EXO Fanfiction Dorm

EXO as the Main Cast

Promise

1 Comment

tumblr_mp6wh53jue1qj3bjeo2_500

Title                 : Promise

Author             : eezeeba

Cast                 : Kim Jongin, Jung Soojung

Genre              : Angst, Romance

Length             : Oneshot

Rated               : PG-15

Author’s note  : Pernah diposting di schooloffanfiction.wordpress.com (blog ybs udah pindah dan archivenya kehapus). You won’t find this FF anywhere anymore but here. Happy reading, good people!

Kim Jongin tahu, Soojung hanya sedang menepati janjinya….

Author POV

Sekali lagi Soojung melirik arloji di tangan kirinya. Waktu baru berlalu 5 menit, tetapi kenapa rasanya lama sekali? Ia membatin kesal, menghembuskan napas dengan kasar. Tak henti mengetuk permukaan meja sambil mencoba meredam rasa kesal. Kemana saja namja babo itu? Lagi-lagi Soojung berbicara pada dirinya sendiri. Ia memutar kepala, menembus jendela kaca dengan tatapan putus asa. Berkali-kali ia coba membunuh waktu dengan sekedar memainkan jari-jarinya yang bebas. Soojung mengedarkan pandangan ke penjuru café, dan masih seperti tadi, sepi. Hanya ada satu pengunjung dan itu dirinya sendiri. Soojung menatap udara kosong. Membiarkan latte di depannya dingin tanpa pernah disentuh.

“Soojung-ah…” akhirnya sosok itu muncul juga. Soojung membuang pandangannya ke sembarang arah sembari Jongin menarik kursi.

“Kau telat berapa menit, Kim Jongin-ssi?” sindirnya. Jongin hanya menatap Soojung dengan mata yang terlihat letih, tak menjawab, membiarkan keheningan menjadi penengah selama beberapa saat.

Wae? Jongie-ya? kenapa kau diam saja?” tanya Soojung lagi setelah akhirnya tak tahan dengan kebisuan di antara mereka. Jongin menunduk, punggungnya mulai naik-turun. Soojung terperangah, bisa ia lihat tetesan bening itu jatuh mengenai punggung tangan namjanya.

Kkamjong-ah, ada apa?” Soojung menggenggam tangan Jongin yang mengepal kaku di atas meja. Mengelusnya lembut, berharap ia mau mendongakkan wajahnya.

“Kenapa kau belum pulang, Soojung-ah?” tanya Jongin parau. Soojung mengernyitkan dahi. Pulang?

Ya! Bagaimana aku bisa pulang, aku menunggumu disini seperti orang bodoh seharian. Mana mungkin aku bisa pulang begitu saja,” jawab Soojung merajuk. Namun tak ada yang berubah dari ekspresi Jongin. Bengkak matanya kini terlihat jelas, wajahnya memerah, wajah rupawan itu basah oleh airmata.

“Kau harus pulang, Soojung-ah…” katanya kemudian.

Wae, Jjong-ah? Kenapa kau bicara seperti itu?”

Mianhae, Soojung-ah, jeongmal mianhae…” sekarang ia sudah menjatuhkan dirinya di samping Soojung. Berlutut dengan kedua kakinya. Gadis itu buru-buru bangkit, menyentuh pundak Jongin, mencoba menenangkannya.

“Kau tak seharusnya ada disini,” ia masih terisak, bahkan kelihatan tak mengacuhkan lengan Soojung yang dilingkarkan di tubuhnya, “pergilah dengan tenang, Jagiya. Mianhae.”

Sejenak Jongin mengatur napas, “Soojung-ah, aku tak tahu kenapa jadi seperti ini, tapi…Jagiya, kau sudah meninggal.”

***

Jongin POV

Soojung masih membeku. Manik matanya bergerak-gerak gelisah. Kucoba mengendalikan diriku, bangkit lalu mengelus wajahnya. Membuatnya menatapku dengan tatapan yang tak kumengerti apa maknanya.

“Jongin-ah, kau tak ingin aku disini?” ia bertanya pelan. Menepis tanganku yang masih menyusuri pipinya.

Jagiya, aku tak bisa hidup seperti ini, mianhae. Aku tau ini semua salahku, tapi kau…kau tak nyata Soojung-ah. Kau harusnya tak disini.”

“Hah? Tak nyata? Lalu aku ini apa? Hantu? Arwah?” tanyanya tak mengerti.

“Aku tak tahu, Soojung-ah. Namun kurasa sudah cukup aku menahanmu untuk terus ada disini. Aku tak lagi menikmatinya. Aku tersiksa karena semakin aku melihatmu, semakin banyak kenangan yang tercipta. Semakin kuat bayangmu di pikiranku, semakin sulit aku melanjutkan hidupku. Mianhae, Jagiya.”

“Tapi….Jongin-ah..”

Jagiya…” kuatur napasku yang semakin tak beraturan, “kau sudah meninggalkan kami. Tempatmu seharusnya tak lagi disini. Malam itu, kecelakaan itu, aku ada disana. Menyaksikan tubuhmu yang tanpa nyawa, aku menyaksikannya sendiri. Aku masih ingin bersamamu, Soojung-ah, sungguh. Seandainya aku bisa membawamu kembali, pasti kulakukan apapun untuk itu. Tapi kita – entahlah kalau hanya aku – terjebak disini. Aku bahkan tak tahu kau ini apa, kenapa kau disini. Aku bahagia, Soojung-ah, walaupun hanya dapat bersamamu di tempat yang sama, dengan kejadian yang sama setiap harinya. Aku bahagia. Tapi nyatanya aku tak pernah berhasil membawamu keluar dari sini. Dan aku rasa ini bukan hal yang tepat lagi, Soojung-ah…”

Soojung memejamkan matanya, terlihat meredam segala kekacauan dari penjelasanku barusan. Gurat itu masih menunjukkan pertanyaan yang tak lagi dilontarkannya. Dengan mata gerimis aku hanya mampu menatapnya. Merasakan pilu dari setiap detik yang setelah ini takkan memberiku kesempatan yang sama.

“Kalau kau memintaku pergi, kau takkan bisa menemuiku lagi, Jongin-ah. Mulai sekarang kau hanya bisa membayangkanku,” kudengar ia terisak pelan. Seakan-akan ia mengerti apa yang kubicarakan. Seolah ia sadar apa yang akan terjadi jika ia menuruti permintaanku. Bibirku bergetar hebat, kukepalkan tangan yang gemetar hanya sekedar untuk merengkuhnya. Hatiku sesak. Rasa takut itu menguasaiku sepenuhnya. Kutatap wajah cantiknya. Aku sadar, setelah ini takkan lagi aku mampu mendengar tawanya. Tak bisa lagi kuusap tangannya saat kepalanya bersandar di dadaku. Soojung-ah…

“Jongin-ah, kau ingin aku pergi?” tanyanya lagi. Dengan airmata yang masih tumpah dari setiap sudut mata, aku hanya bisa tersenyum

“Pergilah, Jagiya. Mianhae. Nan neol saranghae.”

***

Author POV

Flashback

Kim Jongin! Ireona! Aigooo…dia benar-benar mabuk,” seru Soojung kesal. Jongin tak bergeming, masih tertidur dengan meletakkan kepalanya di meja bar. Soojung melirik arlojinya, sudah pukul 1 dini hari. Ia menggeleng-gelengkan kepala, setengah putus asa.

“Bawa Jongin pulang, Soojung-ah. Dia minum banyak sekali tadi, kelihatannya sedang ada masalah. Apa terjadi sesuatu?” tanya Young Eun, pemilik bar sekaligus paman Jongin.

Soojung menghela napas, menatap prihatin namja di depannya, “Ada masalah di kampus, Ajussi. Proyek film yang ia kerjakan terhenti di tengah jalan karena ada masalah dengan pihak universitas. Padahal dia sepenuh hati mengerjakannya, bahkan kalau film itu selesai, ia bisa memulai karirnya sebagai seorang director, cita-citanya dari dulu.”

Ara, ara…aigoo, pantas dia sampai seperti ini. Ayo Soojung-ah, aku bantu memapah Jongin ke mobilnya.”

Soojung membanting pintu mobil setelah menghempaskan tubuhnya di jok. Dipandanginya wajah Jongin  yang terlihat begitu lelah. Begitu kecewa. Diusapnya rambut Jongin dengan lembut, membisikkan ke telinga namja itu bahwa semua akan baik-baik saja. Bau alkohol menguar saat Jongin menggeliat bangun. Soojung tersenyum, mulai menyalakan mesin mobilnya.

“Soojung-ah?”

Ne, Jongin-ah?” mata Jongin baru benar-benar terbuka saat mobil mereka sudah melaju membelah kota Seoul. Jongin mengerjap-ngerjap, mencoba mengumpulkan kesadarannya.

Jongin-ah, gwaenchana?” tanya Soojung khawatir. Jongin hanya memandang nanar kaca mobil di depannya, tak menjawab.

Jongin-ah?” ulang Soojung hati-hati. Jongin menghirup napas dalam-dalam, seolah itu dapat meredakan sesak yang terasa menindih dadanya.

“Brengsek. Mereka semua brengsek,” umpat Jongin tajam. Soojung menoleh, memandang namja di sampingnya yang sekarang tampak lebih berantakan. Dengan mata yang mulai berair Soojung kembali menekuni jalanan di depannya. Tak tahu apa yang harus ia katakan untuk menenangkan Jongin saat ini. Jelas ia khawatir, perasaannya bergemuruh tak jelas.

“Biar aku yang menyetir,” kata Jongin sambil menepuk pundak yeojachingunya. Soojung kembali menoleh, menggelengkan kepalanya berkali-kali.

Andwae, kau masih mabuk, Jongin-ah, istirahatlah,” tolak Soojung sehalus mungkin. Jongin menatapnya tajam.

“Kau juga tampak berantakan, biarkan aku saja yang mengemudi,” kali ini nada Jongin memaksa. Soojung menelan ludah.

Jongin-ah…” Soojung menatapnya takut-takut. Ia tahu persis Jongin sedang tidak sepenuhnya sadar, pengaruh minuman itu masih bisa terlihat di mata kosongnya.

“Jung Soojung, hentikan mobilnya kataku!” keras sekali ia membentak Soojung yang tersentak tak percaya. Airmata yeoja itu tumpah seketika. Secepat mungkin Soojung mengerem mobil itu, dengan kasar meraih tas di sampingnya, membuka pintu mobil dengan tergesa. Melangkah menjauh dengan airmata yang sudah tak bisa ditahan lajunya. Badannya gemetar, ia tak pernah seperti ini. Namjachingunya, Kim Jongin-nya…kekecewaan itu benar-benar lebur, bercampur dengan sakit hati yang tercipta dalam hitungan detik.

YA! Jung Soojung, kau mau kemana?!” ia masih bisa mendengar Jongin memanggil namanya. Juga mendengar derap kaki namja itu mengejarnya. Namun telinganya terlanjur kebas, wajahnya pias. Ia mengerti bukan sepenuhnya Jongin yang tadi membentaknya, Jongin-nya bukan dirinya saat itu, tapi ia takut. Ia kecewa. Soojung tak tahu apa yang seharusnya ia lakukan.

“Soojung-ah! Chamkaman!” tarikan kuat tangan Jongin membalikkan tubuhnya. Amarah terpancar kuat dari mata Jongin, membuat Soojung semakin jerih. Airmata jatuh semakin deras, dicobanya melepaskan genggaman Jongin di lengannya.

“Kembali ke mobil,” Jongin menariknya dingin.

Jongin-ah, sadarlah! Kau tak boleh melakukan hal seperti ini! Aku tahu kau marah, kau hancur, kau benci pada mereka yang menggagalkan impianmu saat ini, tapi bukan begini caranya. Aku sudah bilang berkali-kali kau tak boleh mabuk, aku benci kau meminum cairan sialan itu! Karena kau bukan Jongin-ku saat seperti ini. Jongin-ah, dengar, aku sayang kau. Aku akan selalu ada untuk mendampingimu. Kau tak perlu merasa hancur karena orang-orang itu. Jongin-ah, jebal, lihat aku…”

Jongin tak melonggarkan genggaman tangannya. Mata itu masih menatap Soojung yang tersedu, kali ini tanpa sorot kehangatan. Tanpa rasa sayang yang biasanya terpancar kuat ketika mata itu menatap yeojachingunya.

“Masuk kataku!” Jongin kembali menarik paksa Soojung ke dalam mobilnya. Dengan seluruh tenaga  Soojung mencoba memberontak, sebisa mungkin melepaskan diri.

Plaaakkkk!

Satu tamparan keras mendarat di pipi kiri Jongin. Soojung mencoba mengatur napasnya, gemetar karena tak sengaja mengayunkan tangannya seperti itu. Dengan berurai airmata ia mengucap kata maaf. Berlutut di depan Jongin yang tampak tak percaya dengan apa yang Soojung lakukan barusan.

Neo…” Jongin mendesis sinis. Gelap mata ia menendang tubuh Soojung sekuat tenaga. Menariknya bangkit, kemudian kembali menampar Soojung keras-keras. Semua emosi yang mengendap di hatinya terkuak sudah. Tak lagi peduli bahwa ia menyakiti yeoja yang begitu dicintainya. Tak peduli bahwa bukan Soojung yang membuatnya semarah ini. Tak peduli kata-kata maaf yang terlontar dari bibir yeoja itu.

Soojung sudah hampir kehabisan daya saat Jongin menariknya untuk berdiri sekali lagi. Namun ia tetap mengerti, bukan Jonginnya yang melakukan semua ini. Badannya yang babak belur memang sakit, tapi hatinya lebih teriris melihat namja di hadapannya tak mampu mengendalikan diri. Ia tak tega melihat keperihan di mata Jongin. Ia sadar Jongin memang sedang begitu depresi. Proyek itu segalanya. Impian itu terpaksa tertunda lagi. Soojung tergugu, mengerti benar namjanya benar-benar terluka.

Satu tamparan siap melayang, tetapi Soojung malah melemparkan diri ke pelukan Jongin. Memeluk namja itu erat-erat. Sesenggukan di bahunya, menghirup bau tubuh Jongin sebanyak yang ia mampu. Untuk sepersekian detik Jongin membeku, tapi ia memang bukan dirinya saat itu. Tanpa ampun ia mendorong Soojung kuat-kuat, melepaskan pelukan itu tepat saat sebuah mobil melaju kencang.

Hal yang kemudian dilihatnya adalah Soojung yang bersimbah darah.

Jongin mematung. Setitik kesadaran itu tiba juga saat dilihatnya mata itu terpejam sempurna. Darah Soojung mengalir deras dari retakan di kepalanya, menyentuh ujung sepatu Jongin. Amis darah menguar begitu pekat. Pengemudi mobil yang menabraknya keluar dengan badan gemetar. Tergesa memanggil ambulans. Menatap panik tubuh yeoja yang tak dikenalnya itu.

Jongin masih tetap tak bergerak. Matanya menatap kosong. Sungguh, tak ada sorot apapun di mata yang kini membanjir itu. Tak ada teriakan tak percaya. Tak ada langkah kaki untuk menyentuh tubuh berbalut darah yang tergeletak beberapa meter di depannya. Jongin seperti manekin dengan pandangan menyedihkan.

Sesuatu terasa menekan kepalanya. Shock yang ia alami membuatnya kehilangan keseimbangan. Jongin limbung, terduduk di aspal yang sudah basah oleh darah yeojachingunya. Jongin belum sadar sepenuhnya akan apa yang baru saja terjadi. Namun kesadaran pertamanya terus berputar di otaknya. Terpatri di pikiran dan menyesakkan dadanya.

Jung Soojung telah pergi.

End of flashback

***

Author POV

Jongin masih bersandar di dinding ruangannya. Baru beberapa detik lalu ia membuka matanya. Seolah baru saja tersadar dari mimpi panjang yang melenakan. Seorang dokter masuk saat airmata meleleh dari sudut-sudut matanya. Kini Jongin paham benar apa yang terjadi. Sekarang ia dapat mengenali ruangan itu. Juga lelaki tua berjas putih yang menjadi dokternya selama ini.

“Kim Jongin-ssi, apa kabarmu hari ini?” sapa dokter itu ramah. Selama beberapa saat Jongin hanya diam, tetap tak membuka mulutnya.

“Hmmm, masihkah kau tak bisa mendengarku, Jongin-ssi? Apa sekarang kau bersamaku?”

Lagi-lagi tak ada jawaban. Bukannya Jongin tak mendengar atau tak mengerti pertanyaan yang dilontarkan dokter itu, tapi lidahnya masih terasa kelu. Pada detik ia membuka matanya, saat ia sadar atas apa yang selama ini terjadi padanya, Jongin merasa jauh lebih hancur dibanding saat ia harus menerima kepergian Soojung. Karena kali ini ia sendiri yang melepaskan yeoja itu, ia yang sepenuhnya dirinya meminta Soojung untuk pergi, dan tentu saja…hal itu berlipat kali lebih menyakitkan baginya.

“Ah, geurae, sebentar lagi penjaga akan membawakan makanan dan obatmu. Annyeonghaseyo, Jongin-ssi,” dokter itu beranjak dari sisi Jongin setelah menuliskan beberapa huruf di atas lembaran-lembaran yang dibawanya.

Seonsaengnim…” suara Jongin membuat langkahnya terhenti. Masih dengan pandangan tak percaya ajussi itu menoleh, tersenyum setulus mungkin melihat kemajuan pasiennya.

Ne, Jongin-ssi, kau bisa mendengarku?” tanyanya. Jongin mengangguk, mengusap airmata dengan punggung tangannya.

“Setelah kematian Soojung, apa yang terjadi, Seonsaengnim? Kau seorang dokter, bukan?” tanya Jongin tiba-tiba.

Lelaki tua itu menghela napas, rasa kasihan sudah ada padanya sejak Jongin dimasukkan kesana beberapa bulan lalu. Seakan melihat putranya sendiri, dengan sabar ia memantau perkembangan Jongin. Sejak masuk karena gangguan psikologi, Jongin memang tak bisa diajak berinteraksi. Seakan larut dalam dunianya sendiri. Segala prosedur dan terapi sudah diusahakan, tapi nyatanya tak ada yang bekerja pada pasiennya yang satu itu. Dan hari ini, tiba-tiba saja Jongin mendapatkan kembali kesadarannya. Ia tersenyum lega.

“Kudengar, malam itu juga polisi meringkusmu dengan tuduhan melakukan kelalaian hingga menyebabkan hilangnya nyawa orang lain. Pengemudi mobil yang menabrak yeojachingumu dengan jelas menyaksikan kau sendiri yang mendorong tubuh yeoja itu. Namun keluarga yeojachingumu tak mau menuntut, malah memohon agar kau dilepaskan. Tadinya polisi tak bisa mengabulkannya, tapi keadaan psikologimu juga terganggu, sehingga kau terpaksa dibawa kesini. Aku tak pernah tau apa yang sebenarnya kau rasakan, karena kau samasekali tak bisa diajak bicara. Nak, apa kau mengingat semuanya? Apa kau ingat kejadian malam itu?”

Jongin mengangguk. Sedetik kemudian ia sudah kembali tergugu. Ia ingat semuanya. Ia selalu ingat. Ia tak pernah lupa. Selama bersama Soojung di café itu, ia selalu ingat bahwa yeojachingunya telah tiada. Ia selalu mengerti semua itu bukan kenyataan, Jongin mengerti ia terjebak di dunia yang tak seharusnya ia tinggali.

Sejak malam itu, Jongin kehilangan dirinya sendiri. Ia kehilangan kendali. Bahkan ketika efek minuman keras itu lenyap, Jongin tetap tak bisa menempatkan diri, rasa bersalah, bingung, kesedihan luar biasa, Jongin merasakannya. Hanya saja ia tak bisa mengungkapkannya. Ia tak sanggup walaupun hanya untuk menangis. Ia terlalu linglung, bingung atas apa yang menimpa dirinya dan Soojung.

Sekalinya ia jatuh tertidur, ia bangun dengan kaki yang melangkah memasuki sebuah café. Terkejut ketika mendapati Soojung yang cemberut, menuduhnya terlambat datang. Pertama kali hal itu terjadi, Jongin kira itu mimpi, tapi hari itu terus terulang. Datang ke café, berbincang seharian sambil tertawa-tawa, mengenang dan membicarakan apa saja, kemudian ikut melangkah keluar ketika Soojung bilang harus pulang. Dan dalam sekejap mata, ia kembali menemukan dirinya melangkah menuju café itu. Hari yang sama, kejadian yang persis, bahkan semuanya serba serupa.

Iya. Kali ini Jongin mengerti. Soojung hanya menepati janjinya. Dan ia terlalu larut dalam kebahagian hingga selalu terlalu lemah untuk melepaskan yeoja itu. Hal yang tak ingin Jongin percayai sekarang ini adalah pernyataan dokter itu. Bahwa Soojung hanyalah sebuah ilusi bawah sadar karena Jongin tertekan dan depresi. Ah, bahkan walaupun kata-kata dokter yang menurutnya terlalu ilmiah itu benar, Jongin tetap percaya pada pemikirannya sendiri. Soojung hanya menepati janjinya.

***

Jongin POV

Annyeong, nae Jung Soojung…

Aku sekarang sudah kembali menjalani hidupku seperti biasa. Seperti manusia normal. Walaupun semuanya kini tak lagi sama. Tak ada lagi sosokmu yang biasanya disisi melewati hari. Tak ada lagi Jung Soojung yang cerewet mengingatkanku makan dan istirahat. Tak ada lagi Soojung-ku yang tak pernah gagal membuatku tergelak. Tak ada lagi yeojachingu yang selalu mendengarkan apapun yang ingin kuceritakan. Tak ada lagi Jung Soojung yang hobi sekali menyandarkan kepalanya di dadaku, tak pernah bosan mengatakan bahwa detak jantungku adalah pengantar tidurnya yang terbaik.

Kau tau apa yang paling kusesali? Malam itu, aku malah dengan kasar melepaskan pelukan terakhirmu. Aku tak sempat melihatmu untuk yang terakhir kali. Padahal, untuk sekali saja, apa benar aku sudah mampu membahagiakanmu? Apa kau bangga menjadi milikku, Soojung-ah? Apa aku benar-benar namja yang baik bagimu? Ah, bagaimana mungkin aku namja baik-baik. Kau meninggal karena aku. Aku. Aku yang bilang ingin menjagamu. Aku yang selalu bilang sayang padamu. Tapi aku sendiri yang mengingkari semuanya. Aku yang mencelakakanmu.

Mianhae. Kata maafku takkan pernah cukup, apalagi pantas untuk membayar apa yang telah kulakukan padamu. Mianhae, Soojung-ah, untuk samasekali tak mampu mengendalikan diri malam itu.

Aku bodoh. Aku tau.

Menyesali segalanya takkan membawamu kembali kesini. Aku hanya bisa berjanji aku akan menuruti semua kata-katamu dulu. Dan tentu saja, aku takkan pernah membiarkan diriku mabuk lagi, seberat apapun masalahku. Aku janji, Jagiya, aku akan tetap menjalani hidupku dengan baik. Aku akan selalu berusaha sekeras yang kumampu. Walaupun…kau takkan bisa mengerti seberapa hancurnya hidupku. Lubang di hati ini terlalu lebar, takkan ada yang mampu membuatnya utuh kembali.

Demi kau, iya, tapi demi kau yang selalu menepati janji, aku pun tak akan mengingkari apa yang pernah kukatakan padamu. Apapun yang terjadi, aku, Kim Jongin, tak akan menyerah, apalagi hanya duduk meratapi. Aku akan bangkit, karena kau pernah bilang, “Kim Jongin-ku, Kim Jongin-nya Jung Soojung bukan namja lemah. Ia tampan. Ia keren. Namjaku bukan namja yang lemah, karena namja-nya Jung Soojung selalu bilang ia kuat, karena ia berjanji untuk selalu menjagaku, karena katanya ia mampu menjaga dirinya sendiri. Aku juga berjanji, tak akan pernah meninggalkan Kim Jongin. Tak akan, kalau bukan ia sendiri yang memintanya…”

Author: eezeeba

An overthinker. Crazily in love with potato chips. Loving Daughtry and Maroon 5 to death. Currently in delusional relationship with Oh Sehun and T.O.P.

One thought on “Promise

  1. aigooo hurt bgt. sgtu jongin krn depresi pd soojung
    mmg cinta it rumit jd sgla yg bhub dg cinta mbuat sesuatu yg sederhana jga mjd rumit.
    aplg dg diri jongin yg lbh dlu trtekan krn kampusny

Here We Need Responsibilities. Thanks!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s