EXO Fanfiction Dorm

EXO as the Main Cast

Tangled – A Definition [Chapter 1]

2 Comments

tangled

Tittle                : Tangled – A Definition [Chapter 1]

Author             : eezeeba

Length             : Chaptered (2200 words)

Genre               : Romance, Family, Friendship

Rating              : General

Casts                : Xi Luhan, Oh Sehun, Oh Seya (OC), Jung Soojung, Wu Yifan, Jung Sooyeon, etc (there might be additional casts in every chapter)

Disclaimer       : this fanfic originally written by eezeeba, no plagiarism in every diction and sentence. Happy reading! ^^

Everyone lives for their own dream. Without a dream, a human will never be living his/her life. But what happens when you have to sacrifice your dream? What to do when your dreams are scattered? Love is the answer. Tangled or untangled, let feeling decides its own destiny.

“Kenapa kau masih disini?”

“Eomma…kau ingin aku pergi?”

“Tentu saja. Sudah kubilang kau tidak usah menemuiku lagi.”

“Wae?”

“Aku benci melihat wajahmu. Apalagi mengingat namamu…”

“Kau yang menikahi Baba. Bukan salahku jika aku bermarga Xi, eomma. Kau yang menikahi laki-laki itu…”

“Dan darah lelaki sialan itu mengalir di nadimu, anak bodoh! Pergilah, Lu. Aku muak harus bertengkar denganmu.”

Luhan membalas tatapan benci dari wanita setengah baya di depannya dengan senyum tulus. Ia membungkuk, menegakkan tubuhnya sambil sekali lagi melempar senyum, kemudian berbalik, melangkah melewati pintu-pintu yang membawanya keluar dari bangunan kecil itu.

Luhan masih saja mengembangkan senyum saat tetesan airmata mengalir dari kedua matanya yang basah. Ditatapnya langit yang tampak muram, mendung menggantung di sudut-sudut langit. Luhan menghapus jejak airmata di wajah dengan tangannya. Menghembuskan napas. Sekali lagi menatap restoran kecil milik ibunya yang tampak lengang.

Kenapa kau harus membenciku seperti ini, eomma?

Ia kemudian membuka pintu mobil, menghempaskan tubuhnya di jok. Suara mesin menderu ketika Luhan memacu mobilnya. Namja itu lagi-lagi mencoba mengusir pikiran buruk yang tanpa permisi singgah di otaknya.

Wanita yang baru saja mengusirnya adalah ibu kandungnya sendiri. Dua puluh lima tahun lalu kedua orangtuanya bercerai. Ia baru berusia 3 tahun ketika ibunya memutuskan untuk pergi, meninggalkannya dengan sang ayah yang merupakan seorang pengusaha kelas kakap. Ayahnya yang berkebangsaan Cina membawa dan membesarkannya di Shanghai hingga ia lulus dari SMA dan melanjutkan kuliahnya di Yale University. Setelah menyelesaikan studinya, Luhan memutuskan untuk kembali ke Korea. Ia ingin mencari ibu yang dirindukannya. Namun tiga tahun silam, saat ia menunjukkan wajahnya pada ibu yang dulu mengandung dan melahirkannya, sumpah serapah lah yang ia terima. Ia juga baru mengetahui jika sang ibu telah menikah lagi dan memiliki 2 orang putra dan putri. Ia memiliki dua adik dari ibu yang sama.

Luhan memakirkan mobilnya di depan sebuah rumah bercat putih gading. Suara gemericik air terjun kecil yang sengaja dibuat di taman mengiringi langkahnya menuju pintu masuk. Ia akhirnya memutar gagang pintu, membukanya perlahan.

“Hyung!” suara Sehun, adik lelakinya, disambutnya dengan senyum samar. Luhan melepas sepatu dan menaruhnya di rak sebelum berjalan ke dalam rumah. Sehun sudah tersenyum lebar saat melihatnya masuk. Di tangannya terdapat obeng dan solder yang entah ia gunakan untuk apa. Cengiran bodoh Sehun disambut Luhan dengan acakan rambut.

“Ckckck, kenapa kalian selalu terlihat konyol saat bersama, huh?” kali ini suara Seya, adik kandung Sehun. Luhan menoleh, kemudian tanpa berpikir 2 kali langsung memeluk adik perempuannya itu.

“Aaaa Oppa waeeee??? Kau diusir eomma lagi?” Tanya Seya sedikit kesal saat tubuh Luhan yang berat ditumpukan pada kedua pundaknya. Luhan melepaskan pelukannya, mengangguk sambil memberikan isyarat ya-seperti-biasanya-tentu-saja-aku-diusir.

“Heol,” komentar Seya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Bogoshipeo, Seya-ya,” kata Luhan lagi. Seya merespon dengan menggembungkan pipi sambil memajukan bibir bawahnya.

“Ya! Hyung, kau tidak merindukanku?” Sehun yang sedang mengotak-atik CPU komputernya ikut menimpali. Luhan melemparkan kunci mobilnya, tepat mengenai kepala Sehun. Namja itu kemudian membalas dengan melemparkan obeng yang hampir mengenai pantat Luhan. Seya kembali memberengut.

“Ya ya ya, dosa apa yang dulu pernah kuperbuat hingga harus memiliki dua oppa bodoh seperti kalian?”

“Ya! Bisa-bisanya kau mengatai oppamu sendiri bodoh?!” protes Sehun sambil mengacungkan solder di tangannya. Seya hanya menyipitkan mata memandang tingkah kekanakan kakak-kakaknya.

“Lu oppa, sudah sebulan kau tidak pernah kesini lagi, kemana saja?” Tanya Seya pada Luhan setelah sukses membungkam Sehun dengan death glarenya.

“Aku hanya di Seoul, tidak kemana-mana. Hanya saja pekerjaanku sedang menumpuk, jadi ya…”

“Kau mengunjungi eomma tadi?”

Luhan untuk sesaat menatap tajam mata Seya yang memandangnya sayu. Ia selalu merasa ada sesuatu di iris kecokelatan adik perempuannya itu. Ya, dia melihat mata ibunya. Dan ya…Luhan begitu menyayangi Seya dan bahkan bersikap manja di depan adiknya karena di matanya, Seya adalah versi muda ibunya.

“Oppa…wae?” Tanya Seya memastikan saat Luhan malah memandangnya dengan intens selama beberapa detik.

“Ah, eoh. Aku tadi ke restoran eomma. Ngomong-omong, kalian tidak kuliah?”

“Ani, kelasku sore nanti,” jawab Seya sekenanya, kemudian berlalu untuk menyandarkan tubuhnya di sofa sambil membaca majalah entah apa yang digenggamnya.

Luhan melangkahkan kakinya menuju pantry di sudut ruangan. Mengangkat teko berisi orange juice lalu menuangnya memenuhi gelas yang ia siapkan. Sambil menyesap minuman itu, pandangannya tak lepas dari kedua adik tirinya yang tenggelam dalam kesibukan mereka masing-masing.

Tiga tahun lalu, saat ia datang pada ibunya, Seya ada disana, menyaksikan ibu mereka memaki, membentak dan mengusirnya. Seya mengerti bahwa ia adalah kakak seibunya, dan saat Luhan dengan kusut keluar dari rumah mereka, Seya menyusulnya. Memanggilnya “oppa”. Mengatakan bahwa ia dan Sehun menerimanya sebagai kakak mereka dan akan selalu membuka pintu bagi Luhan. Sejak saat itu, Luhan tak lagi menyalahkan kehidupan. Semua amarah karena penolakan kedua orangtuanya, meskipun tetap menyakitkan, tak lagi ia permasalahkan. Luhan merasa memiliki keluarga hanya ketika ia bersama kedua adiknya itu. Bagi Luhan, hanya memiliki Sehun dan Seya sudah cukup. Mungkin ia masih menyimpan harapan bahwa suatu hari ibunya akan mau menerimanya. Namun Luhan selalu tahu, hatinya sudah merasa lengkap dan nyaman ketika ia ada bersama kedua adiknya itu. Hanya satu tujuan dan cita-cita Luhan selama hidupnya, yakni ketika ia mewarisi perusahaan Babanya nanti, ia akan mengatasnamakan setengah dari saham ia miliki pada Seya dan Sehun agar kehidupan mereka terjamin.

Luhan meletakkan gelasnya yang telah kosong, kemudian berjalan lagi untuk memungut kunci mobil yang tadi ia lemparkan.

“Hyung, kau sudah mau pergi?” Tanya Sehun melihat Luhan kembali mengenakan jaket yang tadi ia lepaskan. Luhan hanya mengangguk, sekali lagi merapikan pakaiannya lalu mengambil tas kecil yang ia letakkan di meja.

“Oppa, tinggal lah dulu, kau bahkan belum satu jam berada disini,” komentar Seya yang kini telah menegakkan tubuhnya demi membujuk oppanya agar tidak pergi. Luhan tersenyum, mengacak pelan rambut Seya.

“Aku ada urusan, aku pergi dulu. Mungkin lusa aku kesini lagi,” pamit Luhan singkat. Sehun menatap Luhan bingung, dan tetap menatapnya seperti itu hingga sosok Luhan menghilang di balik pintu.

“Kaupikir Luhan oppa tidak apa-apa?” Seya kembali membuka suara. Sehun mengedikkan bahunya.

“Eotteokhae…perasaanku tidak enak,” Seya berujar lirih. Sehun akhirnya menengok, mendapati tatapan khawatir di mata Seya. Namja itu kemudian mengacak lembut rambut adiknya, seolah mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja.

“Kau juga mau pergi, oppa?” Tanya Seya saat Sehun bangkit dari kursi yang mereka duduki. Sehun mengangguk.

“Eoh, tadi sebelum Lu hyung pergi Soojung mengirim pesan. Ia ingin kami bertemu. Kau nanti sore kuliah dijemput Minho, kan?”

Seya mengangguk, membiarkan Sehun berlalu menuju kamarnya.

Ah wae….kenapa perasaanku tidak enak seperti ini?

***

Sehun mendapati Soojung duduk sendirian di café langganan mereka. Mata gadis itu sembab. Bahkan Soojung hanya menatap lemah ketika Sehun menarik kursi di hadapannya.

“Jungie-ya, wae? Ada apa? Kau baik-baik saja?” Tanya Sehun cemas melihat Soojung yang terlihat begitu berantakan.

“Sehun-ah…” panggil Soojung pelan, Sehun meraih tangan Soojung yang terkepal di atas meja, mengenggamnya hati-hati, menatap Soojung dengan lembut seperti biasanya, “Sooyeon eonnie akan dijodohkan.”

“Lalu? Kenapa kau sedih? Apa Sooyeon noona tidak ingin dijodokan?”

“Ani…” Soojung kemudian menengadahkan kepalanya, menatap manik mata Sehun yang juga sedang memandangnya, “ia akan dijodohkan dengan pewaris perusahaan Xi Corporation. Abeoji mengatakan bahwa Sooyeon eonnie akan menikah dengan pewaris Xi Corp karena Tuan Xi juga telah menyetujuinya. Merger perusaan J Ent. Dan Xi Corp. akan dimulai dari pernikahan eonnieku, Sehun-ah.”

Sehun merasakan sentakan yang keras dalam dadanya. Bola matanya bergerak-gerak gelisah. Menunggu kata-kata Soojung selanjutnya dengan jantung berdebar. Xi Corp? Jika benar Luhan hyung akan mewarisi perusahaan ayahnya, apa itu berarti….

“Bagaimana dengan kita jika kakakku menikah dengan kakakmu, Sehun-ah? Bagaimana…” tetesan-tetesan bening itu akhirnya tercurah dari mata sembab Soojung. Sehun melepaskan genggaman tangannya. Keningnya bertaut. Ada rasa takut dan sedih yang terselip dalam dadanya.

“Eottokhae…eottokhae Sehun-ah…” tangis Soojung semakin menjadi. Sehun masih membisu. Otaknya berputar cepat, menjadikan kepalanya terasa berat dan pening.

Luhan hyung, apa ini? Benarkah kau yang akan menikah dengan Jung Sooyeon? Tapi…hyung, kau tahu aku menjalin hubungan dengan Soojung. Hyung, ini tidak akan terjadi, bukan? Apa aku harus membuat kau gagal mewarisi perusahaan itu sehingga kau tidak harus menikahi Sooyeon noona? Ani…tidak mungkin. Seumur hidupnya, aku tahu Luhan hyung menginginkan perusahaan itu agar dapat menghidupi kami dan agar ia dapat lepas dari cengkeraman ayahnya. Hyung, eottokhae?

Sehun bangkit, menatap Soojung yang kini memandangnya dengan bingung.

“Kau mau kemana, Sehun-ah?”

“Aku akan mencoba bicara dengan Luhan hyung, Jungie-ya.”

“Sehunnie tunggu!” Soojung mencoba meraih lengan Sehun yang berlalu begitu cepat dari hadapannya. Namun gagal, namja itu melangkahkan kakinya secepat yang ia bisa menuju mobilnya di tempat parkir, meninggalkan Soojung terdiam dengan puluhan pertanyaan yang berkecamuk di dadanya.

***

Luhan sekali lagi menatap layar laptopnya lekat-lekat. Memainkan scroll di mousenya untuk menggerakkan halaman yang dibacanya. Sedetik kemudian Luhan melemparkan benda itu sekuat tenaga ke sudut ruangan. Mengepalkan tangannya. Terengah-engah mengatur napasnya.

Ige mwoya?” desis Luhan dengan kebencian dan amarah yang menguar dari setiap suku kata yang diucapkannya. Lelaki setengah baya yang berada di hadapannya menghela napas pelan, membuang muka dari tatapan buas Luhan.

JI AHJUSSI IGE MWOYA!” bentak Luhan tak terkendali. Lelaki itu akhirnya menatap Luhan lekat-lekat, mendapati matanya yang memerah dan berair.

“Berita itu benar, Luhan-ssi. Ayahmu, Tuan Xi, memanggil putra sulungnya untuk kembali ke perusahaan ini. Dia adalah kakakmu, namanya Yifan. Xi Yifan. Kau mungkin tidak pernah tahu, tetapi sebelum menikahi ibumu, ayahmu memiliki putra dari gadis yang tidak pernah dinikahinya. Anak itu adalah Yifan, kakakmu. Tidak ada yang pernah membahas skandal ini lagi, dan tidak ada yang tahu pula mengapa ayahmu tiba-tiba menginginkan putra sulungnya kembali.”

“Putra sulung? Tsk,” Luhan mendecak marah. Diambilnya jas yang ia sampirkan di kursi kerjanya. Berlalu melewati Ji ahjussi – sekretarisnya, tanpa mengucap pamit, bergegas menuju ruangan ayahnya yang ada di lantai teratas.

Saat itulah Luhan mendapati sepasang mata yang sedang menatapnya. Pada wajah namja itu senyum sinis melengkung samar. Pandangan matanya yang dingin mampu membuat Luhan merasakan kebencian yang dipendam olehnya. Keduanya akhirnya bertatapan.

“Kau pasti Xi Luhan,” sapa namja bermata tajam itu dengan santai. Luhan memandangnya jijik.

“Kau bahkan tidak berhak untuk berada di tempat ini,” balas Luhan dengan nada melecehkan. Namja itu tertawa pelan, menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Ah, adikku cukup bernyali juga, huh?”

“Adik? Cih. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah mengakuimu sebagai kakakku.”

Ani, baba akan menyuruhmu untuk memanggilku dengan panggilan ‘Yifan gege’. Tidakkah kau berpikir begitu, Luhannie?”

“Tutup mulutmu. Jangan berani menyebut namaku seperti itu. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah memanggilmu ‘gege’.”

Keduanya masih terus berpandangan hingga ayah mereka akhirnya tiba. Tidak ada yang mampu membuat Luhan berhenti menatap Yifan dengan tatapan jijik atau membuat Yifan berhenti tersenyum melecehkan Luhan.

Tidak ada yang mampu membuat kedua saudara itu berhenti membenci satu sama lain pada pertemuan pertama mereka.

***

“Oppa kau sudah pul…”

“Ya, Oh Seya, kau bisa menghubungi Luhan hyung tidak? Aku mencoba meneleponnya, tapi sepertinya ia mematikan ponselnya.”

“Kau juga sudah membaca berita itu, Oppa? Aku daritadi juga berusaha menguhubungi Luhan op…”

“Chamkaman, berita apa?”

“Kau bukan ingin mencari Luhan oppa karena berita itu?”

Sehun dan Seya akhirnya saling melempar tatapan tak mengerti.

“Berita tentang kedatangan putra sulung Tuan Xi, kakak Luhan oppa, kau tidak tahu?”

Sehun mengerutkan keningnya, “kakak Luhan hyung?”

Seya memutar tubuhnya, mencari-cari tabletnya yang entah tadi ia letakkan dimana. Beberapa detik kemudian Seya akhirnya menyodorkan benda itu pada Sehun yang masih menatapnya bingung.

“Ini beritanya, sedang menjadi hot topic saat ini, kau bisa membacanya sendiri, Oppa.”

Sehun menuruti kata-kata Seya, membaca setiap larik dalam berita di hadapannya dengan manik matanya yang bergerak cepat.

“Ini…ini sungguhan?” Tanya Sehun tak percaya. Seya mengangkat bahunya dengan lemah.

“Molla, maka dari itu aku ingin menghubungi Luhan oppa, tapi nomornya bahkan tidak aktif. Ani…kalau kau baru tahu berita ini, kenapa tadi kau mencari Luhan oppa?”

Pandangan mata Sehun kembali layu, ia menghempaskan tubuhnya di samping Seya. Memandang lurus tembok di hadapannya. Seya memandangnya tak mengerti.

“Wae, oppa? Ada apa?” Tanya gadis itu sekali lagi. Sehun menghembuskan napasnya kuat-kuat.

“Sooyeon noona, kakak Soojung, akan dinikahkan dengan pewaris Xi Corporation.”

“Mwo?” Seya membulatkan matanya. Sehun menoleh ke arah Seya yang masih menuntut penjelasan lebih darinya itu.

“Ya, Luhan hyung adalah pewaris Xi Corporation, yang berarti Sooyeon noona akan menikah dengan kakakku sendiri…”

“Ani…tidak lagi,” potong Seya dingin. Sehun menatap adiknya tak mengerti.

“Putra sulung tuan Xi telah kembali, oppa. Luhan hyung bukan lagi satu-satunya calon pewaris Xi Corporation.”

Sehun terdiam. Begitu pula Seya kembali membisu. Membiarkan keheningan menjadi penengah mereka selama beberapa saat.

“Jika Tuan Jung menyatakan bahwa ia akan menikahkan anaknya dengan pewaris Xi Corp, dan di hari yang sama Tuan Xi menyambut kedatangan putra sulungnya yang sebelumnya bahkan tidak pernah disebut-sebut, tidakkah kau pikir ini suatu kebetulan yang terlalu disengaja?” Seya kembali membuka suara.

“Mwoya….kau ini bicara apa…”

“Ani, oppa. Kupikir Tuan Jung pasti tahu soal Tuan Xi yang tiba-tiba mengakui Yifan sebagai putra sulungnya dan menyuruhnya kembali. Aku hanya berpikir bahwa mungkin dari awal, baik Tuan Jung dan Tuan Xi bukan bermaksud menikahkan Sooyeon eonnie dengan Luhan oppa, tapi dengan Yifan. Namun jika dugaanku benar, artinya…”

“Artinya Tuan Xi memang tidak pernah berniat menyerahkan perusahaan pada Luhan hyung,” potong Sehun cepat.

“Oppa, apa yang akan terjadi pada Luhan oppa? Jika benar haknya untuk menjadi pewaris Xi Corp diberikan pada Yifan, tidakkah kau pikir Luhan oppa akan kecewa? Selama hidupnya ia selalu menyebut-nyebut soal Xi Corp jika perusahaan itu telah jatuh ke tangannya. Namun jika Luhan oppa benar-benar mendapatkan perusahaan itu…apa yang akan kaulakukan agar Sooyeon eonnie tidak perlu menikah dengan Luhan oppa? Sehun oppa…uri eottokhae?”

Sehun terdiam. Tenggelam dalam pikirannya sendiri.

Luhan hyung, eottokhae?

TBC

Hai eezeeba is in the house yoooo! *ditampar* ehehe, ide geje dan absurdku kali ini rencananya aku tuangin ke dalam bentuk ff chaptered. ada yang mau baca ga ya T.T anyway, I’ll look forward for some feedbacks. semoga ada yg mau baca deh ya :” cast akan selalu berkembang dari satu chapter ke chapter selanjutnya. yg ga jelas di chapter ini, akan dijelasin lebih mendalam di chapter selanjutnya, jadi stay tune!!! *yakalo ada yg mau baca sih *kalo ga ada ywdc* hahaha apalagi buat yang suka sekaistal tunggu aja kim jongin bakal masuk di kehidupan cinta sehun – soojung *cielah*

Author: eezeeba

An overthinker. Crazily in love with potato chips. Loving Daughtry and Maroon 5 to death. Currently in delusional relationship with Oh Sehun and T.O.P.

2 thoughts on “Tangled – A Definition [Chapter 1]

  1. Omaigat terusin donk tor cepetan kangen banget lah sama akang kris jd mau tau nasib dia wqwqwq

  2. kyaa..! cpet diterusin ya oen..^0^
    keep writing

Here We Need Responsibilities. Thanks!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s