EXO Fanfiction Dorm

EXO as the Main Cast

About Distance and Feeling(s)

10 Comments

tumblr_mjvf53zENA1rub0hvo1_500

Tittle                : About Distance and Feeling(s)

Author             : eezeeba ( @msgeil )

Length             : Oneshot (1980 words)

Genre               : Romance

Rating              : General

Casts               : Kim Jongin, Jung Soojung, Oh Sehun, Park Chanyeol

Disclaimer       : this fanfic originally written by eezeeba, no plagiarism in every diction and sentence. Happy reading! ^^

Udara dingin menusuk tulang. Langit tampak kelam sewarna jelaga tanpa satu bintang pun tertabur di atasnya. Sesekali angin berhembus, menyentuh tengkuk atau sekedar menerbangkan asap yang mengepul dari cangkir kopi dalam genggaman seorang namja.

Namja itu menengadahkan kepalanya, menyusuri langit malam dengan manik matanya yang bergerak perlahan. Tanpa mengalihkan pandangan disesapnya kopi hitam yang masih mengepul itu dari wadahnya, membawa kehangatan itu turun dari kerongkongan ke dadanya.

Ia sandarkan tangannya ke teralis besi yang membatasi balkonnya dengan ruang bebas. Menghela napas, menukar udara sesak di dadanya dengan hawa dingin yang kini memenuhi seluruh celah dalam tubuhnya.

What time is it where you are?

I miss you more than anything

Disana bahkan belum masuk tengah hari, kita tidak pernah menatap langit yang sama, Soojung-ah, bisiknya lirih pada angin malam yang membawa kata-katanya berlalu begitu saja.

Namja itu adalah Kim Jongin. Dan nama yang baru saja ia sebut merupakan milik seorang gadis yang dirindukannya, Jung Soojung.

Jongin kembali menyesap kopinya, berharap kepahitan dalam cairan hitam itu dapat membuatnya berpaling dari sesak di dadanya barang sekejap. Namun hal itu tidak pernah terjadi. Apapun yang ia lakukan, kerinduan itu akan tetap menggantung di sudut-sudut hatinya. Menjadikannya berat dan sesak sekalipun hanya untuk bernapas.

Ia ingin bertatap muka dengan gadis yang dicintainya. Ia hanya ingin dapat bersisian raga dengan gadis yang ia rindukan. Ia hanya ingin bertukar cerita dengan gadis itu sambil memandang senyuman yang ia rindukan. Ia ingin Jung Soojung.

Namun ribuan kilometer memisahkan raga mereka sekarang. Sementara Jongin menjadi mahasiswa di Seoul University, Soojung menempuh studinya di Otis College of Art and Design. Jarak yang ada memaksanya untuk mengulum pilu, 9.600 kilometer samasekali bukan jarak yang dekat. Sebagaimanapun rasa rindu itu menggerogoti pikiran dan hatinya, tanpa waktu yang cukup ia tak akan mampu melihat senyum gadis itu secara langsung.

It’s getting lonely living upside down

I don’t even wanna be in this town

Jarak itu tercipta sejak kelulusan mereka dari sekolah menengah atas. Cita-cita Soojung untuk menjadi fashion designer membuatnya harus terbang jauh-jauh ke Los Angeles. Sedangkan Jongin hanya dapat memendam rasa kecewa ketika gadis itu menyatakan keputusannya. Ia hanya ingin gadis itu bahagia, ia hanya ingin Soojung mendapatkan apa yang ia inginkan, tak mungkin baginya menahan langkah Soojung untuk menggapai keinginannya. Pun ia tak dapat mengekor gadis itu kemana saja. Kuliah di luar negeri? Bagi Jongin itu sesuatu yang mustahil, ia tak pernah mampu menghindari remedi dalam pelajaran bahasa Inggris, bagaimana bisa otaknya bekerja jika ia tak mengerti apapun dan siapapun disana?

Karena jika ia mampu, ke ujung dunia pun ia akan mengikuti seorang Jung Soojung.

Cause you know I’d walk a thousand miles if I could just see you….

Jongin lagi-lagi menghela napas, kopi di cangkirnya tak lagi mengepulkan asap putih. Angin di musim dingin tak butuh waktu lama untuk menguapkan segala kehangatan di sekelilingnya. Di hatinya sekalipun.

Tiba-tiba handphone di saku celananya bergetar singkat. Jongin menaruh cangkir yang tinggal terisi setengah itu ke meja kecil di sampingnya, kemudian merogoh saku untuk mengeluarkan handphone itu dari sana. Satu pesan. Satu pesan dari pengirim yang membuat senyumnya seketika merekah. Satu pesan yang tiba-tiba membuat seluruh tubuhnya terasa hangat.

Kkamjong-ah, aku jadi pulang besok lusa, kau harus menjemputku, eoh? Kau pasti merindukanku bukan?

Jongin tersenyum, tertawa kecil membaca pesan singkat itu.

Beban di dadanya seakan terangkat begitu saja. Diambilnya lagi cangkir berisi kopi yang tak lagi panas itu, meneguknya dalam sekali tarikan.

Bahkan kopi dingin itu sekarang terasa hangat di dadanya.

***

What time is it where you are?

Two more days and I’ll be home

Seorang gadis berambut cokelat tua tampak sedang menyesap cappucino dari cangkir porselen yang digenggamnya. Café tempatnya berada sekarang tampak lengang, beberapa waiter dan waitress pirang bahkan memainkan gadget mereka dengan santai di tempatnya masing-masing. Gadis itu – Jung Soojung, kemudian memeriksa arloji di tangannya, mendapati jarum pendek menunjuk angka 11.

Aish, baru jam 11 siang, berarti di Seoul sudah tengah malam, pantas saja tidak ada yang membalas pesanku, keluhnya entah pada siapa sambil menghembuskan napasnya kuat-kuat.

Soojung kemudian menyambar lava cake yang tersaji di hadapannya dengan kesal. Gadis itu baru saja mengabarkan kepulangannya lewat pesan singkat pada namjachingu dan beberapa teman dekatnya, tapi 15 menit menunggu, tak ada satupun balasan yang masuk ke inboxnya.

Apa mereka sebahagia itu tahu aku akan pulang sampai-sampai pesanku tidak dibalas? Tanyanya kesal dalam hati. Ia mengalihkan pandangannya ke jendela kaca besar yang ada di sebelahnya, memandang Westchester Park yang juga tampak lengang.

Let me go home

I’m just too far from where you are

I wanna come home

And I know why you could not come along with me

This was not your dream

But you always believed in me

Soojung menghela napas. Memerhatikan entah apa di luar jendela. Lantunan lagu Home milik Michael Buble membuat perasaannya seketika seperti diaduk-aduk.

Bogoshipeo, ia merintih kecil dalam hatinya.

Ia teringat saat ia menyatakan bahwa ia ingin kuliah di Los Angeles, saat namjachingunya mengangguk dengan tetesan airmata. Ia ingat saat mereka berjanji untuk saling menunggu dalam kesetiaan. Ia ingat janjinya agar jarak tak menjadi penghalang jalinan perasaan mereka. Ia ingat…bagaimana berat hatinya meninggalkan Seoul. Meninggalkan keluarganya. Meninggalkan pasangannya. Meninggalkan sahabat-sahabatnya. Bagaimana minggu-minggu pertamanya diisi dengan isakan airmata, dengan perasaan ingin menyerah, dengan perasaan ingin kembali ke Korea setiap detiknya, ia ingat. Soojung juga tak pernah lupa, namjachingunya lah yang selalu mengingatkannya untuk tidak menyerah, bahwa ini semua demi cita-citanya, bahwa ia pergi jauh agar suatu saat bisa menjadi apa yang ia inginkan, dan namja itu juga lah yang selalu minta maaf karena tak bisa ada di sisinya, karena tak mampu berada disana bersamanya. Jung Soojung ingat.

Ponsel yang ia letakkan di sisi cangkir cappucinonya akhirnya bergetar. Soojung tergesa memungutnya. Tersenyum ketika mengetahui 2 pesan masuk.

Just a little bit more, darling, I miss you more than anything.

***

Seperti biasa, Bandara Incheon sore itu ramai riuh. Jongin memusatkan pandangannya pada pintu keluar, sedikit tak sabar menunggu gadis itu muncul dari sana. Baru sekitar 3 menit ia berdiri di titik yang ia pijak sekarang, tapi sudah ratusan kali bola matanya bergeser kesana-kemari, mencari-cari sosok yang ia ingin temui, takut melewatkan gadis itu begitu saja.

Dan matanya seketika berbinar sempurna melihat Jung Soojung berlari kecil ke arahnya.

Gadis itu dengan wajah ceria menarik koper pink miliknya. Rambutnya yang dibiarkan tergerai tampak berayun dengan bebas, sesekali menutupi wajah sempurna pemiliknya. Syal rajut marun yang dikenakannya tampak berantakan. Jongin tersenyum, memerhatikan betapa cantiknya gadis itu dalam balutan mantel sederhana yang ia pakai.

“Jagiyaaaaa!” Soojung bersorak kecil, melepaskan tangan dari pegangan kopernya dan seketika melemparkan dirinya dalam pelukan Oh Sehun.

Jongin hanya tersenyum.

Ia membisu sambil tetap menyunggingkan senyum melihat pasangan itu tertawa-tawa bahagia seolah lupa keberadaan orang lain di sekitar mereka. Ia dapat dengan jelas melihat wajah Soojung yang putih kemerahan tertawa lebar di pelukan Sehun, membiarkan Sehun berkali-kali mencium puncak kepalanya.

Chanyeol yang menyadari tatapan Jongin kemudian menepuk pundak namja itu. Jongin menoleh, tersenyum, seolah mengisyaratkan bahwa ia baik-baik saja.

“Aigooo Kkamjong dan ChanChan kalian semakin manis saja, eoh?” Soojung mengalungkan kedua lengannya di masing-masing pundak Jongin dan Chanyeol setelah mengakhiri sesi romantisnya dengan Sehun. Keduanya tergelak, Sehun hanya tertawa kecil melihat tingkah yeojachingunya.

“Bogoshipeo chinguuuu,” Chanyeol sengaja memanjangkan kata terakhirnya dengan bibir dikerucutkan, Soojung tertawa, menyambut bibir Chanyeol dengan mendorongnya kuat-kuat.

“Ckckck, gadis sombong, kau seharusnya langsung membungkuk ketika melihat kami, berterimakasih, bukan malah membully kami seperti ini,” goda Jongin, tentu saja tidak serius. Soojung menatapnya sebal, menggembungkan pipi sekaligus memajukan bibir bawahnya.

Astaga, Jung Soojung, jangan memasang wajah itu, jangan menggodaku seperti itu, tidak sadarkah betapa cantiknya dirimu? Jongin membatin sedih.

“Bogoshipeo,” kata Jongin akhirnya, Soojung kembali tersenyum, kemudian memeluknya pelan. Menaruh kepalanya di pundak Jongin, membuat hati namja itu kembali merasakan perih yang menjalar begitu saja.

“YA! Aku lapar, sampai kapan kita berada disini? Kajja! Kau harus mentraktir kami makan di restoran yang mahal, Jung Soojung!” celetuk Chanyeol yang sudah tidak tahan lagi menahan gejolak dalam perutnya yang kosong. Ketiga sahabatnya hanya tertawa, tapi kemudian Jongin dengan cepat mengacak rambut Chanyeol dengan kasar hingga namja itu hampir terjatuh (lagi).

“Kajja! Aku yang traktir…di kedai ddukbokki!”

“YA!” ucapan Soojung langsung menuai protes, ketiga namja itu serentak berteriak, memasang wajah kesal bercampur gemas.

Soojung berjalan menjauh terlebih dulu, menjulurkan lidahnya kemudian dengan bebas melenggang ke tempat parkir. Chanyeol bergegas berlari kecil mengejar Soojung yang tak henti-hentinya tertawa di kejauhan, sedangkan Sehun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, mendorong koper yeojachingunya yang ditelantarkan pemiliknya dengan sabar.

Jongin mengikuti langkah pelan Sehun dalam diam. Ia letakkan kedua tangan dalam saku celananya, memerhatikan ekspresi bahagia yang terpancar dari wajah Sehun meskipun namja itu membisu.

“Sehun-ah…” panggil Jongin pelan, Sehun menoleh ke arahnya mendapati Jongin yang tersenyum, seperti hendak mengatakan sesuatu.

“You two can’t ever be apart, Sehun-ah. Don’t ever leave her alone.”

***

Seorang namja terduduk sendirian di balkon kamar apartemennya. Seekor anjing pug berada di pangkuannya, dengan manja menaruh kepalanya di paha sang pemilik. Matanya yang bulat mengerjap-ngerjap lucu. Anjing itu semakin melingkarkan tubuhnya saat angin berhembus cukup kencang. Dedaunan bergemerisik. Suara halaman majalah di sebelahnya yang tersibak tertiup angin ikut memecah keheningan malam itu.

Namja itu mengeluarkan iPodnya, jari tangannya tampak sibuk menggeser-nggeser layar, memilih lagu yang ia ingin dengarkan.

It’s hard to deal with the pain of losing you everywhere I go

But I’m doing it

It’s hard to force that smile when I see our old friends and I’m alone

But I know I could do it over

I would trade, give away all the words that I saved in my heart that I left unspoken

What hurts the most

Is being so close

And having so much to say

And watching you walk away

Jongin bernyanyi lirih mengikuti irama dari lagu What Hurts The Most milik Rascal Flatts yang mengalun dari iPodnya. Anjing kecil di pangkuannya menggerang kesal, seakan terganggu oleh suara dari benda itu. Jongin yang menyadari reaksi anjingnya tersenyum, mengelus binatang itu dengan lembut.

“Kau terganggu, Boba-ya?” tanya Jongin seolah-olah anjing itu akan mengerti kata-katanya, “Boba-ya, masuk akal kah jika kau lebih merindukan orang yang sekarang berada dekat denganmu daripada ketika orang itu sedang jauh?”

Anjing bernama Boba itu hanya memperdengarkan dengkurannya, tapi Jongin tak menyerah. Seolah berbicara pada manusia, namja itu terus saja mencurahkan segala isi hatinya pada anjing yang tertidur pulas di pangkuannya.

“Aku namja bodoh, bukan? Bagaimana mungkin dulu aku melakukan kesalah sebodoh itu, Boba-ya?”

Jongin kembali memandang udara kosong di hadapannya. Mengingat bagaimana mereka berlima – ia, Sehun, Chanyeol, Soojung dan Jinri begitu dekat sebagai sahabat saat mereka masih SMA dulu. Seiring waktu yang bergulir perasaannya kepada Soojung berubah, dari yang tadinya hanya perasaan sebagai seorang teman, berganti menjadi pengagum yang ingin memiliki sosoknya. Namun semua terlambat, Jongin sadar ia terlambat ketika ternyata Sehun menyatakan perasaannya kepada Soojung terlebih dahulu. Ia sadar ia terlambat ketika tangan kedua sahabatnya terkait erat di hadapannya dengan senyum mengembang di wajah mereka. Ia sadar ia terlambat saat akhirnya ia hanya bisa mengutarakan perasaannya di depan Chanyeol dalam keadaan mabuk beberapa jam setelah ia tahu Sehun lah yang mendapatkan hati Soojung.

Jongin mengerti benar ia terlambat. Ia menghabiskan satu tahun mengagumi Soojung dengan persahabatan mereka sebagai bungkusnya, tanpa pernah berani mengakui betapa ia menyukai Jung Soojung. Sampai akhirnya Soojung menjadi milik Sehun, sampai akhirnya gadis itu menyatakan bahwa ia harus pergi jauh, bahkan sampai di titik ia tetap merindukan gadis yang terpisah ribuan kilometer darinya, bibir Jongin tak pernah kuasa mengungkapkan rasa sayang yang dipendamnya.

Ia tahu benar betapa Sehun mencintai Soojung dan bagaimana Soojung menyayangi namjachingunya. Jarak memang memisahkan raga mereka, tetapi pikiran dan perasaan Soojung tetap hanya milik Sehun setiap detiknya, begitu pula sebaliknya.

Dan Kim Jongin sadar, bukan jarak yang membatasinya dengan Soojung, tetapi perasaan. Perasaannya yang tak berbalas adalah jarak terjauh yang pernah ia tahu. Ketika Soojung kembali pun, ia tahu, jarak mereka tidak mendekat barang sejengkal, ia tetap merasa gadis itu berada di luar jangkauannya.

Angin berhembus sekali lagi, namja itu kemudian menitip senyum, mengulum getir dalam hatinya, membungkam rasa pedih yang dipendamnya kuat-kuat.

And not seeing that loving you,

Is what I was trying to do…

-END-

Oh hello world…

It’s been a month and I finally give birth (?) to a fanfiction again…there’s nothing I can say except ‘sorry’. Maaf ceritanya geje. Maaf fanfictionnya ga banget. Maaf semuanyaaaaa, dan tentu aku juga ngucapin makasih buat yang udah mau baca. Sekali lagi maafkan kegejean author saudara-saudara :”

Author: eezeeba

An overthinker. Crazily in love with potato chips. Loving Daughtry and Maroon 5 to death. Currently in delusional relationship with Oh Sehun and T.O.P.

10 thoughts on “About Distance and Feeling(s)

  1. Aduh sekaistal.. Sumpah aku bingung kalo mereka memperebutkan soojung, aku dukung kaistal dan sestal masalahnya haha :’)
    aku suka deh ffnya, apalagi main castnya.

  2. Siaal guue kenaa tiipu. Kirain kkaistal taunyaa sestal. Tpi gpp siih suka sama kedua paairing itu kok ttorrr hehehe

  3. Aduhhh kirain sama kkamjong eh ternyata sama mas thehun toh haha sekaistal emang top bgt deh.. salam kenal reader baru disini. Sering2 buat sekaistalnya ya

  4. Bagus thor, kata-katanya jg bagus. Kasian Jongin😦 galau mulu jadinya. Aku gak nyangka kalo pacarnya soojung ternyata si sehun bukan jongin. Unpredictable banget pokoknyaaa

  5. Gak nyangka ternyata pacarnya krystal sehun.. Kasian si kai.. Bener-bener tdk terduga.. Hahay
    Ini keren lho author bahasanya ringan dan mdh dimengerti..
    Biasanya kan kalo mau bikin cerita unpredictable kan bahasanya belet-belet bikin ribe.. Tp punya author beda. Kerenlah pokonya👍

Here We Need Responsibilities. Thanks!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s