EXO Fanfiction Dorm

EXO as the Main Cast

Presence

Leave a comment

f97dd473c9d8a40deec9d7a400b9b095

Tittle               : Presence

Author            : eezeeba

Length            : Vignette

Genre             : Romance, Angst

Rating             : General

Casts               : Kim Jongin, Yoo Lim (original female character)

Disclaimer      : this fanfic originally written by eezeeba, no plagiarism in every diction and sentence. Happy reading! ^^

Kamu memang tak pernah berubah.

Dalam keremangan lampu tempat kerjamu, aku masih dengan jelas melihat wajah kusut dengan mata jengahmu. Sesekali kamu selipkan jari-jari ke helai-helai rambut, tampak muak dengan apapun yang sekarang menjadi bebanmu. Kamu sering menghela napas, memijit pelan leher belakangmu, lelah kah?

Hanya suara pergeseran jarum jam yang kini mengisi ruangan. Kamu tak lagi menyentuh setumpuk kertas di hadapan, hanya menatap nanar pada jendela kaca yang mempertemukanmu dengan gemerlap cahaya warna-warni di luar sana. Kesepuluh jemarimu bergerak menaut, kini kamu terlihat seperti sedang mengajukan pinta pada Tuhan. Apa yang sedang kamu inginkan?

Sekali lagi kamu menghelas napas, membuka mata, menyapukan pandang ke seluruh ruangan. Apa yang kamu cari?

Akhirnya kamu menggeser mundur kursimu, kemudian bangkit sambil menyambar jas yang semula kausampirkan di kursi kerja. Berjalan cepat menuju pintu keluar. Hei, apa yang membuatmu tergesa?

Kamu masih saja terlihat berantakan saat menghempaskan pantatmu di jok mobil. Membanting pintu keras-keras, kemudian lagi-lagi memandang sayu. Entah apa kali ini yang menjadi objek pandanganmu, di hadapmu hanya ada tembok dengan gambar panah penunjuk arah keluar. Namun kamu tampak khusyu’ dalam keheningan. Bermenit-menit kamu tak mengalihkan pandangan, bahkan deru napasmu hampir tak terdengar. Hei, sedang memikirkan apa?

Tanganmu akhirnya bergerak menuju laci di dashboard, menariknya. Hingga akhirnya tampak juga benda yang sedang kamu cari. Selembar foto, selembar foto yang tiba-tiba membuat matamu memerah. Hanya dalam hitungan detik, kamu kalah. Kamu lagi-lagi menangis sesenggukan, mendekap foto itu di antara tangan dan dadamu. Tubuhmu naik turun, airmata sudah membasahi setiap lekukan di wajahmu.

Sesedih itukah kamu?

Kini aku yang menunduk. Tak bisa kukeluarkan kata-kata atau mengulurkan tangan untuk memelukmu. Hanya diam dan melihat segala duka yang kamu tanggung sendirian itu. Aku punya puluhan – tidak, ratusan kata yang ingin kuucapkan untuk menghiburmu, tapi aku tahu, tak satupun kata yang bisa mengeringkan luka di jiwamu. Segala penyesalan itu takkan enyah dengan penghiburan dari siapapun, aku mengerti.

Kupandangi wajah kuyumu yang sekarang sembab. Bibir tebalmu memutih, begitu juga kelopak matamu yang menebal. Kamu sekarang memandangi foto itu, cukup lama kamu tak berkedip, hanya membiarkan anak sungai itu deras mengalir di permukaan kulitmu.

“Yoo Lim…” kamu menyebut namaku dengan merintih. Jarimu kini sudah menari di atas foto itu, seolah berusaha menggapai wajahku yang tercetak disana.

“LIM!!!!!” kamu berteriak luar biasa. Memaksaku menatapmu tak percaya, dan sekarang lagi-lagi kamu menangis sesenggukan.

Ah, Kim Jongin, berhentilah.

Sungguh aku ingin mengatakan semua itu, sungguh aku ingin memeluk tubuhmu, mengatakan aku ada disini. Mengatakan padamu bahwa aku masih di sisi, tak pernah aku tinggalkan kamu barang sekejap.

Jongin, tak bisakah kamu rasakan aku masih disini?

***

Di hadapan Jongin kini ada sebuah pusara berukirkan nama kekasihnya.

Masih terlihat baru, batu marmer itu berkilauan memantulkan cahaya yang mengenainya.

Jongin berdiri tegap, menatap pusara di depannya dalam diam.

Raga gadis yang ia cintai telah terbujur kaku, atau entah malah mulai membusuk di dalam sana, ini sudah 3 bulan sejak sang gadis menutup mata selamanya.

Dalam hatinya, seakan ada beban ratusan ton yang menggantung disana, membuatnya sesak, membuat bernapas pun terasa menyakitkan.

Karena Jongin tahu, gadis itu mati karena dirinya.

Jika ia tak menghamili gadisnya, jika ia tak malah membentak kemudian kabur untuk minum-minum ke bar. Jika saja saat mabuk ia tak menelpon gadis itu untuk berceracau bahwa ia tak mau bertanggungjawab.

Lim masih akan ada disana.

Lim tidak akan menabrakkan mobilnya ke truk yang sedang berhenti secara sengaja. Membuat seolah ia kecelakaan.

Tidak, Jongin tahu kekasihnya sengaja bunuh diri.

Jongin tahu Lim sakit hati.

***

Aku tahu kamu merasa bersalah. Aku sudah mendengar kata maafmu. Aku sudah mendengar semuanya di sela-sela tangismu.

Berhentilah, Jongin.

Kamu akhirnya menenangkan diri. Menegakkan tubuh, menyeka sisa-sisa airmata di wajah. Menghembuskan napas, lalu menoleh.

Tunggu, kamu menoleh ke arahku, Jongin!

“Lim…” kamu memanggil namaku lembut, kemudian kembali mengembalikan pandanganmu pada tembok di depan sana, “aku tahu kamu masih disini…”

Oh, baiklah, Jongin. Kini kamu meracau.

Namun kemudian kamu menyunggingkan senyum. Menatap foto itu sekali lagi, lalu mengecupnya sepenuh hati.

“Kamu tidak pernah pergi, Lim. Kamu masih hidup di hati.”

END

aneh? geje? ya maaf ya :”

RCL silakan kalo berkenan, kalo emang jelek maafkan aja ya

cheers,

ziba

Author: eezeeba

An overthinker. Crazily in love with potato chips. Loving Daughtry and Maroon 5 to death. Currently in delusional relationship with Oh Sehun and T.O.P.

Here We Need Responsibilities. Thanks!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s