EXO Fanfiction Dorm

EXO as the Main Cast

The Letter – My Last Letter

Leave a comment

Title: The Letter Author Anonymouspark – Lenght Oneshot– Disclaimer I just own the story, poster also belongs to me  – Genre Fluff, Sad (maybe) – Rated: PG-17 A/N  This story isn’t based on Davichi’s song

Cast:

Chanyeol EXO and OC

Previous story: 

1st letter l 2nd letter l 3rd Letter l There’s No Letter To Be Read l 4th letter l Last Letter l Your Last Letter l Our Goodbye l I’ll Leave l Please Stay

Soundtrack:

Kiss The Rain – Yiruma (listen here)

Summary:

I never mean to say goodbye, but I have too…

 

6 Maret 2015

“Aku tidak mau,” Sera menggeleng saat ia duduk di tempat tidur. Sera menolak permintaan Chanyeol yang hanya ingin Sera makan beberapa sendok.

“Ayolah,” pinta Chanyeol menggunakan aegyo terbaiknya lalu kembali mendekatkan sendok ke bibir Sera.

Sera menghindari kontak mata dengan Chanyeol dan kembali menggeleng kepalanya lagi dan lagi. “Aku tidak mau!”

Bibir Chanyeol mengerucut. Sudah banyak cara Chanyeol untuk membujuk Sera untuk makan tetapi tetap saja gadisnya itu menolak.

“Sera-ya. Kau harus makan sesuatu.

Chanyeol meletakkan nampan yang berisi makanan Sera lalu menangkup wajahnya sembari menatap Sera.

“Sera-ya, apakah kau tidak lapar? Sama sekali?”

Sera kasihan melihat Chanyeol yang tidak pernah lelah mengurusnya dikala waktu senggang yang ia miliki. Tetapi Sera memiliki alasan sendiri kenapa dia terlalu malas untuk makan sesuatu.

 “Tidak Chanyeol oppa, bagiku rasa sakit ketika makan melebihi rasa sakit ketika aku menahan lapar.”

Chanyeol menghela napasnya yang terasa berat. Dia mengerti apa yang dimaksud oleh Sera tetapi tetap saja perut Sera tidak boleh kosong sama sekali.

“Tetapi jika kau tidak makan akan lebih memperburuk kondisimu. Kau pernah bilang bahwa kau akan hidup lebih lama lagi. Bukankah kau ingin hidup lebih lama lagi bersama ku, Sera-ya?”

Sera menoleh ke arah Chanyeol kemudian menatap lelaki tampan tersebut tidak percaya dengan apa saja yang baru dia dengar dari seorang Park Chanyeol.

Apa yang baru saja dia katakan? Apa dia bersungguh-sungguh?

 Sera mengedipkan matanya kemudian menggeleng kecil. Dia harus kembali ke dunia nyata sebelum terbuai oleh kalimat yang baru saja Chanyeol luncurkan.

“Sera-ya, kau selalu menghindar dari prediksi  dokter bahwa hidup hanya tersisa beberapa bulan lagi. Maka dari itu kau harus melakukan yang terbaik untuk melawan semua ini. Hanya tinggal beberapa lagi Sera. Apa kau tidak ingin tinggal di sini selamanya bersama ku? Tolong makan ini untuk ku, oke?” pinta Chanyeol dengan manis.

Kening Sera berkerut sebelum iya menyetujui permintaan Chanyeol. Melihat anggukan kecil Sera mendorong tangan Chanyeol untuk kembali mengambil makan Sera. Chanyeol sembari tersenyum lalu mengangkat sendok hingga ke mulut Sera. Sera membuka mulutnya saat sendok mendekati bibirnya.

“Tidak terlalu buruk, bukan?” Chanyeol bertanya penuh harap.

Sera menyetujui ucapan Chanyeol dengan mengangguk kecil. Chanyeol tidak bisa menahan dirinya untuk tidak tertawa saat melihat Sera menuruti kemauannya.

***

10 April 2015

Chanyeol melangkah keluar dari kamar Sera kemudian bertemu nyonya Choi, ibu Sera. Chanyeol dengan membungkuk sembilan puluh derajat saat bertatapan langsung dengan ibu Sera.

Ibu Sera tersenyum dan menatap Chanyeol dengan kagum.

“Terima kasih Chanyeol, terima kasih karena sudah mengembalikan hidup Sera…”

Chanyeol terlihat bingung tidak mengerti dengan kalimat yang baru saja ia dengar dari ibu Sera.

“Terima kasih untuk apa, nyonya Choi—“

“Ibu saja.”

“Maaf nyonya—maksud ku ibu. Terima kasih untuk apa ibu?”

Nyonya Choi mengulurkan tangannya lalu mengambil tangan Chanyeol. Dengan senyum hangat dan air mata yang nyonya Choi tahan.

 “Sera selelu berpikir bahwa kau adalah seorang malaikat dan saya bisa mengerti maksud dari itu. Saya bisa melihat itu sekarang. Ketika kau datang untuk melihat Sera pertama kalinya pada untuk memberikan Sera dukuangan. Hari itu adalah sebuah keajaiban karena Sera akhirnya sadar setelah jangka waktu beberapa hari tidak sadarkan diri. Pada hari itu saat kedatanganmu untuk membesuk Sera,  tubuh Sera berfungsi dengan baik sendiri bahwa bahkan dokter tidak tahu apa yang salah dengan Sera. Sera memang masih memiliki penyakit terminal tetapi mereka tidak tahu apa yang salah. Kau mungkin berpikir kau hanyalah manusia biasa tetapi kau tidak, kau adalah sebuah keajaiban bagi putri saya. Dan saya bersyukur bahwa kau pernah masuk ke kehidupan Sera. “

Chanyeol membalas senyum hangat dari nyonya Choi kemudian meremas tangan nyonya Choi  dengan lembut.

“Saya juga tidak pernah mengira dan tidak pernah tahu bahwa seseorang secantik putri Anda bisa mengalami hal seperti ini, setelah bertemu dengan Sera, akhirnya saya bisa menemukan seseorang dengan hati yang hangat dan jiwa yang penuh kasih. Penyakit yang di derita Sera saat ini hanya menunjukkan saya hanyalah sebagai penyemangat hidupnya, tetapi malaikat yang sesungguhnya adalah anak Anda, Sera.  Bagi saya, keajaiban adalah saat saya menemukan Sera.”

Nyonya Choi tidak menahan air matanya yang sudah mendesak untuk keluar. Dia merasa sangat bersyukur meskipun waktu yang tersisa untuk Sera tidaklah banyak, akhirnya mimpi salah satu anaknya bisa terwujud.

“Terima kasih Chanyeol, terima kasih, nak.”

14 Mei 2015

Sera membenarkan letak topinya kemudian memperbaiki lipatan bajunya. Sera menoleh ke arah Chanyeol yang saat itu hanya mengenakan turtle neck, coat diluar dan masker untuk menutupi wajahnya. Sera merasa tidak yakin dengan penampilannya, ditambah musim semi cukup dingin karena mereka masih berada di pertengahan bulan Mei.

“Apa kau yakin aku akan baik-baik saja dengan penampilan seperti ini?

Chanyeol mengangguk lalu berjalan mendekati Sera. Sebelah tangan Chanyeol membuka maskernya dan detik berikutnya kepala Sera berada diantara kedua tangan Chanyeol.

“Tentu saja. Apa kau tidak percaya ketika aku mengatakan bahwa aku mendapatkan izin dari dokter untuk mencuri mu demi kencan ini?”

Sera menatap Chanyeol dengan mata yang intens. Sera merasa bahagia karena Chanyeol sangat baik terhadapnya. Tetapi bukan itu maksud Sera. Sera merasa kurang percaya diri untuk jalan berdampingan dengan sosok tinggi dan tampan seperti Park Chanyeol.

“Maksudku, apa kah semuanya akan baik-baik saja jika kau pergi bersama ku?”

Chanyeol dapat melihat tatapan ragu, cemas dan tidak percaya diri dari kedua mata Sera.

Tentu saja tidak Sera-ya, itu akan menjadi sebuah masalah yang besar jika aku tidak berhati-hati, tetapi aku tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi.  Chanyeol ingin meyakinkan Sera dengan kalimat tersebut, tetapi Chanyeol tidak mengatakan itu kepada Sera.

“Jadi apa yang akan kita lakukan pada kencan pertama kita…apa kau tidak bersemangat untuk kencan pertama kita ini?” ucap Chanyeol penuh semangat seolah dirinya adalah seorang anak sedang bersiap-siap untuk pergi ke kebun binatang untuk pertama kalinya.

Dan terakhi, mungkin saja ini pertama dan terakhirnya untuk kita berdua, oppa. Pikir Sera tapi dia tidak mengatakan dengan keras. Sera membalas Chanyeol dengan sebuah senyuman. Tidak berniat untuk melunturkan semangat yang Chanyeol berikan untuknya.

“Chanyeol oppa, darimana kita harus mulai kencan pertama kita?”

15 Mei 2015

Hari itu Chanyeol dan Sera menghabiskan waktu bersama hingga tengah malam. Hari itu merupakan hari terbaik bagi mereka. Kencan pertama yang begitu menyenangkan dimana Chanyeol tidak pernah berhenti menggoda Sera yang ketakutan mengikuti salah satu arena bermain. Begitu pula dengan Sera tidak lupa membalas Chanyeol dengan membuat lelucon tentang telinga Chanyeol yang menyerupai telinga Mickey Mouse saat lelaki itu menggunakan bando tokoh kartun Disney tersebut. Chanyeol dan Sera sangat menikmati hari itu dengan berbagi kebahagiaan.

“Aku benar-benar lupa rumah sakit memiliki jam malam,”  ucap Chanyeol dengan canggung lalu menggaruk bagian belakang kepalanya.

“Bisakah oppa tidak menyebut rumah sakit hari ini? Lagi pula aku terlalu malas untuk kembali ke rumah sakit. Oppa, kau tidak lupa meminta izin kepada orang tua ku, bukan?

Chanyeol senang mendengar alasan yang keluar dari mulut Sera. Mendengar gadisnya itu tidak ingin memiliki waktu yang lebih bersamanya sukses membuat perasaan Chanyeol tidak karuan. Tangan Chanyeol mengayun tangan Sera yang ia genggam dari tadi lalu bertanya.

 “Jadi apa yang akan kita lakukan sekarang?”

Sera menoleh ke arah Chanyeol.  Chanyol dapat melihat  wajah Sera yang lelah. Tentu saja setelah beraktivitas seharian ini Sera memerlukan istirahat, atau mungkin saja gadisnya itu lapar?

“Sera-ya, apa kau lapar?”

Sera menggeleng. “Tidak.”

“Baiklah kalau begitu, berarti kita langsung saja ke tempat ku,” ujar Chanyeol kemudian mulai melajukan langkahnya.

“Oppa, apa maksud mu ‘langsung saja ke tempat ku?’” Sera menahan dirinya saat mendengar Chanyeol. “Bukan kah kau tinggal bersama yang lainnya? EXO?” lanjut Sera.

“Aku baru saja membeli apartemen lain, aku tidak akan membawamu kesana.” Jawab Chanyeol.

Kening Sera kembali berkerut. Tentu saja ia bingung apa ia harus ikut dengan Chanyeol atau tidak.

“Ayolah, tidak usah berpikir panjang lagi.” Chanyeol kembali menarik Sera.

“Tapi oppa, alasan ku tidak kembali ke rumah sakit karena aku tidak ingin tidur, jadi jangan paksa aku, oke?”

Chanyeol tidak menghiraukan ucapan Sera dan kembali menarik gadisnya tersebut untuk menyamakan langkah dengan dirinya.

***

Sera menyibukkan dirinya dengan memperhatikan seluruh isi ruangan Chanyeol. Dari dapur Chanyeol mengulum senyum melihat Sera kini berada di apartemennya. Sera adalah tamu pertama yang ia undang untuk menginjak apartemen barunya tersebut.

Sera berjalan kecil hingga langkah Sera berhenti di meja kecil dimana terletak beberapa potret Chanyeol ketika ia masih kecil.

Melihat foto balita Chanyeol membuat Sera tertawa kecil.

Dia terlihat begitu lucu.

Sera kembali melihat foto-foto Chanyeol bersama keluarganya tidak lupa foto bersama EXO. Dia ingin bertemu keluarga Chanyeol tapi dia tidak pernah melihat nya. Bahkan Chanyeol tidak memperkenalkan Sera dengan EXO. Tetapi Sera tidak pernah memaksa dan meminta karena ia mengerti posisi Chanyeol sebagai idola besar. Tidak mungkin baginya untuk memperkenalkan Sera dengan dunianya. Yang ada Sera hanya akan menjadi masalah besar bagi Chanyeol. Sera mengerti Chanyeol.

Chanyeol dapat membayangkan apa yang ada dipikiran Sera. Tetapi Chanyeol tahu bahwa Sera tidak pernah menuntut lebih. Chanyeol memiliki alasan khusus kenapa ia tidak memperkenalkan Sera dengan dunia lainnya itu. Bagi Chanyeol, Sera adalah satu-satu orang yang sangat ia lindungi, Chanyeol tidak akan pernah membiarkan alasan bodoh akan merusak mereka, alasan bodoh yang akan membuat Sera melangkah jauh darinya. Chanyeol tidak ingin itu.

Sera menjatuhkan dirinya di sofa. Senyum mengembang di wajah Sera saat melihat Chanyeol melangkah mendekatinya.

“Minum ini dulu.”

“Terima kasih, oppa.”

 Sera meneguk minuman itu hingga habis sebelum Chanyeol mulai cerewet untuk menyuruhnya minum lebih banyak lagi.

“Siap untuk tidur?” tanya Chanyeol saat melangkah ke dapur. Sera mengikuti Chanyeol ke dapur.

“Tidak juga,” jawab Sera dengan jujur.

“Tidak juga?” tanya Chanyeol. “Tapi kau butuh istirahat Sera-ya. Kau terlihat sangat lelah. “

“Tapi aku tidak lelah,” protes Sera.

Chanyeol menghela napasnya berat sebelum menempatkan gelasnya kembali di lemari.

“Sudah malam,” ucap Chanyeol  kemudian menoleh ke arah Sera untuk melihat gadis itu. Sera terlihat menunduk tidak berani menatap Chanyeol.

“Kau perlu istirahat, Sera-ya.” Chanyeol mulai melemah.

Sera merajuk, “tapi aku tidak lelah Chanyeol.”

Chanyeol melanjutkan langkahnya keluar dari dapur dengan Sera mengikutinya dari belakang.

“Kau perlu istirahat,” ulang Chanyeol dengan tegas.

“Aku tidak ingin tidur…” lirih Sera. Sera memang tidak ingin tidur. Entah kenapa ia merasa takut untuk tidur malam itu. Terlalu banyak yang Sera takutkan. Setiap malam ia tertidur hanya satu yang ia takutkan: bahwa dirinya tidak akan bangun lagi.

Sera selalu membayangkan bagaimana ia akan meninggalkan dunia ini semenjak ia divonis penyakit yang bisa merenggut nyawanya kapan saja. Itulah yang membuat Sera menolak perintah Chanyeol. Setiap malam susah untuk Sera lalui karena bayangan tersebut.

Chanyeol merasa bersalah telah membuat Sera sedikit tertekan. Langkah Chanyeol kembali mendekati Sera kemudian kedua tangannya menangkup wajah Sera. Chanyeol kemudian menekan tubuhnya dengan Sera.

“Kau harus tidur, Sera-ya.” Ucap Chanyeol lebih lembut kali ini.

Sera kembali  menggeleng, mata Sera berair saat ia menatap Chanyeol.

, “Chanyeol oppa,aku… aku tidak ingin tidur.” Ulang Sera.

***

Chanyeol menutup matanya lalu  membiarkan dahinya bersandar di dahi Sera.

“Kau tidak tahu apa yang akan terjadi nantinya jika tidak beristirahat, Sera-ya.”

Sera melihat wajah Chanyeol yang sangat dekat dengan wajahnya, bahkan Sera dapat merasakan napas Chanyeol membelai wajahnya saat berbisik tadi.

“Chanyeol oppa, aku mohon.” Sera kembali memohon. “Bukannya aku tidak ingin, tapi—“

Chanyeol membungkam bibir Sera dengan bibirnya sebelum ia membiarkan Sera untuk membantahnya lagi.  Mencium bibir Sera dengan lembut.

Detik berikutnya merubah segalanya bagi Chanyeol dan  Sera.


Jangan heran kenapa ini pendek hehe. Yang mau baca full part silahkan meluncur ke halaman ini [End] The Letter – My Last Letter. So, see you there! Xoxo~

Author: anonymouspark

An ordinary girl with bunch of dreams

Here We Need Responsibilities. Thanks!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s