EXO Fanfiction Dorm

EXO as the Main Cast

[Part 1] Don’t Stare at Me With That Eyes

Leave a comment

Requstan rana

Title : Don’t Stare at Me With That Eyes [part.1]

Author : Jjangmin

  • Oh Sehun (EXO)
  • Lee Yoo Ri a.k.a Lee Hana(OC)

Main cast :

  • Suho (EXO)
  • Park Hye Jin (OC)

Genre : Angst, Horror, Mystery, Romance, Sad/Hurt, School-life.

Rating : PG-16

Poster : Bbon @ Poster Channel

Disclaimer : FF ini cerita awalnya masih SMP, tapi tidak sampai 1 chap, mereka akan naik ke SMA/? Gejala di FF ini mungkin bukan asli nya. Jadi silahkan di baca:)

***

Without glasses im changed

***

Lee yoo ri

“Yoo ri-a!”

Suara seseorang membuyarkan lamunanku. Ia berlari ke arah ku, suara itu milik kakak ku. Lee ha neul.

“Kau juara satu lagi!”

Aku menarik simpul ketika kalimat itu selesai. Hari ini adalah pengambilan nilai ujian akhir semester pertama.

Aku menganggukan kepala ku dan menarik lengan kakak ku. Aku akan membelikan patbingsu untuk nya, kebetulan cuaca nya sedang panas.

“Eonnie, ayo kita ke toko ahjussi!”

“Ne, kajja.”

CIIIIIITTT

Akhir-akhir ini aku selalu bermimpi buruk tentang masa lalu ku. Masa lalu yang tak pernah bisa ku lupakan.

Tahun ini adalah tahun ke 3 aku bersekolah di sekolah ini. Sejak sekolah dasar aku selalu berada di lingkungan ini.

Tahun pertama adalah tahun kelabu bagi ku. Di tahun itu pun awal mula semua kesialan ku terjadi. Tak hanya satu, tapi banyak.

Aku melangkahkan kaki ke arah lapangan. Pelajaran kali ini adalah Olahraga.

Setelah sampai, aku menatap kosong ke arah pohon sambil melakukan pemanasan pada pergelangan kaki ku.

“Yoo ri-a! Cepat kemari.”

Teman-teman memanggilku dari tengah lapangan. Mereka menunjuk ke arah lantai 2 sekolah ku.

Flashdisk ku. Orang itu menggoyang-goyang kan Flashdisk ku di atas sana sambil tertawa sendiri.

“Aish! Yak! Kembalikan itu ke tempatnya!”

Aku berteriak kepadanya, tapi bukannya menuruti perintah ku ia malah beranjak dari tempatnya, aku tidak tahu ia akan kemana.

Aku pun menyusulnya ke atas, aku harus mengejarnya sebelum ia merusak isi flashdisk ku lagi.

Aku menyusuri lantai dua, tapi tak menemukan dirinya. Lalu aku bergegas naik ke lantai tiga, tapi tak ada juga. Aku menyusuri setiap anak tangga hingga atap sekolah.

Aku menemukannya. Ia sedang berada di tempat yang biasa ia tempati bersama teman-teman-yang-lain.

“Ekhm. Kembalikan flashdisk ku.”

Aku berdeham untuk menghentikan kegiatannya. Ku lihat diri nya tidak peduli dengan kehadiran ku.

“Ya! Kau dengar tidak?”

Ia melirik ku sebentar lalu segera berdiri dari posisi duduknya. Aku mengira ia akan memberikan flashdisk yang ia ambil dari ku. Tapi itu salah, ia malah mengambil kacamata ku.

Aku pun terkejut dan berusaha meraih kacamata yang ia tinggikan dengan tangannya. Baru aku ingin meraihnya, aku sudah di suguhkan pemandangan yang tidak enak di belakang nya. Sosok itu menatap ku datar.

Aku takut dan kaki ku melemas, aku hampir jatuh tetapi aku menahannya dengan berpegangan pada pinggiran atap.

“Ya! Mengapa kau lemah sekali jika kacamata jelek mu itu di ambil?”

“Seburuk itu kah mata mu hingga kau hampir selalu terjatuh jika tak memakainya?” Lanjutnya.

Ia justru mengejek ku dan dibarengi oleh suara tawa yang bukan miliknya, ia hanya tidak tahu apa yang selalu ku rasakan jika aku tidak memakai kacamata ku.

Ia melemparkan ke dua barang ku tepat di depan ku. Aku mengambil flashdisk ku dan segera memakai kacamata ku, lalu bergegas pergi dari tempat itu.

Oh Sehun

Ia selalu melemas ketika kacamata jeleknya terlepas dari wajahnya. Aku tidak tahu mengapa.

Aku kembali memakai headphone ku dan menikmati kesendirian ku. Aku selalu tak punya teman. Aku jarang sekali mengajak seseorang ke sini.

Aku juga heran mengapa ia tahu aku ada disini. Padahal aku belum pernah memberi tahu kan pada siapa pun tempat yang sering ku datangi ini.

Aku melihat jam tangan ku. Pelajaran ms. Kim pasti belum selesai. Aku selalu menghindari pelajaran nya, karena selalu membosankan.

Aku melihat ke arah lapangan karena aku bosan. Aku melihatnya sedang menghindari bola bersama sebagian temannya. Kelasnya sedang bermain dodge ball.

Mata ku tak lepas dari dirinya. Yang aku bingung sedari tadi ia hanya melakukan gerakan kecil tetapi tidak pernah terkena bola.

Aku memang selalu penasaran dengannya. Bisa melakukan apa pun dan selalu peringkat pertama di seluruh sekolah.

Bahkan ia sudah bisa menguasai pelajaran tingkat SMA di usia nya yang lebih muda beberapa bulan dari ku.

Ia seorang yang cantik jika ia melepas kacamata nya. Tapi entah mengapa ia enggan sekali melepasnya. Dan yang ku tahu ia akan melemas jika kacamata nya tidak berada di wajahnya.

Ku lirik lagi arloji ku. Sekarang pelajaran ms Kim sudah selesai. Aku segera turun dan melangkah ke arah kelas ku.

Aku sudah berkali-kali di tegur karena sering tidak hadir di pelajaran ms. Kim, tapi aku tetap tak peduli.

Akan tetapi aku tetap tekun terhadap pelajaran lain. Karena aku harus menyiapkan ujian kelulusan agar bisa masuk ke SMA favourite Korea.

1 bulan dari sekarang ujian akan dimulai. Jadi aku harus mempersiapkan nya secara matang. Aku tak boleh memikirkan hal lain dan harus tetap fokus.

Mau tak mau aku harus mulai mengikuti pelajaran ms. Kim agar nilai sikap ku meningkat.

Sesampainya di kelas, mr. Shin sedang membagikan kertas berisi soal-soal nya. Mr Shin adalah guru fisika.

“Hari ini kita akan mengadakan ulangan dadakan untuk melatih kalian.”

Mr Shin berbicara di depan kelas dan ditanggapi dengan keluhan para siswa di kelas. Aku mengambil pulpen ku dan mulai mengerjakannya.

15 menit kemudian aku selesai duluan. Memang selalu begitu, ulangan apapun itu pasti aku juga yang akan menyelesaikannya.

“Sehun-a berikan aku jawaban!”

Seseorang berbisik pada ku dari arah belakang. Aku melihatnya sekilas, berandal kelas yang selalu mencontek.

“Shiro.”

Aku menjawabnya keras hingga membuat perhatian kelas yang sunyi teralihkan pada ku.

Terlihat dari raut mukanya ia kesal terhadapku. Dengan acuh aku beranjak ke luar kelas. Di luar sangat sepi. Pasti semua kelas sedang dalam proses mengajar.

Aku menyenderkan punggung ku pada dinding kelas, ku tengok ke dalam masih belum satupun yang selesai selain diriku.

Aku termasuk murid yang pandai di sekolah, jadi tak heran jika aku terlihat santai dalam menghadapi ulangan dadakan.

Pintu kelas sebelah terbuka. Aku membenarkan posisi ku dan melihat siapa yang akan keluar.

Yoo ri. Ia keluar sambil memijat-mijat lehernya sendiri dan ia tak memakai kacamata nya. Dari yang ia lakukan, sepertinya ia tak menyadari kehadiran ku.

Saat hampir melewati ku ia terkejut. Sepertinya ia sudah menyadari ku. Tapi aku bingung karena sorot matanya tidak melihat ke arah ku, melainkan ke arah belokan lorong.

Ia mundur satu langkah dan semakin mundur, aku tetap bingung dengan apa yang ia lakukan. Padahal disana tidak ada apa-apa.

“Apa yang kau lakukan?”

Aku memulai percakapan dengan nya. Ia tetap terpaku oleh hal yang ada di depannya. Bukannya menjawab ia malah menggumamkan sesuatu yang aneh dari mulutnya. Hingga akhirnya ia mengucapkan sesuatu.

“Jebal jangan pergi dari sini dulu.”

Ia mengatakannya dengan nada bergetar. Aku semakin heran dengan dirinya. Aku mengedarkan pandangan ku ke arah yang sedari tadi ia lihat.

Tetap tak ada apa-apa. Aku sudah tak peduli dan ingin beranjak dari tempat ku.

“Aniya. Jebal jangan pergi dulu.”

Suara nya mengintrupsi ku untuk tidak pergi, Sekarang kelopak matanya menutup dan wajahnya memerah. Benarkan, ia akan aneh jika tak memakai kacamata nya.

Perlahan ia membuka matanya dan mendekat ke arah ku dengan hati-hati.  Ia memang sulit di tebak. Kini ia bersembunyi di belakang tubuh ku.

“Tetaplah seperti ini, satu menit saja. Jebal.”

Aku tak menanggapi nya dan hanya terdiam menuruti perintahnya. Pintu kelas ku terbuka, beberapa teman ku keluar dan melihat kami dengan ekspresi aneh.

“Mwoya? Sejak kapan kalian akur?”

Salah satunya mengatakan hal tersebut. Memang benar, posisi ku yang terlihat sedang melindunginya membuar mereka berpikir kami sedang akur. Padahal kami selalu bertengkar akan sesuatu.

Tapi entah mengapa akhir-akhir ini aku sering mengalah karena nya. Aku mendengus pelan dan berjalan meninggalkan yeoja itu.

Aku melirik sekilas ke arahnya. Wajahnya sudah seperti biasa lagi, dan ia berlari ke arah kelasnya.

Lee Yoo Ri

Sial. Mengapa saat seperti itu yang muncul malah namja itu. Tadi aku keluar untuk membilas muka ku, aku lelah karena habis ber olah raga. Oleh sebab itu mungkin aku lupa memakai kaca mata ku.

“Ada apa Yoo ri-a? mengapa wajah mu pucat?” Hye Jin muncul di depan ku dan segera duduk.

“Aniya, Tadi aku lupa pakai kacamata, sekarang aku sedikit pusing.” Aku berbohong dari alasan sebenarnya.

Asal kalian tahu, tidak ada satu pun orang di sekolah ini yang tahu kalau diri ku seorang Indigo. Kalian tahu indigo kan? pemilik indra ke-6. Dan aku juga punya kemampuan membaca pikiran seorang.

Aku tahu, pasti jika ada orang yang tahu bahwa aku bisa membaca pikiran mereka, pasti aku akan dijauhi.

Aku harus mempersiapkan diri ku untuk ujian kelulusan SMP. 1 bulan dari sekarang akan dimulai, jadi aku harus fokus. Aku hanya ingin membahagiakan Eomma, Appa, dan juga Eonnie.

Hye jin menyentuh dahi ku dengan punggung tangannya.

“Eoh? Kau tidak panas.” Ia menampakan ekspresi bingung. Aku segera menepis tangan nya dengan pelan.

“Aku bilang aku hanya sedikit pusing, bukan demam.” Ujar ku yang ditanggapi dengan wajah aneh nya.

“Oh iya, apa flashdisk mu sudah di kembalikan?” Ia mengalihkan pembicaraannya.

“Sudah, itu.” Aku menunjuk ke arah tempat pensil ku, flashdisk nya sudah tergantung dengan sempurna di resleting nya.

Ia hanya tersenyum dan kembali ke tempat duduk. Hye jin memang sahabat baik ku.

Oh Sehun

Ku harap hari ini segera berakhir. Karena kejadian tadi semua teman ku kini menanyakan diriku.

‘Sedang apa kau tadi bersamanya?’

‘Tumben sekali kalian akur?’

‘Apa tadi kau melindunginya?’

Kira-kira pertantaan itu lah yang dilontarkan oleh teman-teman ku. Awalnya aku hanya diam, tapi semakin lama mereka semakin berisik. Aku pun berpikir untuk menggeretak mereka.

“Kalian salah paham! Aku tidak melakukan apa-apa dengan nya. Ia yang bersembunyi di belakang ku untuk alasan yang tidak ku ke tahui.”

Aku menghela napas setelah berkata seperti itu. Aku berfikir, mereka sangat berlebihan tentang hal itu. Aku saja hanya biasa saja.

Mereka terdiam sejenak, lalu kembali pada kegiatan semula. Aku mendesah pelan dan meninggalkan kelas. Sekarang sudah waktu nya istirahat.

Kantin

“Ahjumma! Patbingsu satu ne.” Aku memesan minuman kesukaan ku. Setiap hari aku selalu memesan hal yang sama, hanya saja terkadang di tambah makanan ringan yang lain jika aku sangat lapar.

“Ini. Sebentar lagi musim dingin, apa kau masih akan memesan patbingsu?” Ahjumma memberikan se mangkok penuh patbingsu kepada ku.

“Tentu saja, tapi sayangnya kau selalu tutup jika musim dingin.” Aku menunjukan wajah tak bersemangat ke arahnya.

“Spesial untuk musim dingin kali ini aku tidak akan tutup.” Sahut nya yang diikuti wajah yang ceria. Aku selalu menyayangi nya karena ahjumma selalu ada saat aku lapar dan kehausan. Patbingsu nya sangat enak.

“Ahjumma, tolong satu patbingsu nya ya.” Suara perempuan yang sepertinya ku kenal memesan di samping ku. Aku mengadahkan kepala ku pelan dengan mulut yang terisi penuh dengan kacang merah.

Yoo ri. Gadis itu yang memesannya, aku hampir tersedak saat gadis itu menatap ku. Dengan sekejap, ia sudah menjaga jarak dengan ku.

‘Tak biasanya ia ke sini.’ Aku berpikir demikian karena memang aku tak pernah melihatnya beli disini.

“Ini, apa kau akan merasa lebih baik?” Ahjumma memberikan patbingsu yang sudah di bungkus.

“Ah ne, gomawo ahjumma.” Ia tersenyum sambil menerima kantung plastik yang berisi patbingsu nya lalu bergegas pergi

Tadi ahjumma bilang apa? Merasa lebih baik? Apa nya yang lebih baik? Sudah lah aku tak ada waktu memikirkannya. Aku kembali menyeruput air patbingsu ku.

Author

Sekarang Yoo ri menggenggam plastik berisi patbingsu menuju gerbang sekolah, aku akan meminum ini di parkiran sekolah.

Yoo Ri membeli patbingsu ini hanya ketika ia mulai merindukan kakak nya. Ia kehilangan kakak nya ketika masih berada di kelas satu, tepat di luar gerbang ini.

Tempat terdekat dengan gerbang adalah lahan parkiran, siswa tidak diperbolehkan keluar saat masih dalam waktu sekolah, oleh sebab itu ia memilih duduk di salah satu bangku yang berada di sekitar parkiran, sekarang ia sedang membuka wadah patbingsu nya.

Ia mulai menyeruput sedikit demi sedikit patbingsu nya. Dirinya mempunyai banyak teman yang mereka tidak mungkin bisa melihatnya, hanya dirinya saja yang bisa. Tak jarang juga ia ketahuan sedang berbicara sendiri, padahal ia berbicara pada teman-nya

“Bagaimana kabar mu eonnie? Apa kau sudah makan disana?” Ia mulai berbicara sambil menatap langit.

“Aku sedang memakan patbingsu kesukaan mu. Hiks.” Ia mulai menangis, dirinya sangat merindukan kakak nya itu.

“Apa kau ingin aku menyuapi mu?” Ia menahan tangis sambil mengadahkan sesendok patbingsu ke arah atas dengan tangan yang bergetar.

Sadar bahwa sendok itu tak akan pernah habis jika bukan ia yang memakannya, ia menurunkan sendoknya dan memasukan secara perlahan ke dalam mulutnya.

Ia sudah tidak bisa menahan air matanya lagi. Ia menangis sambil terus mencoba menghabiskan patbingsu nya.

“Eonnie, 1 bulan lagi aku akan mengadakan ujian kelulusan. Aku pasti berhasil kan?” Ia bergumam di sela-sela isakannya. Ia mencoba tersenyum, kakak nya pasti akan sedih jika ia menangis. Ia menenangkan dirinya setelah patbingsu nya habis. Karena waktu istirahat sebentar lagi habis, ia memutuskan untuk kembali ke kelas

“Kamsahamnida ahjuma, aku kembali dulu ya.” Sehun bergegas pergi dari kedai patbingsu menuju kelasnya. Ia berjalan dengan wajah ceria, mungkin setelah mengisi energi nya dengan patbingsu yang enak.

Ketika perjalanan ke kelasnya, ia melewati Yoo ri. Yang awalnya tersenyum, sekarang senyumnya memudar ketika ia melihat wajah gadis itu. Pucat dan Sembab.

‘Ada apa?’ Ia bertanya pada dirinya sendiri. Sebelum masuk kelas, ia menyempatkan diri untuk melihat gadis itu sekali lagi, Yoo ri tdak pergi ke kelas, melainkan ke arah lain, lebih tepatnya kamar mandi.

1 bulan kemudian

“Yoo ri-a, apa kau sudah mempersiapkan ujian untuk hari ini.” Hye jin menyapanya begitu masuk kelas. Hari ini hari terakhir ujian kelulusan. Para siswa sudah belajar dengan tekun untuk ujian penentu masuk ke SMA terbaik.

“Hm, ne.” Yoo ri membalasnya singkat sambil tersenyum hangat kepada sahabatnya itu. Rencananya mereka berdua akan masuk SMA yang sama.

“Ish kau sih tidak belajar juga pasti mendapat peringkat satu lagi. Aigoo aku sangat iri pada mu.” Hye jin menatap Yoo ri sambil memanyunkan bibirnya.

“Kau tidak boleh seperti itu, kau harus optimis.” Yoo ri menyemangati sahabatnya tersebut sambil mengepalkan tangannya di udara, lalu mereka bercanda bersama.

Laki-laki itu mengacak-ngacak rambutnya sendiri. Tadi malam ia tak fokus belajar karena memikirkan sesuatu. Teman-temannya pun bingung, tak biasanya ia akan gelisah di saat ujian.

“Sehun-a tak biasanya kau gelisah, apa karena ini hari terakhir ujian kelulusan?” Salah satu temannya bertanya padanya.

“Aniya! Ini masalah yang lebih besar.” Mungkin ia tak sengaja berteriak kepada temannya. Ia tertekan oleh suatu alasan.

Teman-temannya pun menjauh karena mungkin mereka takut akan kena marah Sehun lagi.

Bel di mulainya ujian berdering dengan nyaring, para siswa berdoa menurut kepercayaan masing-masing tak terkecuali Sehun. Kemudian Mr. Kang membagikan kertas ujian beserta kertas jawabannya.

Satu setengah jam berlalu, para siswa sudah banyak yang keluar kelas karena sudah menyelesaikan ujian nya.

Sehun keluar bersamaan dengan Yoo ri. Sehun sempat berkontak mata dengan Yoo ri, tetapi Yoo ri segera berbalik dan berjalan menuju arah berlawanan.

Yoo ri selesai membasuh wajahnya dengan air di kran sekolah. Ia duduk di salah satu bangku yang berada di taman sambil menggenggam kacamata nya.

Pikirannya sedang melayang saat ini. Ia sedang memikirkan sesuatu yang serius. Yang tak bisa dipecahkan dengan mudah.

Oh Sehun

Aku mengantuk setelah mengerjakan ujian tadi, jadi kuputuskan akan pergi ke kran sekolah.

Tadi aku sempat mengecek kantin, dan apa yang ku temukan? Ahjuma berbohong, katanya musim dingin kali ini ia akan buka, belum musim dingin saja ia sudah tutup, aku kecewa.

Aku berjalan sambil memijat kepala ku. Begitu sampai disana aku terkejut karena melihat gadis itu sedang duduk di salah satu bangku dekat kran sekolah. Sepertinya ia sedang memikirkan sesuatu sampai tak menyadari kehadiran diri ku.

“Ekhm, bagaimana ujian mu?” Aku bertanya tanpa melihat ke arahnya. Karena masih tak ada jawaban aku bertanya sekali lagi setelah menbasuh wajahku.

“Ekhm, bagaimana ujian mu?” Sekarang dengan suara yang lebih keras. Sekarang ia menatap mata ku, bukannya menjawab ia justru menurunkan pandangan ke tanah.

“Aku baik-baik saja kau tak usah khawatir.”

Lee Yoo Ri

Sebenarnya aku tak mau menjawabnya, tetapi ia bertanya dua kali, membuat ku terpaksa melihat dirinya. Aku melihat mata nya.

‘Apa dia baik-baik saja?’

Aku membaca pikirannya, ternyata ia tak ingin tahu ujian ku, melainkan keadaan ku.

“Aku baik-baik saja kau tak usah khawatir.” Saat menjawab seperti itu ku lihat kakinya mundur selangkah. Sepertinya ia terkejut.

“A-aku tidak bertanya tentang keadaan mu.” Ujarnya sambil menatap ku. Aku menatapnya lagi.

‘Bagaimana bisa?’

Haruskah aku memberitahu nya? Aku mulai menambah pikiranku, hingga akhirnya aku membuat keputusan untuk meninggalkan diri nya.

Aku hampir melewatinya, ia masih terlihat kaku dan kebingungan. Sebelum aku melewatinya. Aku berbisik.

“Jika kau sudah tau, kumohon jangan beritahu siapa pun.” Setelah kalimat itu selesai aku melewati diri nya.

Oh Sehun

“Penghargaan untuk siswa terbaik ke-2 jatuh kepada Oh Sehun dari kelas IX-B dengan rata-rata 9,45. Selamat, silahkan kedepan.” Kepala sekolah Han memanggil nama ku untuk berbicara di mimbar.

Hari ini hari pengumuman kelulusan dan nilai terbaik. Aku berada di peringkat kedua. Semua murid dan orangtua nya datang, tak terkecuali orang tua ku. Orang tua ku tampak bangga, senang melihat mereka bahagia.

Setelah menyelesaikan pidato ku aku turun dari mimbar dan berdiri di sebelah peringkat ke-3. Aku sudah bisa menebak peringkat 1 akan jatuh ke siapa. Tapi aku belum melihat diri nya hari ini.

“Bagus sekali, mari kita lanjutkan.” Kepala sekolah Shin membalik kertas selanjutnya, melihatnya seperti kagum.

“Ini dia peringkat 1 di sekolah kita dengan nilai rata-rata sempurna yaitu 10,00 jatuh kepada Lee Yoo Ri dari kelas IX-A. Selamat atas kemenangan seluruh siswa dan siswi, dan di mohom untuk siswi Lee Yoo Ri untuk maju kedepan.” Aku mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru aula sekolah ketika nama yang tak di panggil tak kunjung naik ke atas mimbar.

“Sekali lagi, Siswi Lee Yoo Ri silahkan naik ke atas mimbar.” Kepala sekolah Shin mengulang panggilannya. Tapi masih sama seperti tadi tak ada sahutan. Aula mulai berisik, saat itu seseorang memanggil kepala sekolah Shin, lalu kepala sekolah Shin menganggukan kepalanya.

Sepertinya ia tak datang, tapi mengapa? Aku memikirkan hal tersebut, apa ada kaitannya dengan yang terakhir kali kita bicarakan, waktu di kran sekolah.

“Maaf, siswi Lee Yoo Ri sedang berhalangan untuk datang, jadi di wakilkan saja oleh peringkat ke-2.” Aku menoleh ke arah kepala sekolah.

‘Mwo? Aku? Wae?’ Aku bertanya-tanya pada diriku, saat melihat ke arah kepala sekolah ia sedang memanggilku untuk menerima piala serta penghargaan juga sebuket bunga.

Pialanya lebih besar dari ku. Aku berpidato untuk ke dua kalinya. Sekarang tangan ku penuh sekali.

“Ah, ne, ini punya teman saya, jadi saya mengucapkan terima kasih karena sudah diberi kepercayaan untuk mewakilinya. Kamsahamnida.” Dan aku pun turun dari mimbar.

Setelah acara selesai, aku pulang bersama orang tua ku. Kepala sekolah bilang, aku bisa memberikannya kepada Yoo ri langsung piala dan penghargaannya. Jadi aku tak bisa menolak nya.

Aku duduk di belakang sendiri, aku hanya memperhatikan jalanan di sepanjang perjalanan. Aku memikirkan mengapa ia tak datang hari ini.

‘Wae? Mengapa aku memikirkannya? Ada apa dengan ku?’ Aku mulai mengerutkan dahi ku sambil menggaruk kasar kepala ku.

“Ada apa sayang? Harusnya kau senang, kan kita akan pergi makan makanan kesukaan mu.”

Eomma melirik ku dari kaca spion depan, aku hanya menanggapi nya dengan senyuman. Aku melihat samping ku, piala ku dan pialanya berdiri bersebelahan, aku memperhatikannya.

“Oh iya, ngomong-ngomong bagaimana rupa temanmu itu, yang peringkat 1. Sepertinya ia seorang gadis.” Appa membuyarkan lamunanku, aku menoleh ke kaca spion depan. Aku mulai berbicara.

“Ia gadis yang pintar, memakai kacamata, ia sangat ramah kepada siapapun, temannya, gurunya, dan staff sekolah, sayangnya ia tak pandai bergaul, ia hanya punya satu teman yang kadang terlihat bersamanya, ia pendiam, dan suka duduk di bangku taman atau parkiran.” Aku menjelaskan semua yang aku tau sambil sesekali tersenyum. Ada apa dengan ku?

Setelah kupikir-pikir aku mengenal dirinya cukup banyak. Appa menoleh ke arah ku dengan heran.

“Kau tahu dia banyak, dan kau menceritakannya sambil tersenyum. Kau menyukainya ya?” Appa menggoda ku sambil tetap menyetir mobil.

Mendengar appa berbicara seperti itu, wajahku memanas. Apa aku menyukainya? Tak mungkin.

“Jujur saja pada eomma dan appa Sehun-a. Wajah mu saja memerah.” Eomma melanjutkan perkataan yang semakin menyudutkan ku.

“A-aniya eomma appa, aku- aku pokoknya tidak.” Aku kembali melihat jalanan di luar jendela. Aku mendengar eomma dan appa tertawa bersama.

“Aigoo, anak kita sudah besar.” Aku semakin memanyunkan bibir ku begitu mendengan appa melontarkan kalimat itu.

Mereka hanya salah paham, aku hanya mengenalnya sebagai teman, ya teman, tak lebih.

Author

Gadis itu menarik kopernya setelah keluar dari Bandara Internasional SanFrancisco. Setelah melalui perjalanan selama 8 jam dan transit di hawaii, gadis ini merasa sangat lelah.

Ia berangkat sejak tadi malam, agar bisa sampai di Amerika pagi hari, tapi ia melupakan tentang perbedaan waktunya. Jadi disana adalah malam.

Sebuah sedan hitam berhenti di depannya. Seorang pria paruh baya keluar dari dalam. Wajahnya seperti seorang Asia.

“Lee yoo ri-ssi?” Pria itu mendekati yoo ri yang sedang kebingungan. Pakaiannya sangat rapi, dan ia juga bisa bahasa korea.

“Ne, maaf tapi anda siapa?” Yoo ri mulai was-was terhadap sekitarnya. Pria itu tersenyum lalu mengatakan bahwa ia suruhan appa nya.

“Kenalkan, nama saya Park jae suk. Saya suruhan appa anda.” Lalu ia membukuk kepada yoo ri. Ia teringat bahwa memang tadi appa nya menelpon bahwa ia menyuruh seseorang.

“Ah, ne. Terima kasih.” Yoo ri balas membungkuk. Pria itu pun menyuruh Yoo ri untuk masuk ke dalam mobil. Yoo ri pun menurut.

Di dalam mobil, ia memikirkan keputusan yang ia buat saat ini. Ia memutuskan untuk pergi ke Amerika, tempat appa nya tinggal setelah cerai dari eomma nya 4 tahun yang lalu.

Seminggu sebelumnya, Yoo ri menemukan eomma nya sedang menangis di kamarnya, ia ingin menanyakan apa yang terjadi, tapi ia merasa tak enak.

Keesokan harinya, Yoo ri dipanggil oleh eomma nya. Ia disuruh memilih antara tinggal dengan eommanya atau tinggal appa nya. Mengingat eomma nya sedang dalam krisis keuangan, ia memutuskan untuk tinggal dengan appa nya selama satu tahun, dan mereka berdua sepakat.

Yoo ri tak memberitahu Hye jin dan teman-temannya bahwa ia akan pergi, itulah alasan mengapa ia tak datang di hari kelulusan.

Ia menghela napas berat, pasti akan sulit tinggal disini tanpa seorang teman, kecuali appa nya.

Mobil berhenti di sebuah mansion berhalaman luas, rumah bergaya victoria dengan banyak pohon disekelilingnya, sangat indah untuk di pandang.

Yoo ri keluar dari mobil. Yoo ri tak menyangka appa nya hidup bagus disini sementara dirinya dan eommanya hidup pas-pas-an.

Ia berjalan di atas rumput-rumput yang basah, lalu sampai di depan pintu utama yang terbilang cukup besar. Ia menekan mengetuknya perlahan.

Karena tak ada sahutan, ia mengetuknya sekali lagi. Suara kunci terbuka pun terdengar, lalu pintu segera terbuka dan menampakan appa-nya.

Yoo ri masih terpaku ketika ia melihat appanya untuk pertama kalinya setelah 4 tahun, biasanya mereka hanya berhubungan memakai telepon. Begitu ia tersadar ia langsung memeluk appa nya, dan di balas oleh pelukan hangat.

“Aigoo, anak appa sudah besar ya.” Suara Mr. Joo didengar oleh Yoo ri setelah 4 tahun tak bertemu. Ia sangat merindukan appa nya.

Setelah mereka melepaskan pelukannya, mereka masuk kedalam untuk makan malam. Di dalam Yoo ri terlihat kagum dengan isi rumah nya, semua serba mewah.

Ia pun semakin terbuka dengan appa nya. Saat makan malam mereka selalu berbincang tentang suatu hal. Yoo ri pun bertanya apa appa nya tinggal sendiri di rumah sebesar ini.

“Appa tinggal sendiri?” Ia bertanya sambil mengunyah stik sapi di mulutnya.

“Ne, memangnya dengan siapa appa tinggal jika ada?” Mr. Joo malah balik bertanya pada anak nya itu.

“Aniya, kupikir appa sudah menikah lagi. Hehe.” Yoo ri tertawa sambil masih terfokus pada makanannya.

“Kau sangat lapar ya?”

“Ne, appa tau perjalanannya 8 jam dan aku hanya sendiri. Sangat melelahkan.”

“Kalau begitu setelah ini tidur ya, kamar mu sudah di persiapkan.”

“Ne.” Dan ia melanjutkan makannya.

Setelah makan ia pamit untuk mandi dan tidur, padahal ia masih ingin mengobrol dengan appa nya.

Ia membuka kamarnya perlahan. Ia terpana begitu melihat kamarnya besar sekali, dilengkapi dengan kamar mandi, TV dan jendela yang menyambung dengan balkon luar.

Ia menyusuri setiap sudut ruangan kamarnya dan terakhir di balkon. Angin nya sangat sejuk karena tempatnya tinggi. Pemandangan yang disuguhkan pun sangat indah. Ia menyinggungkan senyum nya dan bergegas mandi.

Lee Yoo Ri

Setelah mandi, aku enyiapkan piyamanya dan memakainya. Aku melihat ponselnya sebelum tidur. Banyak sekali pesan applikasi masengger dari teman-teman ku, dan rata-rata mereka bertanya kemana diriku hari ini. Hye jin pun mengirimkan ku 103 pesan yang mengkhawatirkan ku.

Yang unik dari semua pesan teman-teman ku terdapat satu pesan yang menarik perhatian ku, yaitu pesan dari namja itu. Oh Sehun. Ia bilang piala ku sedang bersama nya. Aku tersenyum kecil melihatnya.

Aku tak membalas satu pun pesan-pesan mereka, karena kalau ku balas pasti mereka akan lebih bertanya. Aku mengunci ponselku dan mulai terlelap.

Oh Sehun

Ting Tong

Aku memencet bel yang berada di dekat pagar rumahnya. Karena tak ada sahutan dari dalam, aku memencet bel nya sekali lagi.

“Yeoboseyo?” Seorang wanita keluar dan membukakan pagar rumah, tampaknya wanita ini adalah ibu nya.

“Annyeonghaseyo, saya temannya Yoo ri. Oh Sehun imnida.” Aku membungkukan badan ku di depannya. Ibu nya hanya diam saja, ia menatap ke arah piala dan karangan bunga yang ku pegang.

“Mau apa kesini?” Ia bertanya kepadaku tentang tujuanku. Aku mengeluarkan sertifikat dari saku dalam ku.

“Aku hanya ingin memberikan ini, Yoo ri mendapat nilai terbaik di sekolah kami, ini penghargaannya.” Aku menyerahkan piala serta yang lain kepada ibunya.

Kemudian ibu nya mengajak ku masuk, aku berfikir bahwa Yoo ri ada didalam. Tadi aku melihat aplikasi massenger ku dan ia hanya membacanya, tidak membalasnya.

“Apa kau tau Yoo ri kemana?” Aku menunjukan ekspresi bingung ketika ibu nya berkata seperti itu.

“Aniya.” Aku menjawabnya singkat dan dibalas anggukan oleh nya.

“Akan ku beritahu, tapi kau janji tidak akan bilang ke siapa-siapa apalagi teman-teman mu.” Ibu nya kini duduk di depan ku. Aku hanya mengangguk menuruti perintah.

“Aku mempercayaimu karena Yoo ri cukup sering bercerita tentang mu.” Aku mengangguk lagi.

‘Tunggu? Yoo ri sering bercerita tentang ku? Apa yang ia ceritakan?’ Aku semakin bingung dengan saat ini.

Ibu nya pun mulai bercerita, aku mendengarkan dengan seksama. Disitu pula aku baru tahu bahwa Yoo ri seorang yang special, special dalam hal kemampuannya.

Dan aku juga baru tahu alasan mengapa ia tak datang ke sekolah hari ini karena ia pergi ke Amerika untuk suatu alasan.

Ibu nya menghentikan ceritanya disitu. Mungkin ia berfikir sudah terlalu jauh untuk bercerita.

Aku pun pamit untuk pulang dan mengucapkan terima kasih karena sudah mempercayai ku sebagai orang pertama yang di beritahukan.

Di dalam mobil aku memikirkan yang dialami Yoo ri kalau kacamata nya terlepas, ternyata karena ia mempunyai kemampuan special yang bisa membuatnya tak nyaman.

Jadi itu yg ia makaud dengan’jika sudah tahu, jangan beritahu siapa-siapa’.

Author

Mobilnya sampai di perkarangan sebuah rumah yang cukup besar. Ia membuka pintu mobil lalu berjalan menuju pintu rumahnya dengan malas.

Orang tuanya melihat heran kearah anak satu-satunya itu karena sejak tadi ia terus menekuk wajahnya.

Belum sempat mereka memanggil, anaknya itu sudah hilang di balik pintu. Mereka hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.

Setelah meneguk segelas air di dapur, ia segera menuju ke kamarnya. Ia melempar tasnya ke sembarang arah dan menghempaskan dirinya ke arah sofa yang berada di kamarnya. Ia memikirkan sesuatu.

Baru saja matanya ingin terpejam tetapi suara dari ponselnya mengintrupsi agar ia tak tidur. Ia melihat siapa yang mengirimnya pesan dan nama itu berhasil membuat matanya terbuka dengan lebar.

‘Kau pasti sudah tahu semua.’

Begitulah isi pesan yang ia dapat. Ia tak tahu harus membalas apa, tangannya terasa kaku sekarang. Ia mengetik huruf satu persatu dan menghapusnya, hal itu sudah ia lakukan berkali-kali sejak tadi.

‘Tentang apa?’

Itu lah jawaban yang ia pilih dari sekian banyak hal yang ia pikirkan. Ia menunggu sambil terus menatap layar ponselnya.

3 jam berlalu, tetapi jawaban belum kunjung ia dapatkan, ia menghembuskan nafas pelan. Ia teringat akan perbedaan waktu. Disana sudah malam, pasti pengirim pesan itu sudah tidur.

Ia berpindah tempat ke kasur nya yang nyaman, ia menarik selimut dan meringkuk di bawahnya, tak lama kemudian ia terlelap.

Lee Yoo Ri

Aku meregangkan tubuhku ketika aku bangun. Aku beranjak ke arah balkon kamar ku. Udara nya saat sejuk.

Tadi malam aku terbangun karena ponselku berdering. Eomma menelpon ku, katanya ia sudah memberitahukan semuanya kepada teman ku.

Aku terkejut ketika eomma menyebutkan ciri-cirinya, dan aku yakin itu adalah Oh Sehun. Aku sedikit bertengkar karena eomma memberitahu masalah pribadi ku kepada orang lain.

Kami mengakhiri pembicaraan ketika aku bilang ingin tidur karena disini sudah malam. Kemudian aku membuka aplikasi messager ku dan mengetik pesan pada kolom percakapan dengan Sehun.

Ketika mengingat itu aku segera berjalan mencari ponselku. Saat menemukannya, ia sudah membalasnya, aku membuka dengan hati-hati untuk melihat balasannya.

‘Tentang apa?’

Ia membalasnya satu jam setelah aku mengirimkan pesan ku. Aku tidak berniat membalasnya dan segera pergi ke kamar mandi. Ini pagi pertamaku disini.

Selesai mandi dan berpakaian aku pergi ke dapur untuk sarapan bersama appa. Makanan sudah tersusun rapi di meja makan ketika aku sampai di dapur. Appa menyambutku hangat sambil ternsenyum. Aku balas tersenyum dan duduk berhadapan dengannya. Tiba-tiba appa memberikan ku sebuah amplop coklat.

“Didalamnya berisi identitas baru mu.” Appa menjawab pertanyaan di dalam pikiran ku.

“Identitas baru?”

“Kau buka dan lihat saja sendiri.”

Aku membuka amplop itu perlahan dan mengeluarkan isinya, terdapat banyak kertas didalamnya. Aku membaca lembar pertama. Aku membulatkan mata saat melihat nama baru ku.

“Lee.. Lee Hana?” Aku bertanya kepada appa ku yang sedang melahap ayam nya.

“Ne, itu nama mu disini. Ada apa?”

“Tidak, hanya saja mirip dengan nama eonnie.”

Aku terkejut ketika appa menjatuhkan sendoknya dan tersedak. Aku segera memberikan minuman yang ada di dekatnya. Appa memandangku dengan tatapan aneh, karena aku tak tahu harus melakukan apa, aku meneruskan makanku dalam diam.

“Ayo kita berangkat.”

“Kita akan kemana? Appa tak pergi kerja?”

“Hari ini appa ambil cuti, jadi kau tsk perlu khawatir.”

Selesai makan, aku mencuci piring dan menonton televisi sebentar. Aku menunggu Appa yang sedang bersiap. Tak lama kemudian Appa keluar dengan pakaian sederhanatetapi rapi. Kami pun pergi keluar bersama.

Author

Suasana canggung terjadi di dalam mobil. sedari tadi Yoo ri hanya melihat ke luar jendela sambil sesekali melihat ponselnya. Karena Yoo ri belum juga di beritahu akan pergi kemana. ia pun memberanikan diri untuk bertanya.

“Appa? kita akan kemana? beritahu aku.”

“Baiklah, Appa akan pergi ke kenalan Appa, ia punya Anak yang tampan. Mereka juga orang korea. Rencananya kalian akan berteman saat di sekolah nanti.”

“Jadi Appa tidak akan menjodohkan ku kan?” Yoo ri bertanya dengan  polosnya dan ditanggapi dengan suara tawa appa nya.

“Hahaha, Kau ini.” Appa nya masih saja tertawa sambil mengelus kepala anaknya itu.

Mobil mereka berhenti di depan sebuah gerbang yang cukup besar. Tampaknya kenalan Appa nya adalah seorang yang sangat mampu. Tak lama kemudian gerbang itu terbuka dengan sendirinya, mobilnya melaju ke dalam. Yoo ri takjub ketika melihat halaman rumah seluas ini, sudah seperti lapangan Golf pikirnya.

Mereka turun dari mobil dan disambut oleh seseorang yang sepertinya pelayan rumah ini. Mereka di antar ke dalam rumah yang 3x lebih besar dibanding rumah Appa nya. Sedari tadi Yoo ri disuguhi barang- barang yang serba modern dan mewah.

Mereka masuk ke salah satu ruangan dari sekian banyak ruangan yang terdapat di dalam rumah ini. Ruangannya kosong, hanya berisi pendingin ruangan, tempat duduk, meja, dan TV. Mereka menunggu di dalam. Yoo ri yang sedari tadi diam bertanya pada Appa nya.

“Apa pekerjaan kenalan Appa? Kaya sekali.”

“Ia adalah Bos Appa.”

“Oh iya, jika ditanya namamu, kau harus menjawab Lee Hana. Karena Appa memperkenalkan mu sebagai Lee Hana bukan Lee Yoo ri.” Sambung Appa nya.

“Ha? Ne.” Yoo ri menjawabnya patuh.

Tak lama kemudian pintu nya terbuka dan menampakan seorang pria tua dengan setelan sederhana seperti Appanya. Appanya segera berdiri dan membungkukan badannya.  Yoo ri melihat appanya melakukan itu dan ia mengikutinya.

Lee Yoo Ri

“Jadi ini anak mu?”

Pria itu bertanya kepada appa setelah bersalaman dengan appa ku. Appa mengangguk dan melihat ke sekitar.

“Dimana anak mu?” Kini appa yang menanyakan hal itu kepada pria di depannya.

“Dia masih tidur, kebiasaannya jika sedang liburan.” Pria itu menjawab lalu tertawa bersama Appa.

“Kau akan bersekolah dengan anak ku kan?” Sekarang matanya tertuju pada ku. Aku hanya mengangguk.

“Jadi siapa nama mu?” Seseorang di pintu mengucapkannya sambil melihat ke arah ku. Ia mengacak-ngacak rambutnya sendiri, ia menggunakan kemeja kotak-kotak dengan lengan tergulung. Rambutnya juga berantakan.

SUHO

“Eoh? Kau sudah bangun?” Kemudian pria itu menyuruhnya duduk di sebelah ku.

‘Tidur dengan kemeja?’ aku memikirkan itu dari tadi. Darimana kenyamanan di dapat kalau tidur dengan kemeja. Mataku mengikutinya sampai ia duduk di sebelah ku. Ia tersenyum ke arah ku dan kembali menanyakan pertanyaan tadi.

“Nama ku Lee Y-” Aku menghentikan ucapan ku karena teringat pesan appa tadi, dengan segera aku kembali menyambung ucapan ku.

“Lee Hana, nama ku Lee Hana.” Sambung ku dengan cepat.

“Hm, kupikir tadi aku mendengar huruf Y.” Aku hanya diam, karena jika aku menanggapinya pasti mereka akan curiga. Aku pun balas menanyakan namanya.

“Kalau kau?”

“Ya!” Bukannya menjawab ia malah berteriak di depan wajahku. Aku terkejut setengah mati ketika ia berteriak seperti itu.

“W-wae?” Aku menatapnya takut, ia terlihat kesal kepada ku.

“Ya! Junmyeonie mengpa kau berteriak seperti itu kepada seorang gadis?” Appa nya segera memukul paha laki-laki itu dengan tangannya sendiri.

“Appa jangan memanggilku seperti itu dan berhenti memukulku. Appo!” Ia memanyunkan bibirnya dan terus saja menghindari pukulan appa nya. Aku yang tak bisa menahan tawa akhirnya tertawa juga. Ia semakin kesal saat melihat ku tertawa.

“Ya! Jangan tertawa! Ini semua salah mu.”

Akhirnya acara pukul-pukulan itu pun selesai, dan laki-laki yang telah diketahui bernama Junmyeon ini terlihat 2x lebih berantakan dari awalnya.

“Apa kau lihat-lihat? Aku memang tampan, tapi tak usah terpesona gitu dong.” Aku yakin saat ini wajah ku sedang menampilkan wajah aneh. Bagaimana bisa ada laki-laki sepede ini.

*

*

*

TBC

*

Chap. 2 preview

“My name is Lee Hana.”

“Aku tidak tahu dan tak mau tahu.”

“Bagaimana kalau kita pergi?

“Apa kau baik-baik saja?”

“Aku ini sunbae mu.”

+

+

+

Yeayyy! Chap satu nya udah selesai. Gimana? pasti abal dah-_- Kalian mesti tau author gatau bakal berhentiin ni FF nya kapan, kalap kan author pas bikin FF ini, jadi banyak banget gini. Tapi hargain aja lah ya, ini pun tercipta dari waktu-waktu yang tak terpakai. dan ini sangat lama terciptanya. Ide awalnya juga sekilas tapi mulai aku kembangkan dan jadinya begini. Ah udah deh dari pada banyak ngomong mending Kalian pencet tombol LIKE abis itu COMMENT deh. Oh iya jangan lupa berkunjung ke wordpress kami di https://xoelffanfiction.wordpress.com/ .Gomawo ya… yang udah nyempetin baca nih FF:) Saranghae

Author: autumngirl2309

♥ Musim gugur ♥ anime ♥ manga| Tahun 99| Seorang pelajar yang senang berimajinasi, menulis, mendengarkan musik| ♡ EXO ♡ BTS ♡ SJ ♡ K.WIll ♡ MARGINAL#4 ♡ Aoi Shouta

Here We Need Responsibilities. Thanks!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s