EXO Fanfiction Dorm

EXO as the Main Cast

[Prolog] The Music Box

2 Comments

req-themb

The Music Box

Cast : Luhan [EXO-M], OC // Minor Cast : find by yourself // Length : chaptered // Genre : thiller, family, psycho, horror, mystery

Music box playing, mind your steps

Creepy reading(?)

Mungkin di dunia ini manusia di lahirkan dan di beri kehidupan yang bermacam-macam, dengan kesialan dan keberuntungan yang mewarnai kehidupanmu. Percayalah, setiap orang memiliki kehidupan menakjubkan dan sepantasnya kamu selalu mensyukurinya.

Omong kosong.

Itu hanya bualan besar dari Guruku ketika aku putus asa dengan nilai jelek yang selalu kudapat setiap ulangan harian. Buktinya aku selalu di remedial walaupun aku sudah mati-matian belajar. Buktinya hidupku kelam seperti kopi hitam kesukaan Ayah.

Terkadang aku bertanya-tanya, kenapa aku dilahirkan dengan keadaan seperti ini? Dan terkadang aku berpikir, kapan aku mati?

Seperti orang gila memang ketika diriku berjalan ke sebuah taman tak terurus, memakai gaun berwarna biru pastel, dan menaiki ayunan kayu bertali tambang. Menatap dedaunan kering yang berdesir mengikuti arah angin. Dan aku suka melihat dedaunan kering itu sampai menghilang dari penglihatanku.

Berteriak bukan hal biasa bagiku di taman. Aku sering meneriakan, “Tolol! Bodoh! Keparat!” tanpa tahu alasan mengapa dan kepada siapakah aku berteriak demikian. Aku hanya mengikuti emosiku yang terkadang tidak stabil. Terkadang tinggi dan terkadang rendah. Namun sangat tidak adil ketika aku selesai berteriak―melampiaskan amarah, seorang wanita dengan mata kiri yang menjulur keluar, memperlihatkan saraf, otot, dan darah yang masih mengalir, menatapku dengan aneh. Membuat diriku takut setengah mati dan meninggalkan taman.

Ya, seperti inilah diriku.

Aku terlahir sebagai manusia normal. Mempunyai anggota tubuh yang lengkap, badan yang sehat, dan semuanya terlihat baik-baik saja. Bahkan aku mempunyai ‘teman’ khayalan.

Kita mempunyai teman khayalan. Tentu. Setiap orang memilikinya. Pernahkah kau mendengar cerita ibumu, tentang dirimu di umur kisaran empat atau lima tahun tengah berbicara sendiri? Dan kamu menjawab bahwa kamu tidak mengingat sama sekali kejadian tersebut.

Teman khayalanku… entahlah. Wajahnya tidak kuingat.

Tapi anehnya, aku masih ingat bahwa aku pernah mempunyai teman khayalan.

Aku ingat ketika kita bermain bersama di kamar. Aku berbicara padanya dan Ibu bertanya, “Kau bicara dengan siapa?”. Aku ingat ketika aku bermain ayunan bertali tambang itu dan bibiku menemukan aku terombang-ambing sendiri padahal pada saat itu aku belum bisa mendorong ayunan dengan kakiku.

Seiring berjalannya waktu, menurut teori para psikologis, teman khayalan akan menghilang dari penglihatan kita karena mata batin kita tidak berfungsi lagi atau juga karena makhluk halus malas menampakkan dirinya karena imajinasi orang dewasa telah lenyap. Orang dewasa bersikap realistis dan rasional dalam segi pandang terhadap dunia. Intinya, orang dewasa tidak percaya dengan takhayul atau hal-hal berbau fantasi.

Memang, semakin umurku bertambah, ia menghilang. Namun itu hanya tubuhnya, ia masih ada disini.

Suaranya masih kudengar, suara yang berat dan menyeramkan. Ia sering berbicara tepat di samping telingaku, hingga telinga kiriku selalu terasa panas. Hal itu terjadi beberapa tahun yang lalu dan sekarang semakin parah karena dia membisikkan hal-hal aneh padaku.

Kau tahu, tadi aku bertemu dengan pemuda, namanya Jo Hoseok kalau tidak salah. Dia baru tertabrak kereta dan badannya buyar. Ususnya kemana-mana, darah bercipratan, matanya bergelinding di rel….

“Hentikan!”

Dan aku sadar bahwa aku berada di kelas. Semua pandangan tertuju padaku. Aku meminta maaf dan kelas kembali seperti semula. Dan sialnya, dia berbisik kembali.

Setelah matanya bergelinding di rel, tulang-tulang berbalut urat berserakan, lambungnya terlindas rata, tengkoraknya pun rata, wajah tanpa mata, gigi yang terserakan, dan tulang hidung yang tampak menyatu dengan pipi kanan….

“Bisa kau hentikan semua ini?!”

“Yang di belakang, berbicara dengan siapa?” Guru Lee menunjukku.

Aku terdiam.

“Dia sudah gila,” gumam salah satu temanku, namun gumamannya terdengar ke seluruh penjuru kelas. “mungkin kewarasannya di bagi dengan seekor anjing.”

Mereka menertawaiku dengan keras. Aku tertunduk, aku memang tidak bisa apa-apa. Tidak ada yang membelaku, tidak ada yang mengerti keadaanku. Tidak mungkin jika aku menceritakan hal yang sebenarnya pada mereka. Mereka pasti lebih-lebih menghinaku.

Sejak saat itu, setiap aku menginjakkan kaki ke sekolah, mereka menertawaiku dan mengataiku gila, bodoh, anak aneh, dan sebagainya. Buruk memang perkataan mereka, namun yang lebih buruk lagi adalah sesuatu yang selalu menempel di telinga kiriku. Membisikkan hal-hal buruk dan membuatku tidak bisa tidur karenanya. Kantung mataku menebal dan kondisiku semakin lemah, sehingga aku tidak mempunyai tenaga untuk belajar.

Selama aku hidup, aku selalu ketakutan pada dunia luar; dunia yang sekali saja kamu salah arah, akan menyesal seumur hidup. Aku lebih sering mendekam di rumahku yang terbilang cukup besar. Jika aku berangkat sekolah, aku selalu menutup mataku selama perjalanan, untuk menghindari wajah-wajah mengerikan sekaligus menyedihkan melewati kendaraan.

Memang, mata batinku sepertinya masih aktif, sehingga aku sering melihat penampakan hantu. Anehnya, tetap saja aku tidak bisa melihat sesuatu-di-telinga-kiriku, walaupun aku mempunyai indra keenam.

Pagi itu aku bisa tidur selama lima jam. Tentu saja aku senang. Aku berangkat ke sekolah dengan riang. Setelah menyimpan tas, aku langsung berlari ke perpustakaan dan membaca buku—apa saja.

Sesuatu-di-telinga-kiriku tidak membisikkan hal aneh dan telinga kiri terasa sejuk. Mungkin dia sedang ada urusan.

Perpustakaan sekolahku sangat luas. Bahkan ada banyak buku-buku cerita yang menarik untuk di baca. Namun aku tertarik pada satu buku bersampul hitam, sepertinya menarik untuk di baca.

Aku membuka halaman pertama;

PERMAINAN HITAM
karya Kim Jun-Myeon

Permainan… hitam? Apa maksudnya? Aku membuka halaman kedua, yang berupa kata pengantar. Dan… sepertinya buku ini tidak ada cetakan ulang karena di tulis dengan pena bulu. Halaman ketiga, ada sebuah kata yang tidak aku mengerti;

Jika kau ikut campur, konsekuensi yang besar tertimpa padamu. Hanya anak putih yang boleh ikut campur. Anak hitam dilarang

Anak putih? Maksudnya anak berkulit cerah? Mmm… kulitku putih pucat. Dan sepertinya aku boleh membacanya.

Daftar isi :

-Permainan lemari
-Emag Imer Eht
-Dice game
-Mencari harta karun
-Dream Traveller
-Hide and Seek

Aku membuka halaman selanjutnya, namun kosong melompong. Hanya kertas putih lusuh tanpa tinta. Aku membuka halaman paling belakang, namun itu hanya tanda tangan sang penulis dengan kata-kata aneh yang tidak jelas rupanya.

Bel masuk terdengar. Dengan cepat, aku menyimpan buku tersebut pada tempatnya dan memasuki kelas.

***

Senang bersekolah?

“Ya, begitulah,” aku merebahkan diriku pada ranjang dan menatap langit-langit kamar.

Kau menemukan buku baru?

Aku terkejut, “Kau tau darimana? Dan tadi kau kemana memangnya? Telingaku sangat nyaman, tidak seperti sekarang.”

Sebenarnya aku ada di sekitarmu. Dan aku tertarik pada permainan lemari.

“Jangan membodohiku. Aku tidak akan memainkannya apapun hadiahnya. Aku lelah, ingin tidur. Kau jangan membisikkan yang aneh-aneh. Awas saja,” ujarku seraya memeluk boneka.

Ayolah, bermain dengan permainan lemari. Permainan lemari….

“Tidak mau.”

Aku janji akan membuatmu tidur nyenyak, aku janji. Ayolah, aku bosan membisikkan cerita-cerita itu dan kau tidak merespon apa-apa.

Setelah berpikir-pikir, akhirnya aku mengangguk. Sungguh, aku ingin tidur nyenyak dan menghilangkan kantung mata ini. Mungkin setelah tidur, aku mempunyai tenaga untuk belajar dan berbuat sesuatu.

Sekarang, kau ambil korek api.

Aku mengambil korek api yang berada di atas perapian.

Tutup semua jendela hingga semuanya gelap.

Dengan cepat, aku menutup semua gorden dan ruangan terlihat gelap, hanya remang-remang berwarna merah, hasil pencahayaan yang merembes ke gorden merahku.

Kau masuk ke dalam lemari.

Aku memasuki lemari dan duduk di tempat yang bisa ku masukkan tubuh mungil ini. Sesuatu-yang-ada-di-telinga-kiriku berkata―mirip mantra dengan suara dalamnya. Aku hanya bisa mengedip-ngedipkan mata, antara bingung dan ketakutan. Sayup-sayup, aku mendengar bisikan.

Tidak, ini bukan bisikannya.

Bisikan ini lebih banyak dan lebih menyeramkan.

Cepat nyalakan korek api atau kita akan terseret ke neraka.

Aku terkejut dan segera mengambil sebatang korek. Ugh, ini susah di nyalakan. Berulang kali aku mencoba tetap tidak bisa.

“Ayo, cepat,” aku gelisah.

Karena panik, aku menumpahkan batang korek api ke bawah dan menyalakannya, namun masih tidak bisa.

Krek…

Akhirnya korek menyala dan bisikan-bisikan berhenti. Aku menelan ludah dengan susah payah. Nafasku terengah-engah.

Maaf, aku ingin menjadi temanmu selamanya.

“Maksudmu?”

Akan kubawa kau bersamaku…

Api mati tertiup nafas seseorang. Hatiku semakin gelisah dan badanku bergetar hebat. Ibu, tolong aku.

“Me-Memangnya… kau akan membawaku kemana?”

Neraka

“Tidak!”

Dan semuanya pun menjadi gelap.

Hanya sebuah kotak musik yang terselip diantara pakaian menjadi saksi.

To Be Continued…

Hallo! Hehehe… ini ff horror-thriller pertama aku. Jadi masih amburadul gitu. Makasih udah baca ^_^

Author: bae.of.baek

fearless

2 thoughts on “[Prolog] The Music Box

  1. Ceritanya keren ^^ Aku suka yang kayak beginian. Thriller, horor, dark-fict, dan semacamnya bikin aku overdosis >< *Eh?*

    Lanjut ya ^^ Fighting :)9

  2. next thorr……seru bnget bacanya

Here We Need Responsibilities. Thanks!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s