EXO Fanfiction Dorm

EXO as the Main Cast

Pluie et Fraises

Leave a comment

654080

 

Tittle                : Pluie et Fraises

Author             : eezeeba

Length             : Oneshot (1980 words)

Genre               : Romance, fluff (?)

Rating              : General

Casts                : Oh Sehun, Anneliese van Bijkvollenhauf (OC)

Disclaimer       : this fanfic originally written by eezeeba, no plagiarism in every diction and sentence. You can find this posted at exofanfictiondorm.wordpress.com also. Happy reading! ^^

Rintik hujan masih mengguyur Seoul sore itu. Langit kelabu memayungi orang-orang yang berlari kecil sambil sesekali mengumpat pada titik-titik air yang membasahi bahu dan kepala. Di sudut lain sepasang lelaki dan perempuan tampak santai bersandar pada sofa di sebuah kedai cokelat, acuh pada air langit yang bersatu dengan debu aspal sejak tadi. Kepulan asap dari minuman cokelat panas seakan mengejek rintik air yang semakin lama semakin deras, seolah membanggakan diri bahwa secangkir kehangatan akan mampu membuat orang berpaling dari suara pertemuan antara atap-atap gedung dan tetesan air hujan.

Tak ada yang istimewa dari hujan sore itu. Bekasnya akan tetap tergores pada kaca-kaca, meninggalkan pemandangan kabur yang mempersatukan berbagai warna. Tak ada yang istimewa pada daun-daun basah yang tetap merunduk karena beratnya air yang ditimpakan langit. Tak ada yang istimewa dari hujan sore itu…selain pertemuan sepasang manusia setelah dipisahkan jarak ratusan hari lamanya.

“Kau cantik, Ann,” kata lelaki berambut cokelat muda pada gadis di depannya. Sang gadis menyingkirkan buku ratusan halaman yang tadi sedang dibacanya, mengangkat sebelah alis.

“Maksudmu?” tuntut Anneliese – gadis yang sekarang menatap bingung lelaki di hadapannya.

“Kau cantik, Ann. Dan aku hanya ingin mengatakan fakta itu.”

“Itu tidak menjawab pertanyaanku, Tuan Oh Sehun.”

“Aku memang tidak sedang menjawab pertanyaanmu, Nona Anneliese Hwang.”

Ann mengernyitkan dahinya mendengar kata terakhir yang keluar dari mulut Sehun. Pandangan matanya mengeras seketika.

“Van Bijkvollenhauf, Tuan Oh. Sampai kapanpun aku tidak akan menjadi seorang ‘Hwang’.”

Sehun – lelaki berambut cokelat muda itu, hanya membalas dengan tawa pelan. Menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Kau memang tidak berubah, Ann,” komentarnya singkat.

“Iya, Tuan Oh. Aku memang tidak berubah, jadi seharusnya kau mengerti kalau harus menungguku menyelesaikan novel ini sebelum kita akhirnya berbincang. Only twelve pages more, Hunnie.”

“Ayolah Ann, ini pertemuan pertama kita sejak dua setengah tahun lalu, kau tidak merindukanku?” goda Sehun lagi. Ann  mengerecutkan bibirnya, lalu kembali memungut buntalan kertas yang tadi ia sisihkan demi menjawab racauan teman bicaranya.

“Twelve pages more, Hun,” tegas Ann sekali lagi, kembali menenggelamkan dirinya dalam deretan kata dan kalimat yang mengantarkannya ke dimensi lain, meninggalkan Sehun yang dengan wajah terlipat akhirnya hanya dapat menopang dagu. Tak melepaskan pandangannya dari wajah Ann yang terlihat fokus pada apapun yang ia temukan dalam dunia barunya. Dunia yang dari dulu hingga saat ini tak mampu Sehun pahami, apalagi ikut jelajahi.

Sehun mengamati Ann dengan seksama, hampir lupa berkedip pada setiap detiknya. Ann masih Ann yang Sehun kenal dulu. Ann yang menyebut dirinya sendiri mutan karena ia merasa asing dan berbeda dengan orang-orang di sekelilingnya. Ann yang selalu mengenakan dress selutut berwarna pastel dengan converse biru tua lusuh di masing-masing kakinya. Ann yang membiarkan rambutnya tergerai bahkan saat udara sedang gerah-gerahnya. Ann yang tak akan mau diganggu jika belum menamatkan novel yang sedang dibacanya. Ann yang selalu memesan cokelat panas di kedai langganan mereka. Ann yang ini dan itu. Sehun bahkan tak melewatkan satu detail pun tentang Ann yang ia kenal.

Gadis Belanda – Korea itu pindah ke Seoul 20 tahun lalu ketika masih berusia 5 tahun. Ibu Ann dengan alasan yang tak jelas membawa putrinya ‘kabur’ ke Korea, menyisakan masa kecil Ann dalam kerinduan pada sang ayah yang sejak saat itu tak pernah lagi mengabari apalagi menemuinya. Ibu Ann akhirnya menikah lagi dengan seorang pengusaha manufaktur saat Ann 7 tahun, dan sejak saat itu ibunya berusaha mengubah nama belakang Ann menjadi Hwang – yang sampai sekarang dibenci Ann lebih dari apapun. Baginya ia akan selalu menjadi van Bijkvollenhauf, meskipun segala perbedaan yang ada membuatnya merasa asing.

Ann tak banyak membuka diri sebelum Oh Sehun mengetuk pintu dan melenggang bebas dalam kehidupannya. Sehun tak pernah melihat Ann sebagai sosok yang berbeda, toh mereka sama – pasangan albino dengan segala kekonyolan yang mereka bagi tiap harinya. Bukan berarti Sehun dan Ann tidak memiliki perbedaan. Pada kenyataannya, dua manusia itu memang berbeda, bagai kutub utara dan selatan pada sebuah magnet.

Oh Sehun, mahasiswa teknik kimia, tergila-gila pada karya-karya Dan Brown, movie freak yang selalu update dan kritis tentang film-film box office bahkan indie. Penggemar bubble tea kelas berat. Memiliki penciuman yang tidak kalah dengan anjing. Penyuka warna-warna dingin – seperti hitam atau biru tua. Dan yah…cadel.

Anneliese van Bijkvollenhauf atau Anneliese Hwang, yang sebenarnya keturunan Baron dengan nama lahir Anneliese Ninette Marison van Bijkvollenhauf. Gadis dengan rambut cokelat tua dan iris cokelat muda. Mahasiswi bisnis manajemen yang setelah lulus malah menjadi kartunis. Ann bukan penonton setia serial-serial hits seperti How I Met Your Mother, Big Bang Theory, Sherlock Holmes atau serial lainnya. Gadis penyuka warna pastel itu hanya tahu J.K Rowling, Suzanne Collins, dan terutama tokoh idola yang digilainya – Walt Disney.

Ann punya kebiasaan ajaib dan hanya Sehun yang mampu mengerti – atau setidaknya memaklumi. Gadis itu tak akan bisa diganggu atau diajak bicara jika ia belum menamatkan novel yang dibacanya. Ann penggila novel-novel fantasi, bisa dibilang ia telah kecanduan novel-novel mind blowing kegemarannya. Sehun tak akan pernah bisa merasakan sendiri alasan Ann sangat menikmati dunia 4 dimensi miliknya, tetapi Sehun mengerti, ia paham, gadisnya menemukan dunia baru untuk melepas lelah dalam lembaran-lembaran itu.

“Done!” Ann menutup novel yang tadi dibacanya, membuyarkan lamunan Sehun dari usahanya mengingat momen-momen yang mereka lalui di tahun-tahun sebelumnya. Gadis itu tersenyum lebar, mengangkat cangkir cokelat panasnya dari meja, kemudian menyesapnya sambil tetap menatap mata Oh Sehun di hadapannya.

“Kenapa melihatku seperti itu?” Tanya Sehun bingung. Ann tertawa kecil, meletakkan kembali cangkirnya yang tinggal terisi setengah di atas meja. Menyilangkan tangan dan kakinya, kemudian kembali menatap Sehun lekat-lekat.

“Hmm, kau pun tidak berubah, Tuan Oh. Kau masih menyukai warna yang sama, lagi-lagi kemeja navy, baiklah. Dan…hei! Di hidungmu ada komedo sekarang!”

Sehun memasang ekspresi keberatan atas penuturan Ann barusan, sedangkan gadis itu sudah tertawa-tawa sambil merapikan rambut tebalnya yang awut-awutan.

“Flek di wajahmu menebal, Ann, sekalipun tetap tidak terlalu kentara, tapi…kau ingat kan aku punya penglihatan yang bagus?”

Pletak!

Pada detik Sehun menyelesaikan kalimatnya, satu pukulan sendok gula dari tangan Ann telah mendarat sempurna di kepala Sehun, membuat laki-laki itu mengaduh kesal sambil mengusap-usap kepalanya.

“Ini bukan flek, bodoh, ini…hanya hyperpigmentation sementara gara-gara kemarin aku berjemur di pantai.”

Sehun hanya menebalkan bibir bawahnya, mengejek pernyataan Ann, membuat lagi-lagi satu pukulan melayang ke kepalanya.

“Argh! Okay, baiklah Ann. Apapun, terserah kau sajalah,” Sehun menyerah, mengusap-usap lagi kepalanya yang ngilu, menyisakan Ann yang mendengus sebal.

“Dua setengah tahun di Perancis dan selera humormu masih tak berubah, Hun,” komentar Ann, setengah mencibir. Sehun gantian mengangkat alis.

“Benar sekali, Nona, dan kau tahu? Perasaanku padamu juga tak berubah sedikit pun.”

Pernyataan singkat Sehun membuat Ann tersenyum, laki-laki itu pun membalas menyunggingkan senyum lebar, kemudian meraih tangan Ann yang bebas, menggenggamnya erat.

“Aku merindukanmu, Ann.”

“I miss you more, Hun.”

Pandangan Sehun melembut. Ia kemudian membuka telapak tangannya, lalu mengisyaratkan agar Ann melakukan hal yang sama. Ia menempelkan kedua telapak tangan mereka. Tersenyum sambil tetap menatap mata Ann dengan intens.

“Hanya tangan ini yang paling pas kugenggam, Ann. Well, you see? Your hands fit in mine like they’re just made for each other,” kata Sehun lembut.

“I see. I feel the same way, I think,” balas Ann.

“Wait,” Sehun melepaskan kontak tangan mereka, kemudian mengaduk-aduk isi tasnya, mengeluarkan bungkusan kecil dari sana, “for you.”

Mata Ann melebar, mengisyaratkan keterkejutan sekaligus tanda tanya. Sehun menunjuk bungkusan di tangan Ann dengan dagunya, menyuruh Ann segera membukanya.

Ann melepas pita di kotak kecil itu, kemudian membuka tutupnya. Ia mengangkat sebuah botol kecil berbahan kaca dengan ukiran bunga yang memantulkan cahaya lampu di atasnya.

“Pluie et fraises, Ann,” Sehun menjelaskan sambil tersenyum, “namanya pluie et fraises.”

“Hm? Meaning?”

“Ehm,” Sehun berdehem, kemudian menegakkan tubuhnya, “pluie et fraises, artinya hujan dan strawberry, Ann. Kau ingat kan kau suka aroma petrichor dan jus strawberry susu kesukaanmu saat hujan di depan kampus? Aku belajar menjadi seorang peracik parfum, Ann, dan projek yang kuajukan untuk thesisku adalah pluie et fraises ini, yang…well, karenanya aku telat lulus setengah tahun.”

Ann terpana, kemudian membuka tutup botol kaca itu, mendekatkannya ke hidung dan menghirupnya kuat-kuat.

Mata gadis itu melebar sempurna, sedetik kemudian tergenang air mata.

“How could you…” pertanyaannya tak mampu ia selesaikan karena air mata yang membuatnya tersedak, “this is the best fragrance I have ever smelled.”

Sehun tersenyum lembut, kemudian kembali menggenggam tangan Ann, “untuk aroma petrichornya, aku mengandalkan ingatanku dan membuatnya dari beberapa campuran bahan artifisial karena…yah, petrichor tidak bisa kujadikan larutan kemudian diuapkan. Kau tahu? Petrichor itu sangat istimewa. Petrichor di Seoul tidak sama dengan petrichor di Paris,  atau di tempat manapun. Partikel debu, udara, tumbuhan di sekeliling, bau aspal, bau pagar besi, partikel sekecil apapun akan memengaruhi baunya, Ann. Setengah mati aku mencoba menyusun semuanya agar aku bisa membotolkan keajaiban yang paling kausukai itu. Oh ya, bahkan jus strawberry susunya pun aku ambil dari penjual yang sama, berkali-kali aku bertanya berapa sendok gulanya, berapa banyak buah strawberrynya, berapa lama aku harus meneteskan susunya, air yang bagaimana yang harus aku gunakan, gelas plastik macam apa yang menjadi wadahnya. Ann, I do try to bottle your little miracle. Senyummu yang selalu mengembang saat menyedot jus kesukaanmu, dan bagaimana kau selalu menghirup udara dalam-dalam saat hujan pertama turun, aku ingin bisa melihat kebahagiaanmu itu setiap saat, Ann.”

Ann lagi-lagi menepis airmata yang merajuk ingin terjun dari kedua matanya. Gadis itu benar-benar kehilangan kata-kata.

“You know, I’m dying to hug you right now,” kata Ann tersengal. Sehun tersenyum lebar.

“Ayo!”

Sehun menggaet tangan Ann yang bebas, membuat gadis itu buru-buru merapikan seluruh barangnya untuk dimasukkan ke dalam tas. Rintik hujan masih memercik kecil-kecil. Namun kedua anak manusia itu hanya tertawa-tawa bahagia saat merasakan air mendarat di kepala dan bahu mereka. Tidak ada yang lain lagi.

Hari itu bukan hujan pertama. Hari itu tak ada jus strawberry kesukaan Ann. Namun botol keajaiban kecil yang diberikan Sehun akan selamanya membuat gadis itu mampu mencium kegembiraan. Botol keajaiban kecil itu akan selamanya membuat Ann tak berpaling.

Sehun menghentikan langkahnya di bawah lampu taman yang kuning temaram. Wajah keduanya telah basah, tapi senyum pun enggan hengkang, masih menyuguhkan lengkungan yang seolah menyatakan bahwa mereka mencintai satu sama lain. Sehun kini merengkuh pinggan Ann, menariknya untuk memangkas jarak di antara mereka. Dekat, sangat dekat. Ann kini sudah bisa merasakan hidung basah Sehun yang mengenai keningnya.

“I love you, Anneliese.”

“I love you more, hopeless-romantic dummie.”

Sehun tertawa kecil di tengah napas mereka yang beradu. Disentuhkannya permukaan bibirnya pada bibir pink Annelise dengan lembut.

Yah, hujan sore itu nyatanya bukan hujan yang biasa saja.

 

Author: eezeeba

An overthinker. Crazily in love with potato chips. Loving Daughtry and Maroon 5 to death. Currently in delusional relationship with Oh Sehun and T.O.P.

Here We Need Responsibilities. Thanks!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s