EXO Fanfiction Dorm

EXO as the Main Cast

My Enemy My Love (Chapter 5)

Leave a comment

grzdhth

Loha, minna-san! Author somplak membawa lagi FF abal-abal ini :’v Wokeh, langsung aje yo!

Author             : Luhana120.

Main Cast        : Park Baekhyun (Disini Byun Baekhyun marganya ganti Park ya.) EXO, Park Chanyeol EXO, Choi Raehee (OC), Choi Hyora (OC).

Other Cast        : Tjoba cari dah.

Genre               : Romance, Marriage life, AU, dll.

Poster               : Lee Sinhyo @ Fanfiction’s Blog

Rate                 : Mature.

Disclaimer       : Baekhyun sama Chanyeol punya saya, OC punya Tuhan *plak*. Cerita ini berasal dari otak saya.

Author Note     : Ini FF kesekian saya. Dan ini adalah FF terpe’a buatan saya. Hohoho. Disini marganya Baek diubah sesuai cerita ya. Cerita ruwet, amburadul,cerita ga sesuai judul, alur kecepetan, ide super pasaran, 5000 dapet 5 (?). Masih butuh kritik dan saran. Kalo ada bias kalian saya nistakan, ikhlaskan. It’s just story.

HEPI REDING!!

Previous : 4

….

“Kalau boleh aku tahu, namanya siapa?”

“Ara.”

“Mengesankan. Tapi tetap saja, kau menyebalkan!” Raehee memukuli Baekhyun lagi. Sungguh malang nasibmu, Baek.

|Chapter 5|

“YA! Park Chanyeol!!!!!!!!!!!!!! KAU MENYEBALKAN!!!!!”

“Wae? Aku hanya mencium calon istriku. Apa salahnya?”

“Ya! Aku bahkan belum resmi jadi istrimu, bodoh!”

“Tetap saja, kau akan menjadi istriku. Kurang… 1,2,3.. 10 hari lagi.”

“Meskipun begitu, aku belum sah jadi istrimu!”

“Apa perlu aku minta pernikahan itu dipercepat? Besok?” Chanyeol mulai menggoda Hyora.

Hyora mendelik, “Kau gila? Sirheo! 10 hari lagi saja aku ingin diundur!”

“Wae? Kau harusnya bangga akan mempunyai suami setampan aku!”

Hyora menampar wajah Chanyeol pelan, “Tampan apanya?!”

“Aku bahkan lebih tampan dari Kim Soohyun, Lee Minho, Kim Woobin, Lee Seunggi, Lee Hyunwoo, dan Choi Siwon.”

“Tentu saja, lebih tampan mereka jauh, bodoh!”

“Kau yakin?” Chanyeol mendekatkan wajahnya ke wajah Hyora.

“Kau pikir aku buta? Tentu saja.”

“Kau yakin?” Chanyeol semakin dekat.

“Harus kujawab berapa kali? Tentu saja!”

“Hmm… Kau yakin?” Lelaki itu tetap saja mendekatkan wajahnya.

“Jauhkan wajah mesummu itu dariku, byeontae!” seru Hyora sambil mendorong wajah Chanyeol agar menjauh darinya.

“Hahaha. Hati-hati, pesonaku bisa memikat siapapun.”

“Kecuali aku. Catat itu.”

“Lihat saja, dalam waktu 10 hari, pasti kau akan menyukaiku.”

Oh, come on. Are you kidding me?

No. It’s not a joke.”

“Terserah kau saja. Aku menyerah.” Hyora menyerah. Chanyeol tersenyum menang.

“Kau tak bisa menolak pesonaku, Nyonya Park.” goda Chanyeol sambil pergi ke dapur.

“Ya! AKU BELUM MENJADI ISTRIMU!!” teriak Hyora.

“Tunggulah, Chagi!” seru Chanyeol dari dapur. Hyora mendengus kesal. Mencintai Chanyeol dalam 10 hari? Dia rasa itu tak mungkin.

_=_=_=_

-A Few Days later-

Hari demi hari berlalu dengan cepat. Tak terasa, pernikahan antara Park bersaudara dengan Choi bersaudari(?) akan berlangsung besok. Walaupun begitu, mereka belum sepenuhnya saling mencintai. Masih bibit(?).

“Eonni, kita pergi yuk? Kemana gitu, tempat yang asik.”

“Emm, disini tempat yang menyenangkan dimana yah?”

“Dimana tak ada Park Chanyeol dan Park Baekhyun.”

“Hahaha, kau benar. Jadi, kita harus keluar tanpa sepengetahuan mereka?”

“Kurasa. Kajja, eonni.” Raehee dan Hyora pun keluar. Chanyeol dan Baekhyun sedang tidur di kamar. Jadi, kemungkinan mereka tak tahu.

“Hyo, kita ke… Taman saja, yuk?”

“Mungkin itu yang terbaik.” Mereka berjalan ke arah taman yang tak jauh dari apartemen. Taman itu sangat indah. Udaranya sejuk. Dan cukup ramai.

Sesampainya disana, mata Hyora langsung tertuju pada arena bermain yang ada disana.

“Eon, aku mau main ayunan!” Hyora berlari ke arah ayunan. Untung saja, arena bermain itu tak ada seorang pun. Jadi tak ada yang mengira Hyora orang gila.

“Hyo! Tunggu aku!” Raehee menyusul Hyora. Dan ikut bermain ayunan.

“Ah~ Aku merasa bebas…”

“Kau benar. Aku juga merasa begitu.”

“Eon, aku haus.”

“Ayo kita beli minum.” Ajak Raehee. Raehee pun mengajak Hyora ke café yang tak cukup besar. Café itu milik temannya waktu SMA, Kim Seokjin, atau biasa dipanggil Jin.

Raehee dan Hyora masuk ke kafe itu. Dan langsung disambut hangat oleh sang pemilik café.

“Whoa! Rae, lama sekali tak bertemu!” seru Jin.

“Ne. Oppa tambah tinggi saja.” Balas Raehee.

“Duduklah. Kalian pesan apa?”

“Em, coklat hangat dan waffle saja.”

“Oke. Tunggulah.”

Raehee dan Hyora pun duduk di kursi yang masih kosong.

“Jadi itu yang namanya Jin oppa?”

“Iya.” Raehee dulu sering sekali bercerita tentang Jin kepada Hyora. Karena Jin adalah sahabat lelaki terdekatnya.

“Dia tampan sekali.”

“Ya! Kau akan menikah besok! Kau masih saja memikirkan namja lain.”

“Hehehe.” Hyora hanya membalas ucapan kakaknya dengan kekehan.

“Setelah ini kita kemana?” tanya Hyora.

“Nah. Aku juga bingung.”

“Lalu bagaimana?”

“Sudahlah, yang penting, kita makan waffle dulu.”

Tak lama kemudian, pesanan mereka datang.

“Ini pesanan kalian.”

“Gomawo.” Kemudian Raehee dan Hyora segera menyantapnya.

“Ini adikmu?”

“Ne. Kenalkan, namanya Choi Hyora, oppa bisa memanggilnya Hyora.”

“Annyeong haseyo.” Sapa Hyora.

“Annyeong. Kau cantik sekali.”

“Gamsahamnida.” Ucap Hyora sambil tersenyum.

“Oppa ini bisa saja. Oh iya, apa oppa tak punya pegawai?” tanya Raehee.

“Aku belum merekrut. Lagi pula café ini masih kecil-kecilan.”

Raehee menyesap coklat panasnya, “Emm. Kurasa oppa harus membuat restoran.”

“Hm, mungkin itu bisa dipertimbangkan. Oh iya, kudengar kalian akan menikah? Benarkah?”

DEG

“Op-oppa tau dari mana?”

“Ayolah, berita itu dimuat di koran harian.” Yah, mungkin Choi bersaudari ini tak pernah membaca koran.

“Ah, begitu. Berita itu benar.”

“Kapan?”

“Besok.” Jawab Hyora pelan.

“Whoaaa, kalau begitu, chukkae ya. Kurasa calon suami kalian akan lebih tampan dariku.” Ujar Jin.

“Kurasa.” Ucap Raehee pelan.

Raehee menghela nafas berat, “Oppa mau datang ke pernikahan kami? Kebetulan aku bawa satu undangan.”

“Akan kuusahakan untuk datang.” Raehee mengambil undangan dan memberikannya kepada Jin.

“Denah lokasinya ada disitu. Aku harapkan kedatangan oppa.” Ucap Raehee sambil tersenyum getir.

“Ne.”

“Waffle dan coklatku sudah habis. Berapa totalnya?”

“Untukmu, gratis. Kau kan sahabatku.”

“Hm, gomawo, oppa.”

“Hm.”

“Kalau begitu, kami pulang dulu. Annyeong~”

“Annyeong~”

Raehee dan Hyora pun kembali ke apartemen. Dilihatnya Chanyeol dan Baekhyun yang sedang duduk manis di depan TV.

“Eh? Kalian sudah pulang. Kajja.” Ucap Chanyeol.

“Kemana?” tanya Hyora.

“Tadi appa menyuruh kita untuk melihat gedung yang akan kita pakai besok.”

“Oh.”

“Kalian kenapa? Sepertinya tidak bersemangat sekali?” tanya Baekhyun.

“Aniyo. Hanya sedang malas saja.”

“Kalau begitu, kajja!”

Mereka berempat pun keluar dan langsung melesat ke gedung yang akan mereka pakai untuk pernikahan besok. Jaraknya dengan apartemen cukup jauh, jadi untuk kesana, mereka naik mobil. Tak terasa, mereka berhenti tepat di depan gedung besar.

Sesampainya, mereka keluar dari mobil itu. Dan langsung memasuki gedung yang memiliki 36 lantai itu. Saat memasukinya, mereka langsung disambut hangat oleh pelayan yang ada disana.

“Annyeong haseyo.” 4 pemuda ini hanya sedikit membungkuk. 2 pasangan itu langsung saja bertanya ke resepsionis.

“Annyeong haseyo. Ada yang bisa saya bantu?” tanya resepsionis wanita separuh baya tetapi terlihat muda itu.

“Ruangan untuk pernikahan Tuan Park dan Nona Choi itu dimana ya?” tanya Chanyeol.

“Oh, itu ada dilantai 3. Pelayan Song akan mengantar Anda.” Jawab wanita itu sambil menunjuk salah satu pelayan lelaki yang bernama Song Yongsoo.

“Mari, Tuan.” 4 calon pengantin itu pun mengikuti pelayan Song. Berjalan, naik lift selama beberapa saat, berjalan lagi, dan akhirnya sampai.

“Ini ruangan yang Anda cari, Tuan.” Ucap pelayan Song sambil membuka pintu besar yang ada dihadapan mereka.

Sebuah ruangan yang cukup besar, dan sudah dihias dengan sangat indah. Karpet putih tergelar diantara kumpulan kursi-kursi tamu yang tentunya sudah dihias. Semacam altar, sudah dihias dengan kain sutra putih bersih dan bunga-bunga yang indah. Simple, but awesome.

“Baiklah Tuan, saya permisi.” Ucap pelayan Song. Tanpa menunggu jawaban, pelayan yang berumur 32 tahun itu pergi.

“Whoa, indah sekali…” gumam Raehee sambil melihat setiap inchi dekorasi ruangan ini.

“Eonni benar, dekorasinya indah.” timpal Hyora.

“Tak terasa yah, 2 minggu berlalu begitu saja…” gumam Baekhyun.

“Kau benar, Baek. Cepat sekali.”

_=_=_=_

“Park Chanyeol, apa kau bersedia menerima Choi Hyora sebagai istrimu dalam keadaan apapun, hingga maut memisahkan kalian?” tanya sang penghulu dengan tegas.

Chanyeol menghela nafas berat, “Aku bersedia.”

“Choi Hyora, apa kau bersedia menerima Park Chanyeol sebagai suamimu dalam keadaan apapun, hingga maut memisahkan kalian berdua?”

Hyora terdiam. Ia ingin sekali menolak pernikahan konyol ini. Tapi mau bagaimana lagi, ini demi orang tuanya. Gadis itu menghela nafas berat, “Aku… bersedia.”

Sekarang, sang penghulu beralih ke Baekhyun dan Raehee.

“Park Baekhyun, apa kau bersedia menerima Choi Raehee sebagai istrimu dalam keadaan apapun, hingga mau memisahkan kalian?”

Ingin rasanya Baekhyun berteriak ‘SIRHEO!’ sekeras mungkin. Tetapi, ia tak mungkin melakukan itu saat ini. Mau tak mau ia menerimanya, “Aku bersedia.”

“Choi Raehee, apa kau bersedia menerima Park Baekhyun sebagai suamimu dalam keadaan apapun, hingga maut memisahkan kalian?”

“Aku bersedia.” Jawab Raehee lirih. Semua hadirin bertepuk tangan dengan meriah.

“Cium!”

“Cium!”

Terpaksa, mereka melakukan tradisi pernikahan. Yah, berciuman. Tenang, Baekhyun dan Chanyeol hanya menempelkannya saja.

_=_=_=_

Sekarang, hanya tinggal pestanya saja. Chanyeol dan Baekhyun berkumpul dengan teman-temannya. Sedangkan Hyora dan Raehee sedang mengobrol dengan orang tuanya.

“Kalian curang. Harusnya aku dulu yang menikah, baru kalian berdua.” Ucap Suho.

“Seharusnya aku dulu pabo -_-.” Ujar Xiumin selaku hyung yang paling tua disana.

“Hehehe, maaf hyung. Yeol, kau itu beruntung punya istri macam Hyora. Kau saja tak pernah mengeluh sama sekali.” Ujar Suho.

“Beruntung apanya?!” tanya Chanyeol dengan nada kesal.

“Benar apa kata Suho hyung. Kau bahkan tak bercerita tentangnya. Jadi, kau beruntung.” Kai ikut menimpali ucapan Suho.

“Kau juga, Baek. Istrimu punya wajah yang imut. Seperti aku.” Ucap Lay dengan percaya diri yang overload. Baekhyun hanya bisa menatapnya yang seolah berkata yang-benar-saja-Hyung -_-.

“Baek, jaga istrimu baik-baik. Meski kau tak menyukainya, dia sudah jadi tanggungjawabmu.” Pesan Kris selaku orang yang paling bijak disana.

“Ne, Hyung. Akan kuusahakan.” Jawab Baekhyun.

“Berlaku untukmu juga, Yeol.” Lanjut Kris.

“Ne, Hyung.”

“Yah, setidaknya mereka lebih baik dari mantan kalian.” Ucap D.O.

“Jangan ungkit itu. Aku benci mengingatnya.” Ucap Chanyeol.

“Jiyeon… Jiyeon…” goda Kai.

“Tutup mulutmu, Kai. Aku tak mau mendengar nama yeoja brengsek itu lagi.” Ucap Chanyeol dengan nada dingin sambil memutar-mutar(?) cincin yang terpasang di jari manisnya.

“Kau kan juga pernah mencintainya. Sepenuh hati malah.” Ucap Sehun.

“Itu dulu. Sekarang tidak.” Balas Chanyeol.

“Kalau kau, Baek? Kau juga membenci Ara?” tanya Chen.

“Menurutmu bagaimana?”

“Dari nadamu bertanya, kau membencinya.”

“Sudah tau, kenapa kau bertanya lagi?”

“Haha, mungkin aja kau masih rindu dengan Ara.” Ucap Chen.

“Ya! Aku sudah punya istri sekarang! Mana mungkin aku memikirkan Ara lagi?!” tanya Baekhyun kesal.

Tiba-tiba saja, Hyora dan Raehee menghampiri perkumpulan namja ketjeh ini.

“Baek, Yeol, kalian dipanggil appa dan eomma.” Ucap Hyora.

Tanpa menjawab, Baekhyun dan Chanyeol langsung saja menghambur ke meja yang ditempati kedua orang tuanya dan kedua mertuanya. Tak lupa dengan istri mereka.

“Whoaaaaa, anakku yang paling tampan sudah datang. Duduklah.” Ucap Tuan Park. 2 mahasiswa yang berstatus ‘suami’ itu hanya bisa menuruti perkataan ayahnya. Hyora dan Raehee juga ikut duduk.

“Baek, Chan, jaga istri kalian dengan baik. Awas saja kalian membuat mereka menangis setetes pun. Seorang pria pantang menyakiti hati seorang wanita. Ingat itu.” Ucap Nyonya Park membombardir.

“Ne, eomma.”

“Kalian akan mulai berpisah. Raehee dan Baekhyun tetap di nomor 1, sedangkan Chanyeol dan Hyora di nomor 2.” Jelas Tuan Choi.

“Aku tak sabar menggendong cucu dari kalian.” Celetuk Nyonya Choi.

“Eomma! Aku belum lulus kuliah!” seru Raehee dan Hyora bersamaan.

“Sebentar lagi kan kalian akan lulus, setelah lulus, segeralah membuat cucu untuk kami!” ucap Nyonya Park.

“Eomma, aku belum memikirkan itu.” Ucap Chanyeol.

“Tenang saja, kami sudah memikirkan itu.”

Mereka menyerah. Orang tua mereka semakin menggila saja.

Baekhyun menghela nafas, “Ayolah, bahkan kami belum mencari pekerjaan.”

“Nanti kalian juga akan mendapat pekerjaan.”

_=_=_=_

Pesta pernikahan telah usai. 2 pasangan pengantin baru ini segera pulang ke apartemen. Mereka sudah mulai berpisah hari ini. Bahkan dalam satu kamar apartemen, tempat tidur yang semula 2 sekarang hanya ada 1. Sungguh orang tua yang perhatian. Mereka langsung saja memasuki kamar apartemen masing-masing. Tentunya dengan pakaian yang telah berganti dengan pakaian sehari-hari.

“Whoa, untung saja barang-barangku sudah dipindahkan semua.” Ucap Hyora.

“Hyo, buatkan aku makanan, aku masih lapar.” suruh Chanyeol sambil duduk di sofa empuk depan Smart TV.

“Seenaknya saja kau menyuruhku! Buat saja sendiri!” tolak Hyora.

“Ya! Istri macam apa kau, hah? Cepat buatkan aku makanan!” suruh Chanyeol ngotot(?).

“Ya! Meskipun aku istrimu, bukan berarti kau bisa menyuruhku seenaknya!”

“…” Chanyeol terdiam. Ia tak tahu harus bilang apa lagi. Memang benar, ia tak bisa menyuruh Hyora seenaknya saja meski Hyora sudah berstatus istrinya.

Hyora juga terdiam.

“Ayolah, Hyo… Aku lapar…” pinta Chanyeol.

Hyora menghela nafas, “Geurae. Kau mau apa?”

Chanyeol tersenyum senang, akhirnya permintaannya dituruti oleh istrinya itu. “Aku mau japchae.” Hyora segera berjalan ke dapur. Dan segera membuatnya.

“Ah~ Besok mulai masuk kuliah. Membuatku malas saja -_-.” Gumam Hyora sambil terus memasak.

“Ada tugas tidak ya? Chan―, eh iya. Dia kan kelas hukum, beda denganku. Ah, pabo -_-.” Hyora terus saja bermonolog. Macam orang gila -_-.

Ia terus saja seperti itu, hingga japchae buatannya selesai. Entah bagaimana rasanya nanti -_-.

“Yeol!! Japchae-mu sudah jadi!!!” panggil Hyora. Chanyeol segera berlari ke dapur.

“Whoa, sepertinya enak. Gomawo.”

“Hm.” Kemudian Hyora beranjak pergi. Tapi Chanyeol menahannya.

“Tunggu.”

“Apa lagi?”

CUP

Chanyeol mencium bibir istrinya sekilas.

“Itu tanda terima kasih dariku.” Hyora mendorong wajah Chanyeol pelan.

“Dasar byeontae!” kemudian Hyora pergi ke kamar untuk melihat jadwal kuliahnya.

“Kkkk~” Chanyeol hanya tertawa kecil melihat tingkah istrinya itu. Dan mulai memakan japchae yang ada dihadapannya.

Ia makan dengan cepat, mungkin karena efek lapar. Setelah makan, Chanyeol berinisiatif untuk beristirahat di kamar. Saat di kamar, didapatinya Hyora yang sedang duduk tertidur(?) di kursi meja belajarnya. Yah, mungkin karena terlalu lelah dan sekarang sudah cukup larut malam, Hyora ketiduran.

“Whoaa, kau kelelahan ya?” gumam Chanyeol sambil menggendong Hyora ke tempat tidur dan menidurkannya.

“Tidurlah dengan nyenyak, yeobo-ya.” Ucap Chanyeol sambil mengecup kening Hyora. Kemudian tidur disebelahnya.

_=_=_=_

Berbeda dengan Chanyeol dan Hyora yang sudah berselancar di alam mimpi, Baekhyun dan Raehee sedang bingung harus berbuat apa karena tak bisa tidur.

“Baek, kita harus bagaimana?” tanya Raehee.

“Molla. Aku juga bingung mau melakukan apa.” Jawab Baekhyun.

Hening. Mereka masih bingung mau melakukan apa.

“Baek, aku bosan…”

“Tak hanya kau, aku juga. Kita harus berbuat apa?”

“Menonton film? Ah, membosankan. Bermain? Bermain apa? Mencoba tidur? Tak bisa.” Celoteh Raehee.

“Oh iya, kenapa tidak cari di internet saja?” usul Baekhyun.

“Arh, tak begitu juga -_-.” Tanggap Raehee datar.

“Kalau begitu, bercerita saja. Ceritakan tentang dirimu.” Ucap Baekhyun santai.

“Andwae! Aku tak mau menceritakan diriku kepadamu!” balas Raehee dengan kesal.

“Ya! Aku ini suamimu! Bahkan aku tak tahu kapan ulang tahunmu.”

“Hm. Geurae. Nama lengkapku, yah kau tau tentunya, Choi Rae—“

“Park. Margamu sekarang Park. Ingat itu.” Potong Baekhyun. Raehee menatapnya dengan malas.

“Oke oke, aku ulang. Nama lengkapku PARK RAEHEE. Puas? Aku lahir tanggal 9 Desember 1994―”

“Jadi kau harus memanggilku ‘oppa’! Kau ternyata 2 tahun lebih muda dariku. Whoahahaha.” Potong Baekhyun lagi seraya tertawa garing. Sekali lagi, Raehee menatapnya datar.

“Er, terserah kau saja. Sudah. Cukup itu yang bisa oppa ketahui. Untuk selebihnya, cari sendiri.”

Baekhyun mendengus sebal, “Ish, yeoja macam apa kau? Identitasmu tak jelas sama sekali. Oke, sekarang giliranku. Nama lengkapku Park Baekhyun, aku lahir pada 6 Mei 1992. Itu yang bisa kau ketahui.” Ucap Baekhyun.

Raehee mendecih, “Ck, oppa sama saja. Identitasmu juga tak jelas -_-.”

“Oh iya, jadi, adikmu itu lahir tanggal berapa?” tanya Baekhyun.

“10 Desember 1995.”

“Whoa, berarti kau dan Hyora harus memanggil Chanyeol dengan sebutan ‘oppa’. Tahun kelahiran Chanyeol sama denganku, hanya berbeda bulan dan tanggal. 27 November.”

“Lalu?”

“Kirim pesan padanya. Beritahu dia agar memanggil Chanyeol dengan sebutan oppa.”

“Hm.” Raehee mengangguk pelan dan menyambar ponselnya. Mengetikkan pesan ke Hyora untuk memanggil Chanyeol dan Baekhyun dengan imbuhan ‘oppa’.

“Sudah?” tanya Baekhyun. Raehee yang menatapnya malas hanya menunjukkan pesan yang ia kirimkan ke adiknya. Baekhyun tersenyum dan mengetuk kepala Raehee pelan.

“Istri baik.” Ucap Baekhyun sambil menepuk-nepuk ujung kepala Raehee pelan. Raehee langsung menatapnya datar.

“Kau belum mengantuk?” tanya Baekhyun mengalihkan pembicaraan. Raehee menggeleng.

“Lalu bagaimana? Mencoba tidur?” tanya Baekhyun lagi.

“Aku tak mau. Aku biasanya hanya melakukan satu.”

“Apa?”

“Membaca buku yang membosankan. Tak lupa dengan susu coklat juga.”

“Kurasa itu bisa.” Tanggap Baekhyun. Raehee segera pergi ke dapur. Dan membuat susu coklat hangat.

“Oppa! Kau mau tidak?!” tanya Raehee dari dapur.

“Aku mau!!!” jawab Baekhyun. Raehee membuat 2 gelas susu hangat. Dan membawanya ke hadapan Baekhyun.

“Sebentar, kuambilkan buku yang membosankan.” Raehee mengubrak-abrik(?) tumpukan buku tebal yang tertata rapi. Hingga ia menemukan 2 buku yang menurutnya benar-benar membosankan.

“Kurasa ini.” Gumam Raehee sambil melihat sampul buku itu. Buku sejarah penemuan dunia dan sejarah romawi kuno yang sangat membosankan. Lebih membosankan dari FF ini. Gadis itu kembali ke Baekhyun.

“Oppa pilih mana? Romawi atau penemuan?”

“Penemuan saja.” Gadis itu memberikan buku penemuan setebal 678 halaman itu ke Baekhyun. Ia sendiri langsung membaca buku sejarah romawi setebal 1354 halaman yang digenggamnya saat ini.

Belum lama Raehee menjawab, ia sudah mulai menguap. Memang, jika ia membaca buku membosankan, ditambah dengan susu coklat hangat dihadapannya, belum ada 2 menit, ia akan sangat mengantuk. Dan, akhirnya dia ketiduran.

“Hoammmm…” Baekhyun mulai menguap. Ia sudah sangat mengantuk. Dia mendapati Raehee yang sudah tertidur disebelahnya.

“Rae, bangun… Pindah ke kamar…” ucap Baekhyun sambil menggoyang-goyangkan(?) tubuh istrinya. Raehee tak merespon.

“Rae… Bangun. Ayo pindah―hoammm…” Raehee tetap saja tertidur. Baekhyun menyerah. Ia memutuskan untuk menggendong Raehee ke kamar. Dan menidurkannya di tempat tidur berukuran king size itu.

Baekhyun menyelimuti istrinya itu, “Mimpi indah, istriku sayang.”

CUP

Baekhyun mencium bibir Raehee sekilas. Kemudian ia tidur dengan melingkarkan tangannya di pinggang Raehee. Yah, mungkin Baekhyun sudah mulai mencintai istrinya itu.

TBC

Author: Luhana120

I'm a Kpopers

Here We Need Responsibilities. Thanks!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s