EXO Fanfiction Dorm

EXO as the Main Cast

My Enemy My Love (Chapter 8)

2 Comments

grzdhth

Loha, minna-san! Author somplak membawa lagi FF abal-abal ini :’v. Wokeh, langsung aje yo!

Author             : Luhana120.

Main Cast        : Park Baekhyun (Disini Byun Baekhyun marganya ganti Park ya.) EXO, Park Chanyeol EXO, Choi Raehee (OC), Choi Hyora (OC).

Other Cast        : Tjoba cari dah.

Genre               : Romance, Marriage life, AU, dll.

Poster               : Lee Sinhyo @ Fanfiction’s Blog

Rate                 : Mature.

Disclaimer       : Baekhyun sama Chanyeol punya saya, OC punya Tuhan *plak*. Cerita ini berasal dari otak saya.

Author Note     : Ini FF kesekian saya. Dan ini adalah FF terpe’a buatan saya. Hohoho. Disini marganya Baek diubah sesuai cerita ya. Cerita ruwet, amburadul,cerita ga sesuai judul, alur kecepetan, ide super pasaran, 5000 dapet 5 (?). Masih butuh kritik dan saran. Kalo ada bias kalian saya nistakan, ikhlaskan. It’s just story.

HEPI REDING!!

Previous : 7

“Maaf tuan, ini pesanan Anda.” Ucap pelayan tiba-tiba sambil meletakkan 2 piring pancake dan 2 gelas jus wortel. Baekhyun tersadar dan segera mendorong tubuh Ara hingga menjauh darinya.

“Dimana Raehee?!”batin Baekhyun. Ia mengedarkan pandangannya untuk mencari sosok istrinya. Tapi nihil, dia tak dapat menemukannya.

|Chapter 8|

Raehee sedang mengantri untuk memesan makanan. Dan, kini tibalah waktunya dia memesan.

“Anda mau pesan apa?” tanya pelayan.

“Pancake 2 dan jus wortel 2.” Jawab Raehee dengan senyuman yang mengembang(?). Pelayan itu mengangguk. Ia segera membuatkan pesanan Raehee.

Beberapa menit kemudian, pesanan itu jadi.

“Ini pesanan Anda, nona.” Ucap pelayan itu sambil meletakkan nampan berisi pesanan Raehee tadi. Raehee tersenyum dan segera membayarnya. Ia mengambil nampan itu dan berjalan menuju meja yang ia tempati dengan Baekhyun.

Saat berjalan, ia melihat Baekhyun sedang berciuman dengan gadis lain. Raehee mematung. Matanya memanas. Sudut matanya mulai menitikkan air mata. Kemudian ia tersadar ketika ada pelayan yang lewat di depannya.

“Eh, tunggu!” panggil Raehee. Pelayan itu menoleh.

“Ada apa, nona?” tanya pelayan itu ramah.

“Bisa kau antarkan nampan ini ke meja… pasangan yang sedang berciuman disana?” pinta Raehee. Ia merasa sangat sakit ketika menyebutkan kata ‘pasangan’. Pelayan itu mengangguk. Kemudian nampan itu berpindah tangan.

“Gamsahamnida.” Pelayan itu hanya membalasnya dengan senyuman. Raehee sudah tak tahan. Ia berlari keluar café. Entah kemana arah gadis itu pergi.

Ia terus berlari. Hingga ia lelah dan berhenti. Ia berhenti tepat disamping gembok yang ia pasang dengan Baekhyun tadi. Gadis itu menatapnya sayu. Matanya mulai menitikkan air mata. Punggung gadis itu bergetar. Ia memberanikan diri untuk menyentuh gembok itu. Tangisan Raehee semakin deras. Jika bisa, ia ingin melepas gembok itu dan membuangnya sejauh mungkin.

Hingga ia berhenti menangis ketika mendengar suara tangisan di dekatnya. Gadis itu mendekati yeoja yang sedang menangis hebat itu.

“Hyo? Hyora? Itukah kau?” tanya Raehee memastikan. Yeoja yang sedang menangis itu terkejut. Ia menoleh dan langsung memeluk Raehee. Itu memang Hyora.

“Eonni—hiks..” pundak Hyora bergetar hebat.

“Hyo, ada apa?” tanya Raehee dengan lembut.

“Cha-Chanyeol oppa…”

“Chanyeol oppa? Ada apa?”

Chanyeol dan Hyora sedang berjalan-jalan. Hingga, Chanyeol berhenti melihat pengamen yang menggunakan gitar dipinggir jalanan. Chanyeol menghampirinya.

“Em, maaf, boleh aku meminjam gitarmu?” tanya Chanyeol. Pengamen itu menatapnya heran.

“Ini untuk dia.” Ucap Chanyeol sambil menoleh kebelakang menatap Hyora. Pengamen itu tersenyum dan mengangguk. Chanyeol segera mengambil gitar itu dan menyanyikan suatu lagu di depan Hyora.

Geudael bomyeon ulguri bbalgaejigo
Geudael bomyeon gaseumi dugeundugeun
Aicheoreom sujubge malhago
Geudael bomyeon gwaensiri useumina
Babo cheoreom jakkuman geurae
Ama naege sarangi on geot gata

Geudaeneun nae maeum sokeui president
Nae gasemeui byeol sunohji
I’m genie for you girl
Nae sumeul meotge haji
Geudaega wonhaneun geonda
Neoreul saranghanikka
Nae sarange iyuneun eobjanha you know

Geudaeneun darling
Bamhaneul byeolbitboda areumdawoyo
Nae mamsok gipeun goseseo banjjakgeorineun
Namaneui sarangbit

Geudae saranghaeyo darling
Eonjena negyeoteseo bicheul naejwoyo
Maeilbam barabogo
Barabwado areumdawoyo
Geudae naeui sarangbit

Geudael bomyeon gureumeul naneul gibun
Yuchihaedo jakkuman geurae ama naege sarangi on geon gabwa

Geudaeneun darling
Bam haneul byeolbitboda areumdawoyo
Nae mamsok gipheun goseseo banjjakgeorineun
Namaneui sarangbit

Geudaereul saranghaeyo darling
Eonjena naegyeoteseo bicheul naejwoyo
Maeil bambarabogo
Barabwado areumdawoyo
Geudae naeui sarangbit

Geudaeneun lovely
Jeo haneul haessalboda nuni busyeoyo
Nae mamsok eodun gotkkaji barkke bichuneun
Namaneui sarangbit

Geudaereul saranghaeyo lovely
Duneuneul gamabwado geudae boyeoyo
Ireohke barabogo
Barabwado nuni busyeoyo
Geudae naeui sarangbit

 

Ketika aku memandangmu wajahku menjadi merah

Ketika aku melihat mu hatiku menjadi berdebar debar

Aku berbicara dengan rasa malu seperti anak kecil

Ketika ku melihat aku hanya tersenyum entah dari mana

Seperti orang bodoh aku terus melakukan itu

Aku pikir cinta datang padaku

Kau presiden di hatiku

Kau adalah penyulam bintang di dadaku

Aku jin untuk mu gadis

Kau membuatku berhenti bernafas

Apapun kau mau

Karena aku cinta kamu

Disana tidak ada alasan untuk cintaku kau tahu

Kau sayang

Kau lebih cantik dari pada bintang di langit

Hal yang cemerlang jauh di dalam hatiku

Cahaya cinta milikku

Aku cinta kamu sayang

Berikan aku cahaya di samping ku setiap kali

Setiap malam aku memandang mu

Dan kau cantik bahkan ketika aku memandang mu

Kau cahaya cintaku

Ketika aku melihat mu aku merasa suka

Itu mungkin belum dewasa tapi aku tetap melakukannya

Aku rasa cinta datang pada ku

Kau sayang

Kau lebih cantik dari pada bintang di langit

Hal yang cemerlang jauh di dalam hatiku

Cahaya cinta terbaik milikku

Aku cinta kamu sayang

Berikan aku cahaya di samping ku setiap kali

Setiap malam aku memandang mu

Dan kau cantik bahkan ketika aku memandang mu

Kau cahaya cintaku

Kau sayang

Kau lebih menyilaukan dari matahari di langit

Kau bersinar di tempat gelap dalam hatiku

Cahaya cinta milikku

Aku cinta kau sayang

Bahkan jika aku menutup mataku aku melihat mu

Memandang mu seperti ini

Kau tetap berkilau bahkan ketika aku melihat mu

Kau adalah cahaya cintaku

 

Lirik yang begitu manis. Lagu berjudul Love Light milik band CNBLUE itu melantun dengan indah dan diakhiri dengan petikan dari gitar yang dimainkan Chanyeol.

Hyora tersenyum malu. Ia tak menyangka, Chanyeol akan berbuat seperti ini kepadanya. Dan lebihnya lagi, ini dijalan umum, dan ramai orang yang berlalu lalang. Chanyeol mengembalikan gitar itu. Orang-orang yang disekitarnya menyorakinya.

Chanyeol menghadap Hyora. Cukup jauh. Istrinya hanya bisa mengernyitkan dahinya.

“CHOI HYORA! Oh, atau harus kuralat, Park Hyora?” teriak Chanyeol dengan lantang sambil dengan tangan kanannya yang menunjuk Hyora. Ia tak peduli dengan orang sekitar yang menyorakinya lagi. Hyora terdiam dan bingung.

“SARANGHAE!” Tangan Chanyeol berubah posisi. Sekarang tangannya membentang dengan lebar. Seolah ingin memeluk siapapun. Hyora tetap terdiam.

“Peluklah aku jika kau juga mencintaiku!” seru Chanyeol lagi dengan lantang. Tanpa basa-basi, Hyora langsung berlari ke arah Chanyeol dan memeluknya dengan erat.

“Nado. Nado saranghae.” Ucap Hyora.

“Apa? Aku tak dengar, bisa kau ulangi?”

“Nado!!!! Nado saranghae!!!” seru Hyora dengan kencang. Chanyeol tersenyum senang. Ia berhasil membuat Hyora mencintainya.

“Hyo, kajja ke tempat lain.” Ajak Chanyeol. Hyora tersenyum dan mengangguk kecil. Kemudian mereka berjalan pergi. Ke arah menara Namsan.

“Oppa!” panggil seseorang. Suara yang familiar di telinga Chanyeol. Lelaki itu menoleh. Dilihatnya, seorang gadis berlari ke arahnya dan langsung memeluknya. Chanyeol dan Hyora tersentak.

“Chagi, bogosipheoyo…” ucap gadis itu seraya memeluk Chanyeol dengan erat.

“Ji..Jiyeon…” gumam Chanyeol lirih. Chanyeol terdiam. Dengan bodohnya, ia tak menjauhkan tubuh Jiyeon, malah membiarkannya.

Mata Hyora sudah sangat panas. Aliran darahnya serasa berhenti. Jantungnya seakan berhenti berdetak. Ia ingin segera pergi dari tempat itu.

“Em, maaf, bukannya aku mau mengganggu momen kalian, bisakah aku berbicara dengan Chanyeol oppa, sebentar saja,” ucap Hyora. Jiyeon menatapnya sejenak, kemudian mengangguk. Gadis itu melepas pelukan eratnya. Tanpa komando dari siapapun, Hyora langsung saja memukul pipi Chanyeol dengan keras dan berlari.

“Hyo! Hyora!! Hyora!!!!!!!” Sayang, Hyora sama sekali tak mengidahkan panggilan Chanyeol. Gadis itu tetap berlari tak tentu arah. Hingga kakinya lelah berlari dan berhenti di deretan gembok yang terkunci.

“Hyo, kajja pulang. Ini sudah mulai gelap.” Ajak Raehee. Adiknya mengangguk pelan. Kemudian, mereka keluar dari area Namsan Tower, dan mencegat(?) taksi untuk pulang.

_=_=_=_

Disinilah Raehee berada. Ia sedang duduk di kasur dan menatap 2 tiket yang ada ditangannya dengan kosong.

“Besok pukul tujuh. Semuanya sudah kupersiapkan. Hanya tinggal menunggu waktu.”

Gadis itu terdiam. Larut dalam pikirannya. Di otaknya masih terputar dengan jelas, bayangan Baekhyun berciuman dengan yeoja lain. Raehee mulai menitikkan air mata. Air mata itu mengalir dengan deras.

“Hanya berjarak beberapa menit dengan hal manis yang oppa lakukan…”

“Oppa sudah berciuman dengan gadis lain hiks…”

“Oppa tahu? Itu menyakitkan!”

Punggung kecil gadis itu bergetar hebat. Sangat menyakitkan untuk mengingat hal tadi. Pikiran gadis itu berantakan sekarang. Ia tak terlalu bisa berfikir dengan jelas.

“Kurasa aku harus tidur untuk menjernihkan pikiran.” Gadis itu memutuskan untuk tidur. Ia segera mengganti bajunya dengan piyama, dan kemudian mencoba untuk tidur. Beberapa menit kemudian, gadis itu sudah tertidur pulas.

CKLEK

Pintu kamar terbuka. Tentu saja itu Baekhyun yang baru pulang setelah mencari sosok Raehee yang meninggalkannya di café tadi. Ia mendapati istrinya yang sedang tertutup rapat oleh bed cover bermotif papan catur yang tebal. Laki-laki itu memberanikan diri untuk mendekati istrinya.

Diamatinya wajah gadis itu. Baekhyun tahu, Raehee habis menangis. Terlihat dari bulu matanya yang masih basah, dan mata yang sedikit membengkak. Baekhyun meraba pelupuk mata istrinya dengan lembut.

“Rae, mianhae, jeongmal mianhae…” ucap Baekhyun dengan penuh penyesalan. Meski ini bukan sepenuhnya salahnya, ia merasa tak bisa menjaga ucapan ibunya untuk tidak membuat istrinya menangis. Ia sangat menyesal, telah menyakiti Raehee dengan kelakuan Ara.

Laki-laki itu menatap Raehee sayu.

“Mianhae, aku tahu, ini lebih menyakitkan dibandingkan dengan ketika kau bersama Suho.” Ucap Baekhyun lirih. Baekhyun mengecup kening, mata, hidung, pipi, dan bibir Raehee. Sekilas, tapi penuh kasih sayang dan penyesalan.

“Mianhae. Aku menyayangimu.” Bisik Baekhyun tepat di samping telinga Raehee. Ia segera mengganti bajunya dengan piyama, kemudian tidur di samping Raehee.

_=_=_=_

Dilain tempat, Hyora sedang membiarkan angin malam yang cukup kencang berhembus melewatinya di balkon kamarnya. Pikiran gadis itu kacau sekarang.

“Oppa menyanyikan lagu yang indah untukku…”

“Di tempat ramai pula.”

“Kemudian oppa berpelukan dengan yeoja lain.”

“Menyakitkan.”

Gadis itu tersenyum miris. Ia membiarkan hawa dingin menusuk tulangnya. Hyora mulai menitikkan air mata. Tak tahan dengan kejadian yang masih terputar dengan jelas di otaknya. Tangisan yeoja berumur 19 tahun itu mengencang. Punggungnya bergetar hebat. Hati gadis itu tersayat. Ia tak dapat menahan tangisannya.

BRUK

Tiba-tiba saja, tubuh Hyora terjatuh. Ia pingsan. Mungkin karena ia kelelahan dan ia terserang angin kencang serta sangat dingin, fisik gadis itu melemah, dan akhirnya jatuh pingsan. Hanya dengan terselimuti hawa dingin, gadis itu layaknya mayat. Wajahnya pucat dan tubuhnya sangatlah lemas.

“Hyo! Kau dimana, sayang?” teriakan seorang lelaki bersuara berat menggema di apartemen Hyora. Park Chanyeol. Ia baru pulang setelah lelah mencari Hyora di penjuru area Namsan. Lelaki itu terus mencari keberadaan istrinya. Hingga yang belum ia cari, di kamar. Chanyeol masuk ke kamar. Matanya langsung tertuju pada pintu kaca menuju balkon yang terbuka lebar. Ia berniat untuk menutup pintu itu, tetapi ia urungkan ketika melihat Hyora yang tergeletak di lantai dengan wajah pucat.

“Hyo!” Chanyeol dengan sigap membopoh Hyora ke dalam. Sungguh dingin diluar. Ia menidurkan tubuh Hyora dengan hati-hati di ranjang. Tatapan lelaki itu sayu. Ia menunduk. Ia menyesal, karena membiarkan Jiyeon terus memeluknya. Dan sekarang, Chanyeol duduk di sebelah Hyora.

“Aku bodoh.”

“Aku bukan suami yang baik…”

“Untuk Hyora.”

“Mianhae, jeongmal mianhae.” Chanyeol menggenggam tangan Hyora dengan erat. Mata lelaki itu menatap wajah istrinya yang sangatlah pucat. Rasa menyesal dan bersalah menghantui pikiran dan hatinya. Chanyeol resah, ia sadar ia melanggar pesan ibunya.

Mungkin karena terlalu lelah, Chanyeol tertidur dengan tangan yang masih bertaut dengan tangan Hyora.

_=_=_=_

Jam 4.40 pagi.

Di pagi buta seperti saat ini, mata Hyora sudah terbuka dengan sempurna. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Matanya langsung terpaku pada Chanyeol yang duduk tertidur dengan tangan yang bertautan dengan tangannya. Gadis itu melihat Chanyeol penuh prihatin.

“Yeol, ireona. Pindahlah.” Ucap Hyora tepat pada telinga Chanyeol. Sayang, tak ada reaksi yang berarti dari suaminya.

“Yeol, ireona! Tidurlah di kasur!” Chanyeol mulai terbangun.

“Apa?” tanya Chanyeol dengan mata setengah terbuka.

“Naiklah, jangan tidur di kursi.” Perintah Hyora. Chanyeol mengangguk pelan, kemudian mulai memindahkan tubuhnya di sebelah Hyora. Nyonya Park itu beranjak pergi. Tetapi, lelaki yang sedang mengantuk berat itu langsung saja memeluk istrinya dengan erat.

Hyora pasrah. Dekapan Chanyeol terlalu erat baginya. Ia memutuskan untuk menunggu Chanyeol untuk tertidur pulas lagi. Beberapa menit. Mungkin itu cukup.

Gadis itu melambaikan tangannya tepat di hadapan wajah Chanyeol. Setelah ia merasa suaminya telah tertidur pulas lagi, Hyora memindahkan tangan Chanyeol yang terletak di atas perutnya. Pelan-pelan. Kemudian, ia menyambar ponsel yang kemarin ia letakkan di atas meja. Ada pesan.

Jangan lupa, hari ini kita berangkat. Bersiap-siaplah. Oh iya, jangan lupa untuk memasakkan suamimu sesuatu.

Yap, itu adalah eonni Hyora, Raehee. Setelah membaca pesan itu, ia segera ke dapur untuk memasak sesuatu.

“Masak apa ya?” Gadis itu membuka kulkas. Masih banyak bahan disana. Dia memutuskan untuk membuat sup ayam dan kimchi.

Ia mempersiapkan segalanya. Ayam, sayuran, dan bumbu-bumbunya. Ia mulai memasak sup ayam dahulu. Kemudian, baru ia memuat kimchi.

“Oh iya, selain sup ayam dan kimchi apa lagi yah?” gumam Hyora ketika semua menu yang tadi ia buat telah selesai dan siap disantap.

“Minuman?”

“Jus… Jus apel…”

“Apa Chanyeol oppa menyukainya?”

“Aish, mollaaaaa. Buat sajalah,”

Istri dari Park Chanyeol tersebut dengan cekatan(?) mengambil apel yang sudah dicuci dari kulkas dan memotongnya. Kemudian, menghaluskannya(?) menggunakan blender.

“Ah, selesai semuanya.” Gumam Hyora senang. Ia melihat jam yang terpasang di dinding dapur.

“Jam 5.30. Geurae, aku mandi dulu.” Gadis itu melenggang ke arah kamar. Tatapannya langsung berhenti pada suaminya yang sedang tidur dengan pulas. Ia tersenyum. Senyuman miris.

“Aku harus cepat.” Ucap Hyora pelan. Kemudian, ia langsung memasuki kamar mandi.

_=_=_=_

Bandara.

Disinilah sepasang saudara penyandang marga Choi berada. Um, mungkin harus diganti dengan Park.

“Eon, pesawatnya sudah datang, kajja!” ajak Hyora sambil menarik tangan Raehee. Raehee mengangguk. Mereka pun berjalan ke arah pesawat dan langsung duduk dengan tenang.

“Eon, ini akan memakan waktu berapa lama?” tanya Hyora. Raehee mengangkat bahunya pelan.

“Molla.”

Perhatian, pesawat akan lepas landas, harap pasang sabuk pengaman Anda.” Suara perempuan terdengar nyaring di seluruh awak pesawat.

Semua penumpang segera memasang sabuk pengaman mereka. Kemudian, pesawat pun lepas landas. Selama perjalanan, Raehee memilih untuk tidur, sedangkan Hyora memilih mendengarkan music melalui headphone dan music playernya.

Hyora sangatlah bosan saat ini. Hal inilah yang ia benci saat berpergian menggunakan pesawat. Membosankan. Ia memutuskan untuk membaca komik Sinchan untuk mengusir rasa bosan yang menyelubunginya.

“Maaf, Nona. Anda ingin makanan?” tawar pramugari nan tinggi dan cantik kepada Hyora. Sontak, Hyora melepas headphonenya dan menoleh. Seketika, matanya berbinar melihat perawakan tinggi di sampingnya.

“Sooyoung eonni?” panggil Hyora. Pramugari―atau Sooyoung― tersenyum ramah. Sudah lama ia tak melihat Hyora setelah ia menjadi seorang pramugari.

“Apa kabarmu?” tanya Sooyoung.

“Aku baik, eon. Eonni sendiri bagaimana?”

“Aku baik. Oh, mungkin kita bisa berbicara nanti. Aku harus bekerja. Kau mau makanan?” tawar Sooyoung dengan senyuman khas yang bertengger di wajahnya nan cantik dengan polesan bedak tipis. Hyora tertawa kecil dan menggeleng pelan.

“Kalau begitu, aku pergi dulu. Annyeong.” Ucap Sooyoung tetap dengan senyuman. Hyora mengangguk kemudian memakai headphonenya lagi.

Tiba-tiba ia teringat sesuatu. Saat akan pergi ke bandara, ia sangat terburu-buru hingga lupa untuk berpamitan pada Chanyeol. Gadis itu sedikit gusar, takut Chanyeol akan memarahinya ketika pulang. Ingin pulang sekarang? Mana bisa. Tak mungkin ia harus terjun di ketinggian seperti ini.

Ia memutuskan untuk menghilangkan pikiran itu jauh-jauh. Mencoba rileks. Hingga akhirnya ia ikut tertidur bersama kakaknya.

TBC

Author: Luhana120

I'm a Kpopers

2 thoughts on “My Enemy My Love (Chapter 8)

  1. baekhyun sm chanyeol sm aja berduaa……

  2. annyeong… aku readers baru… itu buat dapetin pw yg last chap dimana ya? mohon tanggapannya

Here We Need Responsibilities. Thanks!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s