EXO Fanfiction Dorm

EXO as the Main Cast

Who Do We Belong to?

Leave a comment

Baekhyun Fanfiction | OC

Parental Guidance

He understands that: Baekhyun is indeed Ririn’s. But it doesn’t mean she automatically belongs to Baekhyun.

Kita tak pernah tahu, dalam hidup ini, Tuhan akan menyerahkan kita kepada siapa? Atau, kita akan bertemu dengan siapa? Who do we belong to?

Begitupun dirinya. Ia tak pernah tahu kalau ia akan duduk seperti ini, di kamar ini.

Namanya, Baekhyun. Gadis itu sendiri yang memberi nama. Baek untuk seratus. Hyun untuk sempurna. Maka Baekhyun untuk seratus persen penyempurna hidupnya. Begitu kata gadis itu, Ririn.

Baekhyun selalu percaya apapun yang dikatakan Ririn, seperti, “Baek, menurutmu, mengapa kau hanya bisa duduk?”

Baekhyun diam.

“Karena kalau kau bisa lari, kau pasti sudah memilih gadis lain yang lebih cantik dan tidak pecicilan ketimbang diriku. Lalu kalau kau pergi, siapa lagi penyempurna hidupku?” ucap gadis itu sambil menyisir dan merapikan rambut Baekhyun.

Baekhyun bahagia sekali bisa mendengarkan kata-kata seperti itu setiap hari. Bertahun-tahun Ririn lebih memilih mengurung diri di kamar bersama Baekhyun daripada bermain dengan anak-anak seusianya. Ia juga bersyukur sekali ayah Ririn telah menghadiahkan dirinya di ulang tahun Ririn yang ke-8.

Dan lagu pertama yang Baekhyun nyanyikan di dunia adalah Happy Birthday untuk Ririn. Setelah itu, segala hal yang Ririn ucapkan akan Baekhyun balas dengan alunan musik.

Karena, Baekhyun hanyalah sebuah kotak musik, sebuah mahakarya ayah Ririn.

Baekhyun punya rambut, kulit, dan anggota tubuh lain dengan ukuran manusia normal. Namun di balik kulit itu, semua hanya terbuat dari kaleng. Ia hanya bisa duduk diam di kursi ini dan bernyanyi.

Pagi-pagi Ririn selalu menggeser Baekhyun agar menghadap jendela kamar, “Baek, aku pergi sekolah dulu, ya. Kau lihat pintu gerbang di sana?” tunjuk Ririn pada gerbang rumah, “Aku selalu lewat situ saat pergi dan pulang. Jadi, pantau terus pintu itu dan tunggu aku, oke?” Ririn setengah memeluk Baekhyun kemudian pergi.

Seandainya saat itu Baekhyun bisa tersenyum senang. Tapi tidak. Ia hanya bisa mengalunkan musik untuk menyuarakan hatinya–entahlah, orang-orang menyebutnya hati. Tapi Baekhyun tak benar-benar mengerti di mana letak hati itu.

3.6.5. Itu lagu yang sering Baekhyun nyanyikan saat Ririn pergi sekolah. Kadang Baekhyun juga berdoa agar gadis itu selamat di manapun. Agar ia bisa kembali dan bertemu Baekhyun.

Ya, ia selalu berdoa akan keselamatan gadis itu.

***

Kini Ririn telah menjadi mahasiswa. Baekhyun tak mengerti melihatnya. Ririn terlalu sibuk memikirkan tugas-tugas yang Baekhyun tak tahu seberapa pentingkah itu semua? Lebih pentingkah daripada kesehatan dirinya dan waktu-waktunya bersama Baekhyun?

Bertahun-tahun bersama ternyata membuat Ririn selalu tahu perasaan Baekhyun. Ia tahu saat mainan musik itu merasa terabaikan. Jadi setelah selesai dengan tugas-tugasnya hingga larut malam, Ririn menghampiri Baekhyun.

“Hey, kau marah, ya?”

Baekhyun diam.

“Akhir-akhir ini kau sudah jarang bernyanyi. Mungkin, kau sudah bosan?”

Tidak, aku tak pernah bosan padamu. Tapi kau yang bosan padaku.

“Atau kau lelah terlalu sering bernyanyi?”

Aku hanya kotak musik, mana mungkin aku lelah?

“Atau praktisnya mungkin memang kau sedang marah padaku,” gadis itu menghela napas. Baekhyun ingin ikut menghela napas juga. Tapi ia lupa, ia tak bernapas.

Ya, mungkin aku sedikit marah.

Seperti biasa, Ririn selalu tahu apa yang membuat Baekhyun membaik. Ia perlahan mengecup kening Baekhyun, “Aku minta maaf, ya.” Itu kecupan pertama selama bertahun-tahun bersama. Baekhyun merasa seperti… ribuan bunga-bunga sedang tumbuh di dalam tubuh kalengnya.

“Sekarang, maukah kau bernyanyi untukku?”

Baekhyun tidak bisa bilang ‘ya’ atau ‘tidak’. Maka mau tak mau, ia menjawabnya juga dengan lantunan musik. Membuat Ririn tersenyum dan mengusap-usap kepala Baekhyun.

Kemudian gadis itu pergi tidur, dengan Baekhyun yang memperhatikannya sepanjang malam.

***

Ririn sudah lama menjadi sarjana dan menjadi penerjemah di perusahaan asing. Baekhyun senang karena pekerjaan itu tak memberatkan Ririn dan mereka akhirnya memiliki waktu-waktu seperti dulu lagi.

Sampai pada suatu hari, Ririn dengan semangatnya memberitahu Baekhyun, “Baek, akhirnya aku ditugaskan ke China!”

Awalnya Baekhyun terkejut. Namun melihat gadis itu senang, tidak ada alasan lain yang membuatnya tidak ikut senang. Baekhyun pun melantunkan musik memberi selamat.

“Yah, tapi, Baek, kita jadi tak bisa bertemu,” ujarnya kecewa, “Andai saja kau bisa kulipat.”

“Tapi, ya, sudahlah. Ngomong-ngomong aku punya sesuatu, tadi kubeli saat pulang dari kantor.”

Ririn menghampiri sebuah kantung belanjaan besar dan mengeluarkan isinya di hadapan Baekhyun, “Dari dulu bajumu itu-itu saja. Kaus oblong dan celana pendek. Ya… walau kau tetap tampan, sih, hanya dengan itu.” Baekhyun senang karena itu kali pertama Ririn memujinya secara fisik. “Tapi aku juga penasaran. Kalau kau memakai setelan formal, kira-kira bagaimana, ya?”

Ririn menggaruk-garuk kepala melihat Baekhyun. Bingung memakaikannya. “Di-double sajalah, ya?” ujarnya akhirnya tanpa harus membuka suatu apapun dari Baekhyun. Aneh. Baekhyun hanya kotak musik namun gadis itu terlihat bersemu merah. Membuat Baekhyun ingin tertawa karena lucu. Ia pun lantas menyanyikan Gwiyomi milik Hari.

“Heh! Apa-apaan lagumu? Matikan, tidak?” Baekhyun belum berhenti bernyanyi. “Kau mentertawaiku, ya? Matikan atau aku tidak memakaikanmu jas ini?” ancam Ririn.

Baekhyun akhirnya patuh.

Ririn menggeleng-gelengkan kepala tak habis pikir, “Ada-ada saja kotak musik jaman sekarang.”

Begitulah perpisahannya dengan Ririn yang besok terbang ke Tiongkok.

Seperti biasa, Baekhyun hanya berdoa akan keselamatan Ririn dan meminta agar Tuhan memberi gadis itu umur panjang.

Agar Ririn bisa kembali pada Baekhyun.

***

Pada dasarnya semua doa selalu dikabulkan. Hanya saja selalu dimodifikasi oleh Tuhan. Ada yang sedikit dimodifikasi. Ada yang keseluruhannya.

Dan Baekhyun bersyukur doanya hanya sedikit dimodifikasi.

Setelah bertahun-tahun, Ririn akhirnya pulang dengan selamat sentosa dan panjang umur. Dan dia mungkin semakin… cantik? Entahlah, Baekhyun tidak tahu definisi cantik menurut ukuran manusia.

Yang jelas, melihat Ririn di depan sana mengenakan gaun dan menjadi wanita dewasa, Baekhyun suka.

Tapi bagaimanapun, Tuhan sudah memodifikasi doanya. Ririn yang di sana itu, tidak kembali pada Baekhyun. Dan bukan lagi milik Baekhyun.

Atau, memang ia tak pernah menjadi milik Baekhyun.

Gadis itu memutuskan menikah dengan seorang pria yang ditemuinya di China. Yang Baekhyun sengaja lupa namanya. Lu-sesuatu, entahlah.

Gadis itu boleh jadi milik orang lain, namun kenangan yang mereka bangun tetap milik mereka berdua. Yang jelas pada saat ini, siapapun di posisi Baekhyun pasti sudah menangis. Tapi ia tak bisa mengeluarkan air mata. Ternyata seperih ini rasanya menahan tangis.

Jadi di sinilah Baekhyun. Mengenakan setelan formal pemberian Ririn terakhir kali, sambil berusaha sesenang mungkin menyanyikan wedding march dan menyaksikan seluruh proses resepsi itu.

Faktanya Baekhyun bukanlah penyempurna hidup gadis itu. Kalimat pertama yang diucapkan Ririn padanya, justru itu yang paling tidak bisa dipercaya. Namun kini Baekhyun paham. Bahwa ia benar-benar hanya sebuah kotak musik bagi gadis itu.

He understands that: Baekhyun is indeed Ririn’s. But it doesn’t mean she automatically belongs to him.

It just doesn’t mean anything at all.

***

This fanfiction is inspired by my beloved fanartist artwork entitled: Lullaby. Yes it’s E.Gaborovna‘s.

Horee selesai juga. Kek sudah berbulan-bulan ide ini bergumulan di otak, baru terealisasikan sekarang

Heu sebenernya ada filosofi dibalik ff ini (halah cot) dan sebenernya wa pengen bercuap2 panjang kali lebar kali tinggi. Namun tangan dan hati ini sudah lelah mengetik dan masuk2in lagu plus link (lah curhat) ntar wa ketik di page baru ajalah. (di sini gaes)

Intinya sih, gimanapun bias tuh cuman kotak musik kita, penghibur kita, gak lebih. Kita bisa bilang bias tuh punya kita, tanpa kita bias gabisa apa-apa, bukan apa-apa. Ya, bener. Tapi tetep aja itu semua ga berarti kita jadi milik si bias, kan? Kita aja yang ngaku2, dia mah enggak. Hiks syedih :(( wakakak

Ini sekalian jadi wake up call ku sih kalo ngayal xixixi sudahlah. Mari kita ngayal lagi. Mumpung ngayal grates gaes wkwkwk. Btw, jan lupa kesan-pesan :)))

Author: blanco0719

EXO, Luhan, Baekhyun, KrAyHan, KaiBaek, singing, writing, drawing, imagining, photo-editing, fangirling 24/7, blogging, cholerist-melancholist, O, Cancer, 96line, ENFP-T

Here We Need Responsibilities. Thanks!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s