EXO Fanfiction Dorm

EXO as the Main Cast

Agony Loop

4 Comments

nxposter

Tittle                : Agony Loop

Author             : eezeeba ( @msgeil )

Length             : Oneshot

Genre              : Romance, Tragedy, Adventure, Mystery

Rating             : PG-15

Casts               : Lee Jooyeon, Oh Sehun, Xi Luhan, Kim Jongin, Park Chanyeol dan Wu Yifan

Disclaimer       : this fanfic originally written by eezeeba, no plagiarism in every diction and sentence. Everything I wrote based on my own imagination and ability, every single word is mine, hohoho. And yeah I’m sorry for the poor poster, since my laptop is broken, it is not as comfortable anymore for editing photos, anyway, happy reading! ^^

 

“The worst part about being trapped is not knowing that you’re being trapped”

 

“Sehun-ah, kau yakin ini jalannya? Seingatku tahun lalu kita tidak melewati jalanan seperti ini,” tanya Jooyeon sambil mengawasi pemandangan di kanan-kiri mereka.

Sehun tidak melepaskan pandangan dari jalanan di depannya, sekali lagi menengok ke arah GPS di sebelah kanannya, “aku yakin, Jagiya. Aku memang mengambil jalan pintas. I’ve doubled check the route on GPS and it’s definitely right,” jawab Sehun santai.

“Tapi jalan ini gelap dan sempit sekali,” ujar Jooyeon sambil mengeratkan coat yang dipakainya.

“Kau takut?” tanya Sehun usil. Jooyeon mengerucutkan bibirnya.

Aniya, hanya saja apa kau tidak was-was jika tiba-tiba kita dirampok atau apalah?”

Gwaenchana, rute ini aman, Jagiya. Lagipula beberapa kilometer lagi kita akan memasuki pemukiman warga, nothing to worry about.”

Yeah, and it’s so dark outside that I can barely stare at the window,” keluh Jooyeon, menatap Sehun yang malah terkekeh mendengar ucapannya.

“Tidurlah, tiga atau empat jam lagi kita akan sampai di Gangreung,” kata Sehun sambil mengusap kepala Jooyeon dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya tetap fokus memegang kemudi.

“Aku tidak ingin tidur, aku ingin menemanimu pabo-ya,” Jooyeon menaruh kepalanya di pundak Sehun, sesekali mendongak untuk memandang wajah namjanya itu.

Sehun menatap Jooyeon sekilas, kemudian mencium puncak kepala gadisnya, “kenapa kau selalu membuatku gemas dan semakin menyayangimu, eoh? What do I do without you?”

“Mmmm, crash and burn,” jawab Jooyeon asal, kemudian mencium pipi kiri Sehun yang masih saja tersenyum mendengar jawaban yang ia lontarkan.

Beberapa saat kemudian keduanya kembali tenggelam dalam kebisuan. Lagu-lagu yang mengalun dari MP3 transmitter menjadi satu-satunya penengah keheningan malam itu. Jooyeon melirik jam digital di dashboard mobil, waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Sehun terlihat menguap beberapa kali, mengusap-usap matanya yang mulai diserang kantuk.

“Hunnie, kau mau istirahat dulu? Aku bisa menggantikanmu menyetir,” tawar Jooyeon, Sehun tersenyum, menggeleng-gelengkan kepalanya.

Gwaenchana aku-”

“SEHUN-AH ITU TIKUNGAN!” Jooyeon memotong kalimat Sehun, berteriak panik saat mobil mereka melaju kencang di sebuah tikungan tajam, Sehun terkesiap, mencoba mengendalikan mobil mereka, membelokkannya agar kembali ke jalan aspal. Terlambat.

BRAAAAKKKKKKK!

Mobil itu menerobos pagar pembatas jalan. Terus melaju ke dalam hutan sampai akhirnya menghantam sebuah pohon besar. Asap mengepul dari bumper mobil yang sudah penyok tak karuan.

Suara lolongan anjing hutan terdengar memilukan di kejauhan.

***

                Kai, Chanyeol, Luhan dan Kris masih terlelap di tenda mereka. Keempatnya bergelung di sleeping bag masing-masing. Kicauan burung hantu dan lenguhan babi hutan tak mampu mengusik keempat namja itu.

“SEHUN-AH!!!” terdengar teriakan seorang gadis di kejauhan. Kai terbangun, ia mengawasi sekitar, memastikan apa yang didengarnya barusan.

“OH SEHUN!” kali ini Kai yakin ia tak salah dengar. Segera ia goncangkan tubuh Chanyeol yang masih tertidur di sebelahnya.

“Ada apa, Kai-ya?” tanya Chanyeol setengah sadar. Kai meletakkan jari telunjuk di bibirnya, memberi isyarat pada Chanyeol untuk mendengarkan sekeliling mereka.

“SEHUN-AH! SEHUN-AH!” Chanyeol membelalakkan matanya, otomatis terjaga setelah mendengar teriakan itu.

“Itu apa?” tanyanya was-was. Kai mengedikkan bahu. Mereka segera membangunkan Luhan dan Kris. Kedua namja itu mengerjap-ngerjap bingung saat Kai dan Chanyeol menginstrusikan agar mereka keluar tenda.

“Kai-ya, ada apa?” tanya Luhan, masih sambil mengusap-usap matanya yang terasa berat.

“Kami mendengar sesuatu tadi, seperti teriakan seorang gadis,” jawab Kai sambil terus mengedarkan pandangannya ke sekitar tenda. Luhan dan Kris berpandangan, tampak semakin bingung dengan jawaban yang mereka terima.

“SEHUN! SEHUNIE JEBAL JAWAB AKU! OH SEHUN!!” teriakan itu semakin terdengar jelas. Luhan dan Kris kembali saling pandang, hanya saja kali ini ekspresi kaget yang tergambar di wajah mereka.

“Itu manusia atau…” kalimat Chanyeol terputus oleh lirikan gusar Kris.

“Mungkin gadis itu butuh bantuan kita, dia bisa saja tersesat atau apa” timpal Luhan kemudian. Kai mengangguk.

“Aku dan Kris akan mencari sumber suara itu, kalian berjaga disini, arasseo?” Kai dan Chanyeol mengangguk, menyanggupi komando yang baru saja diberikan oleh Luhan.

Luhan dan Kris membongkar carrier mereka, mengeluarkan headlamp dan senter serta menarik pisau parang dari sarungnya. Kedua namja itu bergegas menembus pekatnya malam, sesekali menebas ranting dan semak yang menganggu perjalanan mereka.

“OH SEHUN!!!”

Teriakan itu terdengar lagi. Kris memasang telinganya baik-baik, memastikan bahwa mereka berjalan ke arah yang benar.

“SEH- YA! NUGUYA!?”

Akhirnya Luhan dan Kris menemukan apa yang mereka cari. Gadis itu – Lee Jooyeon, menatap mereka takut-takut. Ia mundur beberapa langkah, jerih melihat pisau parang yang digenggam oleh Kris. Kedua namja itu mematung selama beberapa saat. Gadis yang mereka temukan terlihat berantakan dengan bekas darah di keningnya.

“Agassi, chamkaman, jangan takut,” Luhan lebih dulu menenangkan Jooyeon yang terlihat ragu-ragu menatap mereka, berusaha mendekatinya, “aku Luhan, itu temanku, Kris. Kami mendengar teriakanmu dan kami kesini untuk memastikan apa yang kami dengar. Apa kau tersesat, Agassi?”

Jooyeon menatap Luhan dan Kris satu per satu, seolah menimbang apa ia bisa mempercayai kedua namja di depannya itu.

“Kami kesini karena kami pikir kau perlu bantuan, Agassi,” sambung Luhan hati-hati. Jooyeon menghela napas.

“Aku dan namjachinguku sedang dalam perjalanan ke Gangreung. Sehun – namjachinguku, memilih melewati jalan pintas. Jalan yang kami lewati gelap dan sepi sehingga ia menaikkan kecepatan mobil kami, tapi karena jalanan terlalu gelap dan kami tidak menggunakan lampu jauh, kami tidak melihat tikungan tajam di depan. Hal terakhir yang aku liat adalah kami menerobos pembatas jalan. Aku terbangun di mobil, keningku terluka, mungkin karena menghantam dashboard, tapi aku tidak menemukan Sehun. Kursi pengemudi kosong, bagian depan mobil kami hancur karena menabrak sebatang pohon besar, dan sampai sekarang aku belum juga menemukannya. Jebal, tolong aku, jebal…” Jooyeon mencoba meredakan napasnya yang tersengal, hampir tersedak airmatanya sendiri. Luhan dan Kris menatapnya iba, saling melempar pandang karena tak tahu apa yang harus mereka lakukan.

“Tenanglah, Agassi. Lalu siapa namamu?” tanya Kris pelan.

“Jooyeon. Lee Jooyeon.”

“Baik, Lee Jooyeon-ssi, kami kebetulan sedang mengadakan survey di hutan ini. Aku dan ketiga temanku membangun tenda di sebelah sana. Kami akan membantumu, kami akan membawamu ke kantor polisi sehingga kau bisa melaporkan apa yang terjadi dan menemukan namjachingumu, tapi kami akan mengemasi barang-barang dan peralatan kami terlebih dulu, ne? Kita akan keluar dari hutan secepatnya agar kau bisa segera mendapat pertolongan,” bujuk Luhan, masih berusaha menenangkan gadis di depannya yang terlihat kalut dan gelisah.

“Namun bagaimana dengan Sehun? Kemana dia? Kenapa dia meninggalkanku di mobil? Bagaimana jika ternyata seseorang – atau sesuatu membawanya? Bagaimana kalau dia bertemu dengan binatang buas atau apa? Kita harus menemukannya dulu, Luhan-ssi, Kris-ssi, jebal…” mohon Jooyeon dengan suara bergetar menahan tangis.

“Dengar, Jooyeon-ssi. Kita tidak tahu apa yang terjadi pada Sehun, tapi kalau dia tiba-tiba tidak ada di sampingmu, tebakan kami adalah ia baik-baik saja sehingga ia mencari pertolongan karena melihatmu pingsan. Hal terbaik yang bisa kita lakukan sekarang adalah menghubungi polisi. Mobil kami ada di jalan masuk hutan ini, kita akan kesana dan kami akan mengantarmu ke pos polisi terdekat. Bagaimana?” Kris gantian membujuk Jooyeon yang tampak begitu bimbang. Gadis itu akhirnya mengangguk. Mengikuti langkah Luhan dan Kris untuk kembali ke tenda mereka.

Kai dan Chanyeol berdiri saat melihat Luhan dan Kris membawa seorang gadis bersama mereka. Jooyeon membungkukkan badannya dengan kikuk, sedangkan dua namja asing di depannya menatap bingung, baru kemudian membalas sapaan gadis itu dengan membungkukkan badan mereka pula.

“Kai-ya, Chanyeol-ah, ini Lee Jooyeon. Jooyeon-ssi, ini teman kami, Kai dan Chanyeol,” jelas Luhan, satu per satu menunjuk Kai dan Chanyeol.

“Ikutlah denganku, Jooyeon-ssi, akan kubersihkan lukamu terlebih dahulu,” Kris membawa Jooyeon masuk ke tenda, membersihkan sekaligus mengobati luka di kening gadis itu dengan peralatan P3K yang dibawanya. Sementara itu Luhan menjelaskan peristiwa yang menimpa Jooyeon pada Kai dan Chanyeol. Ketiganya akhirnya sepakat untuk segera kembali ke pintu masuk hutan agar Jooyeon dapat segera menemukan Oh Sehun.

Keempat namja itu kemudian mengemasi peralatan mereka. Setelah semua barang dimasukkan ke dalam carrier masing-masing, Kris segera memimpin perjalanan mereka kembali ke forest gate di tengah pekatnya malam.

“Kita akan ke pos penjagaan setelah kembali ke mobil. Disana kita akan mendapat sinyal telepon dan penjaga hutan pun pasti bisa membantu kita,” terang Luhan pada Jooyeon untuk memecah keheningan diantara mereka berlima. Gadis itu tersenyum samar, mengangguk untuk menyatakan terimakasihnya.

“Sehun pasti baik-baik saja, bukan?” tanya Jooyeon pelan. Kai menatap prihatin, kemudian mengangguk. Ia tentu saja tak tahu bagaimana keadaan namja yang dimaksud Jooyeon, tapi dalam hati pun ia berharap bahwa namja bernama Oh Sehun itu baik-baik saja. Kasihan sekali gadis ini, dirinya sendiri sebenarnya terluka cukup parah, tapi sepertinya ia hanya memikirkan namja itu saja, batin Kai.

I can’t afford to lose him,” Jooyeon berkata lirih, hampir seperti mengatakan kalimat itu untuk dirinya sendiri, “I have to see him again. I can’t afford to lose him.”

We hope he’s alright, we all do. Keep calm, okay? You’ll see him again,” hibur Kris lembut. Jooyeon hanya tersenyum, mengamini kata-kata Kris dalam hatinya.

Setelah berjalan selama hampir 3 jam akhirnya mereka sampai juga di mobil Chanyeol yang diparkirkan di sebuah bangunan tanpa dinding, berlokasi tepat di sebelah pintu masuk menuju hutan. Jarum di jam tangan Kris menunjuk angka 4. Chanyeol membuka kunci mobilnya, memasukkan carrier mereka di bagasi.

Luhan segera memeriksa handphonenya, berharap bisa menghubungi polisi atau menelepon pos jaga, “masih tidak ada sinyal disini,” keluhnya kemudian.

“Pos tidak jauh dari sini, Luhan-ah, kita langsung kesana saja sekarang,” timpal Kai sambil menutup bagasi mobil. Luhan mengangguk, ia masuk ke dalam mobil setelah mempersilakan Jooyeon untuk duduk terlebih dahulu.

Jeongmal gomawoyo, kalian mau repot-repot membantuku. Mianheyo, aku pasti mengacaukan acara kalian,” kata Jooyeon sungguh-sungguh setelah mobil mereka melaju menuju pos yang dimaksud Kai. Gadis itu terlihat benar-benar menyesal. Chanyeol menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Gwaenchana, Jooyeon-ssi, kami senang bisa membantumu. Semoga namjachingumu juga baik-baik saja,” jawab Chanyeol sambil menyunggingkan senyum. Sungguh namja itu berharap Jooyeon dapat bertemu dengan Sehun lagi. Ia dapat merasakan ketakutan Jooyeon akan kehilangan Sehun sejak pertama kali mata mereka bertemu. Mata Jooyeon mampu berbicara lebih banyak kata dari yang bibirnya mampu ucapkan.

Tak lama kemudian mereka tiba di pos jaga. Chanyeol dan Kai yang duduk di depan segera melepas sabuk pengaman mereka, bersiap turun.

“Jooyeon-ssi, aku, Kai dan Kris akan masuk ke dalam. Kau tunggu disini dulu, ne? Kau pasti lelah, bukan? Luhan akan menemanimu disini. Kami akan meminta rekomendasi dari penjaga hutan terlebih dahulu dan meminta back up mereka sebelum menuju kantor polisi,” terang Chanyeol. Jooyeon hanya menyatakan persetujuannya lewat anggukan lemah disertai senyum samar.

“Apa saja, lakukan apa saja asal aku dapat bertemu dengan Sehun secepatnya,” ucap Jooyeon lirih.

Ketiga namja itu segera turun, mengetuk pintu bangunan kecil itu beberapa kali sebelum dua orang rangers membukakannya. Luhan menatap Jooyeon di sebelahnya. Gadis itu tak henti memejamkan mata sambil mengepalkan tangannya, berdoa.

“Kau pasti sangat mencintainya, Jooyeon-ssi,” komentar Luhan saat gadis itu menyelesaikan doanya. Jooyeon tersenyum.

“Sangat,” jawabnya, “I can’t imagine a life without him.”

I do really hope he’s fine. But seriously, you have to take care of yourself too. Setelah melapor pada polisi, kau harus segera ke rumah sakit, Jooyeon-ssi,” kata Luhan lagi.

“Ya, atau aku akan segera bunuh diri jika terjadi sesuatu pada Sehun,” jawaban Jooyeon membuat Luhan mengerutkan kening.

“Apapun yang terjadi pada Sehun, kau tidak harus menyakiti dirimu sendiri, Jooyeon-ssi.”

“Iya, tidak harus memang. Tapi aku ingin, aku akan.”

You really think Sehun will be happy to see you doing something stupid?” nada Luhan meninggi. Jooyeon menatapnya lemah.

But I can’t live without him,” ia hampir menangis sekarang, “I can’t, Luhan-ssi.”

Everyone can’t live without their loved ones basically. But sometimes, sometimes, I really hope it doesn’t happen to you – human are pushed to live with it. Live with pain, with regret, live with without him or her itself. I can understand, the pain of losing your loved ones, it’ll suffocate you, it’ll kill you, but you have to bear the pain. There’s no such ‘I can’t live without you crap’, everyone can live even after the whole world leave them. What matters is you want to continue your life without them or not. You don’t want it, fine. Go kill yourself, commit suicide, drink poison, hung yourself with a rope, cut your arteries – whatever, but it won’t make you meet him again. You don’t even know what comes after death, what if there’s a bigger pain waiting for you? What if he’s being an angel in his afterlife, and you trapped in hell instead? What if you can see him, you can see him upstairs, but you can’t reach him. What if he forgets you there? What if he can’t reach you anymore? What if in our next world there’s no such thing called feelings and you guys will just forget what you feel before? There’s a bunch of what ifs over there, and you really think sure suicide is the key?

Jooyeon menatap Luhan dengan tatapan tak percaya, “bagaimana kaubisa mengatakan semua ini, Luhan-ssi?”

Luhan terdiam sesaat, mengatur napasnya yang tiba-tiba memburu, matanya mulai berair, tetapi kemudian ia mendongakkan kepalanya, tersenyum, “yeojachinguku meninggal akibat kecelakaan pesawat 2 tahun yang lalu.”

Jooyeon terdiam. Hampir ternganga. Sekarang ia mengerti mengapa Luhan mengatakan semua itu padanya. Dadanya tiba-tiba terasa sesak, airmata kembali berkejaran di wajahnya, “tapi aku tetap tak mau hidup tanpa Sehun, Luhan-ssi. I can’t afford to lose him. It’ll hurt like hell and I’ll surely die, even I don’t commit suicide, I’ll still die. Namun jika kata-katamu benar, jika di alam sana kami melupakan satu sama lain, maka hidup lah yang tak adil.”

”Akupun tak tahu apakah hidup adil atau tidak, Jooyeon-ssi. Aku hanya ingin percaya bahwa hidup cukup adil untuk tidak menyiksaku seperti ini,” sahut Luhan pahit.

Mereka berdua akhirnya terdiam. Tenggelam dalam pikiran masing-masing.

Beberapa saat setelah itu pintu mobil kembali terbuka, Kai, Kris dan Chanyeol kembali masuk. Menempatkan diri di posisi duduk mereka sebelumnya.

“Jooyeon-ssi, kami akan langsung mengantarmu kembali ke Seoul,” kata Chanyeol datar. Luhan melirik Chanyeol, juga menoleh ke arah Kai dan Kris. Sejak mereka kembali, ekspresi ketiga namja itu mengeras. Atmosfer dingin yang tak nyaman menyelimuti mereka.

“Wae? Kenapa? Ada apa?” tanya Jooyeon curiga, ia bisa merasakan adanya ketidakberesan. Jantungnya mulai berpacu tiga kali lebih cepat daripada yang seharusnya.

“Penjaga pos sudah menghubungi polisi, polisi sendiri menyatakan mereka telah mengurus masalah kecelakaan kalian, Jooyeon-ssi. Mereka meminta kami untuk langsung membawamu ke Seoul, kami akan langsung mempertemukanmu dengan Sehun,” jawab Kai setenang mungkin, tapi siapapun bisa merasakan ketegangan dalam setiap kata yang ia ucapkan. Jooyeon menelan ludah, wajahnya mulai pias.

“Sesuatu terjadi pada Sehun? Apa ia baik-baik saja? Sehun tidak-”

“Sehun-ssi sekarang sudah berada di Seoul. Ia menunggumu, Jooyeon-ssi. Ia ingin sekali bertemu denganmu. Ia sangat mencemaskanmu,” Chanyeol memotong kalimatnya. Jooyeon semakin tak mengerti dengan situasi yang ia hadapi sekarang.

“Kemudian? Kenapa? Kenapa ekspresi kalian seperti ini? Seolma…kami tidak menabrak orang lain saat mobil kami terjun ke hutan, bukan?”

“Aniyo, Jooyeon-ssi, kecelakaan kalian murni kecelakaan tunggal. Kau bisa melihat keadaan Sehun disana nanti. Kami akan membawamu padanya.”

“Sehun…Sehun masih hidup, bukan? Ia terluka parah? Apa ia baik-baik saja?”

“Ia baik-baik saja, Jooyeon-ssi. Sehun harus bertemu denganmu,” kalimat Kai kali ini terdengar lebih lembut dan lebih rileks daripada sebelumnya. Jooyeon menatap wajahnya dengan mata nanar.

“Bisa kalian jelaskan padaku secara gamblang? Aku tidak ingin menebak-nebak,” mohon Jooyeon putus asa. Kali ini Chanyeol tersenyum. Senyum yang dipaksakan, memang, Chanyeol hanya ingin menenangkan gadis itu.

“Kau bisa menanyakan semuanya kepada Sehun sendiri, dia yang akan menjawabnya,” jawab Chanyeol dengan intonasi sehalus mungkin.

Jooyeon terdiam. Namun ia bisa menangkap kesimpulan bahwa Sehun masih hidup.

As long as he’s alive, I’ll still keep breathing too, katanya dalam hati. Jooyeon memutuskan untuk berhenti bertanya atau merengek kepada namja-namja yang telah menolongnya itu.

Satu setengah jam kemudian sampai juga mereka di Seoul. Chanyeol berhenti, memarkirkan mobilnya di sebuah rumah sakit. Rumah sakit jiwa lebih tepatnya, Sungnam Mental Hospital.

“Chamkaman, Chanyeol-ssi, kau bilang kau akan membawaku pada Sehun? Kenapa kita disini? Apa Sehun disini? Jika iya, kenapa dia bisa ada disini?” berondong Jooyeon tak mengerti,

“Kami hanya ingin kau melihat sesuatu terlebih dahulu, Jooyeon-ssi. Chamkaman, aku akan masuk dulu sebentar. Kai-ya, kajja,” Chanyeol dan Kai menutup pintu mobil, kemudian berlari kecil untuk masuk ke bangunan itu. Jooyeon menatap mereka semua dengan wajah bingung.

“Kau akan mengerti. Kau akan mengerti semuanya kalau kau sudah masuk, Jooyeon-ssi,” ujar Kris melihat ekspresi gelisah Jooyeon.

Luhan sama tak mengertinya dengan Jooyeon. Apa yang terjadi? Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa keadaannya malah menjadi seperti ini?

Tak lama kemudian Kai mengetuk jendela di sebelah Jooyeon, gadis itu segera menurunkan kaca mobil dengan tergesa, memburu setiap detik yang terasa menyiksanya, ia benar-benar tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.

“Jooyeon-ssi, kalian juga, Luhan-ah, Kris-ah, turun lah. Kita bisa masuk sekarang.”

Luhan, Kris dan Jooyeon segera turun dari mobil, kemudian mengikuti langkah Kai masuk ke dalam rumah sakit tanpa banyak bertanya lagi. Mereka menyusuri lorong-lorong sepi dalam diam, Kai dan Chanyeol tampak memerhatikan nomor-nomor yang tertera di pintu-pintu ruangan yang mereka lewati. Sampai akhirnya mereka menghentikan langkah mereka di depan sebuah pintu bertuliskan VVIP 02. Kai menengok ke arah Jooyeon, menatap matanya sekilas, kemudian kembali menundukkan kepalanya sambil menghela napas.

“Kemarilah, Jooyeon-ssi, masuk lah,” Kai memutar gagang pintu, mendorongnya pelan sehingga pintu itu kini terbuka lebar. Jooyeon melangkah mendekat, menangkap sosok lelaki yang sedang tertidur dengan tangan terikat di sisi-sisi ranjangnya.

Namja itu tak lain adalah Oh Sehun.

Jooyeon menutup mulutnya, hampir berteriak karena terkejut. Luhan hanya menatap wajah teman-temannya satu per satu, ia tak mengerti apa yang terjadi. Sedangkan Kai, Kris dan Luhan kini memasang wajah sendu, tak ada yang bisa menebak apa yang mereka pikirkan. Jooyeon mulai menangis, mencengkeram kaos yang dikenakan Chanyeol.

“Ige mwoya, ha? IGE MWOYA!!!” ia berteriak, tak mampu menyembunyikan rasa takut dan keterkejutannya.

Chanyeol menatapnya iba, pelan sekali menjawab pertanyaan Jooyeon, “ini Oh Sehun, Jooyeon-ssi. Ini Oh Sehun.”

***

Flashback

Dua orang penjaga pos mempersilakan Kai, Kris dan Chanyeol masuk. Kai membungkukkan badannya sekilas untuk memberi salam. Lelaki setengah baya itu pun menyuruh mereka duduk, kesan ramah telihat dari cara kedua penjaga pos itu memperlakukan mereka.

“Ada yang bisa kami bantu, nak?” tanya salah satu ajussi dengan nametag Kim Heewon.

“Begini, kami yang kemarin meminta izin untuk melakukan survey di hutan. Sebenarnya kami meminta ijin untuk berada disana hingga besok lusa, tapi tadi terjadi sesuatu, Ajussi. Kami bertemu dengan seorang gadis, namanya Lee Jooyeon. Gadis itu mengaku ia baru saja mengalami kecelakaan, ia tadinya bersama dengan namjachingunya yang bernama Oh Sehun, tetapi setelah kecelakaan ia tak bisa menemukan namjanya itu. Ia sekarang berada di mobil kami, kami berniat mengantarkannya ke kantor polisi atau rumah sakit, gadis itu terluka. Apa ajussi bisa membantu kami mencari Oh Sehun? Gadis itu benar-benar khawatir karena namjachingunya tiba-tiba menghilang setelah kecelakaan,” Kris menjelaskan panjang lebar. Kedua ajussi di depannya mengerutkan kening, kemudian saling berpandangan.

“Kami akan membawa gadis itu kemari jika kalian mengira kami membual,” lanjut Chanyeol, salah mengartikan ekspresi yang baru saja ditunjukkan kedua penjaga pos tersebut.

“Nak, tadi kau bilang Lee Jooyeon?” tanyanya memastikan. Kai, Kris dan Chanyeol mengangguk hampir bersamaan.

“Kemarilah,” salah satu ajussi itu bangkit, menginstruksikan agar ketiga namja itu mengikutinya. Setelah tampak sibuk mencari-cari sesuatu selama beberapa saat, penjaga pos menyodorkan selembar koran kepada mereka. Kai meminta penjelasan lebih dengan tatapan matanya, tapi ajussi itu hanya memberi isyarat agar mereka membaca koran yang baru saja ia berikan.

“Maldo andwae…” setelah beberapa saat membaca berita yang ajussi itu tunjukkan, keringat dingin mengucur dari ketiganya. Menatap tak percaya pada kedua penjaga pos yang sekarang menatap mereka dengan wajah menyesal.

“Iya, nak. Lee Jooyeon dan Oh Sehun memang pernah terlibat kecelakaan tunggal tak jauh dari sini. Namun itu 6 tahun yang lalu…”

“Lalu…lalu…”saking gugupnya Chanyeol tidak dapat meneruskan kata-katanya. Ia hanya membuang mukanya ke sembarang arah, mencoba menetralkan darahnya yang berdesir terlalu cepat.

“Iya, kami mengerti apa yang kalian pikirkan. Betul, nak, seperti yang tertulis dalam berita itu, namja yang bernama Oh Sehun selamat, airbagnya terbuka saat mobil mereka menabrak pohon itu. Ia hanya mengalami patah tulang kaki. Namun tidak dengan Lee Jooyeon. Saat mobil mereka terjatuh memasuki hutan, gadis itu berkali-kali terpental ke depan, kepalanya terbentur kaca dan dashboard mobil mereka sendiri. Saat kami membantu mengevakuasi tubuhnya, darah ada dimana-mana, luka di kepalanya sangat serius. Lee Jooyeon sudah meninggal saat kami mengeluarkan tubuhnya dari bangkai mobil mereka. Sampai sekarang kami tidak bisa lupa akan peristiwa itu.”

“Lalu? Gadis yang kami temui? Bahkan ia masih ada di mobil kami!” seru Chanyeol panik. Ajussi itu menghela napas, menatap dalam-dalam mata ketiga anak muda di hadapannya.

“Setelah kecelakaan itu, setahun sekali, setiap malam tanggal 22 Juni, pasti ada saksi yang mengatakan bahwa mereka mendengar teriakan gadis memanggil-manggil nama Oh Sehun setiap lewat tengah malam. Semakin pagi, teriakan itu akan terdengar semakin memilukan, kemudian berubah menjadi tangisan saat matahari mulai terbit. Gadis itu terus mencari-cari namjachingunya. Ia menghantui lokasi tempat mereka dulu kecelakaan. Ia sepertinya ingin bertemu lagi dengan namjachingunya…”

Atau mungkin gadis itu tidak sadar ia sudah meninggal. Apa yang ia lihat hanya apa yang ia inginkan. Dan ia menginginkan bertemu kembali dengan namjachingunya. Itu sebabnya dia terus bersama kita, itu sebabnya Lee Jooyeon mau mengikuti kita sampai disini. Jika ia hanya ingin menakut-nakuti orang, ia tidak akan bersama kita selama ini. Ia benar-benar mencari Oh Sehun. Ia terjebak. Ia tidak tahu apa-apa…” sambung Kai pelan. Rasa takutnya berubah menjadi perasaan iba setelah ia memikirkan cerita ajussi itu baik-baik.

“Kau mungkin benar, nak. Itu juga yang kami pikirkan. Kenyataan bahwa setahun sekali ia kembali muncul pada tanggal yang sama dengan hari kematiannya membuat kami menduga ia semacam terjebak dalam suatu lingkaran penderitaan. Penderitaan dari rasa ingin tahunya, penderitaan karena dia tidak bisa melepaskan namjachingunya…”

Kelima orang di ruangan itu terdiam.

“Bawalah gadis itu kembali menemui Oh Sehun, nak,” kata Ajussi itu lagi, “mungkin hanya itu yang bisa membuatnya beristirahat dengan tenang.”

“Oh Sehun? Kalian tahu alamat Oh Sehun?” Kris balik bertanya. Kedua ajussi di depan mereka menggeleng sedih, menghela napas.

“Beberapa bulan setelah kecelakaan itu kami mendapat kabar bahwa Oh Sehun mengalami gangguan mental, ia dimasukkan ke rumah sakit jiwa 8 atau 9 bulan setelah kecelakaan mereka.”

“Wae?” tanya Kai kaget. Cerita yang mereka dengar menjadi semakin rumit dan menyedihkan.

“Kami tidak tahu kebenarannya, tapi dari informasi yang kami terima, Oh Sehun merasa bersalah. Ia menyalahkan dirinya sendiri atas kematian Lee Jooyeon. Sepertinya namja itu tidak bisa menerima kenyataan yang ada, berkali-kali ia mencoba bunuh diri, keadaan kejiwaannya semakin memburuk sehingga keluarganya memutuskan untuk membiarkan ia dirawat di rumah sakit jiwa.”

Kai, Kris dan Chanyeol benar-benar kehilangan kata-kata sekarang. Berbagai macam perasaan dan emosi berkecamuk dalam pikiran mereka.

“Ajussi,” ujar Kris beberapa saat kemudian, “di rumah sakit mana Oh Sehun dirawat? Kami akan membawa Jooyeon kesana.”

Flashback end

***

                “Mwo?” Jooyeon sekali lagi memastikan apa yang didengarnya. Chanyeol tersenyum pilu, menunjuk kalender yang terpasang di dinding kamar perawatan Oh Sehun.

“Ini tahun 2014, Jooyeon-ssi, dan kapan kau kecelakaan?”

Jooyeon terdiam, menggigit bibir bawahnya yang bergetar hebat, “2008.”

“Kau seharusnya tidak disini lagi, Jooyeon-ssi,” Kai menatap mata Jooyeon yang sudah memerah. Gadis itu tak bisa lagi menahan airmata yang deras membasahi wajahnya. Ditatapnya lagi Oh Sehun yang masih tertidur, kemudian kembali menengok ke arah 4 namja di depannya.

“Wae? Lalu kenapa aku disini?” tanyanya tak mengerti.

You hold on too tight. You only see what you want to see. You can’t let go. You stuck. You trapped on your own agony loop,” jawab Kai lembut, “Jooyeon-ssi, maybe this is your unfinished business. Mungkin ini yang membuatmu tertahan disini. Mungkin ini yang membuatmu tak mau meninggalkan dunia ini. You love him too much, but then you deny everything that separate you and him, even death. Kau bahkan menolak kematian. Jooyeon-ssi, lepaskan. Relakan semuanya. Kau harus pergi. Tempatmu bukan disini lagi. Haven’t you suffered long enough? Doesn’t your heart ache to see him like this? Kalian sama-sama tak bisa mengucapkan selamat tinggal. Kalian sama-sama menghindari kenyataan, membuat kalian tersesat di lingkaran penderitaan yang terbuat dari ilusi kalian sendiri-sendiri. Kau masih ingin hidup, kau masih ingin bersamanya sampai kau akhirnya terjebak di siklus yang menyiksamu setahun sekali. Oh Sehun? Dia tidak ingin menerima kematianmu. He’s being denial too, and see what happens? Dia mungkin melihatmu dalam dunia yang diciptakannya sendiri, tapi dunia itulah yang membuatnya gila. Menolak kenyataan dan menghindarinya bukan hal yang seharusnya kau lakukan Jooyeon-ssi, let go.”

Jooyeon sekarang hanya bisa menatap nanar. Ia sadar tangisannya tak akan merubah apapun.

Is that true?” tanyanya, sekali lagi mencari kepastian.

Let go, Jooyeon-ssi. Kalau Sehun tak bisa mengucap selamat tinggal, then it’s you who needs to say goodbye first. Mungkin jika kau bisa melepaskan ikatanmu ini, ia pun akan bisa menerima kenyataan. Tidakkah kaupikir Sehun tetap punya hak untuk hidup meskipun tanpa kau?” Kris menatap manik mata yang bergerak-gerak gelisah itu. Tersenyum ke arahnya.

He has to be happy, with…or without me,” jawab Jooyeon pilu, “apa yang harus kulakukan?”

“Katakan padanya bahwa kau telah merelakan segalanya, katakan padanya bahwa kau ingin dia bahagia, katakan padanya bahwa kau hanya bisa bahagia jika melihatnya baik-baik saja,” jawab Chanyeol. Jooyeon meneteskan setitik airmata lagi.

Gadis itu berbalik, mendekati Sehun yang masih terlelap. Dielusnya pipi namja yang begitu dirindukannya itu. Menyentuh bibir pucat yang dulu selalu menciumnya tiba-tiba, mata yang dulu biasa memandangnya dengan teduh kini terlihat begitu lelah, bahkan lengan yang dulu digunakan untuk mendekapnya pun kini dipenuhi bekas luka. Jooyeon lagi-lagi menitikkan airmata. Ia kemudian bergeser, mendekatkan wajahnya ke wajah Sehun.

Gadis itu berbisik pelan di telinga Sehun, “Sehunnie…sayang, ini aku, Lee Jooyeon. Hunnie, aku pamit, eoh? Aku harus pergi menghadap Tuhan. Lihat, sayang, kurasa Tuhan begitu merindukan dan menyayangiku sampai-sampai aku dipanggil secepat ini. Hei, tapi aku bahagia, aku akhirnya menyelesaikan kehidupanku dengan baik. Hidupku sempurna karenamu, Sehun-ah. Aku telah menyicip surga di setiap hari yang kulewati denganmu, dan kini aku harus benar-benar tinggal disana. Aku akan bertemu Tuhan, Sehun-ah. Kau ingin titip apa, eoh? Dengar, akan kusampaikan pada Tuhan, bahwa tanpa aku, tanpa seorang Lee Jooyeon, hidup Oh Sehun akan tetap sempurna, akan tetap baik-baik saja. Oh Sehun akan menjadi orang hebat. Oh Sehun akan menjadi orang paling bahagia di seluruh dunia. Hebat, bukan? Sayang…ini ucapan perpisahanku. Percayalah, aku akan menunggumu. Aku menjamin hidupmu. Kau harus baik-baik saja, eoh? Atau aku akan bunuh diri di surga sana biar sekalipun kau menyusulku, kau tak bisa menemuiku lagi. Arasseo? Hiduplah dengan baik, Oh Sehun. Aku mencintaimu, dengan atau tanpa napasku, dengan atau tanpa nyawaku, aku mencintaimu.”

Bahkan Kai, Luhan, Kris dan Chanyeol menitikkan airmata mendengar perpisahan Lee Jooyeon. Jam di dinding menunjuk angka 6, cahaya matahari semakin terang menembus ventilasi. Jooyeon berbalik, mengucapkan terimakasih, hingga akhirnya seiring cahaya matahari yang semakin menerangi, raga gadis itu perlahan-lahan menghilang, seolah menyatu dengan cahaya matahari yang mengenainya.

Selamat jalan, Lee Jooyeon, batin keempat namja itu dalam hati masing-masing.

***

Flashback

Sehun membuka matanya, ia merasakan sakit yang luar biasa di kaki kirinya. Petugas medis sudah memasang sengkup oksigen di wajahnya. Namun ia teringat akan satu hal.

“LEE JOOYEON!” Sehun berteriak sekuat tenaga, melepas alat bantu pernapasan itu dalam sekali sentakan, “JOOYEON-AH! LEE JOOYEON!”

Petugas medis segera menahannya untuk tidak bangun dari sisi jalan. Ia masih berada di atas tandu. Di kejauhan ia dapat melihat orang-orang menggotong tubuh yeojanya itu.

“LEE JOOYEON! YA! LEPASKAN AKU! LEE JOOYEON! ANDWAE, ANDWAE JOOYEON-AH!” tangisan Sehun terdengar memilukan. Seperti binatang yang terluka ia terus berusaha melepaskan diri dari cengkeraman petugas medis yang menahannya. Terus meneriakkan nama Jooyeon hingga wajahnya membiru karena kekurangan oksigen.

“Dia akan hidup kan? Ya, jawab aku jebal, jebal…dia masih hidup kan? Dia akan hidup kan? LEE JOOYEON!” sekali lagi Sehun meronta, mengabaikan rasa sakit di kepala yang diakibatkan oleh teriakan dan tangisannya. Seorang perawat akhirnya menyuntikkan obat bius, membuat teriakan Sehun tertahan. Ia masih memanggil-manggil nama Jooyeon meskipun lidahnya kelu, ia terus berusaha mengeluarkan suaranya sampai akhirnya ia tertidur.

22 Juni 2008.

Takdir memisahkan cinta mereka lewat kematian.

Flashback end

***

Kai, Kris, Luhan dan Chanyeol kembali ke mobil mereka dalam diam. Kejadian yang baru saja mereka saksikan meninggalkan kesan yang amat mendalam. Masing-masing menangkap pelajaran tersendiri dari apa yang baru saja terjadi. Luhan tiba-tiba kembali menangis, ia tak bisa menahan isakan dan deru airmatanya lagi.

“Luhan-ah, kenapa?” tanya Kris bingung, begitu juga dengan Kai dan Chanyeol yang tak mengerti kenapa tiba-tiba Luhan menangis.

“Entahlah, berbagai macam perasaan berkecamuk dalam dadaku. Terharu, tentu saja, takjub apalagi. Namun aku juga merasakan kesedihan dan kebahagiaan dalam waktu bersamaan. Aku menyadari satu hal. Kita selalu hanya bisa melihat sisi yang ditinggalkan. Kita selalu bisa melihat luka dari mereka yang masih hidup. Namun ternyata itu juga berat bagi mereka yang meninggalkan kita. Sungguh aku pun tak membayangkan rasanya harus pergi meninggalkan orang yang kucintai ke tempat asing, ke dunia baru yang tidak kita ketahui ada apa di dalamnya. We always scared of the unknowns. Now I do realize. Aku bersyukur, meskipun rasa sakitnya hampir membunuhku, aku bisa merelakan kepergian Jinri. Setidaknya, mungkin dengan keikhlasanku ia bisa melangkah lebih ringan ke alamnya yang baru. Mungkin dengan aku menerima takdir, ia tak terjebak disini. Dan mungkin karena ia pun bisa merelakanku, aku tak harus berakhir bunuh diri.”

Kai, Kris dan Chanyeol mengangguk mendengar jawaban Luhan. Menepuk-nepuk pundak sahabat mereka itu untuk menguatkannya.

Terimakasih untuk pengalaman luar biasa ini, Tuhan, sekarang kupercayakan Jinri di tanganMu, kata Luhan dalam hatinya.

 

END

TADAAAHHH! Selesai juga FF ini akhirnya. Maaf ya kalo geje, karena semua serba tiba2 jadinya nulisnya ya ngalir aja -___- Anyway aku selalu berterimakasih banget buat semua feedback(s) yang dikasih readers, so this time I’m looking forward for it too. Thank you for reading, lovely people :*

Author: eezeeba

An overthinker. Crazily in love with potato chips. Loving Daughtry and Maroon 5 to death. Currently in delusional relationship with Oh Sehun and T.O.P.

4 thoughts on “Agony Loop

  1. Romantic lah sehun sama jooyeon sumpah … Mau nangis lah …. Good for author …

  2. kata katanya terlalu berbelit nih.. jadi capek bacanya.. bahasa inggrisnya juga banyak yg gk sesuai grammar gitu

    • Thank you for dropping comment🙂 hmmm soal bahasa yg berbelit2 saya minta maaf, makasih buat koreksinya. Soal grammar saya yakin ada beberapa yg salah, toh selama saya tinggal di Birmingham jg yg penting saya bisa komunikasi dan paper saya diterima guru aja udah cukup🙂 jadi maaf kalo ga mencapai level kesastraan bahasa inggris yg sempurna. EYD indonesia pun saya banyak yg salah kok di tulisan ini. You may point those grammar errors btw, so maybe I can fix them. Maybe. Saya nulis Inggris kayak nulis Indonesia ajasih, sama2 tata bahasanya belum sempurna. Thank you so much, anyway, (your) God speed:)

Here We Need Responsibilities. Thanks!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s