EXO Fanfiction Dorm

EXO as the Main Cast

Right Here Waiting For You

8 Comments

thumb (1)Title                 : Right Here Waiting For You

Author             : Soonja – eezeba

Cast                 : Kim Jongin, Jung Soojung (Krystal), Choi Yeseul (OC)

Genre              : Angst, Romance

Length             : One-shot

Rated              : PG-15

Author’s note  : Halo, jadi FF ini kubuat 2-3 tahun yang lalu, dan pernah kukirim sbg freelancer ke schooloffanfiction.wordpress.com. Tapi blog ini kemudian dipindah, dan FF ini juga akhirnya kehapus dr archive karena perpindahan itu. You won’t find this FF anywhere anymore, cuma disini aku post lg, dan ya castsnya dulu Kyuhyun dan Jinri, tapi untuk menyesuaikan aku ganti dan disini Jongin 6 tahun lebih tua dari Soojung. Dulu dipost under name soonja ya, gini dulu AUnya -> Yak, here I go dengan FF coincidental lagi😀 Sebenernya idenya muncul randomly, tapi ternyata eh ternyata, lagunya SM The Ballad – Miss You kok pas banget, hehe. Jadi kalau mau dibaca sambil dengerin itu bisa banget *plaakk* FF ini tentu saja masih penuh dengan kekurangan, maka dari itu, students SOFF yang rajin2, tolong bantu saya memperbaikinya *bow* so please read and enjoy this ^^

Oppa!” teriakku senang melihatnya datang lagi.

Jongin oppa tersenyum memandangku. Seperti biasa, tiap tahun baru ia datang kesini – ke panti ini – dengan membawa banyak hadiah untuk kami. Sudah tiga tahun aku selalu bersemangat setiap melihatnya membawakan boneka-boneka lucu untukku. Jongin oppa tampan sekali. Suaranya juga merdu, ia selalu berhasil meninabobokkanku yang biasanya menangis setiap kali ia pamit pulang.

Annyeong, Cantik,” ia menghampiriku, “selamat tahun baru.”

Ia mengulurkan boneka beruang besar berwarna cokelat yang begitu lembut. Kewalahan aku mengambilnya, memeluknya dengan lengan kecilku.

Gomawoyo, Oppa,” kataku tersipu. Jongin oppa mengelus kepalaku. Aku selalu suka saat ia membelai rambutku. Aku selalu suka saat tangannya ada di sekitarku. Aku suka sekali pada Jongin oppaku.

“Tahun ini kau akan bersikap lebih baik kan, Soojung-ah?” tanyanya tepat di wajahku, “kudengar tahun ini kau akan berulang tahun yang ke-8 ya?”

Aku mengangguk malu-malu. Jongin oppa tertawa kecil melihat ekspresiku, kemudian ia bangkit. Menggandengku untuk berkumpul dengan yang lainnya merayakan pergantian tahun ini.

Ya, Soojung-ah, jangan membuat Jongin terus-terusan di sampingmu, kasihan teman-temanmu yang lain,” goda ibu pengurus panti melihatku yang tak mau jauh-jauh dari Jongin oppa.

“Jongin oppa milikku,” kataku dengan nada marah. Orang-orang dewasa di sekitar kami tertawa, dengan gemas mencubit pipi tembamku.

“Iya Soojung-ah, aku milikmu kok,” sahut Jongin oppa yang juga ikut tertawa. Aku tersenyum lebar. Kueratkan pelukanku di lengannya.

Kupandang wajahnya yang sedang menengok ke arah lain. Jongin oppa sangat tampan! Lihat, hidungnya, matanya, bibirnya. Aku selalu refleks tersenyum saat memandangnya. Walaupun Jongin oppa 6 tahun lebih tua dariku, tapi tetap saja aku mengaguminya. Jongin oppa itu pangeranku. Suatu saat aku akan menjadi putrinya. Aku sayang sekali pada Jongin oppa. Ia baik, baik sekali. Ia selalu memanggilku ‘cantik’. Katanya aku yang tercantik. Katanya aku akan menjadi perempuan idealnya saat aku dewasa nanti. Ah, aku jadi tidak sabar untuk tumbuh dan menjadi wanita dewasa.

“Jongin Oppa, aku mau main ayunan denganmu,” bujukku manja saat seorang anak lain berusaha mendekatinya. Jongin oppa mengangguk semangat, menggandeng tanganku keluar. Sambil tertawa-tawa kami berlarian dengan kaki telanjang di taman panti. Pelan-pelan Jongin oppa mendorongku, mengayunku lembut.

“Kau akan selalu datang kan, Oppa? Sampai aku besar nanti, kau akan selalu datang kan?”

“Tentu, Cantik. Aku akan melihatmu tumbuh dari tahun ke tahun, aku yang akan melihatmu menjadi yeoja tercantik kalau kau sudah besar nanti,” jawabnya tenang.

Lagi-lagi senyuman itu merekah di wajahku. Jongin oppa…pokoknya kau milikku.

***

Menara Eiffel berdiri kokoh di ujung pandanganku. Kelap-kelipnya membiusku untuk terus terpaku padanya. Seandainya saja namja itu ada disini, seandainya saja aku tak sendirian pada saat-saat seindah ini, seandainya saja…seseorang memelukku di udara sedingin ini. Aku menghela napas, menengadah ke langit Paris yang hingar-bingarnya belum familiar untukku.

            Kita ada di bawah langit yang sama. Kita berpijak di bumi yang satu. Tapi dimana aku bisa menemukan bayangmu? Bagaimana caranya agar aku bisa menatap matamu?

***

Aku mengayunkan tubuhku sendiri di sini sejak beberapa jam yang lalu. Anak-anak lain tampak sibuk di dalam, bersemangat membuka kado yang kami terima dari dermawan-dermawan itu. Tapi aku tetap disini, tak bisa melepaskan mata dari pintu gerbang. Berharap Jongin oppa membukanya. Membawa boneka yang biasanya ia berikan untukku. Aku ingin Jongin oppaku datang!

Tahun berikutnya setelah hari itu, Jongin oppa tidak datang kesini. Begitu juga dengan tahun kemarin, dan mungkin tahun ini. Tiga tahun. Tiga kali juga aku menghabiskan waktuku disini setiap tanggal 1 Januari. Seharian berharap Jongin oppa akan menampakkan wajahnya. Mengunjungi kami dengan banyak hadiah yang ia bawa. Tapi bukan…aku bukan ingin hadiah-hadiah itu, aku ingin Jongin oppaku! Oppa dimana? Kenapa ia tak pernah datang lagi? Apa ia sibuk? Apa ia lupa pada kami? Apa ia lupa padaku? Tapi kan…Jongin Oppa sudah janji! Ia harus datang kali ini! Pokoknya harus datang!

Aku mengelap airmata yang mendesak keluar dari sudut-sudut mataku. Aku ingin menangis sambil berteriak seperti tahun lalu, tapi nanti ibu panti pasti memarahiku lagi. Sebisa mungkin aku tak bersuara. Menggigit bibirku kuat-kuat, membiarkan airmata  semakin deras membasahi wajahku. Aku lelah. Sebenarnya aku lelah menunggumu disini, Oppa. Apalagi jantungku bekerja lebih keras dari biasanya. Berdetak lebih cepat setiap melihat pintu itu terbuka, padahal bukan kau yang datang.

Oppa, apa kau lupa? Bukannya kau sendiri yang bilang? Oppa, kau jahat! Kau kira berharap pada sesuatu yang tidak pasti itu enak? Kau pikir aku bisa bahagia dengan harapan itu di hatiku? Oppa, kau harus datang!

***

            “Aku mencintaimu,” kata namja itu lembut.

            “Aku juga,” balas yeoja cantik di hadapannya, “tidak ada yeoja lain yang menunggumu di luar sana, kan? Apa benar hanya aku?”

            Namja itu tersenyum tulus, mengenggam tangan yeojanya kuat-kuat, dengan mata yang menatap tajam ia mendekatkan wajahnya, “hanya kau. Titik.”

***

“Soojung-ah,” panggil ibu panti dari dalam. Aku segera berlari masuk. Menemui beliau yang ternyata sedang berbincang dengan sepasang suami-istri. Masih muda, komentarku dalam hati.

“Soojung-ah, duduk sini,” ibu panti menepuk-nepuk kursi kosong di sebelahnya. Aku menurut. Duduk tenang sambil mendengarkan perbincangan mereka.

“Bagaimana, Cantik, apa kau mau tinggal bersama kami?” tanya ibu muda itu ramah. Aku segera memutar kepalaku, memandang ibu panti yang menatapku penuh sayang.

Shireo,” kataku pelan, “aku kan sudah bilang, aku tidak mau diadopsi.”

Aku beranjak, membalik badan kemudian berlari cepat ke kamar. Masih bisa kudengar ibu panti meminta maaf pada pasangan itu. Masa bodoh, aku tidak peduli. Aku ingin menunggu Jongin oppaku disini. Aku tidak ingin aku tak ada saat ia kembali menengok kami disini! Aku ingin menunggunya!

***

Ini sudah 7 tahun sejak kau tak pernah datang lagi kesini, Oppa. Aku tak ingin lelah menunggumu. Aku tak ingin berpikir kau sudah melupakanku, melupakan janjimu.  Aku tak ingin berhenti berharap suatu saat bisa bertemu denganmu.

Tapi, Oppa…aku tak lagi menunggumu disana. Aku tak lagi meunggumu di ayunan yang sama. Aku menunggumu dengan cita-cita, disini.

Kata mereka, kalau aku sukses dan punya nama, aku akan dengan mudah bertemu denganmu. Kata mereka, aku tak boleh hanya berdiam diri untuk menunggumu, aku harus melakukan sesuatu. Kata mereka, kalau aku mau berusaha, aku pasti bisa kembali menemuimu. Jadi, Oppa, aku disini, di tempat ini, untuk mengejar cita-citaku. Mengejar impianku untuk kembali bisa bersamamu.

Dari relasi ibu panti, aku dimasukkan ke sekolah model ini. Kata mereka, aku cantik, seperti katamu dulu, Oppa. Kalau suatu saat nanti wajahku muncul di majalah-majalah, dan aku bisa berlenggok dengan indah di atas catwalk, kau akan datang lagi, kan? Oppa?

***

“Nan jeongmal saranghae, Jagiya,” bisiknya lembut. Yeoja itu tersenyum.

            “Nado,” ia memutar kepala agar bisa menatap mata namja di depannya, “you’re the only.”

            “Aku tak akan pernah bisa menggantimu dengan siapapun.”

            “Jeongmal?”

            “Aku bersumpah. Kau segalanya,” namja itu mendekatkan wajahnya. Menyentuhkan bibir di permukaan kening yeojanya dengan lembut.

***

Aku mematut diriku di depan cermin. Staff lainnya sibuk mondar-mandir di sekelilingku. Hanya beberapa menit sebelum peragaan busana ini dimulai. Aku memutar kepalaku, pandanganku menyapu seluruh ruangan. Tak ada satu sudut pun yang tak terlihat ramai. Diam-diam aku terpaku pada satu sosok luar biasa cantik yang masih didandani oleh beberapa stylist.

“Dia Choi Yeseul, model internasional yang mereka bicarakan beberapa waktu lalu,” Luna eonnie mendekatiku, “Dia yang akan mengenakan main dress malam ini.”

Aku mengangguk-anggukkan kepalaku. Pantas saja, batinku.

“Krystal-ah, kau sudah siap?” tanya seorang EO.

Ne,”

Aku segera mempersiapkan diriku, tapi mataku rupanya belum mau lepas dari Yeseul sunbae yang terlihat mengagumkan dengan dress yang dipakainya.

Jagiya, fighting!” seorang namja tampan berjalan tenang ke arahnya. Mencium keningnya.

Chamkamannamja itu…kenapa, kenapa aku merasakan ada sesuatu pada dirinya?

***

“Kau beruntung sekali bisa mendapat beasiswa penuh disini,” kata seorang sunbae padaku. Aku hanya tersenyum.

            “Berapa usiamu, Krystal-ssi?” tanya seorang yang lain.

            “Delapan belas,” jawabku singkat.

            “Posturmu bagus, wajahmu juga manis, pantas saja kalau begitu,” komentarnya lagi.

            “Selamat datang di Paris, semoga bakatmu sama cantiknya dengan wajahmu itu,” seseorang menepuk pundakku.

            Oppa, aku disini. Di antara orang-orang yang bahkan belum kukenal.

            Oppa, bukannya aku tidak ingin lagi menunggumu, tapi aku ingin bertemu denganmu sebagai seseorang yang membanggakanmu, bukan sebaliknya.

            Oppa, kau masih milikku, kan? Karena kau lah alasanku melakukan segalanya. Kaulah motivasiku untuk terus belajar dalam hidupku. Karena kau, Oppa…hanya kau alasanku bertahan di atas semua ini.

***

Turun dari atas catwalk pun, aku tak bisa berhenti memikirkannya. Sambil duduk dan melepas high heels, aku terus sibuk dengan pikiran-pikiran di kepalaku. Sudah 15 tahun sejak aku terakhir kali melihatnya. Tapi…entahlah. Mana mungkin namja itu Kim Jongin-ku? Ah, tidak mungkin, kan?

Chukkhae,” seseorang mengulurkan tangannya di depan wajahku, “kau luar biasa di atas tadi.”

Aku mendongakkan kepalaku.

“Yeseul-ssi…”hanya itu yang bisa kukatakan, bahkan menjabat tangannya pun aku tak sanggup. Mataku tertumbuk pada sosok namja di belakangnya.

“Eummm, apa kau sangat sibuk?” tanyanya lagi, aku mengalihkan pandanganku. Tangan Yeseul sunbae masih teracung, dengan kikuk akhirnya aku menjabat tangannya. Sebisa mungkin menjaga ekspresi wajahku.

“Aku belum pernah melihatmu sebelumnya, kau model baru?”

Ne,”

“Dari agensi mana? Apa kau lulusan sekolah modeling?”

“Aku…aku lulusan dari akademi di Paris,” jawabku gugup. Ya Tuhan, bahkan untuk memandang wajah yeoja ini saja aku tak mampu.

“Kau sudah bekerja di agensi mana?”

“Belum, aku masih freelance, Yeseul-ssi.”

“Kau mau bekerja di tempatku?” tawarnya tiba-tiba, mau tidak mau aku menengadahkan kepalaku, “walaupun kau masih freshmen, tapi penampilanmu di atas tadi bagus sekali.”

Ia menyodorkan selembar kartu nama. Dengan ragu kuraih benda itu, mengamati setiap kata yang tertulis disana.

“Kau bisa memikirkannya dulu, kalau kau setuju, baru hubungi aku,” lanjutnya ramah. Aku tersenyum simpul.

“Kau tampak tidak tertarik, apa sudah ada orang lain yang memberimu tawaran semacam ini?” tanya namja di sampingnya yang melihatku tetap membisu.

Ani!” sergahku cepat, “aku…aku hanya belum tau apa yang harus kulakukan.”

Yeseul sunbae tersenyum, “Percaya padaku, orang-orang ini tau reputasiku kok,” ia menunjuk sekeliling.

Ne, Sunbae, akan kupikirkan,” jawabku pelan.

Geurae, kalau begitu aku pergi dulu, annyeonghaseyo, Krystal-ssi,” pamitnya. Namja di sampingnya ikut menundukkan kepala, kemudian berbalik sambil menggamit lengan Yeseul sunbae.

“Kau tadi berbicara dengannya?” Luna eonnie menepuk pundakku keras, sedangkan tangannya yang lain menunjuk Yeseul sunbae yang berjalan menuju pintu keluar.

Ne, waeyo, Eonnie?”

Daebak! Aku lihat tadi dia memberimu kartu nama, kau diajak bergabung dengannya?”

Ne,”

Daebak!!!” Luna eonnie melompat kecil, membuat orang-orang di sekitar kami menoleh.

“Ssstttt…memangnya kenapa sih?” tanyaku agak kesal.

“Kau bisa jadi model besar, Krystal-ah! Kalau kau tidak bodoh-bodoh amat, kau akan menerimanya, arasseo?”

“Biar kupikirkan dulu.”

“Ahh, wae? Kenapa ragu? Ini kesempatan emas! Itu artinya, Yeseul-ssi benar-benar terkesan padamu tadi.”

Ne, Eonnie, aku tau,” sahutku malas-malasan, “Tapi…namja yang di sampingnya tadi, siapa dia?”

Namja? Ohh…namanya Kim Jongin. Namjachingunya Choi Yeseul, malah kudengar mereka sudah bertunangan, wae?”

Setika wajahku pias. Aku tak bisa merasakan detak jantungku sendiri. Seluruh tubuhku terasa lemas. Bibirku hanya mampu bergetar, tak bisa digerakkan walau hanya untuk mengucap sepatah kata.

Oppa, itu benar dirimu?

            Oppa, bertahun-tahun hatiku penuh pertanyaan tentangmu, dan ternyata…kau sudah bahagia di sisi yeoja lain?

***

“Kenapa kau ingin menjadi model?”

            “Sebagai pekerjaan.”

            “Kenapa model?”

            “Entahlah, mungkin hanya itu yang bisa kulakukan.”

            “Kalau kau tidak jelas begini, kenapa kau susah-susah meninggalkan Seoul untuk datang kesini?”

            “Karena…aku menunggu seseorang.”

            “Apa hubungannya dengan karir sebagai seorang model?”

            “Kata mereka, kalau aku punya nama, dia akan mudah menemukanku kembali. Aku…aku hanya berharap dia bisa kembali ke sisiku.”

            “Seistimewa itukah dia?”

            “Dia lebih dari istimewa. Dia segalanya. Kim Jongin, namanya Kim Jongin. Dia alasanku untuk membuka mata di pagi hari, dan menutupnya dengan harapan di malam hari. Dia alasanku untuk bertahan, sekeras apapun hidupku. Dia cinta pertamaku, dan entahlah…aku berdoa, agar ia juga yang terakhir. Hanya dia. Hanya seorang Kim Jongin.”

***

Aku hanya bisa menatap nanar tiga boneka beruang besar yang kutata rapi di ranjangku.

Aku…aku tak tau kenapa aku seperti ini. Tak pernah lelah menunggunya. Tak pernah sedetik pun aku berhenti berharap. Aku terus bermimpi untuk bisa bertemu dengannya. Merasakan lembut tangannya. Memandang senyumannya. Aku selalu merasa Jongin oppa milikku, dan semua ini kulakukan hanya untuk kembali ada di sampingnya.

Oppa, aku tidak pernah tau bagaimana rasanya disayangi oleh orang yang biasanya mereka panggil eomma dan appa. Aku bahkan tidak tau wajah mereka. Aku tak tau apa eommaku pernah mendekap tubuh kecilku di dadanya. Aku tak tau apakah appaku menangis bahagia saat aku dilahirkan ke dunia. Jongin oppa, aku bahkan tak tau, apa sebenarnya aku ini diinginkan…

Tapi sejak kau hadir hari itu, aku tak pernah lagi mempertanyakan hidup yang rasa-rasanya tak pernah adil kepadaku. Aku tak ingin lagi mengadu pada langit. Aku tak ingin marah pada Tuhan. Aku merasa kau dikirimkan untukku. Aku melihatmu sebagai sosok yang sengaja dihadirkan agar aku berhenti mengeluh. Sejak saat itu, diriku penuh dengan namamu. Sejak kau mengatakan bahwa kau milikku, aku merasa hidupku sempurna.

Apa aku berlebihan, Oppa?

Tapi, aku tak pernah sebahagia itu dalam hidupku. Saat kau memanggilku dengan lembut, saat kau menggandeng tanganku, mengajakku berlarian, saat kau membelai rambutku, mengusap wajahku…Jongin Oppa, hanya kau yang mampu membuat hatiku merasa tenteram. Membuat jiwaku merasakan kehangatan, karena sebelumnya aku tak pernah merasakan itu.

Oppa, aku tidak seperti mereka yang hidup dalam dunia yang penuh kedamaian. Aku tidak terlahir dengan orangtua yang bisa menghangatkanku setiap saat. Aku tidak tumbuh dengan senyum dan doa mereka. Aku tidak hidup dengan bahu mereka yang seharusnya menjadi tempatku bersandar. Aku tidak hidup dalam angan-angan yang terlampau tinggi, karena sekedar berharap ada di dekatmu sudah cukup bagiku. Karena sekedar berharap kau milikku seakan mampu membuat duniaku sempurna.

Oppa, salahkah aku yang seperti ini?

***

“Yeseul-ah, bagaimana model yang waktu itu? Diterima tidak tawaranmu?”

“Diterima kok, tadi dia sudah telepon ke kantor, wae?” Yeseul balik bertanya. Jongin hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Kau bukan tertarik padanya, kan?” selidik Yeseul sambil mendekatkan wajahnya.

MWO? Tidak lah, mana mungkin,” Jongin cepat-cepat membantah, “satu saja sudah bikin kepikiran sepanjang hari, apalagi ada yang lain.”

Yeseul mencubit lengan Jongin gemas, tertawa kecil mendengar kata-katanya.

“Kau ini, mau jadi raja gombal, hah?”

Ani, jadi raja di hatimu saja sudah cukup.”

“Jongin-ah!” Yeseul sudah memukuli Jongin dengan sendok di tangannya. Membuat namja di depannya tergelak sambil berusaha menghindar.

“Ahh, mianhae…ahhh! Chagiya, mianhae,” Yeseul mengerucutkan bibirnya. Menaruh sendok itu di meja kembali.

“Awas nanti kalau omonganmu masih sok gombal seperti itu,” ancam Yeseul dengan wajah digarang-garangkan. Jongin hanya mengangguk sambil melemparkan evil-smirknya.

“Eh, Chagiya, ngomong-ngomong soal model yang kemarin itu, bagaimana kalau dia saja yang aku rekomendasikan untuk ikut fashion show di Jepang bulan depan?”

“Dia? Apa tidak terlalu dini? Kenapa kau yakin sekali?” tanya Jongin heran. Yeseul mengangkat bahunya.

“Entahlah, aku hanya merasa dia berbakat. Auranya…dia punya aura yang kuat. Kemarin saja saat ia berjalan, semua mata seakan terhipnotis, bagaimana? Aku lihat orangnya juga polos, cantik pula.”

“Terserah kau sajalah,” jawab Jongin cuek.

“Eummm, apa aku ajak dia makan malam bersama, ya? Kalau aku lebih dekat dengannya kan, urusan pekerjaan juga bisa lancar. Bagaimana?”
“Ide bagus, coba saja. Aku mendukung semua keputusanmu kok, Chagi.”

Saranghae,” Yeseul mengungkapkan rasa terimakasih dengan tatapan matanya. Jongin balas tersenyum.

Nado, uri Choi Yeseul, nan jeongmal saranghae.”

***

Oppa, aku merasa sekarang ini, sepantasnya aku sudah tak mengharapkanmu lagi.

Yeseul eonnie adalah yeoja yang luar biasa lembut. Ia baik, ramah, humoris, memesona pula. Kau beruntung bisa memilikinya, Oppa. Yeseul eonnie punya segalanya yang namja manapun inginkan. Oppa, aku tak ingin lagi ada di situ, di sisimu.

Aku tak akan membiarkan impianku bertolak belakang dengan kebahagianmu. Aku tak akan lagi berharap untuk bisa memilikimu. Setiap napas yang kau hembuskan, setiap senyum yang kau sunggingkan, derai tawa yang kau perdengarkan, semua itu hanya mungkin saat Yeseul eonnie di sisimu. Oppa, kau tau? Aku ingin mengatakannya padamu…bahwa aku ini Soojungmu. Aku lah gadis kecil yang dulu sering kau manjakan, walaupun hanya setahun sekali. Aku lah gadis kecil yang kau beri setitik harapan untuk selalu menatap hari depan. Oppa, ini aku, Choi Soojung.

Apa kalau kau mengingatnya, kau akan kembali disini, Oppa?

Tidak. Bahkan hatiku sendiri menyangkalnya. Dari caramu memandangnya, caramu berbicara padanya, caramu menggandeng tangannya…hanya Yeseul eonnie lah yang mengisi setiap ruang di hatimu. Bahkan orang lain bisa merasakan betapa kuat kau ingin menjaganya. Aku bisa membaca di wajahmu, bahwa kau ingin semua orang tau kalau Choi Yeseul adalah milikmu, dan kau akan selalu ada di sisinya, Jongin oppa.

Oppa, aku tidak marah. Aku juga tidak kecewa. Aku tidak merasa penantianku sia-sia. Aku ikut bahagia. Sungguh, Oppa…aku ikut bahagia. Meskipun mungkin jauh di dalam hati ini, aku akan selalu merindukanmu. Selalu.

***

“Krystal-ah! Gomawo sudah mau datang malam ini,” sambut Yeseul eonnie ceria saat aku datang ke perayaan ulangtahun agensinya. Jongin Oppa – yang tentu saja ada di sampingnya – ikut menyalamiku.

“Jadi, kemarin kalian sudah jadi makan malam berdua? Tampak akrab sekali malam ini,” komentar Jongin oppa saat Yeseul eonnie terus-terusan menggandeng tanganku.

Ne, kami sudah membicarakan banyak hal,” sahut Yeseul eonnie sambil menoleh ke arahku. Aku hanya mengangguk kecil sambil tersenyum.

“Ah ya, Krystal-ya, ada yang mau aku bicarakan padamu.”

Ya, Yeseul-ah, tidak sekalian kemarin?” tanya Jongin oppa yang terlihat agak kaget.

“Kenapa harus kemarin? Hari ini sajalah, sekalian bertemu dengan direktur,” Yeseul eonnie mengedipkan sebelah matanya kepadaku, “Kajja!”

YA! Aigoooya, Yeseul-ah!” Jongin oppa mengejar Yeseul eonnie yang sudah menarikku menuju keramaian lebih dulu.

“Tinggalkan kami berdua, aku banyak urusan dengan Krystal, Jongin-ah,” bujuk Yeseul eonnie lembut. Jongin oppa hanya tersenyum, kemudian berjalan menjauh setelah mencium pipi kanan yeojachingunya ini.

Dalam hati aku ingin menangis. Dadaku terasa sesak. Setulus apapun perasaanku padanya, wajar jika perasaan cemburu itu masih tersisa. Masih mengendap tiap kali mereka bermesraan di depanku. Yeseul eonnie kembali menarik lenganku, membimbingku masuk ke main hall yang sudah sesak dipenuhi tamu undangan.

Dengan kikuk aku hanya bisa terus mengekor Yeseul eonnie. Banyak orang terkenal yang bisa kutemui disini. Yeseul eonnie dengan semangat memperkenalkanku satu per satu pada hampir semua relasinya. Ia memang sosok yang hangat, walaupun aku merasa canggung disini, selama berada di dekatnya, aku pikir semuanya akan baik saja. Yeseul eonnie seolah tau apa yang kurasakan, setiap aku merasa kurang nyaman berbicara dengan seseorang, ia segera mengakhiri pembicaraan kami, sebaliknya juga begitu. Seolah ia tau dengan siapa saja aku ingin berbicara.

“Krystal-ah, kau sudah lelah?” tanyanya setelah kami berbincang dengan cukup banyak tamu lain, belum lagi entah sudah berapa gelas koktail yang kuhabiskan.

“Tidak juga, Eonnie,” dustaku.

“Kalau begitu, sekarang kita menghadap direktur saja, bagaimana? Ada posisi yang ingin kutawarkan padamu, kalau beliau melihatmu, pasti beliau juga langsung setuju.”

Mwo? Eh…emmm, maksudku, tawaran apa?”

“Untuk menjadi model di fashion show kami bulan depan! Kami akan mengadakan show besar di Tokyo, aku akan ikut, Jongin juga, jadi kau juga bisa mengajak siapapun yang kau mau, bagaimana?”

“Tapi, Eonnie…” aku baru saja akan menolak saat Jongin oppa berlari kecil ke arah kami.

“Yeseul-ah, kau mau pulang kapan? Aku harus pergi sekarang, kau ikut?” tanyanya.

“Eh? Kau ada acara ya?” Yeseul eonnie menoleh kepadaku, “tapi sepertinya aku masih harus meyakinkan beberapa hal pada hoobaeku ini. Kau duluan saja lah.”

Gwaenchana?”

Ne, tidak masalah. Aku bisa pulang dengan siapa lah nanti, bisa diatur,” jawab Yeseul eonnie sambil tersenyum.

“Benar tidak apa-apa? Memang masih ada urusan apa?” sekarang Jongin oppa yang memandangku.

“Ada lah, girls’ thing. Sudahlah, Chagi, tidak masalah kok. I’ll be okay.”

Geurae, kalau begitu aku duluan. Kau nanti hati-hati, ya. Krystal-ssi, annyeonghaseyo,” pamitnya pada kami berdua. Ciuman kilat itu mendarat di kening Yeseul eonnie. Lagi-lagi aku hanya bisa mengalihkan pandanganku. Menahan rasa sesak di dadaku.

Oppa, kau tau tidak, kupikir butuh lama bagiku untuk melupakanmu…

            Oppa, mianheyo, jeongmal mianheyo, untuk masih mencintaimu, untuk masih terluka saat kau merengkuh yeoja lain di hadapanku…

            Untuk merindumu walaupun kau ada di depan mataku,

            Mianheyo…

***

Aku mengerjap-ngerjapkan mataku. Rasa kantuk masih terasa menggelayut di kedua sudutnya. Belum lagi sisa menangis semalam, entah bagaimana rupaku hari ini.

Entah mengapa, aku merasa Yeseul eonnie tertarik sekali padaku. Semalam kami menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk membuatku menyetujui tawarannya. Yeseul eonnie memang tidak memaksa, tapi kelembutannya malah membuatku bercerita banyak dan…yah, akhirnya aku berkata iya. Aku sudah tak tau jam berapa aku keluar dari ball room semalam, untung saja aku tidak tertidur di dalam taksi mengingat sebenarnya aku sudah sangat lelah saat itu.

Bisa kurasakan ponselku bergetar, sebentar kemudian sudah nyaring menandakan bahwa ada panggilan masuk. Nama Luna Eonnie tertera di layar. Segera kupungut ponselku, menjawab panggilan itu.

Yeoboseyo.”

Ya! Krystal-ah, sudah ada yang memberitahumu belum?”

Mwo? Memangnya ada apa?”

“Semalam kau bersama Yeseul-ssi kan? Kata mereka kau bersama dengannya sampai larut, apa itu benar?”

Ne, waeyo?”

“Semalam kau pulang naik apa?”

“Taksi, tadinya Yeseul eonnie mau meminjam mobil kantornya untuk mengantarku, tapi aku menolak. Waeyo, Eonnie?”

Hening. Untuk beberapa saat hanya helaan napas kami masing-masing yang terdengar.

Eonnie, ada apa?” tanyaku pelan.

Yeseul-ssi ga…Yeseul-ssi kecelakaan semalam. Mobil kantor yang dikendarainya bertabrakan dengan truk dan oleng menghantam pagar pembatas jalan. Yeseul-ssi meninggal di tempat, Krystal-ah…”

Tuhan…

            Ya Tuhan, apa maksudMu kali ini?

***

Aku menekan bel apartemennya beberapa kali. Tetap tak ada jawaban.

Jongin oppa, tak bisakah sekedar aku melihat keadaanmu?

Di pemakaman Yeseul eonnie, bahkan kau tak datang samasekali. Mereka bilang kau tak mau mengangkat telepon atau bertemu dengan siapapun sejak kau mendengar kabar itu. Oppa, apa yang sebenarnya kau pikirkan? Kenapa kau tak mengantarnya untuk beristirahat? Apa kau tak ingin melihat wajahnya untuk yang terakhir kali?

“Jongin-ssi, ini aku, Krystal. Aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja, apa tak bisa kau membukakan pintu untukku?”

Sia-sia. Tetap tak ada jawaban. Aku sudah membalikkan badan saat kudengar pintu di belakangku berderit.

“Jongin-ssi?” tanyaku. Sedikit ragu ku dorong pintu itu. Perlahan aku masuk, pandanganku menyusuri setiap sudut ruangan.

“Jongin-ssi?” ulangku.

“Apa yang kalian bicarakan malam itu?” tanyanya parau.

Aku berbalik, kulihat ia duduk di sofa yang ada di sudut kanan ruangan. Matanya merah dan membengkak. Penampilannya sudah acak-acakkan. Botol alkohol berserakan di sekitarnya.

“Jongin-ssi, gwaenchana?”

“Kenapa malam itu kau harus bersamanya? Kenapa malam itu kau tak langsung mengiyakannya? KENAPA?!”

Aku menggigit bibirku yang bergetar hebat mendengar bentakannya. Nada bicaranya terdengar mengintimidasi, seolah-olah ia menyalahkanku atas kecelakaan malam itu. Ah, Ya Tuhan, jangan sampai seperti itu keadaannya…

WAE? WAE KRYSTAL-AH? KENAPA KAU TIDAK LANGSUNG BILANG IYA? Seandainya malam itu dia tidak memintaku pulang duluan…seandainya malam itu ia tidak bersamamu, ia masih akan ada disini, di sisiku!”

“Apa yang kau bicarakan, Jongin-ssi?” airmataku sudah tumpah. Membasahi wajah dan leherku. Jongin oppa masih menatapku dengan tatapan benci.

“Aku mencintainya, aku sangat mencintainya! Dia segalanya bagiku, kenapa dia harus pergi? Kenapa dia meninggalkanku? Kenapa?!” Jongin oppa sudah tergugu di lantai, “Aku benci kenyataan ini! Aku tak bisa walau hanya untuk menatap wajahnya. Aku tak bisa menatap matanya kalau ia tak mampu membalas tatapanku! Aku…ya! Kenapa kau menahannya malam itu? kenapa dia harus mengendarai mobil sialan itu sendirian? Kenapa ia harus pergi? Wae? WAE?!”

Teriakan Jongin oppa terdengar begitu memilukan. Aku hanya bisa menundukkan kepala, membiarkan airmataku jatuh.

“Kau tidak bisa mengembalikannya, kan?! Lalu untuk apa kau kesini, hah? Apa kau bisa mengulang waktu?”

Oppa, tapi…tapi itu bukan salahku,” sergahku takut-takut. Suaraku yang bergetar tak terdengar jelas, sepasang mata itu memandangku tak mengerti.

“Dia belum boleh pergi, BELUM! Apa ia tidak tau betapa aku mencintainya? Betapa aku terbiasa dengan ia di sisiku? Apa ia lupa? Wae? Kenapa masih berdiri disitu, apa kau bisa menjawab pertanyaanku? Apa kau bisa membuatnya kembali disini? Jawab! JAWAB AKU!”

“Jongin oppa…”

“Pergilah,” desisnya dingin, “Pergilah, dan jangan sekali-kali datang kepadaku lagi.”

Jongin oppa, apa benar ini salahku?

            Jongin oppa, bahkan aku belum sempat menyatakan cintaku, dan sekarang kau malah membenciku?

            Jongin oppa, siapa yang bisa aku salahkan? Takdir? Waktu?

            Jongin oppa, bisakah kumohon padaku agar tak membenciku?

***

Jongin menatap setiap boneka itu lekat-lekat. Menyentuhnya satu persatu, baru kemudian memungut selembar surat yang memang diselipkan disitu.

Perlahan ia membukanya, mengamati setiap deret kalimat yang tertulis dengan rapi diatasnya,

Oppa, ini aku, mungkin setelah aku lulus dari Paris, mereka memanggilku Jung Krystal. Tapi, Oppa, ini aku. Ini Jung Soojung.       

            Iya, aku anak yang tinggal di panti asuhan itu. Panti asuhan yang dikelola keluargamu. Panti asuhan tempat kau berbagi kebahagiaan setiap awal tahun. Ini aku, Oppa, yang biasa kau panggil ‘cantik’. Ini aku, yang dulu kau janjikan untuk ada di sisiku.

            Jongin oppa, apa kau ingat kau pernah berkata bahwa kau adalah milikku?

            Mungkin kau hanya bercanda, tapi bagi anak yang haus akan kasih sayang sepertiku, kata-katamu itu bagaikan racun yang memengaruhi hidupku. Sejak pertama kali kau datang ke panti dulu, kau memperlakukanku bak seorang putri. Entahlah, aku merasa kau menginginkanku. Dan itu pertama kalinya aku merasa diinginkan oleh orang lain. Dengan kenyataan aku tak tau siapa orangtuaku, ada apa dengan mereka, dan kenapa aku dibesarkan disana, kehadiranmu adalah kado tahun baru terindah untukku.

            Oppa, sejak kau datang, aku tak pernah lagi bertanya kenapa Tuhan begitu kejamnya membiarkanku hidup tanpa belaian lembut dari orang yang telah melahirkanku. Aku tak peduli lagi. Yang aku mengerti hanyalah bahwa Tuhan mengirimmu untukku. Aku tak lagi mengeluh kenapa aku tak bisa berangkat sekolah bersama seorang ibu yang menggandeng tanganku, atau kenapa tak ada yang menggendongku di taman bermain saat kulihat ayah-ayah lain melakukannya. Oppa, kau menjawab semua pertanyaanku.

            Maka 15 tahun ini aku tak lelah menunggumu. Aku tak sedetik pun berhenti mencintaimu. Tak terbersit sedikit pun hasrat untuk membencimu.

            Melihatmu bahagia dengan Yeseul eonnie membuatku sadar, aku harus berhenti mengharapkanmu. Tapi aku tak sedih, aku tak marah, kecewa pun juga tidak. Aku baik saja, Oppa. Justru melihatmu yang berantakan sejak kepergian Yeseul eonnie lah yang mengahancurkanku.

            Jongin oppa, aku tak pernah punya cukup keberanian untuk sekedar mengatakan bahwa aku adalah Jung Soojung yang datang dari masalalumu. Aku takut kau sudah lupa, aku takut semua memori itu hanya aku sendirian yang menyimpannya. Tapi biarlah kali ini kukatakan semuanya, agar setidaknya kau tau, masih ada aku yang menyayangimu, bahkan sekalipun kau membenciku.

            Mianhaeyo, Oppa, kalau kau menganggap akulah yang mengakibatkan Yeseul eonnie meninggalkanmu. Tapi terbayang tentang hal semacam itu pun aku tak pernah. Oppa, demi Tuhan, aku tak bisa bahagia melihatmu menderita. Sesakit apapun hatiku melihat kalian bersama, rasa sakit itu adalah yang termanis yang bisa kurasakan.

            Oppa, kupikir lebih baik aku menjauh. Aku akan meninggalkan Seoul. Mengejar cita-citaku tanpa bayang-bayang kelam dari masa laluku.

            Tapi Oppa…seandainya kau inginkanku, atau sekedar ingin memakiku lagi, datanglah ke Eiffel Tower. Setiap malam aku akan ada disana. Karena aku memang takkan pernah lelah menunggumu, dan aku ingin ada saat kau membutuhkanku, yah…walaupun seperti yang kubilang tadi, sekedar untuk dicaci atau dibentak pun, aku ada, Oppa.

            Mianheyo, Oppa, tapi salahkah aku mencintaimu?

            Jung Soojung                                                  

Jongin menggenggam kertas itu erat-erat. Wajahnya sudah basah. Segala macam perasaan berkecamuk di hatinya. Membuatnya hanya bisa terus menangis di hadapan dinding kamar yang bahkan sudah muak melihatnya berlutut dan menghabiskan airmatanya.

Soojung-ah, wae? Kenapa kau harus mengatakannya di saat seperti ini? Apa yang harus kulakukan sekarang?

***

Mungkin memang disinilah tempatku.

Kuhela napasku dalam-dalam, membiarkan angin menerbangkan rambutku. Menghirupnya seakan semua ini obat atas laraku. Di bawah sana pemandangan malam Kota Paris terhampar indah. Luar biasa, seperti yang dulu, masih bisa membiusku dengan sejuta pesonanya.

Mungkin aku harus menjauh darimu, Oppa. Meninggalkan semua kenangan masa kecilku di puing-puing panti asuhan. Melupakan lukaku, mencoba menyembuhkannya dengan bekerja disini. Aku tak bisa tetap berada di Seoul, dengan berbagai hal yang dengan mudah mengingatkanku pada Yeseul eonnie. Setelah kukirimkan boneka-boneka dan surat itu padamu, kupikir tinggal di kota ini adalah yang terbaik.

Mianheyo, sengaja kukirimkan boneka itu sebagai bukti, bahwa aku adalah Soojung yang dulu kau sanjung setiap kita bertemu. Oppa, aku adalah Soojung yang tak jemu menunggumu. Aku adalah Soojung yang mencintaimu. Aku adalah yeoja yang ikut terluka saat kau terpuruk. Oppa, bahkan setelah semua yang terjadi, aku masih mencintaimu. Aku masih bernapas dengan namamu di setiap hembusannya. Jongin oppa, apa aku salah?

Oppa, ijinkan aku bertanya, walaupun hanya sedetik, pernahkah aku terlintas di pikiranmu?

            Disini…di Eiffel Tower ini, apa kau akan menginjakkan kakimu?

#####

            I’m a fool, you know me

            My heart’s been ripped apart, but I can only smile

            I’ll still be waiting for you ‘till forever

            As I will keep hiding my tears

            Would you come back to me?

            My love just can’t seem to reach you

            Just as much as the amount of tears that flowed, it’s still far away to go

            I have to forget you, I miss you so much

            Even if you never know how much it hurts, I will forget

            I think I can’t do it

            I can’t forget you

            Even if I just feel like dying

            I can’t let go of your love

            I’m alive this way…

            Miss You – SM The Ballad

Author: eezeeba

An overthinker. Crazily in love with potato chips. Loving Daughtry and Maroon 5 to death. Currently in delusional relationship with Oh Sehun and T.O.P.

8 thoughts on “Right Here Waiting For You

  1. Iiini sadd bnnget. Sihh. Tor.m. Njirrrrr nyyesek guee nyesekk. Dan kkok nngegantung bnget tor. Sequel pliss

  2. kakak ini keren banget sad nya wah gak tanggung” tapi akhirnya gantung bikin sequel dong kak. kan kasihan soojung kalau terus terusan nunggu jonin lebih lama lagi tampa kepastian

  3. gua nangis! !
    apalagi lihat endingnya yg ngegantung, air mata gua makin deresss…
    pliiis dibuatin sequelnya thor…..

  4. Sequel!!!! Sequel wajib thor gk mau tau, pokoknya soojung jongin harus satu gk mau tau titik. Mungkin jongin meemang bukan jodohnya yeseul tapi jodohnya soojung. Pokoknya harus sequel + happy ending titik.

  5. Yah seru padahal tp endingnya gantung. Kirain jongin bakal nyusul soojung… ,but i like it. 🙂

  6. gilaaa , sumpah demi apa ini sad banget , sequel dong kasihan soojungx😦

  7. kmpret endingnya gantungg_-

Here We Need Responsibilities. Thanks!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s