EXO Fanfiction Dorm

EXO as the Main Cast

images

Peter Pan

Leave a comment

images

Luhan Fanfiction | OC | Drabble (600+ words) | School Life | PG

Warning! Sudut pandang OC. Kalo Mary Sue lapor ya gais~

Tak perlu menjadi Wendy untuk dekat dengan Peter Pan

Waktu itu hari Senin. Semua siswa dari kelas 7 hingga 12 sedang mengikuti kegiatan belajar mengajar di kelas.

Namun, gadis berambut sebahu yang baru setengah tahun bersekolah di tempat itu, diminta gurunya untuk mengambil buku panduan Matematika kelas VII di kantor.

Ia menyusuri koridor. Hingga sampailah di depan kantor. Langkahnya terhenti. Siluet itu. Siluet yang tiga bulan terakhir ini sering dipikirkannya. Atau lebih tepatnya setengah tahun terakhir. Tapi waktu itu ia belum mau mengakui. Namun tiga bulan ini siluet itu benar-benar sudah mengganggu aktivitasnya.

Laki-laki itu sedang memain-mainkan sesuatu yang terbungkus plastik bening di tangannya. Sementara tangan satunya berada di saku celana.

Sunbae,” sapanya sambil melambai kaku. Menyadarkan Luhan yang segera memasukkan sesuatu itu ke saku celana.

Luhan balas melambai ramah, “Eh, kau. Sedang apa kau di sini?”

“Aku …,” ia baru teringat kembali tujuan utamanya di situ, “Disuruh Choi Seonsaengnim, mengambil buku di kantor,” jawab Ririn seadanya, “Sunbae sendiri?”

“Ah … menunggu teman,” tunjuk Luhan ke belakang. Lalu memasukkan tangannya kembali ke saku celana.

Ririn membentuk ‘o’ di mulut sambil mengangguk-angguk, “Ng … aku duluan, ya, Sunbae.”

“Oke,” ucap Luhan ringan, “Eh, tunggu dulu!”

Ririn berbalik canggung.

“Panggil saja aku Luhan. Negara kita kan tidak terlalu mempermasalahkan perbedaan umur seperti di sini. Atau kalau kau bersikeras, Lu Ge juga tak masalah. Asal jangan sunbae. Terkesan formal sekali,” ia berpikir sejenak, “Ah, tapi Luhan sajalah. Kau kan adiknya temanku. Jadi kau temanku juga,” jelas Luhan dengan aksen Beijing-nya diakhiri senyum.

Tak sadar, perlahan Ririn ikut tersenyum, “Oke, eh … Luhan.”

Luhan menatapnya sebentar, “Oh, ya,” ia merogoh saku celana, “Ini untukmu. Hitung-hitung hadiah pertemanan,” ia menyodorkan sesuatu yang tadi disimpannya di saku celana. Lollipop!

“Eh, serius?”

Luhan mengangguk, “Tadinya buat temanku, karena … haha, yah, dia sudah membantuku mengerjakan PR tadi pagi. Tapi untukmu sajalah.”

“Ah, kalau begitu berikan saja ke orangnya. Kenapa tiba-tiba jadi untukku, coba?” cengir Ririn tak enak sambil mengibas-ngibaskan tangan sungkan.

“Tak usah pikirkan dia. Dia terlalu sering kukasih. Yang ini untukmu,” coba Luhan lagi sambil menyodorkannya.

Akhirnya Ririn menerima dengan dua tangan dan membungkuk sekilas, “Terima kasih.”

Luhan dengan canggung balas membungkuk.

Buru-buru Ririn melesat mengambil buku yang dimaksud ke dalam kantor. Sebelum Choi Seonsaengnim sendiri yang menyusul.

Saat keluar, dilihatnya Luhan sudah bersama seorang gadis berambut panjang dan cantik. Mereka sedang berjalan sambil bercanda menuju kelas.

“Haha, kau lama sekali datangnya. Permennya sudah kumakan sendiri tadi,” tawa Luhan pada teman wanitanya yang merajuk.

“Ah, kau kan sudah janji, kalau kubantu harus memberi permen yang berbeda tiap hari. Hari ini perjanjiannya lollipop. Kau tahu kan, itu paling kusuka? Lalu kenapa kau malah memakannya?” rengek gadis itu manja lalu mendahului Luhan.

Luhan mengejarnya, “Kalau hanya lollipop, di manapun kau bisa …,” suara Luhan yang sedang membujuk gadis itu tenggelam di belokan. Tak terdengar oleh Ririn.

Ia menghela napas. Begitulah. Luhan terlalu populer dan dikagumi di sekolah. Bagaimana tidak? Ia termasuk salah satu andalan sekolah ini dalam kompetisi sepak bola. Begitu menurut informasi yang ia dapatkan dari orang-orang. Kakaknya, Kris, adalah sumber terakurat.

Tentu saja gadis yang bersama Luhan tadi membuatnya iri. Walaupun, gadis itu bisa jadi hanya teman sekelasnya. Wajar saja kan kalau dekat?

Ia menghembuskan napas lagi. Lalu memandang lollipop yang sejak tadi digenggamnya. Secara tidak langsung, permen itu sama saja bekas. Karena pemilik aslinya bukan ia. Tapi, bagaimanapun, ia sudah sangat senang tadi. Meski Luhan hanya menganggap teman. Ia sudah bersyukur. Memangnya apalagi yang diharapkannya? Haha, bodoh.

Ini mengingatkan Ririn pada film Peter Pan. Mengingatkan pada Tinker Bell. Biar saja Luhan menjadi Peter Pan. Ia juga tak pernah berharap jadi Wendy. Entah mengapa ia tak suka Wendy. Yang jelas, menjadi Tink sudah cukup baginya. Ia bisa jadi teman Peter Pan, sekaligus … perinya.

“Wu Ririn! Kenapa lama sekali?!” omel seorang wanita paruh baya entah datang dari mana.

“Maaf, Choi Seonsaengnim! ” khayalan Ririn seketika hancur berserakan.

Ah,  sampai nanti khayalan-kekanakan-ku. Ia buru-buru memasukkan lollipop itu ke saku baju.

***

Jangan lupa ripiw bebs😀

Author: blanco0719

EXO, Luhan, Baekhyun, KrAyHan, KaiBaek, singing, writing, drawing, imagining, photo-editing, fangirling 24/7, blogging, cholerist-melancholist, O, Cancer, 96line, ENFP-T

Here We Need Responsibilities. Thanks!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s