung-ssi, Tuhan mengatakan  bahwa sebelum kau pergi, kau boleh meminta satu hal dariku.”

“Jadi Tuhan itu ada?” kali ini bahkan diriku sendiri mengakui bahwa pertanyaan ini terdengar sangat bodoh.

“Ya, Tuhan itu ada, Soojung-ssi,” jawabnya sabar, “kau orang baik. Kau berusaha membuat orang di sekitarmu tidak sedih. Kau tetap tersenyum dengan cobaan yang Tuhan berikan untukmu. Itulah kenapa Tuhan ingin memberimu hadiah.”

Aku mengangkat sebelah alisku, “aku melakukan itu semua bukan untuk Tuhan, aku hanya ingin menghabiskan waktu dengan kebahagiaan bersama orangtuaku dan Sehun.”

“Bagaimanapun, kau boleh meminta satu hal dariku, Soojung-ssi,” katanya mengingatkan. Aku terdiam sejenak, mengingat hal yang terakhir ingin kulakukan adalah menemui Kai.

“Aku ingin bertemu dengan Kai, sehari saja,” jawabku akhirnya.

“Aku bisa memberimu satu hari untuk bertemu dengannya. Kaupilih sendiri hari apa yang ingin kau ulang, Jung Soojung-ssi.”

Aku berpikir sejenak, mengingat lagi hari-hari yang kami lewati bersama. Saat-saat bahagia yang kami lewati bersama. Namun kemudian aku sadar, bukan hari-hari bahagia itu yang ingin kuulang. Aku ingin memperbaiki satu hari buruk kami. Aku ingin meminta maaf padanya ketika aku salah. Aku ingin menarik kata-kataku yang menyakitinya. Aku ingin berterimakasih padanya.

“Bisakah kau kembalikan aku pada hari dimana ia kecelakaan dan aku kabur ke Busan?” pintaku.

Lelaki itu tersenyum, mengangguk.

“Pergunakan kesempatan ini dengan baik, Jung Soojung-ssi.”

***

Aku terbangun di kamarku. Dan yang aku maksud adalah benar-benar kamarku, kamar pribadiku di rumah, bukan di rumah sakit. Aku menyibakkan selimutku, mencari-cari handphone yang entah dimana keberadaannya. Ah, even my body feels so light, aku hampir lupa rasanya memiliki tubuh yang sehat, really such a nice gift from You, God. Ketemu. Aku segera membukanya, terbelalak melihat tanggal yang tertera di lock screenku.

April 13th, 2012.

Aku membelalakkan mata, sedetik kemudian melompat-lompat di lantai kamar sambil memeluk boneka harimau warna putih pemberian Kai. Masa bodoh setelah ini aku mati atau apa, aku bahagia bisa kembali ke masa ini. THIS IS REAL! Teriakku dalam hati. Sekali lagi kuperiksa layar handphoneku, jam digital menunjukkan pukul 07.11. Aku buru-buru menekan recent logs, mencari nama Kai kemudian mencoba menghubunginya.

“Yeoboseyo, ada apa, Jagi?” sapanya di seberang. Dari suaranya aku bisa menebak bahwa ia belum benar-benar terjaga.

“Jagi?” aku membeo. Aku tersenyum malu sekarang. Kugunakan tanganku untuk menutupi wajahku yang tersipu. Aish, jangan bodoh Jung Soojung, waktu itu kalian belum putus, tentu saja ia memanggilmu ‘sayang’.

“Hmm? Kau ini kenapa?” tanya Kai bingung.

“Ani, ani, lupakan yang tadi. Kai-ya, ayo main, eoh? Aku ingin jalan-jalan denganmu hari ini,” bujukku.

What’s wrong with you, Jung Soojung? Tidak biasanya kau mengajakku jalan seperti ini,” kali ini nadanya benar-benar terdengar bingung, aku hanya tertawa pelan dalam hati, “tapi baiklah. Aku jemput jam 10 ya, aku masih ngantuk.”

Aku tersenyum puas, setelah mengucapkan terimakasih aku segera mematikan panggilanku. Dengan bersemangat kubuka lemari pakaianku. Memilih baju apa yang harus kukenakan hari ini.

Ada beberapa hal yang ingin kuubah hari ini. Aku tidak ingin ia kecelakaan. Aku juga tidak akan pergi ke Busan. Waktu yang diberikan untukku bahkan tidak genap 24 jam, tapi bagaimanapun, aku hanya ingin memperbaiki hari ini. Sebisaku.

***

Kai POV

Mobilku kuparkirkan tepat di depan pintu masuk rumahnya. Sebelum aku turun dari mobil Soojung sudah berlari ke arahku, membuka pintu kemudian duduk di sebelahku. Hari ini ia tampak luar biasa cantik. Aku tahu Soojungku selalu cantik, tapi hari ini ada yang membuatnya berbeda. Ada yang membuatnya tampak bersinar. Tanpa sadar aku tersenyum sambil melihatnya mengalungkan sabuk pengaman.

“Ya, kau kenapa?” tanyanya bingung saat mendapatiku menatapnya. Aku menggelengkan kepalaku, tetap tersenyum. Soojung mendecakkan lidahnya.

“Orang aneh,” katanya pelan.

“Yaaa mworago?!” aku segera menggelitiki tubuhnya, membuatnya tertawa sekaligus memukul-mukul tubuhku dengan ganas. Aku terkekeh, berhenti setelah ia mengancam akan berteriak sekuat tenaga.

“Kau ingin mati, eoh?” tanyanya bersungut-sungut. Aku menggeleng, kemudian dengan cepat kucium pipi kirinya. Membuat matanya terbelalak sempurna.

“YA KIM KAI!” ia berteriak. Aku hanya menjulurkan lidahku, kemudian menghidupkan lagi mesin mobilku.

Cup!

Kali ini Soojung yang menciumku. Aku terkesiap. Kupandangi wajahnya yang sedang tersenyum ke arahku, “nan neol saranghae, Kai-ya,” katanya.

“YA! KAU SIAPA, HAH? KELUAR DARI TUBUH YEOJACHINGUKU!” candaku sambil berpura-pura menjauhkan tubuh kami. Ia memukul lenganku, mengerucutkan bibirnya.

“Soojung-ah, kau sedang dirasuki makhluk apa hingga bisa menjadi semanis ini, eoh?” tanyaku, setengah bercanda setengah serius. Ia hanya mencubit lenganku.

“AYO JALAN!” jawabnya gusar. Aku lagi-lagi tertawa kecil.

Hari mulai beranjak siang ketika kami akhirnya memutuskan untuk menghabiskan waktu di sebuah taman hiburan. Soojung terlihat begitu semangat sampai-sampai ia sudah mendahuluiku untuk mengantri di loket. Berkali-kali kulihat ia menyunggingkan senyum, menggandengku, juga menarik-narik lenganku ketika memaksa untuk naik wahana ekstrim seperti Viking dan roller coaster. Dua tahun aku berpacaran dengannya, baru sekali ini kulihat ia begitu lepas dan bahagia. Pun ia lebih ‘agresif’ daripada biasanya. Hari ini Soojung benar-benar manis dan manja.

Setelah puas berjalan-jalan dan menaiki beberapa wahana permainan, kami mengisi perut di sebuah restoran kecil yang masih berada di dalam taman hiburan itu. Soojung kini sudah membawa boneka Minnie Mouse yang tadi kami dapatkan dari permainan konyol disana. Ia terlihat begitu puas dan bahagia, senyumnya merekah, matanya terlihat begitu hidup dan teduh. Aku benar-benar tak bisa mengalihkan pandanganku darinya.

“Kenapa kau menatapku seperti itu?” tanyanya ketika mendapatiku menopang dagu hanya untuk menatap wajahnya.

“Kau cantik sekali,” kataku tulus. Ia tersipu.

“Kau ini kenapa? Aneh sekali,” sahutnya kemudian. Aku mengerutkan kening.

“Ya, kau yang aneh. Hari ini kau terlihat seperti anak berusia 9 tahun yang diajak ayahnya ke taman hiburan. Wae Soojung-ah? Apa yang membuatmu sesenang itu hari ini?”

“Aku hanya senang bisa bersamamu,” jawabnya pelan. Ia terlihat menjawab dengan sungguh-sungguh, membuatku kelabakan akibat rasa bahagia yang membuncah di dadaku.

“Soojungie, aku senang jika kau bahagia seperti ini,” kataku sambil mengelus pipinya. Ia lagi-lagi hanya tersenyum.

Untuk beberapa saat Soojung terdiam, terlihat memikirkan sesuatu. Aku pun tak mengangkat suara, hanya mengamati wajah cantiknya yang terlihat serius.

“Kai-ya,” panggilnya lirih.

“Eoh?”

“Kau kemarin jalan dengan Dasom dan Jinri, kan?”

Eh? Bagaimana Soojung tahu akan hal ini? Pasti Jinri, kataku dalam hati. Dengan hati-hati kuperhatikan ekspresinya, biasanya jika sudah menyangkut urusan yeoja lain, apalagi Dasom, ia akan merengek habis-habisan. Namun kali ini air mukanya terlihat tenang dan lembut. Aku menelan ludah.

“Ah, ne…tapi itu karena Dasom memintaku untuk membantunya meminta izin ke museum untuk kepentingan penelitiannya, bukan apa-apa, Soojung-ah.”

“Ara…” sahutnya tenang, “tapi aku tidak suka, Kai-ya.”

Aku memperhatikan wajahnya sekali lagi. Ia hanya tersenyum, tidak membentak, mencaci atau merengek seperti biasanya. Ia terlihat begitu dewasa. I can’t lie, she looks like a Goddess just now.

“Coba dibalik, bagaimana perasaanmu jika aku jalan dengan Minhyuk? Dasom jelas-jelas punya perasaan lebih terhadapmu, Kai-ya. Membiarkannya selalu dekat denganmu sama saja memelihara harapannya untuk bisa bersamamu. Kau sudah punya aku. Tidak maukah kau menjaga perasaanku? Aku sudah menjaga perasaanmu kan selama ini?”

Aku mengangguk. Biasanya aku akan selalu membantah jika kami membahas masalah ini. Namun kali ini aku kehilangan kata-kata. Aku merasa seperti anak kecil yang baru saja ditegur ibunya karena melakukan kesalahan.

Mianhae,” kataku, “aku akan menjaga jarak dengannya. Maafkan aku, Soojung-ah.”

“Tidak usah minta maaf, Kai-ya. Gwaenchana, asal kau benar-benar tidak akan mengulanginya,” jawabnya lembut.

Makanan pesanan kami akhirnya tiba juga. Soojung tetap melontarkan candaan-candaan dan kata-kata manis selama kami makan. Tak bisa kutahan untuk tidak tersenyum atau tertawa. Sesekali kuhapus bekas makanan yang kadang membekas di sudut bibirnya karena ia keasyikan berkelakar. Soojungku ceria sekali hari ini.

Waktu menunjukkan pukul 4 sore ketika kami beranjak meninggalkan restoran itu. Soojung tadi sudah membujukku agar membawanya ke Sungai Han. Kubukakan pintu mobil untuknya, kemudian segera menghidupkan mesin mobil. Soojung masih tampak bersemangat saat mobil kami melaju menuju Sungai Han.

Menjelang senja sungai Han dipenuhi pasangan yang berjalan-jalan santai atau sekedar duduk berdua sambil membicarakan apa saja. Aku dan Soojung memilih duduk sambil menatap aliran air di hadapan kami. Membiarkan angin menerpa wajah atau sesekali menerbangkan rambut Soojung yang terurai. Aku mencuri pandang ke arahnya, memandangnya saat ia menyibakkan rambutnya. Cantik sekali.

“Kai-ya…” panggilnya kemudian, aku menoleh, ia pun sudah menatapku sekarang.

“Aku tidak ingin kau pergi kemana-mana,” katanya.

“Apa yang kaubicarakan?” tanyaku tak mengerti.

“Apa kau berniat pergi jauh, Kai-ya?” tanyanya. Aku semakin tak mengerti. Ah, chamkaman, apa ia tahu soal niatku mendaftar di Leipzig Universiteit? Tapi aku bahkan belum memberitahunya. Pun aku sebenarnya tidak terlalu berminat untuk kuliah di Jerman.

“Wae? Tentu tidak. Kenapa kau bertanya seperti itu?”

“Gajima…” ia berkata lirih, “jangan pergi Kai-ya. Aku ingin selalu bersamamu disini.”

Perlu waktu beberapa saat untukku mencerna kata-katanya. Kurebahkan kepalanya di bahuku, mengusap-usap rambutnya. Membiarkan kebisuan menjadi penengah kami.

“Soojung-ah,” ia menoleh, menatapku, “kalau aku tidak diterima di Seoul University bagaimana?”

“Kau bisa mencoba lagi. Kau bisa mengambil jalur mandiri atau apalah. Mungkin memang lebih sulit, tetapi kau pasti bisa melakukannya, Kai-ya,” jawabnya, meskipun terdengar begitu merajuk. Aku tersenyum, hanya menganggukkan kepalaku.

Tiba-tiba Soojung memelukku. Ia lingkarkan lengannya dengan erat di tubuhku. Tanpa pikir panjang segera kubalas pelukannya itu. Membiarkan kepalanya bersandar di dadaku. Kucium puncak kepalanya, kemudian menaruh daguku disana. Kueratkan pelukan kami sambil menghirup wangi tubuhnya dalam-dalam.

Aku sangat mencintaimu, Soojung-ah, kataku dalam hati.

***

Soojung POV

Ia mempererat pelukan kami. Aku pun memilih menyandarkan kepalaku di dadanya, mendengarkan detak jantungnya. Kembali kesini, di waktu ini, aku merasa hanya bisa mencintai Kai. Aku mencari-mencari perasaanku kepada Sehun, tetapi aku tak bisa menemukannya. Begitu juga aku tak bisa menemukan perasaan takut akan kematian atau apapun itu. Aku hanya tahu aku bahagai di dekapnya  seperti ini. Aku menyayanginya. Aku menyayangi Kai-ku, bukan orang lain.

Sekali lagi kudongakkan kepalaku, menatap matanya yang memandangku teduh. Ia kemudian menyentuhkan permukaan bibir kami perlahan, menciumku dengan lembut. Bahkan ciuman ini pun memberikan perasaan berbeda seperti saat Sehun menciumku. Aku merasakan aliran listrik di sekujur tubuhku. Merasakan kebahagiaan yang amat, aku ingin berteriak kepada dunia bahwa namja ini hanya milikku dan aku mencintainya. Aku ingin mendekapnya seumur hidup. Dia hanya milikku. Milikku.

Namun memang inilah ‘seumur hidupku’. Harapanku terkabul. Dengan hidup yang hanya sepanjang ujung kuku, aku berhasil mendekapnya di saat terakhirku.

Kupandang lagi wajah tampannya. Tersenyum menatapnya. Sepenuh hati menyatakan betapa aku mencintainya lewat tatapan mataku. Ia membalas senyumku.

Selamat tinggal, Kim Kai.

***

Kai POV

Seoul, July 21st 2014

Satu per satu orang-orang mulai meninggalkan area pemakaman. Jinri dan Suzy berpamitan sejenak padaku dengan wajah sembab, kemudian beranjak pergi. Jiyeon masih tergugu di pusara Soojung dalam pelukan Sehun, berkali-kali kulihat Sehun berusaha menenangkan yeojachingunya itu. Orangtua Soojung pun masih ada disana, menatap nanar nama putri mereka yang terukir di batu nisan.

Empat tahun. Empat tahun aku menjadi kekasihnya. Empat tahun kami membagi setiap kisah pilu maupun sukacita dalam hidup kami. Dan kali ini Soojung pergi. Ia tidak memberiku kesempatan untuk mengejarnya lagi, ia pergi terlalu jauh. Soojungku kembali ke pelukan Tuhannya.

Kuhapus airmata yang masih secara tiba-tiba merangsak menuruni wajahku. Berusaha tersenyum di sela-sela tangisku. Ini yang Soojung mau, ia ingin aku tetap bahagia. Ia meninggal tadi malam. Aku baru saja menyelesaikan praktikumku, seperti biasa pergi menjenguknya setelah membereskan alat-alat praktikum dan jas laboratoriumku. Namun tadi malam berbeda. Ia tidak menungguku dengan ceria seperti biasanya.

Aku membawakan Soojung cake in jar rasa red velvet kesukaannya. Seperti biasa masuk ke kamar dan menemaninya. Namun tadi malam kamarnya kosong. Dengan panik aku segera bertanya pada suster yang berjaga di front office, mereka memberitahuku bahwa Soojung dipindah ke ICU beberapa jam yang lalu. Dengan wajah pias aku menyusulnya ke ICU. Dokter mengijinkanku masuk untuk menemuinya selama 10 menit saja. Saat itulah kulihat ia sudah dijerat berbagai alat medis. Belalai-belalai dari alat-alat itu tersebar di dada, lengan bahkan wajahnya. Sengkup oksigen rebah di wajahya, walaupun tetap saja benda itu tak akan mampu mengurangi kecantikan Soojungku.

Ia terpejam. Matanya terkatup rapat. Aku tahu ia tak bisa melihatku. Aku bahkan sudah merasa kalau ia tak akan bisa berbicara kepadaku lagi. Namun aku tahu ia masih bisa mendengarku. Kuraih tangannya dengan hati-hati, mengenggamnya sehalus mungkin.

“Soojung-ah,” panggilku lembut, “aku disini. Jangan takut aku disini. Soojung-ah…”

Aku tak mampu melanjutkan kata-kataku. Aku terisak di sampingnya. Membiarkan nafasku berkejaran dengan airmata yang membuatku dadaku terasa sesak.

Beberapa jam setelah itu, dokter menyatakan Soojung meninggal.

Jantungku membeku. Kepalaku terasa begitu pening. Mataku memanas. Dadaku sungguh terasa berat dan sesak.

Dan sekarang disinilah aku. Menatap pusaranya dalam kebisuan. Sesekali menghapus airmata yang masih memaksa untuk ditumpahkan. Jika saja aku punya satu hari untuk kembali bertemu denganmu, Jung Soojung. Jika kau diijinkan hidup satu hari lagi, akan kulakukan apa saja untuk membuatmu sembuh. Aku kira aku siap menerima kepergianmu, seperti yang selalu kukatakan padamu, tetapi kehilanganmu benar-benar terasa sakit, Soojung-ah. Setiap napas yang kuhela terasa menyakitkan. Setiap detik yang berlalu seakan mencekik dan meracuniku. Aku sudah merindukanmu, Jung Soojung. Seandainya bisa, akan kuberikan apapun untuk membuatmu hidup lebih lama. Lebih bahagia. Seandainya bisa, apa saja.

Karena aku percaya, satu hari saja bisa mengubah seluruh cerita dalam hidupmu.

Rest in peace, my love. Part of me died with you…

 

 

 

All I want is nothing more

To hear you knocking at my door

‘Cause if I could see your face once more

I could die as a happy man I’m sure

When you said your last goodbye

I died a little bit inside

I lay in tears in bed all night

Alone without you by my side

But if you loved me

Why did you leave me…

( All I Want – Kodaline )

 

 

THE END

 

Yippie-k-yay akhirnya selesai juga FF ini. Maaf ya kalau geje, atau diksinya ga enak dibaca. Author newbie nih, masih belajar, dan kalo dikasih saran atau komen pasti lebih semangat buat bikin FF yang lebih bagus lagi *ceritanya ngerayu readers* hihihi. Oh ya ada 2 quotes yang author ambil dari film The Fault in Our Star, bahkan lagu Kodaline yang nemenin author ngetik juga OST dari film itu, jadi ya agak menye gimana gitu deh FFnya -___- Anyway setelah FF ini sebenernya author udah nyiapin FF oneshot, tp laptop aku malah rusaaaaak hoaaaa padahal udah nangis darah bikinnya *apasih* hehe however Terimakasih buat yg nyempetin waktu buat baca FF ini, komen dan saran bakal sangat aku apresiasi. See you! *bow*

Author: eezeeba

An overthinker. Crazily in love with potato chips. Loving Daughtry and Maroon 5 to death. Currently in delusional relationship with Oh Sehun and T.O.P.

16 thoughts on “Just One Other Day [Part 2/2 – Final]

  1. Daeeee~~~~bakkkkkk!!!!❤

  2. Twistnya….
    Gak nyangka sih kaistalnya bisa balik dgn cara kaya gitu
    Daebak tor :”
    Ditunggu FF lainnya asap ya!

  3. jadi soojung meninggalnya saat ia udah balik ke masa dulu lagi? aku rada bingung. aku fikir itu cuman khayalan dia aja tadinya. Aku pikir dia bkl jadi samperin kai ke german. tapi suer ini buat nangis loh:”( kata2nya bagus bgt. 2 quote dari TFIOS itu favorit aku bgt!!! jadi inget hazel-august hihi. But over all, ini nyentuh bgt. sayangnya soojung meninggal:( sering2 buat kaistal lgi yaaa :))

    • iyaa jadi dia beneran balik ke masalalu tapi cuma sehari, hari berikutnya dia udah balik ke masa sekarang, jd dia meninggal tetep di masa skrg, cuma krn bisa balik sehari itu dia bisa ngerubah banyak hal gitu hehe maaf ya kalo plotnya kurang jelas :” makasih banyak masukannya chingu, blushing nih haha. iyaa sebenernya karena film tfios juga ff ini lahir😀 kaistal lainnya ditunggu aja yah, belum ada ide buat kaistal lg nih hehe, sekali lagi terimakasih banyak udah nyempetin baca dan komen *deep bow*

      • oh gitu iya akhirnya aku ngerti. makasihh loh ya penjelasannya. Maaf ya kalo aku rada kurang nyambung awalnya ;)) Keren kok tapi ceritanyaa:D

  4. Kisah yang mengharukan ……… Aku suka. Meskipun waktu baca sempat bingung sedikit. But, it’s really a nice story ……

  5. Asli ini nyesek pkke bnget. Gue. Nangiis”l. Tor. Ssialan gue biingung maau mihhak kkaistal ataau sestal. Gue. Sukka keduua pairiingnyyya. Dan iini tuh nnyyyesek bnget😥

  6. kirain sestal, ternyata kaistal, tapi aku suka kok, keren!!!

  7. Daebak author, aku suka. Sungguh menyentuh sekali ceritanya. Sampai2 aku tak bisa untuk tidak menangis. Sungguh ceritanya sangat menyentuh. Di tunggu cerita lainya ya thor. Fighting ya thor.

  8. Permainan waktu ya,,
    Daebak, author-nim.
    Gila, aq jg g nyangka alurnya bakal gtu. Aq kira bakal maju alurnya, en mikir ntar ending Kaistal.nya gmn,,
    ouh.. Keren, bener2 keren, aq blng sekali lg ya.. KEREEEENNN,, (injek capslock) /plak!/ ditimpuk sandal swallow.nya sehun

    aq Arcadian baru, skaligus reader baru dsni,
    salam kenal.. /ojigi/

  9. KEERREEENNN BGT!!!!
    Dae~bak! (Y) ff favorit nih jadinya😀

Here We Need Responsibilities. Thanks!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s