EXO Fanfiction Dorm

EXO as the Main Cast

At Noon, At Her Room

2 Comments

White-Table-and-Wall-Storage-in-Small-Modern-Office-Furniture-Interior-Layout-Design-Ideas

Luhan, Wu Yifan (Kris), OC

Short Story Over 900+ words

Friendship, Family

“Aku hanya tak habis pikir melihat anak gadis jaman sekarang.”

“Pinjam gunting, Kris. Bajuku tadi tersangkut sesuatu. Benangnya sampai menjulur seperti ini. Lihat,” Luhan menunjukkan pinggir jahitan kausnya. Nampaklah sehelai dua helai benang putih tipis berayun-ayun diterpa udara.

Kris saat itu sibuk memalu paku pada sebuah papan. Ia berencana membuat rumah pohon di halaman belakang rumah, dibantu oleh Luhan tentu saja.

“Oh. Ya, sudah. Ambil saja di meja kamar,” ucap Kris sambil berhenti memalu. Kemudian menatap Luhan, “Kamar Ririn, maksudku.” Ekspresi Kris seakan berkata, kalau kau berani coba saja ambil. “Aku biasa meminjam miliknya.“

Luhan terlihat agak ragu sejenak. Tapi kemudian, “Mm. Baiklah.” Lalu berjalan pergi. Kris hanya mengangkat bahu sambil lanjut memalu.

Luhan sudah di dalam rumah dan perlahan-lahan menaiki anak tangga. Ia menoleh ke kanan dan kiri, takut kalau tiba-tiba anak itu memergoki dirinya masuk kamar tanpa izin. Lagipula, mengapa si Kris ini tidak punya gunting?

Karena tak ada tanda-tanda kehidupan, ia berasumsi Ririn sedang di kamar. Ia tahu benar Ririn adalah anak rumahan seperti temannya, Yixing. Jadi ia pun mengetuk pintu. Di pintu itu tertempel sebuah kertas kuning dengan tulisan kapital bertinta merah seukuran A4. Bunyinya: Jangan masuk, kalau kau hanya merusak barang, menghilangkan barang, ataupun membuat kamar berantakan!!

Luhan segera menelan ludah membacanya. Ia mencoba mengetuk sekali lagi. Namun suasana tetap hening. Akhirnya ia memberanikan diri membuka pintu. Toh, ia tidak berniat melakukan tiga dari yang disebutkan kertas itu.

Ah, tidak dikunci. Ia memasukkan kepalanya menatap sekitar. Astaga. Ia mendapati seonggok tubuh sedang berbaring membelakanginya, dengan napas teratur tentunya.

Yang benar saja, ini sudah pukul dua belas siang lebih. Dan gadis itu masih tidur? Tapi, sudahlah. Tak ada waktu untuk memusingkan orang tidur. Justru itu lebih baik kalau si pemilik kamar tidur.

Luhan segera menghampiri meja belajar di seberang tempat tidur. Kamar Ririn ini bisa dibilang tidak terlalu rapi, tapi tidak seberantakan kamarnya juga. Yah, masih wajarlah.

Luhan mencari-cari gunting di sekitar meja itu. “Mana, sih? Katanya di meja?” gumamnya pelan sambil terus mencari di selipan buku, tempat alat-alat tulis, di bawah notebook. Tapi nihil.

Sayup-sayup ia mendengar suara musik yang sepertinya familiar, pelan sekali. Pasti dari notebook ini, pikirnya saat melihat notebook Samsung yang setengah terbuka itu. Ia membuka lid-nya lebih lebar, dan mendapati screen saver gambar-gambar vintage bermuculan di layar. Lalu menggerakkan jarinya di atas touch-pad sehingga hilanglah screen saver itu, digantikan sebuah kotak bergambar user account yang di bawahnya terdapat kotak password. Sial, gumamnya dalam hati.

Namun, ia masih penasaran lagu apa yang diputar. Akhirnya, ia mengangkat notebook itu dan menempelkan speaker-nya tepat ke telinga.

“Oh! H.O.T. Candy!” serunya senang. Tapi ia buru-buru mengatupkan mulut dan menoleh ke arah tempat tidur. Syukurlah, anak itu tidak terbangun. Ia langsung meletakkan notebook itu begitu saja ke atas meja. Berbahaya, pikirnya. Namun, karena terlalu ringan, alih-alih mendarat di meja, notebook itu justru meluncur dari tangan Luhan dan mendarat di lantai.

Grubak!

Matilah. Tanpa pikir panjang, Luhan buru-buru mengambil notebook itu. Namun sang empunya kamar tampak sudah terganggu, hingga ia terbangun.

“Tidak apa-apa, tidak apa-apa! Kau tidur lagi saja. Ini biar aku yang bereskan!” ucap Luhan tergagap, sebelum Ririn sempat berkata-kata.

Anak itu hanya duduk di kasur sambil menyipitkan mata khas orang bangun tidur, melihat Luhan meletakkan notebook itu ke atas meja. Sesekali mengucek mata agar penglihatannya lebih jelas, “Itu sudah dua kali terjatuh. Sama yang ini berarti tiga. Lihat saja beberapa murnya sudah hilang.”

Luhan pun mengecek bagian bawah notebook itu. Benar saja, dua mur sudah tak ada di tempat semestinya. Ia kemudian memandang Ririn lagi.

“Ya, sudah. Aku mau tidur,” ucap Ririn. Lalu membelakangi Luhan dan menarik selimut hingga menutupi kepala.

Ririn pasti masih setengah sadar barusan, pikir Luhan. Melihat cara bicara anak itu yang santai, sementara seorang anak laki-laki berada di kamarnya. Walaupun Luhan hanya berniat mengambil gunting. Ah, gunting. Di mana gunting sialan itu?

Ia mencari-cari sebentar, tapi kemudian menatap Ririn yang tidur. Mengapa ia tak sekalian bertanya tadi?

Luhan menghampiri Ririn, “Rin, Rin,“ tepuknya pada bahu gadis itu, pelan tapi tak berhenti. Ririn membuka selimut dengan ekspresi terganggu. “Uh … aku cuma mau tanya gunting di mana? Setelah itu kau boleh tidur lagi, aku janji. Aku janji,” Luhan tak enak.

Ririn menendang selimut dan beranjak dari kasur, menghampiri tas sekolahnya. Ia mengeluarkan tempat pensil kain warna hitam bergambar logo Man of Steel, “Nih,” ujarnya setelah mengeluarkan sebuah gunting, yang juga berwarna hitam.

Luhan segera menggunting helai-helai benang yang menjulur itu. Dan langsung mengembalikan kepada yang punya, “Terima kasih.”

“Hm,” ujar gadis itu singkat. Sementara Luhan sesegera mungkin bergegas dari kamar itu.

Di luar, ia protes pada Kris, “Kau bilang gunting itu ada di meja?”

“Ya, mana aku tahu kalau dia menaruhnya di tempat lain. Lagipula kenapa kau tidak menariknya dengan tangan saja, huh?” tunjuk Kris pada bekas guntingan Luhan tadi.

“Kalau begitu benang yang terjulur bisa semakin panjang. Sebelumnya aku juga sudah mencoba.”

Kris terdiam, tidak berniat melanjutkan perdebatan. Ia justru lanjut memalu, yang rasa-rasanya seperti masih seribu paku lagi yang harus dipalu.

“Hey,” ujar Luhan penasaran, “Kau … kenapa membiarkan adikmu tidur sampai siang begitu?”

Kris tak langsung menjawab. Ia menatap Luhan malas, “Kau mau membangunkannya?”

“Tidak,” jawabnya tanpa berpikir. Mengingat kejadian tadi , ia sepertinya paham pertanyaan Kris.

“Ya, sudah. Ambil gergaji sana, kemudian potong papan-papan itu menjadi sepanjang ini,” Kris menunjukkan contoh yang sudah dipotongnya terlebih dahulu.

“Mana gergajinya?”

“Di kamar Ririn,” tandas Kris tanpa melihat Luhan.

“Kau ….”

Kris menoleh dan memandang Luhan yang terpaku. Ia sontak tergelak sambil berkata, “Tidak, aku bercanda. Kau ambil saja di gudang, sana.”

“Kuhajar kau nanti,” ucap Luhan kesal sambil berlalu. Meninggalkan Kris yang terkekeh.

***

White-Table-and-Wall-Storage-in-Small-Modern-Office-Furniture-Interior-Layout-Design-Ideas

Oke, ceritanya agak aneh memang -_- tapi ini diilhami (?) dari kisah nyata.

Jadi waktu itu masih masa-masanya libur panjang, aku masih tidur, tapi orang-orang udah pada pergi kerja sama sekolah. Eh, tiba-tiba dibangunin sama ibu yang nyetrika di rumah, dia nanya colokan sambung ada di mana. Tapi yang kek: Kak, kak, colokan sambung di mana kak? Abis itu boleh tidur lagi. Ibu cuman nanya colokan. Abis itu tidur lagi janji.

Kata-katanya diulang-ulang macem orang nggak maksud ngeganggu tapi pada kenyataannya ngganggu gitu, ngerti kan? ;A; Akhirnya aku bangun tapi mata yang micing-micing gajelas gitu soalnya mata masih rada burem.

Trus, sebenernya my lepi udah kebanting 5 kali. Tapi kalo kutulis 5 beneran rasanya sungguh tak masuk akal, walopun emang gitu. Di SMA, si kawan-kawan tercinta aja udah ngebanting 3 kali, aku sendiri 2 kali ;_; Tapi herannya nih notebook masi idup aja, walopun rada sompel dikit sama mur-nya ber-ilangan.

Alah yasudahlah kebanyakan bacot segitu saja. Jangan lupa ripiw~ ;3

atau kunjungi wordpressku-ku hehe

Author: blanco0719

EXO, Luhan, Baekhyun, KrAyHan, KaiBaek, singing, writing, drawing, imagining, photo-editing, fangirling 24/7, blogging, cholerist-melancholist, O, Cancer, 96line, ENFP-T

2 thoughts on “At Noon, At Her Room

  1. Lawak wkwwkwkw

Here We Need Responsibilities. Thanks!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s