EXO Fanfiction Dorm

EXO as the Main Cast

Little Star

Leave a comment

tumblr_mx3j16gjTd1rn7onyo1_500

–Kai fanfiction | School Life

Other Casts: Jennie Kim, Oh Sehun.

Please, let my star rise on your night

Di suatu Sabtu yang tenang, di sebuah sekolah.

Kai menggaruk-garuk kepala, membaca tulisan tangan anak itu. Lebih tepatnya, gadis itu. Gadis yang duduk sekitar dua meter di bangku taman persis di depan Kai. Keningnya berkerut karena berpikir keras.

“Ah, otakku tiba-tiba susah berpikir,” kata gadis itu. Namanya Jennie Kim, dia anak baru. Seminggu lalu ia baru datang dari negeri Paman Sam. Dan tanpa sengaja sekelompok dengan Kai dalam tugas seni musik ini. Ya, satu kelompok hanya berdua. Hanya ia dan Jennie.

Kai tersenyum, “Sudahlah, mungkin kau sudah terlalu banyak memikirkan tugas ini. Makanya tidak ada ide yang keluar. Lagipula masih ada tiga minggu lagi.”

“Tapi, aku takut tidak selesai saat hari H.”

“Tidak apa-apa, santai saja. Kelompok lain bahkan belum selesai menulis lirik. Kau sudah mau menciptakan musik saja. Apa di sekolahmu dulu, murid-muridnya sepertimu juga?” Kai tertawa kecil demi mencairkan suasana.

“Tidak juga, sih …. Ngomong-ngomong, apa benar yang lain belum selesai lirik?” tanya Jennie sedikit lega.

“Uh … tadi aku tanya Ririn–yang duduk di belakangku, tahu, kan?–katanya belum,” dusta Kai. Sebenarnya ia tidak tahu apakah Ririn sudah selesai atau belum. Tapi yang ia tahu mengenai gadis itu dari pengalaman yang sudah-sudah, sepertinya belum.

Jennie mengangguk-angguk, “Kalau begitu, besok kita kerjakan lagi, ya?”

“Besok … Minggu?”

Jennie mengangguk lagi, “Di rumahku saja. Oh ya, apa ID Line-mu? Nanti kuberitahu alamatnya.”

Gadis itu bahkan tidak mau bersusah payah bertanya apakah Kai mau atau tidak. Akhirnya dengan ragu Kai menjawab, “Ah, itu … ID-ku … kaikim. Punyamu?”

“Jenniekim.”

Mereka terdiam. Mengetahui ID yang rasanya agak mirip, ternyata dapat menciptakan kecanggungan. Kai baru tahu.

Jennie langsung memecah keheningan, “Ya, sudah. Aku kembali ke kelas dulu, ya,” ia langsung berlalu meninggalkan Kai.

“Ya … memangnya dia pikir aku mau ke mana? Aneh. Padahal, kan, kami sekelas,” gumam Kai pelan sambil mengangkat bahu,

***

Kai duduk di bingkai jendela kamarnya yang rendah, menerawang memandangi langit serta merasakan semilir udara malam. Ia hampir selalu melakukan hal itu ketika langit berbintang. Namun kali ini, ia juga menelaah kejadian seminggu terakhir.

“Kai, menurutmu bagus tidak kalau kita bikin genre folk? Isi lagunya nanti mungkin … semacam cerita seorang anak perempuan yang merindukan temannya. Tapi temannya itu laki-laki. Jadi semacam kisah cinta, tapi ini cinta yang benar-benar polos.”

“Mm, sebentar,” Kai berpikir, “Sepertinya … boleh juga. Dari mana kau dapat ide itu? Jangan-jangan, kau sedang rindu temanmu, ya?”

“Ah, tidak juga. Haha,” Jennie menyangkal namun wajahnya bersemu merah.

Kalau dipikir-pikir, gadis itu lucu. Banyak ide dan enerjik. Dan juga, sepertinya bukan golongan gadis yang manja dan cengeng.

“Aku Jennie. Dan kau?”

Kai ragu menjawabnya. Jujur saja ia susah bertemu orang baru, “Kai,” jawabnya tanpa minat.

“Halo, Kai,” Jennie tersenyum hangat, “Senang bertemu denganmu. Dan kuharap kau pun senang bertemu denganku,” masih tersenyum penuh arti. Meski Kai tahu, Jennie tidak buta untuk melihat raut wajah Kai yang sama sekali tak terlihat senang.

Dari situ Kai jadi tahu. Gadis itu tidak peduli apa yang orang lain pikirkan tentangnya. Yang ia tahu, ia hanya ingin berkenalan dan menyelesaikan tugas. Persetan mau Kai suka atau tak suka.

Hari-hari berikutnya Kai sudah lebih menerima Jennie. Entahlah. Jennie tidak pernah melakukan sesuatu yang membuat Kai benci, seperti halnya gadis-gadis lain. Segala sesuatu yang dilakukannya terlihat natural. Ciri khas dirinya.

“Terkadang, kita perlu mengistirahatkan pikiran kita dari hal-hal yang membuat kita gelisah. Entah itu sedih, kesal, penyesalan, ataupun yang lainnya. Lalu berpikir bahwa aku adalah diriku. Jadi saat aku sedih, aku berusaha menghilangkan pikiranku dari orang-orang yang membuatku jatuh. Lalu menutup mataku dengan tangan, seperti ini,” Jennie mengangkat salah satu tangan Kai, membuat Kai sedikit terkejut namun tak bisa berbuat apa-apa. Kemudian, ia menaruh tangan itu menutupi kedua mata Kai.

“Pada dasarnya, orang lain juga tak pernah benar-benar peduli dengan kita sebelum diri mereka sendiri. Lalu mengapa aku harus peduli dengan memikirkan mereka, dan justru menyakiti diri sendiri?” Jennie menghela napas, “Itulah yang selalu kupikirkan saat menutup mata. Kemudian aku membuka mataku lagi dan mencoba melihat sesuatu yang indah. Misalnya, bunga.” Jennie menurunkan kembali tangan Kai, seiring dengan Kai yang membuka mata perlahan.

Saat itu, Kai langsung mendapati wajah Jennie. Dan entah mengapa, gadis itu menjadi terlihat indah dan anggun di matanya. Namun Kai buru-buru menyangkal. Bisa jadi itu cuma sugesti dari kata-kata Jennie tadi.

Ia lalu menyentuh tangan yang disentuh Jennie tadi. Mengapa … tangannya dingin? Ah, ini pasti karena menahan gugup tadi.

“Oh, sorry. Tadi aku hanya ingin mencontohkan,” ujar Jennie memperhatikan Kai yang sibuk dengan tangan sendiri.

Kai merasa tertangkap basah dan langsung tertawa canggung, “Ahaha, bukan masalah.

Ia menyentuh dadanya sendiri. Memikirkan kejadian-kejadian itu saja bisa membuat jantungnya berdegup kencang.

“Ada apa … denganku?”

“Kau sedang jatuh cinta.”

“Ya, mungkin saja. Eh, tapi tidak. Hanya karena aku kagum, bukan berarti cinta.”

“Apa kau selalu senang tiap melihatnya?”

Kai mengangguk.

“Apa kau selalu ingin di dekatnya?”

Kai mengangguk.

“Apa kau merasa ingin melindunginya dari hal-hal yang membuatnya terluka dan sedih?”

Kai berpikir sebentar. Namun kembali mengangguk.

“Berarti kau cinta.”

“Tapi, aku–”

Ya, bodoh! Berhenti berkhayal tentang si anak baru itu,” Sehun melemparinya dengan bantal.

Kai seperti baru tersadar. Ia teringat, ia tidak sendirian di kamar. Sedetik kemudian serangkaian kata-kata nan indah–dalam arti sebaliknya–pun keluar dari mulutnya, “Jadi yang dari tadi berbicara denganku itu kau?! Sial.”

“Menurutmu siapa lagi?”

“Siaal! Kupikir itu suara-suara di pikiranku.”

“Ciye, Jennie,” ujar Sehun datar.

“Ck, ah,” Kai kesal. Namun tiba-tiba, ia teringat sesuatu.

Kai segera menutup matanya dengan tangan selama beberapa detik. Kemudian membukanya kembali, dan memandang bintang-bintang yang jauh di atas sana. Sekarang, bintang-bintang yang berkerlip itu pun  jadi terlihat sangat indah di matanya.

Semoga hari esok pun akan indah, di rumah Jennie.

“Heh, kita jadi main tidak?!” bentak Sehun.

Oh, sial. Tidak akan indah selama bocah ini masih bersamanya.

***

Author: blanco0719

EXO, Luhan, Baekhyun, KrAyHan, KaiBaek, singing, writing, drawing, imagining, photo-editing, fangirling 24/7, blogging, cholerist-melancholist, O, Cancer, 96line, ENFP-T

Here We Need Responsibilities. Thanks!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s