EXO Fanfiction Dorm

EXO as the Main Cast

The Last Snowman

Leave a comment

Gambar

Tittle: The Last Snowman
Length: oneshoot
Genre: romance, sad
Main Cast: Taeyeon, Luhan
Rating: Teens
Disclaimer: Anyyeong readers-readers yang kece badai, disini author Lee Sinhyo bawa FF oneshoot baru, yang gak kalah abstrak dan ancur dari FF author yang lain. Mian kalau ceritanya gak nyambung atau kata-katanya gak pas! Mian juga karena ini ff pertama cast nya hyoyuk , mungkin masih ada beberapa nama yang gak keganti… Mohon dimaklumi yaa.. Oke langsung CEKIDOT!! Don’t forget to comment!
DANGER TYPO!
HAPPY READING!
SARANGHAE!


.
.
.
.
.


Author POV
Seorang namja berumur 10 tahun tersenyum riang melihat salju yang ia telah tunggu berbulan-bulan datang. Ia memamerkan giginya yang putih, menyambut kedatangan salju-salju itu. Matanya berbinar-binar membayangkan esok hari ia akan bermain bersama seluruh kapas-kapas putih itu bersama temannya.
Dirumah dan dikamar lain, seorang yeoja juga tersenyum, menunjukan eyesmile terbaiknya, sama dengan namja tadi, ia sangat bahagia atas kedatangan sisalju yang tak kunjung berhenti turun.
“eomma besok Taeng main salju neee, bersama oppa Lu!” Yeoja manis berumur 7 tahun yang menggemaskan itu sedang memohon kepada eommanya untuk mengizinkannya bermain salju esok hari.
“Ne boleh kok.. Sekarang Taengo tidur saja dulu, biar besok bisa main dengan semangat.” Eommanya dengan halus mengelus rambut pirang putri manisnya itu.
“Ne eomma.. Selamat malam..” Taeyeon siyeoja manis itu mencium pipi eommanya dan segera berlari menuju kamarnya.
Ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur biru besar dikamar nya yang juga serba biru. Ia menatap langit-langit kamarnya, dan terus bekerja keras untuk tidur. Matanya sesekali tertutup kemudian terbuka lagi, rasanya sulit sekali untuk tidur jika esok ada hari yang sangat dinanti-natikan.
“Taengooo ayolaahh kau harus tidur, ayoo tidur.” Taeyeon sigadis manis itu terus berusaha memejamkan matanya untuk dapat terlelap di alam mimpi.
Sedangkan dikamar lain Luhan juga tak bisa tertidur. Sama dengan Taeng ia terlalu senang dan terlalu bersemangat untuk bermain esok hari.
“Mata tidurlah… Tidur….” Luhan juga terus bekerja keras agar ia dapat tertidur.
Ya, sindrom para anak-anak jika esok hari bersalju adalah tak ada anak yang sabar menantikan hari itu, dan akhirnya mereka tak bisa tidur. Terutama jika hari itu ia puaskan bermain bersama teman dekatnya. Contohnya adalah seorang namja dan yeoja kecil yang sedang berusaha tidur ini, Taeyeon dan Luhan sahabat dekat yang tidak bisa dipisahkan.
THE LAST SNOWMAN
Pagi yang mereka nanti-nanti pun telah tiba. Seorang namja yang tadi malam kesulitan tidur itu sudah siap dan rapih untuk bermain, mantel berbulu tebal serta scarf sudah ia kenakan. Ia berlari dari rumahnya menuju rumah sahabat dekatnya itu dengan semangat.
“Waaahh Pagi dimusim dingin yang indah!” Luhan berhenti sejenak terpana melihat seluruh penjuru kota yang dipenuhi benda putih halus nan menyenangkan itu.
Kemudian ia berlari kembali menuju rumah sahabatnya yang kira-kira berjarak 1 kilometer dari rumahnya, sambil menenteng bungkusan plastik biru berisi topi dan scarf untuk manusia salju yang nanti akan mereka buat.
Sesampainya didepan rumah besar bertingkat 2 itu, ia segera mengetuk pintu rumah itu berulang kali dengan semangat, karena ia benar-benar tak sabar untuk bermain.
KNOCK! KNOCK!
“Taeng ini aku Lu Oppa keluarlah… Mari kita bermain…”
KNOCK! KNOCK!
Sekali lagi ia mengetuk pintu itu. Dan keluarlah Taeyeon dengan mantel dan topi berbulunya dari dalam rumah.
“Kyaaa Kyeopta! Neomu yeppoda!” Luhan terpanah melihat hari ini sahabat yang I a anggap sebagai adiknya sendiri nampak sangat cantik dan manis.
“Gomawo oppa.. Oppa bisa saja..” Taeng memukul lengan Luhan pelan, pipinya merona merah.
“Oppa aku sudah bawa wortelnyaaaa! Oppa bawa topi dan Scarf nyakan?”
“Ne oppa bawa kok! Kajaa pallii oppa tidak sabar membuat manusia salju..”
Dua anak kecil itu berlari menuju taman kota yang dipenuhi banyak anak-anak dan tentu juga dipenuhi banyak salju. Suasana ditaman kota sangatlah ramai dan menyenangkan.
“Kita buat disana saja Taeng!” Luhan menunjuk tempat dekat gundukan salju yan cukup besar. Tempat itu cukup sepi, jadi mereka bisa membuat manusia salju yang besar disana.
“Ne oppa kajja!”
Dengan semangat kedua anak kecil itu membuat manusia salju. Tak kenal rasa lelah, itu semua sudah terbayar atas kesenangan yang mereka lakukan.
“Cari ranting disana Taeng!” Tunjuk Luhan mengarahkan Taeyeon kesebuah pohon cemara besar, dengan banyak ranting yang berjatuhan disekitarnya.
Taeyeon segera berlari kearah pohon itu dan mengambil dua ranting yang ada dibawah pohon, dan segera menyerahkan nya kepada Luhan.
“Ini oppaa…. Sekarang giliran oppa mencari kerikil!”
Luhan meraba-raba jalan setapak taman yang dipenuhi salju.
“1… 2…. 3….. mana lagi kerikilnya Taeng?? Bantu aku disini! Cari dua lagi!”
Taeyeon ikut membantu mencari kerikil. Para orang-orang ditaman melihat mereka dengan tatapan lucu. Ya, mereka kedua sahabat yang sangat akrab, rukun dan menggemaskan.
“Aku menemumakan dua lagi oppa!” Taeyeon berteriak senang sambil menunjukan dua kerikil yang ia temukan tadi.
Luhan mengangkat jempolnya, isyarat bahwa ia ingin mengatakan “Taeng Hebat!” Mereka berduapun kembali asyik menghias manusia salju yang sedari tadi susah payah mereka buat.
“Letakan matanya disana… Aku akan memasang kancingnya.” Setiap tahun mereka akan asyik melakukan hal seperti ini. Membuat dan menghias manusia salju. Rasanya musim dingin tidak akan lengkap jika melawatkan hari tanpa membuat manusia salju.
“Tinggal hidungnya oppaaaa!” Taeyeon tersenyum gembira memberi eyesmile kepada sahabat yang ia diam-diam sukai.
“Ne! Biar oppa saja yang pasang, mana wortelnya?”
Taeyeon menyerahkan wortel yang ia letakkan dekat gundukan salju. Luhan pun meletakkan nya di wajah manusia salju yang mereka buat.
“Waaaa Daebak! tapi kurasa ada yang kurang oppa, apa ya?” Taeng dan Luhan sibuk berpikir apa yang kurang dari manusia salju yang mereka buat.
“Aha!” Eunhyuk berlari menuju plastik biru yang ia bawa dari rumah, dan mengeluarkan seluruh isi yang ada didalamnya.
“Ini yang kurang Taeng..” Luhan memakaikan scarf dan topi yang ia bawa dari rumah.
“Kyaaa! Manusia salju paling keren yang pernah kita buat sejak usia 4 tahun! Setuju?”
“Ne! kau benar!”
Kedua anak kecil itu tertawa gembira, bahagia sekali mereka bisa menghabiskan waktu mereka bersama terus seperti ini. Tak ada musim salju yang mereka lewati tanpa membuat manusia salju bersama.
“Apa kau lapar Taeng?”
“Ne! sangat…”
Luhan menyodorkan bekal yang ia bawa dari rumah.
“Ada dua roti, satu untukmu dan satu lagi untukku!” Senyumman dan kebaikan itulah yang membuat Taeyeon sangat menyayangi Luhan.
“Gomawo oppa..” Taeyeon mengambil sepotong kue cokelat itu dan kemudian langsung memakannya dengann lahap.
“Hahaha kau sangat rakus, kau lapar ya? Mau punyaku?” Dengan ramah Luhan menawarkan roti bagiannya.
“Aniyooo, oppa pasti juga lapar, makan sajaaa aku sudah kenyang kok. Lihat perutku sudah jadi buncit hehehe.” Dan tawa itulah yang membuat Luhan sangat menyayangi Taeyeon, namun hanya sebatas adik saja, Luhan tak tau perasaan yang Taeng miliki lebih besar daripada yang ia milikki, Taeyeon menyimpan sebuah keinginan yang lebih besar lagi kepada namja tampan itu, bukan hanya sebatas menjadi sahabat maupun adik.
THE LAST SNOWMAN
Taeyeon dan Luhan sudah beranjak besar, kini Luhan sudah menginjak umur 17 tahun sedangkan Taeyeon menginjak umur 14 tahun. Baru saja kemarin mereka melakukan ritual wajib setiap musim dingin, ya! Apa lagi kalau bukan membuat manusia salju. Seperti biasa Taeyeon yang membawa hidung wortelnya dan Luhan akan menyiapkan scarf dan topinya.
Mereka sudah beranjak dewasa, mereka mulai mengerti soal cinta, menulis diary, memiliki yeoja ataupun namja chingu, mereka sudah mulai mengenal itu semua.
Taeyeon siyeoja manis pemilik eyesmile terindah itu masih menyimpan keinginan besar menjadi pendamping namja yang ia idami itu, siapa lagi kalau bukan Luhan. Berbeda dengan Luhan yang sampai sekarang menganggap Taeyeon hanya sebatas adiknya saja, iapun belum menyadari keinginan Taeyeon menjadi pasangannya.
Taeyeon rutin tiap malam sehabis belajar untuk menyempatkan diri menulis diary. Sejak umur 10 ia mulai sering berkutak dengan pensil dan buku yang dipenuhi mimpi, curahan hati serta keinginannya itu. Seperti malam ini ia kembali mencurahkan isi hatinya dalam goresan tinta hitam dibuku diarynya.
Dear my snowy..
Masih sama seperti biasanya topik yang selalu kuceritakan padamu. LUHAN namja yang selalu kuidamkan menjadi pasanganku. Mungkin aku masih terlalu muda, tapi apa salahnya yeoja berumur 14 tahun ini memiliki cinta? Tidakkan… Biarkan aku bermimpi, biarkan aku mencoba, biarkan aku selalu ada didekatnya.
Aku rasa ia tak peka dengan apa yang kurasa, tapi aku berharap tak begitu. Kuharap dia tau, tau apa yang kurasa, memiliki rasa yang sama denganku. Tak mungkin aku selalu mengintipnya dari belakang tiang setiap hari. Bukan malu, tapi kesal, banyak sekali yeoja yang menghinggapinya. Kuharap tak satupun yang membuatnya tertarik..
Tak salahkah jika aku menyukai sahabat masa kecilku? Kurasa tidak! Kuharap juga begitu. Aku bimbang, dia mengganggapku apa ya? Apa hanya sebagai adiknya? Kuharap tidak, aku memiliki perasaan yang lebih besar dari itu.
Kurasa cukup untuk malam ini snowy
Sudah terlalu lelah untuk menulis -taeyeon

Ia tutup buku diary merahnya lalu ia letakkan kembalii ditempat penyimpanan rahasianya.
“Mimpi indah Taengooo..”
Taeyeon segera merebahkan tubuh diatas kasur dan kemudian segera terlelap didalam alam mimpi.
6 tahun kemudian….
Taeyeon POV
Aku dan sahabat dekatku Sunny sedang berada dikampus oppa Lu mengajar, ia menjadi dosen sekarang di sebuah universitas ternama diKorea. Apa yang ingin kulakukan? Aku hanya ingin melihat wajahnya saja kok!
“Kenapa kau harus mengumpat diam-diam seperti ini huh?!” Sunny yang agak kesal selalu menemaniku setiap pulang sekolah mengomel, itulah yang ia lakukan jika aku memintanya menemaniku kekampus oppa Luhan.
“ssstt… berisik kau! Kau taukan kalau aku mengaguminya..”
“Ya aku tauu sahabat terbaikku.. tetapi kenapa tidak langsung kau samperin saja sih? Takut? Malu?” Sunny memang sahabat terbaikku dan sahabat ku yang paling bawel.
“Aku takut mengganggunya sunn.. Apa kau tak liat ia sedang mengobrol dengan teman-temannya disana?”
“Yaa aku liat… Terserah kau sajalah Kim Taeyeon, tapi bagaimana kisah cintamu mau bangkit kalau begini caranya. Kau sih penakut!” Sunny mencibirku dan meledekku, yaaa aku sudah kebal dengan itu.
Sudah beberapa menit kami berada disitu, aku sudah tak tahan dengan ceramahan sahabatku ini. Maka itu kurasa kusudahi saja melihat oppa Luhannyaa, aku memutuskan mengajaknya jalan-jalan ke café dekat sini , lagipula aku juga ingin curhat dengannya.
Sesampainya di café…
“Kau ingin pesan apa sun?”
“hmmmm cappucino latte saja..”
“dua cappuccino latte yaa..” ucapku kepada sang pelayan disebelahku.
Setelah kami memesan pelayan itupun meninggalkan kami, dan akupun mulai meluapkan isi hatiku kepada yeoja didepanku.
“Sun.. apa menurutmu Luhan oppa menganggapku lebih dari yeoja lainnnya? Kuperhatikan banyak sekali yeoja yang dekat dengannya.” Dengan lesu aku memulai perbincangan.
“Kurasa ia lebih mengutamakanmu Taeng.. Buktinya saja ia masih selalu menyempatkan waktunya untuk membuat manusia salju saat musim dingin bersamamu, itu pembuktian yang kuat.” Ucap sunny. Jawabannya membuat hatiku tenang dan lega.
Sebelum aku melanjutkan kata-kataku pelayan datang dan membawakan pesanan kami berdua.
“Gomawooo” Ucap kami bersamaan setelah dua cup cappuccino latte itu ia letakkan dimeja kami.
“Baik kulanjutkan ne… Menurutmu ia menganggapku sebagai siapa sun? Sebagai adiknya saja atau lebih?”
“hmm ini sulit, kurasa hanya ialah yang bisa menjawab pertanyaan ini. Kalau tidak, bagaimana jika kau tanyakan saja?”
“apa kau gilaa, tentu aku malu..”
“Yaaa kalau kau benar-benar ingin tau apa salahnya mencoba, yakan?”
“hmm Kurasa itu benar sun.. Baiklah kucoba!”
“Itu baru yeoja kesayangankuuu…” Sunny menunjukan eyesmile terbaiknya untukku. Ia benar-benar sahabat terbaikku, tapi…
“Tapi kapan aku menanyakannya?”
“Hmmm…. Beberapa hari lagi saljukan??”
“Yaa sekitar 2 hari lagi..”
“Aku tauu, pasti kau nanti akan menjalankan ritualmu bersamanyakan? Nah! Disitulah waktu yang tepat untuk menanyakan hal tersebut.”
“Ide bagus! Gomawo sunnyyyy.. SARANGHAE”
“ne cheonma.. Pokoknya aku selalu mendukungmu Taengoo Hwaiting!!”
“Gomawo sun! Bagaimana dengan kisah cintamu dengan Xiu huh?!”
“Aiiisshh jangan begituuu aku maluu”
Cukup lama kami berbincang, hingga akhirnya pukul 5 sore kami kembali kerumah kami masing-masing. Sebagai tanda terimakasih karena sunny telah membantuku mencari solusinya kopi tadi aku yang traktir.
Ya, aku sangat menantikan 2 hari lagi. Aku tak sabar menanyakan hal itu kepada Luhan oppa. Aku juga tak sabar membuat manusia salju lagi bersamanya seperti tahun kemarin.

2 hari yang kunantikan tiba…

Hari ini, hari minggu yang bersalju, aku tak sabar pergi ketaman kota bersamanya, bersama namja yang sangat kuidamkan, siapa lagi kalau bukan oppa Luhan. Aku juga sangat ingin dan sangat penasaran akan jawaban oppa Lu nanti soal statusku dimatanya.
Segera aku bangkit dari tidurku dan menelfon oppa Luhan. Aku mencari namanya didaftar kontak, dan akhirnya ketemu!
“yeoboseyo.. oppa! Mari kita membuat manusia salju seperti biasa ditaman kota!” Dengan antusias aku membuka telewicara itu.
“Mian Taengoo oppa sibuk mengoreksi skripsi murid-murid oppa.. Mungkin besok tak apa nee??” Jawaban mengecawakan itu lah yang aku dapatkan dari namja diseberang telepon.
“aa..ah.. Ne oppa tak apa.” Dengan lesu aku menjawab.
Telewicara itupun selesai dengan singkat dan mengecewakan. Ya, mungkin masih ada kesempatan besok. Tapi entah mengapa hatiku sangat sedih, padahal masih banyak waktu untuk membuat manusia salju. Kurasa ini karena oppa yang menolak tawaranku, selama ini oppa tidak pernah sekalipun menolak ajakanku membuat manusia salju, biasanyapun ia yang mengajak bukan aku.
Untuk mengungkapkan kekecewaanku ini lebih baik aku mengundang Sunny kesini untuk menjadi teman curhatku.
“Yeobeseyo sun.. kemarilah cepat, aku ingin curhat denganmu!”
“Ne! Aku segera datang.”
Untung saja aku masih memiliki sahabat seperti dia, yang bisa menjadi teman curhatku kapanpun dan dimanapun. Dia juga selalu mendukung dan membantu percintaanku
Sekitar 15 menit aku menunggu, dan kini aku sudah mendengar suara mobil didepan rumahku. Aku segera berlari kepintu dan membukanya. Kulihat Sunny tengah keluar dai mobil yang namja chingunya kendarai.
“Gomawo Umin!”
“Apapun untukmu noona!”
Romantis sekali dua sejoli didepanku ini, aku hanya bisa tersenyum melihat mereka berdua. Kenapa percintaanku toidak sebaik mereka ya? Aku cemburu. Mungkin ini karena aku yang terlalu penakut mengungkapkan cinta, tidak seperti Sunny yang sangat pemberani, aku banyak belajar darinya.
“Kau tidak mampir Xiu..?” Tanyaku menawakan.
“Aniyoo, gomawo noona!” Xiumin segera menancap gasnya dan segera pergi meninggalkan rumahku. Sunnypun segera masuk kedalam setelah kupersilahkan. Kami masuk kekamarku dan aku segera memulai pembicaraan.
“Tidak repotkan kalau kamu harus menemaniku ngobrol disini?”
“Tenang saja.. apa sih yang merepotkan untuk sahabat terbaikku ini..??” Aku tersenyum manis, dia memang sahabat terbaik.
“gomawo sun.. Kau sangat serasi dan dekat yaa dengan Xiumin, aku cemburu, cinta ku tak sesukses dirimu..”
“Aku yakin suatu saat kamu pasti mendapatkan dan menemukan cinta sejatimu Taengoo..”
“gomawo sun.. Aku ingin curhat, aku kecewa dengan Lu oppa, ia tak bisa membuat manusia salju bersamaku..”
“Waeyo..?”
“Katanyasih.. oppa sibuk mengkoreksi skripsi muridnyaa..” Setelah mendengar itu Sunny menjitak keningku tapi dengan pelan.
“Yak! Kau pabo! Itu kan karena ia sedang sibuk kau harus mengerti.”
“Nee aku tau, tapi rasanya ia berbeda biasanyakan ia yang mengajakku membuat manusia salju, walau terkadang aku yang mengajaknya tapi selalu dituruti, tapi sekarang dia berbeda.”
“Kurasa ia sedang sibuk-sibuknya saja Kim Taeyeon, positif thingking sajalah..”
“Ne kau benar sun.. Mungkin aku saja yang mikirnya terlalu muluk-muluk.”
Aku dan Sunny pun asyik mengobrol dikamarku, membicarakan tentang banyak sekali hal. Hingga jam 5 ia pamit pulang. Aku menanti hari esok aku yakin oppa pasti bisa membuat manusia salju bersamaku, seperti apa kata Sunny, positif thingking!

THE LAST SNOWMAN

Aku bangun dari tidurku yang lelap, cahaya masuk melalui jendela kamar yang berada disampingku. Dengan semangat yang membara-bara aku mandi dengan cepat, dan segera menelfon oppa Luhan untuk mengajaknya ketaman bersama melakukan ritual tiap tahun kami. Dan aku masih ingin menanyakan tentang statusku itu.
“Yeoboseyo.. oppa..” Aku memulai telewicara tersebut.
“ne Taeng.. waeyo?”
“Kita ketaman kota ne! melakukan ritual setiap tahun kita oppa!”
“mm… Mian Taeng aku ada urusan.”
“Oooh ne tak apa oppa.”
Dengan lemas aku menjawab dan segera menutup telefon, ini kedua kalinya ia menolak ajakan ku, dan ini kedua kalinya juga aku kecewa dengannya. Kurasa aku tidak bisa berpositif thingking lagi.
Dengan lemas aku mengambil mantelku dan segera mengenakannya. Aku pergi keluar, ya, aku memutuskan untuk pergi ketaman sendiri, membuat manusia salju sendiri, kurasa itu akan menghibur diriku.
Kulihat dijalan banyak pasangan yang sedang bermesraan didinginnya salju. Cafetaria dipinggir kota Seoul ini juga dipenuhi dengan pasangan-pasangan yang sedang asyik bercanda gurau sedangkan aku? Aku hanya sendiri.
Tak lama kemudian aku sampai ditaman yang kutuju. Aku mencari tempat kosong untuk membuat manusia salju. Dan ketika itulah aku terkejut akan apa yang aku lihat.
“oppa…”
Aku melihat seorang namja sedang bermesraan dengan seorang yeoja cantik berambut panjang. Namja itu adalah Luhan oppa! Itu sungguh sesuatu yang sangat menusuk untukku.
“Jadi ini urusan penting yang oppa lakukan? Oppa sudah berubah..”
“Taengoo.. ”
Dengan cepat aku berlari menuju rumah dengan wajah yang merah dan dengan mata yang tak hentinya mengeluarkan tangisan. Liquid bening itu rasanya tak ingin berhenti keluar dari mataku.

Aku mendapat banyak sekali sms dari oppa Luhan.
‘Taeng maafkan oppa berbohong..’
‘Maafkan oppa, oppa tak sempat memberitahumu kalau oppa sudah memiliki seorang yeoja chingu.”
“Mian Taeng kau pasti kecewa dengan oppa.’
‘mian, oppa hanya mengangap mu sebatas adik oppa saja..’
Sekarang aku sudah tau statusku dimatanya. Ya aku mengerti oppa, ya memang kurasa aku yeoja bodoh, aku mengharapkan sebuah cinta kepada seseorang yang bahkan hanya menanggapku adiknya. Kau bodoh, bodoh, bodoh sekali Taeng..
Tahun lalu tahun terakhir kami membuatnya
Terakhir kali kami bertatap riang
Tahun dimana kami bersenang-senang dengan kapas putih itu

Dingin yan menjadi hangat bersamamu
Sedih yang menjadi riang denganmu
T’lah hilang begitu saja

Senyum nakal yang kita ukir
Tawa canda yang kita lontarkan
Kini hanya tersisa kenangan

Sihidung oranye mancung
Perut buncit berisi
Tangan ranting yang kokoh

Topi rajutan dikepalanya
Senyum ramah dari kerikil
Manusia salju yang setiap tahun kami buat

Tahun lalu tahun terakhir
Manusia salju terakhir
Kenangan indah bersamanya

.
.
.
.
.
FIN!
A/N: Selesai juga FF yang satu ini, oke diharap comment dan likenya yaaa gomawo ^.^ dan aku perlu bantuanmu disini HERE or HERE

Author: leesinhyo

02 line here. writing and editing is my soul.

Here We Need Responsibilities. Thanks!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s