EXO Fanfiction Dorm

EXO as the Main Cast

Criminal Minds

1 Comment

large-221

Tittle    : Criminal Minds

Author : eezeeba

Length : Two shot/twoshoot (Part 1)

Genre  : Romance, brothership, angst, action

Rating : PG-15

Casts : Kim Jongin (Kai), Wu Yifan (Kris), Shei Phan, etc.

Disclaimer: this fanfic originally written by eezeeba, no plagiarism in every diction and sentence.

Author’s note : Halo! Akhirnya setelah sekian lama saya ada keinginan buat nulis lagi. anyway, ada yang kenal sama cast cewek di atas? Yep! It’s Shei Phan from America’s Next Top Model S21! I’ve been loooved her since then. Dese keturunan Vietnam-Amerika, tapi mukanya Asia banget. Cantik. Tough dan anggun, me likey! Happy reading, darlings! Btw disini Kris ceritanya orang Korea ya, iya, iyain aja :p

Jongin masih membisu saat sang bos menyodorkan sebuah koper hitam kepadanya. Matanya menatap awas, tak ada yang bisa menduga apa yang sebenarnya sedang Jongin pikirkan. Jari-jarinya akhirnya terulur, sedikit ragu memungut selembar foto yang merupakan salah satu dari sekian benda yang ada di dalam koper itu.

“Namanya Shei Phan,” suara serak sang bos memecah keheningan ruang sempit itu, “dia putri ketua mafia Vietnam yang kemarin membunuh 3 anggota sekaligus mencuri heroin selundupan kita di Pnom Penh. Culik dia, Jjong. Biar laki-laki tua sombong itu tahu rasa.”

“Dimana aku bisa menemukannya?” Jongin akhirnya mengangkat suara. Sang bos menunjuk isi koper dengan dagunya.

“Gadis itu model di New York, seorang supermodel malah. Tadi pagi anggota kita yang ada disana sudah kutugaskan untuk membunuh sopir pribadinya. Tugasmu esok adalah menyamar menjadi sopir barunya . Culik gadis itu ketika ada kesempatan. Aku butuh orang terbaikku untuk mengurusnya, Jjong. Gadis itu bisa membawa kita menguasai Asia Tenggara. Nanti malam kau berangkat ke New York dengan paspor palsu yang sudah ada dalam kopor itu. Ingat, kau bukan Kim Jongin disana. Namamu sekarang Kai.”

K. A. I. Pelan Jongin mengeja nama barunya. Kemudian tanpa babibu ia tutup koper di hadapannya, menentengnya sambil melenggang keluar ruangan tanpa berpamitan pada pria yang selama ini ia panggil ‘boss’.

***

                Hari masih cukup dini untuk disebut pagi bahkan untuk ukuran kota yang tidak pernah tidur macam New York. Setelah berkeliling bandara, Kai akhirnya memutuskan untuk menaiki taksi. Menyuruh si sopir  mengantarnya ke apartemen Shei yang alamatnya sudah ia kantongi. Sepanjang perjalanan Kai tak melepaskan matanya dari langit kebiruan yang masih memayungi hari. Arloji di tangannya baru menunjuk pukul 5.30 a.m. Jalanan masih lengang untuk dilewati, beberapa kali ia malah menemui segerombolan burung gereja yang menyeberangi langit, menyemarakkan ritual bumi untuk menyambut pagi.

“This is the building you refer to earlier, Sir. We’re here,” kata si sopir sopan setelah menghentikan taksinya di depan lobi sebuah bangunan megah. Kai buru-buru merogoh sakunya, mengeluarkan beberapa lembar uang sambil mengucapkan terimakasih.

Sekuriti blonde yang berjaga di pintu masuk memerhatikannya sampai Kai menyandarkan punggungnya di sofa lobi. Sekali lagi mengecek jam tangannya. Menunggu ponselnya bordering tanda sang gadis menunggu jemputannya. Kai hampir terlelap saat ponselnya bergetar menandakan panggilan masuk. Segera ia swipe layar ponselnya, mendapati suara merdu menyapanya ramah.

”Hello, good morning, Mr. Kai. I got this number from my previous driver-agency. They said they’ve replaced Mr. Carter with you due to his absence. Have they informed you to pick me up at 7 am? I know I should have contacted you last night but I had super hectic day that I forgot to do so.”

“It’s okay, Miss Phan. I’ll pick you up at 7 am sharp,” jawab Kai seperlunya. Setelah mengucapkan terimakasih gadis itu menutup teleponnya. Membuat Kai menunggu dalam kebisuan selama 44 menit penuh.

Ponselnya lagi-lagi berdering saat waktu menunjukkan pukul 7 kurang 3 menit. Kai mengangkatnya sambil mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru lobi. Mendapati seorang gadis semampai dengan surai hitam yang diikat tinggi juga sedang terlihat mencari-cari seseorang.

“Hello Mr. Ka….”

“I think I’ve seen you, Miss,” potong Kai saat gadis itu mulai membuka percakapan. Kai berjalan mendekatinya, membuat sang gadis tersenyum lega sambil menurunkan ponselnya.

“You must be Miss Phan,” sapa Kai ramah sambil mengulurkan tangan, “I’ll be your new driver from now on, Miss.”

“Hey wait,” Shei menatapnya dengan antusias, “you’re an Asian, aren’t you? Are you Korean? Or Chinese maybe?”

“Yes, I’m Korean, Miss.”

“Really?! Oh annyeonghaseyo,” sekarang gadis itu sudah tersenyum lebar, tampak begitu senang, “kautahu? Aku pernah tinggal di Korea selama 3 tahun, kekasihku pun orang Korea. Ah I always sooooo excited to meet any Asian here in United States.”

Untuk sesaat Kai berusaha mencerna kata-kata gadis itu. Ia kemudian balas tersenyum, ia benar-benar tersenyum tulus. Ia tak akan bisa menyangkal bahwa ia juga senang bertemu gadis semenyenangkan dan seramah Shei.

“Kalau begitu kita pergi sekarang, okay? Mobilku ada di basement, Kai-ssi,” lanjut Shei ramah.

“Kai saja, Nona.”

“Kalau begitu, Shei saja. Bagaimana?”

“Deal,”  Jongin lagi-lagi tersenyum.

***

                “Sebelum ke kantor kita mampir ke restoran Korea di St. Lafayette itu ya, nanti kalau sudah dekat kuberi aba-aba,” pinta Shei sambil mengetik entah apa di ponselnya. Kai mengangguk , sekilas melihat Shei dari pantulan gadis itu di kaca depan.

Beberapa menit kemudian sampai juga mereka di restoran kecil dengan huruf Korea besar-besar di depannya. Kening Kai berkerut, jam baru menunjuk pukul 7.21. Restoran tampak begitu lengang, bahkan tulisan close masih tertempel di pintu masuknya.

“Sepertinya restorannya masih tutup, Shei,” komentar Kai setelah mengamati bangunan itu selama beberapa saat. Shei terkikik pelan.

“Tenang saja, Kai. Aku langganan di restoran ini. Setiap pagi atau kapanpun aku berangkat ke kantor, aku pasti kesini. Tadi malam aku sudah meminta pada pemilik resto ini untuk membuatkan bibimbab pagi-pagi sekali. Kris – kekasihku, suka sekali sarapan dengan makanan korea,” jelas Shei bersemangat, “aku turun dulu, ya. Tidak akan lama kok.”

Gadis itu buru-buru mendorong pintu mobil, dengan langkah lebar-lebar berjalan mendekati restoran itu. Sebegitu buru-burunya hingga ia tak menyadari mimik wajah Kai yang berubah. Satu nama yang disebut Shei membuat jantungnya berdetak sepuluh kali lebih cepat daripada seharusnya.

Kris? Wu Kris kah yang dimaksud Shei? Kai membatin bimbang.

“Hei! Apa yang sedang kaupikirkan? Aku cepat, bukan?” kejut Shei tiba-tiba sambil menutup pintu mobil. Dengan senyum lebar gadis itu mengulurkan sekotak bibimbab dengan beberapa telur gulung yang masih hangat.

“Ini, makan lah! Kau sudah berapa lama di Amerika? Pasti rindu masakan Korea bukan?”

Kai menerima uluran kotak makan transparan itu dalam diam, hanya tersenyum samar sebagai tanda terimakasih.

“Bisa kita berangkat sekarang? Kantorku tinggal 8 menitan kok dari sini, setelah itu kau bisa makan sarapanmu,” lanjut Shei, masih tanpa nada memerintah dengan senyum yang selalu tersungging. Kai mengangguk, menghidupkan lagi mesin mobil.

Jangan. Jangan sampai dugaanku benar. Siapapun Kris yang gadis ini maksud, semoga bukan Wu Kris.

***

                “Ya! Kim Jongin! Kau ini niat sekolah atau tidak?” tanya Kris – setengah mencibir setengah keheranan melihat penampilan Jongin pagi itu. Kemeja putihnya memang tampak normal, tapi celana yang ia kenakan adalah celana olahraga yang sobek di bagian lututnya. Jongin nyengir kuda, menanggapi pertanyaan Kris dengan menggaruk kepalanya yang entah sebenarnya gatal atau tidak.

                “Hei, aku tanya, kemana celana seragammu, Jong?” ulang Kris melihat tingkah sahabatnya itu.

                “Entahlah, Kris. Sepertinya dicuri, atau terbang, entahlah,” jawab Jongin serampangan. Kali ini Kris tergelak.

                “Ya! mana ada orang yang mau mencuri celana yang bahkan warnanya sudah pudar itu, Jong,” sahut Kris dengan kekehan renyah, “kenapa tidak pinjam saja? Kyungsoo hyung kan tetanggamu? Dia baru lulus tahun lalu, mungkin seragamnya masih ada.”

                Kali ini Jongin tertawa mendengar pertanyaan Kris, “Kyungsoo hyung? Celana seragamnya hanya akan jadi celana ¾ di kakiku, Kris.”

                Dua remaja jangkung itu tergelak bersama, membayangkan Jongin memakai celana Kyungsoo yang pasti akan kekecilan di tubuh lelaki itu.

                “Beli lagi saja, Jong. Kau terlihat seperti berandalan berpakaian seperti ini.”

                Jongin tersenyum kecut. Jika akan perbedaan mencolok di antara mereka berdua, itu akan ada pada status sosial keduanya. Ayah Kris seorang pengacara kondang, sedangkan ibunya memiliki took kue yang cabangnya hampir ada di seluruh Korea. Jongin? Dia cukup beruntung memiliki ayah yang bekerja sebagai akuntan publik. Namun keberuntungan Jongin berhenti saat ayahnya terkena PHK dan menjadi pemabuk brengsek yang tiap malam memaki-maki ia dan ibunya.

                “Uangku kemarin baru kubelikan buku-buku pelajaran kita, Kris. Aku tak punya lagi uang selain untuk makan 7 hari ke depan,” terang Jongin pahit.

                “Oh! Aku ingat! Aku punya utang padamu, Jong! Ingat aku meminjam uangmu untuk beli manga waktu itu?”

                “Ayolah, Kris. Celana seragam kita 10 kali lebih mahal dari manga pornomu itu,” elak Jongin tak enak. Ia tahu, Kris sudah berkali-kali melakukan hal itu, seolah-olah mengaku berhutang padanya, tetapi ia selalu memberi apapun lebih dari yang Jongin pernah berikan.

                “Tidak! Waktu itu manganya mahal kok,” Kris bersikeras. Dalam hatinya Jongin bersyukur. Kris berusaha tetap menghormatinyadengan  sikapnya yang sok-sok ingin membayar hutang itu, padahal ia tahu, Kris hanya ingin membantunya.

                “Yasudahlah, ayo berangkat, Kris. Busnya datang sebentar lagi,” Jongin mencoba mengalihkan pembicaraan. Namun Kris sudah mengerling nakal sekarang.

                “Ayo bolos saja, Jong! Kita beli celanamu sambil jalan-jalan. Aku bosan sekolah. Sehari ini saja,” bujuk Kris dengan bibir yang tersungging miring.

                “Kita bisa kena razia karena berkeliaran di jam sekolah dengan seragam seperti ini, Kris!”

                “Kita ke rumahmu dulu, aku pinjam kaos dan celana jeansmu, ya? Ayo!” kali ini Kris sudah berlari ke arah rumah Jongin, membuat lelaki berbibir tebal itu mau tak mau harus mengejar sahabatnya.

                “Ya! Ya! dasar orang gila! Ibuku masih di rumah! Kris!”

***

                Kai bersandar di jok mobil. Mendengarkan lagu-lagu yang mengalun dari mp3 transmitter milik Shei. Gadis itu minta diantar ke lokasi pemotretan pukul 1 siang, 17 menit dari sekarang. Dan sedari tadi Kai tak bisa tenang. Sejak mendengar nama Kris tadi pagi, ingatan Kai akan masa sekolahnya seolah tak henti singgah di pikirannya tanpa permisi.

Ponselnya bordering, tentu saja itu Shei. Kai buru-buru mengangkat panggilan itu, seperti biasa mendapati suara halus Shei memintanya ini-itu dengan kalimat dan nada yang tak terdengar seperti majikan sama sekali.

Oh tunggu, Kai hanya berpura-pura menjadi sopir Shei. Shei memang bukan majikannya.

“Halo, Kai, apa kau sudah dekat dengan kantor?”

“Aku tidak pergi kemana-mana, Shei. Aku menunggumu di parkiran kantor.”

“Benarkah? Kenapa?” tanya Shei, terdengar kaget, “kau boleh pergi kemanapun menggunakan mobilku asal pada jam yang sudah kuberitahu di awal kau datang menjemputku. Apa kau tidak bosan menungguku 3 jam?”

Kai tertegun. Apakah nasib semua sopir pribadi di dunia ini sebaik dirinya? Oh astaga, Kai terlalu mendalami perannya sebagai seorang sopir.

“Sepertinya aku tidak punya tujuan lain selain bekerja, Shei. Ngomong-omong, kau sudah akan berangkat?”

“Ah iya, aku menelepon karena ingin meminta tolong, Kai. Bisakah kau naik ke lantai 17? Aku harus membawa beberapa prop padahal semua orang sibuk disini, kau bisa membantuku, kan?”

Ayolah, Shei. Apakah gadis ini selalu sebaik dan sebasa-basi ini pada semua orang?

“Aku naik sekarang,” tegas Kai kemudian menutup telepon. Dilangkahkannya kaki ke dalam bangunan milik Tyra Banks itu. Salah satu agensi model terbesar dan terprestis di dunia. Semua orang yang ditemuinya di dalam gedung berpakaian modis. Para gadis menenteng tas-tas branded disana sini. Kai akhirnya menekan tombol lift di angka 21. Segera melongok kesana kemari mencari Shei yang tadi meminta bantuannya.

“Kai! Sini!”

Kai menoleh, segera mengambil langkah panjang-panjang untuk menghampiri Shei. Gadis itu menunjuk beberapa kardus yang harus diangkut ke mobil. Tidak terlalu banyak, tetapi tidak akan muat pula dibawa hanya satu orang.

“Oh ya, Kai, kau harus bertemu kekasihku. Aku sudah menceritakanmu padanya, dia pasti senang bisa bertemu dengan orang Korea disini. Ya! Kris! Ini Kai yang kuceritakan tadi,” Shei melambai, memanggil nama lelaki yang sedari tadi membuat Kai panas-dingin itu.

Seorang lelaki berambut ebony berjalan mendekat. Tubuhnya tinggi tegap. Bahkan untuk ukuran orang Barat, lelaki itu masih bisa dibilang tinggi. Matanya tajam, tetapi ada sinar keramahan disana lewat senyuman yang mencetak kerut-kerut halus di sisi-sisi mata itu.

Tubuh Kai menegang. Itu Kris Wu. Itu sahabat kecilnya dahulu.

Laki-laki dengan kamera SLR yang tergantung di leher itu pun menatap tak kalah kaget. Seolah memastikan apa benar sosok yang ada di hadapannya sekarang adalah sosok yang sama dengan siapa yang ada di pikirannya sekarang.

“Kris?”

“Jongin?”

Ya. Kai bahagia. Ia sangat bahagia bisa kembali bertemu dengan sahabatnya. Namun semuanya akan jauh lebih mudah jika ia benar-benar bertemu Kris sebagai seorang sopir. Bukan sebagai anggota mafia yang ditugaskan menculik – atau bahkan membunuh kekasih sahabatnya itu.

Kai mengumpat ratusan kali dalam hati.

Jika ada orang yang akan ia lindungi, itu Wu Kris. Jika ada orang yang berjasa padanya, itu Wu Kris. Jika ada orang yang Kai rela mati untuknya, itu Wu Kris.

Keringat dingin kini sudah membasahi seluruh tubuhnya.

***

                “Apa? Kau mau pergi kemana?” Jongin memastikan apa yang ia dengar baru saja. Kris yang duduk di depannya menghela napas kasar. Terlihat begitu frustasi.

“Aku juga tidak tahu, Jong. Kasus yang ditangani ayahku membuat seluruh keluarga kami diteror. Setiap hari kami mendapat ancaman pembunuhan. Sepertinya pihak kepolisian ingin membawa kami ke tempat yang aman.”

“Akan lama kah?” tanya Jongin dengan perasaan tidak karuan.

Jongin mengepalkan tangannya. Mencoba membuang bayangan buruk jika Kris harus lama pergi dari hidupnya. Baginya, sahabat adalah keluarga yang bisa ia pilih. Dan Kris adalah keluarganya. Orang terdekatnya.

Ketika masih sama-sama mengenakan diapers, mereka duduk berhadapan sambil mencoba menggigit biscuit dengan gigi yang belum tumbuh ujungnya.

Waktu bermain mereka adalah hingga matahari terbenam. Keduanya akan pulang dengan peluh yang mengaliri seluruh tubuh seusai bermain bola di lapangan belakang SD mereka.

Mereka akan patungan untuk membeli manga-manga keluaran terbaru karena Kris akan dibunuh ayahnya jika tahu kebiasaannya membaca komik.

Mereka akan memasak dan memakan ramyun berdua ketika Kris bermain di rumah Jongin, atau menghabiskan seluruh kue yang ada di rumah Kris ketika Jongin berkunjung kesana.

Tubuh mereka yang sedari kanak-kanak sudah selalu lebih besar dari teman-teman seusianya membuat Jongin dan Kris lebih banyak menghabiskan waktu berdua. Ketika awal masuk SMA pun keduanya iseng mencoba rokok atau menonton video triple x koleksi Kris di rumah Jongin yang hampir selalu sepi. Hingga ketika Jongin terpuruk setelah ayahnya berubah pun, Kris adalah orang yang paling sibuk menawarkan bantuan bagi Jongin. Terlalu sibuk, hinggan laki-laki setampan dan sekaya Kris tidak pernah sekalipun memiliki kekasih semasa SMA.

“Apa kau akan pergi lama, Kris?” tuntut Jongin lagi. Kris hanya menggelengkan kepalanya.

…dan nyatanya, Kris pergi jauh lebih lama dari yang Jongin pernah perkirakan.

***

                Kris menghampiri Kai. Memeluk tubuh sahabatnya dengan jantan. Kai hanya bisa terdiam, merasakan ketakutan dan keraguan yang kini menjalar di seluruh pembuluh darahnya.

Ia takut menculik Shei akan melukai Kris. Sahabatnya itu akan berbalik memusuhinya seumur hidup. Tidak menculik Shei? Ia dan gadis itu akan dibunuh tanpa ampun.

TBC

                LHO TOR MANA ACTIONNYA??? Nanti ya dearie di next part :” Semoga cukup menghibur dan enggak hina-hina banget. Kalo mau dilanjutin, boleh lho komen :’) tp kalo ga ada yang pengen ya yaudah sih hehe *authornya pasrahan* okay then, till next time!

*tambahan

ada yg penasaran sama mukanya Shei? nih aku kasih gambaran :p

shei1[1]

Author: eezeeba

An overthinker. Crazily in love with potato chips. Loving Daughtry and Maroon 5 to death. Currently in delusional relationship with Oh Sehun and T.O.P.

One thought on “Criminal Minds

  1. Di tunggu next chap..

Here We Need Responsibilities. Thanks!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s