EXO Fanfiction Dorm

EXO as the Main Cast

Rain

Leave a comment

giphy (1)

Rain

Echaa Kim (OC) | Byun Baekhyun

Romance | Sad fail | Ficlet

Luhana120

.

“Tak apa. Aku disini. Bersamamu.”

Sungguh menyakitkan. Sungguh menyakitkan ketika menyadari fakta yang ada. Faktanya, dia bukan milikku. Harapan yang telah sirna. Menyakitkan jika hanya memperhatikan dari jauh. Jarak yang cukup dekat, tetapi aku tak dapat menggapainya. Mengapa semua ini terjadi?

Menyakitkan jika aku harus menyembunyikan segala rasa sakit ini dibalik senyuman. Senyuman yang terlihat asli tetapi hanyalah senyuman palsu. Tangisan, kesedihan, goresan hati, kuluapkan hanya dengan tulisan di buku harianku.

Byun Baekhyun.

Ia lelaki yang sungguh hebat. Mampu membuatku jatuh cinta dengan rasa sakit yang tak terkira. Salahku mencintainya diam-diam. Salahku memendam segalanya. Aku hanya tak ingin semua mengetahui ini. Di depan mereka aku hanya pribadi yang ceria, tak pernah bersedih, lucu, dan sangat cuek. Kenyataannya? Aku hanyalah gadis dengan hati nan rapuh dan mudah retak. Aku benci diriku sendiri.

Dengan memendam semua ini, aku harus siap untuk melukai diriku sendiri.

Dia bukan milikku.

Dia bukan milikku.

Aku memendamnya. Dan tak akan ada yang tahu. Siapapun.

Aku bukan tipe gadis yang selalu menebar pesonanya untuk mendapatkan lelaki. Aku tidak sebrengsek itu. Oh Tuhan, bebaskan aku dari rasa sakit ini. Melihatnya berbahagia dengan gadis lain, ia yang sama sekali tak pernah menatapku sedikitpun.

Mungkin mencintainya perlu mental yang cukup kuat.

Hari ini, entah hari keberapa aku mencintainya. Sepanjang waktu aku mengawasinya dalam diam. Bukan hakku untuk merasakan sakit ini, tapi sakit ini yang menyerangku hingga air mataku jatuh berulang kali. Apa mencintainya harus sesakit ini?

Saatnya aku pulang. Aku membawa tasku dan keluar dari kelas. Jarak sekolah dan rumahku cukup dekat, 30 menit untuk sampai rumah.

Tiba-tiba hujan datang. Mengguyur tubuhku hingga basah kuyup. Aku tak peduli. Ini kesempatan bagiku untuk meluapkan segala emosi tanpa ada seorangpun yang dapat melihat air mataku mengalir. Jika hujan, jalan ini akan sangat sepi dan sunyi. Semua orang menghangatkan diri di dalam rumah.

“Aku lelah. Aku lelah memendam semuanya…”

Air mataku mengalir. Kakiku tak mampu lagi menopang tubuhku, lalu aku terjatuh dengan posisi duduk. Aku menutup wajah dengan kedua tanganku. Membiarkan semua mengalir. Persetan dengan tas dan tubuhku yang telah basah kuyup, hatiku terlalu rapuh untuk berdiri dan berjalan pulang.

“Bodoh… Betapa bodohnya aku menangisimu…”

Tangisan bodoh.

“Aku mencintaimu bukan berarti aku siap untuk menanggung semua luka. Bodoh! Bodoh!!”

Aku mendengar langkah kaki yang mendekatiku. Dengan kekuatan yang terkumpul, aku mencoba berdiri dan pergi. Tetapi, sebuah tangan menahanku. Aku melepasnya dengan paksa dan berlari. Aku tak mau siapapun melihatku menangis seperti ini.

Masih kuingat. Seminggu yang lalu, aku menangis dibawah hujan dan ditengah jalan yang untungnya sepi. Sangat memalukan. Tetapi entah kenapa, hari ini aku merasa bahwa akan ada yang membuatku sakit. Sakit. Apa aku siap?

“Baekhyun-a!”

Gadis itu. Gadis sialan itu. Sungguh memuakkan. Gadis itu sungguh membuatku sebal. Park Yoonji. Teman sekelasku yang sangat menyebalkan. Aku tak tahu mengapa, tetapi menurut berita yang kudengar dari teman-teman, dia suka sekali mendekati orang yang disukai oleh temannya. Apa kalian paham maksudku?

“Eo, Yoonji. Ada apa?”

“Aku ingin lihat jawabanmu! Awas saja jika jawabanmu ada yang salah, akan kuberi hukuman!”

“Terserah kau saja.”

Akh, luka tergores di hati yang rapuh ini. Oke, aku terlalu berlebihan. Tetapi aku tak bohong. Melihat mereka mengobrol bersama, sedangkan aku yang menyukai Baekhyun, tak pernah berinteraksi dengan baik. Bahkan, Baekhyun tak pernah melihat, bahkan melirikku sekalipun tak pernah. Menyedihkan sekali bukan? Mencintainya diam-diam tanpa seorangpun yang tahu. Haha. Tawa palsuku bisa-bisa meledak.

Beruntunglah, ini waktunya pulang, jadi aku bisa pulang dan menangis sendirian. Tak peduli siapapun yang akan mencegahku. Aku ingin menangis lagi. Dan apapun yang terjadi, aku hanya ingin meluapkan segala hal yang ada di hatiku. Berarti, tak mungkn jika aku menangis di rumah. Kurasa aku punya tempat yang tepat.

Aku menyambar tasku dan segera pergi dari tempat yang hanya membuatku terbakar ini. Semua rasa muak yang tertuju pada Yoonji ingin kuteriakkan sekencang mungkin. Dan akan lebih baik lagi jika tak ada yang menggangguku. Aku mengincar atap sekolah.

Aku menaiki tangga, dan berhenti di depan pintu atap. Aku membuka pintu itu. Sayangnya, aku tak punya kuncinya. Jika aku punya, pasti aku akan menguncinya rapat-rapat.

“Bisakah aku meneriakkan segala kekesalanku disini?”

Aku berjalan ke tepi pintu. Duduk dan bersandar disini sepertinya aman. Dan juga, sepertinya hari ini akan hujan. Aku meletakkan tasku di sebelah tangga dan kembali duduk dan bersandar.

Tik tik

Hujan turun. Lengkap sekali. Hujan yang turun dengan deras ini melengkapi ratapan menyedihkanku. Aku mulai menangis. Menangis dengan air mata yang mengalir deras. Membiarkan air hujan membasahi tubuhku untuk kedua kalinya.

“Mengapa harus kau? Apa tak ada lelaki lain selain dirimu?”

“Menyakitkan melihatmu bersamanya…”

“Aku mencintaimu, tapi kau tak akan menyadarinya. Sampai kapanpun.”

“Apakah kau tahu semua ini?”

“Apa aku tak akan bisa memilikimu?”

“Mengapa?! MENGAPA AKU HARUS MENYUKAIMU, BYUN BAEKHYUN?!”

Tangisanku memuncak. Aku berteriak sekeras yang aku bisa. Aku meluapkannya. Aku telah meluapkannya. Tapi rasa sakitnya masih tersisa dihatiku.

“Mengapa aku harus mencintaimu?”

“Kurasa kau benar-benar mencintaiku.”

Jantungku serasa berhenti. Suara itu. Suara yang tak pernah berbicara padaku. Suara berat yang selalu terekam di otakku. Aku… Aku tak tahu harus berbuat apa. Aku ingin pergi, tapi sepertinya energiku terkuras habis saat aku berteriak. Aku memang gadis bodoh dan lemah.

“Kau terlalu lemah untuk tersakiti seperti ini. Aku mendengarnya dari balik pintu.”

Mataku terbelalak. Aku yang tak pernah berbicara dengannya, harus membiarkannya melihatku menyedihkan seperti ini. Aku menyerah. Aku tak bisa berbuat apapun di dekatnya. Tiba-tiba, dia memelukku. Memelukku dengan erat. Pelukan hangat yang sangat kuinginkan.

“Jangan bercanda, ini ti—“

Bibirnya… Aku… Ini… Aku diciumnya… Apa?!

Aku menangis lagi. Dan dia memelukku lagi. Tetap diguyur hujan. Suasana dan atmosfer disini tak berubah.

“Bodoh. Aku mencintaimu.”

Jantungku berhenti. Wajahku memerah bagaikan kepiting rebus. Ia mengusap air mataku dan menatapku dalam-dalam. Semua luka tiba-tiba saja menghilang. Tak ada lagi rasa sakit. Tak ada lagi rasa tersiksa. Aku… Aku merasa bebas. Aku memeluk dengan erat, seolah tak ingin melepasnya.

“Aku tak peduli. Aku memang bodoh, tetapi aku sangat mencintaimu.

Fin

Ciaaaa :v Kembali dengan ficlet absurd. Haha. Maapkan Author laknat ini yah reader. Annyeong!

Author: Luhana120

I'm a Kpopers

Here We Need Responsibilities. Thanks!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s